
Sementara itu di desa Kenanga sendiri, acara lamaran yg akan di lakukan oleh Raka Senggani sudah tinggal esok hari.
Di rumah Kediaman dari Raka Jang, Paman dari sang Senopati telah ramai.
Dengan kedatangan dua orang pejabat Istana Demak dan kadipaten Pajang. Yaitu Kanjeng Tumennggung Bahu Reksa dari Demak dan Kanjeng Tumennggung Wangsa Rana dari Pajang.
Pategalan si mbok Rondo menjadi lain dari biasanya , lebih ramai. Terlihat beberapa ekor kuda sedang tertambat a depan rumah Paman Raka Senggani tersebut.
" Ahh, apa kabarnya adi Wangsa Rana,..?" tanya Tumennggung Bahu Reksa.
" Baik kakang , Bahu Reksa,..!" jawab Tumenggung Wangsa Rana.
Karena memang kehadiran dari Tumenggung Bahu Reksa adalah lebih dahulu tiba di desa Kenanga dari Tumenggung Wangsa Rana.
Keduanya segera saling sapa dan berpelukan , terlebih saat ini Tumenggung Bahu Reksa telah menjadi panglima armada pasukan Demak ketika Kanjeng Pangeran Sabrang Lor diangkat sebagai seorang Sultan menggantikan Sultan Demak pertama yg telah mangkat.
Walaupun pangkat keduanya sama sama Tumenggung , tetapi jelas Tumenggung Bahu Reksa merupakan pimpinan dari seluruh prajurit dari Kerajaan Demak termasuk dengan para prajurit Pajang sendiri yg merupakan wilayah bawahan dari Demak.
Keduanya memang sudah saling kenal bahkan telah menjadi sahabat tatkala perang melawan Majapahit pada waktu dahulu ketika usia mereka masih sangat muda.
Jadi diantara keduanya tidak memiliki persoalan , terlebih kedekatan keduanya terhadap dengan Senopati Brastha Abipraya atau Senopati Lintang Bima Sakti.
Untuk keperluan nyalah kedua pejabat tinggi keraton Demak dan Pajang ini berada di desa Kenanga , suatu desa yg masih menjadi wilayah kadipaten Pajang.
Atas kehadiran kedua pembesar Kerajaan ini, sengaja Ki Bekel mengirimkan beberapa orang perempuan yg bertugas untuk mengurusi makanan mereka dengan di pimpin oleh Dewi Dwarani , putri Ki Bekel sendiri.
Sehingga , baik Ki Lamiran maupun Raka Jang tidak harus memikirkan urusan makanan mereka ketika berada di kediaman Raka Jang ini.
Karena bagaimana pun juga , saat ini sang tuan rumah tidak sedang berada disana, karena memang Raka Senggani sedang bertugas ke wilayah bang Wetan.
" Oh,..iya kakang Bahu Reksa, apakah kita tetap akan melanjutkan lamaran ini meski angger Senopati tidak berada di rumah,..?" tanya Tumennggung Wangsa Rana.
Sambil ia membetulkan keris yg terselip di pinggangnya, karena ia tengah duduk bersila.
" Harus ,..adi Wangsa Rana,..kita harus melanjutkan acara ini, walaupun angger Senggani tidak sedang beradae di rumah,.." sahut Tumenggung Bahu Reksa.
Pembicaraan keduanya terhenti tatkala beberapa orang menghidangkan makanan dan minuman ke hadapan kedua orang tersebut.
Kemudian diikuti dari belakang dengan kehadiran paman dari Raka Senggani,..Ki Raka Jang dan di susul pula oleh Ki Lamiran di belakangnya.
Ki Lamiran kemudian berkata,.
" Maafkan atas sambutan kami , jika kurang berkenan di hati Kanjeng Tumenggung berdua ,.." ucap Ki Lamiran.
Pande besi desa Kenanga itu terlihat lebih nampak rapi , karena ia tengah menghadapi dua orang pembesar Keraton Demak dan Pajang ini.
Ia kemudian memperkenalkan Ki Raka Jang kepada keduanya, paman dari Raka Senggani ini agak terlihat gugup ketika harus berhadapan dengan para pembesar Keraton,.maklum selama hari ini ia sangat jarang bertemu dengan orang. Jangan kan seorang pejabat setingkat desa atau Kademangan, untuk orang biasa pun ia hampir tidak pernah bertemu.
Dan kali ini dihadapannya duduk dengan gagah nya dua orang pembesar keraton dengan penampilan yg sangat baik . Ada rasa rendah diri di hati Paman Raka Senggani tersebut.
Akan tetapi Tumenggung Bahu Reksa yg sudah menganggap Raka Senggani adalah anaknya sendiri segera berujar setelah melihat kekakuan dari sikap Orangtua itu.
" Kita disini semua adalah saudara,..Ki Raka Jang, tidak usah terlalu sungkan apalagi sampai merasa rendah, karena kami berdua ini tidak lah lebih baik dari Ki Raka Jang dan Ki Lamiran sendiri,..!" ucapnya.
" Maaf Kanjeng Tumenggung ,..!" ucap Ki Raka Jang lagi.
" Ahhh, tidak usah panggil Kanjeng kepada kami, anggap saja kami ini adik dari Ki Raka Jang, karena kami pun telah menganggap Angger Senggani anak kami sendiri , bukan begitu adi Wangsa Rana,..!" seru Tumenggung Bahu Reksa.
Tumenggung Wangsa Rana menganggukkan kepala, ia juga menambahkan bahwa sikap luhur budi dari keponakan Raka Jang inilah yg patut untuk di tiru dan di contoh, karena beliau memang berhati seluas samudra. Dan amat menghormati orang tua termasuk mereka berdua.Jelas Tumenggung Wangsa Rana.
__ADS_1
Setelah mendengar hal tersebut barulah Ki Raka Jang tidak terlihat malu ataupun segan lagi.
Ia ikut turut mendengarkan pembicaraan dari kedua pembesar Keraton Demak dan Pajang itu saat membicarakan masalah dari Raka Senggani.
" Apakah memang Angger Senopati tidak dapat pulang kakang Bahu Reksa,..?" tanya Tumennggung Wangsa Rana.
" Tidak adi Wangsa Rana,..mungkin selama satu purnama baru ia dapat kembali kemari ,.." jawab Tumenggung Bahu Reksa.
Hal itu di tanyakan oleh Tumenggung Wangsa Rana kepada Tumenggung Bahu Reksa karena ia tahu keadaan dan posisi dari Senopati Brastha Abipraya ini
Mendengar hal itu, baik Ki Lamiran maupun Ki Raka Jang agak terkejut. Keduanya kemudian menanyakan bagaimana dengan urusan kali ini.
Begitulah pertanyaan dari kedua orang dekat Raka Senggani yg ada di desa Kenanga ini.
Oleh Tumenggung Bahu Reksa dijawablah pertanyaan dari kedua orang tua dari Raka Senggani ini, bahwa semua rencana tetap di jalankan sebagaimana mestinya, bahkan kalau dapat acara pernikahan dari keduanya di percepat lebih baik.
Setelah mendengar penjelasan dari orang yg menjadi kepercayaan Kanjeng Gusti sinuwun itu, hati keduanya menjadi lebih tenang.
Ki Lamiran , pande besi dari desa kenanga memberanikan diri bertanya,..
" Mengapa harus di percepat , Ki Tumenggung,..?" tanya nya.
Tumenggung Bahu Reksa menarik nafas dalam dalam, ia kemudian mengatakan,..
" Tampaknya Kanjeng Sinuwun tetap akan melanjutkan usaha nya yg sempat gagal itu,.ia ingin segera menyerang kembali pasukan asing yg ada di Melaka itu, dan nampaknya tidak akan lama lagi,.."
Kembali orang orang yg berada di rumah Paman Raka senggani ini menjadi terkejut mendengarnya.
" Yahh, tampaknya saat itu tidak akan lama lagi, jadi sebaiknya angger Senggani segera menikah sebelum hal tersebut terjadi ,.." sambung Tumennggung Bahu Reksa.
Tumennggung Wangsa Rana pun menjadi gelisah setelah mendapatkan penjelasan dari Tumennggung Bahu Reksa tadi.
Ia pun kemudian membicarakan hal mengenai senopati Brastha Abipraya.
" Jika memang akan segera terjadi peperangan mengapa kakang Bahu Reksa malah menyarankan angger senopati untuk melangsungkan pernikahannya,..?" tanya nya.
Tumennggung Bahu Reksa menjawab pertanyaan tersebut karena melihat keinginan dari Raka Senggani yg kuat untuk segera mengakhiri masa lajangnya.
Dan jika harus menunggu sesudah peperangan terjadi adalah sesuatu yg kurang baik, memang nyawa seorang anak manusia itu berada di tangan yg maha kuasa , tetapi setelah ia merasakan keras dan sulitnya perang dengan berhadapan pasukan bangsa asing itu pada waktu yg lalu membuat, separuh nyawa sudah hilang sebelum berperang, jelas nya.
Ia melanjutkan , bahwa pasukan yg kembali dari peperangan tersebut hanya tinggal seperempatnya saja, bahkan mungkin tidak sampai sebanyak itu.
Semua yg mendengarkan nya mempunyai pikiran yg berbeda beda menanggapinya.
Jika Tumennggung Wangsa Rana yg sudah terbiasa dengan yg namanya senjata tidak merasa heran lagi, akan masalah kalah dan menang dalam suatu peperangan.
Jika di benak Ki Lamiran , ia tidak terlalu meragukan kemampuan dari Raka Senggani, walau ia tidak dapat menepis kecemasan, bahwa sesakti apa pun seseorang itu pasti akan mati.Jika yg maha Kuasa memanggilnya kembali untuk menghadapnya.
Berbeda dengan Paman Raka Senggani, Ki Raka Jang,..ia yg tidak terbiasa dengan kata perang, malah nampak sangat bersedih, ia mengkhawatirkan keaelamatan dari keponakan nya yg telah menerima dirinya dengan tulus dan bahkan sangat baik,..melebihi dari istri dan anaknya sendiri, Raka Jang merasa sang keponakan nya itulah satu satunya saudara nya yg tinggal di dunia ini, jika ia harus pergi berperang ke Lor dan tidak akan kembali lagi, bagaimana kah hati dan perasaan nya.
Ahh, angger Senggani memiliki ilmu yg sangat tinggi tentu tidak semudah itu ia akan tewas , kata Raka Jang dalam hati.
Raka Jang berusaha menghibur dirinya sendiri agar tidak larut dalam kesedihan.
Melihat semua orang yg ada di rumah Ki Raka Jang bersedih hati, ada rasa bersalah di hati Tumennggung Bahu Reksa, karena ia telah mengatakan sesuatu yg menyebabkan mereka jadi sedih dan takut.
" Maaf,.. sebelumnya , bukan maksudku untuk membuat kalian sedih , disaat rasa senang yg akan di alami oleh Angger Senggani,..tetapi ini aku utarakan agar pernikahan nya dapat lebih di percepat,.. itu saja,," jelas Tumennggung Bahu Reksa lagi.
Kemudian ia menambahkan , bahwa sebagai seorang prajurit tentu harus tunduk dan patuh terhadap perintah pimpinan dalam hal ini adalah Sultan Demak sendiri.
__ADS_1
Mereka pun dapat maklum dengan keadaan tersebut. Keempatnya tidak lagi membicarakan mengenai niatan dari Sultan Demak , mereka lebih baik membicarakan masalah besok hari ketika akan mengunjungi rumah Ki Jagabaya yg dalam hal ini adalah keluarga calon besan dari keluarga Raka Senggani.
" Baiklah kalau begitu,..kami akan mempersilahkn kepada Ki Tumennggung berdua untuk beristrahat atau pun jika memang ingin sekedar mandi,..di belakang ada sebuah sendang yg airnya cukup jernih dapat membuat tubuh adem,.." kata Ki Lamiran.
Orang tua ini mengatakan demikian kepada pembesar Keraton Demak dan Pajang karena memang saat itu hari telah mulai petang. Sebentar lagi matahari akan tenggelam.
Sedangkan para prajurit pengawal dari kedua Tumennggung itu sudah bergantian melakukannya.
Mereka secara bergiliran membasuh tubuhnya disana.
Keadaan cukup ramai saat malam telah tiba di desa Kenanga. Banyak obor yg di pasang di sekitar rumah yg baru selesai di bangun.
Bahkan malam itu Ki Bekel menyempatkan diri untuk datang kesana, dengan di iringi oleh putra nya Jati Andara dan putra dari Ki Jagabaya,..Japra Witangsa.
" Kami sangat senang sekali dengan kehadiran Kanjeng Tumennggung berdua di desa kami yg kecil ini,.." ucap Ki Bekel.
Mereka datang disana saat selesai makan malam yg diadakan di rumah Raka Jang ini.
Namun begitu, Ki Lamiran tetap menyajikan rebus pisang dan Ketela singkong panas dengan parutan kelapa.
Dari aroma yg keluar membuat orang -orang yg berada di situ segera menyerbu makanan tersebut.
Dan setelah mendengar ucapan dari pemimpin desa Kenanga itu, Tumennggung Bahu Reksa segera membalas nya,..
" Kami juga sangat senang sekali telah dapat menyempatkan diri untuk datang kemari, karena salah seorang putra terbaik desa ini telah memanggil kami untuk datang , bukan begitu adi Wangsa Rana,.." kata Tumenggung Bahu Reksa.
" Benar kakang Bahu Reksa,..jika tidak karena angger senopati,.mungkin kita berdua tidak akan pernah datang kemari,..terlebih beberapa waktu yg lalu kami mendengar sang Adipati anom pun telah singgah pula disini,.." sahut Tumenggung Wangsa Rana.
" Benar Kanjeng Tumenggung, beberapa hari yg lalu , Kanjeng Pangeran berdua telah pun singgah di desa kami ini, kami memang merasa beruntung dengan adanya Angger Raka Senggani di desa kami ini, di sebabkan beliaulah, desa ini menjadi pusat perhatian dari Kotaraja Demak dan Pajang,.." ucap Ki Bekel.
Pada kesempatan itu, Bekel desa Kenanga ini bertanya secara pribadi kepada Tumenggung Bahu Reksa mengenai penerimaan dari para prajurit baru di Kotaraja Demak.
Mendengar hal itu, Tumenggung Bahu Reksa amat terkejut, karena sebenarnya Bekel desa Kenanga ini tidak harus bertanya kepada nya,..
" Angger Senggani dapat menerima dan menjadikan Angger Jati Andara ini sebagai prajuritnya, dan memang saat ini Demak masih memerlukan para pemuda yg bersedia untuk menjadi seorang prajurit,.." jelas Tumenggung Bahu Reksa.
Ki Bekel amat terkejut atas penjelasan dari pembesar Keraton Demak itu, ia melirik ke arah putranya sendiri. Seolah olah bertanya,.mengapa anaknya Jati Andara tidak meminta kepada Raka Senggani agar dapat menjadi seorang prajurit Demak, padahal sang Senopati Demak dan Pajang ini amat dekat denganya, bahkan ia adalah salah seorang muridnya.
Jati Andara yg melihat tatapan orang tuanya tersebut hanya dapat menundukkan wajah nya, tidak berani menentang nya.
Lantai rumah itulah yg jadi tujuan pandangan nya.
Malam itu secara tidak resmi adalah penyambutan dari pimpinan desa Kenanga terhadap dua orang pembesar Keraton Demak dan Pajang, yg kali ini tidak bertugas atas nama Kerajaan melainkan atas nama pribadi, selaku orang tua yg ingin melamarkan seorang perempuan yg akan di nikahkan kepada anak laki laki nya sendiri.
Tetapi apa pun itu, kedua orang ini adalah orang orang penting yg ada di Demak dan Pajang jadi sudah selayaknyalah Ki Bekel menyambutnya.
Lewat twngah malam rombongan Ki Bekel kembali, dan bersamaan itu pula, dua orang Tumenggung itupun beristrahat.
Ki Bekel dalam perjalanannya pulang segera menanyakan hal yg tadi di tanyakan nya kepada Tumennggung Bahu Reksa.
" Mengapa dirimu tidak mengatakan hal ini kepada angger Senggani,..Andara,..?" tanya nya.
Dan Jati Andara diam seribu bahasa ia tidak dapat menjawab pertanyaan dari orang tua nya itu.
" Hehh,..mengapa dirimu diam saja, apakah dirimu memang sudah tidak punya mulut lagi untuk berbicara,..atau memang dirimu tidak dapat Romo banggakan sebagai seorang prajurit,..?" tanya nya lagi.
Pemimpin desa Kenanga ini mempercepat langkahnya agar segera tiba di rumah.
Di belakangnya ada jati Andara yg tidak tahu harus berbuat apa-apa, setelah Romonya terlihat marah dan sangat geram kepadanya.
__ADS_1