Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 14 RAWA RONTEK bag ke enam.


__ADS_3

Setelah dari kali,. Dewi Dwarani dengan cepat kembali pulang.


Ia merasa harus segera mempersiapkan segala sesuatu nya nanti malam. Karena menurut Raka Senggani,..mereka berdua akan menyambangi kediaman dari Ki Tanu.


Setibanya di rumah,. Dewi Dwarani pun masih sempat berbincang dengan Raka Senggani dan Japra Witangsa.


Namun siang itu mereka bertiga beristrahat agar nanti malam mereka dapat bergerak.


Sampai menjelang sore ketiganya baru bersiap,. Japra Witangsa dipesankan oleh Raka Senggani agar tidak bertindak ceroboh,..tugasnya hanya mengawasi Ki Garengpati,..dan ia tidak akan ikut ke rumah Ki Ageng Boyolangu malam nanti.


Saatnya tiba ketika malam telah menyelubungi tanah perdikan Boyolangu.


Japra Witangsa berjalan sendiri menuju rumah Ki Garengpati,.sedangkan Raka Senggani dan Dewi Dwarani datang ke rumah Ki Ageng Boyolangu.


Pemimpin tanah perdikan itu agak terkejut karena mereka datang hanya berdua saja.


" Angger Senggani,..kemana Angger Witsngsa,..?" tanya Ki Ageng Boyolangu.


" Kakang Witangsa sedang berada dirumah,. karena malam ini ,..ia yg bertugas menjaganya,.." jelas Raka Senggani.


" Memangnya kenapa,..apakah rumah kalian itu sekarang sudah tidak aman lagi,... Ngger,.?" tanya Ki Ageng Boyolangu.


" Demikianlah Ki Ageng,..saat kami kembali dari sini kemarin malam,..rumah kami tempat menginap itu telah di bongkar oleh orang,..jadi untuk malam ini biarlah salah seorang dari kami menjaganya,.." ungkap Raka Senggani.


Meski agak berat hati,.. Senopati Pajang itu berbohong di hadapan Ki Ageng Boyolangu itu.


Karena sebenarnya saat ini Putra Ki Jagabaya itu tengah mengawasi keadaan Ki Garengpati.


" Dan kami pun tidak akan lama di sini Ki Ageng,..karena sepertinya penculik itu segera akan bertindak melakukan penculikan lagi, sehingga kami pun harus mulai bergerak pula,.." ucap Raka Senggani lagi.


" Apakah kalian telah mengetahui siapa pelakunya,.Ngger,?" tanya Ki Ageng Boyolangu.


" Kami sebenarnya belum tahu siapa sesungguhnya pelaku penculikan itu,..tetapi dari beberapa orang yg telah kami mintai keterangan nya,.ia memiliki ciri -ciri, dengan tubuh kurus , agak tinggi dan sering menggunakan pakaian hitam -hitam, Ki Ageng," jawab Raka Senggani.


" Sebenarnya kalau dari ciri -cirinya,..warga Boyolangu ini telah tahu,..Ngger,..tetapi masalah nya di Boyolangu ini orang dengan ciri -ciri demikian itu sangat banyak, bahkan mungkin jumlahnya sampai ratusan," kata Ki Ageng Boyolangu.


" Apakah tidak mungkin orang itu tidak berada di Boyolangu ini,.di lain tempat yg tidak terlalu jauh dari sini,. misalkan di puncak Gunung itu,.?" tanya Raka Senggani.


" Mungkin juga,..Ngger,..tetapi yg jelas penghuni dari Gunung itu adalah Ki Tanu meski ia cuma berada di Lereng nya, tetapi kalau diatas nya tidak ada penghuninya,. apalagi lereng sebelah selatan yg menghadap ke laut,lebih tidak mungkin lagi, karena disana terdapat bebatuan yg cukup terjal dan sulit untuk dilalui,." jelas Ki Ageng Boyolangu.


Hehh,.. Lereng sebelah selatan itu pantas untuk di curigai,.. apalagi tempat itu sangat sulit untuk di capai, kata Raka Senggani dalam hati.


Raka Senggani memang tidak seperti biasa nya,..ia dan Dewi Dwarani mohon pamit kepada Ki Ageng Boyolangu walaupun malam baru saja turun.


Setelah menghabiskan sajian yg di sediakan oleh Ki Ageng Boyolangu itu keduanya segera meninggalkan kediaman pemimpin tanah perdikan itu.


Japra Witangsa yg mendapatkan tugas guna mengawasi rumah Ki Garengpati, segera mendekati rumah itu.


Cukup lama ia berada di sebuah cabang pohon yg tepat berada di depan rumah dari orang Kepercayaan Ki Ageng Boyolangu itu, ia terlihat gelisah karena tidak melihat ada nya Ki Garengpati .


Ketika malam semakin larut,.. Putra Ki Jagabaya itu sebenarnya telah ingin meninggalakn tempat itu dan balik ke rumah, namun niatnya itu di urungkannya setelah melihat ada yg keluar dari dalam rumah itu.


Hehh,.. tampaknya itu adalah Ki Garengpati,..akan kemana dia,..tanya Japra Witangsa dalam hati.


Pemuda itu melihat sesosok tubuh yg keluar dari dalam rumah itu dan dengan cepat berjalan menuju belakang rumahnya.


Tidak ingin kehilangan jejak dari buruannya, Japra Witangsa segera mengikuti nya.


Seharusnya sedari tadi aku berada di belakang rumahnya dengan begitu, aku akan dengan mudah mengikuti nya, berkata dalam hati Japra Witangsa.


Ia memang agak ketinggalan dari orang itu. Dengan cepat putra Ki Jagabaya tersebut mengikuti Ki Garengpati.


Hei,...kemana perginya orang itu,.. sangat cepat sekali menghilangnya,..ucap Japra Witangsa lagi.


Ia celingukan mencari kemana perginya orang itu,. Tidak kehabisan akal ia melompat memanjat sebuah pohon untuk melihat kemana perginya orang itu.


Setelah berhasil memanjat pohon itu,..Japra Witangsa mengedarkan pandanganya ke arah bawah untuk dapat melihat kemana perginya orang itu.


Hasilnya lumayan,.ia dapat melihat kemana perginya orang itu,.ternyata Ki Garengpati berjalan menuju kearah Gunung Budheg itu.


Seharusnya ia melewati rumah tempat kami menginap,.. apakah adi Senggani dan Rani telah kembali dari kediaman Ki Ageng Boyolangu,.tanya Japra Witangsa dalam hati.


Putra Ki Jagabaya itu melesat turun guna mengejar Ki Garengpati.

__ADS_1


Secepatnya ia mmepergunakan ilmu peringan tubuhnya dan berlari dengan cepatnya mengejar Ki Garengpati.


Sementara Ki Garengpati sendiri memang terlihat tergesa-gesa, ia berjalan pun seperti sedang berlari,.. rupanya ia pun tengah mentrapkan ilmu lari cepatnya.


Aku harus bertemu dengan Ki Rinting secepatnya,..karena tampak nya Ki Ageng tengah memanggil beberapa orang yg akan menyelidiki keberadaan nya di Boyolangu ini,.berkata dalam hati nya Ki Garengpati itu.


Setelah sampai di rumah tempat menginap dari Raka Senggani dan teman -teman nya,.. Ki Garengpati memelankan jalannya,..ia kemudian mendekati rumah itu dan sempat mengintip ke dalam.


Kemana perginya mereka ,..apakah masih berada di rumah Ki Ageng , ..katanya lagi.


Kemudian Ki Garengpati segera meninggalkan tempat itu dan terus menuju kaki gunung Itu.


Namun semua gerak -geriknya itu dalam pengawasan dari Japra Witangsa.


Putra Ki Jagabaya itu pun tidak singgah dirumah tempat mereka menginap itu.


Ia terus saja mengikuti Ki Garengpati dari belakang dalam jarak yg agak jauh.


Ki Garengpati tidak menuju ke kediaman Ki Tanu ,. ia berbelok agak ke barat dan mulai memanjat naik gunung itu.


Sementara itu Raka Senggani dan Dewi Dwarani tengah berada di dekat kediaman dari Ki Tanu, Senopati Pajang itu ingin mengetahui apa yg dilakukan oleh orangtua itu jika hari telah malam.


" Rani,.. usahakan agar dirimu mampu bergerak dan bernafas dengan sepelan mungkin,..jangan sampai kedengarannya," ucap Raka Senggani.


" Baik kakang,.." jawab Dewi Dwarani.


Perlahan keduanya mendekati rumah Ki Tanu itu.


Atas pesan Raka Senggani ,..Dewi Dwarani di suruh untuk tetap di tempat , dan dirinya akan mendekati tempat itu hanya sendiri saja.


Dalam sekali lesatan ,.. Senopati Pajang itu telah berada di dinding gubuk itu.


Dengan ilmu Ashka pandulu nya , ia melihat kedalam,.. Senopati Pajang itu tidak menemukan orang yg telah di carinya itu.


Kemana perginya Ki Tanu itu,..dan menurut panggraitaku tempat ini kosong,.. katanya Raka Senggani dalam hati.


Ia pun kembali ke tempat Dewi Dwarani berada.


Raka Senggani menggeleng.


" Mari kita tinggalkan tempat ini," ajak nya.


Keduanya segera meninggalkan tempat itu, dan akan kembali pulang.


Namun sesaat akan keluar dsri tempat itu,..telinga Senopati Pajang itu mendengar langkah kaki orang yg sedang berjalan agak terburu.


" Ssssttthh,"


Sambil memberi isyarat kepada Dewi Dwarani untuk diam , Raka Senggani melihat ke arah orang yg akan lewat itu.


Ternyata mereka berdua ,..siapakah mereka,.. katanya dalam hati.


Raka Senggani kembali mengetrapkan ajian Aska pandulu nya,..ia melihat orang yg sedang berjalan itu adalah Ki Garengpati .


Tentu orang yg di belakang nya itu adalah Kakang Witangsa ,..pikir nya lagi.


Setelah Ki Garengpati lewat, Raka Senggani kembali mendekati Dewi Dwarani,


" Rani,..ternyata orang itu adalah Ki Garengpati," ucap nya.


" Kakang ,..sebaiknya kita ikuti Ki Garengpati itu," jawab Dewj Dwarani.


" Marii,..kita ikuti mereka," ucap Raka Senggani.


" Mereka,.. maksud kakang,..Ki Garengpati itu berdua,..?" tanya Dewi Dwarani.


" Iya,..Ki Garengpati dan kakang Witangsa,." jawab Raka Senggani.


" Ooo,.." ucap Dewi Dwarani.


" Ayolah kita kejar mereka,.." ajak Raka Senggani lagi.


Tidak menunggu jawaban dari Dewi Dwarani,.Raka Senggani segera melesat pergi meningglakan tempat itu dan diikuti oleh Dewi Dwarani.

__ADS_1


Keduanya segera menyusul Japra Witangsa.


Seperti sedang berlomba keduanya berloncatan memanjat naik gunung itu.


Dengan cepatnya mereka berhasil menyusul Japra Witangsa.


Awalnya putra Ki Jagabaya itu terkejut setelah ada seseorang yg mengejarnya,.. namun setelah Raka Senggani memberikan isyarat agar ia tidak bersuara,.tahulah dirinya bahwa orang itu adalah temannya sendiri, Raka Senggani dan Dewi Dwarani.


" Sebaiknya kakang Witangsa bersama dengan Dewi Dwarani, biar orang itu Senggani yg mengikutinya, upayakan agar menjaga jarak dengan nya ,." ucap Raka Senggani.


Selepas mengatakan hal itu, Raka Senggani segera melesat dengan sangat kencang, naik ke atas gunung itu.


Japra Witangsa yg melihatnya sampai terkagum -kagum.


" Ck,.Ck,..Ck,..memang adi Senggani sangat tinggi ilmu peringan tubuhnya," ucap Japra Witangsa .


" Kemana Kakang Senggani,.. kakang,..?" tanya Dewi Dwarani.


" Ia menggantikan ku mengejar Ki Garengpati itu,..dan kita dipesankan untuk tetap bersama,." jawab Japra Witangsa.


Perlahan keduanya naik keatas puncak Gunung itu.


Sementara itu Raka Senggani tengah memperhatikan Ki Garengpati yg tengah berdiri di tempat yg agak terbuka.


Sepertinya orang itu tengah menunggu kedatangan seseorang, berkata dalam hati Raka Senggani.


Dan seperti dugaan dari Sang Senopati,..ia mendengar desir yg sangat halus yg mendekati tempat itu,..hehh tidak mungkin itu langkah kaki kakang Witangsa dan Rani,.. tentunya ia seorang yg berilmu sangat tinggi, suara langkah kaki nya nyaris tidak terdengar,.. katanya dalam hati.


Sebentar kemudian di hadapan dari Raka Senggani itu telah hadir sesorang yg bertubuh kurus dan agak tinggi dengan berpakaian hitam -hitam, telah berdiri berhadapan dengan Ki Garengpati.


Orang itu langsung berkata,


" Apa perlunya dirimu datang kemari," tanya nya kepada Ki Garengpati.


" Begini,..Ki Rinting, di Boyolangu saat ini telah ada tiga orang yg tempak nya sengaja di undang oleh Ki Ageng untuk menyelidiki atas hilangnya para gadis yg ada disini,.." ucap Ki Garengpati.


" Apa yg perlu kau takutkan terhadap ketiga bocah ingusan itu,..sekali tepok ketiga nya telah jadi bangkai,.." jawab orang yg bernama Ki Rinting itu.


" Bukan begitu,..Ki Rinting,..apakah tidak sebaiknya kita percepat saja rencana semula itu.." ucap Ki Garengpati lagi.


" Tidak bisa,..karena belum semua tumbal itu terpenuhi , .dan itu artinya kesempurnaan dari ajian Rawa Rontek ku belum tuntas," jawab Ki Rinting.


" Akan tetapi saat ini bukankah Ki Rinting telah mampu mengalahkan Ki Ageng Boyolangu itu,..mengapa menunggu sampai ilmu Rawa Rontek Ki Rinting itu menjadi sempurna,.. bukankah itu terlalu lama,..?" tanya Ki Garengpati lagi.


" Memang benar ucapanmu itu Garengpati,..saat ini memang diriku tidak ada yg mampu menandingiku disini termasuk si Bayu Dhono itu,.tetapi jika kelak dirimu telah berkuasa disini menggantikan nya,. tentunya akan ada persinggungan dengan para penguasa yg ada di Tulung Agung bisa jadi mereka meminta bantuan dari Demak,..tentu akan sangat sulit untuk membendung mereka jika hanya mengandalkan ilmu yg ada saat ini,.." jelas Ki Rinting lagi.


" Mana mungkin pengaruh Demak akan sampai kemari,..dan tentunya kita akan mampu menahan mereka,.. asalkan Ki Rinting tetap pada perjanjian semula,." ungkap Ki Garengpati.


" Dirimu jangan memandang remeh dengan keluarga si Bayu Dhono itu,..ia sekeluarga adalah prajurit yg setia pada Majapahit dan sempat berjasa kepada sang Prabhu Brawijaya terakhir,..dan ingat Garengpati ,.. aku Ki Rinting tidak akan melupakan janjiku kepadamu,..aku akan menjadikan mu sebagai pengganti Ki Ageng sekaligus untuk memperistri istri muda nya itu, dan bagianku adalah harta kekayaaan yg ada di Boyolangu ini,..serta para perempuan nya,..aku akan siap untuk menjadi pengawalmu berkuasa disini, bukankah kesepakatan kita sudah sangat jelas Garengpati,.." ungkap Ki Rinting lagi.


" Aku hanya mengingatkan saja Ki Rinting,..agar diriku segera menjadi penguasa di Boyolangu ini dan dirimu yg berkuasa atas kekayaan yg ada didalam nya,.." jelas Ki Garengpati lagi.


" Sabarlah Garengpati,..masih memerlukan sembilan purnama lagi untuk mencapai hasrat mu itu,..dan ingat ,..pada purnama ini,.. Aku menginginkan tumbal dari pedukuhan induk Boyolangu,..kau harus segera menyiapkan nya,..jangan lupakan itu,.. Garengpati,.." seru Ki Rinting.


" Ki Rinting jangan khawatir akan hal itu,..karena diriku telah memiliki calonnya,. " jawab Ki Garengpati.


" Siapa,..?" tanya Ki Rinting.


" Orang yg telah menjadi tamu Ki Ageng itu,..Ki Rinting,. " jawab Ki Garengpati.


" Bagus,..bertindaklah dengan baik,..jangan menimbulkan kecurigaan dari Si Bayu Dhono itu sampai ilmuku ,.. ajian Rawa Rontek ini menjadi sempurna,.. tentunya bukan hanya diriku saja yg akan senang,..dirimu pun akan terikut pula,.." jawab Ki Rinting.


" Baiklah kalau begitu,.. sebaiknya diriku kembali ke Boyolangu sebelum pagi menjelang,..agar tidak ada orang yg curiga " ucap Ki Garengpati.


" Silahkan ,. silahkan,.." jawab Ki Rinting.


Ketika kedua orang itu akan berpisah,..telinga dari Senopati Pajang itu kembali mendengar desir yg sangat halus mendekati tempat itu , dan ia berada ada di sebelah kanan dari Sang Senopati bersembunyi.


Dan tampaknya kedatangan orang itu tidak di ketahui oleh keduan orang itu.


Karena terlihat Ki Rinting langsung melesat lakasana terbang menuju arah selatan,. sementara Ki Garengpati bergerak menuruni puncak Gunung itu dari arah yg berbeda.


Namun di hati sang Senopati,.. siapakah orang yg datang terakhir itu,..

__ADS_1


__ADS_2