Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 3 Memburu Singo Lorok bagian ke tiga.


__ADS_3

Singo Lorok terus menggerayangi tubuh Tara Rindayu, tubuh polos itu di raba dan di sentuh dengan kasar oleh Singo Lorok.


Kemudian pemimpin rampok asal Gunung Tidar itu membuka pakaian hingga tubuh nya pun tanpa sehelai benang.


Kembali Singo Lorok melakukan perbuatan bejatnya itu, namun karena kurang puas, karena Tara Rindayu diam saja akhirnya Singo Lorok melepaskan totokannya, hingga membuat tubuh dari Tara Rindayu itu bebas bergerak, melihat ada seorang lelaki disisinya tanpa sehelai benang ,Tara Rindayu langsung menjerit,


" Tidaaaaak, pergi kau, pergi kau dari sini, jangan dekati aku, pergiiiiiiii,!"


Tara Rindayu berusaha meraih pakaian nya kembali, ia kemudian memakainya, akan tetapi belum pun sempat ia menggunakannya , Singo lorok menarik kembali Tara Rindayu dan terpaksalah gadis itu terduduk kembali di dipan itu, Singo Lorok langsung mendekap dan menciuminya dengan kasar, sedangkan Tara Rindayu semakin berontak.


Namun apa mau di kata tenaga Tara Rindayu kalah dari Kepala begal asal gunung tidar itu, ia kemudian dapat di jatuhkan oleh Singo Lorok dan tertelungkup di dipan itu.


Singo Lorok kemudian berusaha naik ke atas tubuh itu, dan akan melakukan hal yg tidak sepantasnya untuk dilakukan , tapi Tara Rindayu berusaha berontak dan berhasil membalikkan badannya, dan pertolongan itu pun datang karena ketika dilihat oleh Singo Lorok, Bulan datang tepat pada waktunya menolong Tara Rindayu.


Terlihat dari arah ************ gadis itu ada cairan merah , ya darah,


Sebagai seorang perempuan memang sewajarya dan sudah lumrah memiliki hal tersebut.


Singo Lorok langsung melompatt turun setelah melihat hal tersebut, karena sebejat apa pun dia, tidak akan melakukan hal itu jika sang wanitanya dalam kedatangan bulan.


Segera ia menyambar pakaiannya dan melompat turun dari gubuk itu.


Di tinggalkannya Tara Rindayu yg lagi menangis sesenggukkan di dalam.


Tidak berapa lama tempat itu kedatangan dua orang anak buah Singo Lorok yaitu Ki Bawuk dan Ki Kaliran keduanya tampak tergesa -gesa dan ketakutan.


Bahkan ketika Singo Lorok menegurnya mereka hampir saja lari.


" Hehhh, ada apa , mengapa kalian ketakutan begitu,?" tanya Singo Lorok.


" Mana harta rampasan yg telah kalian dapatkan,!" seru Singo Lorok.


" Ahh, Kakang Lorok kami kira siapa,!" kata kedua orang itu kaget bukan kepalang.


" Ada apa dengan kalian, seperti melihat hantu saja,?" tanya Singo Lorok lagi.


" Nngg, nganu, eh anu Kang, begini kami telah,...!" ucap Ki Bawuk ter gagap.


" Ada apa dengan mu, Bawuk, bicara yg jelas jangan nganu -nganu saja,!" tegas Singo Lorok.


" Gawat Kang, kita harus segera meninggalkan tempat ini, karena tempat ini sudah tidak aman lagi, Kang, " terdengar kata-kata dari Kaliran.


" Kalian ini kenapa, apa sebenarnya yg terjadi , mana kakang Singo Ireng dan teman kita yg lainnya,?" tanya Singo Lorok tidak mengerti.


" Begini Kang, Kakang Singo Ireng telah tewas dan teman -teman kita telah tertangkap hanya beberapa orang saja yg bisa melarikan,!" jelas Ki Bawuk.


" Hehhh, bagaimana bisa terjadi, siapa yg telah membunuh kakang Singo Ireng dan yg telah menangkap teman -teman kita itu, bukankah ketika Kutinggalkan kita masih baik -baik saja, bahkan tidak seorang pun yg mampu dan berani melawan kita, terutamanya kakang Singo Ireng,?" tanya Singo Lorok keheranan setelah mendengar ucapan Ki Bawuk itu.


Kemudian Ki Bawuk menceritakan kejadian yg sebenarnya setelah Singo Lorok meninggalkan tempat itu dari kedatangan penyerangan gelap sampai perang tanding antara Singo Ireng dengan Raka Senggani bahkan ketika kedatangan para prajurit dari Pajang itu, semuanya tidak ada yg tersisa, dan Singo Lorok barulah tampak mengerti.


" Jadi kakang Singo Ireng tewas oleh pemuda yg bernama Raka Senggani itu, Ki Bawuk,?" tanya Singo lorok kepada Ki Bawuk.


" Benar kakang, dan yg telah membunuhi para anggota yg lain juga pemuda itu, oleh sebab itu sebaiknya kita segera meninggalkan tempat ini, mungkin mereka akan datang menyerbu kemari, kakang Lorok,!" jelas Ki Bawuk.

__ADS_1


" Iya kakang, sebaiknya kita segera meninggalkan tempat ini sebelum semuanya terlambat,!" ucap Ki Kaliran menimpali.


" Hehh, kita mau pergi kemana, bukan kah tempat ini adalah tempat yg aman dan mereka tidak akan berani datang kemari, kalau berani hanya akan mengantarkan nyawa saja,!" jawab Singo Lorok.


" Jangan begitu kakang, jumlah prajurit dari Pajang itu cukup banyak, di tambah lagi dengan pemuda itu, mungkin sebentar saja mereka akan menggilas kita, dengan menggunakan busur dan anak panah tewaslah kita, Kakang,!" ucap Ki Bawuk lagi.


" Bawuk, mulai kapan engkau jadi pengecut, badan dan jambangmu saja yg besar dan tebal namun nyalimu kecil,!" teriak Singo Lorok marah.


" Bukan begitu kakang Lorok,jika kita semua tewas siapa lagi yg akan membalaskan dendam kakang Singo Ireng, dan kedudukan mereka saat ini lebih kuat dari kita, jadi untuk sementara kita lebih baik menyingkir dan nanti kita buat rencana yg lain untuk membalas kekalahan ini,!" kata Ki Kaliran.


Singo Lorok tampak berpikir setelah mendengar ucapan dari Kaliran itu, ia memandangi kedua orang kepercayaannya itu, memang ada benarnya juga yg diucapkan oleh kedua nya.


" Baiklah kita akan menyingkir, tetapi kemana, apakah kita akan kembali ke Gunung Tidar,?" tanya Singo Lorok lagi.


" Sebaik nya kita tinggalkan tempat ini secepatnya, kemana tujuan kita selanjutnya kita pikirkan sambil kita berjalan, mungkin ke alas Mentaok juga baik,!" jawab Ki Bawuk.


" Untuk sementara tujuan kita ke alas Mentaok, jika di jalan nanti kita dapat tempat yg lebih baik, baru kita mengarah ke tempat itu, segeralah kalian berkemas,!" kata Singo Lorok.


" Kakang bagaimana dengan den Rindayu, apakah ia kita bawa pula,?" tanya Ki Bawuk lagi kepada Singo Lorok.


" Hehhh, iya , bagaimana dengannya, tadi kutinggalkan dalam keadaan tidak tertotok,!" kata Singo Lorok.


Kepala begal asal Gunung Tidar baru teringat dengan Tara Rindayu yg di tinggalkan dalam keadaan tidak tertotok.


Dengan cepat Singo Lorok mendatangi gubuk dimana Tara Rindayu tadi ditinggalkan.


Setelah sampai di gubuk itu Singo Lorok langsung masuk dan dilihatnya tempat itu telah kosong.


" Bawuk dan kau Kaliran segera cari Putri Juragan Tarya itu sampai dapat kalau tidak, kita tidak akan pergi dari tempat ini,!" perintah Singo Lorok kepada kedua anak buahnya itu.


********


Di Kenanga sendiri, setelah selesai makan, Raka Senggani yg di temani Sari Kemuning menuju rumah dari Ki Jagabaya, Raka Senggani ingin sekedar melihat keadaan dari Ki Jagabaya itu, meskipun tadi ia sempat datang ke banjar desa meski tidak terlalu lama.


Melihat Raka Senggani dan Sari Kemuning berjalan menuju rumah Ki Jagabaya, Ki Lamiran segera mendekati kedua orang itu.


" Apakah angger Senggani akan menemui Ki Jagabaya,?" tanya Ki Lamiran kepada Raka Senggani.


" Benar Ki, Senggani ingin melihatnya dan kakang Witangsa, meskipun tadi ia telah datang ke banjar desa,!" jawab Raka Senggani.


" Ngger, bukankah ini telah hampir malam, apa tidak sebaiknya kita segera menyatroni tempat Singo Lorok itu bersarang dan mudah mudahan ia masih di sana,!" ungkap Ki Lamiran.


" Hahh, aki Lamiran benar, bagaimana nasib Tara Rindayu, Senggani bisa jadi lupa akan hal itu, memang sebaiknya kita segera ke sana,!" ucap Raka Senggani.


" Jadi kakang Senggani akan mencari Rindayu?" tanya Sari Kemuning yg nampak agak kurang senang.


" Bagaimana pun Tara Rindayu adalah teman kita, Kemuning , dan saat ini ia butuh pertolongan, sudah kewajiban kitalah untuk menolongnya,!" jawab Raka Senggani.


" Jadi kakang Senggani tidak jadi ke rumah Kemuning,?" tanya Sari Kemuning lagi.


" Jadi Kemuning, Senggani akan tetap ke rumahmu terlebih dahulu dan selepas maghrib baru kakang akan pergi,!" jelas Raka Senggani.


" Mari Ki, kita ke rumah Ki Jagabaya terlebih dahulu nanti setelahnya baru kita mencari Tara Rindayu,!" ajak Raka Senggani kepada Ki Lamiran.

__ADS_1


Mau tidak mau pande besi desa Kenanga itu menuruti langkah Raka Senggani yg telah lebih dahulu berjalan ke rumah Ki Jagabaya.


Sampai di rumah Ki Jagabaya tepat saat maghrib, Raka Senggani langsung melaksanakan perintah yg Maha kuasa di rumah Ki Jagabaya itu.


Sebentar berbincang dengan Ki Jagabaya dan Japra Witangsa, kemudian Raka Senggani dan Ki Lamiran langsung meninggalkan tempat itu.


Mereka menuju hutan tempat Singo Lorok membuat sarang, keduanya dengan cepat telah sampai di pategalan mereka.


" Ki , sebaiknya aki Lamiran nanti menunggu di atas saja, jika mereka memang berada disana dan berupaya melarikan diri ke atas, aki lah yg bertugas mencegatnya,!" kata Raka Senggani.


" Baik Ngger,!" kata Ki Lamiran.


Kemudian keduanya masuk ke dalam hutan itu, dengan Raka Senggani yg berjalan di depan.


Setelah cukup dalam memasuki hutan itu barulah keduanya berpisah karena Ki Lamiran tetap menunggu di atas, sedangkan Raka Senggani turun ke bawah.


Dengan menggunakan ilmu peringan tubuhnya Raka Senggani melesat turun ke bawah , sesampainya di tempat persembunyian dari para perampok asal Gunung Tidar itu, dilihat oleh Raka Senggani dalam keadaan sunyi seolah tanpa penghuni.


Ia mengetrapkan pendengarannya dengan sebaik -baiknya untuk mencari keberadaan dari para penghuninya namun ternyata nihil. Tidak orang disana.


Kemudian Raka Senggani langsung memeriksa gubuk itu satu persatu dan ternyata kosong.


Setelah beberapa kali diulanginya memang tempat telah tidak berpenghuni lagi.


Dengan cepat Raka Senggani naik ke atas dan menemui Ki Lamiran yg tengah bersembunyi.


" Ki, ini aku Senggani,!" kata Raka Senggani perlahan.


Muncullah Ki Lamiran dari balik semak semak itu.


" Bagaimana Ngger , apakah mereka sudah tidak ada lagi,?" tanya Ki Lamiran kepada Raka Senggani.


" Sepertinya begitu Ki, mereka telah meninggalkan tempat ini, akan tetapi kemana perginya,mereka, ?" tanya Raka Senggani.


" Mereka telah mengetahui kekalahannya, sehingga Singo Lorok dan kawanannya yg lain segera pergi meninggalkan tempat ini, akan tetapi kemana perginya itu masih tanda tanya yg besar, apakah mereka kembali ke Gunung Tidar atau ke tempat yg lain,!" kata Ki Lamiran.


" Sebaiknya kita kembali ke banjar desa saja terlebih dahulu, Ki, baru dari sana kita menentukan langkah memburu Singo Lorok itu,!" kata Raka Senggani.


" Baiklah Ngger, tampaknya tugas kita makin berat Ngger untuk memburu Singo Lorok itu ,!" kata Ki Lamiran lantas berjalan keluar dari dalam hutan itu.


Kedua nya menuju banjar desa Kenanga di mana para prajurit Pajang menginap.


Sampai di banjar desa itu, terlihat Ki Bekel dan Rangga Wira Dipa masih asyik mengobrol.


Dan melihat kedatangan kedua orang itu, Ki Bekel lantas bertanya,


" Darimana kakang Lamiran dan Angger Senggani, mari sini kita minum wedang jahe,dulu biar badan agak hangatan sedikit ,!" ajak Ki Bekel kepada kedua nya.


Kemudian Ki Lamiran dan Raka Senggani pun duduk di tempat itu sambil menikmati wedang jahe dan pisang rebus.


Keduanya terus memikirkan kemana perginya Singo Lorok itu, apakah kembali ke Gunung Tidar atau malah ke Alas Mentaok.


Sementara malam kian larut, suara burung -burung malam saling bersahutan.

__ADS_1


__ADS_2