
Setelah keberangkatan dua perwira Pajang ke Kotaraja Demak,..sang Adipati masih menruskan sidang dalam istana nya.
Ia merasa sangat sedih dengan apa yg telah di alami pasukan yg di kirim nya ke alas Mentaok.
Nampaknya hati sang Adipati terluka karena kekalahan pasukan nya itu,..terlebih sudah agak lama tidak ada lagi kedatangan para Pemimpin dari berbagai Kademangan yg harus mengantarkan upeti ke Pajang.
Mereka tidak berani melewati hutan yg terkenal cukup angker tersebut,.. walaupun sebenarnya keangkeran nya di buat oleh segelintir orang saja.
Bahkan Adipati Pajang telah mendapatkan berita bahwa Ki Ageng Manguntur,. seorang Pemimpin tanah perdikan di Menoreh pun tampaknya sudah sangat kesal sekali dengan para kawanan begal yg ada di alas Mentaok itu.
Secara pribadi,.. Kanjeng Gusti Adipati Pajang meminta kepada Tumenggung Wangsa Rana untuk melakukan kerjasama dengan Ki Ageng Manguntur itu untuk mengatasi permasalahan di mentaok.
Tumenggung Wangsa Rana sendiri mengatakan kepada Kanjeng Gusti Adipati Pajang,.bahwa persoalan di Alas Mentaok itu masih dapat di selesaikan oleh Pajang sendiri tanpa harus ada campur tangan pihak lain,..baik itu Menoreh ataupun Mangir.
Karena sebenarnya kekuatan para kawanan begal belum termasuk dalam kategori yg membahayakan,..hanya saja dalam hal ini,. Pajang harus lebih cermat melihat persoalan nya,.bukannya terburu -buru ataupun grasak grusuk seperti yg telah di lakukan oleh Tumenggung Jala Wisesa.
Bahkan Tumenggung Wangsa Rana mengatakan kepada Kanjeng Gusti Adipati Pajang,.jika ingin meminta bantuan lebih baik ke daerah Selo ataupun Mantyasih,.selain keduanya pun masih sangat akrab dengan sang Adipati sendiri.
Pemimpin tertinggi kadipaten Pajang itu merenungi nasib yg telah dialami oleh pasukan nya itu,.sungguh ia tidak menyangka bahwa kehancuran lah yg telah di terima mereka akibat dari kesombongan Tumenggung Jala Wisesa.
Dan sang Adipati pun menyesali perbuatan nya itu yg mengizinkan pasukan itu berangkat,.. padahal ia sendiri sudah tidak meyakini kemampuan mereka .
Adapun di tanah perdikan Menoreh sendiri,..di rumah Ki Ageng Manguntur. Tampak tengah terlihat beberapa orang yg sedang duduk di siang menjelang sore tersebut.
Sang Pemimpin tanah Perdikan dari perbukitan Menoreh sedang resah setelah mendengar laporan dari beberapa orang termasuk Pemimpin pengawal tanah Perdikan itu.
Mereka mengatakan kepada Ki Ageng Manguntur itu bahwa pasukan Pajang yg di kirim ke Alas Mentaok itu hancur total bahkan Senopati nya sendiri telah tewas di tangan Kepala rampok itu.
Pemimpin tanah Perdikan itu menghela nafasnya berkali-kali, seolah ingin mengeluarkan beban yg sangat berat yg ada di atas pundaknya itu.
Ia mengatakan kepada para sesepuh tanah Perdikan itu untuk semakin meningkatkan penjagaan di perbatasan dari Kali Opak dan di beberapa tempat yg menjadi jalan masuk dari orang -orang yg ingin mencari Kesempatan setelah kegagalan pasukan Pajang menumpas gerombolan persmpok itu.
Hehhh,.. apakah di Pajang sudah tidak memiliki Senopati yg dapat diandalkan untuk mengatasi persoalan di Mentaok itu,.. begitulah pikirnya.
Memang Ki Ageng Manguntur merasa perlu mengatakan hal ini sendiri kepada sang Adipati sendiri.
Karena kedua orang itu sebenarnya masih bersahabat dengan pemimpin tertinggi kadipaten Pajang itu.
Ia mengenang bagaimana mereka bahu membahu berjuang untuk mengalahkan Majapahit,..setelah Kanjeng Gusti Prabhu Brawijaya melarikan diri ke Gunung Lawu,.dan pemerintahan Majapahit berpindah ke Daha.
Kanjeng Sultan Demak pertama mengirimkan sebuah pasukan yg kuat untuk mengatasi pasukan Majapahit yg telah berpindah itu.
Disanalah keduanya berteman cukup dekat karena pasukan mereka tergabung dari Pajang.
Masa itu mereka berdua belum menjabat jabatan mereka seperti sekarang ini,.sang Adipati masih merupakan putra mahkota,.demikian pula dirinya.
Akan tetapi yg sangat disayangkan oleh Ki Ageng Manguntur itu,. mengapa Pajang tidak mau bekerjasama dengan nya dengan tanah Perdikan Menoreh itu,.apakah ada yg salah dalam hal ini.
Karena dengan kegiatan para kawanan begal di Alas Mentaok itu semakin meningkat ,.adalah Menoreh lah yg paling sangat di rugikan ,..sudah beberapa kali mereka mendapati rumah disana yg telah ke rampokan dengan pemilik rumah tersebut mereka bunuh dan mereka menjarah barang -barang yg ada di dalam nya.
Juga para perempuan yg sudah hilang beberapa lama yg kemungkinnanya telah mereka culik.
Itulah yg menyebabkan pemimpin tertinggi tanah Perdikan itu semakin masygul hatinya.
" Ki Ageng,..apa tidak sebaiknya kita melaporkan hal ini langsung ke Kotaraja Demak,..?" tanya Ki Jagabaya.
__ADS_1
Pemimpin keamanan tanah Perdikan menanyakan hal itu kepada Ki Ageng Manguntur sekaligus membuyarkan lamunan nya.
" Aku kira tidak perlu Ki ,..!" jawab Ki Ageng Manguntur.
" Mangapa tidak Ki Ageng,..apakah kita akan berdiam diri saja setelah kekalahan pasukan Pajang yg besar itu,..?" tanya Ki Jagabaya lagi.
" Bukan begitu,. Ki Jagabaya,..aku masih menaruh kepercayaan kepada Pajang dapat menumpas gerombolan rampok Itu dan yg Kedua diriku tidak mau dianggap meremehkan Kanjeng Adipati Pajang bila apa -apa langsung melaporkan ke Kotaraja Demak,.." jelas Ki Ageng Manguntur.
Namun jawaban dari Pemimpin tanah perdikan itu tidak membuat hati Ki Jagabaya menjadi tenang,.karena sebagai tempat yg lebih dekat dengan Alas Mentaok tentu wilayah mereka akan menjadi lebih mudah sebagai sasaran empuk dari kawanan begal itu untuk beraksi.
Tetapi apa mau di kata Ki Ageng Manguntur tidak menanggapi usulannya itu.
Adalah seorang Bekel yg kemudian mengatakan kepada Ki Ageng Manguntur untuk bekerjasama dengan Mangir guna membasmi kawanan yg bersarang di Mentaok itu.
Setelah di sepakati oleh beberapa sesepuh tanah Perdikan, akhirnya Ki Ageng bersedia membuka kerjasama dengan Mangir,..bahkan ia juga akan mengirmkan utusan ke sana dan juga ke Pajang.
Karena menurut Ki Ageng Manguntur sendiri kelebihan para kawanan begal yg ada di alas Mentaok itu di sebabkan campur tangan dari penguasa gunung Merapi,..ya,.. Tampaknya Mpu Loh Brangsang berada di belakang mereka sehingga para tokoh yg ada di Alas Mentaok itu lebih beran. karena di belakang mereka ada seorang yg sakti mandraguna yg sulit di cari banding nya di seluruh tlatah Demak,..mungkin bisa di hitung jari. Oleh sebab itu Tanah Perdikan Menoreh tidak akan kepalang tanggung untuk menghadapi nya, bila perlu seluruh wilayah yg berdekatan akan di ajak menggalang persatuan menghadapi mereka itu.
Walaupun yg paling bertanggung jawab adalah Pajang sendiri.
Sampai sore pertemuan yg diadakan di rumah Ki Ageng Manguntur baru selesai setelah diambil kata sepakat untuk mengadakan kerjasama dengan beberapa wilayah yg dekat dengan Alas Mentaok itu.
Salah seorang pengawal tanah Perdikan yg di kirim oleh Ki Ageng Manguntur yg bertujuan ke Kota Pajang itu pun memacu kudanya dengan cepat.
Sedangkan beberapa orang teman nya ada yg ke Mangir dan ke beberapa tempat yg berbeda.
Sementara itu dua perwira Pajang yg tengah mendapatkan tugas ke Kota Raja Demak terus memacu kudanya dengan cepat mereka adalah Rangga Aryo Seno dan Rangga Wira Dipa.
" Huuffhhh,.."
Rangga Aryo Seno menarik tali kekang kudanya,..hewan tunggangan nya melonjak berhenti.
Ia agak heran melihat temannya itu menghentikan lari kudanya.
" Kakang Wira Dipa,..apa tidak sebaiknya kita berhenti di Pedukuhan yg ada di depan itu,..?" tanya nya kepada Rangga Wira Dipa.
Rangga Wira Dipa memandang ke arah langit baru kemudian melihat Rangga Aryo Seno.
" Bukankah hari belum terlalu sore ,..apa tidak sebaiknya kita lanjutkan saja,.." jawab Rangga Wira Dipa.
" Memang hari belum terlalu sore,..akan tetapi jika kita paksakan terus ,.esok pagi baru kita tiba di Kotaraja,.." jawab Rangga Aryo Seno.
Rangga Wira Dipa tidak menjawab ,.memang selepas dari Pedukuhan itu mereka akan terus melalui hutan yg cukup lebat dan luas baru setelah nya mereka akan mendapati sebuah Pedukuhan yg paling dekat dengan Kotaraja.
Jika mereka melanjutkan terus perjalanan nya,. mereka harus menginap di hutan.
" Baiklah ,..kita menginap di pedukuhan dalih itu,.." ucap Rangga Wira Dipa.
Keduanya kemudian menghela kudanya untuk melanjutkan perjalanan lagi.
Setibanya di pedukuhan kecil itu keduanya mengarahkan kudanya menuju banjar pedukuhan.
Saat sampai disana cahaya Mentari kian meredup dan sudah tidak terlalu panas lagi.
Adapun Bekel pedukuhan itu cukup terkejut dengan kehadiran dua orang yg berpakaian prajurit itu.
__ADS_1
" Maaf kisanak ,..daptakah kami bertemu dengan Bekel pedukuhan ini,..?" tanya Rangga Wira Dipa.
" Oh,..kebetulan sekali , saya adalah Bekel pedukuhan ini,..kisanak berdua ini para prajurit Demak,.?" tanya Ki Bekel.
" Sangat kebetulan sekali,..kami langsung bertemu dengan Ki Bekel,..kami tidak mengira bahwa pedukuhan ini memiliki seorang Bekel yg masih muda,.." sebut Rangga Wira Dipa.
" Terima kasih kisanak,.. karena memang orang tua saya yg memimpin pedukuhan ini,..tiba -tiba meninggal secara mendadak sehingga saya lah yg ditugaskan menggantikan beliau untuk menjadi Bekel,..kalian berdua hendak kemana,..kalau saya boleh tahu,..?" tanya Ki Bekel lagi.
Kemudian Kedua perwira Pajang itu turun dari kudanya , mereka kemudian memperkenalkan dirinya ,..bahwa mereka adalah prajurit Pajang yg hendak ke Kotaraja Demak,..akan tetapi karena hari telah sore ,.mereka memutuskan untuk menginap disana.
Oleh Ki Bekel pedukuhan dalih itu,..mereka dipersilahkan tinggal untuk menginap di rumahnya yg tidak jauh dari banjar pedukuhan itu.
Rangga Wira Dipa dan Aryo Seno kemudian menuntun kudanya mengikuti Ki Bekel menuju rumah nya.
Setelah berbincang sebentar kedua perwira Pajang itu dipersilahkan untuk membersihkan tubuh nya.
Karena memang sebentar lagi malam akan tiba,.terlihat kedua orang itu pun sudah terlihat kotor,.akibat debu -debu yg ada di tubuh mereka itu.
Selesai keduanya dari pakiwan,..mereka disusguhkan makanan oleh sang Bekel.
Keduanya menyantap nya dengan lahap sekali karena sudah hampir dua hari mereka makan apa saja yg mereka dapat di dalam perjalanan ,.maklum mereka berangkat agak terburu -buru sehingga tidak sempat membawa bekal.
Sambil bersantap malam sang Bekel kemudian menceritakan bahwa daerah yg di pimpinnya itu dahulu nya sangat tidak aman,..banyak perampok yg sering datang da melintas di daerah mereka itu.
Rangga Wira Dipa yg mendengar ucapan dari Ki Bekel itu kemudian menanyakan bagaimana dengan sekarang ini, apakah masih sering perampok itu menyatroni pedukuhan tersebut.
Oleh Ki Bekel dijawab bahwa semenjak ada seseorang yg bernama Raka Senggani dan singgah di Pedukuhan nya itu,.. keadaan dari tempat itu sekarang menjadi sangat aman.
Kedua perwira dari Pajang itu sangat terkejut mendengar penuturan dari Ki Bekel,.. karena mereka tahu bahwa orang yg di sebutkan oleh Ki Bekel itulah yg akan mereka temui di Kotaraja Demak dan akan di suruh kembali ke Pajang.
Rangga Aryo Seno kemudian mengatakan kepada sang Bekel bahwa mereka berdua adalah prajurit yg di bawah kepemimpinan dari orang yg bernama Raka Senggani itu.
Kali ini Ki Bekel lah yg terkejut mendengarnya,.. karena walaupun ia tahu bahwa orang yg bernama Raka Senggani itu adalah seorang prajurit,..tetapj ia tidak menyangka bahwa kedudukan nya sangat tinggi di Kadipaten Pajang.
Baik Rangga Wira Dipa dan Rangga Aryo Seno hanya tersenyum mendengar nya, karena mereka memang memahami sifat dari Senopati Brastha Abipraya itu,..yg tidak ingin terlalu menonjolkan diri nya,..apalagi sampai kemaruk mengatakan bahwa dia adalah seorang petinggi di sebuah Kadipaten,.sekelas kadipaten Pajang yg sangat besar itu.
Ki Bekel pun mengangguk menyetujui bahwa anak muda yg bernama Raka Senggani itu tidak pernah merasa sombong dengan beberapa kelebihan nya termasuk saat mengalahkan seorang Begal sekelas Mangku Darno itu,..dan ketika pertemuan nya lagi dengan seorang yg bernama Sumolewu itu dan juga saudara seperguruan dari kepala rampok.
" Karena dirinya lah kami di tugaskan ke Kotaraja Demak ini,.Ki Bekel,." ucap Rangga Wira Dipa terus terang.
" Memang nya kenapa Kisanak berdua ini akan menemui nya ,..apakah hal yg penting yg telah terjadi di Pajang,..?" tanya Ki Bekel.
Kemudian Rangga Wira Dipa menjelaskan bahwa saat ini Pajang tengah menghadapi kesulitan untuk mengatasi masalah yg terjadi di Alas mentaok.
Di hutan yg dahulunya merupakan ibukota Kerajaan Mataram itu telah terdapat sekumpulan orang -orang yg berilmu tinggi dan menjadi begal disana.
Bahkan baru -baru ini sepasukan prajurit Pajang harus pulang gigit jari karena tidak mampu menumpas mereka.
Rangga Wira Dipa juga mengatakan saat ini Pajang membutuhkan seorang pemimpin yg berilmu tinggi untuk menghadapi mereka.
Bekel pedukuhan itu mengerti dengan penjelasan dari perwira Pajang itu,..yg sebenarnya ia pun mengakui bahwa Senopati yg bernama Raka Senggani itu memang memiliki kemampuan diatas rata -rata,.bahkan ketika melihatnya saja seorang yg bernama Sumolewu itu tidak berani berbuat apa-apa.
Setelah malam semakin dingin,. akhirnya ketiga orang itu pun beristrahat, karena dua orang perwira Pajang itu harus melanjutkan lagi perjalanan nya.
Dan begitu terang tanah,..dua ekor kuda berlari dari rumah Ki Bekel meninggalkan pedukuhan itu, Setelah sebelum nya mereka mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
Keduanya terus berpacu dengan cukup kencang nya sehingga ketika matahari mulai bergerak ke arah barat sampailah Rangga Wira Dipa dan Rangga Aryo Seno di Kotaraja Demak.
Keduanya langsung menuju ke istana kepatihan , meminta izin untuk menghadap kanjeng Gusti Sultan Demak.