Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 24 Kembali. bag kedua.


__ADS_3

Setelah mampu berdiri tegak, Senopati Sandi Demak ini mendekati Pucuk umun tanpa nemperdulikan para prajuritnya yg menodongkan senjatanya ke arah dirinya.


" Pucuk Umun,..apakah dirimu masih penasaran ingin menawan kami berempat,..?" tanya Sang Senopati kepada penguasa Wahanten ini.


Dan orang yg di tanya hanya diam saja , Pucuk Umun merasa bahwa , orang yg berada di hadapan nya ini bukan lah orang yg sembarangan , terbukti meski telah berhasil di tawan dan di beri racun pelumpuh syaraf , masih saja mereka dapat lolos.dari istananya.


Jadi sebagai seorang pemimpin Pucuk Umun harus dapat menilai keadaan nya agar ia tidak merasa malu di hadapan para prajuritnya.


Ia pun segera berkata,..


" Baiklah kali ini,.aku mengampuni kalian,..namun jika suatu saat nanti kita akan bertemu ,..Aku tidak akan melepaskan kalian semua,.." seru Pucuk Umun.


Sambil memberikan isyarat kepada para Prajurit nya untuk segera kembali ke istana nya.


Maka para prajurit itupun patuh ,..mereka tidak berani untuk menggerakkan senjatanya walaupun jarak yg sangat dekat pada tubuh Senopati Sandi Demak ini.


Namun bagi Raka Senggani sendiri ia tidak terlslu merisaukan para prajurit Wahanten ini,..yg di khawatirkannya adalah mengenai keadaan dari Raden Maulana Hasanuddin, jika mereka akan membuat keributan dengan para prajurit Wahanten tentu , putra Kanjeng Sunan Gunung jati akan terkena imbasnya.


Disebabkan pada awalnya mereka menyebutkan nama tersebut yg akan mereka temui, sehingga memancing kebencian dari penguasa Wahanten itu


" Marilah kita menemui Raden Maulana Hasanuddin,.." seru Raka Senggani .


Setelah melihat ketiga teman nya yg lain termasuk istrinya hanya nampak terdiam dan terpaku mematung.


Begitu seruan itu keluar dari mulut Senopati Sandi Demak ini, ketiganya pun langsung melangkah pergi meningglakan tempat itu.


Hampir setengah harian mereka berjalan barulah sampai di padepokan dari Raden Maulana Hasanuddin yg berada di daerah Surosowan.


Setiba disana , mereka di terima langsung oleh Raden Maulana Hasanuddin.


Mereka disambut dengan sangat ramah terlebih. Raden Maulana Hasanuddin tahu bahwa orang yg datang inj adalah orang Kepercayaan dari Pangeran Sabrang Lor yg kini telah menjadi sultan di Demak.


" Apa kabar Raden Hidayat,sungguh kami sangat beruntung sekali telah di kunjungi oleh Raden, yg telah membuat geger Kerajaan Demak ini,.." ucap Raden Maulana Hasanuddin.


Ia memang tampak senang sekali dengan kehadiran tamu nya dari Demak ini.


Segera ia mmepersilahkan mereka untuk membersihkan diri, dan mereka akan di sambut di bangsal utama padepokan itu.


Maka keempat orang dari Demak itu membersihkan tubuhnya di sebuah sendang yg ada di dekat padepokan itu.


Airnya yg sangat jernih membuat mereka agak lama berendam disana.


Sebab sudah beberapa hari mereka tidak mandi sejak dari Kota Melaka, dan setiba di wahanten mereka telah di tahan oleh Pucuk umun di istana nya.


Jadi kesempatan ini mereka lakukan dengan sebaik baiknya,.. Setelah menjelang maghrib barulah mereka kembali ke padepokan Surosowan.


Dan melakukan sholat berjamaah dengan di pimpin oleh Raden Maulana Hasanuddin sebagai imam nya.


Baru setelahnya mereka di jamu makan bersama dengan sang tuan rumah.


Mereka disajikan makanan dari laut, berupa ikan dan berbagai macam makanan dari laut.


Suasana amat akrab, seolah mereka sudah lama saling kenal.


Begitu selepas isya,..Raden Maulana Hasanuddin mengajak keempatnya untuk berbincang bersama.


" Jadi Kanjeng Sinuwun akan tetap melakukan penyerangan ke kota Melaka,..?" tanya Raden Maulana Hasanuddin.


Dan dijawab oleh anggukan kepala dari Raka Senggani.


Sang Senopati sandi Demak menyebutkan bahwa keputusan dari Kanjeng Sinuwun itu tidak dapat di ganggu gugat lagi,..karena itulah mereka menjalankan operasi sandi hingga ke tanah melayu.


Dan dari yg mereka dapatkan , tampaknya Demak akan kesulitan untuk mengatasi pasukan asing itu.


Namun dijawab oleh Putra Sunan Gunung Jati ini,..jika Kerajaan samudra pasai dan Kerajaan palembang mau bergabung ,.bukan tidak mungkin pasukan asing yg menjajah tanah Melayu itu dapat di kalahkan, jelas nya.


Masih menurut Raden Maulana Hasanuddin yg ia dapat dari Ayahandanya Sunan Gunung Jati, bahwa kedua Kerajaan itu telah bersedia untuk bergabung dengan armada pasukan Demak yg akan menggempur bangsa portugis yg telah menjajah bangsa melayu itu.

__ADS_1


Dan kemungkinan nya juga , Sunda Kelapa akan di jadikan sebagai mana Kota Melaka .


Mereka akan menguasai pelabuhan paling kulon dari pulau Jawadwipa ini.


Demikianlah di jelaskan Raden Maulana Hasanuddin kepada para tetamunya yg datang dari Demak.


Sehingga perasaan was was atas gambaran kekalahan pasukan Demak di hati Senopati Sandi, Senopati Bima Sakti ini mulai terkikis, setelah adanya penjelasan dari Putra Sunan Gunung Jati ini.


Memang sebelum keberangkatan nya ke Sunda Kelapa, Sunan Gunung Jati yg ada di Cirebon telah menyarankan untuk singgah di tempat putranya ini,. karena keinginan dari Senopati Bima Sakti yg hendak masuk kota Melaka pada waktu itu , akhirnya mereka tidak jadi singgah di Surosowan ini.


Baru setelah mereka kembali ,..keempat orang itu menyempatkan diri singgah di Wahanten ini.,dan ia mendapatkan kabar yg cukup menggembirakan itu.


Setelah cukup lama membicarakan masalah Demak dalam keputusan nya mengirimkan Armada nya ke Kota Melaka,.. Senopati Bima Sakti juga menanyakan mengenai Ki Suganpara.


" Ada hubungan apa dengan salah seorang cantrik terbaik ku,itu,.... Senopati,..?" tanya Raden Maulana Hasanuddin heran.


Raka Senggani kemudian menceritakan hal mengenai hubungannya dengan Ki Suganpara itu.


Raden Maulana Hasanuddin mendengarkan nya sambil tersenyum,ia malah nampak senang.


Ia berkata,..


" itulah manusia , jika sudah terkena batunya barulah mereka merasakan kelemahan nya, beruntung ia mampu menguasai hatinya dan segera mau bertaubat,..Alhamdulillah ia mau menjadi seorang cantrik yg sangat baik di padepokan Surosowan ini,.. Senopati,.." ucap Raden Maulana Hasanuddin.


Pemimpin padepokan Surosowan ini kemudian menceriterakan awal mula nya Ki Suganpara menjadi cantriknya.


Di saat ia masih memiliki kemampuan ilmu yg sangat tinggi, namun berkat pertemuan nya dengan Senopati Bima Sakti dan juga dirinya, yg pada saat itu masih sering bersinggungan dengan penguasa Wahanten yaitu Pucuk Umun membuat perasaan dari Ki Suganpara menjadi tersentuh.


Sehingga ia mau berguru kepada Raden Maulana Hasanuddin itu dalam masalah ilmu agama.


Demikianlah kisah dari Raden Maulana Hasanuddin mengenai Ki Suganpara yg kini merupakan orang yg cukup diandalkan di Surosowan ini.


Setelah mendengarkan hal itu,..Raka Senggani menyebutkan bahwa mereka sebelum tiba di Surosowan mereka sempat di tahan di kediaman dari Pucuk Umun itu.


Raden Maulana Hasanuddin terkejut mendengarnya,. karena setahu nya mereka sudah tidak memiliki persoalan lagi setelah kekalahan nya pada waktu itu.


" Kami tidak mengerti Raden,.." jelas Raka Senggani.


Karena memang Senopati Sandi Demak itu tidak tahu ada masalah apa antara Raden Maulana Hasanuddin dengan Pucuk Umun.


Maka ia dengan jujur nya mengatakan kepada Pucuk Umun bahwa mereka akan menemui Raden Maulana Hasanuddin.


" Jika memang demikian , lebih baik untuk Senopati tinggal di padepokan Surosowan ini guna bertemu dengan Suganpara ,..dan nanti Aku sendiri yg akan menanyakan kepada Pucuk Umun apa ada persoalan lagi antara dirinya dengan ku,.." ungkap Raden Maulana Hasanuddin.


Maka rombongan yg di pimpin oleh Senopati Bima Sakti ini menginap di Surosowan dalam beberapa hari.


Dan setelah hari ketiga,..datanglah Ki Suganpara di padepokan Surosowan. Ia sangat terkejut setelah bertemu dengan Senopati Sandi Demak itu.


" Assalamualaikum , Raden,..!" ucap Ki Suganpara kepada pemimpin padepokan Surosowan itu.


" Wa ' alaikum salam,..Ki ,.." sahut Raden Maulana Hasanuddin.


Kemudian ia pun mmepertemukan Ki Suganpara, dengan para tamu dari Kotaraja Demak itu.


Ada perasaan rikuh di hati Ki Suganpara ketika harus bertemu dengan Raka Senggani yg memang tengah menunggu nya.


" Maaf sebelum nya Ki,..Aku datang kemari memang ingin bertemu dengan mu,..jadi Ki Suganpara tidak perlu terlalu merasa risih kepadaku,.." ungkap Raka Senggani.


Ki Suganpara nampak menundukkan wajahnya, baru setelah ada ucapan dari Raden Maulana Hasanuddin.


Ki Suganpara baru mampu menegakkan kepalanya.


" Ki,..kedatangan Senopati Bima Sakti kemari untuk mengembalikan senjatamu itu,.sebagai tanggungan mu,.. atas janji mu untuk tidak berbuat salah lagi,..bukan begitu Senopati,..?"


Ucapan nya itu di tujukan kepada Ki Suganpara sambil ia menanyakan kepada Raka Senggani maksud dan tujuan nya datang kemari untuk mengembalikan senjatamu itu.


Akhirnya Ki Suganpara pun angkat bicara,..

__ADS_1


" Sebenarnya Aku sudah melupakan hal itu Senopati termasuk dengan senjataku itu,..namun jika memang dirimu ingin mengembalikan senjataku itu,.. Aku akan menerimanya,.." ungkap Ki Suganpara.


Ia masih dapat melihat senjata milik nya itu,..di tangan sang Senopati Bima Sakti.


Tongkat berkepala ular itu masih tetap masih utuh , dan tampak nya masih sangat baik.


" Ini Ki Suganpara,..senjata mu itu,.. karena menurut dari beberapa orang yg telah pernah Aku temui ,..maka sebaiknya lah , senjata mu ini,.. kembali padamu,.lagi,..." ucap Raka Senggani.


Senopati Bima Sakti kemudian menyerahkan senjata tongkat yg berkepala tongkat ular itu kepada sang pemilik nya.


Dan Ki Suganpara menerimanya dengan tangan terbuka ,..namun setelah berada di genggaman nya,..maka Ki Suganpara menyerahkan kembali senjata itu kepada Raka Senggani.


" Begini Senopati,.. sesungguhnya diriku telah melupakan senjata ini, bahkan dengan hilang nya ia dari tangan ku ,..serasa beban sebagai seorang murid dari Kyai Gedangan, jadi untuk kali ini biarlah dirimu saja yg memegang senjata ini,..Aku ikhlas,..." ucap Ki Suganpara.


Ia menyerhkan kembali senjata itu,.. kepada Raka Senggani. Di dalam hati murid Ki Gedangan, memang sudah sewajarnya ia memegang lagi senjata perlambang dari padepokan yg di pimpin oleh Ki Gedangan itu.


Raka Senggani menjadi sangat terkejut setelah menerima kembali senjata yg telah di berikan nya itu.


Ada perasaan yg serba salah,..di hati Senopati Bima Sakti ini,.. karena memang tujuan nya datang ke Surosowan ini adalah mengembalikan senjata itu.


" Sudahlah ,..senopati ,..jika memang Ki Suganpara menyerahkan kembali kepadamu terima sajalah,.." ucap Raden Maulana Hasanuddin.


" Akan tetapi , bukan lah hal ini adalah menyalahi janji ku,..Raden ,.." ucap Raka Senggani.


Menurut nya di dalam senjata itu ada rahasia mengenai ilmu pamungkas dari perguruan dari Ki Gedangan itu.


Bahkan akibat hal itu lah yg menyebabkan dirinya sampai datang ke Desa Kenanga guna meminta kembali, senjata tersebut.


Ki Gedangan sampai mengajak dirinya untuk melakukan perang tanding.


Guna memperebutkan senjata tongkat itu..dari sinilah akhirnya Raka Senggani ingin mengembalikan senjata tersebut kepada pemiliknya, yaitu Ki Suganpara ini.


Raden Maulana Hasanuddin yg mendengar ucapan dari Senopati Bima Sakti ini memang sangat terkejut mendengar nya, karena selain memang merupakan sesuatu yg perlu untuk di pikirkan, jika ia memang menerimanya atau menolaknya.


Tetapi akhirnya Putra Sunan Kalijaga itu menyarankan untuk untuk menerima nya saja sebagai pertanda bahwa dengan penyerahan itu sebagai pertanda penyerahan diri dari Ki Suganpara untuk tetap pada jalan nya.


Akhirnya Raka Senggani mau menerimanya setelah atas nasehat dari Raden Maulana Hasanuddin untuk mau menerima nya lagi senjata tongkat berkepala ular tersebut.


Tongkat berkepala ular itu kembali ke tangan sang Senopati.


Karena memang Ki Suganpara sudah tidak mau lagi menerima senjatanya itu kembali sejak menjadi pengikut dari Raden Maulana Hasanuddin.


Dengan hati yg ikhlas , Ki Suganpara menyerahkan kembali senjata itu kepada Raka Senggani.


Ia bahkan memeluk erat tubuh Senopati Bima Sakti seraya berbisik,..


" Berkat dirimulah,..Aku dapat memandang tinggi nya langit dan luas nya samudra ,sehingga Aku dapat menerima kelemahan ku,.yg selama ini aku merasa yg paling hebat dan paling tinggi ilmunya,..berkat dirimulah aku mulai menyadari hal ini,..di tambah lagi pertemuan ku dengan Raden Maulana Hasanuddin,..mudah -mudahan diriku dapat istiqomah di jalan Nya,.." ucap Ki Suganpara.


Setelah mendengar penuturan dari Ki Suganpara ini maka hati Raka Senggani pun terbuka , ia mau menerima penyerahan kembali senjata itu kepada nya lagi.


Selesai sudah urusan dari Raka Senggani dengan Ki Suganpara,.tidak ada masalah lagi,.antara dirinya dengan murid Ki Gedangan itu.


Hatinya amat lapang ,setelah hal itu selesai.


Maka ia pun berniat untuk kembali ke Demak seceaptnya setelah cukup banyak yg harus di laporkan kepada Kanjeng Sinuwun sebagai satu satunya orang yg telah memerintahkan dirinya.


Hampir sepekan mereka berada di Surosowan , barulah rombongan itu bergerak ke Sunda Kelapa,. karena dari sanalah mereka berangkat.


Seharian mereka berjalan dari Surosowan barulah rombongan itu tiba di Sunda Kelapa , mereka menuju rumah Ki Lintang Panjer Suruf , dimana kuda -kuda mereka tinggalkan.


Setiba nya diaana mereka bertemu dengan Ki Lintang Panjer Rina dan Jati Andara yg bertugas di wilayah Kerajaan Pajajaran .


Karena sejak kepergian dari Ki Lintang Panjer Suruf dan rombongan ke tanah Melaka , kedua prajurit sandi ini datang ke Sunda Kelapa menggantikan tugas dari Ki Lintang Panjer Suruf.


Yg paling senang dalam hal ini adalah Jati Andara, sejak sekian lama mereka berpisah akhirnya mereka bertemu lagi.


Dalam pertemuan kali ini,. masing-masing menceriterakan pengalaman masing -masing.

__ADS_1


Termasuk dengan Ki Lintang Panjer Suruf, Lurah prajurit ini banyak menceriterakan kelebihan dari Senopati Bima Sakti sewaktu berada di tanah Melayu itu kepada Ki Lintang Panjer Rina.


__ADS_2