Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 9 Sentuhan bag ketiga belas.


__ADS_3

Terjadi beberapa lingkaran pertarungan di puncak gunung Tidar tersebut, Resi Yaramala yg harus berhadapan dengan Biksu Maha Gelang ternyata mengalami kesulitan untuk menundukkan Biksu dari Tibet itu.


Demikian pula dengan Chandala Gati, Si setan pemetik kembang itu nampak tidak terlalu berhasil untuk menundukkan Biksu Mandrayana.


Adalah Ki Gede Mantyasih yg sangat kesulitan untuk mengatasi Resi Brangah, nampak Resi darj Blambangan itu masih diatas Ki Gede Mantyasih.


Sedangkan Tumenggung Wangsa Rana dan Rasala ternyata berhasil mendesak Macan Baleman dan Ki Rajungan.


Meskipun Macan Baleman pernah mengalahkan Tumenggung Wangsa Rana saat pertemuan mereka di Alas Mentaok, tetapi setelah tubuh nya menjadi cacat ,membuat Macan yg cukup di takuti di alas Mentaok itu jadi lambat gerakan nya.


Sehingga Tumenggung kepercayaan dari Adipati Pajang itu berhasil membuat keteteran Macan Baleman.


Sedangkan murid Panembahan Sragil ternyata mampu mengimbangi murid dari Mpu Phedet Pundirangan itu.


Di tempat yg agak jauh , Nyi Ronce dan muridnya ternyata masih sanggup menahan para lurah prajurit Pajang dan para pengawal tanah Perdikan Mantyasih, termasuk Wirya, dan Anggono.


Di semua pertarungan itu yg paling dahsyat adalah antara Senopati Pajang, Raka Senggani dengan Sang penguasa gunung Tidar itu.


Tampak sekali , Senopati Pajang itu tidak berdaya melawan makhluk halus itu.


Beberapa kali hempasan angin yg di timbulkan dari senjata Gada milik penguasa gunung Tidar melemparkan Raka Senggami cukup jauh.


" Huaaa, ha,ha, ha,aaa, aaa,"


Terdengar tertawa dari Jin penguasa gunung Tidar itu.


" Hehh, manusia , apakah dirimu memiliki nyawa rangkap sehingga berani bertarung dengan ku, ha, ha, ha,"


Raka Senggani yg baru bangkit dari tanah akibat terjatuh kena hempasan angin Gada tersebut.


" Hehh, angin nya saja telah membuat ku terlontar jauh, bagaimana jika Gada itu yg menghantamkan ku, mungkin aku bisa mati di buatnya," berkata di dalam hatinya senopati Pajang itu.


Dan daripada itu ada dua pasang mata yg tengah melihat jalannya pertarungan itu, yaitu Singo lorok dan Ki Bawuk.


" Bawuk , kali ini pasti, Raka Senggani itu akan ******, di buat makhluk halus itu, dan aku tidak perlu bersusah payah untuk membunuh nya," ucap Singo lorok.


" Benar, kakang Lorok, seperti nya tidak lama lagi , Raka Senggani itu akan tewas, karena beberapa kali ia telah terjatuh dengan cukup keras, lama -lama, seluruh tulang belulang akan hancur jadi perkedel," sahut Ki Bawuk.


" Benar, benar, sebentar lagi pasti ia akan menjadi mayat, Bawuk, dan akan Ku ******* , kuburan nya nanti,". balas Singo Lorok lagi.


Kedua orang itu tertawa sendiri setelah melihat jalannya pertarungan antara Raka Senggani dan Jin penguasa gunung Tidar itu.


Kedua nya berada di sebuah cabang pohon yg cukup besar , menyaksikan pertarungan itu.


Sementara di tempat yg terpisah , terlihat Resi Yaramala harus berjumpalitan menghindari serangan dari Biksu Maha Gelang, dengan dua buah gelang bajanya itu , Biksu asal Tibet tersebut berhasil mnedesak Resi Yaramala .


" ****** Kau, Gelang, terima ini," teriak Resi Yaramala.


Sebuah cahaya kelabu menghmbur dari kedua telapak tangan nya mengarah pada Biksu Maha Gelang.


Sang Biksu tahu bahwa serangan itu selain mengandung panas juga beracun.


Ia terpaksa menghindari serangan tersebut sambil menarik pulang kedua senjata nya.


Namun begitu , serangan dari Resi Yaramala itu luput, Biksu Maha kembali melontarkan kedua gelang bajanya membalas serangan tersebut.


Dan kali ini , resi Yaramala yg harus bergerak menghindar.


Namun Biksu Maha Gelang terus mengejar Resi Yaramala, dengan sebuah pukulan jarak jauh nya,


" Heaaahh, pukulan Sinar Emas," teriak nya.


Cahaya ke emasan segera memburu tubuh Resi Yaramala yg tengah kesulitan menghindari kepungan Gelang -gelang Baja itu.


Beruntung ia masih dapat menahan serangan itu dengan melepaskan pukulan balasan sehingga tidak harus konyol di hantam oleh pukulan Biksu Maha Gelang itu.


Begitu pun ia harus segera memutar otak nya untuk mengatasi Biksu dari Tibet itu.


Tidak jauh dari situ, Raka Senggani kembali harus berjuang sekuat tenaga setelah ia melepaskan pukulan Wajra geni nya ke arah Raja Jin itu, hanya menemui tempat kosong, karena secara tiba -tiba , penguasa Gunung Tidar itu lenyap tanpa bekas.


" Hahh, kemana perginya makhluk itu,?" tanya Raka Senggani dalam hati.


Belum habis keheranan dari Senopati Pajang itu, tiba -tiba,


" Hraaaghhhhh, "


Sebuah pukulan Gada menghantam punggung nya.


" Aaakkhh,"


Terdengar teriakan dari mulut Raka Senggani, punggung nya dengan telak di hantam Gada yg besar itu, dan melemparkan nya cukup jauh.


Sakit di punggung nya itu seperti telah tertimpa sebuah gunung.


" Haa, ha, ha, ha, ha, ****** kau , makhluk kecil," terdengar suara Jin itu bergema.

__ADS_1


Sementara , Raka Senggani berusaha untuk bangkit , dan ia tidak terlalu jauh dari tombak Kyai Sepanjang yg tertancap itu.


" Hehh, bagaimana ini, apa yg harus ku perbuat untuk mengalahkan makhluk ini," batin nya.


Dilihatnya Sang penguasa alam lelembut itu berjalan mnedekati nya dan siap menyerang nya lagi.


" Huaaa , ha, ha, ha, kali ini kau tidak akan lolos lagi dariku," ucap Makhluk itu.


Ia telah mengangkat gada nya dan siap di pukulkan ke arah Raka Senggani.


" Heaaaahhh,"


Gada itu di ayunkan ke kepala Raka Senggani yg masih tertelungkup itu.


Tidak mau menyerah, Senopati Pajang itu bergulingan menghindari pukulan itu, dan ia semakin dekat dengan tombak Kyai Sepanjang.


Setelah gagal dengan senjata Gada nya, penguasa Gunung Tidar itu kemudian melancarkan serangan dengan pancaran matanya.


" Hraaaagghhh,"


" Dhummmbbh, Bleghuaaarrrr,"


Kembali serangan itu menemui tempat kosong, karena Raka Senggani terus bergulingan menghindari nya dan kali ini ia tepat berada di samping tombak Kyai Sepanjang yg tengah memancarkan cahaya nya. Sinar keemasan yg keluar dari tombak itu membuat Raka Senggani melihat nya.


Dan terdengarlah bisikan di telinga Senopati Pajang itu.


" Ambil dan sentuh tombak itu, gunakan untuk melawan makhluk itu, ingat Rajah Sangga Kalimasada ada di tombak Kyai Sepanjang itu murid ku, ia akan takut melawan mu ,"


Meski tidak terlalu keras, namun bisikan itu cukup jelas di telinganya.


" Hahhh, baik akan ku ambil tombak guru ini, Bismillahirohhmanirrohim,"


Kemudian Raka Senggani berhasil memegang senjata itu tanpa terkena pengaruh apapun.


Sentuhan pertama kali atas benda itu, terasa tangan nya di aliri hawa hangat, dan tubuh nya yg tadi terasa sakit dan sulit untuk di tegakkan , sesaat memegang tombak itu hilang rasa sakit nya, bahkan ia mampu langsung berdiri dan berhadap -hadapan kembali dengan sang Raja Jin itu.


Bahkan yg sangat membuat kaget Senopati Pajang itu adalah setelah menggenggam Tombak pusaka Kyai Sepanjang itu penglihatan mata nya semakin terang , ia dapat melihat semua makhluk halus yg berada di tempat itu.


" Hei, ternyata jumlah mereka cukup banyak dan ada dimana -mana, apakah pasukan Pajang dan pengawal tanah perdikan ini akan mampu mengatasi nya,?" batin nya


Ternyata pengaruh benda Pusaka itu tidak hanya kepada Senopati Pajang itu saja, tetapi makhluk halus penguasa Gunung Tidar itu nampak terpengaruh.


Ia tidak berani mendekat lagi dan terpaku dengan jarak yg agak jauh.


Ia kemudian memainkan tombak itu dengan memutar -mutar nya, sehingga cahaya kuning keemasan berpendar semakin terang.


Raja Jin penguasa Gunung Tidar itu sampai melindungi matanya dengan tangan nya, ia merasa silau dengan cahaya tombak itu.


Mendapatkan kesempatan emas, Senopati Pajang itu segera melompat menyerang Sang Raja Jin itu.


" Heaaaahhh,"


Sambil mengemposi tenaga dalamnya, Raka Senggani melesat laksana terbang menyerang dengan menggunakan tombak Kyai Sepanjang itu, ia langsung menusukkan nya kearah dada sang penguasa Gunung Tidar itu.


" Hraaaagghhh,"


Makhluk itu bergerak menghindar, sambil mengayunkan gada nya , berusaha membenturkan senjata nya itu dengan Tombak Kyai Sepanjang.


Hasilnya membuat kaget Raka Senggani , gada milik sang Raja Jin itu terlepas.


Dan ia pun melompat menjauh dari garis serang Sang Senopati itu.


Kembali sang Raja Jin itu menghilang guna menghindari serangan lanjutan.


Namun ia tidak menyadari bahwa pandangan mata Sang Senopati itu telah dapat menembus alam jin.


Sehingga sia -sia saja upaya penguasa Gunung Tidar itu.


" Hraaaagghhh,"


Raja Jin itu melepaskan serangan mata nya untuk mengatasi serangan dari Raka Senggani.


" Dhumbbh, Bleghuaaarrrr,"


Ternyata Raka Senggani selain menggunakan Tombak pusaka Kyai Sepanjang itu juga melancarkan serangan dengan ajian Wajra geni nya dengan tangan kirinya.


Hasilnya , kedua makhluk yg berbeda alam itu harus surut akibat benturan itu.


Tetapi yg pasti rasa percaya diri Senopati Pajang itu telah timbul kembali setelah sebelumnya ia menjadi bulan -bulanan dari Makhluk halus itu.


" Hiyyyah,"


Kembali ia melompat sambil menghujamkan tombak nya ke arah kepala gundul penguasa Gunung Tidar itu, tetapi berhasil di tahan dengan menjepit menggunakan kedua tangan nya.


Tarik menarik akan tombak itu pun terjadi. Namun dengan cerdik nya Raka Senggani melepaskan ajian Wajra Geni nya dengan tangan kirinya,

__ADS_1


" Heaaahh,"


" Dhumbhhhh,".


Perut gendut sang penguasa alam jin itu terhantam ajian Wajra Geni milik dari Senopati Pajang itu


" Hraaaagghhh,"


Makhluk itu terlihat kesakitan akibat serangan itu.


Perut nya sampai bolong terkena hantaman oleh serangan Raka Senggani itu.


Namun dengan cepat tangan sang penguasa Gunung Tidar itu menutup lobang yg ada di perutnya itu.


Secara ajaib lobang itu hilang. Dan pertarungan pun di lanjutkan lagi, kali ini dengan melambari tenaga dalam di sertai ilmu peringan tubuhnya , Senopati Pajang itu kembali melancarkan serangan.


Tombak Kyai Sepanjang mematuk pundak sang Raja Jin itu.


Raja Jin menghindari nya dengan memiringkan tubuh nya, luput serangan itu Raka Senggani melanjutkan nya dengan mengayunkan senjata pusaka nya itu ke arah perut, kembali sang Raja Jin harus melompat mundur, karena ia tidak berani lagi menangkap senjata Raka Senggani takut mendapat kan serangan susulan dengan telapak tangan pemuda itu.


Sambil melompat mundur ia melepaskan serangan pancaran matanya ke arah Raka Senggani.


Senopati Pajang itu melompat tinggi menghindari serangan itu, dan hanya mengenai tempat kosong saja.


Pertarungan keduanya membuat yg lain tidak berani mendekati tempat itu sehingga kedua nya sangat leluasa untuk melepaskan pukulan nya.


Malam yg semakin menipis, tampak cahaya jingga kemerahan di ufuk timur namun pertarungan yg terjadi di puncak Gunung Tidar itu masih berlangsung.


Di salah satu sisi , Macan Baleman benar -benar terdesak hebat oleh Tumenggung Wangsa Rana, senjata pedang yg ada di tangan sang Tumenggung telah berwarna merah, ternyata pundak dari murid Resi Brangah itu telah terluka akibat sabetan senjata sang Tumenggung.


Kejadian berbanding terbalik dengan Ki Gede Mantyasih , penguasa tsnah Perdikan itu pun telah terluka akibat senjata tongkat dari Resi Brangah, Resi dari Blambangan itu berhasil mendesak Ki Gede Mantyasih.


Rasala , putra Ki Gede Mantyasih yg melihat orang tua nya itu tengah terdesak segera berkata kepada Tumenggung Wangsa Rana,


" Paman Tumenggung, Romo ku dalam keadaan terdesak , ku serahkan lawanku ini kepada Kanjeng Tumenggung," ucap nya kepada Tumenggung Wangsa Rana.


" Baik, Ngger, silahkan bantu Ki Gede, biar orang ini akan di hadapi oleh Rangga Kusuma," jawab Tumenggung Wangsa.


Langsung saja murid dari Panembahan Sragil itu melesat menuju tempat pertarungan sang Romo.


Dan Ki Rajungan yg tadi nya melawan Rasala , kini harus berhadapan dengan salah satu Rangga dari Pajang yaitu Rangga Kusuma.


Sebenarnya Rangga Kusuma di tugaskan untuk menjaga tempat itu , dan mencegah lawan lari meningglakan tempat itu, namun karena Ki Gede Mantyasih sendiri telah terdesak oleh Resi Brangah , mau tidak mau ia dipanggil Tumenggung Wangsa Rana untuk meghadapi murid Mpu Phedet Pundirangan itu.


Dalam pada itu , Chandala Gati yg memiliki banyak ilmu termasuk mampu membuat pagar gaib, kali ini ia benar - benar ketiban sial, Biksu Mandrayana berhasil mendesak nya dengan menggunakan ajian Segoro Banyu milik nya.


Pukulan dengan dilambari tenaga dalam tingkat tinggi itu menghantam tubuh Chandala Gati.


Tubuh Si Setan pemetik kembang itu terlempar beberapa batang tombak ke belakang , Ia berusaha bangkit kembali , dan bersiap membalas serangan Biksu Mandrayana itu.


Chandala Gati duduk bersila dan memusatkan pikirannya untuk mengeluarkan ajian Basang Dahana.


Melihat hal itu, Biksu Mandrayana pun segera menyiapkan kembali ajian nya,


Ketika terdengar teriakan dari Chandala Gati itu diikuti dengan teriakan dari Biksu Mandrayana.


" Ajian, BasaaaĆ ang Dahana, heaaaahhh,"


" Aji, Segorooo Banyuuu, hiyyyah,"


Dua ajian itu kemudian berbenturan satu dengan yg lainnya dan menimbulkan ledakan yg cukup keras.


" Bleghuaaarrrr, dhuaaarrrrr,"


Benturan dari ilmu kadigjayaan yg memiliki sifat yg berbeda itu melemparkan keduanya , karena ilmu dari Biksu Mandrayana adalah memiliki sifat air yg akan mematikan sifat api dari ilmu yg di miliki oleh Chandala Gati itu.


Setelah keduanya terlempar, terlihat Biksu Mandrayana mampu bangkit perlahan -lahan dan kemudian ia duduk bersila, guna memulihkan rasa sakit di dada nya akibat benturan ilmu itu.


Sementara Chandala Gati masih diam tertelungkup.


Biksu Mandrayana mendekati tubuh dari Si Setan pemetik kembang itu dan memrikasanya.


" Hahhh, akhirnya kau harus mati dengan polah mu sendiri , Gati, sayang ilmu yg tinggi tidak kau pergunakan di jalan yg benar, Amithaba,". ucap Biksu Mandrayana.


Ia kemudian melangkah kan kaki nya untuk melihat pertarungan dari Senopati Pajang dan Penguasa alam jin itu.


Namun setelah melihat kenyataan nya bahwa Sang Senopati itu mampu mendesak sang Penguasa alam lelembut itu, membuat Biksu Mandrayana menarik nafas lega.


" Benar ucapan kakang Maha Gelang, ternyata , anakmuda ini mampu mengatasi masalah yg di timbulkan oleh Penguasa alam lelembut ini, apa hubungan nya dengan pemilik Pusaka Kyai Sepanjang itu,?" tanya nya dalam hati.


Selanjutnya ia mengalihkan pandangannya ke arah pertarungan dari Resi Yaramala dengan Biksu Maha Gelang.


Ia mengernyitkan dahi nya, seolah berkata,


" Apakah kakang , Maha Gelang ini tidak mampu mengatasi Resi dari Hindustan ini,?" batin nya.

__ADS_1


__ADS_2