
" Mari Ki ,kami antarkan ke rumah Ki Bekel,.." ucap Sari Kemuning.
Ucapan dari putri Ki Jagabaya itu membuyarkan tatapan Ki Gedangan.
Ia kemudian menatap kearah gadis itu,..
" Ehh,..iya ,..mari Ngger ,.." sahutnya.
Kemudian ia berjalan menuju arah yg di tunjukkan oleh Sari Kemuning.
Ki Gedangan berjalan di depan sedangkan Sari Kemuning dan Raka Senggani mengiringi di belakangnya.
Dalam perjalanan pulang , nampaklah oleh Raka Senggani bahwa orang tua yg ada di hadapannya itu berjalan seolah tidak menyentuh tanah, dengan ringannya ia melangkahkan kakinya.
Sungguh tinggi ilmu peringan tubuh orang yg bernama Ki Gedangan ini, berkata dalam hati Raka Senggani.
Tak lepas -lepasnya ia melihat ke arah orang tua tersebut.
Ketika telah sampai di rumahnya kemudian, Sari Kemuning melanjutkan terus menuju rumah Ki Bekel.
" Nah,.inilah Ki ,..rumah Ki Bekel,.," ucap Sari Kemuning.
" Terima kasih, Ngger,..rumah mu sendiri dimana ,..?" tanya orang tua itu.
" Kita tadi sudah melewatinya ,..Ki,..yg itu adalah rumah kami Ki,.." jawab Sari Kemuning.
Sambil menunjukkan ke arah sebuah rumah yg tidak jauh dari rumah Ki Bekel itu.
" Baiklah kalau begitu...aki akan langsung menemui Ki Bekel,..terima kasih sekali lagi ,.." ucap Ki Gedangan.
Ia pun memasuki halaman rumah yg cukup besar itu , meninggalkan kedua anak muda itu yg masih tegak berdiri.
" Kakang Senggani mengapa terlihat lebih banyak diam,..?" tanya Sari Kemuning.
Putri Ki Jagabaya agak merasa lain melihat tingkah kekasihnya itu tidak seperti biasanya, banyak bicara dan sering bercanda,..tidak kali ini.
" Kemuning,.tahukah kamu, siapa Orang tua itu,.?" tanya Raka Senggani.
Tanpa menjawab pertanyaan dari putri Ki Jagabaya , ia malah balik bertanya. Sari Kemuning sendiri yg memang tidak terlalu mengerti segera menjawab,
" Ia adalah Ki Gedangan ,.kakang,." jawabnya.
" Maksud kakang,..siapa sebenar nya Ki Gedangan itu,..?" tanya Raka Senggani sekali lagi.
Sari Kemuning menggelengkan kepalanya,.ia mulai meraba ada yg aneh dalam hal ini.
" Kemuning tidak tahu , kakang ,.." jawabnya.
Sambil menarik nafas nya, kemudian Senopati Brastha Abipraya itu menjelaskan siapa sebenarnya Ki Gedangan itu.
Pernyataan dari Raka Senggani itu mmebuat terkejut Sari Kemuning,.ia tidak menyangka bahwa Orang tua itu adalah guru dari Ki Suga para yg pernah di kalahakan oleh kekasihnya itu dalam sebuah pertarungan di kademangan Kedawung pada waktu itu.
" Mengapa kakang Senggani tidak mengatakan sejak awal bertemu,..?" tanya Sari Kemuning.
" Mana mungkin Kakang mengatakannya, sedang ia masih bersama kita,." jawab Raka Senggani.
" Apa maksud dan tujuan nya datang kemari, orangtua itu,...kakang ,.?" tanya Sari Kemuning.
Raka Senggani menggelengkan kepalanya,.ia pun belum tahu apa tujuan orang itu datang kemari.
" Kakang tidak tahu,..marilah kita kembali,.nanti secepatnya kita datang ke banjar desa,.." sahut Raka Senggani.
Keduanya kemudian balik menuju rumah Ki Jagabaya.
Senopati Pajang itu tidak ikut singgah di rumah Ki Jagabaya, ia langsung pamitan pulang .
Sari Kemuning tidak sempat mengucapkan sepatah kata pun,..ia melihat sang kekasih telah pergi dan langsung pulang.
Sebenarnya hati putri Ki Jagabaya itu merasa pepat,..apakah orang tua itu memang berniat untuk menantang kekasihnya tersebut setelah berhasil mengalahkan muridnya .
Ada aura balas dendam dalam hal ini.
Sedangkan Raka Senggani sendiri langsung menuju rumah Pamannya,..Raka Jang.
Karena untuk sementara waktu mereka berdua dengan Ki Lamiran tinggal bersama dengan pamannya.
Segera Senopati Pajang mmebersihkan tubuhnya dan melaksanakan kewajiban nya sebagai seorang makhluk.
Selanjutnya Ia bersiap dengan menyiapkan segala sesuatunya termasuk dengan tongkat kayu yg berkepala ular itu telah di keluarkannya.
Melihat persiapan yg nampak terburu -buru,.Ki lamiran yg melihatnya langsung menegurnya.,
" Ada apa Ngger,.. mengapa dirimu nampak tergesa -gesa,..?" tanyanya.
Raka Sengganj Kemudian menceritakan tentang kedatangan Ki Gedangan dj desa Kenanga kali ini. Ia merasa akan ada suatu pertarungan antara dirinya dengan orang itu.
Ki Lamiran yg mendengarkan hal tersebut,.sedikit banyak tahu dengan nama yg di sebutkan oleh Raka Senggani itu.
__ADS_1
Ia menyarankan agar Raka Senggani berhati-hati menghadapi nya.
Paman nya yg mendengar pembicaraan kedua orang tersebut akhirnya ikut nimbrung.
" Apakah orang itu memang berniat untuk menuntut angger Senggani,..?" tanya nya
Senopati Pajang itu menganggukkan kepalanya.
Ia kemudian berpamitan kepada keduanya,.secepatnya ia meninggalkan tempat itu.
Setelah kepergian dari Raka Senggani , kemudian Raka Jang, paman dari Raka Senggani mengatakan ingin melihat keadaan dsri sang keponakan nya tersebut.
Demikian pula dengan Ki Lamiran, pande besi desa Kenanga tersebut pun ingin melihat apa yg akan terjadi di banjar desa Kenanga.
Keduanya kemudian bergegas meninggalkan rumah itu.
Sedangkan di rumah Ki Bekel desa Kenanga, ..tampak Ki Gedangan tengah berbincang dengan sangat serius dengan pemimpin desa Kenanga tersebut.
" Demikianlah Ki Bekel,..aku berharap Senopati Pajang itu mau menyerahkan senjata tongkat milik muridku itu,.." ucapnya.
Sementara Ki Bekel sendiri yg tidak tahu duduk permasalahan nya hanya mendengarkan saja ,.dan setelah.selesai orang tua itu berkata dengan pelan ia mengatakan,..
" Sebenarnya aku sebagai pemangku kekuasaan di desa ini tidak dapat menentukan atas keputusan dari Angger Senggani itu, selain ia memang seorang prajurit Pajang yg bertsnggung jawab atas keamanan nya,di daerah ini,..Ki,.." jawab Ki Bekel.
" Bukankah Ki Bekel dapat memberikan saran kepada Senopati Brastha Abipraya itu untuk segera menyerhkan senjata itu,.kalau tidak aku akan mengambil nya sendiri dengan jalan apapun termasuk itu dengan jalan kekerasan,." ucap Ki Gedangan.
Dengan nada sedikit keras atas pernyataan itu agar Ki Bekel bersedia membantunya melunakkan hati senopati itu mau menyerahkan senjata milik muridnya itu.
Namun Ki Bekel sekali lagi tidak dapat mencampuri uruusan dari Raka Senggani itu,.selain memang ia kurang memahami duduk permasalahan nya ia juga tidak punya hak mendesak Senopati Pajang itu untuk menuruti perintah dari Ki Gedangan tersebut.
Nmapknya Ki Gedangan kurang puas atas jawaban pemimpin desa Kenanga tersebut.
Ia kemudian diam tidak mengatakan apa -apa lagi,. sedangkan itu dua pasang mata tengah melihat dan juga mendengar kan pembicaraan kedua nya.
" Kang,..sebaiknya segera ke rumah Ki Jagabaya ,. katakan pada kakang Senggani agar segera bersiap,.." ucap Dewi Dwarani.
" Baik ,..Rani,.. kakang akan segera ke rumah Japra Witangsa,.." sahut Jati Andara.
Putra Ki Bekel itu langsung menuju ke belakang rumah nya dan berjalan menuju rumah Ki Jagabaya.
Ia berharap bahwa Raka Senggani masih berada di sana.
Dan benar saja ,..rupanya memang Senopati Pajang itu telah berada di rumah Ki Jagabaya tersebut.
Dengan tergesa-gesa , Jati Andara segera menyapa orang yg ada di situ.
" Benar adi Senggani,.. nampaknya guru Ki Suganpara itu akan meminta senjata murid nya, baik dengan cara halus atau dengan jalan kekerasan," jawab Jati Andara.
" Tidak apa -apa, kakang Andara, apa pun yg diinginkan nya akan kita hadapi, " jawab Raka Senggani.
Kemudian ia pun segera bangkit dan segera melangkah turun dari oendopo rumah Ki Jagabaya.
Diikuti dengan Jati Andara, Japra Witangsa dan Sari Kemuning.
Keempatnya segera menuju rumah Ki Bekel,..dan di sana telah cukup ramai dengan kehadiran para pemuda dan pengawal desa Kenanga yg ingin berlatih.
Tetapi setelah mendengarkan berita akan ada pertarungan antara Raka Senggani dengan guru dari Ki Suganpara yg pernah membuat keributan di Kademangan Kedawung, tetapi hal itu segera di selesaikan oleh sang Senopati.
Oleh sebab itulah mereka tidak membentuk barisan , hanya bergerombol saja.
Dan sibuk dengan pembicaraan pertemuan kedua tokoh itu.
Begitu Senopati Pajang itu hadir di tempat itu ,. mereka langsung diam dan memperhatikan nya dengan tatapan yg sangat berbeda beda,..namun umumnya mereka merasa sangat bangga dengan pemuda itu.
Raka Senggani sendiri langsung naik ke atas pendopo rumah Ki Bekel,..disana dengan di temani oleh Ki Bekel,..nampaklah Kj Gedangan yg tengah duduk bersila .
Dan tidak seperti biasanya ia memainkan kayu kecil di tangannya,..kali ini ia hanya sedang mengelus jenggotnya yg sudah memutih semua.
Raka Senggani kemudian memberikan salam dan di jawab oleh kedua nya.
Ki Bekel kemudian mempersilahkan Senopati Pajang itu untuk mengambil tempat duduk nya.
Setelah saling berhadapan satu dengan yg lainnya,. akhirnya Ki Bekel menyampaikan pesan dari Ki Gedangan itu.
Mendengar penuturan dari Ki Bekel ,..Raka Senggani kemudian menjawab nya dengan jawaban yg tegas.
Bahwa ia tidak akan menyerhkan senjata itu kecuali ke tangan sang pemiliknya yaitu Ki Suganpara.
" Itu artinya Angger Senopati berniat untuk bertarung denganku,..," seru Ki Gedangan.
" Mohon maaf,.. sebelumnya Ki ,..bukan artinya diriku ingin menantang dirimu,..tetapi memang karena benda ini sebagai tanggungan dari Ki Suganpara , apakah ia akan berbuat baik atau tidak,.." sahut Raka Senggani.
Ki Gedangan kemudian menatap Raka Senggani dengan tatapan yg tidak senang,..ia merasa bahwa pemuda itu ingin mengadu ilmu dengan nya.
" Itu artinya kita harus menentukan nya Senopati,..karena senjata itu adalah merupakan senjata pusaka dari perguruan kami dan juga simbol dari kami juga,..jika berada di tangan orang lain berarti sama arti nya dirimu telah menginjak injak harga diri kami,.." ucapnya.
Ia memang telah merasa ada Tantangan dari anak muda yg ada di hadapan nya itu,..segera ia bangkit sambil berseru,..
__ADS_1
" Baiklah Senopati,..kita tentukan ,..siapa sebenarnya yg berhak atas senjata itu,..dengan jalan kekerasan,..aku ,..si orang tua ini menantang mu utnuk berperang tanding,.." katanya lagi.
Ia pun turun dari rumah Ki Bekel desa Kenanga itu dan berjalan menuju halaman depan itu.
Diikuti oleh Raka Senggani yg nampaknya serba rikuh menanggapi persoalan itu,. apakah menerima tantangan tersebut,..atau menolaknya dengan menyerhkan senjata tongkat tersebut kepada orang tua itu.
Di halaman depan rumah itu keduanya saling berhadapan.
Dalam jarak sepuluh langkah keduanya tampak saling berhadap hadapan.
" Jika dirimu memang mampu mengalahkan diriku ,.. Aku tidak akan mengusik lagi dengan senjata tongkat itu,.." ucap Ki Gedangan.
" Sebenarnya diriku tidak menginginkan bahwa ini harus terjadi Ki,.namun karena kita memang tidak menemukan jalan temu yg baik,..terpaksalah ini harus kita lakukan,..jika seandainya Ki Gedangan membawa serta Ki Suganpara kemari,..mungkin diriku akan memberikan nya,.." jelas Raka Senggani.
" Sudahlah ,.. sebaiknya kita selesai kan sekarang juga agar tidak bertele tele,.. karena aku akan segera mulai,.." seru Ki Gedangan.
Orang tua itu kemudian membuka tangan nya dan menggerakkan tangan nya keatas kemudian turun ke bawah dengan tangan terbuka,..
" Hiaaaaahhh,.."
Orang tua itu melancarkan serangan nya dengan telapak tangan nya terbuka ke depan mengarah ke Senopati Pajang itu.
Serangkum angin pukulan yg kuat menyerang Sang Senopati.
Tidak mau kalah , Raka Senggani segera mengibaskan kebutan yg di terimanya dari penguasa alas Siroban itu.
" Heaaahhhh,.."
" Whussshhhh,.."
Kedua angin pukulan itu langsung bertemu dan terjadi lah dorong mendorong antara dua kekuatan tersebut.
Tidak ada yg unggul ,..masih pada posisi yg berimbang.
Kemudian Ki Gedangan berteriak dengan keras menambah kekuatan yg lebih besar lagi.
" Heaahhh,.."
Dan ini di balasi oleh Raka Senggani dengan kembali mengibaskan kebutan miliknya itu.
Dan kembali benturan itu masih dalam keadaan berimbang.
Ternyata Ki Gedangan merasa bahwa lawannya itu memang memiliki kemampuan yg sangat tinggi.
" Pantaslah dirimu berani menatang ku,..ternyata dirimu memang memiliki modal untuk hal tersebut,.." ucap Ki Gedangan .
Setelah ia tidak melanjutkan lagi serangan nya.
Ia telah menurunkan tangannya namun masih tetap di kepalkan nya.
" Bersiaplah ,..aku akan segera melanjutkan pertarungan ini sampai diantara kita ada yg kalah,..!" serunya.
Kemudian kembali ia memasang kuda -kuda nya dan,..
" Hiyyyah,.."
Orang tua itu melompat langsung menyerang dengan tangan nya meluruk ke arah dada dari Raka Senggani.
Serangan nya sangat cepat dengan di lambari tenaga dalam yg sangat tinggi.
Raka Senggani yg telah bersiap menyambut nya dengan..memalangkan kedua tangan nya.
" Dhieghh,.."
Bneturan pun terjadi ,..dan Senopati Pajang nampak bergerak mundur dari benturan yg telah terjadi.
Demikian pula denga Kj Gedangan ,..ia pun terpaksa harus melompat mundur ketika terjadi benturan tadi.
Hehh, gila,..ternyata bocah ini memang memiliki kemampuan yg di luar nalar,..pukulan ku tadi hanya mendorong nya saja tidak membuatanya terjatuh,..sungguh hebat,..ucap Ki Gedangan dalam hati.
Demikian pula dengan Senopati Pajang itu,.ia mengakui bahwa lawan nya kali ini memang memiliki kemampuan yg sangat tinggi dan sulit untuk diukur.
Raka Senggani pun bersiap dengan segala kemungkinnanya.
Baiklah aku akan menyerang dengan cepat agar ia segera dapat ku jatuhkan, berkata lagi Ki Gedangan dalam hatinya.
Ia kemudian melesat dengan sangat cepat berusaha untuk segera menjatuhkan lawannya itu.
Karena ia merasa mendaptakan tantangan dari orang yg masih berusia muda tersebut.
Dalam satu kelebatan saja , ia telah melancarkan berbagai serangan baik dengan tangan maupun dengan kedua kakinya.
Dalam pada itu Raka Senggani pun tidak tinggal diam ,..ia melayani semua serangan-serangan dari Ki Gedangan dengan melambari pukulan nya dengan tenaga dalamnya yg tinggi di sertai ilmu peringan tubuhnya.
Nampaklah dua bayangan saja yg sedang bertarung dengan sangat cepatnya yg terjadi di halaman rumah ki Bekel te sebut.
Kali ini para warga desa Kenanga di suguhkan pertarungan tingkat tinggi,.dan terkadang sangat sulit untuk di cerna dan di lihat dengan mata biasa.
__ADS_1