Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 7 Kenangan yang suram. bagian ke enam.


__ADS_3

Selama satu purnama penuh Raka Senggani berada di Desa Kenanga, dan kedekatan nya dengan Sari Kemuning lebih erat lagi, tampak nya Senopati Pajang itu memang menyukai putri Jagabaya itu.


Di saat senggang di sebuah tempat yg ada di daerah persawahan, keduanya tengah asyik menikmati pemandangan yg disajikan , hijaunya tanaman padi yg baru mulai tumbuh, dilatari oleh gunung merapi di belakang meski tampak sangat jauh, dibias cahaya mentari yg mulai redup meninggalkan bias -bias warna jingga kemerahan , di saat itulah keduanya sedang berbincang.


" Apakah Kakang Senggani akan segera kembali ke Pajang,?" tanya Sari Kemuning kepada Raka Senggani.


" Benar Kemuning , mungkin besok atau lusa, Kakang akan kembali ke Pajang, sesuai perintah Kanjeng Adipati Pajang,!" jawab Raka Senggani.


" Apakah Kakang akan segera kembali lagi, atau akan lama di Pajang,?" tanya Sari Kemuning.


" Ahh Kakang tidak mengetahuinya Kemuning, lama atau tidak, semua tergantung dari Kanjeng Adipati, sebagai seorang prajurit, Kakang Senggani harus mematuhi semua perintahnya, memangnya kenapa kalau Kakang akan lama di Pajang,?" tanya Raka Senggani balik.


" Tidak Kang, bukan apa -apa, karena siapa lagi yg akan memberikan latihan kepada kami lagi dalam urusan ilmu silat itu jika Kakang Senggani akan kembali ke Pajang,?" tanya Sari Kemuning.


" Kalau masalah itu , seperti yg pernah kakang jelaskan, untuk siapa saja yg mau meneruskan latihan nya, datanglah ke Pajang, disana Kakang akan memberikan latihan selanjutnya, hanya jika ada seseorang yg memang merindukan kakang disini, itu baru hal yg sulit buat kakang, bagaimana membagi waktunya,!" ucap pemuda itu sambil melihat tanaman padi.


Ia sengaja tidak melihat ke arah Sari Kemuning, putri Jagabaya itu.


" Memang ada yg akan rindu kepada kakang Senggani,?" tanya Sari Kemuning agak pelan.


" Jika ada, kalau memang tidak ada , tidak akan jadi persoalan, " jawab Raka Senggani lagi.


" Kang, paling -paling Ki Lamiran yg akan merindukan kakang Senggani, karena kakang Senggani telah dianggap nya sebagai anak bungsunya,!" ucap Sari Kemuning.


" Alhamdulillah, jika memang masih ada yg merindukanku, berarti ia tulus menyayangiku, " jelas Raka Senggani.


" Atau Kang, Tara Rimdayu yg akan sangat merindukan kakang Senggani jika Kakang akan kembali ke Pajang,!!!" seru Sari Kemuning.


" Mungkin, mungkin saja Rindayu akan merindukan kakang, tetapi setiap kali bertemu ia tidak sekalipun pernah mengucapkan nya,!" tukas Raka Senggani.


Agak lama keduanya terdiam sambil memandangi panorama sore itu yg tampak sangat indah lain dari biasanya, pikiran kedua muda -mudi itu menerawang masing -masing sesuai dengan pikiran kedua nya.


Adalah Raka Senggani yg memalingkan wajah nya dan menatap lekat -lekat wajah Sari Kemuning.


Ia meraih tangan gadis itu seraya berkata setengah berbisik,


" Kemuning apakah akan merindukan Kakang jika pergi ke Pajang dan meninggalkan Kenanga ini,?" tanya Raka Senggani.


Sambil ia terus menggenggam kedua tangan gadis itu.


Yg ditanya malah memalingkan wajah nya menatap tempat lain.


" Kemuning benarkah , dirimu tidak akan merindukan kakang, jika tidak berada di Kenanga ini,?" tanya putra Raka Jaya itu lagi.


" Ahhh, Kemuning tidak tahu kakang Senggani, !" jawab Sari Kemuning pelan.


Nampak perubahan di wajah Raka Senggani, ia sepertinya tidak mendapat tempat di hati gadis itu.


" Benarkah dirimu tidak menyukai kakang , Kemuning,?" tanya Raka Senggani agak keras.


" Bukan, bukan begitu maksud Kemuning kakang Senggani, maksud Kemuning jika Kakang Senggani tidak ada di desa Kenanga ini, terasa ada sesuatu yg hilang dalam perasaan Kemuning, hati ini terasa kosong kakang, itu maksud Kemuning, kakang,!" jawab gadis itu sambil menundukkan wajahnya.


Bias di wajah Raka Senggani kembali cerah ia segera merangkul gadis itu seraya berbisik pelan,


" Itu artinya Kemuning merindukanku, demikian pula kakang , selalu dan selamanya akan merindukan dirimu Kemuning,!"


Raka Senggani melepaskan pelukan nya dan menatap wajah gadis itu, ia memegang dagu gadis itu dengan tangan kanan nya seraya,...ia mengecup kening gadis itu.


" Ahhh, kakang Senggani, malu jika di lihat orang,!" lirih Sari Kemuning.


Ia segera memalingkan wajahnya dengan senyum mengembang tiois di sudut bibirnya.


Hati putri dari Jagabaya itu berbunga -bunga, serasa keindahan dunia itu tersaji di dalam sanubari nya. Ia belum pernah merasakan sebahagia hari itu.


Kemudian perlahan, kepalanya bersandar di bahu Raka Senggani.


" Kang , pernah kakang Senggani mengingat saat Kemuning mengatakan suka kepada siput sawah, dan kakang Senggani memberikan seluruh siput yg ada di tangan kakang itu kepada Kemuning semua nya, seraya kakang Senggani berlari meninggalkan Kemuning untuk mengejar Tara Rindayu,?" tanya Sari Kemuning sambil mempermainkan rambut nya.


" Hehh, kenangan itu pula yg baru Kakang ingat ketika kami berdua dengan Tara Rindayu beberapa hari yg lalu, Kemuning,!" jawab Raka Senggani.


Seraya membelai rambut gadis itu, ia melanjutkan lagi ucapan nya,


" Kemarin kami berdua juga berada di sawah ini, dan mengenang saat -saat semasa kecil dahulu, dan Kenangan tentang itu jualah yg kami bicarakan,!" jelas Raka Senggani.


" Apakah kakang Senggani tidak ada perasaan terhadap Rindayu,?" tanya Sari Kemuning.


" Heeehhh, entahlah Kemuning, rasanya saat ini ada perasaan yg berbeda dengan Rindayu, dahulu kakang sangat menyukainya , tetapi saat ini, ada rasa kurang mapan saat bersama dirinya,!" jelas Raka Senggani.


" Padahal dahulu kakang sangat membenci diriku, kakang sering mengatakan diriku hitam dan dekil,!" ucap Sari Kemuning.


" Ahh itu kan dahulu, sekarang dirimu sangat jauh berubah dan sangat berbeda, terlebih saat kakang kelaparan saat masih kecil itu, dirimulah satu -satunya yg bersedia memberikan makanan mu untuk kakang makan, memang kenangan yg sulit untuk di lupakan," ucap Raka Senggani.

__ADS_1


" Memang waktu terlalu cepat berlalu, saat ini kita semua telah dewasa, dan Kakang akan selalu merindukanmu Kemuning,!" jelas Raka Senggani lagi.


" Akan tetapi kebersamaan kita ini segera berlalu dengan kakang Senggani pergi ke Pajang, bukankah di kota Kadipaten Pajang banyak gadis -gadis yg cantik, Kang,!" seru Sari Kemuning.


" Benar ucapanmu itu Kemuning, tetapi hati kakang selalu tertambat di desa Kenanga ini, dan sulit untuk melupakan nya,!" jawab Raka Senggani.


Sari Kemuning hanya diam saja, ia merasa tersentuh dengan ucapan dari Raka Senggani itu.


" Baiklah Kang, hari telah sore sebaiknya kita pulang sebelum kemalaman di jalan,!" ajak Sari Kemuning.


" Marilah Kemuning, kita pulang nanti setelah kembali dari Pajang, kakang akan datang kerumahmu bersama Ki Lamiran,!" kata Raka Senggani .


" Mau apa kakang datang ke rumah Kemuning,?" tanya gadis itu pura -pura tidak tahu.


" Ahh, kakang akan melamarmu untuk dijadikan teman hidup kakang selama nya, mau kan dirimu Kemuning,?" tanya Raka Senggani.


Gadis itu tidak menjawab hanya menganggukkan kepalanya.


Kedua orang itu pun melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu. Kedua nya berjalan menuju ke rumah Ki Jagabaya, hari pun telah senja, cahaya mentari sudah tinggal warna jingga di ufuk barat.


Sesaat keduanya berada di jalan desa, tiba -tiba mata Raka Senggani melihat ada seseorang yg tengah mengikuti mereka berdua, Raka Senggani Kemudian berbisik kepada Sari Kemuning,


" Kemuning, sebaiknya segeralah kembali ke rumah dengan cepat, kakang akan mengejar seseorang yg sedari tadi sudah mengikuti kita, cepatlah,!'' katanya kepada Sari Kemuning.


" Tapi kakaaanng,.....!" ucap Sari Kemuning.


" Sssstth, ....cepatlah jangan banyak tanya, tunggu kakang di rumah, secepatnya kakang akan kembali,!" kata Raka Senggani.


Tanpa menunggu lama, Raka Senggani segera berbalik dan mengejar seseorang yg berada cukup jauh dari tempat itu.


Beberaoa kali lesatan, tampak tubuh Senopati Pajang itu bergerak dengan cepat nya dan telah jauh meninggalkan tempat itu.


Orang yg mengikuti Raka Senggani itu segera berlari setelah melihat orang yg diikutinya itu mengejarnya.


" Hiyyah,!"


Teriak Raka Senggani yg terus mengemposi tenaga dalam nya untuk mempercepat lari nya, laksana terbang tubuh Senopati Pajang itu segera memangkas jarak yg cukup jauh itu semakin dekat.


" Hei tunggu, jangan lariiii,!" teriak Raka Senggani.


Namun orang itu terus berlari berusaha menjauhkan jarak nya dengan Raka Senggani.


" Heaaahhh,!"


" Dhummbbh,"


Terdengar ledakan mengarah orang itu, dan membuat nya terhenti sejenak, sehingga Raka Senggani dapat mendekati orang itu dengan cepat.


" Apa maksud mu mengikutiku, adakah persoalan dengan diriku,?" tanya Raka Senggani.


Kedua orang itu telah saling berhadapan.


" Hehh, nama besar Senopati Pajang, Senopati Brastha Abipraya itu tidak sehebat dengan namanya, beraninya cuma main bokong,!" jawab orang itu.


" Maaf sebelumnya kisanak, tetapi mengapa kisanak terus berlari ketika tadi aku suruh untuk berhenti,?" tanya Raka Senggani.


" Ahhh, siapa yg mengikuti , tadi memang aku lagi sedang berjalan searah dengan mu, mungkin Senopati sajalah yg merasa diikuti,!" jawab orang itu.


" Baik, jika kisanak tidak mau berterus terang, nanti jangan salahkan aku bila akan menangkap kisanak karena telah mengikuti ku, dan lagi kisanak ini merupakan orang asing di tempat ini dan gerak -geriknya mencurigakan, sudah pantas untuk dicurigai,!" kata Raka Senggani lagi


" Bukankah tidak ada salahnya melewati tempat ini, inikan jalan umum yg siapa saja bebas lewat dari sini,!" jawab orang itu lagi.


" Memang ini merupakan jalan umum dan siapa saja dapat melintasinya tetapi sikap kisanak bukan untuk melewati tempat ini melainkan sedang berada disini, dan sebaiknya kisanak segera mengaku siapa sesungguhnya kisanak ini,?" tanya Raka Senggani lagi.


" Baik, baik, akan kujelaskan siapa sesungguhnya diriku dan kuharap Senopati Brastha Abipraya tidak terkejut karena nya,!" jawab orang itu.


" Silahkan, aku tidak akan terkejut siapa pun dirimu itu, asal memang dirimu tidak berbohong,!" kata Raka Senggani.


" Perkenalkan namaku adalah Wana Barong dari alas Si roban dan aku adalah kakak Seperguruan dari Singo Abra,!" jelas orang itu.


" Hehh, kakak seperguruan dari Singo Abra, apa maksud kisanak dengan menyebut nama Singo Abra itu, apakah kisanak akan menuntut balas atas kematian dari Singo Abra itu,?" tanya Raka Senggani.


" Hahh, itu Senopati Brastha Abipraya tahu apa maksudku, memang sudah lama aku menunggu kesempatan untuk bertemu denganmu Senopati Brastha Abipraya karena telah mampu menewaskan adi Singo Abra itu, padahal sangat sulit untuk mencari lawan buat dirinya,!" jelas Wana Barong.


" Jadi apa maksudmu mengikuti ku, apakah memang berniat untuk membalas dendam terhadapku,?' tanya Raka Senggani.


" Yah, selaku seorang kakak, memang sudah sewajarnya untuk membalas kematian dari adik seperguruanku itu, tetapi disini bukan sekedar untuk membalas dendam karena aku pun tahu sepak terjang dari adik seperguruanku itu, begini saja Senopati Brastha Abipraya, jika memang dirimu sanggup menahan ku dalam lima puluh jurus, aku akan mengaku kalah, tetapi dalam waktu itu dirimu tewas jangan salahkan diriku,!" jelas orang bernama Wana Barong itu.


" Baik, syarat Ki Barong itu akan kuterima, jika dalam lima puluh jurus aku kalah berarti memang sudah takdirku kalah ditanganmu,!" jawab Raka Senggani.


" Kalau begitu bisa kita mulai Senopati,?" tanya Ki Wana Barong.

__ADS_1


" Silahkan Ki Barong,!" jawab Raka Senggani.


Keduanya segera memasang kuda -kudanya, dan Wana Barong segera membuka serangan dengan teriakan,


" Hiyyyah,"


Tubuh orang langsung melesat cepat menyerang Raka Senggani.


Senopati Pajang itu segera menangkis serangan yg dilancarkan oleh orang yg mengaku sebagai saudara seperguruan dari Singo Abra tersebut.


Beberapa kali serangan tangan kosong itu dilancarkan oleh orang yg bernama Wana Barong itu.


Adu pukulan pun tersaji dalam pertarungan malam itu, sentuhan tenaga wadag mulai merambah pada tenaga dalam, sehingga nampaklah bahwa tenaga orang yg bernama Wana Barong itu tidak diatas dari Raka Senggani.


Memasuki jurus keduapuluh jual beli pukulan semakin sering terjadi, bahkan telah bersarang di tubuh lawan masing -masing, beberapa kali tubuh kedua orang itu terdorong surut ke belakang.


Serangan keduanya semakin cepat dan Raka Senggani terus melayani serangan dari Wana Barong itu.


Tampaknya kemampuan dari Wana Barong itu tidak diatas dari adik seperguruan nya Singo Abra itu.


Sudah dua kali tendangn Raka Senggani berhasil bersarang di perut dari Wana Barong.


Merasa dirinya tidak unggul dalam pertarungan tangan kosong, Wana Barong meloncat mundur ke belakang sambil mengeluarkan senjatanya.


" Baiklah Senopati Brastha Abipraya,mari kita lanjutkan pertarungan ini dengan menggunakan senjata,!" ucap Wana Barong.


Ditangannya telah tergenggam sebuah pedang yg berbentuk lurus dengan kedua sisinya bermata tajam.


" Baik Ki Barong, jika memang itu keinginan mu,!" ucap Raka Senggani.


Senopati Brastha Abipraya itu menarik keluar Keris Pusaka Kyai Macan Kecubung dari Warangkanya.


" Aku hanya memiliki ini Ki Barong, Kyai Macan Kecubung," ujar Raka Senggani.


" Bersiaplah Senopati Brastha Abipraya, aku akan mulai,!" teriak Wana Barong.


" Silahkan Ki Barong,!" jawab Raka Senggani.


Kembali Wana Barong menyerang Raka Senggani dengan cepat, sedangkan Raka Senggani hanya melayani saja serangan - serangan itu.


" Hiyyyah,,"


Teriak Wana Barong dengan menebaskan pedang nya lurus ke arah leher dari Raka Senggani, dengan cepat Senopati Brastha Abipraya itu memapasi serangan itu dengan Kyai Macan Kecubung.


" Traaaanngg,!"


Pijaran kembang api terjadi akibat benturan itu. Terlihat keduanya meloncat mundur ke belakang , namun kembali bergerak menyerang.


Memasuki jurus ketiga puluh, nampak Raka Senggani terdesak akibat di kurung dengan serangan pedang yg sangat cepat dari Wana Barong.


Namun meski terlihat terdesak tidak satu pun senjata di tangan Wana Barong itu mampu menyentuh tubuh dari Raka Senggani.


Bahkan ketika memasuki jurus yg keempat puluh , keadaan pertarungan malah berbalik, Raka Senggani yg tadinya hanya posisi dalam keadaan bertahan kali ini membalasi semua serangan dari lawan nya itu dengan sangat cepat, hingga suatu saat,


" Heaaah,"


" Dieeggkh,"


Pukulan telapak tangan dari Senopati Brastha Abipraya itu mendarat telak di dada Wana Barong itu dan melontrakanya sejauh lima batang tombak.


" Kamu memang hebat Senopati Brastha Abipraya, Aku mengaku kalah,!" ucap Wana Barong.


Sambil memegangi dadanya dengan tangan kirinya dan tangan kanan nya masih menggenggam pedang nya sambil menancap kan ketanah ujung dsri pedang itu, ia berusaha bangkit.


Setelah mampu berdiri sempurna ia berkata lagi,


" Memang dirimu hebat anak muda , pantaslah adi Singo Abra itu kalah di tanganmu,!" ucap nya lagi.


" Apakah kita tidak akan menyelesaikan pertarungan ini sampai memasuki jurus ke lima puluh seperti permintaan dari Ki Barong tadi,?' tanya Raka Senggani.


" Tidak anak muda, mungkin tidak sampai limapuluh jurus keris mu itu akan segera bersarang di tubuhku, jadi maafkanlah jika aku telah berani menantangmu, jadi izinkanlah aku untuk kembali ke Alas Siroban,!" ucap Wana Barong.


" Silahkan Ki Barong, karena aku pun harus segera kembali ke banjar desa,!" jawab Raka Senggani.


" Selamat tinggal anak muda, mudah mudahan kita dapat bertemu lagi, Hiyyyah,!"


Wana Barong segera melesat pergi meninggalkan tempat itu.


" Selamat jalan Ki Barong, dan mudah mudahan kita bertemu lagi tidak sebagai musuh,!" gumam Raka Senggani.


Ia pun segera meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2