
" Aku sangat senang sekali, Branang,.jika kau mau melanjutkan perang tanding ini,..!" sahut Begawan Kakung Turah.
" Bagus , Aku demikian pula Argayasa, kali ini kau harus membayar perbuatan mu terhadap muridku , mari kita lanjutkan perang tanding yg sempat tertunda ini,.!" ucap Mpu Loh Brangsang tak kalah garang nya.
Penguasa Gunung Merapi ini memang sudah sangat murka mendapati murid kinasihnya dalam keadaan terluka parah. Ia belum dapat memastikan apakah Raden Kuda Wira itu dapat selamat atau tidak..
Rasa dendam nya terhadap Begawan Kakung Turah ini sudah sampai pada puncaknya. Panguasa Gunung Merapi itu harus menuntut balas atas terluka nya Raden Kuda Wira.
Demikian pula sebaliknya, Si Tua Gila yg memang sangat marah karena telah di serang secara gelap oleh murid Mpu Loh Brangsang itu pun menjadi kalap, di tambah lagi ia belum dapat mengalahkan Senopati Brastha Abipraya.
Sehingga kemarahan nya kali ini akan ia lampiaskan pada Mpu Loh Brangsang. Begawan Kakung Turah sudah memutar tongkat nya dengan sangat cepat.
Angin telah menderu keras di tempat itu, bergeserlah orang orang yg tidak merasa turut untuk bertarung, diantaranya ada, Ki Sura Gadhiek alias Begawan Semeru Giri, Panembahan Gunung Lawu dan juga Raka Senggani.
Sedangkan di luar gelanggang pertarungan , banyak sudah yang akan meninggalkan tempat itu .
" Ningrum, sebaiknya kita tinggalkan tempat ini, tidak ada gunanya kita berada disini, !" ucap si Buta dari bukit tengkorak.
" Apakah kita tidak akan melihat pertarungan antara si Tua Gila dengan Mpu Loh Brangsang itu,. Guru.?" tanya Nibgrum.
" Tidak ada gunanya kita melihatnya, pasti Mpu Loh Brangsang akan kalah,. Ningrum, marilah kita tinggalkan tempat ini,.!" sahut Si buta dari bukit tengkorak itu.
" Lalu bagaimana dengan niatan guru yang ingin merebut kedua pusaka tersebut, apakah tidak jadi untuk melakukan nya,.?" tanya Ningrum lagi.
" Sudah tidak mungkin lagi kita akan merebut pusaka itu ,.Ningrum..,!" sahut Si Buta dari bukit tengkorak itu.
" Kenapa, Guru, apakah guru tidak sanggup melawan si Tua Gila itu,.?" tanya Ningrum.
Si Buta itu kemudian menjelaskan bahwa tidak akan mungkin untuk merebut kedua pusaka itu, ini di sebabkan karena di tempat itu telah hadir Ki Sura Gadhiek, Panembahan Gunung Lawu serta Senopati Brastha Abipraya , jadi tidak akan mungkin melanjutkan rencananya itu. Melawan satu orang saja , apalagi harus melawan empat suatu yg sangat mustahil, oleh sebab itulah sebaiknya mereka meninggalkan tempat tersebut.
Ningrum pun mengangguk tanda setuju dengan ucapan gurunya ini, maka kedua orang ini pun segera meninggalkan tempat tersebut.
" Hehh, Jayengkara,..mengapa kau pergi, apakah dirimu takut mengahadapi si Tua Gila itu,..!" seru Nyi Sriti Wengi.
Setelah melihat kedua orang ini akan meninggalkan tempat itu.
" Ahh, tidak ada gunanya kami berada di sini,..setinggi langit pun ilmuku pasti tidak akan mampu melawan ke empat orang itu,.!" sahut Si Buta lagi.
ia yg bernama asli Jayengkara membalas ucapan dari Nyi Sriti Wengi.
" Hehh,..dasar pengecut ,..!" ucap Nyi Sriti Wengi agak keras.
Ki Jayengkara , segera membalikkan tubuhnya dan menghadap ke arah Nyi Sriti Wengi.
" Kau jangan mengejek diriku Siritem, Aku masih sanggup mematahkan batang lehermu dengan kedua tangan ku ini, !" balas nya.
" Ha ,ha ha, kau sanggup mematahkan batang leherku, Jayengkara,..sungguh terlalu mudah sekali kau berbicara, buktikanlah jika memang benar ucapan mu itu,..!" ejek Nyi Sriti Wengi.
" Baiklah jika memang kau ingin membuktikan kebenaran, bersiaplah,.." ucap Ki Jayengkara atau si Buta dari bukit tengkorak ini.
Sambil berbisik kepada Ningrum , Ia segera memutar tongkat nya siap untuk menyerang.
Namun belum sempat Ki Jayengkara itu menyerang , buru buru datanglah ke tempat itu Nyi Ronce dan mencegah pertarungan kedua orang ini.
" Sudahlah Ki Jayengkara , tidak ada gunanya kalian bertarung ,maafkanlah ucapan dari kangmbok Sriti Wengi itu, ia memang selalu bercanda, terlebih saat ini banyak orang orang yg seangkatan nya berada disini, silahkan pergi ,..!" ucap Nyi Ronce.
" He, he ,he, Aku tahu maksudmu itu Ronce, memang kakak mu itu masih kesengsem dengan si Kebo Anggara itu, padahal cinta nya sudah di tolak nya, jadi ia ingin di perhatikan oleh lelaki tua itu, sungguh sangat menyedihkan nasibmu itu, Siritem,.." ucap Ki Jayengkara ,
Ucapan dari si Buta dari bukit tengkorak itu membuat mendidih darah Nyi Sriti Wengi, ia langsung berteriak,.
" Tutup mulutmu itu Buta,..terima ini heahh,..!" teriak Nyi Sriti Wengi dengan kerasnya.
Perempuan itu langsung menerjang Ki Jayengkara dengan sebuah serangan yg cepat.
" Hufhh,..!"
Si buta dari Bukit tengkorak itu langsung melompat menghindari serangan tersebut.
" Hiyyah,..
Adalah Ningrum , murid dari Ki Jayengkara ini yg ganti menyerang Nyi Sriti dengan tusukan pedangnya, ia sangat geram melihat kelakuan perempuan tua yg mengenakan pakaian serba hitam hitam itu.
" Ciaaat,..!"
" Traangg,..!"
" Aku lawan mu,..!" ucap Tara Rindayu.
__ADS_1
Begitu melihat gurunya di serang oleh Ningrum , gadis yg berpakaian merah menyala itu, putri juragan Tarya ini pun tidak tinggal diam ia langsung mencegat serangan dari murid si Buta dari bukit tengkorak tersebut.
Jadilah dua lingkaran pertarungan di tempat tersebut. Antara Ki Jayengkara melawan Nyi Sriti Wengi yg sangat murka mendapatkan ejekan dari si Buta itu di satu tempat , sedangkan di sisi lain , Ningrum yg harus berhadapan dengan Tara Rindayu,. keduanya masing-masing membela gurunya.
Pagi yg sangat cerah telah menggantikan malam, dan di bukit Tuntang ini telah tersaji beberapa pertarungan.
Yg menjadi kebingungan adalah Nyi Ronce dan muridnya Sruni, mereka sungguh menyayangkan terjadi pertarungan antara Nyi Sriti Wengi melawan Ki Jayengkara ini.
Di tengah bukit Tuntang sendiri, Mpu Loh Brangsang tampaknya berusaha mendesak Begawan Kakung Turah , ia terus mencecar tubuh si Tua Gila ini dengan kerisnya .
Mpu Loh Brangsang merasa dapat mengalahkan penguasa Bukit Tuntang ini setelah tadi ia melihat bahwa si Tua Gila itu telah muntah darah akibat benturan dengan Raka Senggani.
Tetapi tidak seperti yang di bayangkan oleh penguasa Gunung Merapi itu, Begawan Kakung Turah masih sanggup melayani semua serangan nya tersebut tanpa merasa kesulitan, bahkan ia sempat mengejek Mpu Loh Brangsang.
" Keluarkan seluruh kemampuan itu Branang, sampai seribu jurus pun pasti kulayani, he, he , he,..!" katanya sambil tertawa mengejek.
Serangan serangan dari Mpu Loh Brangsang belum mampu menggoyahkan pertahanan dari Begawan Kakung Turah hingga membuat penguasa Gunung Merapi ini perlu mengeluarkan ilmu pamingkasnya yaitu Aji Lebur Waja.
" Baiklah Argayasa, Aku tidak akan main main lagi , bersiaplah , terima Aji Pamungkas ku ini,..!" seru Mpu Loh Brangsang.
Penguasa Gunung Merapi itu merapal mantra setelah ia menyarungkan kerisnya ke dalam warangkanya.
Kedua tangan nya di angkat ke atas dan kemudian ia satukan ke depan dada nya , sambil mulut nya komat kamit.
Tidak terlalu lama, ia berteriak dengan kerasnya.
" Aji Lebur Waja ,..heahh,..!"
" Dhumbhh,..!"
Serangan tersebut langsung menerjang Begawan Kakung Turah, tetapi penguasa dari Bukit Tuntang ini langsung melompat , ia masih melihat sampai dimana kehebatan dari ilmu yg di miliki oleh pemimpin padepokan Merapi tersebut.
Dan hasilnya memang sangat mengagumkan , sebuah pohon besar yg ada di bukit itu terkena hantaman dari pukulan jarak jauh Mpu Loh Brangsang ini langsung tumbang dan hancur seperti telah di hantam sebuah api yang sangat panas.
Dari batang pohon kayu yg cukup besar itu nampak mengepulkan asap. Begawan Kakung Turah sampai geleng geleng kepala.
Cukup dahsyat ilmu si Branang ini, Aku tidak boleh bertindak gegabah jika tidak ingin tubuh ku hangus terpanggang ilmu nya itu berkata dalam hati si Tua Gila.
Ia pun bersedekap, mulutnya pun komat kamit membaca mantera, sebentar kemudian ia telah menyiapkan pula serangan guna membalas Mpu Loh Brangsang.
Sambil membuka kedua telapak tangan nya mengarah ke tubuh Begawan Kakung Turah.
" Tidak semudah itu , Branang ,terima ini, Aji Rajah Wasesa,..Hiyyahh,..!" teriak Begawan Kakung Turah.
Ia pun melepaskan serangan memapasi terjangan aji Lebur Waja itu.
" Dhumbhh,..!"
" Bleghuaaarr,..!"
Dari benturan keras yg terjadi kedua orang ini harus mundur beberapa tombak ke belakang.
Namun masing -masing masih mampu berdiri dengan tegak.
Hingga pada benturan yg ketiga kalinya, nampaklah Mpu Loh Brangsang yg harus menerima kenyataan , bahwa ia harus memuntahkan darah segar dari mulutnya.
" Hoekkkkhh,..!"
Ternyata tenaga dalam nya masih sangat kuat, padahal tadi aku melihat sendiri ia telah muntah darah akibat benturan ilmu dengan Senopati Pajang itu, berkata dalam hati penguasa Gunung Merapi ini.
Namun nalarnya nampaknya tidak mampu mengalahkan nafsunya, ia pun bersiap lagi guna menuntaskan Perang Tanding itu.
" Bagaimana Branang ,.apakah kau akan menyerah,..he ,he ,he ,.?" tanya Begawan Kakung Turah sambil tertawa mengejek.
" Kita akan membuktikan , apakah aku atau kau yg akan mati di tempat ini Argayasa,.terima ini , Heahhhh,..Aji Lebur Waja,..!" teriak Mpu Loh Brangsang lagi.
Dan kali ini sambil melesat cepat laksana terbang melepaskan serangan nya.
" Aji Rajah Wasesa .. hiyyyahh.,.!" teriak Begawan Kakung Turah.
Keduanya melepaskan serangan nya dengan kekuatan penuh dan akibatnya.
" Bleghuaaarr,..!"
" Aaakhh,..!"
Tubuh Mpu Loh Brangsang mencelat ke udara sambil berteriak sangat nyaring baru kemudian terhempas ke tanah dengan sangat keranya.
__ADS_1
Berbeda dengan Begawan Kakung Turah , orang tua itu hanya mundur beberapa langkah ke belakang namun masih dalam posisi berdiri.
" Guruuuu,...!" teriak seorang pemuda.
Yg tiada lain adalah Raka Yantra, ia segera melihat keadaan dari gurunya itu, yg tadi sempat jatuh ke atas tanah dengan kerasnya.
Ia segera melihat keadaan Mpu Loh Brangsang yg jatuh tertelungkup.Pemuda ini langsung berjongkok dan memeriksa keadaan gurunya tersebut, di rabanya leher dan hidung dari penguasa Gunung Merapi ini, bahkan telinganya pun ia letakkan di atas dada sang Guru demi memastikan keadaan nya dan tiba tiba saja Raka Yantra bangkit berdiri seraya berkata dengan kerasnya,.
" Kau telah membunuh Guruku, kau harus mati di tangan ku, hutang nyawa bayar nyawa,..!" seru nya kepada Begawan Kakung Turah.
" He, he ,he ,..siapakah kau ini bocah, mengapa wajah mirip dengan Senopati Pajang itu ,..?" tanya Begawan Kakung Turah kalem.
Ia tidak terlalu memikirkan ucapan dari Raka Yantra itu.Sementara saudara sepupu dari Raka Senggani ini sudah sangat murka, ia segera melesat sambil berteriak dengan kerasnya,..
" ****** kau Tua Gila terima ini , Aji Lebur Saketi,..,heahhh!" serunya.
Selarik cahaya langsung menerjang tubuh si Tua Gila itu, namun tanpa di sangka sangka Begawan Kakung Turah sudah menghilang dari tempat ia tadi berdiri, serangan dari Raka Yantra hanya menemui tempat kosong.
" Hehh,..kemana perginya orang itu,..!" seru Raka Yantra kaget.
Setelah tidak mendapati Begawan Kakung Turah di tempatnya, Pemuda ini segera mengedarkan pandangan nya mencari keberadaan orang tua itu, namun ia tidak menemukannya , hanya beberapa orang saja yang ia lihat termasuk Raka Senggani saudara sepupu nya.
Darah nya kembali mendidih melihat saudara sepupu nya ini , ia langsung mendekati nya.
" Senggani , kemana perginya orang tua itu lekas katakan,..!" teriak nya pada Raka Senggani.
" Aku tidak tahu kakang Yantra ,kemana perginya Eyang Begawan Kakung Turah tersebut,..!" jawab Raka Senggani.
Karena sesungguhnya ia tidak ingin , saudara sepupu nya ini melanjutkan pertarungan nya dengan si Tua Gila itu, bisa berakibat fatal jika Begawan Kakung Turah kumat gilanya, boleh jadi kakak sepupu nya ini akan menyusul guru nya ke alam baka.
" ******, kau menyembunyikannya Senggani, cepat tunujkkan kepadaku kemana orang itu perginya,..atau kalau tidak kalaulah sebagai gantinya, karena dirimu masih berhutang kepadaku, Senggani,..!" teriak Raka Yantra lagi.
" Sungguh aku tidak tahu kakang Yantra kemana perginya dia,..!" jawab Raka Senggani.
Dan Panembahan Lawu yg berada di dekatnya langsung bertanya,..
" Siapakah pemuda itu , Ngger,..,?" tanya nya kepada Raka Senggani.
Sambil menoleh ke arah panembahan Lawu, Raka Senggani menjawab..
" Ia adalah saudara sepupu ku Eyang, dia adalah putra dari Paman Raka Jang,..!" jawab Raka Senggani.
" Pantas,..!" seru Panembahan Lawu.
" Apa nya yg pantas eyang,..?" tanya Raka Senggani.
Sambil tersenyum,. Panembahan Lawu berkata lebih lanjut,
" Pantas wajah nya sangat mirip dengan mu ,.Ngger,. !" jawab Panembahan Lawu.
" Namun satu yg sangat berbeda Eyang,..!" ucap Raka Senggani.
" Apa itu ,..?" tanya Panembahan Lawu.
" Jika aku adalah musuh dari Mpu Loh Brangsang, sedangkan dia adalah murid dari pemimpin padepokan Merapi itu,.!" jawab Raka Senggani .
Panembahan Lawu jadi tersenyum mendengar ucapan dari Senopati Brastha Abipraya ini.
Sementara itu Raka Yantra yg merasa di lecehkan oleh saudara sepupu nya lantas berkata lantang,.
" Jika memang si Tua Gila itu takut menghadapi ku, kalaulah gantinya Senggani, karena urusan kita masih belum selesai, bersiaplah,..!" seru Raka Yantra .
Ia terlihat telah siap menyerang Raka Senggani dengan Ajian Lebur Saketi nya. Sementara Raka Senggani masih tampak tenang tenang saja, bahkan ia masih sempat menjawab pertanyaan dari Panembahan Lawu lagi.
" Memang nya ada urusan apa, Angger Senggani dengan nya,..?" tanya Panembahan Lawu.
" Ahh, Aku telah ia tuduh membunuh orang tuanya , Eyang,..!" sahut Raka Senggani.
" Hehh,..!" seru Panembahan Lawu terkejut mendengar nya.
" ******* ,kau memang memandang rendah kepadaku Senggani, terima ini, Hiyyahh,. !" teriak Raka Yantra.
" Dhumbhh,..!"
" Bletaaaaar,..!".
Ia melepaskan serangan kepada saudara sepupu nya itu karena sangat geram melihat tingkah laku dari Raka Senggani ini.
__ADS_1