
Sebaiknya Aku secepatnya berada di tempat itu, agar dapat menentukan kapan waktunya aku menghabisi Paman Surawiyata , berkata dalam hati Raden Prawata.
Pemuda itu bergerak meninggalkan Pedukuhan tempat nya menginap dan menitipkan kuda.
Sangat cepat putra Pangeran Trenggana ini berjalan nya, ia menuju ke tepian kali yg biasa di lalui oleh Adipati Lasem yaitu Pangeran Surawiyata jika ingin berangkat menuju masjid.
Setibanya di tempat yg menurut nya pas buat menghabisi nyawa pamannya itu maka Raden Prawata pun mencari tempat yg sesuai agar dapat melihat datang dan perginya Adipati Lasem itu.
Memang keadaan di Lasem saat ini dalam keadaan baik baik saja , tidak terdengar adanya tindak kejahatan yg terlalu merisaukan membuat sang Adipati bebas pergi tanpa adanya pengawalan seorang prajurit terlebih jika ia ingin melakukan ibadah.
Pada pagi menjelang siang itu, Pangeran Surawiyata pun berangkat lewat tepian kali menuju masjid guna melaksanan sholat jumat, karena hari ini memang bertepatan hari jumat.
Sudah menjadi kebiasaan sang Pangeran untuk lebih cepat perginya agar tidak sampai terlambat.
Ketika melewati tepian kali itu, ada sepasang mata yg tengah mengawasi nya .
Apakah saat ini juga Aku menghabisi nya, karena ini adalah kesempatan yg paling bagus, .. bertanya dalam hati Raden Prawata.
Namun ia akhirnya mengurungkan niatnya dengan alasan, jika ia menghabisi nya pada saat itu, sementara sampai pelaksaan sholat jumat selesai, Pangeran Surawiyata tidak hadir di masjid , tentu nya seluruh prajurit Lasem dan penduduk yg lain akan segera mencarinya sampai ke rumahnya tentu akan membuat kesulitan tersendiri untuk nya, apalagi ia tidak dapat memastikan apakah dapat dengan cepat membunuh Paman nya itu.
Sehingga akhirnya ia lebih baik menunggu setelah sekembalinya Adipati Lasem ini dari masjid , jika ia pulang terlambat , orang orang yg berada di rumah nya menganggap nya masih tinggal di masjid.
Memang Raden Prawata memikirikan secara matang seluruh tindakan nya , agar rencana nya dapat berjalan dengan lancar. Karena yg di lakukan nya ini ia lakukan seorang diri, ditambah lagi tempat yg di datanginya merupakan wilayah yg cukup asing bagi dirinya.
Dengan sabar , Raden Prawata menunggu berjalan nya waktu, meski sebenarnya hati nya tidak merasa sabar, ketika di lihatnya mentari telah bergeser condong ke arah barat.
Tampaknya waktu sholat jumat itu sudah lama selesainya, akan tetapi mengapa Paman Surawiyata belum pun kembali, tanya nya dalam hati.
Ia berjalan mondar mandir diatas tepian kali itu dengan sangat gelisahnya.
Penantian panjang nya akhirnya berbuah, ia mendengar langkah kaki seseorang yg mendekati tempatnya.
Hahh, pasti ini paman Pangeran Surawiyata, berkatalah dalam hati Raden Prawata, ia pun kembali bersembunyi, dan meastikan siapa yg lewat itu dan benar saja , yg melewati tepian kali itu adalah Pangeran Surawiyata.
Dengan serta merta , Raden Prawata langsung menyerang penguasa Lasem ini dengan sebuah tendangan.
" Heaahhh,..."
" Haeiit,.."
Adipati Lasem menghindari serangan tersebut. Namun kemudian serangan susulan dilancarkan oleh Raden Prawata setelah serangan pertama nya gagal, ia langsung mengirimkan pukulan tangan kiri lurus mengarah wajah Pangeran Surawiyata , penguasa Lasem ini menghindari dengan memiringkan kepalanya, namun tangan kanan Raden Prawata dengan cepat menyusul mengarah perut , agak terlambat pangeran Surawiyata menghindari nya, serangan tersebut masuk pada lambung kirinya.
" Dhieghh,.."
" Heikhh,.."
Pangeran Surawiyata mundur beberapa tindak akibat serangan tersebut.
Ia pun memperbaiki posisi nya seraya berkata,..
" Hehh, siapa kau , mengapa menyerangku ,..?" tanya nya .
Karena memang Raden Prawata menggunakan topi caping dan penutup wajah dengan menggunakan kain berwarna hitam.
" Kau tidak perlu tahu siapa aku, yg jelas kau harus mati di tanganku,.heaahh,..." sahut Raden Prawata.
Ia kemudian melanjutkan serangan nya dengan melakukan sebuah lompatan panjang , kaki kanan nya berusaha menyasar dada Pangeran Surawiyata yg tengah berdiri tegak.
__ADS_1
" Dhieghh,.."
Ternyata Pangeran Surawiyata memalangkan kedua tangan nya menahan serangan itu , Raden Prawata harus melompat mundur setelah kedudukan dari lawannya tidak goyah oleh serangan nya tersebut.
" Heaahh,.."
Kali ini Pangeran Surawiyata lah yg balas menyerang dengan menjulurkan tangan nya menggapai dada Raden Prawata yg baru mendarat di atas tanah.
Serangan itu di hindari oleh Raden Prawata dengan melompat mundur, tetapi Pangeran Surawiyata menerus serangan nya dengan sebuah tendangan mengarah perut, kembali Raden Prawata harus kerepotan di buat oleh Pangeran Surawiyata hingga, sebuah sambaran tangan dari Adipati Lasem ini berhasil melepaskan topi caping penutup kepala Raden Prawata , bahkan kain penutup wajahnya pun ikut terlepas.
" Nakmas , Mukmin,..ada apa meyerang ku,..?" tanya Pangeran Surawiyata.
Ia kaget setengah mati setelah tahu bahwa lawan nya kali ini adalah keponakan nya sendiri dari Demak. Dan yg paling membuat nya kaget lagi, bahwa diantara ia dan keponakan nya itu tidak ada silang sengketa , termasuk juga dengan saudaranya Pangeran Trenggana yg merupakan orang tua dari Raden Prawata ini.
" Paman Surawiyata harus mati di tangan ku,.." seru Raden Prawata.
Nampaknya pemuda itu memang tengah kalap, ia merasa ilmu yg di miliki oleh Paman nya ini tidak berada di bawah nya bahkan mungkin diatas nya, sehingga akan sangat sulit untuk membunuh nya.
" Sudahlah, anakmas Mukmin , kembali lah, tidak ada guna nya kita teruskan pertarungan ini, atau kau mau singgah di rumah Paman mu ,.mari ,.. Paman akan sangat senang sekali jika memang demikian keinginan mu,.." ucap Pangeran Surawiyata lagi.
Ia membalikkan tubuhnya hendak meninggalkan tempat itu.
Dan kesempatan yg baik ini tidak di sia-sia kan oleh Raden Prawata, sambil berteriak dan telah mencabut keris pusaka Kyai Brongot Setan Kober, ia melesat menuju ke arah Pangeran Surawiyata yg akan pergi meninggalkan tempat itu.
" Aku tidak akan pergi sebelum mencabut nyawa mu, Paman Surawiyata, heahhh,.."
Teriakan di sertai sebuah tusukan dari sebuah pusaka yg cukup memebuat pemegang menjadi lebih baik tenaga maupun nyali nya, bahkan pada titik tertentu Pusaka ini mampu merubah watak si pemegang menjadi lebih kasar dan keras juga ilmu yg di miliki nya mampu meningkat berkali -kali lipat.
Pusaka tersebut bernama Kyai Brongot Setan Kober.
Keris pusaka yg memiliki luk tiga belas ini segera menyasar punggung dari Pangeran Surawiyata.
Ia memutar keris pusaka Kyai Brongot Setan Kober mengarah ke leher dari Pangeran Surawiyata , kembali serangan tersebut dapat di hindari oleh penguasa Lasem ini seraya berdesis,.
" Keris pusaka Kyai setan kober,..darimana kau dapatkan senjata itu anakmas Mukmin,..?"
Tanpa menghiraukan pertanyaan dari Paman nya itu Raden Prawata kembali menyerang Pangeran Surawiyata dengan sebuah tusukan menuju ke arah kaki , Pangeran Surawiyata melompat menghindari serangan tersebut , akan tetapi ternyata serangan itu adalah sebuah serangan tipuan, karena tiba -tiba saja, Raden Prawata melompat tinggi dan langsung menghunjamkan keris pusaka Kyai Brongot Setan Kober itu di dada Pangeran Surawiyata.
" Aaaakkhh,..."
Penguasa Lasem ini berteriak sesaat sebelum akhiranya tubuh nya tumbang bagai pohon pisang yg di tebang.
Tubuh penguasa dari Lasem ini langsung diam ketika tiba diatas tanah , darah cukup banyak keluar dari bekas tusukan keris pusaka Kyai Brongot Setan Kober itu.
Raden Prawata mendekati tubuh Paman nya itu dan memeriksa nya sebentar,..
" Ternyata orang telah tewas,.. sebaiknya Aku secepatnya meninggalkan tempat ini,.." berkata Raden Prawata.
Ia pun meninggalkan jasad dari Pangeran Surawiyata tersebut yg sudah terbujur kaku di tepian kali itu.
Tanpa mengambil keris pusaka Kyai Brongot Setan dan meninggalkan nya begitu saja tertancap di dada Pangeran Surawiyata , Raden Prawata segera pergi menuju pedukuhan tempatnya menginap, ia tampak terburu-buru takut kalau ada orang yg melihat perbuatan nya tersebut.
Akhirnya , Ramanda Pangeran akan dapat dengan tenang duduk di atas singgsana Demak ini, berkata dalam hati Raden Prawata.
Ia segera mengambil kudanya dan beberapa peralatan yg ia tinggalkan dari rumah penduduk yg ia tempati untuk menginap selama di Lasem ini.
Pada keesokan harinya saat Raden Prawata dalam perjalanan kembali ke Kotaraja Demak, ia mendengar di sepanjang perjalanan nya itu orang -orang membicarakan mengenai kematian dari Pangeran Surawiyata, salah seorang yg berhak atas Tahta Demak ini.
__ADS_1
" Hehh, paling paling ini adalah rencana dari Pangeran Trenggana yg ingin juga berkuasa di Demak ini, dan akhirnya ia membunuh saudaranya sendiri agar niatnya itu kesampaian,.." ucap salah seorang yg tengah makan di sebuah warung.
Dan pembicaraan kedua orang itu di dengar oleh Raden Prawata dengan sangat jelas.
" Hushhh, kalau ngomong jangan ngawur kamu, jika ada prajurit sandi Demak yg mendengarnya bisa bahaya,.." sahut teman nya.
Akan tetapi teman nya itu tetap ngotot mengatakan demikian, terpaksalah teman nya tadi hanya diam saja mendengarnya.
Raden Prawata segera membayar makanan dan keluar dari warung tersbut.
Ia kembali melakukan perjalanan nya menuju Demak.
Jika memang berita ini telah mneyebar, tentu saja Kotaraja Demak telah mengetahui bahwa Paman Surawiyata telah mangkat , dan artinya penobatan dari Ramanda Pangeran tidak akan menemui kendala lagi, pikir Raden Surawiyata.
Sementara itu di Kudus sendiri, Sunan Kudus terlihat sedang marah terhadap istrinya yg telah berani memberikan Keris pusaka Kyai Brongot Setan Kober itu kepada orang lain tanpa sepengetahuan dan seizin nya.
" Maaf , Kangmas Sunan, adalah anakmas Pangeran Prawata lah yg mengatakan bahwa dirimulah yg meminta benda itu untuk di antarkan kepadamu,.." sahut istri Sunan Kudus.
Sunan Kudus jadi terdiam mendengar penjelasan dari istrinya itu
Akhirnya sunan kudus tidak dapat memarahi istrinya lebih keras lagi, karena keluguan dirinya telah di manfaatkan oleh Raden Prawata putra Pangeran Trenggana.
Belum pun habis kesal dari Sunan Kudus, tiba -tiba saja ia kedatangan beberapa orang prajurit dari Lasem yg mengatakan kepada nya bahwa Adipati Lasem telah tewas di tepi kali.
Prajurit tersebut meminta kepada Kanjeng Sunan Kudus untuk datang ke Lasem guna melihat keadaan dari Pangeran Surawiyata.
Karena dari istri nya, Pangeran Surawiyata adalah merupakan keponakan dari Sunan Kudus di sebabkan istri pertama Sunan Kudus ini adalah sepupu dari ibunda Pangeran Surawiyata sama sama cucu dari Kanjeng Sunan Ampel.
Sehingga kedekatan Sunan Kudus dengan Pangeran Surawiyata atau Raden Kikin amat teramat akrab.
Dan ketika mendengar berita kematian nya itu membuat hati Nyai Sunan Kudus amat berduka , ia merasakan bahwa dirinya ikut andil akan kematian sang keponakan.
" Sudahlah nyai, mungkin sudah takdir ilahi bahwa anakmas Pangeran harus mati syahid seperti kakak iparnya,.tidak ada yg perlu di sesali,..." sebut Kanjeng Sunan Kudus.
Setelah melihat istrinya itu terisak isak menangis mengingat akan kematian dari sang keponakan.
Keduanya kemudian bergegas untuk datang melayat ke Lasem.
Sementara itu di Kadipaten Jipang panolan pun terlihat sedang sibuk , beberapa pembesar dari Kadipaten ini tengah bersiap ke Lasem, sebab suami dari Ratu Ayu Retno panggung yaitu Pangeran Surawiyata telah di kabarkan tewas akibat di bunuh oleh seseorang yg tidak bertanggungjawab dan meninggalkan mayatnya di tepian kali.
Tampak dalam barisan rombongan yg akan berangkat itu ada seorang Patih yg baru saja diangkat sebagai Patih di Jipang panolan yg bernama Patih.Matahun. Patih yg di kabarkan memilki tingkat kesaktian yg lumayan tinggi yg ada di Kadipaten Jipang Panolan.
Dengan sangat cepat rombongan ini berangkat menuju Lasem.
Sebenarnyalah Ratu Ayu Retno panggung merupakan pewaris kekuasaan atas kadipaten Jipang panolan karena ibundanya Ratu Ayu Retno Kumala merupakan Adipati Jipang panolan yg masih memiliki darah Prabhu Brawijaya terakhir , sehingga kedekatan antara Lasem dan Jipang panolan sangat rapat, dua orang yg berkuasa di Lasem berkuasa pula atas Jipang panolan.
Sehingga para pembesar dari Kadipaten ini amat terguncang hatinya setelah mendengar bahwa salah seorang pewaris tahta Demak telah mati terbunuh . Dan orang tersebut adalah Pangeran Surawiyata putra pertama dari Kanjeng Sultan Demak pertama.
Sehingga baik Jipang panolan maupun Lasem merasa ada keterlibatan dari orang orang yg berada di Kotaraja Demak , dan itu tiada lain adalah Pangeran Trenggana , karena selain Pangeran Surawiyata yg berhak atas tahta Kerajaan Demak , Pangeran Trenggana pun memeiliki hak yg sama pula. Terlebih setelah tewas nya Pangeran Surawiyata maka tinggal dirinyalah dari keturunan Sultan Fatah yg masih hidup dan seorang laki -laki.
Dan dalam Kotaraja Demak sendiri, Pangeran Trenggana pun turut berduka setelah mendengar bahwa saudara nya Pangeran Surawiyata telah tewas terbunuh, akan tetapi ia tidak dapat mengahadiri pemakaman saudara nya itu dan hanya mengutus Patih Mangku alam untuk datang menghadiri pemakaman saudara nya itu.
Sedang di kotaraja Demak sendiri terlihat sedang sibuk atas pelaksanaan penobatan Sultan Demak pengganti dari Pangeran Sabrang Lor yg telah gugur di medan perang di laut Melaka.
Dan tampaknya para pemegang kekuasaan telah bersepakat untuk melantik Pangeran Trenggana sebagai pengganti Kanjeng Sultan Demak kedua setelah tewasnya Pangeran Surawiyata.
Sebelumnya para pembesar dan para wali masih belum dapat menentukan siapa sesungguhnya yg pantas untuk duduk di atas singgsana Demak ini, bahkan sebahagian besar meminta Pangeran Surawiyata lah yg layak untuk menjadi Sultan Demak menggantikan kakak iparnya itu setelah gugur di laut Melaka, akan tetapk ia pun menyusul pula sehingga pilihan terakhir jatuh pada Pangeran Trenggana.
__ADS_1
Sehingga sang Pangeran di perintahkan untuk tidak perlu keluar dari lingkup keraton Demak.
Di khawatrikan ia akan menjadi incaran pembunuhan oleh orang -orang yg tidak menginginkan Kerajàan Demak dalam keadaan aman dan langgeng.