
Seorang paruh baya dengan ikat kepala berwarna hitam, di wajahnya di tumbuhi jambang yg sangat lebat, dan warna nya telah dua, hitam serta putih.
Matanya yg agak cekung ke dalam dengan tulang pipi yg menonjol, menambah kesangaran orang yg bernama Ki Suganpara itu.
Di tangan nya terlihat sebuah tongkat pendek dengan gagang berkepala ular.
Ia menatap tajam ke arah dua orang anak muda desa Kenanga itu, terlihat di wajahnya ada rasa heran atas keduanya.
Ia berujar,
" Menyerahlah,... agar kalian dapat selamat,..dan jika kalian berdua mau , kalian berdua akan ku angkat sebagai muridku,.." ucap nya.
Jati Andara dan Japra Witangsa juga memandangi wajah Ki Suganpara itu,.mereka melihat di matanya lelaki paruh baya itu nampak kebengisan walaupun ia berkata dengan pelan.
Keduanya merasa di rendahkan oleh Ki Suganpara itu, Japra Witangsa langsung menyahuti nya,
" Sayang nya kami berdua tidak ingin melakukan nya, untuk menyerah,... apalagi menjadi muridmu,..... Hehh," seru Putra Ki Jagabaya itu.
" Mungkin Guru kami lebih dari mu, Ki Suganpara,... karena ia bukan seorang penjilat rendahan seperti dirimu itu, guru kami sangat diagungkan di tlatah Demak ini,.." sambung Jati Andara
" He, he ,he, aku salut akan keberanian kalian berdua itu,..meski nyawa kalian telah berada di ujung tanduk tetapi kalian tetap berani,. sayangnya,.. aku tidak pernah membiarkan lawanku untuk dapat tetap hidup,..tawaran ini aku berikan kepada kalian,.. karena kalian berdua masih sangat muda ,.. sayang jika harus cepat ke alam kubur,..tetapi aku tidak memaksa,..jika itu pilihan kalian, diriku tinggal melakukan nya saja, seperti membalikkan telapak tangan ku ini,.." kata Ki Suganpara.
Sambil menggerakkan tangan nya memberi contoh kepada Jati Andara dan Japra Witangsa.
Tetapi kedua orang itu tidak gentar mendapatkan gertakan itu. Meskipun mereka memang telah merasakan kehebatan ilmu orang yg berada di hadapan nya itu.
" Silahkan Ki Suganpara melakukan nya, kami tidak akan menuruti segala permintaan mu itu, biarlah kami mati daripada harus menyerah kepadamu apalagi kepada orang yg bernama Sangakeling itu," jawab Jati Andara.
" Hahh,.. bocah ,.kalian tidak melihat tinggi nya Gunung,..andai guru kalian pun berada di tempat ini tidak akan mampu menyelamatkan kalian dari kematian, jadi kuharap kalian masih dapat berpikir jernih dalam mengambil keputusan,.." kata Ki Suganpara.
Jati Andara dan Japra Witangsa merasa muak mendengar ocehan dari orang yg bernama Suganpara itu, terlebih dengan Japra Witangsa, ia mengambil kesempatan itu untuk menyerang Ki Suganpara,
" Hiyyahhh, Aji Wajra Geni,..." teriak nya.
" Dhemmbh,"
" Hua, ha ha ha ha, permainan bocah kalian tunjukkan kepadaku," teriak Ki Suganpara.
Ajian Wajra Geni yg di lontarkan oleh Japra Witangsa itu menemui tempat kosong, seolah lenyap , Ki Suganpara sudah tidak berada di tempat nya.
Sambil tertawa -tawa ia telah berada di belakang kedua anak muda desa Kenanga itu.
" Memang kalian ini, bocah yg sangat bandel,.. tetapi kemampuan kalian itu memang menarik hatiku untuk mengangkat kalian sebagai seorang murid sayang kalian tidak mau," ucap Ki Suganpara.
" Siapa sudi menjadi murid dari seorang macam kau, ****** kau terima ini, hiyyyah,," teriak Japra Witangsa.
Ia kembali melontarkan ajian Wajra Geni yg baru di dapatnya itu.
Tetapi lagi -lagi hanya menemui tempat kosong, karena Ki Suganpara kembali tidak berada di tempat nya lagi.
Kedua pemuda desa Kenanga tampak kebingungan menghadapi Ki Suganpara.
Mereka berdua seolah -olah di permainkan oleh orang tua itu. Melihat hal itu Ki Sangakeling sangat senang, ia pun berteriak,
" Cepatlah Ki Suganpara, ..habisi kedua orang itu, agar kau dapat segera menerima bayaran nya,."
" Hehh, Ki Sangakeling,.. kau jangan mengganggu kesenangan ku, diriku masih senang bermain -main dengan mereka berdua, aku akan melakukan nya jika diriku telah jenuh,.." jawab Ki Suganpara.
" Hehh, Ki Suganpara, jika memang dirimu seorang laki -laki ,.. ayo bertarung secara jantan jangan cuma bisanya bersembunyi,.. hadapi kami berdua,.." teriak Japra Witangsa.
" Apa katamu, terima ini, hiyyah,"
" Dhiesggh,"
Belum selesai ucapan putra Ki Jagabaya desa Kenanga itu secara tiba -tiba saja Ki Suganpara telah berada di sebelahnya dan langsung memberikan pukulan tangan nya ke tubuh Japra Witangsa itu.
Putra Ki Jagabaya itu pun jatuh terjengkang akibat pukulan tersebut.
Melihat hal itu, Jati Andara segera melompat menyerang Ki Suganpara.
" Hiyyyah,"
Putra Ki Bekel itu melesakkan pukulan nya berkali -kali ke tubuh Ki Suganpara.
Orang tua itu tidak bergeming, seolah tidak merasakan akibat pukulan itu.
" Hiyyahhh,"
" Dhieeeghh,"
Tetapi Jati Andara tidak menyerah, ia mengerahkan tenaga dalam nya dengan di lambari ilmu Wajra Geni milik nya menghantam tubuh Ki Suganpara, dan hasilnya tubuh itu dapat terdorong akibat pukulan itu.
Meski beberapa jengkal saja, Ki Suganpara bergeser dari tempatnya.
" Ha, ha, ha, keluarkan seluruh kemampuan mu itu, aku akan sangat senang melayani nya,..ha, ha ,ha," tertawa Ki Suganpara.
Japra Witangsa yg telah mampu bangkit langsung melompat menerjang Ki Suganpara dari belakang.
__ADS_1
" Heaaahh,"
"Dhieeeghh"
Tendangan itu menghantam telak dipungggung Ki Suganpara, namun keanehan terjadi, bukan nya ia yg terjatuh malah Japra Witangsa lah yg terlempar akibat tenaga nya balik menghantam nya.
Putra Ki Jagabaya itu kembali terjatuh ke atas tanah cukup keras. Ia meringis menahan rasa sakit akibat berulang kali terjatuh.
Dua orang pemuda itu nampak kebingungan menghadapi Ki Suganpara itu.
Sedangkan orang suruhan Ki Sangakeling itu masih tertawa -tawa melihat keadaan dari kedua orang asal desa Kenanga itu.
Hahh, ilmunya teramat tinggi, apa yg harus kami lakukan untuk mengalahkan nya, tentu ia memiliki kelemahan, berkata dalam hati Jati Andara.
Di tangan Putra Ki Bekel itu telah tergenggam sebuah senjata,
Sambil memberikan isyarat kepada Japra Witangsa keduanya kembali menyerang dengan senjata di tangan,
" Hiyyahhh ,"
" Hiyyyah,"
" Trangg,"
" Traakkk,"
Kedua senjata itu beradu, dengan di dahului oleh pedang Jati Andara yg mencoba masuk dari depan, dan di tangkis oleh Ki Suganpara, kemudian diikuti oleh serangan dari Japra Witangsa dari belakang, oleh Ki Suganpara di tepis nya dengan memalangkan tongkat nya itu.
Kemudian Ki Suganpara itu ganti membalas dengan menendang Japra Witangsa dengan tendangan memutar ,diteruskan pukulan tangan kirinya ke arah Jati Andara.
Kedua pemuda itu terlambat menghindarinya sehingga mereka berdua harus terjatuh lagi.
" Ha, ha, ha, bagaimana apakah kalian belum mau menyerah,...?" tanya Ki Suganpara.
Kedua anak muda itu diam saja, mereka tidak menjawab pertanyaan dari orang tua itu, di mata keduanya terlihat amarah yg teramat sangat.
Mereka seperti pengewan ewan bagi Ki Suganpara.
Sepertinya memang mereka berdua bukan lawan dsri orang yg bernama Ki Suganpara itu.
Tetapi keduanya tidak mau menyerah, kembali mereka bangkit meski telah berlumuran darah, dari hidung dan mulutnya.
Jati Andara berbisik kepada Japra Witangsa.
" Kita serang dengan ajian Wajra Geni bersama -sama , Witangsa," katanya kepada Japra Witangsa.
Di seberang sana Ki Suganpara masih tertawa -tawa.
" Apa yg akan kalian lakukkan,.. lakukanlah,..aku akan siap melayani nya , ha, ha, ha," teriak Ki Suganpara.
Sementara orang -orang yg ada di tempat itu kasihan melihat nasib kedua anak muda desa Kenanga itu, termasuk Ki Demang dan Ki Jagabaya, tetapi keduanya pun tidak dapat berbuat apa -apa.
Hingga terdengar teriakan dari keduanya,
" Aji Wajra Geniiii,... heaaahhh,"
" Dhumbhh,"
" Hua, ha ha ha," terdengar ketawa dari Ki Suganpara.
Pukulan jarak jauh dari anak muda Kenanga itu tidak menemui sasarannya.
Bahkan ketika sebuah angin pukulan yg cukup keras keduanya harus terpelanting jatuh.
" Baiklah, jika kalian tidak mau menyerah dan bersedia menjadi murid ku,..terpaksa keinginan dari Ki Sangakeling akan kulakukan, ..untuk melenyapkan kalian berdua dari muka bumi in,.." ucap Ki Suganpara.
Lelaki paruh baya itu mendekati tubuh Jati Andara dan Japra Witangsa yg masih tergelatak diatas tanah, walaupun keduanya masih bernafas tetapi untuk bangkit berdiri terasa sangat sulit.
Membuat Ki Demang dan Ki Jagabaya langsung mendekati tubuh keduanya.
" Hehh, kalian berdua jangan turut campur jika masih ingin melihat matahari terbit esok hari ,.." seru Ki Suganpara.
" Benar, Ki Suganpara, bila perlu kedua orang itu pun turut di lenyapkan dari Kedawung ini," teriak Ki Sangakeling.
" Jangan terlalu banyak mulut ,..Ki Sangakeling,..bila memang ada silang sengketa diantara kita, kau dapat langsung mengatakan kepadaku jangan main pinjam tangan orang lain," jawab Ki Demang Kedawung.
Tanpa memperdulikan Ki Suganpara, kedua orang itu berusaha menolong Jati Andara dan Japra Witangsa, keduanya memapah untuk dapat bangkit berdiri.
Ki Suganpara tidak membiarkan hal itu, ia mengirimkan sebuah pukulan jarak jauh di dekat Ki Demang dan Ki Jagabaya.
" Dhumbhh,"
" Jika kalian berdua memang berani menolong kedua anak itu, nasib kalian akan sama dengan mereka, aku tidak punya urusan dengan kalian ,.. hanya kepada kedua orang ini saja urusanku, jadi biarkan mereka di situ,.." ungkap Ki Suganpara.
Baik Ki Demang maupun Sentong Jagabaya kebingungan mendengar ucapan Ki Suganpara itu, jika mereka membiarkan keduanya tentu nyawa keduanya akan melayang,, jika mereka berani menolong nyawa mereka pun terancam.
" Sudahlah Ki Demang dan Ki Jagabaya, tinggalkan kami berdua saja, kami tidak apa -apa,..jika yg Maha Kuasa belum berkehendak , tentu kami berdua tidak akan apa -apa,." ucap Jati Andara.
__ADS_1
" Akan tetapi , Nggerr,..." kata Ki Demang Kedawung.
" Tidak apa -apa , Ki Demang, kami akan melawan orang ini walaupun nyawa taruhan nya, tinggalkan lah kami berdua, " kata Jati Andara.
" Ha, ha ha , sebuah ucapan orang yg putus asa, karena malam ini nyawa kalian berdua ada di tangan ku , bukan di tangan yg Maha Kuasa, ha ha ha, akulah malaikat pencabut nyawa kalian, jadi bersiaplah,.." teriak Ki Suganpara.
Akhirnya Ki Demang dan Ki Jagabaya meninggalkan tempat itu dan membiarkan keduanya menghadapi orang tua itu.
Tinggallah Jati Andara dan Japra Witangsa di tempat itu,.
" Cepatlah,..habisi kedua orang itu agar tidak jadi masalah lagi di Kedawung ini," teriak Ki Sangakeling.
Ki Suganpara diam saja, tetapi kedua tangan nya telah terangkat ke atas, kelihatan nya tokoh sakti dari Kulon itu tengah bersiap melontarkan serangan kepada Jati Andara dan Japra Witangsa.
" Bersiaplah, karena kalian tidak mau menyerah, terimalah ini, hiyyyah," teriak Ki Suganpara.
Dua buah tangan nya itu membuka dan mengarahkannya kepada kedua orang itu., serangkum angin pukulan yg kuat menghajar keduanya,
" Dhumbhh,"
" Bleghuaaarrrr,"
Ternyata pukulan dari Ki Suganpara itu tidak mengenai Jati Andara dan Japra Witangsa, ada serangan yg memapasi serangan itu sehingga membuat keduanya selamat.
" Hahhh, siapa yg ingin mencari masalah denganku, keluarlah,... jangan beraninya hanya dari kegelapan saja," teriak Ki Suganpara.
Ia merasa bahwa orang yg telah berani memapasi serangan nya itu adalah seorang yg cukup tinggi ilmu nya. Karena dari benturan tadi nampak bahwa pukulan jarak jauh nya itu tidak mampu menembus nya.
Merasa ada yg menolong, baik Jati Andara maupun Japra Witangsa, berusaha menjauh dari tempat itu karena Ki Suganpara masih mencari orang yg berani menentang nya itu.
" Cepat,.. keluarlah sebelum habis kesabaran ku,.." teriak nya lagi.
Semua mata memandang ke tempat itu, akan tetapi tidak seorang pun yg hadir disana.
Ketika Ki Sangakeling itu berteriak lagi,
" Baik, jika memang kau tidak mau menunjukkan diri, biar orang -orang Kedawung ini, aku habisi semua,.." teriaknya.
Tiba -tiba,
" Whuuuusshh,"
Terdengar suara angin yg cukup keras, di tempat itu, bersamaan itu pula muncullah sesosok tubuh yg ada di belakang Ki Suganpara.
" Aku ada disini,.kisanak,..." ucap nya.
Ki Suganpara cukup terkejut mendengar ucapan dari orang yg baru datang itu. Ia membalikkan badan melihat kearah orang yg baru datang tersebut., dilihatnya seorang anak muda yg lebih muda dari kedua lawannya tadi.
" Bagus,.. ternyata dirimu itu memang seorang yg pemberani, anak muda, tahu berhadapan dengan siapa kau ini,..?" tanya Ki Suganpara.
" Aku tidak perlu tahu harus berhadapan dengan siapa,..yg jelas Aku tidak senang dengan orang yg bertindak sewenang -wenang,!" jawab orang itu.
Jati Andara dan Japra Witangsa sangat terkejut melihat orang yg baru datang itu, kedua nya berseru kaget,
" Adi Sengganiiii,."
Dan kedua orang serasa mendengar di telinganya ucapan dari Senopati Pajang itu,
" Cepatlah kalian berdua istrahat, rawat luka, kalian itu,.."
Keduanya seperti mendapatkan siraman air dingin, setelah melihat kedatangan dari Sang Senopati Pajang, mereka merasa sangat senang sekali.
" Hehh,..anak muda, ..apakah dirimu memiliki nyawa rsngkap telah berani berhadapan denganku,,.. Ki Suganpara dari kulon,..." bentak Ki Suganpara.
" Nyawa,. seorang manusia itu milik dari yg Maha kuasa, bukan di tanganmu, terbukti kedua temanku itu tidak mampu kau bunuh ,...kisanak, jadi kalau bicara jangan asal keluar saja, aku hanya memiliki satu nyawa,." jawab Raka Senggani.
" Jadi kau teman dari kedua orang itu, baguslah kalau begitu, aku tidak akan memberi ampun kepadamu karena telah berani mengganggu urusanku,. jadi terimalah ini,.. Hiyyyah," teriak Ki Suganpara.
Serangkum angin pukulan menerpa Sang Senopati Pajang itu, ketika tiba di tubuhnya, hal aneh terjadi, tubuh dari Raka Senggani tidak bergeming bahkan serangan itu kembali lagi ke arah Ki Suganpara.
Terpaksa ia harus melompat menghindari serangan balik dari serangan yg telah dilesakkan nya itu.
Hehh, gila orang ini, ia tidak merasakan serangan yg telah ku lontarkan tadi , kata Ki Suganpara dalam hatinya.
Di hati orang tua itu mulai terasa ada rasa gentar, seumur hidupnya baru kali ini ia merasa demikian.
" Bagaimana kisanak,..apakah kita lanjutkan lagi,?" tanya Raka Senggani.
" Hehh, ..jangan terlalu sombong dirimu, terima ini, heaaahh,"
Ki Suganpara melesakkan lagi serangan dari tangannya, sementara Raka Senggani pun menggerakkan tangan nya, untuk menahan serangan Ki Suganpara itu.
Dua pukulan pun beradu,
" Bletaaaaarrrr,"
Tubuh Ki Suganpara terlontar akibat benturan itu, ternyata ilmu dari Ki Suganpara itu masih berada di bawah dari Raka Senggani.
__ADS_1
Sejauh tiga tombak ia jatuh terlempar. sedangkan Raka Senggani masih kokoh berdiri.