
Ketika Matahari telah memancarkan cahayanya menerangi alam, maka terlihatlah keadaan dari pasukan Pajang dan kawanan begal alas Mentaok itu terutama bagi kedua pemimpinnya.
Memang pasukan Pajang berhasil mendesak kawanan rampok Alas Mentaok itu, telah banyak jatuh korban dari pihak Alas Mentaok.
Sementara kedudukan dari Macan Baleman pun tidak juga membaik ia terdesak hebat setelah diserang dengan dicecar terus menerus oleh Senopati Raka Senggani.
Seperti banteng terluka Raka Senggani dengan keris Macan Kecubung benar-benar membuat repot Macan Baleman.
Pemimpin begal alas Mentaok itu di paksa bertahan oleh serangan dari Raka Senggani.
Raka Senggani seperti tidak menjejak tanah lagi, terkadang ia menggunakan batang-batang pohon untuk sebagai alas pijakannya..
Sehingga arena pertarungan di tempat itu benar -benar porak poranda.
Pertarungan keduanya sempat membuat Tumenggung Wangsa Rana dan Rangga Wira Dipa serta kedua lawan -lawannya terhenti, mereka malah menonton pertarungan yg sangat seru itu.
Apa lagi tempat itu telah terang dengan cahaya matahari yg telah masuk sehingga dengan mudah mereka melihat jalannya perang tanding tersebut.
Dengan keris ditangannya, Raka Senggani menyerang ke arah kepala namun juga terkadang ia menyerang kaki dari Macan Baleman.
Macan Baleman terpaksa harus melompat kebelakang berkali -kali tanpa bisa membalas, sehingga suatu kesempatan Macan Baleman tidak dapat menghindari sabetan keris Raka Senggani yg mengarah ke dadanya maka mau tidak mau ia harus memapasi serangan itu dengan cluritnya yg sebenarnya Macan Baleman tahu senjata ditangannya adalah clurit biasa sedangkan senjata lawannya adalah sebuah pusaka, jadi pemimpin rampok Alas Mentaok itu enggan untuk mengadu senjatanya, namun karena terpaksa ia pun melakukannya,
" Trannnnngg,!"
Benturan pun terjadi, dan yg membuat Macan Baleman harus segera menghindar dari garis serang Raka Senggani karena ia melihat senjatanya telah putus menjadi dua.
" Hehhh, ******* , ..!" kata Macan Baleman.
Belumpun habis sumpah serapah dari Macan Baleman, ia telah mendapatkan serangan susulan dari lawannya lagi.
" Heaaaah, heaah, hiyyah,!"
Terdengar teriakan dari Raka Senggani, pemuda itu menerjang Macan Baleman yg masih terdiam melihat senjata cluritnya putus jadi dua, mendapati serangan susulan dari lawannya terpaksa ia menggunakan putusan dari cluritnya itu untuk menangkis serangan itu, akan tetapi tangkisan itu tidak berguna lagi karena pusaka kyai Macan Kecubung berhasil menggores lengan dari Macan Baleman pemimpin rampok Alas Mentaok itu akibat tangkisan dari clurit patahan itu tidak mampu membendung keris Kyai Macan Kecubung. Sehingga keris itu mampir di lengan dari Kepala begal alas Mentaok itu.
" Aaauuuuuhh,!" terdengar teriakan dari mulut kepala begal asal Mentaok itu.
Kembali ia melompat mundur dan mundur guna menghindari serangan susulan.
Setelah berhasil melukai tubuh dari Macan Baleman, serangan dari Raka Senggani agak mereda.
Ia terlihat berdiri dengan kedua kaki merenggang siap melancarkan serangan lagi, namun Raka Senggani yg terdiam sesà at sambil memandangi lawannya itu.
Macan Baleman sendiri segera meraba lengannya yg telah tergores oleh senjata lawannya faham bahwa senjata itu memiliki warangan yg kuat, terlihat olehnya bekas goresan itu mulai membiru kehitam hitaman, dan darah yg keluar pun tidak lagi berwarna merah melainkan kehitam-hitaman.
Tampak pandangan dari Macan Baleman mulai berkunang -kunang.
Akan tetapi rasa sombongnya masih enggan untuk mengakui kelebihan lawannya itu. Maka iapun bermaksud mengadu ilmu kesaktian.
" Baiklah , bocah mari kita mengadu jiwa , apakah engkau sanggup untuk menahan ajianku ini, Aji Macan Putih,!" ucap Macan Baleman.
Ia segera bersedekap sambil mulutnya komat kamit membaca mantera. Tangannya kemudian beberapa kali berputar-putar di depan dadanya seperti orang yg lagi mencakar -cakar.
Kemudian kedua tangan itu di satukan kembali dan di buka kembali saat terbuka kedua telapak tangan itu diarahkan ke tubuh Raka Senggani.
" Ajian Macan Putiiiiih, heeaaahh," teriak Macan Baleman.
" Tungguuuuu," teriak Raka Senggani .
Namun terlambat , ajian Macan Putih telah dilepaskan oleh Macan Baleman.
Raka Senggani kemudian melompat menghindari serangan itu sehingga hanya menghantam sebatang pohon kayu yg besar dan merobohkannya .
Kembali Raka Senggani mendekati Macan Baleman, sambil dia berkata,
" Hehh, Macan ***** apakah engkau akan membunuh dirimu sendiri dengan mengeluarkan ajianmu itu sementara tubuhmu telah di rayapi oleh racun dari kerisku, jika engkau mengeluarkan sekali lagi ilmu itu , maka jangan salahkan aku bahwa kaulah yg telah membunuh dirimu sendiri,!"
" Aku tidak perduli yg penting kau harus mati ditanganku," kata Macan Baleman sambil ber siap mengeluarkan ajiannya itu.
" Memang dasar tidak punya pri kemanusiaan, jangan kan kepada orang lain kepada dirimu sendiri engkau pun sangat kejam, Macan Baleman," ujar Raka Senggani.
Sebenarnya pun Raka Senggani tengah menyiapkan ajiannya untuk menahan serangan dari Macan Baleman itu , namun ajian itu urung dilepaskan mengingat lawan tengah menghadapi racun yg sedang menjalar ditubuhnya.
__ADS_1
Ketika Pemimpin begal alas Mentaok itu akan mengeluarkan ajiannya lagi, yg untuk kedua kalinya tiba-tiba ia berteriak,
" Aaaaakkh,"
Sambil memegangi dadanya Macan Baleman memuntahkan darah hitam kental dari mulutnya.
" Hoeeeekkhh,!"
Dengan cepat Raka Senggani melesat ke arah Macan Baleman,
" Hiyyah,"
Setelah tiba di dekat Macan Baleman, langsung Raka Senggani menotok jalan darah dari pemimpin rampok Alas Mentaok.
Akan tetapi pertolongan dari Raka Senggani itu tidak bisa di terima oleh kedua orang pembantu dekat Macan Baleman itu, Watu pungkur dan Klabang ireng , mereka berdua segera menyerang Raka Senggani.
" Tidak, heaaahh,!"
Kedua orang itu segera menyerang Raka Senggani, mendapati serangan cepat dari keduanya membuat Raka Senggani harus berlompatan untuk menghindarinya.
" Kalian sudah gila, pemimpin kalian hampir tewas dan ketika diberi pertolongan kalian malah tidak terima, terima ini, heaaahh,!" teriak Raka Senggani menghantamkan ajian Wajra geninya ke arah Klabang ireng.
Orang dekat Macan Baleman itu harus menerima serangan yg tidak di sangkanya itu hingga melontarkan cukup jauh, karena ajian Wajra geni itu tidak dengan tenaga dalam sepenuh nya dikeluarkan oleh Raka Senggani jadi Klabang ireng pun masih selamat, ia kemudian berteriak,
" Cepat bawa lari kakang Baleman dari sini, Watu pungkur,!" teriak dari Klabang ireng.
Mendapatkan perintah itu, Watu pungkur segera membopong tubuh dari Macan Baleman dan segera melesat pergi meninggalkan tempat itu.
Takut di kejar oleh Raka Senggani, Watu pungkur melepaskan lima senjata rahasia berupa paser- paser kecil yg segera menyerang Raka Senggani.
Kali ini Raka Senggani memukul jatuh kelima paser itu.
" Hehh dasar tidak tidak tahu di untung , ingin di tolong malah menyerang,!" gerutu Raka Senggani.
Perlahan ia mendekati Klabang ireng yg masih terduduk dan belum bisa bangkit akibat ajian Wajra geni miliknya itu.
Meski pun begitu Raka Senggani bersikap waspada terhadap Klabang ireng karena dua kali mereka membokong dirinya.
" Kau mau aku tolong atau Kubunuh sekalian,!" ucapnya sambil mengangkat tangannya.
Tangannya yg telah berisi Ajian Wajra geni itu.
Melihat raut Wajah pemuda itu yg terlihat garang dan tidak main -main, nyali dari Klabang ireng menciut, tangan kanan Macan Baleman itu tahu jika ia salah menjawab pasti nyawanya yg jadi taruhan.
Setelah diam sejenak ia pun menjawab,
" Aku masih ingin hidup," jawabnya pendek.
" Bagus ,segera pejamkan mata mu,!" perintah Raka Senggani.
Walau pun tidak mempercayai orang yg berada di hadapannya, namun karena tubuhnya tidak bisa digerakkan mau tidak mau Klabang ireng menuruti perintah dari Raka Senggani itu, ia pun memejamkan matanya.
Kemudian jari dari Raka Senggani menotok beberapa bagian tubuh dari Klabang ireng tersebut , dan kemudian ia menyalurkan hawa murni ke tubuh Klabang ireng, selang tidak berapa lama tubuh Klabang ireng memuntahkan darah beberapa kali.
Kemudian Klabang ireng pun jatuh pingsan.
" Bagaimana Paman Tumenggung, apakah kita akan melanjutkan pengejaran dari Macan Baleman itu,?" tanya Raka Senggani kepada Tumenggung Wangsa Rana.
" Kurasa tidak perlu Angger Senggani, mungkin untuk kali ini kita cukup sampai di sini saja , ada baiknya kita menelusuri jejak Singo Lorok dan guru nya," jawab Tumenggung Wangsa Rana.
Mendengar jawaban dari Tumenggung Wangsa Rana, Raka Senggani tersentak kaget, iapun masih punya tugas untuk membebaskan Tara Rindayu yg berhasil di bawa lari oleh Singo Lorok itu.
" Baiklah Paman Tumenggung memang kita seharusnya menelusuri jejak dari Singo Lorok tersebut, karena kemungkinan besar ialah yg akan menggantikan Singo Ireng untuk menjadi pemimpin begal dari alas Mentaok ini,!" sebut Raka Senggani.
" Jadi akan kita apakan , para rampok anggota dari Macan Baleman yg ter tangkap ini Kakang Tumenggung,?" tanya Rangga Wira Dipa.
" Mereka sebaiknya kita bawa ke Pajang, bagi yg sehat dan tidak terluka, kita suruh untuk menggendong teman nya dan khusus untuk Klabang ireng itu biarlah ia di buatkan tandu, serta bagi para prajurit yg telah tewas harap di bawa pulang lebih dahulu dengan menggunakan kuda," perintah dari Tumenggung Wangsa Rana.
Kemudian para prajurit Pajang segera berkemas untuk meninggalkan Alas Mentaok setelah bertempur semalaman dengan kawanan rampok yg dipimpin oleh Macan Baleman itu.
******
__ADS_1
Di sebuah warung di desa Prambanan terlihat empat orang tengah singgah untuk makan, tiga orang lelaki dan seorang perempuan.
Ketiga orang lelaki tersebut sedang lahapnya makan sementara si perempuan nampak tidak menyentuh makanannya.
Rambut perempuan itu terlihat kusut masai serta awut -awutan padahal wajahnya terlihat sangat cantik.
" Ayo lah den ayu, di makan nasi nya, nanti den ayu kelaparan, belum tentu nanti malam kita akan dapat makanan lagi," ucap seorang lelaki yg bercambang dan berkumis tebal.
Sementara si perempuan yg di suruh makan itu terlihat diam saja tanpa berkata sepatah katapun ,ia menatap makanan itu dengan pandangan kosong.
" Kenapa dengan den ayu itu tuan , apakah ia tidak menyukai masakan kami sehingga ia tidak mau memakan nya,?'' tanya si pemilik Warung.
" Ah, tidak nyai, mungkin den ayu lagi sakit perutnya,!" jawab lelaki yg berperawakan agak kurus.
" Ahhh, kami pikir masakan kami tidak enak,!" kata pemilik Warung sambil ber alu ke belakang.
Ketika ke empat orang itu telah selesai makannya, tiba -tiba dua orang masuk dengan tampang yg cukup sangar dan ketika melihat empat orang itu yg di dalam warung, kedua orang itu nampak terkejut dan berkata,
" Kapan kakang tiba dan di mana kakang Sing,.....!" orang itu tiba-tiba menghentikan ucapannya karena melihat isyarat dari orang yg ditanyai itu dengan memalangkan jari telunjuknya di bibir.
Salah seorang dari tiga laki -laki yg di dalam warung itu segera keluar dengan memberikan isyarat kepada kedua orang itu untuk mengikutinya.
Lantas kedua orang itu pun mengikuti orang itu.
Setelah agak jauh dari warung tersebut barulah mereka berhenti.
Kedua orang yg baru tiba di warung itu segera bertanya,
" Wah gawat Kang, di mana kakang Singo Ireng, keadaan di Alas Mentaok saat ini dalam keadaan gawat,!" ucap orang itu.
" Apanya yg gawat Sengut coba kau jelas dengan benar !" suruh orang yg ada di warung tersebut.
" Mentaok saat ini telah di kuasai oleh Macan Baleman, banyak anggota kita yg tewas dan terluka, dan yg berhasil selamat, telah melarikan diri, termasuk kami berdua," jelas orang bernama Sengut tersebut.
" Apaaaa!!!! , bagaimana mungkin Macan Baleman bisa menguasai Alas Mentaok bukankah ia telah dikalahkan oleh guru beberapa waktu silam dan terluka cukup parah,?" tanya orang itu yg tiada lain adalah Singo Lorok.
" Begitulah keadaannya kakang, bersama dua orang kepercayaannya yaitu Klabang ireng dan Watu pungkur mereka menhobrak abrik tempat kami dan membunuhi bagi siapa saja yg melawan, banyak anggota kita yg mati terbunuh karena tidsk ada yg sanggup menghadapi ketiga orang itu,!" jelas Ki Sengut lagi.
" Jadi kira -kira berapa jumlah anggota Kakang Singo Ireng yg tersisa?" tanya Singo Lorok kepada Ki Sengut.
" Mungkin hanya sekira dua puluh orang saja, kakang Singo Lorok,!" jawab Ki Sengut lagi.
" Dan berapa jumlah anggota dari Macan Baleman itu,?" tanya Singo Lorok.
" Lebih dari lima puluh orang, kakang,!" jawab Ki Sengut.
" Bisa kau kumpulkan orang -orang Kakang Singo Ireng itu?" tanya Singo Lorok lagi.
" Bisa kakang, akan tetapi di mana kita akan bertemunya,?" tanya Ki Sengut kepada Singo Lorok.
" Begini , kau kumpulkan orang -orang mu itu , dan kita bertemu di tepi hutan di ujung desa ini,!" jelas Singo Lorok.
" Baik kakang,!" jawab Ki Sengut.
Kemudian kedua orang itu segera belalu dari situ dan meninggalkan Singo Lorok sendiri.
Sementara Singo Lorok kembali ke Warung di mana mereka tadi makan.
Ia kemudian bergabung kembali dengan , Ki Bawuk, Ki Kaliran dan Tara Rindayu.
" Siapa orang itu Kakang Singo, apakah mereka orang -orangnya kakang Singo Ireng,?" tanya Ki Kaliran kepada Singo Lorok.
" Benar mereka adalah orang -orangnya kakang Singo Ireng, dan mereka tadi tengah menceritakan kejadian bahwa Macan Baleman telah berhasil mengalahkan mereka, sehingga mereka harus tercerai berai," jelas Singo Lorok.
" Apa yg kakang katakan tadi, Macan Baleman telah mengalahkan mereka, bukankah Macan Baleman telah terluka parah di buat oleh guru Kakang Singo Lorok itu,?" tanya Ki Kaliran lagi.
" Entahlah nampak keberuntungan masih berpihak kepada Macan Baleman itu hingga umurnya masih panjang meskipun telah mengalami luka yg cukup parah," jawab Singo Lorok.
" Jadi apa yg telah kakang katakan kepada mereka ,?" tanya Ki Kaliran kepada Singo Lorok.
" Aku mengatakan kepada mereka untuk bertemu dengan mereka di hutan diujung desa ini nanti malam,!" jawab Singo Lorok.
__ADS_1
" Bagus berarti kekuatan kita akan semakin bertambah ,!" ucap Ki Bawuk.