Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 14 RAWA RONTEK. bag kedua


__ADS_3

" Kakaaaaaaang,..." seru Sari Kemuning.


Ia langsung menubruk dan memeluk tubuh Raka Senggani, sementara senopati Pajang itu, agak terkejut melihat Sari Kemuning yg tiba -tiba saja memeluknya.


" Ehh,.. ada apa Kemuning,.. lepaskan pelukan mu,..nanti ada yg melihat," ucap Raka Senggani pelan.


" Biar saja,..yg penting Kemuning masih ingin memeluk kakang Senggani," ucap Sari Kemuning.


Sambil mempererat pelukan nya.


" Jangan begitu,.. Kemuning, ..ini kan di tempat orang,..lihat itu ada yg datang," seru Raka Senggani.


Akhirnya Sari Kemuning melepaskan pelukan nya, dan bertanya,


" Kapan Kakang Senggani tiba di Kedawung inj,?"


" Tadi malam,..saat kakang Andara dan Witangsa sedang bertarung dengan Ki Suganpara,." jawab Raka Senggani.


" Apakah kakang memang niat datang kemari,..atau ada yg menggerakkan untuk ke Kedawung ini,?" tanya Sari Kemuning.


Raka Senggani kemudian menjelaskan kepada Sari Kemuning tentang dirinya yg bisa berada di Kademangan Kedawung itu.


Ia memang ingin mengajak dua orang dari mereka ke Boyolangu untuk memenuhi permintaan dari Ki Ageng Boyolangu, dan dirinya memang masih enggan untuk kembali ke desa Kenanga.


" Mengapa Kakang tidak ingin pulang ke Kenanga, apakah kakang tidak rindu pada Kemuning,..?" tanya Putri ki Jagabaya itu.


" Ada masalah lain Kemuning, yg sebenarnya menyangkut dengan diri Tara Rindayu," jelas Raka Senggani.


" Masalah Rindayu,.. apakah Juragan Tarya telah memaksa kakang untuk menikahi Rindayu,..?" tanya Sari Kemuning.


Wajah gadis itu berubah merah,.. seakan sedang marah.


" Bukan masalah mengenai pernikahan kakang Senggani dengan Tara Rindayu, tetapi ada masalah lain,.. Kemuning jangan cepat berprasangka terlebih dahulu," jelas Raka Senggani.


Ia tahu,.. kekasih nya itu sedang di bakar cemburu jika menceritakan diri Tara Rindayu, seorang Kembang desa Kenanga, yg selain cantik juga anak seorang kaya yg ada di desa mereka itu.


Kemudian Raka Senggani menceritakan kejadian yg menimpa nya di bukit Klangon seperti yg telah diceritakannya kepada Jati Andara dan Japra Witangsa.


Sari Kemuning mendengarkan dengan baik semua yg di ceritakan oleh kekasih nya itu hingga selesai.


" Jadi kakang Senggani telah dikhianati oleh Rindayu,.. sungguh,. ia tidak dapat membalas budi baik kakang terhadap nya, sungguh tega dirinya itu,.. Kang,." ucap Sari Kemuning.


" Mungkin semuanya itu dilakukannya karena terpaksa, Kemuning,.." jelas Raka Senggani.


" Ahh,.. apapun alasan nya, ia tidak boleh melakukan hal itu terhadap kakang Senggani,.. bukankah kakang yg telah menyelamatkan nya dari tangan Singo Lorok pada waktu itu,.!" seru Sari Kemuning.


" Sudahlah,.. Kemuning,..jika budi baik kita, sering kita sebut -sebut,..itu namanya kita tidak ikhlas melakukan nya, sudahlah mari kita ke banjar Kedawung, ada hal yg lebih penting yg harus kita bicarakan disana bersama Kakang Andara, kakang Witangsa dan Dwarani,." ungkap Raka Senggani.


" Tetapi Kemuning memang belum dapat terima atas perlakuan Rindayu terhadap kakang," ucap Sari Kemuning.


Putri Ki Jagabaya itu terlihat kesal atas perlakuan Tara Rindayu terhadap kekasih nya itu.


Tetapi ketika Raka Senggani mengajak ke Banjar Kademangan Kedawung, ia pun mengikuti di belakang Senopati Pajang itu.


Di banjar Kademangan Kedawung sendiri telah ramai karena para penduduk dan warga pedukuhan induk Kademangan itu bergotong royong memberi makan semua yg ada disitu tidak terkecuali Ki Suganpara yg masih terlihat lemah.


Raka Senggani dan Sari Kemuning kemudian menggabungkan diri bersama mereka yg ada disitu.


Siang itu banjar Kademangan Kedawung terlihat sangat ramai, bahkan Ki Demang Kedawung sendiri pun ikut makan bersama disitu, seolah ada hajatan saja.


" Begini, Ki Demang, berhubung adi Senggani memerlukan tenaga kami, jadi dalam sepekan ke depan ,.kami mungkin tidak akan datang lagi kemari guna memberi latihan kepada para pemuda dan pengawal Kademangan Kedawung ini, " ucap Jati Andara.


" Tidak apa -apa, ..Ngger, kami pun tahu bahwa Angger semua pun dalam keadaan lelah dan perlu beristrahat, kami sangat senang sekali bahwa urusan dengan Ki Sangakeling ini telah selesai dan mudah -mudahan ia tidak akan mengulangi nya lagi," jawab Ki Demang.


Demikian lah, atas permintaan dari Raka Senggani, mereka masih ingin bermalam di Kademangan Kedawung itu, dan mungkin esok hari baru akan kembali.

__ADS_1


Karena selain Raka Senggani yg masih enggan pulang ke Kenanga, ia pun masih perlu menjaga Ki Suganpara itu, yg akan berangkat dari Kedawung itu setelah luka dalam di tubuh nya berkurang, dan jika ia sudah mampu berjalan ia akan meninggalkan tempat itu.


Dan saat malam tiba, tubuh Ki Suganpara itu berangsur -angsur membaik, ia berniat meninggalkan Kademangan Kedawung, dan sebelum ia pergi, Raka Senggani masih mengingatkan nya untuk tidak melakukan perbuatan yg menyengsarakan orang lain.


Meski di mulut mengatakan iya, tetapi di dalam hatinya ia masih berontak.


Tokoh sakti asal kulon itu meninggalkan Kademangan Kedawung saat malam tiba, walaupun tubuhnya mulai membaik,. tetapi luka di hatinya seakan sulit untuk di sembuhkan.


Berbeda dengan empat orang teman Raka Senggani, malam itu keempatnya terlihat senang sekali atas kehadiran Senopati Pajang tersebut, meski Jati Andara dan Japra Witangsa masih merasakan lelah pada tubuhnya tetapi tidak mengurangi rasa bahagianya.


Di situ pula Senopati Brastha Abipraya menceritakan apa yg akan dilakukan selanjutnya, dan atas saran dari Jati Andara, bahwa ia akan mengajak serta Japra Witangsa dan Dewi Dwarani, ikut bersama nya ke Boyolangu.


Semula Sari Kemuning ingin tetap ikut,. tetapi karena alasan yg di berikan oleh Raka Senggani bahwa ia harus menjaga keamanan desa Kenanga, apakah orang -orang yg ada di rumah Juragan Tarya itu akan membuat kegiatan yg bakal menyusahkan orang desa Kenanga, terutama jika memang salah seorang murid dari Gunung Merapi itu datang, ia yg bernama Arya Pinarak, Sari Kemuning dan Jati Andara harus berhati-hati dengan nya.


Akhirnya Sari Kemuning mau mengerti setelah mendapatkan penjelasan dari sang kekasih.


Disepakati oleh keempatnya bahwa yg akan menemani Raka Senggani ke Boyolangu adalah Japra Witangsa dan Dewi Dwarani.


Malam itu rumah Ki Demang dan Banjar Kademangan cukup ramai dengan dihadiri oleh warga Kedawung.


Mereka mengagumi kelima anak muda dari desa Kenanga itu.


Selain berparas lumayan cantik dan tampan, mereka juga memiliki kemampuan yg cukup tinggi dan mampu mengalahkan kepongahan dari Ki Sangakeling.


Kelima nya berjanji , besok hari mereka akan meninggalkan Kademangan Kedawung.


Setelah hari berganti , Kelima nya segera berpisah,.. Jati Andara dan Sari Kemuning kembali ke desa Kenanga guna melihat perkembangan dari orang-orang yg ada di rumah Juragan Tarya.


Sedangkan Raka Senggani dengan di temani oleh Japra Witangsa dan Dewi Dwarani akan segera ke Boyolangu.


Ketiganya akan singgah terlebih dahulu di Gunung Lawu.


Karena Raka Senggani tidak memiliki kuda, disebabkan si Jangu masih tinggal di padepokan gunung lawu, ia menyuruh keduanya terlebih dahulu ke gunung Lawu, sementara dirinya akan berjalan saja menikmati perjalanan menuju ke tempat Panembahan Lawu itu.


Awalnya Japra Witangsa menolak,. tetapi setelah Raka Senggani memberikan penjelasan bahkan tantangan pada keduanya barulah putra Ki Jagabaya itu mau menerimanya.


Japra Witangsa pun menyanggupi nya, sedangkan Dewi Dwarani hanya senyum -senyum saja mendengar nya.


Demikianlah,.. keduanya kemudian berpacu dengan sangat kencang meninggalkan Raka Senggani yg masih berdiri mematung melihat keduanya seolah sedang berlomba.


Dan setelah keduanya tidak terlihat lagi,..dengan memusatkan seluruh tenaga dalam nya pada kedua kakinya sambil ia membaca rapalan nya, tubuh sang Senopati melesat cepat menuju Gunung Lawu, ia tidak mengikuti jalan yg dilalui oleh kedua temannya itu tetapi mengambil jalan pintas yg menerobos hutan, semak belukar, juga anak -anak sungai, tetapi karena kemampuan lari dari peringan tubuhnya yg nyaris sempurna, sebentar saja ia telah berada di kaki gunung Lawu, ia berlari diatas pepohonan yg cukup tinggi dan sesekali melihat kearah jalanan yg dilalui oleh Japra Witangsa dan Dewi Dwarani, nampak debu mengepul ke angkasa pertanda kedua orang itu tengah memacu kudanya dengan sangat kencang.


Menjelang sore, Japra Witangsa dan Dewi Dwarani telah mendekati padepokan Panembahan Lawu itu.


Dan ketika keduanya telah sampai berkatalah, Japra Witangsa,


" Nampaknya kali ini adi Senggani akan kalah, Rani,.." katanya kepada Dewi Dwarani.


" Mungkin juga kakang Witangsa, .apakah kita akan langsung masuk ke Padepokan itu atau menunggu kakang Senggani tiba disini,.?" tanya Dewi Dwarani.


" Ahh, sebaiknya kita langsung masuk saja, biar ada yg menjadi saksinya bahwa kita yg lebih dahulu tiba disini," ucap Japra Witangsa.


Putra Ki Jagabaya itu berkeyakinan ialah pemenang nya dalam hal lomba ke Gunung Lawu itu.


Keduanya pun lantas masuk padepokan gunung lawu, setelah menambatkan kudanya, kedua orang itu langsung naik ke pendopo padepokan itu, meski tidak terlalu besar , rumah yg berada di tengah itulah menurut keduanya tempat Panembahan Lawu berada.


Setelah diterima seorang Cantrik padepokan, keduanya pun duduk menunggu kedatangan dari Panembahan Lawu.


Namun alangkah terkejutnya kedua orang itu karena Panembahan Lawu sedari tadi telah bersama seorang tamu dan saat ini tengah sedang makan bersama, oleh Cantrik itu kemudian keduanya diantar ke tempat dimana Panembahan Lawu berada.


Tempatnay tepat di belakang bangunan yg di duduki oleh Japra Witangsa dan Dewi Dwarani.


Keduanya kemudian berjalan beriringan menuju tempat itu yg tidak jauh dari tempat semula.


Setelah naik alangkah terkejutnya Japra Witangsa, bahwa yg tengah makan bersama seorang tua yg menurutnya adalah Panembahan Lawu itu adalah Raka Senggani.

__ADS_1


" Mari sini Kakang Witangsa dan Adi Dwarani, mengapa kalian terlalu lama, kenalkan ini adalah Eyang Panembahan Lawu," ucap Raka Senggani.


Mulut Japra Witangsa masih ternganga lebar tidak mempercayai dengan apa yg dilihatnya, baru setelah di tegur oleh Raka Senggani,


" Kang,.. awas kemasukan lalat itu mulut,..sini makan bersama kami,.." ucap Raka Senggani.


Barulah Japra Witangsa menutup mulutnya dan duduk dekat Raka Senggani diiringi oleh Dewi Dwarani.


Setelah duduk kemudian putra Ki Jagabaya itu berkata,


" Kapan adi Senggani tiba,?" tanya nya.


" Tidak terlalu lama,." jawab Raka Senggani.


Sambil mengambil nasi dan lauk nya, Japra Witangsa kemudian turut makan dengan Raka Senggani dan Panembahan Lawu.


" Apakah mereka berdua adalah teman angger,..?" tanya Panembahan Lawu.


" Benar, Eyang,..mereka ini adalah putra Ki Jagabaya dan yg ini putri Ki Bekel Kenanga," jelas Raka Senggani.


Kemudian keduanya memperkenalkan diri. Bahkan mereka tanpa sungkan menyebut Raka Senggani sebagai gurunya.


Panembahan Lawu itu tersenyum mendengar nya.


" Wah ternyata angger Senopati telah memiliki murid, sungguh luar biasa, semuda ini telah memiliki murid,..!" seru Panembahan Lawu.


Raka Senggani segera menyahutinya,


" Sebenarnya mereka bukan murid untukku Eyang, hanya sebagai teman yg memberikan latihan kepada mereka,.. disaat Kenanga di serang gerombolan rampok dari Gunung Tidar,.." jelas Raka Senggani.


" Apapun alasan nya, bukankah Angger Senopati yg telah mengajari mereka ,..bukan,.?" tanya Panembahan Lawu lagi.


Raka Senggani hanya menganggukkan kepalanya. Ia memang yg telah memberikan pengajaran tentang ilmu silat dan ilmu kadigjayaan itu kepada mereka.


" Bukan hanya kami berdua saja, ..Eyang,.. tetapi hampir seluruh anak muda yg ada di Kenanga yg menjadi murid adi Senggani ini,." jelas Japra Witangsa.


" Dan kami berempat termasuk yg paling beruntung karena dapat terus melanjutkan nya ketika ia sedang bertugas di Pajang,..Eyang," kata Japra Witangsa lagi.


" Baguslah kalau begitu, jadi ilmu yg telah Angger Senopati dapatkan itu dapat berguna bagi orang banyak, jadi semakin banyak orang yg memiliki kepandaian yg masih lurus dalam pemikiran nya, jangan seperti yg telah terjadi di Boyolangu itu,.." ujar Panembahan Lawu.


Ia kemudian memberikan gambaran yg lebih jelas lagi tentang lawan yg akan dihadapi itu, yg menurut nya masih bekas prajurit Majapahit yg senang yg namanya menjalani sebuah laku, namun terkadang ia tidak memperdulikan laku yg dijalani nya itu, terkadang sangat merugikan orang lain seperti yg terjadi saat ini, banyak sudah perempuan -perempuan muda yg telah menjadi korban nya.


" Jadi Angger Senopati harus menindak nya sebelum ia berhasil menguasai ilmu Rawa Rontek itu secara sempurna, jika itu telah terjadi akan semakin sulit untuk mengalahkan nya," jelas Panembahan Lawu.


" Mohon maaf sebelumnya Eyang,..apakah kedua temanku ini dapat Eyang buka simpul -simpul syaraf nya agar tenaga dalam mereka semakin kuat dan baik,?" tanya Raka Senggani.


" Nanti setelah ini, Eyang akan melihat keadaan nya,.. Angger Senopati," jawab Panembahan Lawu.


Kemudian setelah selesai makan, akhirnya Panembahan Lawu memeriksa keadaan dari Japra Witangsa dan Dewi Dwarani.


Ia mengatakan bahwa keduanya memang masih sangat sulit untuk di buka simpul -simpul syaraf nya, karena keduanya masih sangat kurang mempergunakan tenaga dalamnya.


Oleh sebab itu disarankan kembali kepada keduanya agar sering melakukan nya, dan juga melakukan laku agar tenaga nya dapat bertambah.


Walaupun demikian Panembahan Lawu tidak mematahkan semangat keduanya, ia pun melakukan permintaan dari Raka Senggani itu.


Dengan kemampuan nya, ia mulai mengurut satu persatu dari keduanya.


Dari yg pertama adalah Japra Witangsa kemudian diakhiri oleh Dewi Dwarani.


Kedua orang itu cukup terkejut hasil yg mereka terima dari hasil pijatan Panembahan Lawu itu, tubuh mereka terasa lebih enteng.


Dan keduanya merasakan tenaga nya bertambah.


Kemudian atas petunjuk dari Panembahan Lawu agar keduanya datang lagi setelah urusan di Boyolangu itu selesai.

__ADS_1


Keesokan harinya, ketiga nya segera berangkat ke arah timur menuju ke Kediri nanti selanjutnya akan berbelok ke selatan menuju Boyolangu.


__ADS_2