Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 3 Memburu Singo Lorok bagian ke dua.


__ADS_3

Raka Senggani dan Ki Lamiran setelah dari rumah Juragan Tarya langsung ke banjar desa Kenanga.


Mereka berdua akan melihat bagaimana nasib dari kawanan rampok gunung Tidar itu yg berhasil di tangkap.


Sesampainya di banjar desa, terlihat para perangkat desa Kenanga telah berada di situ pula termasuk Ki Jagabaya yg meskipun terluka cukup lumayan parah namun masih menyempatkan diri untuk datang.


Melihat Raka Senggani dan Ki Lamiran datang maka berseru lah Ki Bekel kepada Rangga Wira Dipa,


" Ini dia orangnya yg telah melaporkan tentang keadaan di sini ke kotaraja Demak, namanya Angger Senggani,!" kata Ki Bekel.


" Benarkah demikian kisanak,?" tanya Rangga Wira Dipa.


" Benar, Ki Rangga, sayalah yg telah melaporkan tentang keberadaan gerombolan rampok asal Gunung Tidar ini ke kotaraja Demak,!" jawab Raka Senggani.


" Mengapa kisanak tidak melaporkan ke Pajang bukankah, desa Kenanga masih dalam wilayah kadipaten Pajang,?" tanya Rangga Wira Dipa kepada Raka Senggani.


Pemuda itu terdiam mendapati pertanyaan seperti itu, kemudian Ki Lamiranlah yg menjawab,


" Sebenarnya ada niatan dari angger Senggani untuk melaporkan hal ini ke Pajang, namun angger Senggani tidak tahu harus menemui siapa jadi aki sarankan untuk ke kotaraja Demak saja karena di sana aki mempunyai seorang kenalan, perwira Demak, oleh sebab itulah ia melaporkan hal ini ke Demak,!" jelas Ki Lamiran.


Lama Rangga Wira Dipa memandangi wajah Raka Senggani, sementara pemuda itu melihat ke arah Ki Jagabaya.


" Sekali lagi kami peringatkan untuk melaporkan segala kejadian yg terjadi di desa ini ke Kadipaten Pajang saja, karena ini merupakan tanggung jawab kadipaten Pajang,!" ujar Rangga Wira Dipa lagi.


" Bagaimana menurut Ki Bekel, haruskah orang -orang ini kami bawa ke Pajang atau tetap tinggal di sini,?" tanya Rangga Wira Dipa lagi kepada Ki Bekel.


" Sebaiknyalah mereka di bawa ke Pajang, Ki Rangga, mengingat desa Kenanga ini termasuk desa kecil sehingga tidak mungkin menempatkan mereka di suatu tempat dengan pengawalan yg cukup, kalau di Pajang, sarananya tentu lebih memadai baik dari tempat dan pengawalannya serta hukuman atas mereka tergantung Kanjeng Adipati,!" jawab Ki Bekel.


"Kalau mereka kami bawa ke Pajang berarti harus ada orang Kenanga ini yg ikut, sebagai saksi sekaligus memberi kan laporan kepada Kanjeng Adipati, sehingga Kanjeng Adipati akan bisa menentukan hukuman atas mereka,!" jelas Rangga Wira Dipa.


Ki Bekel, Ki Lamiran dan Ki Jagabaya saling berpandangan, mereka seolah bertanya siapa yg pantas untuk ikut ke Pajang itu.


Ketiganya tampak sepakat dengan Raka Senggani yg akan diutus sebagai utusan dari desa Kenanga ke kadipaten Pajang itu,


" Angger Senggani yg akan ikut,!" kata ketiga nya secara kompak.


Kembali Rangga Wira Dipa memandangi Raka Senggani seolah bertanya mau atau tidak ia ikut ke Pajang.


Di tatap sedemikian akhirnya Raka Senggani angkat bicara,


" Senggani mau jadi utusan dari desa Kenanga ini akan tetapi masih ada satu masalah lagi yg belum terselesaikan, dan Senggani telah berjanji akan hal itu,!" ucap Raka Senggani.


"Apa itu , Ngger,?" tanya Ki Bekel.

__ADS_1


" Senggani telah berjanji kepada Juragan Tarya untuk membawa kembali putrinya Tara Rindayu dari sekapan Singo Lorok,!" jelas Raka Senggani.


" Wah maaf,Ki Bekel, bahwa akilah yg telah menyetujui permintaan dari Juragan Tarya itu, sehingga Angger Senggani harus berusaha membawa kembali den ayu kemari dan melepas kan diri dari begal Gunung Tidar itu,!" ungkap Ki Lamiran.


Ia merasa bersalah karena dialah Raka Senggani harus terlibat lagi dalam usaha penyelamatan Tara Rindayu dari tangan Singo Lorok itu.


" Jadi bagaimana, siapa yg akan ikut ke Pajang sebagai utusan dari sini, dari desa Kenanga ini?" tanya Rangga Wira Dipa lagi.


" Apakah Ki Rangga tidak bisa menunggu barang semalam di sini, dan besok baru kembali ke Pajang,?" tanya Ki Lamiran kepada Rangga Wira Dipa.


Rangga Wira Dipa terdiam sesaat mendapati pertanyaan itu, seolah ia berpikir apakah akan meluluskan permintaan dari Ki Lamiran itu.


" Baik lah Ki, kami bersedia untuk menginap se malam di sini dan besok pagi pagi sekali kami baru akan kembali ke Pajang,!" jawab Rangga Wira Dipa.


"Terima kasih Ki Rangga,!" ucap Ki Lamiran.


Maka para prajurit Pajang itu pun bersiap untuk menginap di desa Kenanga, mereka besok baru akan kembali.


Kesempatan itu dipergunakan oleh Ki Lamiran untuk mengatakan sesuatu kepada Raka Senggani.


" Ngger, sebaiknya sore ini angger Senggani masuk ke dalam hutan itu untuk melacak keberadaan dari Singo Lorok, dan menurut perhitungan aki mereka masih berada di dalam hutan itu,!"


" Bisa jadi mereka telah melarikan diri, Ki, karena mereka mengetahui akan kedatangan para prajurit Pajang ini ditambah lagi , kekuatan mereka hampir lumpuh mungkin jumlah tidak lebih dari sepuluh orang lagi,!" jelas Raka Senggani


" Heehhmmp, Benar juga ucapan mu itu, Ngger, akan tetapi jika kita mau berusaha mungkin setidaknya kita dapat arah kemana mereka perginya,!" kata Ki Lamiran.


Rupa nya Sari Kemuning setelah kembali dari rumah nya ia kembali datang bahkan kali ini membawakan sebungkus makanan.


" Nih Kang, Kemuning bawakan makanan,!" kata gadis itu seraya menyodorkan bungkusan makanan dari daun pisang itu.


" Ehhh, Kakang tadi sudah makan di rumah Juragan Tarya,!" kata Raka Senggani sambil menerima bungkusan.


" Tidak apa -apa Kang, hitung -hitung makan malam, karena sebentar lagi malam,!" kata Sari Kemuning kepada Raka Senggani.


" Sudahlah Ngger, terima saja pantang menolak pemberian seseorang apa lagi yg memberi itu , gadis secantik den Kemuning,!" kata Ki Lamiran.


" Baiklah Kemuning, ayo kita makan Ki,!" kata Raka Senggani kepada Ki Lamiran.


" Sudahlah , angger Senggani saja, aki masih kenyang, biar ditemani oleh den Kemuning, bukan begitu den,!" kata Ki Lamiran kepada Sari Kemuning.


" Iya Kang, biar Kemuning temani,!" kata Gadis itu.


Kemudian Raka Senggani mencari tempat duduk di bawah sebuah pohon sawo kecik, ia kemudian membuka bungkusan itu dan kemudian mulai melahapnya.

__ADS_1


" Kemuning , kau benar -benar tahu dengan selera kakang,!" kata Raka Senggani.


Dan Sari Kemuning yg di puji sedemikian rupa, tersenyum dengan senyuman yg paling indah.


" Kakang Senggani menyukai masakan Kemuning,?" tanyanya kepada Raka Senggani.


" Sangat, sangat menyukainya Kemuning, rasa nya setiap masakanmu terasa pas dilidah kakang,!" jawab Raka Senggani yg terus melahap makanan itu.


Temaramnya Sang Surya tidak membuat keindahan di hati Sari memudar seperti cahaya mentari sore itu, di hati putri Jagabaya itu telah tumbuh bunga -bunga asmara terhadap seorang lelaki yg sedari kecil sangat disukainya itu.


Dunia terasa indah di kala berduaan dengan sang pujaan hati.


*******


Sementara itu, Singo Lorok setelah mendapatkan Tara Rindayu langsung bergegas kembali ke dalam hutan yg ada di utara desa Kenanga itu.


Dengan cepat ia bergerak menuju ke dalam dan langsung menuju gubuknya.


Tubuh Tara Rindayu itu terasa enteng saat dipikul oleh Pemimpin begal asal gunung tidar itu.


Saat menuruni tebing yg terjal, dan keadaan pun masih gelap namun ia tetap terus melangkah tanpa takut sedikit pun akan terpeleset.


Ketika pagi akan menjelang sampailah ia di dalam gubuknya di dalam lembah di tengah hutan itu.


Segera Singo Lorok meletakkan tubuh Tara Rindayu yg dalam keadaan tertotok itu.


Kemudian Singo Lorok keluar sebentar hanya sekedar mencuci mukanya dan mengambil sepotong makanan yg masih di atas panggangan yg mereka tinggalkan sebelum berangkat ke rumah Juragan Tarya itu.


Sambil menguyah makanan, ia kemudian kembali mendatangi Tara Rindayu yg sedang tergolek diam karena tertotok.


Putri Juragan Tarya itu masih menggunakan busana pengantinya ketika ia di tangkap oleh Singo Lorok.


Di terangi cahaya pagi yg baru muncul dari balik dedaunan, tampaklah sosok dari Kembang Desa kenanga semakin cantik terlihat.


Dan darah kelakian dari Singo Lorok langsung membuncah ingin mendapatkan tempat penyalurannya.


Singo Lorok dengan cepat mendekap tubuh dari Tara Rindayu itu dan mulai menciumi nya, dan perlahan lahan ia pun melucuti pakaian gadis itu.


Sementara Tara Rindayu tidak bisa berbuat apa-apa sampai akhirnya tubuh nya polos tanpa busana.


Dengan beringas Singo Lorok mulai menggerayangi tubuh Tara Rindayu itu.


Terlihat dari sudut mata gadis itu keluar bulir -bulir air mata .

__ADS_1


Meskipun dalam keadaan tertotok ia merasakan apa yg telah diperbuat oleh Singo lorok, ada perasaan ngeri di dalam hati dari Putri Juragan Tarya itu.


Namun mulut tidak berkata apa -apa, hanya airmata yg keluar dari sudut matanya.


__ADS_2