
Dalam pekat nya malam, Raka Senggani mampu melihat kemunculan dari para makhluk halus yg beraneka ragam dan berjumlah sangat banyak mengepung dirinya dengan rapat.
Ada yg berujud tinggi besar dan berwarna kehitaman , di sela kedua bibir nya memiliki cakil , dari matanya memancar cahaya kemerahan berambut gimbal panjang nya sampai bahu., dan ada pula yang berujud seperti pocong, menggunakan kain putih menutup tubuhnya dan makhluk ini seolah tidak menginjak tanah , hanya berlompatan saja, dari wajahnya yang rata dan matanya yang ada hanya lobang saja.
Belum lagi makhluk halus yg lain , seperti seorang wanita dengan telinga nya yg panjang naik ke atas melebihi kepalanya, mata makhluk ini seperti berwarna kehijauan dengan bibir berlepotan darah.
Cukup banyak memang makhluk halus yg berhasil di panggil oleh Ki Jarie Mendep ini , semuanya bergerak menuju kepada Senopati Pajang.
" Cepat bunuh, orang itu,..!" seru Ki Jarie Mendep.
" Hraghhh,..!"
" Hik, hik,.hik,.!"
" Arghhh,..!"
Ke semuanya pun secara serempak menyerang Raka Senggani.
" Hufhh,.. Hiyyahh,..!"
" Thak ,.!"
" Thak,.!"
" Thak,..!"
Senopati Brastha Abipraya melompat tinggi dan langsung mengarahkan tongkat berkepala ular memukul makhluk halus yg mendekati nya ini.
Tiga sosok makhluk halus ini kontan terjungkal dengan kepala nya pecah, namun begitu datang lagi yg lainnya menyerangnya.
Raka Senggani kembali harus berlompatan untuk melepaskan serangan terhadap makhluk yg mendekati nya ini.
" Heahh,.!"
" Jlebbh,.!"
" Crabhh,.!"
" Krakkh,.!"
Beberapa memang berhasil ia lumpuhkan , namun seolah jumlahnya tidak ada habisnya membuat kerepotan tersendiri bagi sang Senopati.
" Ha, ha, ha, ****** kau Senopati Brastha Abipraya, dirimu akan menjadi santapan mereka, terus..bunuh orang itu,.!" teriak Ki Jarie Mendep sambil tertawa.
Ia sangat senang sekali melihat lawannya itu harus melawan makhluk halus yg tidak mengenal takut dan terus menerus menyerang.
Kalau begini terus, bisa kehabisan tenaga aku, berkata dalam hati Raka Senggani.
" Hufhhh,!"
Ia keluar dari kepungan para makhluk yang berujud buruk rupa ini, dengan melompat tinggi ke atas dan berusaha menjauhi mereka.
Setelah terlepas dari kepungan, dalam waktu sesaat, ia pun bersedekap dengan menggenggam kebutan yg di berikan oleh penguasa alas Siroban.
Mulutnya terdengar mengeluarkan kata kata,.
" Ki Klamprah , Ki Klamprah, Ki Klamprah, datanglah,..!" ucapnya lirih.
Nyaris tidak terdengar sama sekali , namun begitu untuk yg ketiga kalinya ia menyebutkan nama itu, tiba tiba saja bumi tempat berpijak Raka Senggani ini bergoyang hebat, angin berhembus dengan kencang nya, bahkan sampai merobohkan pepohonan.
Makhluk halus yang menjadi suruhan Ki Jarie Mendep ini nampak kebingungan, mereka memandang ke kiri dan ke kanan, seolah merasakan sesuatu yg akan hadir di situ.
Dan,..
" Whushhhh,..!"
" Blubhh,..!"
" Ha ,ha ,ha, ada apa Raden memanggilku,..?" tanya sesosok makhluk bertubuh tinggi besar yg berdiri tegak dihadapan Senopati Brastha Abipraya ini.
Semua yg hadir di situ memandangi ke arah sosok makhluk yang tinggi besar ini.
Siapakah Makhluk besar ini, bertanya dalam hati Ki Jarie Mendep.
Seolah ia merasakan ketakutan yg luar biasa dengan makhluk yang baru muncul tersebut.
" Aku membutuhkanmu Ki Klamprah, untuk mengusir mereka,.!" jawab Raka Senggani.
Sambil ia menunjuk ke arah sosok sosok makhluk yg bergentayangan ini.
" Sebuah perkara yg sepele, Raden,.Ha, ha, ha,.!" sahut Ki Klamprah.
" Hroaahhh,!"
" Whuph,..!"
" Whushhh,.!"
Penguasa alas Siroban ini segera berteriak keras dan mengeluarkan angin yang sangat keras dari mulutnya meniup makhluk makhluk yg tengah bergerak mendekati Raka Senggani ini.
Bagaikan kapas tertiup angin, sebahagian besar sosok sosok itu terlempar jauh meninggalkan tempat itu dengan bersamaan roboh nya pepohonan sekitar tempat tersebut.
Kini tinggal hanya sedikit saja , dan tampak ragu untuk maju lagi.
" Ha, ha, ha, jika kalian berani maju, maka kalian akan segera menemui ajal, enyahlah dari hadapanku,.hahh,.!" bentak Ki Klamprah dengan kerasnya.
Sejenak sosok sosok yang mengerikan ini saling berpandangan dan,.
" Whushhh,..!"
Tiba tiba saja mereka lenyap semua nya tidak ada yg tersisa. Kelihatan nya mereka memang sangat ketakutan melihat sosok Ki Klamprah yg bertubuh tinggi besar ini.
" Mereka sudah tidak akan berani lagi datang, Raden, izinkanlah aku kembali,.!" ucap Ki Klamprah kepada Raka Senggani.
" Silahkan Ki, terima kasih atas bantuan nya, !" sahut Raka Senggani.
Di iringi oleh suara putaran angin yang kencang , tubuh Ki Klamprah pun lenyap dari tempat itu.
Semua kejadian yg berlangsung dengan sangat cepat nya tanpa Ki Jarie Mendep dapat mencegahnya, lelaki tua ini tampaknya terpana dengan apa yg telah terjadi.
" Sudahlah Ki , sebaiknya lah tinggalkan tempat ini, dan jangan coba coba untuk mengganggu keamanan dari tanah perdikan Mantyasih,.!" seru Raka Senggani.
Ucapan dari Senopati Pajang itu membuat Ki Jarie Mendep seolah tersadar, ia pun langsung berteriak,.
__ADS_1
" Ludira, Dharsasana,.segera ringkus orang ini, cepat,.!"
Sesuai ia berkata demikian , dengan sangat cepatnya lelaki tua itu melesat menyerang kembali Raka Senggani.
" Heahh,..!"
" Dhumbhh,..!"
Sebuah hantaman Aji Macan Moro nya mengarah kepada sang Senopati.
" Hufhh,.Heahhh,. Aji Wajra Geni,..!" seru Raka Senggani.
" Dumbh,..!"
" Bletaaaaar,..!"
Senopati Brastha Abipraya langsung membalas serangan yg telah dilontarkan oleh lawan.
Benturan pun terjadi dengan dahsyatnya, tubuh Ki Jarie Mendep terlontar ke belakang beberapa tombak setelah ajian nya berbenturan dengan ilmu Senopati Brastha Abipraya.
Dengan cepat ia bangkit berdiri kembali, bersamaan itu pula dua orang telah menyerang Raka Senggani yg kokoh berdiri tegak .
" Cepat bunuh orang itu,..!" teriaknya.
Setelah ia melihat kedua muridnya Tumenggung Gajah Ludira dan Dharsasana menyerang bersama-sama.
Lintang Sandika yg melihat pertarungan yang tidak berimbang ini sangat terkejut, sebab bagaimana pun juga , dua orang yg menyerang adik angkatnya ini bukanlah orang sembarangan.
" Heahhh,..!"
" Hiyyahh,.!"
" Haiit,..!"
Baik Tumenggung Gajah Ludira maupun Dharsasana menyerang Raka Senggani dengan menggunakan ilmu nya.
Sehingga membuat Senopati Brastha Abipraya harus berjumpalitan menghindari nya, dirinya tidak di beri kesempatan untuk membalas.
Namun meski demikian , kecepatan nya sangat tinggi sangat sulit untuk di kenai oleh dua orang murid Ki Jarie Mendep ini.
Sedangkan Ki Jarie Mendep sendiri tampaknya berusaha untuk menjauh , seperti nya ia memang tengah menyiapkan sesuatu.
Benar saja , di tangan orang tua yg berjuluk si Selaksa racun ini telah tergenggam tiga buah senjata rahasia yg pastinya mengandung warangan nan mematikan.
Hehh, dengan racun ini tentu dirimu tidak akan selamat lagi, kau akan ******, bersiaplah, berkata Ki Jarie Mendep di hatinya sambil melihat terus jalan nya pertarungan.
Sedangkan pada pertarungan itu sendiri , setelah Raka Senggani semakin meningkat kan ilmu peringan tubuhnya, maka semakin cepat pula gerakan tubuh sang Senopati ini, seolah telah menjadi bayangan saja.
Dengan kelebihan nya ini dirinya mampu mendesak lawannya dengan memberikan pukulan telak pada punggung dari Dharsasana yg terlambat menghindar.
Murid ki Jarie Mendep ini seolah tidak percaya, begitu ia melepaskan serangan nya terhadap Raka Senggani yg ada di hadapan, tiba tiba saja tubuh itu menghilang dan langsung menyerang nya dari belakang tanpa dapat di hindari lagi punggung nya terhantam dengan keras nya oleh lawan.
" Aakh,.!"
" Dharsana,.!"
Tubuh murid Ki Jarie Mendep ini terpental seperti sedang di terbangkan oleh sebuah kekuatan yang maha dahsyat hingga jauh sekali jatuhnya.
" Hoekkkkhh,..!"
Memang Senopati Brastha Abipraya ini tidak lagi bermain main lagi, dirinya sangat mengerti akan kemampuan lawan sehingga ia harus segera melumpuhkan mereka secepatnya sebelum nanti ia kehabisan tenaga.
Tumenggung Gajah Ludira yg melihat saudara seperguruan nya itu terlempar jauh akibat hantaman lawan berseru kaget memanggil namanya, ia termangu melihatnya.
Ketika dilihatnya bahwa Dharsasana masih mampu bangkit, hatinya agak tenang.
" Rangga Ranujaya dan Rangga Sungkana, lekas bantu aku meringkus orang ini,.!" ucapnya kepada kedua orang bawahan nya itu.
" Baik Gusti Tumenggung,..!" jawab kedua orang itu bersamaan.
Jadilah kini Raka Senggani di kepung dari tiga jurusan oleh perwira dari Demak itu.
" Serang,....!" teriak Tumenggung Gajah Ludira.
Dua bayangan tubuh segera berlompatan menyerang Raka Senggani masih saja kokoh berdiri.
Senopati Pajang ini langsung menyambut keduanya dengan melepaskan pukulan nya.
" Heahh,..!"
" Dhiegh.,.!"
" Dhiegh.,.!"
Dua buah tendangan cepat bersarang dengan telaknya di dada kedua orang Rangga itu hingga menjengkangkan nya ke belakang.
Tidak sampai di situ, Raka Senggani melanjutkan serangan nya ke arah Tumenggung Gajah Ludira.
Pembesar dari kerajaan Demak ini segera berkelit guna lepas dari hantaman Telapak tangan terbuka yg di lepaskan oleh Raka Senggani.
Di saat tubuh Senopati Pajang itu melayang di udara,.
" Seeiiiing,.!"
" Shieeet,..!"
" Shieeet,.!"
" Thaaakk,.!"
" Thaak,.!"
" Plok,..!"
Tiga buah senjata rahasia yg di lepaskan oleh seseorang dari balik kegelapan dan tiada lain adalah Ki Jarie Mendep langsung menyerang tubuh Raka Senggani.
Akan tetapi ketiga senjata rahasia ini berhasil di pukul jatuh olehnya.
" Hahh,..!"
Terdengar seruan kaget dari Ki Jarie Mendep, padahal ia tahu bahwa serangannya ini pasti tidak akan meleset lagi, tetapi ia harus kecewa tidak satupun yang mampu melukai tubuh sang Senopati.
Raka Senggani langsung menghentikan serangannya dsn menatap ke arah Ki Jarie Mendep.
__ADS_1
" Tidak kusangka ,dirimu bisa bertindak securang ini,.!" ucapnya kepada Ki Jarie Mendep.
Tanpa memperdulikan Tumenggung Gajah Ludira, Raka Senggani mendekati Ki Jarie Mendep.
Dalam jarak sepuluh langkah ia menghentikan langkah kakinya.
Bekas Senopati pasukan sandi yuda Demak ini menggerakkan kedua tangan nya dengan saling silang, kemudian dari mulutnya keluar teriakan keras,.
" Aji Wajra Geni,..heahh,.!"
Dari kedua belah telapak tangan nya memancar cahaya merah terang dan langsung menerjang si Selaksa racun itu.
" Hufhh,..heahh,.!"
Ki Jarie Mendep berusaha menghindari nya.
Ia pun bersiap untuk melepaskan serangannya, di saat pandangan mata Senopati Brastha Abipraya tertuju pada si Selaksa racun itu , tiba tiba datanglah serangan dari arah belakang nya, dan hal ini di lakukan oleh Tumenggung Gajah Ludira.
Tubuh Raka Senggani terpental akibatnya , setelah hantaman itu dengan telak menghajar punggungnya.
Namun ia tidak berusaha untuk langsung bangkit meski tidak merasa sesak pada dadanya.
Nampaknya memang Senopati Brastha Abipraya ini ingin memancing kedua orang tersebut untuk segera mendatangi nya.
Benar saja , Ki Jarie Mendep dan Tumenggung Gajah Ludira segera menghampiri nya, sambil tertawa tawa.
" ******* kau Senopati Brastha Abipraya, kau tidak tahu kami telah menjebak mu, kini tamat lah riwayat mu, ha ,ha ha,..!" teriak Ki Jarie Mendep sambil tertawa tawa mengejek.
Keadaan ini pun membuat sedih Lintang Sandika, putra Tumenggung Bahu Reksa ini memang dengan jelas melihat tubuh adik angkatnya ini terkena hantaman pukulan yang keras lepaskan oleh Tumenggung Gajah.
Apakah aku harus segera memberitahukan hal ini kepada Ki Gede Mantyasih berkata dalam hatinya.
Belum pun sempat ia berpikir lebih jauh lagi, tiba tiba di dengarnya Ki Jarie Mendep berkata.
" Sungguh tidak benar apa yang di katakan oleh orang banyak itu, ternyata sampai disini saja kehebatan mu,.hehh,.!" seru Ki Jarie Mendep.
Dengan sombong nya sambil menggerakkan kakinya ia berusaha membalikan badan Senopati Pajang ini., namun,
" Hehh,.!"
Seru Ki Jarie Mendep kaget, tiba tiba saja pergelangan kakinya itu di tangkap oleh orang yang sedang terbaring itu.
Dan,.
" Aaaakhh,..!"
Dengan kerasnya tubuh Yang Jarie Mendep jatuh terjerembab ke atas tanah karena di tarik oleh Raka Senggani dengan sangat kuat.
Melihat kejadian yg di luar dugaan ini, Tumenggung Gajah Ludira segera melesat cepat dan memberikan serangan guna membebaskan gurunya itu.
" Heahh,..!"
" Bletaaaaar,..!"
Sebuah pukulan aji Macan Moro segera menyasar tubuh Raka Senggani.
Tetapi serangan yg cukup dekat jaraknya ini tidak mampu mengenai tubuh Raka Senggani di sebabkan Senopati Brastha Abipraya segera bergulingan sambil tetap memegangi kaki Ki Jarie Mendep.
" Heahhh,..aji Wajra Geni,..!" teriak Raka Senggani.
Setelah terlepas dari serangan Tumenggung Gajah Ludira , Senopati Pajang ini pun melepaskan Ajian Wajra Geni ke tubuh Tumenggung Gajah Ludira.
" Aaakhhh,..!"
Tak ayal lagi tubuh Pembesar kerajaan Demak ini terpanggang oleh ilmu Wajra Geni tersebut dan melemparkan nya .
Ki Jarie Mendep sempat melihat tubuh muridnya itu terpental akibat hantaman tersebut.
Ia memang mampu melepaskan diri dari cengkraman tangan dari Raka Senggani, dan dirinya berusaha untuk melihat keadaan Tumenggung Gajah Ludira.
" Ludira,....!" teriak Ki Jarie Mendep.
Setelah di lihatnya tubuh muridnya itu sudah tidak bergerak lagi.
Si Selaksa racun ini segera menghadap ke arah Raka Senggani sambil berkata,.
" Kau harus membayar semua ulah mu ini ,..!" ucapnya dengan keras.
Sesaat kemudian , kedua tangan orang tua ini diangkat ke atas dan baru kemudian di turunkan ke bawah dan ditautkan di depan dadanya.
" Aji Tapak Wisa,..hehahh,.!"
" Bleghuaaarr,..!"
Sebuah serangan di lepaskan oleh si Selaksa racun ini, dan segera meluruk tajam mengarah pada tubuh Raka Senggani.
" Huffhhh,..aji Aji Wajra Geni,..heahh,..!"
" Bleghuaaarr,..,!"
Sambil melompat tinggi Senopati Brastha Abipraya pun membalasi serangan itu dengan ilmunya pula, maka beradulah kedua kekuatan tersebut.
Dan untuk ke sekian kalinya, ki Jarie Mendep harus terlontar akibat benturan itu.
" Hoeekkh ..!"
Si Selaksa racun itu muntah darah, memang tubuhnya sudah beberapa terkena hantaman oleh Raka Senggani dan kali ini lebih parah lagi.
Susah payah ia berusaha bangkit, dendam kesumat terpancar dari wajahnya.
Kembali ia membaca mantera dan sesaat kemudian,..
" Aji Tapak Wisa,..hiyyaht,..!"
" Bleghuaaarr,..!"
" Aji Wajra Geni,.. heahh !"
" Bleghuaaarr,..!"
" Dhumbhh ..!"
" Aaakhhh ..!"
__ADS_1
Terdengar teriakan yang menyayat hati keluar dari mulut si Selaksa racun itu.