
Setelah berhasil mencapai kapal Jung nya, Senopati Bima Sakti langsung memerintahkan para prajurit nya untuk menyampaikan pesan kepada Senopati Pengapit kiri yaitu Raden Fadhullah Khan atau lebih terkenal dengan nama Raden Fatahillah agar segera dstang ke Kapal nya.Ia juga memerintahkan untuk segera merawat Raden Abdullah Wangsa yg tengah pingsan itu.
Juga tidak lupa seluruh pimpinan prajurit Kerajàan Demak di panggil untuk mengadakan sidang mendadak atas gugurnya Kanjeng Gusti Sultan Demak kedua di laut Melaka ini.
Sore menjelang malam itu , kesibukan terjadi di seluruh armada laut Demak yg sangat berduka dan bersedih akibat telah tewasnya Kanjeng Gusti Sinuwun dalam perang kali ini setelah selama tiga hari terjadi pertempuran yg sebenarnya masih mampu di menangi oleh armada laut Demak ini, akan tetapi sebuah peluru dari Meriam Esfera yg super besar itu telah mengubah jalan nya keseluruhan pertempuran.
Para pimpinan akan membicarakan masalah kelanjutan perang tersebut.
Setelah semuanya berkumpul maka sidang kali ini yg di buka langsung oleh Raka Senggani , sang Senopati Sandi Yuda Demak yg mendapatkan mandat dari Panglima tertinggi armada laut Demak Tumenggung Bahu Reksa yg dalam keadaan terluka sehingga tidak mampu menjalankan tugasnya, sehingga ke semuanya di wakilkan oleh Raka Senggani selaku orang ketiga di Armada laut pasukan Demak ini.
Sang Senopati membuka pembicaraan nya langsung mengenai pokok permasalahan nya , yaitu melanjutkan perang atau kembali ke Demak.
" Kepada seluruh pimpinan prajurit , selaku pimpinan tertinggi disini, saya ingin meminta pendapat kalian semua atas apa yg telah terjadi pada hari ini, apakah kita akan melanjutkan penyerangan ini atau kembali saja ke Demsk setelah gugurnya Kanjeng Gusti Sultan Demak,..?" tanya Senopati Sandi Yuda Demak ini.
Dari aura wajah nya jelas kesedihan dan rasa duka yg mendalam , karena sebenarnya jika memang Kanjeng Gusti Sultan mau sedikit saja mendengar ucapan nya tentu kejadian nya tidak seperti ini.
Hahh,..mungkin inilah jalan takdir yg telah di suratkan oleh Yang Maha kuasa, ia telah menggariskan Kanjeng Gusti Sultan syahid di laut Melaka ini, dan telah memerahkan nya dengan darah nya,.berkata dalam hati Raka Senggani.
Setelah agak lama, tidak ada yg menjawab ucapan dari sang Senopati , ia kembali mengulangi pertanyaan nya, apakah akan tetap melanjutkan atau segera kembali ke Demak.
Salah seorang perwira yg berpangkat Tumenggung , mengatakan kepada Senopati Bima Sakti agar sebaiknya mereka segera kembali saja, sebab mereka sudah tidak memiliki Senopati Agung lagi.
" Akan tetapi , sejauh ini kita telah dapat mendesak mereka, Kanjeng Tumenggung,..!" seru seorang perwira yg berpangkat Rangga.
" Yeah,..mungkin kita memang dapat mendesak mereka akan tetapi untuk memenangkan peperangan ini tanpa seorang Senopati Agung terlebih dalam hal ini ia adalah Kanjeng Gusti Sultan sendiri maka sangat sulit rasanya untuk mampu keluar sebagai pemenang nya,.." jelas sang Tumenggung yg bernama Natanegara ini.
Raka Senggani yg memimpin sidang segera menyahuti ucapan dari sang Tumenggung,.
" Benar apa yg telah di ucapkan Paman Tumenggung Natanegara ini, memang kita akan sangat kesulitan untuk mengatasi mereka terlebih mereka memiliki persenjataan yg lebih hebat dari yg kita punya, memang pilihan mundur adalah jalan terbaik yg harus kita ambil,.." ungkap Senopati Bima Sakti.
Dan pendapatnya ini di dukung oleh Raden Fatahillah , yg telah melihat kehebatan pasukan musuh dalam menyiasati gerak pasukan Demak kali ini terlebih ketidak hadirannya pasukan dari Palembang membuat kekuatan sangat berkurang.
Dan yg lebih miris lagi menurut Panglima dari Pasai ini adalah ketidakpaduan rakyat tanah Melayu untuk memerangi penjajah asing ini, sekira nya mereka memberikan tekanan dengan menyerang dsri belakang benteng tentu nya, tidak semudah itu mereka dapat menghancurkan Kapal perang milik Kanjeng Gusti Sultan Demak ini.
Sependapat dengan Raden Fatahillah , Raka Senggani atau Raden Hidayat ini juga mengatakan , bahwa hanya sebahagian kecil saja dari mereka yg bersungguh sungguh berjiwa Patriot dan mau membela tanah airnya.
Ia telah merasakan sendiri saat menginjakkan kaki nya disana.
Pada sidang kali ini pun kemudian di putuskan untuk segera menarik diri dari medan peperangan setelah gugurnya Kanjeng Gusti Sultan Demak.
Semua akhir nya menyetujui keputusan yg telah di ambil oleh Raden Hidayat , atau Senopati Bima Sakti ini.
Walaupun dalam hati mereka masih menyimpan segudang kesal karena mereka , para prajurit Demak ini harus kembali dengan tsngan hampa untuk yg kedua kalinya .
Mereka menelan kekecewaan , terlebih bagi mereka yg untuk kedua kalinya mengikuti peperangan di kota Melaka ini.
__ADS_1
Namun semuanya tidak dapat di sesali karena kuasa ilahi telah berlaku dan sudah terjadi.
Meski dengan berat hati mereka mempersiapkan segala sesuatu nya untuk kembali ke Demak.
Oleh Raden Abdullah Wangsa , salah seorang putra dari Kanjeng Gusti Sultan Demak kedua ini , keputusan yg di ambil oleh Raden Hidayat alias Raka Senggani bergelar Senopati Bima Sakti ini.
" Kakang Senopati telah terlalu jauh melangkahi keputusan dari Ramanda Sultan,..!" sergah nya dengan berang.
Putra kedua Kanjeng Gusti Sultan Demak ini terlihat sangat marah atas keputusan yg telah di ambil oleh Senopati Bima Sakti ini.
" Seharusnya kakang Senopati meminta pendapatku terlebih dahulu, jangan seenaknya saja menarik seluruh Pasukan Demak ini dari Melaka,.." seru nya lagi.
Senopati Bima Sakti menatap lurus ke arah kota Melaka , ia meyakini di balik keramaian Kapal kapal perang musuh yg berlalu lalang itu, ada tersimpan sebuah senjata yg sangat mendebarkan hati yg terpasang di dalam benteng La Forteza itu. Sungguh mengerikan akibat yg telah di timbulkan nya , nyaris sempurna, tidak ada yg tersisa dari Kapal perang milik Kanjeng Gusti Sultan Demak itu, hanya beberapa orang saja yg dapat selamat dari kehebatan ledakan nya.
" Raden Abdullah, adikku yg sangat ku sayangi, Kakang merasa bersyukur diantara yg selamat itu adalah adhi Raden Abdullah , sehingga sebenarnya Kakang ingin menanyakan hal ini terlebih dahulu kepadamu, akan tetapi dirimu masih dalam keadaan pingsan, sedangkan keputusan harus segera diambil,.." jelas Raka Senggani atau Senopati Bima Sakti.
" Iya, kan, Kakang Senopati dapat menunggu diriku terlebih dahulu siuman baru mengambil keputusan ,.." terang Raden Abdullah Wangsa.
" Keputusan itu harus segera diambil , karena jika tidak kita akan terombang ambing diantara pilihan yg belum jelas dan ini akan sangat merugikan kita, jika kita menyatakan mundur tentu seluruh pasukan dapat bergerak menjauhi pelabuhan Melaka ini, dan akan berkurang nya korban berjatuhan akibat serangan serangan meriam mereka yg terpasang di dalam benteng itu..!" jelas Senopati Bima Sakti.
Terdiam Raden Abdullah Wangsa, walaupun bagaimana ia masih sangat menghormati Senopati Bima Sakti ini selain kepribadian yg teguh juga ilmunya yg sangat tinggi.
Bahkan beberapa kali ia mendengar saudara angkatnya itu meneriakkan agar menjauhi garis serang dari Meriam Esfera milik musuh itu, tetapi Kanjeng Gusti Sultan Demak tidak mengindahkan nya , ia masih yakin dengan Apilan nya , akan mampu menahan semua serangan serangan meriam musuh itu, dan hasilnya memang sangat mengerikan , Raden Abdullah Wangsa sampai menitikkan air matanya jika mengingat kejadian tersebut.
" Sudahlah Adi, sebaiknya istrahat hati dan tubuh mu, masih panjang yg akan kita lalui, apakah kita masih dapat keluar dari tempat ini dengan selamat atau tidak semuanya tergantung dari takdir ilahi, kita hanya menjalaninya,.." ucap Raka Senggani .
Raka Senggani mengerti perasaan dari Pangeran Demak ini, setelah ia kehilangan seluruh keluarganya tidak ada yg tersisa kecuali dirinya sendiri.
Tentu dirinya amat kehilangan atas semua nya itu. Ketika Sang senopati meninggalkan Raden Abdullah sendirian saja ia segera naik keatas kapal perang guna melihat keadaan di sekitar tempat itu.
Akan tetapi belum pun Sang senopati dapat memperhatikan keadaan yg sesungguhnya tiba tiba di kedatangan prajurit penghubung yg di kirimkan oleh Tumennggung Bahu Reksa.
" Ada apa,.. apakah ada sesuatu yg sangat penting sehingga Paman Tumenggung Bahu Reksa mengirimkan dirimu datang kemari,..?" tanya Raka Senggani.
Ia bertanya pada prajurit Demak utusan dari Tumenggung Bahu Reksa itu.
" Maaf sebelum nya kanjeng Senopati , Kanjeng Tumenggung ingin segera bertemu dengan Kanjeng Senopati ," jawab prajurit penghubung itu.
" Kapan,..?" tanya Senopati Sandi Yuda Demak ini.
" Secepatnya, Kanjeng Senopati ,.." ucap Prajurit penghubung itu.
" Baiklah ,.. silahkan terlebih dahulu kembali nanti aku kan menyusul,.." sahut Senopati Bima sakti.
Segera saja prajurit penghubung itu berlalu dan segera kembali ke dalam kelompok nya yg di pimpin oleh Kanjeng Tumenggung Bahu Reksa.
__ADS_1
Ia segera meninggalkan tempat itu, sedangkan Sang Senopati dengan sangat cepat bergerak melesat di saat sore dengan lembayung yg menggantung di ufuk barat itu, ia melayang bagai burung Rajawali di antara kapal kapal kecil ,dirinya berloncatan agar segera sampai di Kapal perang milik Kanjeng Tumenggung Bahu Reksa.
Sebentar kemudian ia pun telah tiba di tempat yg menjadi tujuan nya yaitu kapal Jung milik Tumengggung Bahu Reksa itu.
Langsung saja Senopati Bima Sakti ini menemui Tumengggung Bahu Reksa.
" Ada apa Paman Tumengggung Bahu Reksa memanggil Senggani,..?" tanya Raka Senggani.
" Hehhh, ada sesuatu yg ingin Paman katakan padamu Angger Senopati,..!" seru Tumengggung Bahu Reksa.
" Hal apa itu Paman Tumengggung,..?" tanya Raka Senggani.
Akhirnya Tumengggung Bahu Reksa itu menceritakan, bahwa para penduduk tanah melayu ingin meninggalkan kota Melaka itu, sehingga mereka harus menyiapkan segala keamanan mereka agar dapat keluar dari tanah Melaka ini .
Bahkan Tumennggung Bahu. Reksa mengatakan bahwa mereka merasa sangat senang sekali jika di berikan kesempatan dapat ikut keluar dari tanah melayu dan akan tinggal di Jawadwipa.
" Apakah hal ini tidak akan menyulitkan kita Paman,..?" tanya Raka Senggani.
" Tidak Ngger,.. kita harus menolong mereka keluar dari penindasan para penjajahan asing ini, alangkah bersalah nya kita jika tidak mau menerima mereka untuk turut ke Demak,.." ungkap Tumenggung Bahu Reksa.
" Baiklah Paman Tumenggung jika memang demikian keputusan nya Senggani hanya akan menjalankan nya saja, kita akan mengawal mereka untuk keluar dari kota Melaka ini, beruntung tempat mereka akan keluar ini jauh dari benteng La Forteza ,sehingga kita hanya perlu mencegat Kapal Kapal perang mereka saja agar tidak mendekat, bukan begitu Paman,..!" seru Senopati Bima Sakti ini.
" Benar , Ngger, dan satu hal lagi, dirimulah yg menjadi pengawal dari Raden Abdullah Wangsa sampai tiba di Cirebon,.." ucap Tumenggung Bahu Reksa lagi.
" Paman Tumenggung tidak perlu khawatir dengan keselamatan atas adi Raden Abdullah , ia akan menjadi tanggung jawabku, Paman,.." sahut Senopati Bima Sakti ini lagi.
" Syukurlah ,.. Paman menjadi sangat tenang mendengarnya, karena jika gugurnya Kanjeng Gusti Sultan Demak ini telah sampai ke Kotaraja Demak.tentu sesuatu akan terjadi disana.." ucap Tumenggung Bahu Reksa.
" Maksud Paman Tumenggung,..?" tanya Senopati Sandi Demak ini tidak mengerti.
Panglima tertinggi armada laut Demak ini kemudian menjelaskan maksudnya, bahwa Kotaraja Demak pasti akan guncang jika mendengar berita mangkat nya Sang Sultan, tentu banyak diantara keturunan Sultan Demak pertama yg akan menginginkan Tahta Demak ini, kemungkinan ontran ontran pun akan terjadi, nyawa Raden Abdullah Wangsa menjadi sangat terancam karena merupakan pewaris tahta dari Kerajaan Demak ini.
Akhirnya Senopati Bima Sakti mengerti, bahwa dengan mangkatnya Kanjeng Gusti Sultan Demak kedua akan terjadi perbutan kekuasaan di Kotaraja Demak , itu sama artinya Raden Abdullah Wangsa yg juga memliki hak atas Tahta Demak ini akan berada di ujung tanduk akan niatan yg tidak menginginkan beliau itu duduk sebagai seorang Sultan menggantikan Ramanda nya yg baru tiga tahun saja duduk di atas Tahta Kerajaan Demak.
Setelah mendengar penuturan dari Tumenggung Bahu Reksa , Senopati Bima Sakti lebih paham menilai keadaan sekarang ini, dan ia berjanji akan menjaga keselamatan Raden Abdullah Wangsa ini segenap jiwa raga nya.
Sang pangeran , Putra Kanjeng Sultan Demak kedua ini telah dianggap nya sebagai saudara nya sendiri.
Raka Senggani pamit dari tempat Tumenggung Bahu Reksa, ia kembali ke Kapal nya sendiri , dengan tetap menjaga kewaspadaan nya, karena bagaimana pun juga mereka masih cukup dekat dengan pelabuhan Kota Melaka meski, Meriam dari dalam benteng tersebut tidak mampu mencapai mereka.
Dan pada keesokan harinya ,selepas sholat subuh, seluruh pasukan Demak mulai bergerak dari tempat itu dan mengarah ke tempat di mana Tumenggung Bahu Reksa berada, mereka mengawal para penduduk kota Melaka yg ingin keluar dari tanah kelahiran nya tersebut, setelah kegagalan Demak mengusir bangsa asing itu dari tsnah Melayu.
Sehingga membuat mereka tidak memiliki pilihan lain selain meninggalkan tempat itu.
Sekira sehari penuh mereka mengawal perpindahan para penduduk Melayu ini barulah seluruh Armada laut Demak ini bergerak meninggalkan tempat itu,
__ADS_1
Sebenarnya mereka tidak kalah hanya saja , Sang Sultan Demak telah mangkat jadi sudah tidak ada alasan lagi bagi mereka untuk melanjutkan perang, belum lagi mereka tidak berani mendekati kota Melaka lebih dekat lagi , takut Kapal Kapal mereka akan menerima nasib yg sama dengan Kanjeng Gusti Sultan Demak itu sendiri.
Sehingga iring iringan rombongan Kapal perang milik Kerajaan Demak memutar balik haluan nya untuk pulang , dan kali ini mereka di pimpin oleh Raden Hidayat atau Senopati Bima Sakti. setelah mangaktnya Kanjeng Gusti Sultan Demak kedua itu.