Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 31 Seda ing Pajang.


__ADS_3

Tubuh Ki Jarie Mendep itu sempat memuntahkan darah lagi,.


" Hoeekkh,..!"


Baru kemudian jatuh terkulai kembali ke tanah dan diam untuk selamanya.


Raka Senggani menatap tidak berkedip hingga suara tawa memecahkan keheningan malam.


" Ha, ha ,ha , sungguh hebat seorang Senopati Pajang, mampu membunuh orang yg bernama si Selaksa racun itu, ha, ha,ha,.!" terdengar tawa dari seseorang.


Hehh, sepetinya aku mengenali suara tawa itu , membathin Raka Senggani.


Seakan ia memang pernah mendengar suara orang orang yg tertawa ini sudah sangat tidak asing lagi.


" Whushhh,..!"


Serangkum angin menuju ke arah nya dan tidak berapa lama muncullah sesosok tubuh yg tidak berada jauh dari Senopati Brastha Abipraya.


Eyang Begawan Kakung Turah, kata Raka Senggani lagi dalam hatinya.


Setelah melihat siapa yang datang itu.


" Memang sungguh hebat ilmu mu itu, Angger Senopati, diriku yg setua ini saja sangat sulit untuk mengalahkan si Jarie Mendep inii, dirimu bahkan harus berhadapan dengan kedua murid utama nya pun masih sanggup untuk membunuhnya, aku acungkan jempol kepadamu,..he ,he ,he,.!" seru orang tua yg baru datang ini.


Ia lantas mendekati Raka Senggani dan berkata lagi,.


" Perkataan dari adi Kebo Anggara ternyata tidak ngayawara, dirimu memang memiliki ilmu yg sangat tinggi, beruntung Demak memiliki seorang Senopati seperti dirimu ini, Ngger,.!" katanya lagi.


" Ahh, saat ini diriku bukan seorang Senopati dari Demak lagi, Senggani hanya seorang yang mengabdikan diri di kadipaten Pajang,.." sahut Raka Senggani.


" Ya, ya, ya dirimu memang saat ini merupakan seorang Senopati di Pajang, namun yg jelas , diriku memang harus mengakui kelebihan dirimu,..!" ucap Begawan Kakung Turah.


Sambil ia menepuk nepuk pundak Raka Senggani, sedangkan yang di tepuk pundak nya hanya diam saja, ia tidak mengira dapat bertemu dengan saudara seperguruan dari Panembahan Lawu ini.


Seorang yg sulit di tebak jalan pikirannya,.bahkan Panembahan Lawu sendiri pun tidak mampu menilainya.


Terkadang bertindak seolah menjadi musuh dan kali ini datang dengan rasa bersahabat sekali .


Pantaslah gelar si Tua Gila di sematkan pada dirinya, berkata dalam hati Raka Senggani.


Mendapati Senopati Brastha Abipraya ini seolah termangu saja, Begawan Kakung Turah kemudian berkata lagi.


"Ditambah lagi dengan cincin peninggalan dari Prabhu Brawijaya itu, kehebatan memang sangat sulit untuk di tandingi, Ngger, Eyang ingin titip pesan untukmu, jika kelak junjungan ku meminta bantuan mu , Eyang berharap dirimu dapat memberikan bantuan kepada nya,..!" ujar Begawan Kakung Turah yg bergelar si Tua Gila ini.


" Ah, Eyang Begawan ini ada ada saja,..siapalah orangnya akan datang meminta bantuan kepada diriku,.!" ungkap Raka Senggani.


" Jangan terlalu merendah , Ngger,.dirimu ini seolah permata dalam sebuah lumpur, yg akan tetap memancarkan cahaya nya meski tertutupi oleh sesuatu,..!" sahut Begawan Kakung Turah.


" Yah, kalau lumpur itu ada celahnya , kalau tidak pasti tidak akan di ketahui oleh siapa pun juga cahaya nya tersebut,.!" balas Raka Senggani.


" Ha, ha, ha, kau benar Angger Senopati, aku suka guyonan mu itu, namun meski demikian , pasti akan ada orang yg akan berusaha menemukan nya meski dalam kubangan lumpu sekali pun,,.ha, ha ,ha,.!" ucap Begawan Kakung Turah sambil tertawa tawa.


Ketika kedua orang ini tengah berbincang bincang, datanglah seseorang ke tempat tersebut.


Dan agak mengagetkan keduanya, termasuk Raka Senggani sendiri.


" Kakang Sandika,.!" serunya agak keras.


" Siapakah dia , Angger Senopati,..?" tanya Begawan Kakung Turah ramah.


Raka Senggani menjelaskan siapa kiranya Lintang Sandika itu kepada penguasa Bukit Tuntang ini.


" Ooo,.. berarti ia ini adalah murid dari adi Kebo Anggara, bukan begitu Ngger,.!" seru Begawan Kakung Turah.


Ia melihat dari ujung rambut sampai ujung kaki Lintang Sandika , seraya berkata lagi,


" Jadi dirimu ini adalah putra dari Tumenggung Bahu Reksa , seorang Tumenggung pinunjul asal dari Demak,.?" tanya nya kepada Lintang Sandika.


" Benar Eyang, Aku adalah putra dari Tumenggung Bahu Reksa, dan juga murid dari eyang Panembahan Lawu,.!" jawab Lintang Sandika pelan.

__ADS_1


Ia cukup segan mendengar nama orang tua yg di sebutkan oleh Raka Senggani ini. Meskipun ia juga adalah kakak seperguruan dari gurunya Panembahan Lawu.


Karena sebagai seorang prajurit sandi yuda Demak, sudah cukup mengenal orang yang paling di cari di seantero Demak ini seorang yg dapat menggegerkan Kotaraja Demak dengan mencuri dua buah pusaka piyandel kerajaan , yaitu Keris Kyai Nogo Sosro dan Kyai Sabuk Inten.


Lintang Sandika kemudian berbisik ke telinga adik angkatnya ini.


" Hehh,..!" seru Raka Senggani kaget.


Ia mengarahkan kembali pandangan matanya ke tempat Ki Jarie Mendep terkapar tadi dan memang dirinya sudah tidak menemukan nya lagi, sosok itu berada disana.


Begawan Kakung Turah lantas berseru,.


" Sudahlah Ngger, memang jasad si Selaksa racun itu telah di bawa pergi oleh murid nya, demikian pula dengan Tumenggung Gajah Ludira , yg dibawa oleh kedua orang bawahannya tadi,.!" ungkap Begawan Kakung Turah.


" Darimana Eyang tahu,..?" tanya Raka Senggani.


Di tanya demikian kembali tawa orang tua ini pecah lagi, sambil tersenyum dirinya mengatakan bahwa kehadiran nya datang kemari adalah untuk memberikan kesempatan kepada mereka itu membawa jasad kedua orang tersebut.


" Mengapa Eyang Begawan melakukan hal itu,..?" tanya Raka Senggani penasaran.


Sambil tetap tertawa tawa, Si Tua Gila ini menjelaskan kepada Raka Senggani agar pihak Kotaraja Demak tidak terlalu sombong dengan para perwira nya , dan juga sebagai pelajaran untuk mereka yang telah menghalalkan segala macam cara agar dapat mencapai maksud nya , apalagi dengan ilmu hitam.


Ia menjelaskan kepada Raka Senggani , dengan tewasnya Ki Jarie Mendep ini membuat pelajaran tersendiri kepada para pemuja setan , dan bahkan kepada muridnya itu sendiri, yg selalu mencari tumbal untuk dapat membuat dirinya lebih hebat dan sakti.


Padahal di atas langit masih ada langit, setinggi apa pun ilmu seseorang itu masih ada lagi yang lebih tinggi.


" Bukan nya diriku tidak mengetahui sepak terjang mereka yang telah meresahkan dan menyusahkan warga Mantyasih ini, beberapa kali aku berusaha untuk menangkap mereka namun acapkali diriku terlambat,.!" terang Begawan Kakung Turah.


" Akan tetapi muridnya itu masih cukup berbahaya, Eyang,..!" sahut Raka Senggani.


Ia memang seharusnya dapat menangkap pelaku penculikan bayi yg telah menggegerkan Tanah Perdikan Mantyasih ini, sebab jika harus di biarkan bebas ia masih dapat berbuat yg tidak sesuai paugeran lagi.


" Sudahlah, jangan terlalu di risaukan, bagaimana pun juga , Dharsasana itu tidak akan dapat berbuat banyak sepeninggal gurunya itu,.!" jelas Begawan Kakung Turah.


Akhirnya Raka Senggani tidak lagi mempersoalkan masalah tersebut, bahkan ia menanyakan kepada Begawan Kakung Turah ini akan kemana tujuan nya .


" Sayang Angger Senopati tidak melihat keramaian yg diadakan di kediaman Ki Gede Mantyasih itu,membuat ingin berlama lama saja disana, sayang aku masih ada urusan,.!" sambung Begawan Kakung Turah lagi.


Dan Raka Senggani hanya mengangguk-angguk saja mendengar penuturan dari si Tua Gila ini.


Setelah agak lama mereka berbincang bincang , Orang tua yg berjuluk Si Tua Gila ini pun pamit meninggalkan tempat tersebut kembali ke Bukit Tuntang.


Kini tinggallah kedua orang itu yg masih berada disana.


Lintang Sandika lantas mengajak adik angkatnya ini meninggalkan tempat tersebut dan kembali ke tanah Perdikan Mantyasih.


Raka Senggani pun setuju dengan permintaan kakak angkatnya ini, mereka pun segera kembali ke Mantyasih.


Malam sudah sangat larut , bahkan sudah terdengar ayam jantan yg berkokok, ketika mereka tiba di rumah Ki Gede Mantyasih.


Di kediaman dari penguasa tanah Perdikan Mantyasih ini masih saja ramai dengan orang-orang yg menonton , sebab acara hiburan yang menampilkan kesenian wayang kulit di gelar sampai pagi.


Melihat kedua orang anak muda ini tiba , Ki Gede Mantyasih dan Ki Ageng Banyu Biru segera bertanya kepada mereka.


" Bagaimana Angger Senopati, apakah angger berhasil menangkap orang itu,?" tanya Ki Gede bersungguh sungguh.


" Sayang nya tidak Ki Gede,.!" jawab Raka Senggani.


Ia pun menceritakan tentang apa yg telah terjadi di dekat perbatasan wilayah tanah Perdikan Banyu Biru itu dari awal hingga akhir.


Dan membuat kedua orang yg mengepalai tanah Perdikan ini cukup tercengang apalagi dengan Ki Ageng Banyu Biru.


" Heh,.ada ada saja , Begawan Kakung Turah itu,.!" serunya.


" Benar , apa maksud dari Guru melakukan hal tersebut,.!" balas Ki Gede Mantyasih.


" Memang jalan pikirannya sulit untuk di tebak, yg jelas kini Si Selaksa racun itu telah tiada , tentu keadaan disini akan lebih baik lagi,.!" ungkap Ki Ageng Banyu Biru.


" Ya, ya, benar yg kakang katakan itu, terkadang kita tidak dapat mengerti jalan pikiran dari guru ini,..!" sahut Ki Gede Mantyasih.

__ADS_1


Meski pagi tidak akan lama lagi tiba namun mereka memang masih asyik mengobrol, terlebih para tamu undangan Ki Gede sudah tidak terlalu banyak lagi, yang tinggal hanya orang orang berada dekat dengan rumah Ki Gede ini.


Pada esok harinya , Gede Mantyasih mengadakan semacam pertemuan kecil di rumahnya.


Ada semacam ucapan terima kasih kepada Raka Senggani yg telah berhasil menggagalkan usaha orang orang yg tidak senang kepadanya di saat hajatan dilangsungkan di rumahnya.


Raka Senggani yg turut hadir disitu ditemani oleh Lintang Sandika kakak angkatnya, bahkan kali ini pun Raka Yantra ada di situ, murid Mpu Loh Brangsang ini terlihat lebih sehat dan mereka tampak asyik menyantap hidangan yg telah disajikan.


Selepas mereka sarapan, maka Ki Gede Mantyasih pun langsung berkata.


" Atas kelancaran pesta hajatan kali ini, Aku mengucapkan banyak terima kasih kepada saudara saudara sekalian termasuk juga kepada Angger Senopati , Raka Senggani dari Pajang,.sungguh kami tidak akan mampu membalas nya karena dengan keberanian nya dan mempertaruhkan nyawa, dirinya mampu membuat orang yang bernama Ki Jarie Mendep itu meregang nyawa,.!" ucap Ki Gede.


Dan semua yg hadir di kediaman dari Ki Gede ini nampak terkejut mendengar nya, termasuk juga dengan Rasala putra Ki Gede yg telah menjadi pengantin baru itu.


" Aku sangat senang mendengar nya,..!" seru Rasala.


Padahal ia sempat berpikir untuk menunda pernikahannya itu setelah adanya beberapa kali kejadian yg menimpa warga Mantyasih ini.


" Sedang salah seorang muridnya telah berhasil lolos, akan tetapi kita harus tetap bersiaga dengan kemunculan kelak, hal ini dapat terjadi jika ia memang menaruh dendam atas Mantyasih ini,.!" lanjut Ki Gede lagi.


Ki Ageng Banyu Biru yg masih berada disana menimpali ucapan dari Ki Gede Mantyasih dengan mengatakan agar tanah Perdikan Mantyasih dan tanah Perdikan Banyu Biru dapat bekerja sama guna mencegah hal tersebut berulang lagi.


Di sela sela pertemuan tersebut, secara pribadi, Ki Gede Mantyasih menanyakan kepada Raka Senggani , kapan kiranya ia akan kembali ke pajang.


" Mungkin esok hari, Ki Gede, karena malam ini kami akan membicarakan sesuatu dengan kakang Sandika di rumah nya,.!" jawab Raka Senggani.


" Baiklah jika memang demikian, esok singgahlah kemari terlebih dahulu sebelum berangkat ke Pajang,.!" ucap Ki Gede Mantyasih.


Raka Senggani pun mengiyakan.


Pada pertemuan kali ini, yg ada di tempat mengucapkan terima kasih dan ucapan selamat jalan kepada nya.


Saat menjelang mentari menggatalkan kulit, Senopati Pajang ini mengajak kakak sepupu nya, Raka Yantra ke kediaman dari Lintang Sandika.


Tiga orang pemuda yang berwajah bagus ini pun langsung meninggalkan rumah Ki Gede menuju rumah Lintang Sandika.


Memang putra Tumenggung Bahu Reksa ini ingin membicarakan sesuatu kepada adik angkatnya, Raka Senggani.


" Adi Senggani kakang ingin menitip pesan kepadamu,.!" kata Lintang Sandika.


Ketika mereka telah tiba di rumah nya.


" Ahh, kakang Sandika ini ada ada saja, sudah seperti Eyang Begawan Kakung Turah saja , pakai titip pesan segala,.!" sahut Raka Senggani


Ucapannya ini langsung dibalasi oleh Lintang Sandika, dengan agak pelan ia menyebutkan bahwa pergerakan dari para prajurit dari kasultanan Cirebon sepertinya sudah siap.


Dan itu artinya, Demak pun harus segera menyiapkan pasukan nya pula.


" Apakah mungkin Raden Fatahillah sudah akan melancarkan serangan,.?" tanya Raka Senggani penasaran.


Sebab ia memang sudah mendengar hal ini saat masih berada di Kotaraja Demak.


Ia pun sudah mendapat ajakan untuk turut serta pula oleh Raden Fatahillah itu.


" Sebenarnya hal ini memang sudah harus dilaksanakan , akan tetapi ada beberapa kendala sehingga harus di tunda lagi,.!" jelas Lintang Sandika.


Putra Tumenggung Bahu Reksa ini mengatakan bahwa kerajaan Pajajaran masih menjadi batu sandungan yg cukup sulit untuk di lewati, apalagi dengan pasukan dari Kotaraja Demak harus melakukan perjalanan melalui jalan darat.


" Akan sangat berbeda jika seluruh pasukan armada Demak ini di kerahkan melalui jalur laut,.!" terang Lintang Sandika.


Selanjutnya ia mengatakan sesuatu yg cukup rahasia kepada Raka Senggani tanpa takut di dengar oleh Raka Yantra, yg bukan merupakan seorang prajurit , baik Demak maupun kadipaten Pajang.


Dari pesan yang di sampaikan oleh Lintang Sandika ini menegaskan agar seluruh pasukan armada Demak sebaiknya lewat dari laut jika memang akan menyerang kota Sunda Kelapa.


" Apakah memang waktunya sudah di tetapkan kakang,.?" tanya Raka Senggani penasaran.


" Memang belum , adi, tetapi bila di lihat dari dekat, tampaknya memang Gusti Raden Fatahillah sudah akan segera melancarkan serangannya, tidak lama lagi, jadi Ramanda Tumenggung sudah dapat menentukan langkah nya ke depan sebelum waktu itu tiba,.!" jelas Lintang Sandika.


" Baiklah kakang Sandika, semua pesan dari kakang ini akan Senggani sampai kan kepada paman Tumenggung,..!" jawab Raka Senggani.

__ADS_1


__ADS_2