Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 6 Pembalasan bagian ke tujuh.


__ADS_3

Prajurit jaga itu segera memanggil Senopati Brastha Abipraya untuk datang menghadap.


Dengan di temani oleh Tumenggung Wicaksana, maka Raka Senggani pun segera menghadap ke istana Demak.


" Mohon ampun beribu -ribu ampun, Kanjeng Sinuwun , ada apakah kiranya Kanjeng Sinuwun memanggil hamba,?" tanya Raka Senggani kepada Sultan Demak itu.


" Menurut penuturan Mpu Supa Mandrangi bahwa Senopati Brastha Abipraya lah yg telah menewaskan dua Pemimpin dari rombongan yg ada di Matahun itu, benarkah demikian Senopati ,?" tanya Sultan Demak itu.


" Demikian lah, Kanjeng Sinuwun, meskipun secara jujur hamba katakan kepada Kanjeng Sinuwun bahwa ada rasa dendam pada perang tanding kali ini, dan hamba merasa bersalah dalam hal ini, hamba mohon ampun Kanjeng Sinuwun," ucap Raka Senggani sambil merangkap kan kedua tangan nya.


" Tidak masalah , Senopati Brastha Abipraya, selama kita pada jalur kebenaran kita memang hanyalah manusia biasa , rasa benci, rasa suka , rasa marah, rasa dendam dan rasa cinta itu adalah naluriah seorang anak manusia, dan untuk kali ini Senopati Brastha Abipraya akan Ku perkenankan untuk tinggal di Kasatrian agar bisa memberikan suatu pandangan atau lebih tepat nya pendidikan langsung kepada para cucu cucu ku, yg berada di sana, dan Aku berharap Senopati Brastha Abipraya mau menerima nya untuk beberapa waktu tinggal di bangsal Kasatrian,!" ucap Sultan Demak itu.


" Hamba Kanjeng Sinuwun, hamba akan melaksanakan segala titah dari Kanjeng Sinuwun,!" jawab Raka Senggani.


" Prajurit , antarkan Senopati Brastha Abipraya ini ke bangsal Kasatrian, dan jangan lupa perkenalkan ia kepada para Pangeran yg berada di sana,!" perintah Sultan Demak itu.


" Sendika dalem, Kanjeng Sinuwun,!" ucap Prajurit itu .


Ia pun membawa Raka Senggani ke bangsal Kasatrian yg berbatas langsung dengan Kaputren meski di pagari tembok yg cukup tinggi.


Sesampai nya di bangsal Kasatrian itu , Raka Senggani langsung di perkenalkan kepada seluruh penghuni Kasatrian, yg umum nya adalah keturunan Sultan Demak itu.


Diantaranya ada putra -putra dari Pangeran Adipati unus yg juga merupakan seorang Adipati anom dari kerajaan Demak itu.


Tiga orang putra dari Sang Adipati Anom itu merupakan Pangeran -pangeran yg ber wajah sangat tampan dan berhati sangat baik.


Dan lagi masih seumuran dengan Raka Senggani.


" Saya bernama Raka Senggani dan bergelar Brastha Abipraya dari Pajang,!" kata Raka Senggani memperkenalkan diri.


" Wah , wajah mu sangat tampan, dan sepak terjang mu sudah cukup membuat Demak ini terguncang,!" ucap salah seorang Pangeran.


Pangeran tersebut bernama Arya Wangsa, dan putra tertua dari Pangeran Adipati unus atau Adipati Anom.


" Perkenalkan namaku , Arya Wangsa, putra dari Pangeran Adipati unus,!" ucap nya memperkenalkan diri.


" Dane Aku , Pangeran Suryadi Wangsa , putra dari sang Romo, Adipati unus," kata seorang lagi.


" Sedang kan namaku adalah Abdullah Wangsa ,juga merupakan putra dari Romo kami yaitu Pangeran Adipati unus, yg saat ini sedang melawat ke melaka,!" ucap yg satu lagi.


Dan diantaranya itu adae juga Pangeran Prawoto, dan Pangeran Timur yg masih sangat kecil , kedua nya merupakan putra dari Pangeran Trenggono.


Raka Senggani yg berqsa di Kasatrian merasa sangat senang dan merasa cocok dengan kehidupan para Pangeran tersebut, terutama dengan Pangeran Abdullah Wangsa.


" Tolong Kakang Senopati ceritakan kepada kami mengenai keberhasilan dari Kakang Senopati sebagai Prajurit di medan perang ,!' pinta Raden Abdullah Wangsa.

__ADS_1


Raka Senggani agak kebingungan menjawab pertanyaan itu, karena ia merasa belum pernah melakukan perang yg sesungguh nya, hanya sekedar membasmi para kawanan begal dan rampok saja.


" Maaf sebelum nya, Kanjeng Pangeran semua nya, bahwa pertanyaan atau permintaan dari Pangeran Abdullah itu sulit bagiku untuk menjawab nya, karena sesungguh nya aku belum pernah melakukan perang yg sesungguh nya, hanya sekedar memberantas para kawanan rampok saja, itulah yg pernah Aku ikuti, jadi dalam artinya Aku belum pernah merasakan perang sesungguh nya yaitu bertemu nya dua pasukan Prajurit yg saling berhadapan, seperti saat ini yg di lakukan oleh Pangeran Adipati Anom,!" jelas Raka Senggani.


" Tidak mengapa Kakang Senggani, apa pun itu , asalkan nama nya perang, baik perang tanding, perang antara dua pasukan kuat yg bertemu atau perang memberantas para perampok, kami ingin mendengar nya," kata Raden Arya Wangsa.


" Baik , Baiklah , jika memang kalian ingin mendengar cerita ku, aku akan menceritaknnya kepada kalian semua,!" jawab Raka Senggani.


" Dan satu hal lagi, kakang Senggani tidak usah terlalu unggah ungguh, panggil saja nama kami, atau adi, selayak nya kita bersaudara ,," pinta Raden Suryadi Wangsa.


" Baiklah adi Suryadi Wangsa, " jawab Raka Senggani.


Kemudian Raka Senggani mulai menceritakan beberapa hal tentang pertarungan nya dengan tokoh -tokoh sakti di kalangan dunia persilatan, juga tentang pertarungan dengan dua Mpu adik seperguruan dari Mpu Supa Mandrangi itu.


Sementara para Pangeran Demak itu asyik mendengar kan cerita dari Raka Senggani itu hingga selesai .


Adalah Arya Wangsa yg berkata kemudian,


" Nanti jika Romo berperang lagi kakang Senggani harus ikut dengan kami, karena kami bertiga akan ikut kali ini, guna mengusir bangsa asing dari tanah Melaka itu, kita dan Melaka masih dalam satu kesatuan di bawah panji nusantara yg luas bekas dari wilayah Majapahit itu, di tambah lagi, kerajaan Melaka juga adalah kerajaan islam, menurut Romo kita wajib membela nya,!" jelase Raden Arya Wangsa itu.


" Kami sangat berharap kakang Senopati mau turut, jika nanti kembali menyerang bangsa asing itu, dan kami akan membujuk Romo untuk mengajak kakang Senopati untuk ikut,!" kata Raden Abdullah Wangsa.


Putrae kedua dari Adipati anom itu nampak bersemangat mengajak Raka Senggani untuk ikut.


" Ahh, itu tergantung nanti, karena sampai saat ini, pasukan itu belum pun kembali, siapa tahu mereka telah menang, jadi kita perlu berperang lagi, adi Abdullah,!" jawab Raka Senggani.


" Tetapi mengapa pasukan itu belum kembali,?" tanya Raka Senggani lagi.


" Kanjeng Romo dan pasukan yg tersisa saat ini lagi bersandar di Jepara guna memperbaiki beberapa buah kapal yg telah rusak, jadi Romo belum kembali kemari sampai kapal -kapal itu selesai di perbaiki, dan Romo juga memerintahkan untuk membuat kapal -kapal lagi yg baru dan kuat dalam jumlah yg cukup banyak,!" jelas Arya Wangsa.


" Jadi Kanjeng Pangeran Adipati anom gagal merebut Sunda Kelapa dan Melaka itu,?" tanya Raka Senggani terkejut .


" Benar kakang Senggani, dari jumlah hampir seratus kapal perang milik Demak hanya delapan buah saja yg berhasil kembali,!" jelas Raden Suryadi Wangsa.


" Bagaimana nasib dari Paman Tumenggung Bahu Reksa dan Lintang Sandika, ?" tanya Raka Senggani.


Ia sangat terkejut mendengar pernyataan dari para Pangeran putra dari Adipati Anom tersebut.


" Alhamdulillah, Tumenggung Bahu Reksa dan putra nya berhasil selamat dari pertempuran di laut Melaka itu,!" kata Raden Abdullah Wangsa.


" Benarkah hal itu, Paman Bahu Reksa berhasil selamat,?" tanya Raka Senggani setengah tidak percaya.


" Benar ia dan putra nya berhasil selamat, dan apa hubungan kakang Senopati dengan Tumenggung Bahu Reksa itu dan keluarganya,?" tanya Raden Suryadi Wangsa.


Agak terhenyak Raka Senggani mendengar pertanyaan dari Raden Suryadi Wangsa itu.

__ADS_1


" Aku adalah orang yg beruntung telah bertemu keluarga itu, dan Senggani yg yatim piatu ini oleh Paman Tumenggung di angkat anak oleh nya,!" jawab Raka Senggani.


Pemuda dari desae Kenanga itu merasa bersyukur dan mengucapkan banyak terima kasih kepada yg Maha pencipta telah menyelamatkan keluarga yg cukup, bahkan terlalu baik kepada diri nya.


Meskipun ia memiliki kekuasaan di dalam pemerintahan Demak tetapi ia tidak pernah meremehkan orang yg bukan siapa -siapa dan bukan dari keluarga yg terpandang , baik di Demak maupun di Pajang.


Cukup lama Raka Senggani mengenang kebersamaan nya dengan keluarga Tumenggung Bahu Reksa itu meski cuma sesaat saja tetapi rasa kekeluargaan di dapatnya dari keluarga itu.


" Jadi kakang Senggani merupakan anak angkat Tumenggung kepercayaan Kanjeng Romo itu,?" tanya Raden Abdullah.


Raka Senggani menganggukkan kepala nya.


" Nanti kami meminta Romo untuk memerintahkan Paman Tumenggung Bahu Reksa itu untuk mengajak kakang Senopati," kata Raden Suryadi Wangsa.


Lama ke empat orang itu berbicara, sedangkan pangeran dari Putra Pangeran Trenggono tidak ikut nimbrung, mungkin karena mereka masih agak terpaut usia nya dari ke empat orang Pangeran Demak itu.


Hampir sepekan Raka Senggani berada di bangsal kasatrian, istana Demak itu, ia berteman dengan ketiga putra dari Adipati Anom itu, dan sangat dekat dengan Raden Abdullah Wangsa itu.


Setelah sepekan , Raka Senggani memohon pamit untuk kembali ke Pajang, karena pasukan yg di bawanya pun masih di pelukan di Pajang.


" Demikianlah , Kanjeng Sinuwun, bahwa prajurit yg kami bawa ke Demak ini merupakan prajurit pilihan, jadi selaku pemimpin nya hamba memohon kepada Kanjeng Sinuwun untuk memperbolehkan kami kembali ke Pajang ," ucap Raka Senggani.


Ia memang masih bertanggungjawab atas keamanan kadipaten Pajang itu.


" Sebenarnya berat untuk melepaskan mu kembali ke Pajang , Senopati Brastha Abipraya, dimana saat ini pun Demak telah banyak kehilangan Senopati Pinunjul nya dalam lawatan nya ke Sunda Kelapa, tetapi kami pun mengetahui bahwa di Pajang tenaga mu pun sangat -sangat di butuhkan disana," ucap Sultan Demak itu.


Raka Senggani hanya duduk terdiam mendengarkan penuturan dari Sultan Demak itu.Ia memang menunggu keputusan, dari Junjungan nya itu. Apakah di perbolehkan ia kembali atau tidak semua tergantung kepada Sang Sultan.


Akhirnya Sultan Fattah memutuskan untuk memberikan kesempatan Senopati Brastha Abipraya itu untuk kembali ke Pajang.


" Terima kasih, Kanjeng Sinuwun, hamba merasa sangat senang sekali mendengar keputusan , Kanjeng Sinuwun itu," kata Raka Senggani


" Tetapi jika sewaktu -waktu Demak memerlukan tenaga mu Senopati, kami berharap Senopati Brastha Abipraya dapat dipanggil datang kemari,!" kata Sultan Demak itu.


" Hamba Kanjeng Sinuwun, sebagai Seorang prajurit sudah menjadi tugas hamba untuk menjalankan segala titah Kanjeng Sinuwun, dan siap kapanpun jika diperlukan," ucap Raka Senggani.


" Baiklah , sebagai penghormatan pengabdianmu kepada Kerajaan Demak Aku akan memberikan hadiah yg menurut kami tidak seberapa dengan pengabdianmu itu Senopati , terimalah ini,!" kata Sultan Demak.


Ia menyerahkan sebuah kotak kecil kepada Raka Senggani, Senopati Pajang itu menerimanya dan segera menyembunyikan nya di dalam balik baju nya.


" Hamba mohon pamit Kanjeng Sinuwun, dan sekali lagi hamba mengucapkan banyak terima kasih atas hadiah ini," ucap nya setelah menerima hadiah dari sang Sultan.


" Silahkan, silahkan dan sampaikan salamku kepada kakang Adipati Pajang itu,!" jawab Sultan Demak.


Raka Senggani kemudian keluar dari istana Demak dan langsung menuju ke Kepatihan, ia segera memerintahkan prajurit Pajang itu untuk kembali ke Pajang.

__ADS_1


Lima belas ekor kuda prajurit Pajang itu segera keluar dari Istana kepatihan itu menuju ke arah selatan tepat nya kadipaten Pajang.


__ADS_2