Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 18 Hati yang Terluka. bag ke sepuluh.


__ADS_3

Pertarungan keduanya pun semakin seru, tandang Tumenggung Wangsa Rana tampak nya berubah lebih trengginas setelah menggunakan cincin yg di berikan oleh Raka Senggani.


Selain ia mampu bergerak lebih cepat karena tubuhnya semakin ringan saja, tenaga nya pun bertambah. Satu hal yg membuat Tumenggung Wangsa Rana lebih percaya diri, setelah tadi tubuhnya tidak mempan oleh senjata yg ada di tangan Adya Buntala.


Namun murid Mpu Loh Brangsang tetap berusaha mendesak Tumenggung Wangsa Rana, dengan libatan sabetan golok nya yg kian cepat mencecar tubuh Sang Tumenggung,.. beberapa kali Tumenggung Wangsa Rana harus berjumpalitan menghindari serangan tersebut, meski ia telah merasakan khasiat cincin tersebut tetapi sang Tumenggung tidak mau golok yg ada di tangan dari Adya Buntala itu menyentuh tubuhnya,. karena saat ini golok tersebut sudah berwarna kemerahan, tampaknya murid dari Mpu Loh Brangsang itu tengah mengerahkan ilmunya dengan lantaran golok tersebut.


Meski lawan yg di hadapi memiliki ilmu kebal tentu akan dapat di tembusi oleh senjatanya itu.


Raka Senggani,..sang Senopati Pajang melihat keadaan itu amat mengkhawatirkan keadaan dari Tumenggung Wangsa Rana, ia telah selesai memulihkan tenaga nya dengan cepat ia melesat menuju ke pertarungan dari kedua orang tersebut.


Senopati Brastha Abipraya memandangi pertempuran kedua orang itu, ia melihat keadaan dari Tumenggung Wangsa Rana tidak terlalu membahayakan, kemudian ia beralih melihat Ki Ageng Manguntur yg tengah mengobati lukanya.


" Bagiamana keadaan mu,..Ki Ageng,..?" tanya nya.


" Aku tidak apa apa,.. angger Senopati,.." jawab Ki Ageng Manguntur.


Terlihat penguasa dari Menoreh itu tengah meminum sebutir obat, dan kemudian ia mengambil senjata nya lagi, siap untuk bertarung lagi.


" Paman Tumenggung, biarlah orang ini menjadi lawan ku,.ia memiliki hutang terhadapku,." teriak dari Raka Senggani.


Ia tahu bahwa memang murid Mpu Loh Brangsang itulah salah satu dari ketiga orang yg telah membunuh kedua orang tuanya.


Walaupun sebenarnya , ia hanya mengikuti kedua paman gurunya itu,..tetapi perasaan luka yg ada di hati Raka Senggani masih membekas mendalam. Sehingga ingin rasanya segera menyerang orang tersebut. Tetapi dirinya masih segan terhadap Tumenggung Wangsa Rana.


Ia takut menyinggung perasaan orang tua itu. Menganggap dirinya lemah,..padahal ia adalah Tumenggung kepercayaan dari Adipati Pajang.


" Hehh,..Raka Senggani,..jika memang dirimu mempunyai persoalan diriku,.majulah ,..jangan malu,..Aku ,..Adya Buntala tidak akan gentar menghadapi kalian semua,..ha,.ha,.ha,." terdengar suara tertawa dari Adya Buntala.


Murid Mpu Loh Brangsang sengaja memancing kemarahan darj Senopati Pajang itu. Akan tetapi Raka Senggani segera membalas nya,


" Paman,..tetapi memang sebaiknya ,..paman Tumenggung lah yg layak untuk menghabisi orang ini,.. karena tampaknya ia sudah kehabisan akal untuk melawan Paman Tumenggung,.." seru Raka Senggani.


" *******,..mampus kau Senggani,.." teriak Adya Buntala.


" Dhuaaaaaarrr,.."


Ternyata hati Adya Buntala lah yg terpancing akibat ucapan dari Raka Senggani tadi,. karena menurutnya Senopati Pajang itu terlalu merendahkan dirinya ,. karena tidak sanggup mengatasi perlawanan dari Tumenggung Wangsa Rana itu.


Dan secara spontan saja Murid Mpu Loh Brangsang itu melepaskan ajian miliknya kepada Raka Senggani.


Senopati Pajang tersebut memang tetap dalam keadaan siap siaga,.sehingga ia masih dapat melenyapkan tubuhnya dalam sekejap ketika ajian itu hampir mengenai dirinya.


" Ha,.ha,.ha,.****** kau Senggani,.." teriak Adya Buntala.


Ia mengira lawannya itu terkena Ajian Lebur Saketi yg di lepaskan tadi,. karena memang tubuh Senopati Pajang tidak nampak menghindari serangan . Hati dari Adya Buntala amat senang sekali setelah tidak melihat Raka Senggani ada di dekat nya lagi.


Namun ternyata saat ini memang Raka Senggani sering menggunakan ajian panglimunan, sehingga ia dengan mudah nya melenyapkan dirinya ketika di serang oleh lawan, dan kemudian muncul lagi di belakang dari lawannya.


" Aku disini ,.. Buntala,.." seru Raka Senggani.


Ia sudah ada di belakang dari Adya Buntala, murid Mpu Loh Brangsang tersebut sampai kaget mendengar seruan dari belakang nya itu. Ia memutar Tubuhnya dan melihat senopati Pajang dengan berdiri tegak tanpa kurang suatu apa.


" Hehhh, ternyata dirimu masih beruntung,..Senggani,..akan tetapi jangan harap dirimu akan lepas dari tanganku,..sudah banyak perbuatanmu menyusahkan kami,..hehhh,.." seru Adya Buntala.


" Apa tidak malah sebaliknya Buntala,.bukankah dirimulah dengan Mpu pasirangan dan Mpu Pundiranganlah yg telah membuat diriku sedih dan berduka selamanya,.. karena tanpa salah kedua orang tuaku telah kalian habisi,..apa salah mereka terhadap kalian,.dan jika yg kau sebut itu atas kematian dari Mpu pasirangan dan Mpu Pundirangan, itu akibat dari ulah mereka sendiri,..jika berani berbuat salah tentu harus mau menerima akibatnya,.." jelas Raka Senggani.


Wajah pemuda itu tampak merah membara , ia kembali teringat atas kematian kedua orang tuanya yg tewas di hadapan nya, tanpa dapat melawan. Sungguh suatu kejadian yg sangat membekas di hatinya. Dirinya akan merasa sedih jika harus mengenang kejadian itu.


" Akan tetapi dirimu lah yg bertanggung jawab atas kematian Arya Pinarak itu,..apa salah nya terhadap dirimu,.." seru Adya Buntala lagi.


Ia coba mengalihkan arah pembicaraan mengenai pemimpin rampok asal Alas Mentaok itu.


Raka Senggani semakin menegang, ia sangat muak dengan orang yg ada dihadapan nya, ya,..orang yg bernama Adya Buntala itu adalah orang yg sangat memuakkan , apalagi ketika dirinya dapat di tawan ketika mereka menggunakan Tara Rindayu sebagai alasan agar dirinya menyerah.


" Memang sudah sewajarnya Arya Pinarak menerima hukuman atas perbuatan nya itu, dan saat ini adalah giliran mu,.Buntala,.." seru Raka Senggani.


Tangan kanan nya telah di putarnya, tampaknya senopati Pajang itu tengah menyiapakan Ajian Wajra Geni milknya.


" Aji III, Wajra Geni,.. Heahhhh,.."

__ADS_1


" Whuuuuusssssshh,."


" Dhumbhh,.."


Selarik cahaya kemerahan keluar dari telapak tangan nya terbuka dan menghantam ke arah Adya Buntala.


Murid Mpu Loh Brangsang melompat membubung tinggi ke udara dan dari atas ia melepaskan serangan balasan.


" Aji,..Lebur Saketi,.. hiyyyah,.."


" Bletaaaaarrr,.."


Raka Senggani hanya menghindari nya dengan melompat ke samping, namun ketika ia akan membalas serangan dari Adya Buntala itu,..tiba -tiba tubuhnya di terpa sebuah angin yg sangat kuat.


" Whouuuuuusssshhh,.."


Kuat nya angin tersebut sampai melemparkan tubuhnya dengan keras nya,..ia tidak berusaha melawan angin tersebut tetapi tetap mengikutinya saja.


Dan ketika ia sudah merasa lepas dari terjangan angin yg sangat keras itu, sang Senopati mendarat dengan sempurna diatas tanah.


Hehhh,.siapa orang yg telah membokongku,..berkata dalam hati Raka Senggani.


Ia celingukan mencari seseorang yg telah menghantamnya dengan sebuah terjangan angin yg cukup dahsyat dan melemparkan nya cukup jauh.


Namun ia tidak juga menemukan orang lain yg ada di tempat itu,.tidak kehabisan akal,. Senopati Pajang itu mentrapkan aji panggraitanya.


Barulah ia menemukan seseorang yg tengah berdiri di sebuah cabang pohon yg cukup besar,.sang Senopati Pajang itu ta terkejut.


Hehhh,.. Mpu Gendeng itu ada disini,..sungguh hebat ternyata penguasa Merapi ini,.. tubuhnya tidak melekat pada cabang itu ,.ia hanya bersandar saja., batin Raka Senggani.


Dirinya terus menatap ke arah pohon yg cukup besar itu, dan tidak terlalu lama,. orang yg di lihatnya telah melayang turun.


Yahh,..orang itu adalah Mpu Loh Brangsang,.penguasa Gunung Merapi merupakan guru dari Adya Buntala.


Ketika telah mendarat d atas tanah tubuhnya tetap melayang tidak menyentuh tanah pertanda ia memiliki ilmu peringan tubuh yg nyaris sempurna.


" Kau bukan lawan nya ,..Buntala,.."


" Guruuuu,..!" seru Adya Buntala.


Ia kaget setelah melihat kehadiran dari gurunya itu.


" Yah,..aku,..datang untuk membantumu sekaligus menuntaskan dendam ku terhadap bocah itu,..sudah terlalu banyak dosanya terhadapku,.." jelas Mpu Loh Brangsang.


Adya Buntala yg mendengarkan sangat senang sekali karena dirinya yakin bahwa sang Guru akan mampu menewaskan Senopati muda dari Pajang itu.


Mpu Loh Brangsang memandang ke arah Raka Senggani yg masih diam terpaku ,.. Senopati Pajang itu menyaksikan sendiri kehebatan orang yg bernama Loh Brangsang tersebut.


Angin pukulan nya mampu melemparkan nya cukup jauh dan saat ini orang yg berpakaian ala Resi itu pun masih memamerkan ilmu peringan tubuhnya nyaris sempurna,..lelaki tua dengan rambut memutih dan kulit yg mulai keriput tersebut memang bukan lawan yg mudah untuk di taklukan.


Raka Senggani teringat akan cincin yg telah di pinjamkan nya kepada Tumennggung Wangsa Rana,.ingin sebenarnya ia mengambil benda tersebut tetapi ia juga mengkhawatirkan keadaan dari sang Tumenggung.


Ahh,..biarlah ,..akan kuhadapi orang ini dengan segala kemampuanku, jika yg maha kuasa berkenan pasti yg salah akan kalah,..ucap Raka Senggani dalam hati.


" Hehh,.bocah bersiaplah,..hari kematian mu adalah hari ini,.. karena aku tidak akan bermain -main lagi,.." seru Mpu Loh Brangsang.


Ia memutar tangan kanan nya dan mengarahkan kepada Raka Senggani. Serangkum angin pukulan yg keras segera menerjang sang Senopati,..tetapi kali ini Raka Senggani telah bersiap ia tidak mau terkena hantaman Angin prahara itu, dengan cepat ia mengibaskan senjata kebutan yg di terima nya dari Ki Klamprah,.penguasa Alas Siroban.


Dua kekuatan Angin prahara berbenturan dan saling dorong mendorong,.


Tempat dimana pertemuan dari Angin yg sangat keras itu membuat pepohonan sampai doyong ,.seolah hendak rubuh dan jatuh.


Sedsngkan tolak menolak dan dorong mendorong tetap terjadi antara dua kekuatan yg tampaknya berimbang.


Ketika Mpu Loh Brangsang menggerakkan lagi tangan nya,.maka Angin itu semakin menekan dari tenaga yg di timbulkan oleh kebutan itu.


Raka Senggani segera mengibaskan lagi kebutan itu, sehingga tolakan dari Mpu Loh Brangsang tersebut tetap tertahan.


Cukup lama pukulan jarak jauh yg mengandung tenaga Angin prahara itu beradu tanpa menunjukkan siapa yg lebih unggul.

__ADS_1


Adya Buntala yg ketika pertama kali melihat kehadiran guru nya tersebut sudah sangat yakin akan kemampuan guru nya,.kali ini ia malah terpana dengan kehebatan dari senopati Pajang, karena mampu menahan dari gurunya,.Mpu Loh Brangsang.


Demikian pula,.dengan Tumenggung Wangsa Rana dan Ki Ageng Manguntur yg melihat pertarungan dua kekuatan tenaga dalam masing -masing hampir -hampir tidak mempercayai kejadian yg ada di hadapan mereka itu.


Terlebih , Ki Ageng Manguntur,.ia berbisik kepada Tumenggung Wangsa Rana,..


" Seumur -umur baru kali ini aku melihat dua kekuatan yg ngegrisi saling beradu dari dua orang yg terpaut jauh usianya,.." bisiknya.


" Benar Ki Ageng,..diriku pun baru kali ini melihatnya,.. apalagi kita terpaksa menjauh dari pertarungan mereka,.jika tidak ingin di hempaskan oleh angin pukulan itu.,." jawab Tumenggung Wangsa Rana.


Memang kedua orang itu menjaga jarak agar tidak terkena hempasan dari pukulan kedua tokoh sakti itu.


Akhirnya Mpu Loh Brangsang kesal karena tidak berhasil mendesak setelah cukup lama mnegerahkan tenaga nya,.ia kemudian berteriak.


" Heaahhhh,.."


" Hiyyyahhhh,.."


" Dhunmbbhh,."


Ternyata tidak hanya Mpu Loh Brangsang yg menghempaskan tenaga nyq, Sang senopati Pajang juga mengerahkan tenaga nya dengan sepenuhnya,. sehingga benturan yg keras pun terjadi.


Dan membuat kedua orang tersebut harus terlempar akibat hempasan angin yg sangat keras.


Tetapi dasar keduanya memang memiliki kemampuan yg sangat tinggi, keduanya tidak terjatuh dengan keras diatas tanah melainkan mereka berdua mampu menahan keseimbangan dan kembalj melesat menyerang lawannya.


" Hiyyyah,.."


" Heiit,.."


Mpu Loh Brangsang menggerakkan telapak tangan nya yg mengandung tenaga dalam yg tinggi ke arah dada Raka Senggani, gerak nya sangat pelan, tetapi sangat mematikan, Senopati Pajang tidak menghindarinya,.ia malah menahan dengan tangan kirinya, kembali benturan terjadi , karena memang masing -masing telah siap dengan segala nya.


" Dhuaaaaaarrr,.."


Benturan dari kedua telapak tangan itu menimbulkan bunyi ledakan yg keras,..Raka Senggani yg menyalurkan Ajian Wajra Geni miliknya itu bertemu dengan ajian Lebur Saketi milik Mpu Loh Brangsang,..


Benturan yg sangat dekat itu memang kembali melontarkan kedua nya ke udara,..tetapi memang Mpu Loh Brangsang lebih tinggi dalam hal ilmu peringan tubuhnya,.ketika dirinya masih membubung tinggi dengan cepat ia membalik dan mengejar tubuh Raka Senggani yg masih mengemposi tenaga dalamnya agar ia tidak terjatuh akibat benturan itu.


Raka Senggani menyadari bahwa Mpu Loh Brangsang mengejar nya lagi, dan,..


" Heahhhh,.."


" Dhieeeghh.."


Tubuh nya yg masih melayang turun itu terkena hantaman telapak tangan dari Mpu Loh Brangsang tersebut.


Pukulan yg sangat keras itu membuat keseimbangan dari Raka Senggani tidak dapat di pertahankan lagi.


Tubuhnya dengan derasnya menghantam sebuah batang pohon cukup kuat.


" Bruuuggghhh,."


" Hooeeekkhh,.."


Setelah menghantam pohon , tubuh dari Senopati Pajang itu jatuh terduduk di bawah pohon dan muntah darah.


Perlahan Raka Senggani mengerahkan Hawa murninya untuk mengobati luka dalam yg telah di terimanya dari tenaga dalam Mpu Loh Brangsang tersebut.


Sementara penguasa Gunung Merapi itu melesat dan melayang mendekati tubuh Raka Senggani yg masih terduduk di bawah pohon itu.


" Baru tahu rasa kau,..bocah,..tengah berhadapaan dengan siapa,.. aku telah menyempurnakan ilmuku untuk berhadapan dengan mu,. setelah kekalahan kedua saudara seperguruan ku,.kau tahu bukan,..!" seru Mpu Loh Brangsang.


Penguasa Gunung Merapi tersebut memang memendam dan menyimpan dendam kesumat dengan Senopati muda Pajang itu.


" Hari ini,.. dirimu harus membayar lunas atas kematian adi pundirangan dan adj Pasirangan, jadi bersiaplah, karena dirimu masih beruntung dapat lolos ketika berhasil kami kalahkan di bukit Klangon pada waktu itu,..hehh,."


Raka Senggani menatap Mpu Loh Brangsang dengan tatapan benci , ia tidak senang mendengar ucapan dari guru Adya Buntala itu,..rasanya ingin menghajar mulut orang tua ini,.katanya dalam hati.


Akan tetapi saat ini ia masih berusaha memulihkan tenaga dalam nya agar ia dapat melawan nya.

__ADS_1


__ADS_2