Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 7 Kenangan yang suram bagian ke sembilan


__ADS_3

Keesokan harinya, Senopati Pajang itu, Senopati Brastha Abipraya berangkat ke Kota kadipaten Pajang.


Dengan si Jangu ia bergerak meninggalkan desa Kenanga, setelah pamitan dengan Ki Lamiran ia pun melaju.


" Hiyyah, Hiyyah, Hiyyah,"


Si Jangu pun berlari dengan kencang menuju arah barat, karena sesuai perintah dari Adipati Pajang bahwa ia harus kembali setelah satu purnama beristrahat.


Dalam perjalanannya menuju ke Pajang Raka Senggani terlihat bersemangat, ia terus memacu kudanya melewati, jalanan desa yg telah ramai dilintasi orang -orang yg pergi ke sawah, suasana pagi itu cukup cerah, sehingga membuat perjalanannya cukup lancar.


Menjelang malam sampailah Raka Senggani di kota Pajang, dan ia pun langsung menuju ke rumah Tumenggung Wangsa Rana, sang Tumenggung memang sedang berada disana.


" Assalamualaikum,!" ucap Raka Senggani.


" Waalaikumsalam," jawab Tumenggung Wangsa Rana dari dalam.


" Hehh, apa Khabarnya , angger Senggani,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.


" Baik, keadaan Senggani baik paman Tumenggung,!" ucap Raka Senggani.


" Mari , silahkan masuk , Ngger," ajak Tumenggung Wangsa Rana.


Raka Senggani pun mengikuti langkah Tumenggung Wangsa Rana itu masuk kedalam rumah.


Malam itu seperti biasa , mereka berdua mengobrol sampai pagi, karena Nyai Tumenggung sudah tertidur, jadi hanya dua orang itu saja yg bercerita.


Esok harinya kedua nya pun langsung menghadap Adipati Pajang.


" Ampun hamba Kanjeng Adipati, hamba senopati Brastha Abipraya menghaturkan sembah,!" ucap Raka Senggani.


Seperti biasa ia merangkapkan kedua tangan nya.


" Hamba Tumenggung Wangsa Rana, menghaturkan sembah kepada Kanjeng Adipati ,!" ucap Tumenggung Wangsa Rana.


" Baik, Baiklah, aku terima penghormatan kalian berdua, dan berhubung disini telah hadir Senopati Brastha Abipraya, jadi sangat tepat kiranya jika tugas ini akan Kuberikan kepadamu Senopati Brastha Abipraya," kata Adipati Pajang.


Kedua orang itu terdiam mendengarkan kata -,kata dari Junjungan nya itu.


Sedangkan Adipati Pajang melanjutkan kata-kata nya lagi,


" Seperti permintaan dari Kotaraja Demak, saat ini Demak tengah berupaya meningkatkan kekuatan pasukan nya terutama aramada laut nya, jadi Aku selaku Adipati Pajang mendapatkan perintah untuk segera membuka penerimaan bagi para pemuda yg ada di Tlatah Pajang ini yg bersedia untuk jadi Prajurit, namun sebelumnya Pajang harus mengirimkan utusan ke kota raja Demak untuk dapat pendidkan kilat agar nantinya dapat menjadi semacam tenaga pelatih di Pajang ini dalam hal kemaritiman oleh sebab itu , Aku perintahkan kepadamu Senopati Brastha Abipraya dan beberapa punggawa Pajang yg lain agar mengikuti pelatihan tersebut, bersediakah kamu Senopati Brastha Abipraya,?" tanya Adipati Pajang.


" Hamba Kanjeng Adipati , segala perintah Kanjeng Adipati akan hamba laksanaka, " jawab Raka Senggani.


" Dan untuk para Prajurit pengiringmu, Ku minta kepada Tumenggung Wangsa Rana untuk memilihnya sendiri, tidak terlalu banyak yang penting para Prajurit itu memiliki kecerdasan diatas rata -rata dari Prajurit yg lain," jelas Adipati Pajang.


" Sendika Dawuh Kanjeng Adipati, segala titah Kanjeng Adipati akan hamba laksanakan,!" jawab Tumenggung Wangsa Rana.


" Sampai disini adakah yg ingin kalian berdua tanyakan,?" tanya Adipati Pajang.


" Hamba Kanjeng Adipati,!" ujar Tumenggung Wangsa Rana.


" Apa yg ingin kau tanyakan itu Tumenggung Wangsa Rana,?" tanya Adipati Pajang.


" Apakah jumlah prajurit yg dikirim itu, tidak di tentukan jumlah nya,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.


" Tidak Tumenggung Wangsa Rana, terserah kepadamu, berapa orang yg akan dikirim, tetapi menurutku jangan terlalu banyak, mungkin sekira lima belas orang pun sudah cukup, untuk dikirim,!" jawab Adipati Pajang.


" Dan satu hal lagi Tumenggung Wangsa Rana, segera buka penerimaan bagi prajurit baru, secepatnya " kata Adipati Pajang lagi.


" Hamba Kanjeng Adipati segala titah akan hamba laksanakan,!" ucap Tumenggung Wangsa Rana.


" Dan kamu Senopati Brastha Abipraya, ada pertanyaan,?" tanya Adipati Pajang.


" Hamba sebenarnya ingin bertanya tentang tugas kami kali ini, Kanjeng Adipati,!" ujar Raka Senggani.


" Tugas kalian adalah untuk belajar di Kotaraja Demak dalam hal sebagai prajurit armada laut, karena Pajang ini jauh dari laut sehingga masalah perang diatas laut kita sangat ketinggalan atau boleh dikata tidak tahu sama sekali, jadi kalian lah putra pertama dari Pajang yg secara resmi yg akan belajar bagaimana cara berperang di tengah samudra, jelas sampai di sini Senopati Brastha Abipraya,?" tanya Adipati Pajang.


" Hamba telah mengerti Kanjeng Adipati,!". jawab Raka Senggani.


" Ada yg mau ditanyakan lagi,?" tanya Adipati Pajang itu.


" Kira -kira berapa lama kami akan berada di Kotaraja Demak, Kanjeng Adipati,?" tanya Raka Senggani lagi.

__ADS_1


" Semua itu tergantung kecerdasan kalian dalam menyerap ilmu yg akan di berikan oleh para guru kalian, jika memang kalian cepat menyerap ilmu mereka tentu tidake akan sampai satu purnama kalian sudah akan kembali, apakah ada yg mengganjal jika Senopati Brastha Abipraya berangkat cukup lama,?" tanya Adipati Pajang.


" Sebenarnya tidak masalah buat hamba Kanjeng Adipati berapa lama, tetapi selama hamba berada di desa Kenanga hamba telah memberikan pelatihan kepada para pemuda desa untuk belajar ilmu Silat, namun waktu yg satu purnama itu terasa tidak cukup Kanjeng Adipati, sehingga hamba berjanji kepada mereka jika ingin melanjutkan pelatihan nya datanglah ke Pajang, ada empat orang yg sangat berbakat dalam hal ini, Kanjeng Adipati, dan mereka memang berniat untuk belajar terus meski harus datang kemari,!" jelas Raka Senggani.


Lama Adipati Pajang melihat wajah Senopati nya itu, ia berpikir dengan usia semuda itu , Senopati Brastha Abipraya telah menjadi seorang guru, dan banyak pula muridnya, ia tidak habis pikir dengan kemampuan dari Senopati nya itu.


" Itu sangat baik Senopati Brastha Abipraya, bila perlu mereka akan kita angkat sebagai prajurit, dan masalah ketidak beradaanmu di Pajang ini biarlah nanti di urus oleh Tumenggung Wangsa Rana, bahkan jika perlu mereka ditempatkan di suatu tempat semacam pendadaran, dan selama engkau belum kembali, mereka pun tidak usah kembali ke Kenanga,,!" jelas Adipati Pajang.


" Dan urusan ini aku serahkan kepada Tumenggung Wangsa Rana,,!" kata sang Adipati lagi.


" Baik Kanjeng Adipati," jawab Tumenggung Wangsa Rana.


" Sudah tidak ada pertanyaan lagi, ?" tanya Adipati Pajang.


Dua orang punggawa Pajang itu diam tidak menjawab pertanyaan dari Adipati Pajang itu


" Jika memang tidak ada lagi pertanyaan , aku persilahkan kepada kalian berdua untuk segera mempersiapkan segala sesuatunya, secepat nya untuk Senopati Brastha Abipraya agar segera berangkat ke Kotaraja,!'' seru Adipati Pajang.


" Sendika Dawuh Kanjeng Adipati hamba mohon pamit,"


Ucap kedua orang itu dan segera meninggalkan keraton Pajang dan kembali ke katumenggungan.


Di kediaman Tumenggung Wangsa Rana itu, Raka Senggani beristrahat sejenak sedangkan Tumenggung Wangsa Rana langsung menuju ke bangsal Prajurit Pajang.


Di bangsal keprajuritan Pajang, Tumenggung Wangsa Rana segera memanggil beberapa Rangga dan panji yg dimintai pendapat nya, siapa saja yg akan tetapi mendampingi Senopati Brastha Abipraya ke Kotaraja.


" Mengapa Senopati Brastha Abipraya tidak datang langsung kemari,?" tanya Rangga Aryo Seno.


" Karena ini memang tugasku Rangga Aryo Seno, Kanjeng Gusti Adipati memerintahkan ku untuk memilih kalian yg dapat mendampinginya ke Kotaraja," jawab Tumenggung Wangsa Rana.


" Berapa banyak prajurit yg akan di bawa ke Kotaraja Demak itu, Kanjeng Tumenggung,,?" tanya panji Urangan.


" Tidak terlalu banyak , Panji Urangan, mungkin hanya lima belas orang,!" jawab Tumenggung Wangsa Rana.


" Kalau hanya sedikit lebih baik yg berpangkat Rangga atau Panji yg turut serta,!''. ucap Rangga Wira Dipa.


" Memang sebaiknya begitu, karena jika yg berpangkat rendah di berangkatkan nanti setelah kembalinya mereka akan kesulitan untuk memberikan ilmu yg telah di dapat dari Kotaraja Demak itu, beda dengan yg berpangkat Rangga atau Panji , tentu mereka akan lebih mudah untuk memberikan arahan kepada para prajurit bawahan," ujar Rangga Raga Sala.


" Benar ucapanmu itu Rangga Raga Sala, mungkin beberapa diantara kalian akan menyertai Senopati Brastha Abipraya itu ditambah tiga orang prajurit biasa yg memiliki kecerdasan yg diatas rata -rata,!" jelas Tumenggung Wangsa Rana.


Akhirnya para petinggi prajurit Pajang itu memilih siapa saja yg akan berangkat ke Kotaraja Demak untuk menyertai Senopati Brastha Abipraya.


Setelah terkumpul lima belas orang para prajurit Pajang yg berpangkat Rangga dan panji, akhirnya Tumenggung Wangsa Rana membawa mereka ke rumshnya


Di rumah dari kediaman Tumenggung Wangsa itu telah terkumpul lima belas orang punggawa Pajang yg akan berangkat ke kota raja Demak.


Di katumenggungan , Tumenggung Wangsa Rana memberikan penjelasan apa saja tugas mereka selama di Demak.


Malam itu para prajurit yg berpangkat Rangga dan panji segera berbicara dengan Senopati Brastha Abipraya.


" Apakah kits akan langsung ke Kotaraja Demak, Senopati Brastha Abipraya,?" tanya Panji Urangan.


" Yah , kita akan langsung ke Kotaraja Demak, walau nanti kita tidak akan lama disana," jawab Raka Senggani.


" Tidak sebaiknya kita langsung menuju ke Jepara ,?" tanya Rangga Raga Sala.


" Tidak karena titah yg kita terima dari Kanjeng Gusti Adipati, kita semua harus menghadap terlebih dahulu ke Demak,," jawab Raka Senggani


" Baik kalau begitu, kita harus mempersiapkan perjalanan sehingga esok hari kita tidak akan mengalami kesulitan !" ujar Rangga Aryo Seno.


Mendapatkan perkataan dsri Rangga Aryo Seno itu , maka mereka segera berbenah diri, siap untuk bersngkat esok hari.


Ketika mentari mulai menampakkan wajajnya di ufuk timur, menderaplah enam belas ekor kuda dari dalam kediaman dari Tumenggung Wangsa Rana itu.


Para prajurit Pajang itu dipimpin oleh Senopati Brastha Abipraya.


Dengan gagahnya, Senopati Brastha Abipraya itu mengebrak kudanya.


Rombongan itu berjalan cukup lambat , hingga hampir lima hari tibalah rombongan itu di Kotaraja Demak.


Dan saat itu keadaan Kota Raja Demak terlihat ramai, di sebabkan banyaknya para prajurit yg berlalu lalang di jalanan.


Tiba di pintu gerbang Kotaraja Demak itu , Senopati Brastha Abipraya segera melaporkan kedatangan nya kepada prajurit jaga pintu gerbang itu.

__ADS_1


Setelahnya mereka langsung menuju ke kediaman dari Tumenggung Bahu Reksa, yg merupakan orangtua angkat dari Senopati Pajang itu.


Karena Tumenggung Bahu Reksa telah kembali dari medan perang yg berada di ujung kulon.


Ke enam belas ekor kuda itu langsung masuk ke kediaman Tumenggung Bahu Reksa. Disana Senopati Brastha Abipraya di terima langsung oleh Tumenggung Bahu Reksa dan putra putrinya.


" Apa khabarnya Angger Senggani,?" tanya Tumenggung Bahu Reksa.


" Baik Paman Tumenggung, bagaimana keadaan dari Paman Tumenggung,?" tanya Raka Senggani.


" Seperti yg kau lihat , Ngger, kami semua dalam keadaan baik, ada gerangan apakah angger Senggani datang kemari,?" tanya Tumenggung Bahu Reksa lagi.


" Kami di perintahkan oleh Kanjeng Adipati untuk belajar bagaimana menjadi seorang Prajurit dalam armada


laut Demak, karena Pajang yg merupakan daerah pedalaaman tinggal mengenal yg namanya laut, yg ada hanya Kali atau sungai,!'' jawab Senopati Brastha Abipraya.


" Mari silahkan masuk, anggaplah rumah sendiri, nanti aku akan memberikan petunjuk darimana kalian akan memulainya, beristrahatlah karena kalian telah menempuh perjalanan cukup jauh,!" ucap Tumenggung Bahu Reksa


Akhirnya ke enam belas prajurit Pajang itu segera melepaskan penatnya di pendopo rumah dari Tumenggung Bahu Reksa itu.


Selanjutnya kemudian mereka menuju ke keraton Demak guna menghadap sang Sultan.


Di dalam keraton itu telah banyak petinggi Kerajaan Demak termasuk Pangeran Sabrang Lor.


" Ampukan hamba Kanjeng Sinuwun, hamba Senopati Brastha Abipraya dari Pajang menghaturkan sembah,!" ucap Raka Senggani.


Senopati Pajang itu tampak senang bertemu dengan Sultan Demak itu yg telah memberi nya hadiah sebuah cincin peninggalan dari Prabhu Brawijaya itu.


" Apa khabarnya Senopati Brastha Abipraya, ?" tanya Sang Sultan.


" Hamba baik Kanjeng Sinuwun,!" jawab Raka Senggani.


" Apakah kedatangan mu atas perintah dari Adipati Pajang,?" tanya Sultan Demak lagi.


" Benar Kanjeng Sinuwun, kami datang ke Demak atas perintah Kanjeng Adipati Pajang dalam hal untuk belajar ilmu perang di atas samudra , Kanjeng Sinuwun,!" jawab Raka Senggani.


" Siapa dia, ramanda Sultan,?" tanya Pangeran Sabrang Lor.


" Kamu belum mengenalnya nanda pangeran,?" tanya Sultan Demak itu


Tampak Pangeran Sabrang Lor menggelengkan kepala nya.


" Ananda belum mengenalnya Ramanda Sultan, !'' jawab Pangeran Sabrang Lor.


" Coba Nanda tanyakan kepada putra nanda pangeran sendiri,!" ujar Sultan Demak lagi.


Pangeran Sabrang Lor segera berpaling kepada putera tertuanya, Raden Arya Wangsa.


" Ananda Arya Wangsa , siapakah sebenarnya Senopati Brastha Abipraya itu,?" tanyanya kepada Raden Arya Wangsa


" Dia adalah Senopati agul -agul dari Pajang , ramanda ,!" jawab Raden Arya Wangsa.


" Senopati Agul -agul,.....dari Pajang,?"


Terlihat Pangeran Sabrang Lor itu memandangi wajah dari Raka Senggani.


" Benar Ramanda, kakang Senopati dari Pajang itu adalah Senopati yg pilih tanding, dalam satu hari ia mampu menewaskan dua orang adik seperguruan dari Eyang Supa Mandrangi,!" jelas Raden Abdullah Wangsa.


" Mampu menewaskan adik seperguruan dari Paman Supa Mandrangi,?" tanya Pangeran Sabrang Lor heran.


" Begitulah kejadiannya, Ramanda , Mpu Phedet Pundirangan dan Yasa Pasirangan tewas ditangan kakang Senopati dalam sehari saja, lewat perang tanding," jelas Raden Suryadi Wangsa.


Putra terakhir dari Pangeran Sabrang Lor itu semakin heran dengan ucapan dari ketiga putra nya itu.


" Ramanda Sultan, benarkah yg diucapkan mereka ini,?" tanya Pangeran Sabrang Lor.


" Itulah kejadian nya nanda pangeran, ketika Mpu Loh Brangsang yg membuat ulah dengan berniat untuk mengembalikan kejayaan Majapahit, yaitu membuat sebuah Pusaka yaitu Keris Kyai Condong Campur, tetapi dengan mudah nya Senopati Brastha Abipraya itu mengalahkan mereka dengan berhasil menewaskan dua orang adik seperguruan dari Mpu Loh Brangsang itu,!" jelas Sultan Demak.


Setelah mendengar penuturan dari Sultan Demak maka Pangeran Sabrang Lor segera bertanya kepada Raka Senggani.


" Apakah Senopati Brastha Abipraya memang berniat untuk menjadi pasukan Armada laut dari Demak, atau hanya sekedar ingin turut latihan saja,?" tanya Pangeran Sabrang Lor.


Pangeran Sabrang Lor atau bergelar Wong agung itu terus menatap wajah pemuda itu.

__ADS_1


" Ampunkan hamba Kanjeng Pangeran, sesungguhnya kami memang diutus oleh Kanjeng Adipati Pajang untuk lebih mempelajari tentang ilmu perang di laut dari Kanjeng Pangeran, dan di tambah Kanjeng Pangeran akan kembali menyerang Melaka dan Sunda Kelapa lagi, jadi Kanjeng Adipati merasa perlu membantu dengan menyiapkan pasukan yg dapat memahami siasat perang di lautan, karena Pajang adalah daerah yg tidak memiliki laut, tentu prajurit Pajang amat tertinggal dalam hal perang diatas laut, jadi memang kami disini atas perintah dari Kanjeng Adipati Pajang,!" terang Raka Senggani.


" Baik, meski kalian semua berada disini atas perintah dari Junjungan mu, tetapi itu tidak mengecilkan hatiku untuk membina kalian menjadi prajurit yg tangguh di tengah samudra, di tengah tembakan meriam yg belum pernah kalian dengar sebelumnya, jadi sikap yg diberikan oleh Paman Adipati itu memang sangat patut untuk di puji," jelas Pangeran Sabrang Lor.


__ADS_2