Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 27 Wong Agung. bag. pertama.


__ADS_3

" Rindayu, apakah kita pernah bertemu sebelum ini,..?" tanya Raka Yantra.


Pemuda ini seolah memang sudah tidak asing lagi dengan gadis cantik yang ada di hadapannya itu.


" Ehh, aaa,..ku,...kira kita memang belum pernah bertemu,..!" sahut Tara Rindayu.


Meski dadanya masih berdegup cukup kencang, karena setiap menatap pemuda ini, ia teringat dengan sesosok orang yg paling di cintainya, Raka Senggani.


Untuk mengusir perasaan gugup nya ia tidak berani bertatapan langsung dengan pemuda yang bernama Raka Yantra ini.


" Jika memang dirimu ada .masalah dengan ku , katakan saja terus terang, aku juga tidak akan mengganggu kalian berdua bila memang kehadiran ku membuat kalian berdua tidak nyaman,..!" jelas Raka Yantra.


Pemuda ini kemudian membalikkan badannya dan akan melangkah pergi.


" Tunggu,..kakang Raka Yantra tidak mengganggu kami,..kami berdua tidak masalah jika kakang ingin berjalan bersama kami,.!" seru Surti.


Keponakan Nyai Sumini tersebut tidak seperti biasanya , ia terlihat sumringah setelah bertemu dengan pemuda yang bernama Raka Yantra ini.


" Hehh,.. apa-apaan kamu ini, Surti, biar saja ia pergi,.. toh , dia bukan siapa-siapa kita,..!" ucap Tara Rindayu pelan.


" Kita berdua belum mengucapkan terima kasih atas bantuan nya tadi, Rindayu,..!" jelas Surti.


Gadis itu nampak berjalan agak cepat mengejar Raka Yantra yg telah lebih dahulu berjalan di depan.


Sedangkan Tara Rindayu tetap berjalan seperti biasa saja.


" Kang, kami berdua mengucapkan terima kasih atas pertolongan mu tadi,..!" ucap Surti ketika telah berhasil menyusul Raka Yantra.


" Ahh, lupakanlah,..sebab itu semua bukan karena pertolongan ku, tetapi karena memang teman mu itu mampu mengatasi para kawanan begal itu." terang Raka Yantra.


Ia terus saja berjalan, sementara Surti mengikutinya di sebelah nya.


***********


Saat itu di desa Kenanga sendiri , Raka Senggani berpamitan kepada istrinya Sari Kemuning.


" Kemuning,. kakang akan ke Kotaraja Demak, Paman Tumenggung Bahu Reksa memanggilku, " ucap Senopati Bima Sakti pada istrinya.


" Apakah kakang akan berada lama disana nya,?" tanya Sari Kemuning.


" Tidak , kakang tidak akan lama berada di kotaraja , nanti setelah semua urusan selesai,..kakang akan segera kembali,..!" jelas Raka Senggani.


" Kemuning berharap berada disini saat melahirkam nanti,..!" ucap Putri Ki Jagabaya ini.


" Tentu, kakang akan berada disini saat dirimu melahirkan nanti, Insyaallah,..!" balas Senopati Sandi Demak tersebut.


Selanjutnya , Senopati Bima sakti ini berpamitan kepada kedua orang mertuanya juga terhadap Ki Lamiran.


Setelah nya barulah si Jangu bergerak meninggalkan desa Kenanga menuju ke Kotaraja Demak.


Di dalam hati Senopati Bima Sakti ini banyak menyimpan tanya. Mengenai permintaan dari Orang tua angkatnya ini untuk dirinya mau datang ke Kotaraja Demak.


Dalam perjalanan nya kali ini, sebenarnya dirinya kurang mapan meninggalkan istrinya Sari Kemuning yg tengah hamil tua dan sebentar lagi ia akan melahirkan anak pertamanya.


Hehh,..apakah Paman Tumenggung Bahu Reksa memang menginginkan diriku tetap menjabat sebagai Senopati Sandi yuda Demak , berkata dalam hati pemuda desa Kenanga ini.


Ia tetap menjalankan si Jangu dengan tidak terlalu kencang. Memang saat ini kondisi keadaan di seluruh wilayah Demak kurang baik , utamanya dalam masalah keamanan nya.


Setelah hampir tiga hari tibalah Raka Senggani di kotaraja Demak.Sungguh hatinya merasa takjub, baru beberapa purnama saja ia tidak menginjakkan kaki nya di Kotaraja, ia melihat perubahan yg sangat kentara. Kotaraja Demak terlihat lebih ramai dari biasanya bahkan kali ini cenderung seperti akan ada perayaan yg cukup besar yg akan terjadi di situ.


Senopati Bima sakti sebelum menuju ke kediaman Tumenggung Bahu Reksa masih menyempatkan diri untuk bertemu dengan salah satu Lurah prajurit sandi yuda Demak yaitu Ki Lurah Lintang Banyak Angkrem.


Dialah yang membawahi para prajurit sandi yuda Demak yg berada di lingkungan Kotaraja ini.


Sebenarnya jauh di lubuk hati yang paling dalam dari Senopati Bima Sakti ini sudah bukanlah merupakan seorang pemimpin tertinggi para prajurit sandi di keseluruhan tlatah kerajaan Demak . Ia merasa tanggungjawab nya telah selesai setelah mangkatnya Kanjeng Gusti Pangeran Sabrang Lor atau Sultan Demak kedua itu.


Hahh, apakah ada hubungab nya dengan hal itu, pikir nya lagi.


Si Jangu kemudian mengarah ke sebuah rumah yang tidak terlalu dekat dengan keramaian, Rumah ini terlihat sangat asri sekali, halaman rumahnya yg cukup luas dengan di tumbuhi beberapa pepohonan yang berdaun rindang. Sehingga tempat ini tidak terlalu panas .


Ketika sudah memasuki halaman rumah ini setelah melalui regol rumah yg tidak terlalu tinggi.


Ketika tepat berada di depan rumah itu, Raka Senggani langsung turun dan berjalan menuju pendopo rumah tersebut, kemudian ia mengucapkan salam , dan segera di sahuti dari dalam oleh seorang perempuan.

__ADS_1


Tidak terlalu lama nongollah seorang perempuan yang berusia tidak terlalu tua .


Perempuan ini kemudian bertanya,..


" Mencari siapa kisanak,..?" tanya nya.


" Maaf Nyi, aku mencari Ki Rangga Warsito..!" sahut Raka Senggani.


Ia menyebut bahwa nama sebenarnya dari Lurah Lintang Banyak Angkrem itu.


" Maaf Kisanak,..Suami ku sedang tidak berada di rumah,.!" jawab perempuan itu.


" Kemana kiranya , Ki Rangga Warsito itu perginya , Nyi,..?" tanya Raka Senggani.


Perempuan yg mengaku sebagai istri dari Lurah Lintang Banyak Angkrem ini menyebutkan bahwa suaminya tengah berdagang di pasar kidul dalam Kotaraja Demak ini.


" Baiklah Nyi , jikalau demikian biarlah aku menyusul nya,.!" ucap Raka Senggani.


Senopati Bima Sakti ini tidak ingin menunggu pulang Lurah Lintang Banyak Angkrem tersebut.


Lebih baik ia segera menyusul nya saja. Maka sang Senopati pun melompat naik ke atas punggung si Jangu meninggalkan rumah Ki Lintang Banyak Angkrem.


Pasar Kidul tidak terlalu jauh jaraknya dari rumah Ki Lintang Banyak Angkrem itu. Sebentar saja ia telah sampai di tempat tersebut.


Setelah ia melihat lihat, dan mengedarkan pandangan nya pada pasar yang cukup ramai itu maka tertumbuklah matanya pada seorang lelaki yang sudah sangat di kenalnya.Dia lah Ki Lurah Lintang Banyak Angkrem.


Saat itu sang lurah tengah menjajakan dagangan nya berupa perhiasan dan wesi aji.


Ia tengah sibuk sibuknya menghadapi orang orang yg tengah berkerumun di tempatnya.


Perlahan Raka Senggani mendekati Lurah Lintang Banyak Angkrem ini.


Raka Senggani kemudian mengambil salah satu keris yg tengah dijajakan oleh Ki Lurah Lintang Banyak Angkrem.


Sedangkan saat itu Lurah Lintang Banyak Angkrem sedang tidak melihat ke arahnya.


" Kisanak ,.. berapa harga keris ini,.?" tanya Raka Senggani.


" Ahhh,..terlalu mahal, sedangkan Kyai Nogo Sosro dan Sabuk Inten tidak semahal itu,..!" seru Raka Senggani.


" Hehh,..!" seru Ki Lurah Lintang Banyak Angkrem terkejut.


Kata kata terakhir di ucapkan oleh orang itu adalah bahasa sandi khusus dari seorang Senopati Sandi yuda Demak.


Ia segera mendongakkan kepalanya dan menatap lekat pada pemuda yang tengah menawar dagangan nya itu.


Ki Lurah Lintang Banyak Angkrem kemudian segera bersikap seperti biasa namun jari tangan nya segera memberikan isyarat kepada Senopati Bima Sakti.


Ia mengatakan dengan bahasa isyarat agar menemuinya di rumahnya.


Segera Raka Senggani meninggalkan tempat itu dan beralih ke seorang yang tengah menjajakan ayam di pasar kidul ini.


Setelah tawar menawar putra Raka Jaya ini kemudian membeli seekor ayam dan membayarnya.


Ia pun meninggalkan pasar Kidul itu dan kembali ke rumah Ki Lurah Lintang Banyak Angkrem.


Sesampainya disana, agak terkejut Raka Senggani karena telah ditemui nya sang Lurah berada disana.


" Hehh,..sungguh cepat Ki Lurah kembalinya,..?" seru nya kaget.


" Tadi setelah Senopati meninggalkan tempatku berdagang, aku pun langsung berkemas dan langsung pulang,..!" jelas Ki Lurah Lintang Banyak Angkrem.


Ia mempersilahkan sang Senopati untuk masuk ke dalam rumah nya.


Ketika mereka berdua duduk di atas pendopo rumah ki Lurah maka, makanan dan minuman pun segera menghidangkan makanan dan minuman.


Raka Senggani kemudian menyerahkan ayam yg di belinya kepada Nyi Lurah.


" Ehh, untuk apa Senopati Bima Sakti memberikan kepada istriku seekor ayam,.. untuk di panggang,..?" tanya nya.


" Terserah kepada Nyi Lurah, mau di apakan ayam itu, di pelihara juga boleh, !" seloroh Raka Senggani.


" Ahh, untuk apa memelihara seekor ayam jago, tidak akan bertambah banyak,..!" sahut Ki Lurah Lintang Banyak Angkrem.

__ADS_1


" Sudah , Nyi, segera masak saja ayam itu, mungkin teman ku ini ingin merasakan masakan mu,.!" kata Ki Lurah Lintang Banyak Angkrem lagi.


Sedangkan istrinya nampak senyam senyum melihat kedua lelaki ini yg sedang bercanda. Ia pun segera meninggalkan mereka berdua dan kembali ke dapur.


Tinggallah Raka Senggani dan Ki Lurah Lintang Banyak Angkrem yg ada di pendopo rumah tersebut.


Nampaknya memang, Senopati Bima Sakti ini sengaja melakukan hal tersebut agar ia bebas berbicara dengan Ki Lurah Lintang Banyak Angkrem.


Raka Senggani atau Senopati Bima Sakti kemudian menanyakan keadaan yang telah terjadi di Kotaraja Demak ini. Ia merasa saat ini Kotaraja lain dari biasanya.


Ki Lurah Lintang Banyak Angkrem yg mendengarnya langsung menjelaskan bahwa setelah Kanjeng Gusti Pangeran Trenggana yg duduk di atas tahta Demak, ia telah melakukan banyak perubahan termasuk di dalam nya mengundang para pedagang pedagang yang cukup kaya untuk dapat tinggal di Kotaraja Demak ini.


" Walaupun sebenarnya , Kanjeng Gusti Sultan Trenggana ini memiliki kesamaan dengan Kanjeng Gusti Sultan Demak kedua, Pangeran Sabrang Lor,.!" jelas Ki Lurah Lintang Banyak Angkrem.


" Dimana kesamaan nya , Ki Lurah,..?" tanya Raka Senggani.


" Masalah keprajuritan dan peperangan , !" jawab Ki Lurah Lintang Banyak Angkrem.


" Ahh,..aku tidak melihat hal itu,.Ki Lurah,.!" ucap Raka Senggani.


" Tampaknya Senopati Bima Sakti kurang mendapatkan berita dari para teman teman yg lain, bukankah saat ini Kanjeng Gusti Sultan Trenggana tengah menyiapkan sebuah pasukan yang akan menyerang ke Wetan,..!" ungkap nya.


Ia pun menyebutkan bahwa keadaan di Kotaraja Demak ini tampak lain adalah untuk merayakan pernikahan salah seorang Senopati dari Pasai yg juga telah ikut membantu Pangeran Sabrang Lor saat menyerang Melaka.


" Maksudmu Raden Fatahillah,..!??" tanya Raka Senggani.


Senopati sandi yuda Demak ini memang cukup terkejut mendengar pernyataan dari Ki Lurah Lintang Banyak Angkrem itu.


" Benar , Senopati,..namanya Raden Fatahillah , ia akan di nikahkan dengan salah seorang saudari dari Kanjeng Gusti Sultan Demak,..!" jawab Ki Lurah Lintang Banyak Angkrem.


Sungguh beruntung nasib Raden Fatahillah itu, ucap Raka Senggani dalam hati.


Ia memang masih terjngat ketika mereka berdua bahu membahu saat menyerang Melaka. Bahkan ketika kembali pulang, atas persetujuan dari Raka Senggani dan Tumenggung Bahu Reksa yg memutuskan bahwa Raden Fatahillah lah yg membawa kembali pulang para prajurit Demak ke Kotaraja.


" Senopati ,..kalau boleh bertanya, apa sebenarnya yang telah terjadi di kota Melaka itu,..?" balik Ki Lurah Lintang Banyak Angkrem yg bertanya.


Raka Senggani menghela nafas panjang sebelum menceritakan kisahnya saat bersama Sultan Demak kedua , Gusti Pangeran Sabrang Lor menyerang kota Melaka.


Cukup panjang Senopati Bima Sakti ini menuturkan kisahnya, dan tanpa terasa ada rasa sedih bercampur haru saat ia mengakhiri kisahnya itu.


" Demikianlah, Ki Lurah, oleh sebab itulah aku datang kemari guna bertemu dengan Paman Tumenggung Bahu Reksa yg telah memanggilku,..!" jelas Raka Senggani.


Namun ia memang ingin mengorek keterangan dari salah seorang bawahan nya ini mengenai keadaan di Kotaraja Demak ini sebelum dirinya bertemu dengan Tumenggung Bahu Reksa. Ia memang berniat meletakan jabatan nya sebagai seorang pemimpin pasukan sandi Demak.


" Kalau boleh kami memberikan saran, janganlah Senopati mengundurkan diri dari kesatuan prajurit sandi yuda Demak ini,..kami tentu akan merasakan kehilangan,..Senopati,..!" ucap Ki Lurah Lintang Banyak Angkrem pelan.


Menurut salah seorang dari sepuluh lurah prajurit sandi Demak, kesatuan keprajuritan sandi yuda Demak ini memang lebih pantas di jabat oleh Senopati Bima Sakti ini sebagai pemimpin nya.


Mereka merasa amat senang sekali jika dirinya tidak jadi mengundurkan diri.


Tetapi Raka Senggani nampaknya tetap pada keputusan nya, ia memang tidak menceritakan kisahnya saat mengawal Raden Abdullah Wangsa, dimana ada seorang dari Kotaraja Demak itu yg menginginkan nyawa nya .


" Namun semuanya terpulang kepada Paman Tumenggung Bahu Reksa, jika memang dirinya memaksa , mungkin diriku masih dapat berada di keprajuritan sandi Demak ini, meski tidak sebagai pemimpin nya,..!" ucap Raka Senggani membesarkan harapan dari Ki Lurah Lintang Banyak Angkrem.


Setelah selesai menyantap makan siang di rumah Lurah prajurit sandi yuda Demak , maka Raka Senggani pun berpamitan kepada Ki Lurah.


Ia mengucapkan banyak terima kasih atas sambutan yang di berikan nya.


Raka Senggani dengan si Jangu kem meninggalkan rumah Ki Lurah Lintang Banyak Angkrem dan menuju ke kediaman dari Tumenggung Bahu Reksa.


Saat itu telah sore, ditandai dengan cahaya mentari yang sudah meredup dan hampir tenggelam di ufuk barat.


Setibanya di rumah Tumenggung Bahu Reksa, Senopati Bima Sakti di sambut oleh Lintang Sri Wedari yg tengah sibuk menyirami kembangnya.


" Romo,...ada kakang Senggani yg datang ,..!" teriak gadis itu setelah melihat saudara angkatnya ini turun dari kudanya.


Ia langsung menanyakan kabar dari Senopati Sandi Demak ini dan juga istrinya Sari Kemuning.


" Alhamdulillah,..adi Wedari,..keadaan kakang dalam keadaan baik demikian pula dengan kangmbok ayu mu, meski saat ini ia tengah menunggu saat nya melahirkan,.!" jelas Raka Senggani.


" Jadi kangmbok Kemuning akan segera melahirkan, dan kakang Senggani akan segera menjadi seorang ayah,..?" tanya Lintang Sri Wedari terlihat senang sekali.


Raka Senggani menganggukkan kepalanya dan naik ke atas pendopo rumah orang tua angkatnya itu, Tumenggung Bahu Reksa.

__ADS_1


__ADS_2