Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 27 Wong Agung. bag kelima.


__ADS_3

Seekor kuda tampak sedang melaju kencang di jalanan Kotaraja menuju ke Pajang. Penunggang nya adalah Raka Senggani yg terlihat agak kurang tenang, ia ingin segera sampai di desa Kenanga secepatnya setelah lebih dari sepekan berada di Demak.


Dan ketika meminggalkam sebuah pedukuhan yg berada di luar Kotaraja ia tetap saja memacu si Jangu dengan dengan lebih cepat lagi.


" Heaahhh,..!"


" Heahhhh,..!"


Teriak Raka Senggani ketika telah melewati pedukuhan tersebut. Selanjutnya ia mendekati padang rumput yang tidak terlalu luas baru selanjutnya ia mendekati sebuah hutan perburuan , tempat biasa bagi keluarga kerajaan dan para bangsawan berburu.


Si jangu seperti mengerti perasaan Tuan nya, kecepatan nya semakin meningkat ketika telah jauh meninggalkan pedukuhan itu.


Dan setibanya di dalam hutan perburuan ini,..Raka Sidan agak mengurangi kecepatan nya, meski jalan nya tidak terlalu kecil tetapi ia memang perlu untuk menjalankan si Jangu tidak terlalu kencang.


Dan tiba tiba,..


" Kraaaakkh,..!"


" Bummmmph,..!"


" Heiikk,..heiik,.heiik,..!"


Si Jangu melonjak dengan keras nya, dua kaki depan nya di angkat ke atas tinggi tinggi, karena sebuah pohon besar tumbang menghalang jalan, hampir menimpa mereka .


Hahh,..tidak ada angin tidak ada hujan mengapa pohon ini bisa tumbang,.. bertanya dalam hati Raka Senggani.


Ia berusaha menenangkan si Jangu yg tampak gelisah, dan berputar di tempat itu .


" Ha, ha, ha, akhirnya hari ini Aku dapat bertemu dengan seorang yg terlalu banyak di besar besarkan namanya di tlatah kerajaan Demak ini,..!" ucap seseorang yg ada di seberang pohon tumbang itu.


Ia melangkah agak mendekat ke pohon besar yang tumbang ini sehingga dapat melihat jelas ke arah Raka Senggani yg telah berhasil menenangkan si Jangu.Kuda ini dapat di kendalikan oleh pemiliknya.


Sedangkan Senopati Bima Sakti menatap ke arah orang yang tengah berdiri tegak di balik pohon tumbang itu.


Hehh, sepertinya orang ini adalah prajurit dari Demak,..berkata dalam hati Raka Senggani.


Ia pun segera merasakan bahwa di tempat itu tidak hanya orang yang ada di hadapan nya ini saja, seperti nya di sebelah menyebelah ia mendengar dengus nafas beberapa orang.


Apakah mereka tengah menunggu ku disini , itulah pertanyaan yang keluar dari dalam hati Senopati Bima Sakti ini.


Akan tetapi ia terlihat tenang tenang saja, tak nampak hatinya gelisah.


Ketika orang yang menghadang nya ini berkata kemudian.


" Perkenalkan , namaku adalah Tumenggung Kebo Wana, Aku adalah pemimpin prajurit Demak, dan saat ini akan menjajal kemampuan dirimu yg menurut sebahagian orang sebagai Senopati agul agul Pajang,.. Seorang pendekar pilih tanding ,..namun hari ini gelar itu akan segera berakhir di tangan ku,..Kebo Wana,..!" ucap Tumenggung Kebo Wana.


Seorang yg berbadan tegap dengan garang ia menantang Raka Senggani.


Sedangkan Senopati Bima Sakti ini hanya diam saja menatap tajam ke arah orang yang menyebut dirinya sebagai Tumenggung Kebo Wana.


Terdengar kemudian teriakan dari Tumenggung Kebo Wana itu,..


" Cepat turun dari kudamu,.kita bertarung ditempat ini, kita buktikan siapa sesungguhnya yg paling tinggi ilmunya di tlatah Demak ini,..!"


" Sreeeeeith,..!"


Tumenggung Kebo Wana yg kembali menantang Raka Senggani seraya mencabut sebilah keris dari balik pinggang nya. Dan keris itu di angkat nya di depan dada kemudian mengelus keris tersebut dari arah gagang nya hingga ke ujung, keris itu segera mengeluarkan pamor berwarna kebiru biruan. Meski saat ini telah menjelang tengah hari, tetapi cahaya pamor keris yg di keluarkan oleh Tumenggung Kebo Wana ini sangat terang sinar nya.


" Apakah kita memang pernah memiliki masalah, Kisanak,..?" tanya Raka Senggani kepada Tumenggung Kebo Wana.


Ia melompat turun dari punggung si Jangu dengan ringan nya, bagai kapas yg melayang turun.


Dengan tetap memegang tali kekang si Jangu, Raka Senggani memandangi orang yang bernama Kebo Wana ini.


" Ada,..dirimu telah menganggap remeh para punggawa kerajaan Demak ini,.. mengapa harus dirimu yg merupakan orang Pajang yg harus menjadi seorang Senopati di Demak ini,.." ucap Tumenggung Kebo Wana.


" Ahh, kalau masalah itu , diriku tidak mengerti mengapa menjadi seorang Senopati di Demak ini padahal aku tahu di Kotaraja Demak ini banyak orang orang yg bermuka dua,..hanya demi untuk sebuah jabatan,.dapat melakukan apapun juga,...!" jelas Raka Senggani.


" *******, berani kau menghina kami, orang Demak ini, terima serangan ,..heaahhh,.!" seru Tumenggung Kebo Wana.


Lelaki yang berbadan tegap ini langsung melayang cepat dari tempat nya semula yg berada di balik pohon besar yg tumbang itu menyerang Raka Senggani yg masih berdiri di sebelah si Jangu.

__ADS_1


Dengan kerisnya , Kebo Wana menusuk arah dada Raka Senggani.


Begitu mendapatkan serangan cepat tersebut, Senopati Bima Sakti ini melompat mundur menghindari nya, akan tetapi segera di buru oleh Tumenggung Kebo Wana dengan tebasan menggunakan kerisnya.


" Heahhh,..!"


" Trang,..!"


Raka Senggani langsung menyambut serangan tersebut dengan menggunakan senjatanya yg berupa keris pula, ya kali ini Senopati Bima Sakti ini mengeluarkan keris pusaka Kyai Macan kecubung , senjata pemberian Adipati Pajang.


Tampak keduanya saling dorong mendorong dengan kedua senjata yg beradu tersebut , terlihat mereka tengah menjajal kemampuan tenaga dalam lawan nya masing -masing.


Dengan pamor kedua keris yg keluar, senjata yg berada di tangan Tumenggung Kebo Wana mengeluarkan cahaya kebiru biruan sedangkan keris kyai Macan kecubung mengeluarkan cahaya merah terang.


Setelah beberapa lama, adu tenaga dalam terjadi dalam sebuah teriakan yg keras,..


" Hiyyyahh.,.!"


" Heahh,,...,!"


Keduanya segera melepaskan masing -masing tenaga nya dengan keras sehingga mereka harus mundur ke belakang beberapa tindak.


Nampaknya memang Tumenggung Kebo Wana ini tidak hanya bermulut besar saja, ucap Raka Senggani dalam hati setelah ia merasakan bahwa tenaga lawan nya cukup besar dan kuat.


Ia pun segera mempersiapkan diri agar tidak dapat di kalahkan dengan mudah oleh lawan nya kali ini.


Sedangkan Tumenggung Kebo Wana pun merasakan hal yang sama, ia kini tidak dapat memandang sebelah mata lawan yg ada dihadapan nya.


" Heahhhh,..!"


Kembali Tumenggung Kebo Wana bergerak dan berkelebat cepat menyerang Senopati Bima Sakti, kali ini keris yg ada di tangan nya ini menebas ke arah perut dari Senopati asal desa Kenanga itu.


" Haiit,..!"


" Triiinnnng,.."


Raka Senggani menepis serangan tersebut dengan kyai Macan kecubung,.. benturan kembali terjadi dan kali ini sampai menimbulkan percikan kembang api, lantaran keduanya tengah mengerahkan tenaga dalam nya masing -masing.


Gagal dengan serangan nya, Tumenggung Kebo Wana menggerakkan kaki kirinya , ia menendang Senopati Bima Sakti mengarah ke dada nya , oleh Raka Senggani serangan tersebut di hindari dengan memiringkan tubuhnya ke belakang, dan sungguh hebat dan kokoh fondasi kuda kuda dari sang Senopati, meski tubuhnya nyaris jatuh guna menghindari serangan tersebut , namun dapat berdiri tegak kembali dengan sangat sempurna.


" Trinnnng,..!"


" Hiyyyahh,..!"


Dan sang Senopati pun membalas serangan lawan nya dengan sapuan kaki mengarah ke kaki lawan.


Tumenggung Kebo Wana melompat berjumpalitan guna terlepas dari serangan tersebut.dan,


" Heahhh,..!"


Ia melompat tinggi ke udara dan beberapa kali bersalto di udara baru kemudian meluruk turun dan dengan ujung kerisnya terarah pada kepala lawan.


Serangan ini sangat cepat di lakukan oleh Tumenggung Kebo Wana , sungguh meskipun tubuhnya cukup besar teta pi gerakan nya sangat ringan menandakan orang itu memiliki ilmu peringan tubuh yang sangat tinggi.


Akan tetapi bagi Senopati Bima Sakti yg telah terbiasa menghadapi lawan dengan kemampuan seperti ini ia tidak merasa gugup, jangan kan manusia , makhluk sejenis dedemit pun telah di lawannya.


Dan ujung keris Tumenggung Kebo Wana itu tidak menemui sasaran nya.


Dengan sangat cepat pula Senopati Bima Sakti ini berkelebat melompat menghindari serangan tersebut.


Ia pun bersiap dengan serangan balasan , dalam satu kesempatan , sesaat tubuh Tumenggung Kebo Wana masih berada di udara,.Raka Senggani dengan mengemposi tenaga dalam nya dan mengerahkan ilmu peringan tubuhnya segera melakukan serangan ke arah Tumenggung Kebo Wana ini,..


" Heahh,..!"


Teriak Senopati Bima Sakti, sambil menjulurkan keris pusaka Kyai Macan kecubung,.melihat serangan yg datang memburunya , Tumenggung Kebo Wana segera bergerak menghindari serangan itu dengan melompat mundur, dan semua nya di lakukan ketika masih berada di udara.


Terjadilah pertarungan tingkat tinggi dari kedua orang yg memang memiliki kemampuan ilmu yg tinggi pula.


Dari pertarungan yang tidak terlalu cepat, kini setelah keduanya berkeringat pertarungan pun kian makin cepat pula.


Kelebatan -kelebatan kedua orang yg tengah bertarung ini membuat tempat di hutan perburuan ini menjadi rusak,.ketika sambaran kedua senjata mereka luput pada sasaran nya, adalah pepohonan yang jadi korban nya.

__ADS_1


Udara di tempat tersebut pun kian panas setelah keduanya mengerahkan tenaga dalam nya semakin tinggi.


Ini dirasakan oleh empat orang yang tengah bersembunyi dan melihat pertarungan tersebut. Mereka ini adalah Rangga Dirgantara dengan di temani oleh dua orang Rangga dan seorang Lurah prajurit dari kerajaan Demak.


" CK,.ck,.ck,..sungguh tinggi ilmu Senopati Brastha Abipraya ini,..ia mampu melayani Tumenggung Kebo Wana hingga sampai tiga puluh jurus, dan sampai saat ini pun ia belum terlihat terdesak,..!" ujar Rangga Dirgantara.


Oleh seorang teman nya yang berpangkat Rangga pula di sahuti dengan jawaban yang serupa.


" Benar apa yang kakang Dirgantara katakan itu,.. sepertinya Tumenggung Kebo Wana ini ketemu batunya,..ia sangat kesulitan meski telah mengerahkan kemampuan nya pada tataran tertinggi,..!" sahut Rangga Wirandhana.


" Dan sepertinya , Gusti Tumenggung Kebo Wana sudah pada puncak ilmunya,..!" ucap seorang Lurah prajurit Demak yg nampaknya pun memiliki kemampuan ilmu silat yang lumayan.


Ia dapat menilai jalan nya pertarungan tersebut.


" Darimana dirimu tahu , bahwa Tumenggung Kebo Wana telah pada puncak ilmunya,..Ki Lurah,..?" tanya Rangga Dirgantara .


Lurah prajurit Demak ini mengatakan dengan melihat pamor keris yg berada di tangan sang Tumenggung yg telah seluruhnya tertutup cahaya berwarna kebiru biruan.


" Itu artinya Tumenggung Kebo Wana ini telah mengerahkan aji Waringin Sungsang,..untuk mengalahkan lawan nya itu,.. Ki Rangga,..!" jelas Lurah prajurit Demak.


" Benar , Ki Lurah,..memang terlihat kali ini keadaan dari Tumenggung Kebo Wana mulai kesulitan menghadapi lawan nya itu,..ia beberapa kali harus menghindar tanpa dapat melakukan serangan,..!" sahut Rangga Wirandhana.


" Apa yang telah kalian katakan ini memang benar, semakin kesini keadaan dari Tumenggung Kebo Wana semakin sulit,..kita harus menyiapkan rencana kedua guna menghabisi Senopati Pajang ini,..!" ungkap Rangga Dirgantara.


Memang pesan dan tugas yg harus di lakukan oleh keponakan dari Patih Demak ini adalah untuk melenyapkan Senopati Brastha Abipraya dari Pajang itu.


" Maksud Ki Rangga , kita akan menyerang secara bersama sama,..?" tanya Lurah prajurit Demak ini.


" Hushhh,..kita tidak harus menyerang nya secara bersama sama, tetapi menyerang Senopati Pajang ini dengan menggunakan senjata rahasia dan khusus untukmu Ki Lurah,.. pergunakan lah senjata panah mu, panah beracun yang telah di siapkan untukmu, jangan sampai gagal usaha kita untuk membunuh Senopati Brastha Abipraya ini,..!" terang Rangga Dirgantara menjelaskan.


" Baik,..aku mengerti Ki Rangga,..!" sahut Lurah prajurit Demak tersebut.


Ia pun segera mengeluarkan busurnya dan juga anak panahnya dari endong nya.


Beberapa orang yang berada di gerumbul semak belukar yang tidak jauh dari jalan nya pertarungan dari kedua orang itu nampak tengah bersiap menyerang Raka Senggani, setelah mereka melihat bahwa Tumenggung Kebo Wana terlihat keteteran menghadapi lawan nya ini.


Dan memang pada saat itu , keadaan dari Tumenggung Kebo Wana sudah cukup sulit, beberapa kali pergerakan nya dapat di ketahui oleh Raka Senggani yg menjadi lawan nya itu.


Sudah beberapa kali pula, Senopati Bima Sakti ini mampu memotong nya dengan memberikan serangan yg sulit untuk di hindari Tumenggung dari Demak ini.


Dan pada suatu saat ketika Tumenggung Kebo Wana sedang bertahan dari libatan yg sangat cepat dari Raka Senggani dirinya tidak mampu mengelak kan sebuah tendangan keras dari Sang Senopati hingha menghantam lambung nya.


" Hiyyyahh,..!"


" Duugghhh,..!"


" Aaakhh,..!"


Tendangan ini melontarkan tubuh Tumenggung Kebo Wana beberapa tombak ke belakang , dan tubuh nya sampai menghantam sebatang pohon.


Namun karena Tumenggung Kebo Wana memang memiliki daya tahan yang cukup kuat ia pun segera bangkit dengan cepat sambil memegangi perutnya.


Dirinya merasakan sakit yg teramat pada perutnya ini,.. secepat nya ia berdiri dan mengatur jalan nya pernafasan sementara lawannya segera mendatangi nya dan berkata.


" Sudahlah kisanak,..kita akhiri saja pertarungan ini sampai disini,. karena kita berdua tidak pernah ada masalah , satu sama lain, jadi ku harap aku dapat segera meninggalkan tempat ini,..!" ucap Raka Senggani.


" Hehh,..aku belum kalah,..dan kauu,..harus mati di tanganku,..!" seru Tumenggung Kebo Wana sambil mengacungkan keris yg ada di tangan nya .


Raka Senggani sampai geleng geleng kepala melihat kelakuan dari lawan nya ini, dan terakhir ia baru ingat akan ucapan dari Tumenggung Bahu Reksa,..mengapa tidak kau bunuh saja Ngger,.empat iblis dari Gunung Kendeng itu.


Ahh,.. tetapi Sari Kemuning tengah mengandung anakku, mana mungkin diriku melakukan hal ini,..ucapnya dalam hati.


Ia memang melihat keadaan dari Tumenggung Kebo Wana masih nampak mampu untuk melanjutkan pertarungan, akan tetapi hati kecil nya memang tidak ingin melukai siapa pun apalagi sampai membunuh nya.


" Sudahlah kisanak,..kita cukupkan sampai disini saja pertarungan kita ini,.diriku memang masih memiliki tugas yg lain yg secepatnya harus kukerjakan,..!" ucap Raka Senggani.


Ia pun segera berjalan mendekati kudanya si Jangu.


Melihat lawannya ini berniat untuk tidak melanjutkan perang tanding tersebut, Tumenggung Kebo Wana menjadi murka.


" ******* ,..kau terlalu meremehkan ku ,..terima ini, Aji Waringin Sungsang,..heahhh,..!" serunya.

__ADS_1


Raka Senggani bukan nya tidak tahu akan serangan tersebut, ketika ia membalik kan tubuhnya namun sikap waspada nya terus berjalan, ia pun segera melesat cepat bagaikan terbang menghindari serangan tersebut.


Luput lah serangan dari Tumenggung Kebo Wana yg telah merambah pada ilmu kadigjayaan ini.


__ADS_2