Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 28 Perang Tanding di Bukit Tuntang. bag ke tiga.


__ADS_3

Raka Senggani tetap tidak meninggalkan bilik nya, ia terus mengintai apa yang di lakukan oleh ketiga orang yg berada di sebelah nya ini.


Ketika ketiganya telah selesai terdengarlah suara orang yang di panggil guru itu.


" Hehh, ternyata si Tua Gila ini semakin tinggi saja ilmunya, ia mampu menutup penerawangan ku,..!" seru nya agak gusar.


" Jika memang demikian apa yang harus kita lakukan , Guru,.?" tanya salah seorang muridnya.


" Kita tunggu kedatangan dari kedua adik seperguruan ku itu, baru selanjutnya kita akan menantang Si Tua Gila itu untuk perang tanding,..!" balas gurunya.


" Apakah yg akan kita lakukan setelah ini , Guru,..?" tanya muridnya yang lain.


" Kalian berdua tetaplah berada di sini, aku akan keluar sebentar guna melihat sesuatu di luar sana,..!" jawab gurunya lagi.


" Baiklah Guru, kami akan tetap berada disini,..!" jawab kedua muridnya.


Sementara itu, Sang Guru langsung keluar bilik nya dan pergi meninggalkan keduanya.


" Hufhh,..!"


Ia pun melesat dalam kegelapan malam itu.


Raka Senggani yg menyadari kejadian ini berlangsung sangat cepat tidak dapat memutuskan untuk mengikuti orang tersebut. Dirinya hanya berdiam diri saja dalam bilik tersebut.


Namun tidak terlalu lama setelah kepergian dari orang tersebut, datanglah dua orang lagi di tempat itu.


" Hehh,..mana guru kalian,..?" terdengar pertanyaan dari seseorang.


" Beliau sedang keluar Paman Guru,..!" sahut orang yang berada di dalam bilik.


" Kemana perginya,..?" tanya yg seorang lagi.


" Kami tidak tahu , Paman Guru, ia tadi hanya mengatakan ingin keluar , itu saja ,.!" jawab yg lain.


" Aneh,..kami berdua di suruh kemari, ia malah pergi,..!" seru orang itu lagi.


Kemudian tidak terdengar lagi suara dari bilik yg berada di sebelah bilik Raka Senggani itu.


Raka Senggani berusaha untuk mencari tahu siapa sebenarnya orang yg datang kemudian , tetapi niatnya ini ia urungkan, dirinya kemudian membuka jendela bilik dan keluar dari sana.


Sebenarnya ia ingin tahu siapa orangnya yang merupakan seorang guru itu.


Setelah cukup jauh berjalan menyusuri desa Lopait ini, tanpa di sadarinya ternyata Raka Senggani menuju ke kediaman dari orang tua yg bernama Mertalaya.


Ketika mendekati rumah atau lebih tepatnya gubuk dari Ki Mertalaya ini, telinga dari Raka Senggani menangkap suara yang sepertinya tengah bercakap cakap.


" Hehh,.. Argayasa, cepat serahkan kedua benda pusaka milik Majapahit itu kepada kami, atau nyawa mu menjadi taruhan nya,..!" ucap seseorang.


" Ha, ha, ha,..kau seperti nya tengah bermimpi Ki Gabluk,..kedua senjata pusaka itu tidak berada di tangan ku, periksalah jika kau tidak percaya,..!" jawab seorang yang lain lagi.


Dalam temaram nya cahaya rembulan Raka Senggani dapat melihat bahwa kedua orang yg tengah berbicara itu adalah dua orang yg di kenalinya.


Bukankah orang yang di panggil sebagai Argayasa ini adalah orang yang mengaku sebagai Ki Mertalaya, sedangkan yang seorang lagi adalah orang yang tengah ku kejar sejak dari tanah Perdikan Banyu Biru, jadi orang ini yg bernama Ki Gabluk,..berkata dalam hati Raka Senggani.


Ia tetap menyaksikan keduanya yg tampaknya tengah bertengkar itu.


" Sudahlah Argayasa, katakanlah yg sejujurnya sebelum senjata ku ini yg berbicara,..!" seru Ki Gabluk lagi.


" Ha, ha, ha, terserah lah apa yg ingin kau katakan Gabluk,. Aku tidak akan gentar sedikitpun,..apalagi hanya berhadapan dengan mu, ha, ha, ha,..!"


Malam itu suara tertawa dari Ki Argayasa ini terdengar keras sekali , tampaknya ia memang tengah mengerahkan tenaga dalam nya, sehingga orang yang bernama Ki Gabluk itu pun terpengaruh olehnya.


" Argayasa , permainan anak kecil kau perlihatkan kepada ku,.Hehh,..!" seru Ki Gabluk ini.


Ia pun tampaknya segera membalas ucapan dari lawan bicaranya ini dengan mengerahkan tenaga dalam nya juga.


" Ha, ha ,ha, ternyata Hantu dari selatan memang memiliki modal untuk menantang ku,.ha, ha ,ha ,.." seru Ki Argayasa .

__ADS_1


Memang tenaga dalam kedua orang ini sangat tinggi ,dari tertawanya saja sudah mampu merobohkan seseorang yg tidak memiliki tenaga dalam yang tinggi untuk menahan nya terlebih orang yang bernama Ki Argayasa ini, berkata dalam hati Raka Senggani.


Ia pun terpaksa menutup pendengaran nya agar tidak terpengaruh dari suara kedua orang tua yg tengah berhadapan itu.


Di saat rembulan semakin tinggi dan cahaya nya semakin bersinar terang, kedua orang yg saling berhadapan ini nampaknya akan segera bertarung.


" Tua Gila,..aku datang kemari tidak ingin bermain-main , kali ini aku akan merebut kedua pusaka yg ada di tangan mu itu , jadi bersiaplah,..!" ucap Ki Gabluk.


" Kita sudah sering kali bertemu, Gabluk ,.. bukannya diriku tidak tahu siapa kau ini, jadi telah ku katakan kepadamu bahwa diriku memang tidak menyimpan kedua benda Pusaka itu, terserah lah jika kau memang memaksa,..!" sahut Ki Argayasa lagi.


Orang tua yg di kenal sebagai si Tua Gila dari Rawa Pening inj tampak tenang tenang saja meskipun orang yg berada di hadapannya ini telah membuka gerak kakinya siap untuk menyerang.


" Kau tidak sayang akan nyawa mu itu , Argayasa,..terima ini, heahhh,..!"


Teriak Ki Gabluk,..lelaki itu menyerang Ki Argayasa dengan tendangan mendatar melalui kaki kanan nya , luput serangan tersebut karena lawan dengan menudukkan sedikit tubuh nya, namun tendangan susulan pun di lancarkan oleh Ki Gabluk lagi. Dan kali ini lebih cepat lagi seraya ia mengayunkan tangan kanan berusaha untuk memukul jatuh lawan.


Tetapi dengan sangat mudahnya serangan ini dapat di mentahkan oleh Ki Argayasa , bahkan seperti nya orang tua ini tidak nampak bergerak sama sekali.


Gila, benar benar gila, Begawan Kakung Turah ini sama sekali tidak bergerak tetapi serangan lawan tidak ada yg mampu mengenai nya , sungguh hebat ilmu peringan tubuhnya, berkata dalam hati Raka Senggani.


Ia melihat pertarungan kedua orang ini yg memperlihatkan tingkat tinggi dari ilmu olah kanuragan yg mereka miliki.


Ki Gabluk tampaknya tidak mudah menyerah, setelah beberapa kali serangan nya belum menemui hasil , ia segera mengeluarkan senjata nya yg berupa canggah yg agak panjang.


Lelaki tua itu semakin meningkatkan kecepatan nya dalam melakukan serangan nya sehingga demikian cepatnya pertarungan keduanya berjalan dengan sangat cepat nya, keduanya hanya terlihat kelebatan -kelebatan nya saja.


Ki Argayasa atau lebih dikenal sebagai Si Tua Gila itu nampak hanya melayani saja semua serangan yg di lancarkan oleh lawan , bahkan ketika Ki Gabluk telah mengeluarkan senjatanya , ia masih saja menggunakan tangan kosong.


Gerakan nya tampaknya sangat sederhana tetapi serangan lawan belum ada yg mampu menembus pertahanan nya.


Hingga malam semakin larut dan cahaya sang Dewi malam semakin bercahaya terang, dua bayangan tampak saling serang , tetapi belum pun ada yg berhasil memenangkan pertarungan.


Hingga pada suatu saat , terlihat Ki Argayasa menggerakkan tangan nya seperti sedang mengibaskan, serangkum angin yang sangat kuat menderu menghantam tubuh Ki Gabluk.


Orang tua itu terlempar ke belakang , akan tetapi sebelum tubuhnya jatuh ke atas tanah, ia mampu mengemposi tenaga dalam nya dan melesat kembali.


Kembali Ki Gabluk menyerang dengan senjatanya yg berupa canggah itu.


" Sudahlah Gabluk , urungkanlah niatan mu itu tidak ada gunanya dirimu menyerang ku,..!" seru Ki Argayasa.


Sambil ia melesat menjauhi lawannya ini. Sekejap kemudian , tubuhnya sudah menjauhi lawannya itu.


Sedangkan Ki Gabluk terus memburu tubuh Ki Argayasa yg nampaknya ingin menghindar.


Ketika keduanya saling kejar mengejar ini, Nampak Ki Argayasa mengibaskan kembali tangan nya.


Kembali Ki Gabluk terdorong menjauh.


Tetapi dengan cepat ia kembali melayang lagi dan terus mengejar.


Namun,..


" Hehh, kemana perginya,..!" seru Ki Gabluk dengan keras.


Ia telah kehilangan lawan nya ini.


Di tengah kebingungan mencari orang yang bernama Ki Argayasa itu terdengarlah suara yang menggema,.


" Lupakan lah niatmu itu untuk mencari Kyai Nogo Sosro dan Kyai Sabuk Inten, kau tidak akan mendapatkannya Gabluk,..ha ,ha ,ha,.!"


" ******* , tunjukkan dirimu , Argayasa , mari kita bertarung, kita buktikan siapakah yg lebih hebat diantara kita,..!" seru Ki Gabluk.


Tidak ada jawaban, kembali tempat ini menjadi sunyi, yg terdengar hanya bunyi binatang malam saja.


Cukup lama orang yg bernama Ki Gabluk ini berdiri , ia masih berusaha untuk menemukan orang yang tengah di carinya itu namun sia sia saja. Tampaknya Ki Argayasa telah jauh meninggalkan tempat tersebut.


Ketika ia akan bergerak tiba-tiba saja ia mendengar suara langkah kaki yg mendekat ke tempat itu.

__ADS_1


" Siapa,..!" seru Ki Gabluk.


" Ini kami kakang,..!" jawab seseorang.


Muncullah dua orang disana.


" Hehh,kalian , kapan kalian tiba disini adi Janadri dan kau adi Jaladri,..?" tanya Ki Gabluk kepada kedua orang yg baru datang itu.


" Kami baru saja tiba, Kakang,..dan setelah kami bertanya kepada kedua orang murid mu, mereka mengatakan bahwa kakang Sarabaya tengah keluar maka kami pun lantas berusaha untuk mencarimu, Kakang,..!" jelas Ki Janadri.


" Yeahh, aku baru saja mengejar si Tua Gila itu, namun sayang ia berhasil lolos dari kejaranku,..!" ungkap Ki Gabluk.


Lelaki tua ini lantas mengajak kedua adik seperguruan nya ini untuk kembali ke tempat mereka menginap.


Ketiganya pun segera meninggalkan tempat itu saat malam sudah mendekati pagi.


Sementara itu , di tanah Perdikan Banyu Biru , di induk pedukuhan nampak seorang lelaki tua nampak sedang menghadapi sepasang muda mudi di depan nya.


Awal nya lelaki tua ini sangat terkejut melihat kehadiran dari perempuan yang memiliki paras cantik itu.


" Eyang sungguh tidak menyangka dapat bertemu denganmu disini,..!" ucap Lelaki itu pelan.


Sedangkan gadis cantik ini menundukkan kepalanya tidak berani menatap wajah lelaki itu.


" Mengapa dirimu meninggalkan padepokan Merapi, apakah hal ini ada kaitannya dengan kejadian yang telah menimpa Senopati Pajang itu,..?" tanya nya lagi.


Sambil menatap pemuda yang ada di sebelahnya, gadis cantik itu menjawab,.


" Maafkanlah Aku Eyang ,.bukan maksud diriku untuk lari dari padepokan Merapi, akan tetapi saat itu perasaanku memang tidak menentu , di tambah lagi diriku telah bertemu dengan Eyang Sriti Wengi yg dapat menghiburku,.!" jawab gadis cantik ini.


Lelaki tua ini kemudian melangkah mendekati si gadis cantik ini seraya berkata,..


" Eyang pun ingin meminta maaf kepadamu atas kejadian itu, bukan maksud Eyang ingin memanfaatkan mu, walaupun kelihatan nya memang demikian , tetapi jujur Eyang katakan tidak ada maksud Eyang untuk berlaku demikian,..jadi sekarang dirimu adalah murid dari Si Sriti Wengi itu ,.benar begitu,..?" tanya nya lelaki yg berpakaian ala Empu ini.


Dengan mengangguk pelan gadis cantik ini berkata lirih,.


" Benar Eyang, saat ini aku adalah murid dari Eyang Sriti Wengi,..!" ucapnya.


Adalah si pemudalah yg tampak terbengong bengong melihat keduanya , ternyata gurunya itu telah saling mengenal dengan gadis cantik yang ada di sampingnya ini.


" Maaf sebelumnya Guru, apakah Guru telah mengenal gadis ini,..?" tanya nya kepada sang Guru.


" Benar angger Yantra, Gurumu ini memang telah mengenal perempuan yang ada d sebelah mu itu , jauh sebelum kau mengenalnya,..!" jawab Lelaki tua itu.


Kemudian lelaki tua yang tiada lain adalah Mpu Loh Brangsang ini mengatakan kepada muridnya ini bahwa sebenarnya gadis cantik yang ada di sampingnya itu dahulu adalah muridnya juga, akan tetapi kemudian ia pergi dari tempat nya dan tak pernah kembali hingga saat ini.


Tara Rindayu , gadis cantik yang berada di sebelah Raka Yantra ini hanya mampu menundukkan wajahnya ia tidak berani menatap wajah Mpu Loh Brangsang yg sempat menjadi gurunya itu namun karena sesuatu yang terjadi atas Raka Senggani pada waktu itu, kemudian ia meninggalkan padepokan Merapi dan bertemu dengan Nyi Sriti Wengi , selanjutnya mengangkat dirinya menjadi seorang murid.


Raka Yantra , yg sebenarnya belum terlalu mengenal kedua orang ini , baik gurunya maupun dengan Tara Rindayu hanya dapat mengngguk-anggukkan kepalanya saja mendengar penuturan dari sang Guru.


" Raka Yantra, persiapkan lah dirimu, karena besok malam kita akan mengambil dua buah pusaka itu dari tangan Begawan Kakung Turah ,..ingat dua saudara seperguruan mu telah menunggu kita di desa Lopait,..memang kalian berdua aku tempatkan di sini , agar rencana kita ini berhasil,..!" ucap Mpu Loh Brangsang lagi.


Ia menjelaskan kepada mereka bahwa untuk segera bergerak ke desa Lopait, nanti disana ia akan mengatakan apa yang harus di kerjakan oleh muridnya ini.


Tidak menunggu lama, setelah terang tanah, sepasang muda mudi ini pun meninggalkan pedukuhan induk Tanah Perdikan Banyu Biru menuju desa Lopait.


Sementara itu , Mpu Loh Brangsang masih memandangi kepergiaan dari keduanya.


Ia memang merasa aneh dengan yg terjadi saat ini, di tengah pencarian nya atas dua buah benda pusaka yang menjadi piyandel kerajaan Demak , ternyata dirinya menemukan muridnya yang sempat menghilang itu. Dan kini hadir bersama dengan murid nya yg lain yg di persiapkan untuk menjadi lawan dari musuh bebuyutan nya yakni Raka Senggani.


Setelah kepergian mereka , Mpu Loh Brangsang pun berkelebat meninggalkan tempat tersebut, ia melesat cepat menuju arah barat.


Raka Senggani yg berada di desa Lopait nampaknya harus banyak menyamar, karena secara tidak sengaja ia telah berpapasan dengan dua murid Mpu Loh Brangsang yg lain yaitu Raden Kuda Wira dan Dewi Rasani Mayang yg tanpa sengaja satu tempat saat mencari warung untuk makan.


Karena Raka Senggani yg lebih dahulu berada di tempat itu , ia melihat keduanya masuk, lantas dengan cepat Raka Senggani memalingkan wajahnya sambil topi caping ia geser ke bawah menutupi wajahnya.


Sehingga kedua orang itu tidak melihat nya.

__ADS_1


__ADS_2