
" Baiklah , Nduk, aku tidak jadi membunuh lelaki ini atas permintaan mu, tetapj jangan sampai kau lepaskn , aku , guru mu masih punya persoalan sendiri padanya, hehh," ucap Mpu Loh Brangsang.
Pemimpin Padepokan Merapi itu meninggalkan tempat itu dengan diringi para murid nya, tinggallah Tara Rindayu sendiri di tempat itu.
" Kang maafkanlah Rindayu, bukan maksudku untuk menjebak kakang," ucap nya kepada Raka Senggani.
Pemuda itu memalingkan wajah nya, ia tidak menyangka bahwa gadis yg ada diahapannya itu sampai hati menipu dirinya. Teman nya sedari kecil bahkan ia teringat saat dirinya menyelamatkan gadis itu dari tangan Singo Lorok.
" Kang , sekali lagi maafkanlah Rindayu," ucap gadis itu.
" Kakang tidak menyangka , dirimu sampai hati menipu kakang, apa salah kakang kepadamu Ndayu, apaaa,..." teriak Raka Senggani.
Gadis itu menangis akibat bentakan Raka Senggani, seumur-umur baru kali ini ia mendengar ucapan yg sangat keras dari Raka Senggani.
" Kakang tidak salah, Rindayu lah yg salah, karena tidak dapat menolak permintaan guru, hi,hi, hi," jawab nya sambil menangis.
" Aku bersedia memaafkan mu Rindayu asalkan Kakang, kau lepaskan," ucap Raka Senggani.
" Kang , Rindayu tidak berani Kang, kalau memang ada sedikit saja keberanian pada diriku tentu waktu itu kakang tidak akan berhasil ditangkap mereka," jawabe Tara Rindayu lagi.
" Ndayu, kakang menyesal telah mengenal dan berteman denganmu, apa salah Kakang sehingga harus kau buat begini, bukankah kakang tidak pernah menyakiti mu," seru Raka Senggani lagi.
" Kakang Senggani benar, kakang tidak salah, bahkan kakang lah yg telah menolong Rindayu dari cengkraman Singo Lorok, waktu lah yg salah, karena tidak berpihak kepadaku, andai waktu itu aku tidak kakang tolong tentu Rindayu telah mati, dan tidak akan menderita begini," jawab gadis itu sambil menangis.
" Hehh, Ndayu , mengapa dirimu bisae berada di Padepokan ini, mengapa dirimu bisae menjadi bagian orang -orang gila ini, apakah dirimu tidak sadar telah di peralat oleh mereka,?" tanya Raka Senggani.
" Panjang ceritanya, Kang, yg jelas para pengawal dari Romo ku saat ini adalah murid dari Mpu Loh Brangsang ini, merekalah yg membawaku untuk sampai kemari," jelase Tara Rindayu.
" Pantas ,..." gumam Raka Senggani.
Sejak kedatangan nya di Kenanga dan setelah bertemu dengan Juragan Tarya serta para pengawal nya, ada rasa yg tidak senang terpancar dari wajah -wajah pengawal Juragan Tarya itu kepadanya.
Hehh, mengapa Juragan Tarya itu selalu saja salah dalam memilih pengawalnya, kata Raka Senggani dalam hati.
Sedangkan Tara Rindayu masih saja menangis di dekatnya.
" Sudahlah Rindayu , kakang ingin sendiri ,tinggalkan lah kakang," ucap Raka Senggani.
" Apakah kakang tidak lapar, biar Rindayu ambilkan nasi agar kakang dapat makan," kata Tara Rindayu.
Kepala Senopati Pajang itu menggeleng ia memang tidak berniat untuk makan apalagi makanan dari Padepokan Merapi itu, yg ada dihatinya adalah bebas dari tempat itu.
" Sudahlah Rindayu, kakang ingin sendiri, tinggalkan lah kakang, karena kakang pun tidak lapar, kakang hanya ingin bebas itu saja, " kata Raka Senggani lagi.
" Baiklah kang, nanti akan Rindayu coba membujuk Eyang Guru untuk melepaskan mu, karena kakang memang tidak bersalah," ucap Tara Rindayu.
Gadis itu pun meninggalkan tempat itu, hati nya hancur karena Lelaki pujaan hatinya telah sangat marah kepadanya, bahkan tidak memaafkannya.
Sambil menangis ia meninggalkan tempat itu, tinggallah Raka Senggani sendirian di sana.
Saat cahaya mentari mentari sore mulai menghilang dan di gantikan oleh gelapnya malam.
Terlihat lima orang tengah mendekati tempat itu dengan cara mengendap -endap.
Dua orang masuk dan meloncati pagar yg tidak terlalu tinggi, mereka berdua langsung mendekati tubuh Senopati Pajang yg masih dalam keadaan terikat itu.
Dengan cepat keduanya mendekati Raka Senggani. Senopati Pajang itu terkejut karena melihat keduanya.
" Rangga Aryo Seno dan Wira Dipa," seru nya kaget.
" Ssssttthh,"
Kata Rangga Wira Dipa sambil memalangkan jari telunjuk nya di depan mulutnya, menyuruh diam Senopati Pajang itu, dan Raka Senggani langsung berkata,
" Cepat, lepaskan ikatan ku ini,"
" Baik,.." jawab Rangga Wira Dipa.
Kemudian Rangga Wira Dipa melepaskan ikatan tali yg membelenggu tangan dari Raka Senggani itu, dan setelah terlepas, terdengar ada langkah orang yg mendatangi tempat itu.
" Cepat kalian semua berdua bersembunyi ," ucap Raka Senggani.
__ADS_1
" Senopati sendiri , bagaimana, ?" tanya Rangga Wira Dipa.
" Tenang , aku tidak akan apa -apa, cepatlah , sebelum mereka datang," perintah Raka Senggani.
Kedua orang perwira Pajang itu segera melompat keluar dari padepokan itu.
Tinggallah Raka Senggani sendirian di tempat itu tetapi dengan tangan nya sudah terlepas dari ikatan nya.
" Maaf kan, kakang Senggani , aku di perintahkan untuk memberimu makan," ucap orang itu.
Ternyata yg datang adalah Dewi Rasani Mayang, dengan membawa bungkusan makanan dari daun Pisang.
" Aku tidak lapar, Mayang , bawa kembali makanan mu itu, terima kasih telah mau perduli terhadap ku ," kata Raka Senggani.
" Tetapi kakang Senggani sudah seharian tidak makan, makanlah ini, makanan ini sengaja Mayang masak sendiri untuk kakang," ucap Dewi Rasani Mayang.
" Sekali lagi kakang ucapkan terima kasih , dan memang kakang belum lapar, karena kakang sudah terbiasa tidak makan bahkan selama tiga hari," ucap Raka Senggani.
Ia memang menolak semua pemberian dari padepokan itu, karena ia sudah tidak percaya kepada semua orang yg ada di dalam nya. Jangankan Dewi Rasani Mayang kepada Tara Rindayu pun ia sudah tidak percaya lagi.
Dan sebenarnya kali ini adalah kesempatan nya untuk ganti membalasnya tetapi ia merasa kasihan kepada Gadis itu, menurut nya Gadis itu tidak tahu apa -apa yg bersalah adalah guru nya, pikir Raka Senggani.
" Sudahlah Mayang tinggalkan kakang sendiri disini, jangan persulit dirimu dengan membantu kakang, " ucap Raka Senggani.
Ia berusaha mengusir gadis itu dengan cara halus, dan benar saja , Dewi Rasani Mayang segera berlalu sambil berkata,
" Baiklah jika kakang tidak mau menerimanya, makanan ini Mayang tinggalkan disini, nanti jika kakang lapar kakang dapat mengambil nya," ucap Dewi Rasani Mayang.
" Iya Mayang , segeralah tinggalkan kakang sendiri, " ucap Raka Senggani lagi.
Kemudian gadis itu pun berlalu dari tempat itu. Dan kini Raka Senggani tinggal sendiri, ia kemudian berusaha meninggalkan tempat itu, dengan melompat,
" Hufhhh,"
Aneh , pagar yg tidak terlalu tinggi itu tidak mampu di lompatinya.
Apa yg terjadi pada diriku, katanya dalam hati.
Buru -buru, ia keluar dari gerbang padepokan itu setelah di dengar nya ada suara langkah kaki mendekati tempat itu.
Ternyata kali ini yg datang adalah Arya Pinarak dan Kuda Wira.
" Hehh, kemana perginya si keparat itu, " seru Arya Pinarak kaget.
Setelah mendapati tempat itu telah kosong, Raka Senggani tidak berada di situ lagi.
" Benar kakang Pinarak , kemana perginya Raka Senggani itu,?" tanya Kuda Wira.
Keduanya merasa heran ternyata tawanan nya berhasil kabur dari tempat itu.
Buru -buru keduanya masuk ke dalam dan melaporkan hal itu kepada Mpu Loh Brangsang.
" Kalian tidak perlu khawatir, ia masih berada di sekitar sini, karena seluruh ilmu dari anak itu telah aku musnahkan dengan menotok beberapa bagian syaraf utamanya, bahkan tidak lama lagi ia akan mati sendiri jika tidak ada yg mampu menolong nya," jelase Mpu Loh Brangsang.
" Tetapi kami masih penasaran Guru, jika ia belum ******, kemungkinan nya, ia masih dapat menjadi batu sandungan lagi, jika di biarkan tetap hidup," ucap Kuda Wira.
" Jika kalian memang tidak percaya, segeralah cari, ia masih berada di sekitar sini, belum terlalu jauh dan akan bersembunyi jika kalian mencari nya," kata Mpu Loh Brangsang.
Dan kedua orang itu penasaran dengan ucapan pemimpin padepokan Merapi itu, keduanya meminta izin untuk mencari Raka Senggani. Oleh Mpu Loh Brangsang keduanya di izinkan.
Lalu Kuda Wira dan Arya Pinarak segera bergegas keluar tempat itu, mereka berusaha mencari Raka Senggani yg telah berhasil lolos itu,.
Sementara Raka Senggani yg tidak menyadari diri nya tidak memiliki apa -apa lagi masih merasa heran, ia berusaha terus untuk mendapatkan kembali seluruh ilmu yg di milikinya, namun sia -sia, tidak ada satu pun yg dapat di pergunakan nya.
Hehh, apakah Mpu Gendeng itu telah mengambil seluruh ilmu ku, anehhb,..katanya dalam hati.
Namun ia tidak sempat berpikir terlalu lama, ia segera bersembunyi setelah mendengar ada suara langkah kaki dan orang yg berbicara yg akan lewat di dekatnya.
Ia kemudian bersembunyi ke dalam gerumbul semak belukar itu.
Bukankah itu adalah Arya Pinarak dan Kuda Wira, mereka pasti sedang mencari diriku , dan aku harus meninggalkan tempat ini secepatnya, beruntung tadi aku tidak jadi menantang perang tanding Mpu Gendeng itu, ternyata ilmu ku semuanya telah lenyap, kata Raka Senggani dalam hati.
__ADS_1
Ia bergegas meninggalkan tempat itu dengan berlawanan arah dari kedua orang yg lewat tadi.
Satu malaman, dengan susah payah ia berhasil mendekati kaki Merapi , Raka Senggani terus merayap turun meninggalkan tempat itu.
Hatinya kali ini benar -benar hancur , karena telah di khianati oleh Tara Rindayu , teman nya dari kecil dan yg kedua yg tidak kalah sakit nya, seluruh kemampuan nya hilang tidak bersisa.
Ia menjadi seorang yg tidak memilki apa -apa.
Menjelang tengah hari, sampai lah ia di kaki gunung Merapi sebelah timur, ia berusaha mencari sebuah mata air atau umbul.
Karena terasa oleh nya haus dan lapar yg teramat sangat. Dan ketika ia mendapati sebuah umbul secara tergesa -gesa ia segera meminum nya dengan kedua tangannya.
Sampai tiga kali cedukan ia meminum air itu, terasa segar rasanya.
Namun tanpa di sadari nya ada keanehan terjadi pada tubuh nya.
Hehh, mengapa tubuh ku terasa lebih ringan setelah meminum air ini, ucap nya dalam hati.
Penasaran , ia segera mengambil lagi air itu dan meminum nya, dan memang tubuh terasa semakin kuat, dan ada getar -getar bahwa tenaga dalam nya mulai ada.
Aneh , pikir nya lagi.
Apakah umbul ini memang berkhasiat memulihkan seluruh ilmuku yg telah hilang itu , tanya nya dalam hati.
Sampai lama ia memandang mata air itu , tidak ada keanehan padanya.
Agak lama ia berada di tempat itu, kemudian walau agak berat hati ia segera meninggalkan tempat itu, ia masih khawatir Mpu Loh Brangsang masih dapat menemukan nya.
Sementara disisi yg lain , Lima perwira Pajang itu tengah menunggu kedatangan dari Raka Senggani, mereka merasa heran mengapa Senopati Brastha Abipraya itu kunjung tiba.
" Apakah ia bertarung kembali Aryo Seno,?" tanya Rangga Wira Dipa.
" Kemungkinan nya tidak , Wira Dipa, selain ia seorang diri , saat ini tentu tubuh nya terlalu lemah untuk bertarung lagi," jawab Rangga Aryo Seno.
" Hehh, mengapa tadi malam kita meninggalkan nya, !" seru Rangga Wira Dipa.
" Bukankah ia sendiri yg menyuruh kita untuk segera pergi dari tempat itu, bahkan ketiks kita menunggu nya , ia tidak kunjung muncul juga," jawab Rangga Aryo Seno.
Disaat kelima nya masih kebingungan mengenai keberadaan dari Senopati Brastha Abipraya itu, tiba -tiba si Jangu berlari dari tempat itu.
Dan kelima nya pun segera ikut mengejarnya .
Benar saja, Si Jangu telah berdiri dekat dengan se sosok tubuh yg masih duduk di bawah sebatang pohon yg cukup rindang dan ia adalah Raka Senggani.
" Senopati ,...." Teriak Rangga Aryo Seno dan Rangga Wira Dipa bersamaan.
Orang itu segera menoleh, dan ia memang Senopati Brastha Abipraya sendiri.
" Mengapa Senopati Brastha Abipraya lama sekali baru tiba disini, dan kami berdua masih sempat menunggumu saat masih diatas ,tadi malam, tetapj Senopati Brastha Abipraya tidak juga muncul, apakah telah terjadi pertarungan lagi,?" tanya Rangga Wira Dipa.
" Ahh, tidak Rangga Wira Dipa, panjang ceritanya, sebaiknya kita tinggalkan tempat ini dan kembali ke Pajang," jawab Raka Senggani.
Ia segera berusaha naik ke atas punggung kudanya si Jangu, tetapi kali ini ia memang harus berusaha keras agar dapat naik tidak seperti biasanya dengan mudah nya ia melompat naik.
Kejadian ini di lihat oleh Rangga Wira Dipa dan Rangga Aryo Seno.
" Apakah Senopati Brastha Abipraya dalam keadaan sakit, ?" tanya Rangga Aryo Seno.
" Tidak , hanya sedikit lapar saja, sehingga sulit untuk naik ke atas punggung si Jangu, ayo kita berangkat," ajak Raka Senggani.
" Mari,..." ucap Rangga Wira Dipa.
Kemudian enam ekor kuda itu segera meninggalkan kaki gunung Merapi itu mereka menuju ke timur, tepatnya menuju kadipaten Pajang.
Ketika mendekati sebuah pedukuhan yg agak besar rombongan itu berhenti, karena Senopati Brastha Abipraya sudah sangat ingin mengisi perutnya, yg sedari tadi hanya diisi oleh air putih saja.
Rombongan itu pun segera berhenti disana.
Mereka segera memesan makanan pada sebuah warung, dan warung itu cukup ramai pengunjung nya.
Kemudian Raka Senggani bercerita serba sedikit kepada dua orang Rangga kepercayaan dari Tumenggung Wangsa Rana itu, ia mengatakan bahwa penguasa Gunung Merapi itu berhasil melenyapkan ilmunya, sehingga membuat nya kesulitan untuk turun dari Gunung itu, apalagi di tambah ia harus bersembunyi dari kejaran penghuni padepokan itu, sehingga membuat nya terlambat sampai ke bawah, juga saat ia naik ke atas punggung kudanya itu, karena memang ia sudah tidak memilki apapun , sehingga amat sulit untuk naik nya.
__ADS_1
Dua orang Rangga itu sangat terkejut mendengar nya.