Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 31 Seda ing Pajang. bag ketiga.


__ADS_3

" Benar adi Senggani, ternyata ada beberapa ekor kuda tengah mengarah kemari, mungkin jumlahnya tidak kurang sepuluh ekor, !" kata Raka Yantra.


" Kalau begitu kita harus bersembunyi, kita belum tahu siapa mereka ,..!" sahut Raka Senggani.


Kedua saudara sepupu ini lantas menyembunyikan kedua kudanya sedang mereka sendiri naik ke atas pohon dimana mereka tadi berlindung.


Cahaya kilat masih saja menyambar nyambar, sehingga tempat tersebut mendadak terang dalam sekejap dan gelap setelah hilangnya cahaya dari petir itu.


Sedangkan derap langkah kaki kuda yang terus mendekati tempat itu membuat kedua orang yg sedang menanti ini semakin penasaran di buatnya.


Memang tidak terlalu lama, beberapa ekor kuda melintasi di bawah pohon besar yang di tempati oleh Raka Senggani dan Raka Yantra.


Bertepatan saat itu sebuah cahaya terang dari petir datang, hingga keduanya dapat melihat dengan jelas siapa yang berada di bawah mereka ini.


Aku tidak mengenal dengan orang -orang ini, siapa mereka dan mau kemana, bertanya dalam hati Raka Senggani setelah melihat orang yang melintasi mereka ini.


Setelah agak jauh, Senopati Brastha Abipraya kemudian bertanya kepada kakak sepupu nya.


" Apakah kakang Yantra tahu siapa mereka,.?" tanya nya kepada Raka Yantra.


" Sepertinya diriku mengenal mereka adi Senggani,.!" jawab putra dari Raka Jang ini.


" Siapa ,.?" tanya Raka Senggani penasaran.


Raka Yantra kemudian menceritakan tentang gerombolan rampok yg pernah menyasar kediaman mereka berdua Warasaba beberapa waktu yang lalu.


Gerombolan tersebut di pimpin oleh orang yang bernama Lowo Kumbolo.


" Sepertinya mereka ini adalah gerombolan rampok di bawah kepemimpinan dari Lowo Kumbolo itu adi Senggani,.!" terang Raka Yantra.


" Hehh, gerombolan rampok,. apakah mereka tengah melakukan perampokan di wilayah Pajang ini, tidak bisa di biarkan mereka itu,.!" sahut Raka Senggani.


Senopati Brastha Abipraya ini akan segera melakukan pengejaran, namun niatnya segera di urungkan ketika mendengar kembali derap kaki kuda menuju tempat mereka ini.


Agak lama memang barulah para penunggang kuda tersebut melintas.


Kali ini yg sangat terkejut adalah Raka Senggani sendiri setelah melihat siapa yang lewat.


Rangga Wiradipa, serunya dalam hati.


" Huffhhh,..!"


Tidak menunggu lama, Senopati Brastha Abipraya segera melesat mengejar penunggang kuda yang merupakan bagian dari prajurit Pajang.


Kelebatan sang Senopati begitu ringannya, ia dalam sekejap telah mampu menyusul dan mendahului rombongan tersebut.


" Berhenti,..!" teriak Raka Senggani dengan kerasnya.


Dimana hujan masih saja turun dengan derasnya, dan sesekali diiringi suara dentuman petir yang sangat keras.


Sehingga ucapan Senopati Pajang ini pun seolah mampu membelah suara petir tersebut dan menghentikan mereka para prajurit Pajang.


" Hehh, siapa kau berani menghentikan kami, !" sahut pemimpin prajurit Pajang ini.


Sambil terus saja ia menjalankan kudanya mendekati orang yang tengah menghadang jalan nya ini.


Dalam jarak sepuluh langkah, Rangga yg memimpin pasukan itu pun menghentikan kudanya.


" Siapa kau dan apa maksudmu menghentikan kami, minggirlah,..!" seru nya.


Karena orang yang menghadang nya membelakanginya, tentu saja dalam keadaan begitu agak sulit mengenalinya.


Setelah Raka Senggani membalikkan tubuhnya , dan sesaat tempat tersebut di terangi oleh cahaya halilintar, pemimpin prajurit dari Pajang ini berseru kaget,.


" Senopati Brastha Abipraya,..!" teriaknya keras.


ia pun langsung turun dari kudanya dan menghampiri Raka Senggani.


" Apa khabar mu, Senopati, sudah lama kita tidak bertemu,.!" ujarnya sambil memeluk tubuh Raka Senggani.


" Baik, bagaimana dengan dirimu Ki Rangga,..?" tanya Raka Senggani kepada Rangga Wiradipa.


" Agak kurang baik, Senopati,.!" jawab Rangga Wiradipa sera melepaskan pelukannya.


Lantas Raka Senggani mengajak perwira Pajang ini ke tempatnya semula, sambil ia menanyakan keperluan apa sehingga harus jauh -jauh datang ke tempat tersebut.

__ADS_1


Oleh Rangga Wiradipa kemudian di jelaskan bahwa saat ini di kadipaten Pajang tengah banyak terjadi perampokan dan pencurian.


Sehingga ketika mereka sedang nganglang, mendapati ada segerombolan orang yang tengah melakukan perampokan dan pembakaran di sebuah pedukuhan yg tidak terlalu jauh dari tempat tersebut.


" Apakah Senopati Brastha Abipraya ada melihat mereka lewat dari sini,..?" tanya Rangga Wiradipa.


Dijawab oleh Raka Senggani bahwa mereka memang melihat ada sepuluh orang penunggang kuda yang melintasi tempat tersebut.


" Memang mereka itulah pelaku perampokan nya, Senopati Brastha Abipraya,..!" sahut Rangga Wiradipa.


Raka Yantra yg mendengar pembicaraan keduanya segera menyahuti ucapan perwira Pajang ini.


" Mereka itu memang gerombolan rampok dari Warasaba , Ki Rangga,.,!" ucap pemuda itu.


" Hehh, darimana kisanak ini tahu, dan siapakah kisanak ini sebenarnya,.?" tanya Rangga Wiradipa agak heran .


Setelah ia melihat adanya kemiripan wajah antara Senopati Brastha Abipraya dengan orang tersebut.


Adalah Raka Senggani yg menjelaskan kemudian dengan menyebutkan bahwa pemuda itu adalah kakak sepupu nya yg berasal dari Warasaba, kini mereka berdua akan kembali ke Pajang.


" Ooo, ternyata saudara dari Senopati Brastha Abipraya sendiri, pantas sangat mirip,..!" seru Rangga Wiradipa.


Orang kepercayaan dari Tumenggung Wangsa Rana lantas menanyakan perihal orang orang yg telah menjarah dan merampok di pedukuhan dalam wilayah kadipaten Pajang ini.


" Sudahlah Ki Rangga, sebaiknya kita kembali saja , yg penting saat ini , seluruh prajurit Pajang harus bersiap siaga akan kemunculan mereka lagi,.!" terang Raka Senggani.


Sebagai salah seorang menjadi pemimpin prajurit di kadipaten Pajang, ucapan dari nya ini adalah perintah.


" Baiklah kalau begitu, Senopati ,kami akan segera kembali, memang saat ini Pajang dalam keadaan berduka,..!" ucap Ki Rangga Wiradipa.


" Berduka,.. memang nya ada apa Ki Rangga,.?" tanya Raka Senggani.


Rangga Wiradipa mengatakan kepada Raka Senggani bahwa saat ini Kanjeng Gusti Adipati tengah sakit keras , entah berapa tabib yang sudah di datangkan tetapi penyakit nya tak kunjung membaik, bahkan bertambah parah.


Ini di manfaatkan oleh sebahagian orang dengan melakukan tindakan yg tidak terpuji , banyak perampokan dan pencurian yg terjadi.


Sebab banyak para pembesar dan petinggi Pajang tidak lagi mementingkan keamanan dari keseluruhan wilayah kadipaten ini, hanya keamanan dari kedudukan mereka saja lah yg mereka utamakan.


Demikianlah cerita yg dituturkan oleh Rangga Wiradipa ini.


" Apakah Paman Tumenggung Wangsa Rana pun berlaku demikian, Ki Rangga,..?" tanya nya.


Sambil menghela nafasnya, dan memandang arah kejauhan, ia menyambung perkataan,


" Mungkin hanya seorang Tumenggung Wangsa Rana sajalah yang memikirkan keadaan dari wilayah Pajang ini , sehingga kami harus jauh -jauh datang kemari dalam rangka tugas , sedang para prajurit yg lain enak -enakan tidur dalam biliknya yg hangat, tanpa mau perduli,.!" kata Rangga Wiradipa lirih.


Memang bersama Rangga Aryo Seno , Rangga Wiradipa adalah orang kepercayaan dari Tumenggung Wangsa Rana, seorang yang sangat setia terhadap Adipati Pajang ini.


Ia tidak banyak mementingkan kepentingan dirinya sendiri , bahkan cenderung lebih banyak memikirkan orang lain daripada hanya sekedar sebuah hasrat yang menggebu-gebu terhadap sebuah kedudukan tanpa memikirkan orang lain.


" Entahlah Senopati, bagaimana nasib kami ini sepeninggal dari Kanjeng Gusti Adipati, apakah akan tetap bertahan di Pajang atau malah akan di campakkan,.!" kata Rangga Wiradipa lagi.


" Tenang Ki Rangga,.!" balas Raka Senggani


Ia pun membisiki sesuatu di telinga Rangga Wiradipa dan membuat perwira Pajang tersentak kaget.


" Benarkah hal tersebut, Senopati, kini dirimu tidak lagi bertugas sebagai seorang Senopati di Kerajaan Demak,.?" tanyanya tidak percaya.


Sambil tersenyum, Senopati Pajang ini menceritakan tentang dirinya yg dimasa Sultan Demak kedua bertahta, ia merupakan seorang yang di percaya oleh sang Raja, tetapi kini setelah terjadinya perpindahan kekuasaan, bukan nya ia semakin baik nasibnya malah kini menjadi seorang buruan dan banyak di cari oleh pihak Kerajaan.


" Memang demikian lah hidup Ki Rangga, terkadang kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa yg akan datang, kita hanya berusaha dan berdoa, selebihnya hanya yg Maha kuasalah yg berhak menentukan nya,.!" terang Senopati Brastha Abipraya.


Sang Senopati mengajak para prajurit Pajang ini untuk bersiap kembali menuju Pajang.


Memang malam masih lama lagi waktunya sedang hujan turun seolah tidak ingin berhenti.


Meski demikian, para prajurit Pajang dan Raka Senggani serta Raka Yantra bersiap akan kembali.


Ini diambil oleh Raka Senggani, karena mereka sudah basah kuyup, untuk beristirahat pun rasanya tidak mungkin,hingga lebih baik saja meninggalkan tempat tersebut.


Menjelang pagi barulah hujan yg turun itu berhenti, dan rombongan ini tiba di pedukuhan dimana tempat terjadinya perampokan tadi malam.


Masih terlihat bekas bekas dari rumah yg terbakar, juga adanya beberapa mayat yg belum di kuburkan.


Seorang penduduk pedukuhan ini menghampiri para prajurit Pajang itu.

__ADS_1


Dengan keras ia berkata,.


" Apa tugas kalian , tidak mampu menangkap para bajingan yg telah membuat kerusakan di pedukuhan kami ini, dasar tidak berguna,.!" teriak orang tersebut.


Rangga Wiradipa hanya mampu berdiri mematung saja tidak menjawab perkataan dari orang itu.


Raka Senggani langsung membawa para prajurit Demak menuju banjar pedukuhan mencari pemimpin nya.


" Apakah kami dapat bertemu Ki Bekel,.!" ucap Raka Senggani kepada orang orang yg berada di banjar pedukuhan ini.


"Untuk apa kisanak mencari Bekel kami, apa mau kisanak ini,?" tanya orang tersebut agak marah.


" Maaf sebelumnya Kisanak, kami hanya ingin tahu saja mengenai keadaan disini,.jadi izinkanlah kami bertemu Ki Bekel,.!" kata Raka Senggani lagi.


Dan datanglah seorang yg bertubuh kekar dengan kumis dan jenggot menghiasi dagu dan mulut nya.


Orang ini tampak sangat berwibawa sekali, ia langsung berkata,


" Ada apa Kisanak ini ingin bertemu dengan ku,.!" ucapnya sambil memilin kumisnya yg tebal itu.


" Jadi Kisanak ini adalah Bekel Pedukuhan ini,.?" tanya Raka Senggani.


" Benar akulah Bekel Pedukuhan ini, ada perlu apa kisanak ini ingin mengetahui keadaan Pedukuhan kami, Apakah kisanak ini memang seorang prajurit, ?" tanya orang yang mengaku pemimpin pedukuhan tersebut.


Raka Senggani menganggukkan kepala nya seraya bertanya kepada Ki Bekel , sudah berapa kali para perampok itu melakukan aksinya.


Di jawab oleh Ki Bekel sudah tiga kali mereka mengalami nasib seperti hari ini.


Dan dirinya mengatakan kepada Senopati Brastha Abipraya ini bahwa para prajurit Pajang tampak nya tidak pernah memikirkan mereka sebagai kawula Pajang.


" Tidak demikian Ki Bekel, saat ini Kanjeng Adipati tengah dalam keadaan sakit, sehingga membuat para prajurit terpusat pada penyembuhan nya,!" terang Raka Senggani.


Akan tetapi Bekel Pedukuhan ini tidak mau terima dengan alasan sakitnya Pemimpin tertinggi kadipaten itu para pejabat nya melupakan keadaan mereka. Bahkan agak berat hati lagi , Bekel menyebutkan , kelak kemudian penghuni pedukuhan yg di pimpinnya ini akan menjadi kosong habis di bantai oleh para perampok.


" Kami berjanji Ki Bekel, mulai hari ini akan berusaha untuk melakukan penjagaan di pedukuhan ini dengan meninggalkan salah seorang prajurit , yg akan siap menyampaikan kabar ke kota Pajang,!" terang Senopati Pajang tersebut.


Akhirnya Raka Senggani meminta kepada Rangga Wiradipa untuk meninggalkan dua orang prajurit di pedukuhan ini.


Sedangkan mereka tetap melanjutkan perjalanan kembali ke Pajang.


Mentari telah menggatalkan kulit saat rombongan prajurit yang sedang nganglang ini kembali ke Kadipaten Pajang, dan kali ini mereka bersama dengan Senopati Brastha Abipraya dan kakak sepupu nya , Raka Yantra.


Menjelang tengah malam sampailah rombongan ini di Pajang, dan para prajurit kembali ke bangsalnya sedangkan Rangga Wiradipa , Raka Senggani dan Raka Yantra menuju kediaman dari Tumenggung Wangsa Rana.


Sungguh terkejut pemimpin pasukan dari kadipaten Pajang ini saat mengetahui kedatangan Rangga Wiradipa dengan di temani oleh Senopati Brastha Abipraya.


Setelah saling memberikan salam, Tumenggung Wangsa Rana langsung bertanya kepada Senopati Brastha Abipraya.


" Bagaimana kabarmu Angger Senggani, apakah dalam keadaan baik,..?" tanya nya.


" Alhamdulillah baik, Paman Tumenggung,.!" jawab Raka Senggani.


Langsung saja Senopati agul agul Pajang ini menanyakan keadaan dari Adipati Pajang yg dalam keadaan sakit itu.


" Tampaknya sangat sulit untuk di sembuhkan, Angger,. namun begitu Pajang tidak menyerah dan saat ini kami tengah menunggu seorang tabib dari cirebon,.mudah mudahan beliau dapat menyembuhkan nya, !" terang Tumenggung Wangsa Rana.


Raka Senggani nampak terdiam mendengar penuturan dari Tumenggung Wangsa Rana ini, ia telah banyak berhutang budi terhadap penguasa tertinggi kadipaten Pajang ini.


Diantaranya ia telah di anugerahi sebuah pusaka berupa keris , yaitu keris Kyai Macan Kecubung.


" Angger Senggani, apakah tugasmu telah selesai,.?" tanya Tumenggung Wangsa Rana kepada Raka Senggani.


Pertanyaan ini membuyarkan lamunan dari Raka Senggani, ia memang pernah bercerita kepada orang tua yg sudah dianggap nya sebagai seorang ayah ini bahwa ia akan ke Rawa Pening guna menyelidiki mengenai dua buah benda pusaka yg menghilang itu.


" Sudah Paman Tumenggung, namun diriku tidak berhasil membawa kembali kedua pusaka tersebut,.!" terang Raka Senggani.


Ia memang merasa tidak ada lagi rahasia yg harus di sembunyikannya dari orang tua ini sebab saat ini dirinya bukanlah seorang prajurit sandi yuda Demak lagi.


Tugasnya kali ini hanyalah atas permintaan dari Tumenggung Bahu Reksa selaku seorang tua terhadap anaknya.


Setelah selesai menjawab pertanyaan dari Tumenggung Wangsa Rana, Raka Senggani malah ganti bertanya mengenai keadaan dari Kadipaten Pajang ini termasuk jika umur sang Adipati tidak dapat bertahan lama.


Terlihat wajah Tumenggung Wangsa Rana agak menegang setelah mendapatkan pertanyaan itu, ia tahu keadaan dalam istana Kadipaten Pajang ini yg tidak memiliki seorang Adipati anom, disebabkan seluruh keturunan dari sang Adipati adalah perempuan dan telah menikah , bahkan telah hidup di beberapa bagian cukup jauh dari Pajang ini.


" Hehh, entahlah Ngger, ada kemungkinan nya, pihak Kotaraja akan menempatkan orang nya yg akan menggantikan Kanjeng Gusti Adipati memerintah disini,.!" ungkap Tumenggung Wangsa Rana.

__ADS_1


__ADS_2