Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 13 Bingung. bag ke enam.


__ADS_3

Memang pada dasar nya, jika seseorang itu menjadi penguasa atau orang yg di takuti tentu ia akan cenderung berbuat sesuka hati nya, kata Jati Andara dalam hati.


Malam belum terlalu larut ketika datang ke tempat itu enam orang dengan sangat tergesa-gesa.


Dan dari jauh ia terlihat sangat marah sambil berteriak-teriak,


" Siapa diantara kalian berdua yg telah memukuli anakku, Garwita, siapa,...." teriaknya.


Orang -orang yg ada di tempat itu berbisik bisik,


" Ki Sangakeling, Ki Sangakeling, ia telah datang, "


Memang yg datang itu adalah Ki Sangakeling dengan lima orang tukang pukul nya.


Tiba depan banjar Kademangan ia kembali berteriak,


" Ayo,.. siapa diantara kalian yg bernama Jati Andara, cepat,... mengaku sebelum kesabaran ku habis, hayo, mengaku,!"


Para pemuda yg ada di tempat itu tanpa sadar memandang ke arah Putra Ki Bekel itu.


Akhirnya Jati Andara maju selangkah dan berkata,


" Aku yg bernama Jati Andara,..." sahutnya.


" Hehh, ini orang nya yg bernama Jati Andara,...orang yg telah memukuli anakku Garwita, apakah nyawa mu sudah rangkap sehingga berani berurusan dengan Aku, Sangakeling,..." seru Ki Sangakeling.


" Maaf Ki Sangakeling, nyawaku cuma satu, tetapi aku paling tidak suka jika ada seseorang yg petantang petenteng di hadapan ku, itu saja,..." jawab Jati Andara.


" Hehh, bocah, kau terlalu berlagak di hadapan ku, Sangakeling,.. karena hari ini aku masih berbaik hati, ku perintahkan kepada mu untuk segera minta maaf atas sikapmu tadi dan berlutut dihadapan ku, hayo cepat,... lakukan," teriak Ki Sangakeling sambil berkacak pinggang.


Jati Andara menatap tajam ke wajah orang tua yg ada dihadapan nya itu, ia memang kurang mengerti dengan sikap nya itu, bahwa teramat angkuh dan menyepelekan orang lain.


" Dengar Ki Sangakeling,.. Aku Jati Andara Putra Bekel desa Kenanga tidak akan minta maaf atas apa yg telah Kulakukan terhadap Garwita , apalagi sampai berlutut, jangankan kepada Ki Sangakeling, kepada Kanjeng Sinuwun sultan Demak sekalipun aku tidak akan berlutut jika diriku memang tidak salah,." ucap Jati Andara.


" Hehh, bocah, apa tidak Salah namanya, menendang dan memukuli seseorang bahkan mengancam nya dengan pedang segala, itu bukan salah katamu,..hehh, yg benar saja kalau bicaranya, " seru Ki Sangakeling.


" Baik,.. jika memang dirimu tidak mau minta maaf dan berlutut di hadapanku, jangan salahkan aku jika akan berbuat lebih dari yg telah kau lakukan dengan Garwita putraku itu,.." ucap Ki Sangakeling lagi.


Raut wajah Jati Andara sangat geram atas gertakan dari Ki Sangakeling, ia amat tidak senang atas ucapan orang tua itu.


" Terserah apa yg ingin Ki Sanga lakukan,.. yg jelas Aku tidak akan melakukan permintaan mu , silahkan kalau memang ingin jalan kekerasan, karena sejak semula pun Garwita telah melakukan nya dengan membokong kami saat akan memasuki Kademangan ini," jawab Jati Andara.


Pemuda itu tampak mengepalkan kedua tangan nya, bahkan ia pun berbisik kepada Japra Witangsa agar membantu nya jika kelima orang itu mengeroyok nya.


Putra Ki Jagabaya itu pun mengiyakan, ia pun sebenarnya tidak senang dengan tingkah orang yg bernama Ki Sangakeling tersebut. Witangsa tahu kejadian nya ketika sebuah senjata rahasia menyerang mereka berdua tepatnya di arahkan kepada Jati Andara.


" Bagus, .. bagus,.. memang orang -orang desa Kenanga terlalu menganggap rendah warga Kedawung sejak dahulu dan sampai saat ini, baiklah kalau begitu, ..Tambi dan kau Sengut ,..kasih tahu bocah ini untuk bersikap kepada orang yg lebih tua," perintahnya kepada dua orang tukang pukul nya.


" Baik,.. Ki Sangakeling, kami akan melakukan nya," jawab kedua orang itu.


Ki Tambi yg bersenjatakan sebuah kapak sedangkan Ki Sengut bersenjatakan sebuah rantai baja dengan bandulnya bergerigi tajam.


Sedangkan para pemuda Kedawung , bahkan Ki Jagabaya sendiri pun tidak mampu berbuat apa-apa.


Walaupun Ki Jagabaya telah meminta kepada Ki Sangakeling untuk mengurungkan niatnya itu,..tetapi permintaan dari Ki Jagabaya tersebut tidak di gubris oleh orangtua Garwita itu.


Beda dengan para pemuda Kedawung, mereka merasa senang karena akan mendapatkan sebuah tontonan gratis sekaligus berharap dapat membungkam kesombongan dari Ki Sangakeling itu.


" Hayo cepat,..beri pelajaran kepada bocah itu, Ki Tambi dan Ki Sengut, cepaaat,... jangan sampai ia menginjak injak harga diri orang -orang Kedawung ini," teriak Ki Sangakeling.


Tanpa menunggu perintah untuk ketiga kalinya kedua orang itu segera mengepung Jati Andara dari kedua sisi, sedangkan orang -orang yg ada di tempat itu segera meminggir memberikan tempat bagi ketiganya


" Whuuut,"


" Whuuut,"


" Whuuut,"


Ki Sengut telah memutar senjata nya rantai baja yg bergerigi tajam itu.


Ia masih sempat mengatakan untuk menyerah kepada Jati Andara dan memohon maaf kepada tuannya , Ki Sangakeling.


Jati Andara diam saja, ia tengah memusatkan perhatian nya kepada kedua orang itu , Ki Tambi dan Ki Sengut.


Ia merasa akan kesulitan jika rantai baja itu berhasil mengenai nya, tetapi ia juga harus memperhatikan gerakan dari Kapak Ki Tambi yg juga sudah mulai di putarnya.


" Hiiaaaat,"


Teriakan dari ki Tambi yg melompat dan membacakan kapak nya mengarah dada dari Jati Andara.


Putra Ki Bekel itu langsung menangkis nya, ia sengaja melakukan nya guna mengetahui tenaga dalam lawan untuk mengukur kemampuan nya.

__ADS_1


" Traaakkkhh,"


Pedang Jati Andara berhasil menahan kapak itu dan mengenai gagangnya beruntung Ki TAmbi hampir saja tangannya lah yg kena.


Hehh, lumayan juga tenaga dalam orang ini, senjatanya tidak apa -apa terkena pedangku , kata Jati Andara dalam hati.


Namun secepatnya Ki Tambi menarik Kapak nya dan memberikan tendangan mengarah perut dari Jati Andara.


Putra Bekel desa Kenanga itu melompat mundur, akan tetapi belum sempat ia dalam posisi yg sempurna sebuah serangan datang lagi dari sisi yg lain,


" Whuuut,"


Rantai baja Ki Sengut mencoba menggapai tubuhnya, hingga membuat Jati Andara harus bersalto beberapa kali menghindari serangan itu yg terus menerus memburunya.


Dari awal pertarungan itu terlihat putra Ki Bekel Kenanga itu agak keteteran menghadapi keroyokan dari tukang pukul Ki Sangakeling tersebut.


Ia memang agak sulit mengatasi serangan rantai baja yg ada di tangan Ki Sengut itu.


Beberapa kali ia harus melompat mundur dan menjauhi garis serang lawannya itu. Karena memang jarak jangkau senjata itu cukup jauh sementara ia hanya menggunakan senjata pedang yg tidak terlalu panjang.


" He he he , siapa yg coba -coba berani berurusan dengan Ki Sangakeling akan bernasib sama dengan Putra Bekel Kenanga itu, he he he,"


Terdengar tertawa dari Ki Sangakeling yg melihat Jati Andara agak kerepotan melawan dua orang tukang pukul nya itu.


Memang memasuki beberapa jurus awal , sulit bagi Jati Andara keluar dari kepungan kedua orang musuhnya itu.


Hingga suatu ketika,


" Hiyyahh,"


" Trannnkk,"


" Thapp,"


Jati Andara berhasil menangkap Rantai baja Ki Sengut dan mengadu senjatanya dengan kapak dari Ki Tambi.


Tarik menarik antara Ki Sengut dan Jati Andara terjadi, sementara Ki Tambi agak terperangah sekejap setelah kapak nya tidak berhasil menyentuh tubuh lawannya itu.


Namun kesempatan itu tidak disia -siakannya, ia segera mengirimkan sebuah tendangan ke arah pinggang Jati Andara yg tengah memusatkan tenaganya pada rantai baja yg berhasil di tangkap nya itu.


" Dhieeeghh,"


Tak pelak lagi , Jati Andara terpelanting di hantam tendangan itu tanpa sempat menghindar, ia jatuh bergulingan dan terus menjauh karena serangan rantai baja Ki Sengut mengejar nya terus.


Orangtua itu tertawa -tawa kesenangan setelah melihat Jati Andara jatuh bergulingan akibat hantaman Ki Tambi.


" Bagus, bagus , ..beri pelajaran bocah itu ,.. bila perlu patahkan tangan dan kaki nya, " teriak nya lagi.


Jati Andara dalam masalah, ia tidak boleh kalah menghadapi kedua orang itu, kata Japra Witangsa dalam hati.


Putra Ki Jagabaya itu agak kaget setelah melihat temannya berhasil di jatuhkan oleh tukang pukul Ki Sangakeling.


Namun buat Jati Andara , hantaman dari Ki Tambi yg mengenai pinggang nya itu seperti pertanda ia harus lebih meningkatkan ilmu peringan tubuhnya agar dapat memotong semua serangan dari lawannya.


" Whuuut,"


" Whuuut,"


Kembali Rantai baja milik dari Ki Sengut mencoba mencapai nya, Jati Andara melompat menghindar sambil berusaha memberikan serangan ke arah Ki Tambi yg masih berdiri , karena orang itu menunggu rantai baja dari Ki Sengut berhenti, ia juga tidak mau terkena kaitan rantai baja milik temannya itu.


" Trangg,"


" Traanngg,"


Dua kali pedang Jati Andara berbenturan dengan kapak milik dari Ki Tambi, tampak nya kali Jati Andara lebih memusatkan serangan nya pada orang itu.


Namun tetap saja Rantai baja itu berusaha menggapai nya dari arah belakang saat ia masih memberikan tekanan pada Ki Tambi.


" Whuuuttt,"


" Trannnkk,"


" Heyyyyaaahh, "


" Dhieeeghh,"


Jati Andara yg berhasil menahan putaran Rantai baja milik Ki Sengut , langsung melesat mengikuti rantai itu seperti sedang meniti diatas nya dan langsung memberiakn tendangan kearah kepala dari Ki Sengut, beruntung ia masih berhasil menarik mundur kepalanya, sehingga dada nyalah yg terkena hantaman tendangan itu.


Ki Sengut jatuh terduduk akibat hantaman itu, ia tidak menyangka bahwa anak muda masih mampu memberikan serangan balasan secepat itu sehingga kurang waspada , akhirnya membuatnya jatuh terduduk.


Melihat temannya tersebut berhasil di jatuhkan oleh jati Andara, Ki Tambi langsung melompat memotong serangan lanjutan dari anakmuda itu dengan kapak nya,

__ADS_1


" Traanngg,"


Kembali kapak yg ada di tangan Ki Tambi berhasil menahan pedang Jati Andara yg akan menusuk Ki Sengut yg dalam masih posisi duduk itu.


Dan kali ini terjadi pertarungan diantara keduanya, tetapi Jati Andara lebih memusatkan serangan nya terhadap Ki Tambi, hingga suatu ketika, dengan gerakan yg cepat saat Ki Tambi masih memapasi serangan pedang Jati Andara, sebuah pukulan kepalan tangan kiri pemuda itu berhasil menyusup masuk,


" Dhiesggh,"


Dada Ki Tambi berhasil di hantam oleh pukulan itu, beruntung Ki TAmbi tidak terjatuh , walau ia harus melompat mundur.


Kali ini posisi dalam keadaan seimbang , karena mereka telah melakukan jual beli pukulan.


Tetapi satu hal yg membuat Jati Andara lebih percaya diri, bahwa dalam kecepatan ia masih diatas kedua lawannya itu.


Dan ketika serangan dari Ki Tambi datang dengan ayunan kapaknya yg cukup kuat dan cepat. Jati Andara tidak lagi melompat menghindari nya, ia lebih baik menangkis nya dan dilanjutkan dengan sebuah tendangan memutar,


" Traakkk,"


" Praakkkk,"


Tendangan itu menghantam telak pada wajah Ki Tambi yg tidak mengetahui tiba -tiba saja kaki Jati Andara telah menghajar kepalanya, tubuh Ki Tambi langsung terjatuh tertelungkup.


" Hiyyyah,"


" Whuuut,"


" Traanngg,"


Jati Andara yg akan menebaskan pedang nya ke arah Ki Tambi, terhalang oleh Rantai baja milik Ki Sengut yg telah bangkit dan membebaskan temannya dari lanjutan serangan Jati Andara.


" Whuuut,"


" Thaapp,"


Rantai baja milik Ki Sengut kembali berhasil di tangkap oleh Jati Andara ketika senjata itu berusaha mematuknya.


" Hiyyyah,"


" Dhiesggh,"


" Ambroll,"


Tidak hanya menangkap senjata milik Ki Sengut, Jati Andara langsung mengirimkan serangan sambil melompat mengemposi tenaga dalamnya dan memberikan hantaman ke dada Ki Sengut, tidak ayal lagi tubuh itu jatuh terjengkang dan tidak mampu berdiri lagi.


Pukulan yg berisi tenaga dalam yg tinggi dari Jati Andara berhasil menumbangkannya.


Kini Jati Andara berdiri dengan gagah nya di depan banjar Kademangan itu tanpa ada lawan lagi, baik Ki Tambi terlebih Ki Sengut sudah tidak mampu lagi bangkit.


" Hehh Ki Sanga, .. apakah masih penasaran denganku, Putra Bekel desa Kenanga ini, dan sekali Ku tegaskan sampai kapan pun Aku tidak akan minta maaf kepada mu," seru Jati Andara.


Dengan pedang teracung dan tangan kirinya mengepal, ia memang siap dengan pertarungan selanjutnya, karena dirinya yakin bahwa orang tua Garwita itu tidak akan berhenti sampai disitu.


Dan benar saja, Ki Sangakeling memberikan isyarat kepada tiga orang tukang pukul nya yg lain.


Serentak ketiganya mengepung Jati Andara, melihat hal itu , Japra Witangsa pun tidak tinggal diam, seperti yg telah di jandjikan nya tadi jika mereka akan mengeroyok, ia akan ikut membantu.


" Tenang Andara, dua orang ini bagianku, yg seorang baru kau hadapi sendiri," ucap Japra Witangsa.


Jati Andara mengangguk, ia memang sudah sangat siap untuk kelanjutan pertarungan itu.


Sementara para pemuda Kademangan Kedawung merasa bangga dengan keberhasilan dari salah seorang gurunya itu.


Dan kali ini mereka akan melihat kembali , kedua orang yg menjadi pengajar mereka dalam hal ilmu silat akan bertarung lagi dengan lawan berjumlah tiga orang.


Ketiganya segera berlompatan menyerang kedua anak muda desa Kenanga itu dengan senjata masing -masing.


Ada yg menggunakan canggah, dan dua orang yg bersenjata golok.


Dua orang yg bersenjata golok harus berhadapan dengan Japra Witangsa, sedangkan yg seorang , yg bersenjata canggah berhadapan dengan Jati Andara.


Pertempuran kali ini lebih seru karena di kedua belah pihak menunjukkan kemampuan bertarung dengan berpasangan.


Namun terlihat keunggulan dari pemuda desa Kenanga itu yg lebih dalam semua hal, mereka lebih padu dan lebih bertenaga, dan yg tidak kalah pentingnya, kecepatan keduanya sangat luar biasa.


Sebentar saja keduanya telah berhasil mendesak ketiga lawannya, apalagi dengan kehadiran Japra Witangsa yg cenderung agak berangasan, membuat lawan -lawannya jeri, jika harus berhadapan dengan nya.


Dalam beberapa jurus saja ,sudah ada yg jatuh akibat dari serangan Putra Ki Jagabaya itu.


Namun seolah berpacu diantara keduanya , Jati Andara pun tidak kalah garangnya dengan berhasilnya ia menumbangkan lawannya.


Tidak terlalu lama , ketiga lawannya itu telah tidak ada yg mampu bangkit bahkan umum nya mereka dalam keadaan terluka akibat sabetan pedang Witangsa yg sangat cepat itu.

__ADS_1


Setelah keduanya berhasil mengalahkan tukang pukul Ki Sangakeling, Jati Andara melihat kearah tempat Orang tua berdiri dan akan berkata, namun alangkah terkejutnya putra Ki Bekel itu, ia tidak mendapati orang itu .


Ternyata Ki Sangakeling melarikan diri dari banjar Kademangan Kedawung setelah melihat keadaan tukang pukul nya yg tidak mampu berbuat apa-apa terhadap dua orang anak muda desa Kenanga.


__ADS_2