
Sememtara itu, sesosok tubuh dengan menggunakan jubah yg berwarna abu -abu terlihat tengah berada di dalam sebuah goa. Orang itu tengah menghadapi tubuh pingsan seorang pemuda, sedangkan di dalam goa tersebut di terangi sebuah obor kecil yg lagi menyala.
Orang tersebut terlihat mengurut dan memijit bagian - bagian tertentu dari tubuh orang yg lagi pingsan itu.
Pemuda yg pingsan tersebut adalah Senopati Pajang, Raka Senggani. Ia beberapa kali terlihat menggeliat sesà at orang yg menggunakan jubah abu -abu itu memijit bagian bagian tubuhnya.
" Hemmphh, memang susunan tulang dan otot yg sangat baik, pantaslah ia mampu menahan ilmu dari Resi Brangah itu, jika tidak tentunya anak muda ini telah tewas, siapa sesungguhnya pemuda ini mengapa ia bersiteru dengan Resi Blambangan itu,?" tanya orang itu dalam hatinya.
Ia masih saja mengurut dan memijat tubuh Raka Senggani sambil menyalurkan hawa murni ke tubuh pemuda itu.
Perlahan namun pasti kesadaran Putra Raka Jaya itu mulai timbul dan ketika berulangkali orang berjubah abu -abu itu memijat daerah dadanya maka,
" Hoooerkkkhh, "
Raka Senggani memuntahkan darah kental dari mulutnya, kejadian itu berulang sampai tiga kali.
Kemudian kesadaran Senopati Pajang itu pun pulih,ia menatap nanar wajah si penolongnya, agak lama pandangan itu kemudian barulah menjadi jelas dengan agak terbata -bata, Senopati Brastha Abipraya itu berkata,
" Sss, ssii aaap paa, eee yaangg, ini,?" tanyanya kepada orang yg berjubah abu -abu tersebut.
" Jangan terlalu banyak bergerak, kenalkan namaku Wira Disasra atau orang - orang mengenaliku sebagai Panembahan Lawu," jawab orang yg berjubah abu -abu itu.
" Ttt tteri ma kaa sihh, eyang Lawu kaa reena telah menoloongku," ucap Raka Senggani lagi.
Ia berusaha bangkit dari pembaringannya namun dicegah oleh orang yg mengaku sebagai Panembahan Lawu tersebut.
" Sebaiknya angger tetap berbaring terlebih dahulu, karena luka dalammu cukup parah, angger harus banyak beristrahat, bahkan mungkin sampai satu pekan ," ucap Panembahan Lawu lagi.
" Akan tttetapi , aaku harus segera ke Merapi eyang, ada tugas yg harus kukerjakan disana," jelas Raka Senggani.
Kesadarannya mulai sempurna sehingga ia telah mampu mengingat dan berkata dengan jelas.
" Sabarlah dulu Ngger, kesehatan lebih utama, karena apa yg dapat kau perbuat jika untuk bangkit pun masih sulit,!" ucap Panembahan Lawu kepada Raka Senggani.
Mendengar hal tersebut Raka Senggani berusaha untuk bangkit, namun ternyata ia tidak mampu untuk menegakkan badannya.
" Hahh , apa yg telah terjadi dengan diriku eyang, mengapa tubuhku sangat sulit untuk digerakkan,?" tanya Raka Senggani kepada Panembahan Lawu.
" Itulah yg eyang cemaskan, mudah mudahan, tubuhmu masih kuat ketika benturan ilmu itu terjadi kalau tidak,...." Panembahan Lawu tidak melanjutkan kata-kata nya.
" Kalau tidak kenapa, Eyang ,?" tanya Raka Senggani penasaran.
" Kalau tidak, tubuhmu akan menjadi lumpuh selamanya, mudah mudahan itu tidak terjadi, dan otot-ototmu serta berapa urat syarafmu tidak terbalik akibat dari hantaman tenagamu yg berbalik karena sesungguhnya dirimu masih dibawah orangtua dari Blambangan itu, engkau terlalu memaksakan diri, Ngger," jelas Panembahan Lawu lagi
" Mudah mudahan itu tidak terjadi," kata Panembahan Lawu.
Ia kembali memeriksa keadaan tubuh Raka Senggani, beberapa kali ia mengurut bagian -bagian tertentu dari anak muda Kenanga itu.
Setelah cukup lama ia memijati tubuh Raka Senggani, terlihat senyum yg mengembang dari bibirnya.
" Memang susunan otot-ototmu serta beberapa urat syarafmu masih dalam keadaan normal dan baik , pantaslah jika dirimu memperoleh ilmu para wali itu, karena mungkin menurut si pemberi ilmu itu dirimu memang mampu menerimanya,!" jelas Panembahan Lawu itu.
" Apa maksud Eyang Lawu, apakah eyang mengenal guruku, ?" tanya Raka Senggani heran bercampur aneh.
Karena ia mendapatkan ilmu itu dari tempat yg cukup jauh dari Gunung Lawu itu.
__ADS_1
Panembahan Wira Disasra alias Panembahan Lawu itu memandangi wajah Raka Senggani cukup lama, ia kemudian berkata,
" Aku tidak mengenal gurumu itu,Ngger, ia semacam tokoh misteri di tanah ini meski menurut sebahagian orang ialah yg telah menjadi mahaguru untuk para Wali di tanah ini, juga merupakan besan dari Kanjeng Gusti Prabhu Brawijaya terakhir , ia pulalah yg telah bertarung dengan para lelembut penguasa daerah tanah jawa ini, dan berhasil mengalahkannya," urai Panembahan Lawu.
" Namun semua itu masih perlu dibuktikan kebenarannya karena tokoh itu telah lama tiada dan mengapa Angger,...."
" Senggani eyang, namaku Raka Senggani," kata Raka Senggani.
" Ya, mengapa angger Senggani masih bisa bertemu dengan tokoh itu karena anaknya sendiri pun telah tiada, atau memang memiliki suatu ilmu yg dapat membuat dirinya bisa bertahan lama atau ada sesuatu kemampuannya yg masih bisa menurunkan suatu ilmu kepada yg dikehendakinya, yg jelas orang itu hidup di masa Kanjeng Gusti Prabhu Brawijaya terakhir,!" ungkap Panembahan Lawu itu.
Setelah itu kembali Panembahan Lawu melanjutkan lagi kata -katanya,
" Dan tujuan apa Angger Senggani datang kemari, adakah sesuatu yg ditanyakan kepadaku sebagai pemimpin di daerah Lawu ini,?" tanyanya kepada Raka Senggani.
" Benar Eyang Lawu, sebenarnya tujuanku datang kemari adalah ingin menanyakan tentang Mpu Loh Brangsang yg berada di Merapi itu," ucap Raka Senggani.
" Mengenai hal apa, angger Senggani menanyakan Loh Brangsang itu, adakah yg salah dari dirinya,?" tanya Panembahan Lawu itu.
Kemudian Raka Senggani menceriterakan hal tentang Mpu Loh Brangsang itu, yg tampaknya akan mbalela terhadap kerajaan Demak dengan berniat mengembalikan Keris Pusaka Kyai Condong Campur dengan jalan yg salah, ia juga turut mengajak serta adik -adik seperguruannya untuk melanggengkan niatnya itu.
Panembahan Lawu mendengarkan cerita dari Raka Senggani, dan setelah cerita itu berakhir barulah ia menanggapinya,
" Semua orang boleh dan bisa untuk bercita -cita, akan tetapi yg menentukan adalah yg Maha Kuasa, tetapi dari penuturan Angger Senggani tadi jalan yg mereka tempuh adalah salah, mengapa mereka yg ingin mendapatkan kamukten tetapi dengan cara yg tidak sesuai paugeran dalam bermasyarakat, mereka sampai tega untuk membunuhi para kawula yg sebenarnya tidak tahu menahu akan keadaan ini, ditambah lagi dengan mengambil hak milik orang lain dengan paksa juga merupakan suatu kesalahan, jadi kalau menurut pribadi eyang sendiri, tentu akan menolaknya jika mereka akan datang meminta eyang untuk bergabung dengan mereka, walaupun secara pribadi eyang juga kurang senang dengan pemerintahan saat ini,!" jelas Panembahan Lawu.
" Jadi eyang tidak akan bersedia membantu mereka, jika mereka datang kemari dan mengajak Eyang Lawu untuk bergabung,?" tanya Raka Senggani.
Panembahan Lawu menganggukkan kepalanya.
" Karena wahyu keprabon itu masih berlaku di sini, dan eyang tidak melihat ada arah perpindahan kekuasaan kearah sana, entahlah nanti jika alas Mentaok itu telah dibuka, karena Mentaok merupakan bekas kerajaan yg cukup besar dimasa lampau dimasa Kerajaan Mataram, sedangkan saat ini Mentaok masih merupakan hutan yg lebat, dan menurut penuturan sebahagian orang , bahwa saat ini, Pajanglah yg akan lebih dahulu yg akan memerintah negeri ini setelah Demak, dan itupun menurut sebahagian orang, entahlah , tidak ada satu orang pun yg tahu akan hal itu, benar atau tidaknya ramalan tersebut,!" jelas Panembahan Lawu.
" Baiklah angger Senggani, beristrahatlah, besok pagi- pagi sekali kita akan keluar dari sini , karena angger Senggani perlu mengeluarkan seluruh akibat dari yg ditimbulkan berbaliknya tenaga angger Senggani itu,!" ujar Panembahan Lawu kepada Raka Senggani.
" Kemana kita akan pergi Eyang,?" tanya Raka Senggani kepada Panembahan Lawu.
" Kita akan pergi ke Kedung yg ada di kaki gunung Lawu sebelah timur ini, ada sebuah Kedung yg mengeluarkan air yg cukup panas, disanalah angger Senggani akan berendam selama beberapa hari, karena selain dapat memulihkan kesehatanmu , sumber air di kedung itu juga dapat membuka simpul-simpul syaraf yg tidak pada tempatnya, !" kata Panembahan Lawu lagi.
Setelah mendengar penuturan dari Orang tua itu, Raka Senggani berusaha memejamkan matanya, sekedar untuk beristrahat , karena rasa sakit yg di deritanya masih sangat terasa, tubuhnya masih sulit untuk digerakkan.
Malam itu, Raka Senggani tinggal di dalam goa itu dengan di temani oleh Panembahan Lawu.
Meskipun sulit untuk memejamkan matanya, Raka Senggani berupaya mengistrahatkan tubuh dan pikiranya.
Ketika hari telah pagi, suara kicau burung -burung sudah terdengar nyaring dan cahaya mentari yg masih belum terang mulai masuk kedalam goa itu.
Panembahan Lawu kemudian memadamkan api obornya. Ia kemudian berusaha membangkitkan tubuh Raka Senggani, namun Pemuda itu menolaknya.
" Eyang, Senggani sudah bisa sendiri,!" katanya.
Ia pun berusaha bangkit, dan ternyata berhasil, walau agak sempoyongan tetapi ia mampu berdiri.
" Eyang Lawu, Senggani merasakan lapar sekali, " ucap Pemuda itu.
" Bagus Ngger, berarti luka dalammu berangsur -angsur mulai sembuh, nanti setelah lewat tengah hari, Angger Senggani bisa makan dan untuk saat ini, Angger harus bisa menahannya, hitung-hitung anggap saja sebagai puasa,!" jelas Panembahan Lawu.
" Baik Eyang," jawab Raka Senggani.
__ADS_1
Kedua orang itu kemudian keluar dari dalam goa itu, mereka berjalan menuruni lereng Lawu itu menuju ke arah timur.
Tidak terlalu lama sampailah keduanya di sebuah Kedung. dikaki gunung Lawu itu.
Kemudian Panembahan Lawu menunjuk ke arah sebuah kedung yg agak kecil di dekat dari air terjun yg cukup besar itu.
" Di situ Angger Senggani berendamnya," perintah Panembahan Lawu.
Dengan cepat Raka Senggani menuruni batu-batu besar dan menuju ketempat yg ditunjukkan oleh Panembahan Lawu itu.
Setelah melepaskan pakaiannya Raka Senggani segera mencelupkan tubuhnya kedalam Kedung yg tidak terlalu luas itu,yg berada di sebelah Kedung yg besar tempat Air terjun itu mencurahkan air.
Senopati Pajang itu terkejut, karena ia menyangka air itu dingin, karena suasana pagi sangat dingin.
Tetapi ternyata tidak, airnya terasa panas bahkan air yg mengalir dari atasnya pun terasa panas. Raka Senggani segera berendam di sumber air panas itu.
Sedangkan Panembahan Lawu segera berlalu dari tempat itu.
Raka Senggani menikmati berendamnya di dalam Kedung itu, meski beberapa kali ia memuntahkan sesuatu dari dalam perutnya, namun ia tetap berusaha memusatkan pikirannya untuk menyenbuhkan luka dalamnya itu.
Sampai tengah hari barulah Panembahan Lawu datang dan menyuruhnya untuk naik, ia kemudian di persilahkan untuk makan oleh Panembahan Lawu itu.
Ternyata tadi ketika Panembahan Lawu itu adalah untuk mengambil makanan , nasi putih yg terlihat lunak dengan di tambah beberapa sayur, segera dilahap oleh Raka Senggani yg memang terasa sangat lapar.
Dengan cepat makanan itu dihabiskan oleh Raka Senggani.
" Bagus Ngger, berarti kesehatanmu akan kembali pulih seperti sedia kala, bukankah tadi angger telah memuntahkan lagi apa yg ada di dalam perutmu itu, Ngger,?" tanya Panembahan Lawu kepada Raka Senggani.
" Benar Eyang, tadi beberapa kali Senggani muntah didalam Kedung itu," jawab Raka Senggani.
" Baik kalau begitu, besok pun Angger dapat melakukannya lagi sebelum makan, itu angger lakukan sebanyak tiga kali , baru nanti setelahnya Angger Senggani akan eyang beri ramuan untuk penguat daya tahan tubuh dan membuka simpul-simpul syaraf yg masih tertutup, jadi angger Senggani harus bersabar, mungkin lebih dari sepekan Angger harus berada disini,!" jelas Panembahan Lawu.
" Baik Eyang Lawu, semua perintah eyang akan Senggani lakukan," jawab Raka Senggani.
Hari berganti hari, sudah tiga hari Raka Senggani berada di lereng Lawu sebelah Timur itu, kesehatannya telah pulih seperti sedia kala. Dan selama itu pulalah Panembahan Lawu datang dan memberikan pengarahan serta ramuan.
" Bagaimana Ngger, apa yg Angger Senggani rasakan,?" tanya Panembahan Lawu kepada pemuda itu.
" Sudah sangat sehat Eyang, bahkan tenaga dalamku pun sepertinya makin meningkat," jawab Raka Senggani.
" Untuk itulah, nanti malam Angger Senggani akan eyang buka seluruh simpul-simpul syaraf yg ada pada dirimu itu ,Ngger," kata Panembahan Lawu lanjut.
" Jadi nanti malam, Angger Senggani persiapkan seluruh kemampuanmu untuk menerima pembukaan simpul-simpul syaraf yg akan berguna pengungkapan dari Ilmu Angger Senggani yg sudah sangat tinggi itu, jadi nanti malam Angger Senggani akan menjadi yg lain dari sebelumnya, karena angger Senggani tidak akan mudah lagi dikalahkan oleh siapapun termasuk Resi Brangah ataupun Mpu Loh Brangsang itu, Angger Senggani akan jadi seorang Pendekar yg Pilih Tanding,!" ungkap Panembahan Lawu.
" Sebelum dan sesudahnya, Senggani mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dan pertolongan dari Eyang Lawu ini," kata Raka Senggani.
Ia sampai menciumi tangan dari Panembahan Lawu itu.
" Sudahlah Ngger, hanya satu minta Eyang , janganlah jadi seorang yg Jumawa apalagi sampai congkak karena memiliki banyak kelebihan dan pergunakan kelebihan itu untuk menolong orang yg membutuhkan pertolongan , jangan terlalu cepat menjatuhkan tangan kepada sesuatu yg masih kecil masalahnya, dan upayakan untuk tidak menyimpan dendam, karena terkadang orang bisa terjerumus ke dalam jurang karena dendamnya,!" nasehat Panembahan Lawu lagi.
" Iya eyang , semua yg eyang katakan itu akan Senggani patuhi, dan mudah mudahan, Senggani mampu melakukannya,!" jawab Raka Senggani.
" Bagus, nanti malam kita kembali lagi kedalam goa yg ada diatas itu,!" kata Panembahan Lawu.
" Baik Eyang," jawab Raka Senggani.
__ADS_1
Keduanya kemudian masih menikmati indahnya pemandangan yg ada di kaki gunung Lawu itu, dan air terjun yg tidak henti -hentinya mencurahkan air, seakan akan tidak ada habis dan bosannya ia mengeluarkan air itu.