Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 29 Kabar itu datang. bag kedua.


__ADS_3

" Hentikan pertarungan ini,.!"


Terdengar lah suara yang keras nan menggelegar dan dengan di lambari tenaga tingkat tinggi, untuk siapa saja yang tidak memiliki bekal tenaga dalam tentu tubuh nya akan segera tumbang.


Pertarungan itu pun terhenti sesaat dan melihat ke arah asal suara itu datang.


Nampaklah lelaki yang sudah cukup tua berdiri tegak tidak jauh dari kedua orang yg tengah bertarung ini.


Baik Nyi Sriti Wengi maupun Ki Jayengkara berseru keras,.


" Kebo Anggara,..!" ucap mereka secara bersama sama


" Ya, aku Kebo Anggara, kalian berdua sudah gila , bertarung dan mempertaruhkan nyawa untuk sesuatu yg tidak jelas, bagaimana jalan pikiran kalian berdua , atau kah memang kalau ini sudah sinting,..!" seru Panembahan Lawu yg bernama asli Kebo Anggara.


Ia cukup heran dengan kedua orang yg tengah bertarung ini, akibat sesuatu yg tidak jelas mereka mau mempertaruhkan nyawa nya.


" Kalau kalian berdua mengeroyok kakang Argayasa untuk merebut sesuatu yg kalian yakini ia memliki nya, Aku masih dapat terima, akan tetapi ini, kalian berdua , tidak ada hujan tidak ada angin malah bertarung sendiri sesama kalian, aneh, sekarang urungkanlah niat kalian berdua ini melanjutkan perang tanding yg tidak ada gunanya , sebaiknyalah kalian kembali ke tampat masing masing, pulanglah,..!" kata Panembahan Gunung Lawu lagi.


Dua orang yg tengah bersiap untuk melanjutkan pertarungan nampaknya tersentuh mendengar ucapan dari Panembahan Gunung Lawu tersebut.


Baik Ki Jayengkara maupun Nyi Sriti Wengi telah menurunkan kedua tangan nya, sepertinya mereka berdua memang berniat untuk tidak melanjutkan permasalahan ini, terutama untuk Ki Jayengkara.


Ia cukup mengerti dan sangat paham dengan sikap dari penguasa Gunung Lawu ini yg sangat berbeda dengan saudara seperguruan nya Begawan Kakung Turah yg sangat sulit di tebak jalan pikirannya, kalau Panembahan Lawu adalah seorang yg kukuh pendiriannya dan tidak sembarangan dalam bersikap, sehingga banyak kalangan persilatan yang menghormati nya termasuk si Buta dari bukit tengkorak ini, di tambah lagi, ia pun sudah pernah bertarung dengan nya dan tidak mampu mengalahkan nya, untuk itulah ia kemudian berkata,.


" Baiklah , Ki Kebo Anggara, aku mohon pamit, maaf atas kekeliruan kami ini, sungguh tidak ada niatan untuk bertarung dengan Nyi Sriti Wengi , Ningrum mari kita tinggalkan tempat ini,. !" ucap Ki Jayengkara.


" Baik,..Guru,..!" sahut Ningrum.


Gadis itu terluka pada lengan kirinya setelah ia bertarung dengan Tara Rindayu dan demikian pula dengan putri juragan Tarya itu, dari pundaknya pun kelihatan nya telah meneteskan darah.


Nyi Sriti Wengi yg melihatnya segera berseru,..


" Kau terluka , Ndhuk,..?" tanya nya agak keras.


" Ahh,..tidak apa-apa Guru, luka ini tidak terlalu jika harus di bandingkan dengan luka hatiku,..!" ucap Tara Rindayu lirih.


Ia masih memegangi pundaknya dengan tangan kanan nya, darah masih saja keluar dari luka tersebut. Buru buru Nyi Sriti Wengi menghampiri nya dan langsung menotok di sekitar luka tersebut agar menghentikan jalan darah .


Nyi Sriti Wengi masih memandangi ke arah Ki Jayengkara yg telah beranjak dari tempat tersebut bersama muridnya Ningrum.


" Urusan kita belum selesai , Jayengkara, lain waktu kita lanjutkan lagi, Aku tidak terima perlakuan muridmu itu terhadap muridku,..!" ucapnya pada Ki Jayengkara.


Si buta dari bukit tengkorak ini pun lantas menghentikan langkahnya dan menoleh kembali kepada Nyi Sriti Wengi.


" Bukankah muridku pun telah terluka pula , Siritem, jika dalam satu pertarungan ada yg yg terluka bahkan sampai tewas itu adalah hal yang wajar, Aku tidak akan memperpanjang masalah ini ,terlebih disini ada Ki Kebo Anggara, aku merasa malu dengan diriku sendiri,.." jawab Ki Jayengkara.


Nyi Sriti Wengi ingin membalas ucapan dari si Buta dari bukit tengkorak itu namun Tara Rindayu mencegah nya sambil berkata,.


" Sudahlah guru, sebaiknya kita tinggalkan tempat ini,..!" katanya kepada sang Guru.


" Benar yg dikatakan oleh muridmu itu Siritem, sebaiknya tinggalkanlah tempat ini, toh Kakang Argayasa sudah tidak berada lagi disini, untuk apalagi menungguinya, mungkin ia tidak akan kembali lagi kemari,!" ucapnya Panembahan Lawu.


Ia pun telah melangkah mendekati Raka Senggani yg masih saja mengawasi keadaan Kakak sepupu nya yg kini telah mendapatkan totokan dari nya.


Langkahnya ini lantas di ikuti oleh Nyi Sriti Wengi dan Tara Rindayu.


Mereka bertiga tampaknya akan menghampiri Raka Senggani .


Sementara itu Raka Senggani sendiri tengah berada di dekat saudara sepupunya ini. Ia berusaha untuk menyadarkan pemuda itu dari sikap nya yg rerus bermusuhan dengan nya.


" Kakang Yantra, sudahilah permusuhan antara kita berdua ini, bukankah kita masih bersaudara,.!" ucap nya.


Raka Yantra memandang geram adik sepupunya ini, tampak wajah nya sangat tidak senang dengan ucapan dari Raka Senggani ini.


" Senggani , lebih baik kau lepaskan totokan ini, mari kita lanjutkan Perang Tanding ini,..!" seru Raka Yantra.

__ADS_1


" Tidak ada gunanya Kakang Yantra,.bukankah kakang telah mengetahui sendiri siapa yang telah membunuh Paman Raka Jang itu, mereka adalah saudara seperguruan kakang Yantra sendiri, jadi untuk apa kita berkelahi, lebih baik kita berdamai saja, kakang,.!" jawab Raka Senggani.


" Mana sudi Aku berdamai dengan mu Senggani,..!" ucap Raka Yantra dengan ketusnya.


" Apa sebabnya, Kakang,.apa yg membuat mu membenciku sedemikian rupa, apa salahku padamu kakang,..?" tanya Raka Senggani.


" Aku ingin membuktikan ucapan orang orang yg mengatakan bahwa dirimu itu bukanlah siapa -siapa, dan bukan juga seorang yang pantas untuk di takuti , Aku pastikan hal itu,..jadi lepaskan lah totokan ini kita lanjutkan lagi pertarungan,!" ucap Raka Yantra lagi.


Mendengar hal itu maka Raka Senggani pun berujar,.


" Baiklah Kakang Yantra jika memang demikian keinginan mu, Senggani akan meninggalkan tempat ini, jika dirimu merasa memiliki ilmu yg sangat tinggi silahkan lah lepas sendirj totokan itu,.. Aku pergi Kakang,..!" kata Raka Senggani.


Ia pun bangkit berdiri dari tempat itu dan melangkah pergi meninggalkan Raka Yantra dalam keadaan masih tertotok.


Akan tetapi belum pun ia berada jauh dari situ sebuah suara memanggil nya,.


" Kakang Senggani,..!" seru seseorang.


Raka Senggani menoleh ke asal suara itu dan berucap,.


" Rindayu,..!"


Memang ia melihat Putrie dari Juragan Tarya ini tengah berdiri dekat dengan gurunya Nyi Sriti Wengi dan Panembahan Lawu yg datang ke tempat tersebut.


" Kau terluka Rindayu,..?" tanya Raka Senggani lagi.


Ia memang melihat pundak gadis cantik itu ada bekas bercak darahnya yg terlihat membasahi bajunya meskipun sudah tidak mengalir keluar lagi darah dari luka tersebut.


" Ahh, ini tidak seberapa dengan di bandingkan luka dslam hatiku , Kakang Senggani,..!" sahut Tara Rindayu.


Raka Senggani terdiam, mulutnya terasa kaku mendengar jawaban dari gadis ini. Memang ia sempat merasa bersalah setelah memutuskan untuk menikahi Sari Kemuning daripada harus memilih Tara Rindayu pada waktu itu.


Memang sebenarnya , dalam hati dari Senopati Brastha Abipraya masih teramat menyayangi putri Juragan Tarya ini akan tetapi jika ia harus memilih nya untuk di jadikan sebagai seorang istri , Raka Senggani tidak merasa çocok dengan orang tua dari Tara Rindayu, sehingga ia memutuskan untuk menikahi Sari Kemuning.


" Bagaimana Ngger,.. apakah dirimu dalam keadaan baik,.?" tanya Panembahan Lawu .


" Ehh, iya Eyang ,..Senggani masih dalam keadaan baik,..!" jawab Raka Senggani.


" Kakang Senggani, lepaskanlah totokan mu atas Kakang Yantra ini,..!" pinta Tara Rindayu.


Raka Senggani kembali mendekati mereka dan langsung berkata,.


" Rindayu ,..bukannya Kakang tidak ingin melepaskan totokan pada kakang Raka Yantra itu, akan tetapi ia masih ngotot untuk bertarung,..jadi untuk itulah kakang mengatakan kepadanya untuk berusaha melepaskan sendiri totokan tersebut, jika ia memang mampu ,!" terang Raka Senggani.


" Memang kau terlalu pengecut Senggani,.ayo lepaskan totokan ini kita bertarung lagi,..!" teriak Raka Yantra.


Setelah ia mendengar pernyataan dari adik sepupu nya tersebut


" Sudahlah Kakang Yantra, Senggani tidak ingin berdebat, jadi Aku mohon pamit,..!" ucap Raka Senggani lagi.


Ia pun segera meninggalkan tempat tersebut, tinggallah kini empat orang itu saja yg berada di dekat Raka Yantra.


" Apakah Kakang Kebo Anggara tidak mampu melepaskan totokan ini,..?" tanya Nyi Sriti Wengi kepada Panembahan Lawu.


Kini yg menjadi kelihatan bingung dan serba salah adalah Penguasa Gunung Lawu.


" Baiklah , aku akan mencoba melakukan nya,..!" ucap Panembahan Lawu.


Ia pun berjongkok dan melakukan sesuatu pada tubuh Raka Yantra, tidak terlalu lama kemudian pemuda ini mampu untuk berdiri.


" Aku pun akan segera kembali, selamat tinggal semuanya, !" uca Panembahan Gunung Lawu.


Ia pun lantas melesat mengejar Raka Senggani yg telah jauh meninggalkan tempat tersebut.


Tampaknya ada sesuatu yg ingin di sampaikan oleh penguasa Gunung Lawu ini kepada Raka Senggani.

__ADS_1


Sementara itu Raka Senggani yg telah bersama Ki Lintang Panjer Suruf segera mendapati sesuatu yg aneh menurut nya.


" Ada apa Ki Lurah,..?" tanya Raka Senggani kepada Lurah prajurit sandi ini.


Ki lurah Lintang Panjer Suruf nampak sangat resah dan wajah nya terlihat menegang.


" Ahh, Ki Lurah jangan membuatku penasaran,.!" seru Raka Senggani lagi.


Sambil menunduk dan tidak mampu memandangi wajah bekas Senopati nya ini , ia menjawab,.


" Ada sesuatu Kabar yg cukup tidak mengenakan , Senopati Bima Sakti,..!" ucapnya pelan.


" Mengenai hal apa Ki Lurah,..?" tanya Raka Senggani yg semakin penasaran.


Kembali Ki Lurah Lintang Panjer Suruf terdiam serasa ia tidak mampu untuk menjawab pertanyaan dari Senopati Brastha Abipraya ini.


" Katakan lah Ki Lurah , jangan membuatku semakin penasaran,..!" ucap Raka Senggani lagi.


" Baru saja tadi datang kemari salah seorang prajurit sandi yg mengatakan kabar yg sangat tidak mengenakan mengenai dirimu, Senopati Bima Sakti,..!" terang Ki Lurah Lintang Panjer Suruf.


" Kabar apa itu Ki Lurah,..apa berita yg telah kau terima itu , dari Demak atau dari Pajang,..?" tanya Raka Senggani.


" Dari Demak , Senopati,..!" jawab Ki Lurah Lintang Panjer Suruf.


" Mengenai diriku , apakah kiranya berita itu,..?" tanya Raka Senggani lagi.


Ki Lurah Lintang Panjer Suruf kemudian menjelaskan kabar berita yang baru di terima nya tadi dari salah seorang prajurit sandi yg menyebutkan bahwa Senopati Pajang ini telah mendapatkan kedua benda pusaka yaitu keris Kyai Nogo Sosro dan Kyai Sabuk Inten, akan tetapi keduanya telah di berikan kepada Pangeran Abdullah Wangsa , salah seorang putra dari Senopati Sarjawala atau yg lebih di kenal dengan sebutan Pangeran Sabrang Lor.


" Gila , ini tidak mungkin terjadi jika tidak ada orang dalam istana yg telah menghembuskan fitnah yang cukup kejam ini,..!" seru Raka Senggani dengan sangat berangnya.


Tangannya sampai ia kepal dengan sangat kuatnya, tampaknya ia tengah menahan emosinya yang ingin meledak itu. Terbayang dalam ingatan nya saat ia meninggalkan Kotaraja Demak baru baru ini, Ia telah di cegat empat orang perwira.


Yah, apakah ini ada hubungannya dengan kejadian saat itu, dimana Tumenggung Sangga Wira dan Tumenggung Kebo Wana telah mencegatku saat kembali dari Demak pada waktu, membathin Raka Senggani dalam hatinya.


" Apa yg sedang Senopati pikirkan,..?" tanya Ki Lurah Lintang Panjer Suruf.


" Diriku pernah di cegat empat orang perwira Demak saat akan kembali ke desa Kenanga, apakah mungkin mereka yg telah memfitnahku,..?" tanya Raka Senggani.


" Aku tidak tahu Senopati, yg jelas saat ini sangat banyak sekali petinggi kerajaan Demak yg berkeinginan untuk melenyapkanmu Senopati Bima Sakti,.!" sahut Ki Lurah Lintang Panjer Suruf.


" Untuk apa mereka melakukan hal ini, bukankah diriku saat ini tidak menjadi seorang prajurit di Demak , apa untung nya buat mereka,.. kekuatan dan kekuasaan ku atas prajurit sandi yuda tidak lagi dalam genggaman ku, untuk apa mereka melakukan hal ini,..!" ungkap Raka Senggani sambil mendesah.


Sungguh dalam hati Senopati Brastha Abipraya ini sangat sulit menerima bahwa terlalu banyak orang yang membenci dirinya padahal ia saat ini sudah tidak bertugas dalam keprajuritan Demak.


" Mungkin karena kedekatan Senopati Bima Sakti dengan Pangeran Abdullah Wangsa, yg mereka yakini masih memiliki kekuatan dan kemampuan untuk merebut tahta Demak,.!" terang Ki Lurah Lintang Panjer Suruf.


" Benar juga yg kau ucapkan itu Ki Lurah, kalau begitu sebaiknya kita tinggalkan tempat ini, mari Ki Lurah ,..!" kata Raka Senggani.


Ia pun bergegas untuk meninggalkan tempat tersebut , dan ketika tiba-tiba ada suara yang memanggil nya,..


" Kakang Senggani , tunggu sebentar,..!" seru suara seorang perempuan.


Baik Raka Senggani dan Ki Lurah Lintang Panjer Suruf segera menoleh dan mereka melihat Dewi Rasani Mayang telah berdiri tidak jauh dari mereka.


" Ada apa Mayang,..!" sahut Raka Senggani.


Gadis nampak celingukan melihat ke kiri dan ke kanan baru kemudian ia berkata menjelaskan.


" Kakang Senggani , Mayang mohon kepadamu untuk dapat menolong menyembuhkan kakang Kuda Wira,..!" ucapnya.


" Hehhh..!"


Raka Senggani sangat terkejut mendapati permintaan murid Mpu Loh Brangsang ini, bukankah selama ini mereka selalu bermusuhan, meskipun secara pribadi Dewi Rasani Mayang tidak pernah membenci nya ,bahkan ketika suatu saat ia berhasil di tawan oleh Mpu Loh Brangsang , Dewi Rasani Mayang lah berusaha untuk menolongnya.


Namun dengan Raden Kuda Wira ini serasa ada beban tersendiri kalau harus menolongnya, bukankah dirinyalah yang telah menyerang nya secara gelap dan juga telah membunuh Paman nya Raka Jang orang tua dari Raka Yantra itu.

__ADS_1


" Apakah kau tidak salah , Mayang,..?" tanya Raka Senggani.


" Mayang tahu ,kakang Senggani memiliki keluasan hati dan perasaan,.jadi Mayang sangat yakin Kakang Senggani mau menolongku dan Kakang Kuda Wira,.!" ungkap Dewi Rasani Mayang.


__ADS_2