Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 10 Bertarung di alam lain. bagian pertama.


__ADS_3

Kembali ke pertarungan antara Raja Jin penguasa Gunung Tidar itu melawan Senopati Pajang.


Karena merasa terdesak oleh Raka Senggani , Raja Jin itu kemudian terlihat mulai memandangi ke arah Timur.


" Hraaaghhhhh, sebentar lagi pagi, aku akan semakin kesulitan menghadapi manusia satu ini, akan ku ajak ia bertarung di alam jin," kata Raja Jin penguasa Gunung itu.


Ia kemudian menggerakkan dua tangan seolah sedang menari, sambil mulutnya mengeluarkan suara yg tidak jelas.


Tiba-tiba,


" Hraaaghhhhh,"


Makhluk itu menghilang kembali dari pandangan mata orang -orang yg ada di situ, tetapi tidak dengan Raka Senggani.


Ia masih mampu melihat kemana lari nya makhluk halus itu, dan ia kemudian mengejar nya, tetapi secara tiba -tiba ia merasakan ke anehan setelah melewati tempat dimana penguasa Gunung itu menghilang, ia merasa masuk ke dalam alam lain yg berbeda.


Ya, ternyata penguasa Gunung Tidar itu sengaja membawa Raka Senggani ke alam nya tanpa di sadari oleh Senopati Pajang itu.


Ia terus mengejar penguasa Gunung Tidar itu dan kemudian berhasil menyusul nya.


Di sebuah tanah lapang yg cukup luas, penguasa Gunung Tidar itu berhenti.


Ia tertawa,


" Huaaa, ha, ha, ha, sekarang kau tidak akan dapat keluar dari sini, " ucap nya.


Sang Senopati Pajang itu agak aneh mendengar ucapan dari penguasa Gunung Tidar itu.


Ia memandangi tempat itu dan dilihatnya tempat merupakan sebuah tempat yg sangat ramai, di padati oleh rumah -rumah yg sangat indah .


Agak ke barat di lihatnya sebuah bangunan megah layak nya istana.


Ketika ia memandangi arah timur, tidak ada cahaya mentari yg timbul.


" Hemmph, aneh bukankah tadi waktu hampir pagi, mengapa mentari belum pun muncul," bathin nya.


" Kau akan ****** di tanganku saat ini, karena ini adalah alam ku , alam para jin dan lelembut,, Akulah penguasa di tempat ini, Ha, ha, ha, ha, ha," terdengar ucapan penguasa Gunung Tidar itu.


" Mau di alam mu, mau di akherat , kau memang harus di basmi, di musnahkan dari muka bumi," balas Raka Senggani.


Tombak Kyai Sepanjang itu telah di genggamnya dengan kuat.


Tampaknya sang Senopati itu tengah mempersiapkan serangan.


" Huwaaa, ha, ha,ha, cobalah kalau kau mampu,!"" seru penguasa Gunung Tidar itu.


" Baik, aku akan buktikan,. heaahhh,"


Sang Senopati Pajang itu kemudian melesat dengan cepat laksana anak panah yg lepas dari busur nya, dan serangan nya kali ini langsung pada kedua mata penguasa Gunung Tidar.


" Hraaaghhhhh,"


Penguasa alam lelembut itu pun segera menghindar dengan gesit nya, kemudian ia membalasi serangan Raka Senggani itu dengan sorot matanya.


" Dhummmbbh,"


Hampir saja tubuh sang Senopati itu terkena pancaran api yg keluar dari matanya itu.


Mengetahui lawan nya semakin cepat gerakannya, Raka Senggani kembali meningkat kan ilmu peringan tubuh nya.


Sehingga pada suatu kesempatan, di saat tubuh penguasa Gunung Tidar itu terlihat membungkuk hendak melakukan penyerangan , dengan mengemposi seluruh tenaga dalam nya Senopati Pajang itu melesat , melompat ke udara dengan sangat tinggi seraya mengarahkan tombak pusaka Kyai Sepanjang itu ke arah punggung dari Penguasa alam jin itu.


" Craaaakk,"


Terdengar bunyi tombak Kyai Sepanjang yg berhasil melukai pundak Jin gundul itu.


Ternyata meskipun lawan nya bergeraka sangat cepat, penguasa Gunung Tidar masih mampu untuk menghindari serangan itu, dengan memiringkan tubuh nya, meski tidak sepenuh nya berhasil karena Kyai Sepanjang masih mampu mengenai pundak nya itu.


Penguasa Gunung Tidar itu pun kembali melompat mundur sambil memegangi pundak nya.


Nampak tetesan darah yg berwarna hitam pekat keluar dari luka nya itu.


" Hraaaghhhhh, memang kau tidak dapat di beri hati , manusia, terima ini, hiiiih," seru Penguasa Gunung Tidar.


Ia melemparkan senjata berupa paku - paku kecil yg sangat banyak ke arah tubuh Senopati Pajang itu.


Bagaikan hujan paku, tubuh Senopati Pajang itu langsung melesat menghindari serangan senjata rahasia itu dan anehnya serangan dari penguasa jin itu, tidak berhenti sampai ia menemui sasarannya.


Raka Senggani seolah di kerubung tawon yg mengejar nya kemana pun ia pergi.


" Gila, sangat gila , apa yg harus kulakukan,". katanya dalam hati.


Tanpa memperdulikan serangan yg memderu keras itu, Raka Senggani Kemudian memutar tombak Pusaka kyai Sepanjang seperti baling -baling.


" Heaaahh,"


Paku -paku berhasil rontok sebahagian, namun ada juga yg berhasil lolos dan menyerang tubuh Senopati Pajang itu.


Keanehan kembali terjadi, tidak ada satu paku pun yg berhasil menembus tubuh sang Senopati itu.


" Hahh,"


Gumam Senopati Pajang heran, meskipun laksana tawon yg mengerubungi nya tidak satu pun yg melukai nya.


Melihat hal, itu sang Senopati kembali melompat dan langsung memberikan serangan kepada Raja Jin itu.


" Hiyyah,"


Sebuah pukulan jarak jauh di lontarkan oleh Raka Senggani, ajian Wajra Geni itu kembali menyasar tubuh penguasa alam lelembut itu.


Hasil nya, tubuh sang Raja Jin itu terdorong surut ke belakang. Kembali untuk yg kedua kali nya Senopati Pajang itu melontarkan ajian Wajra Geni nya, dan untuk kedua kali itu , ia sambil melesat menghujamkan tombak pusaka Kyai Sepanjang.


" Heaaahh, "


" Craaaabbbhhh,"

__ADS_1


Tombak pusaka Kyai Sepanjang itu berhasil masuk ke perut tambun sang penguasa alam lelembut itu.


" Aaaaaakkhhhh,"


Teriakan yg keluar dari mulut , sang Raja jin itu. Ia sampai jatuh terduduk.


Darah hitam pekat kembali mengucur dari bekas luka tusukan tombak itu.


Dasar makhluk halus meski telah dua kali ia terluka namun masih mampu untuk berdiri kembali, tetapi kali ini tubuh nya nampak goyah , terdengar suara keluar dari mulutnya dan suara itu tidak di mengerti oleh Raka Senggani.


Sehingga Senopati Pajang itu tetap tegak berdiri menatap kearah Raja Jin itu.


Tiba-tiba saja tidak tahu darimana datang nya di tempat itu telah hadir ratusan makhluk halus yg beraneka rupa , dan rata -rata memiliki wajah yg menakutkan. Mereka mengepung Senopati Pajang itu.


" Hraaaagghhh, aaargghhh kkraaaggghh,"


Suara menyeramkan keluar dari mulut makhluk halus itu. mereka bersiap untuk menyerang Raka Senggani.


Kembali Senopati Pajang itu dihadapkan dengan sebuah kesulitan harus berhadapan dengan makhluk halus yg sangat banyak itu.


" Hempph, apa yg harus kulakukan, apakah mereka ini harus ku habisi semua,". batin nya.


Tampak tombak pusaka Kyai Sepanjang itu berputar sangat cepat.


Ketika terdengar teriakan dari mulut sang Raja Jin itu,


" Hraaaagghhh,"


Serentak makhluk halus yg mengepung Senopati Pajang itu menyerang dengan suara yg sangat bising.


Raka Senggani, segera melesat ke udara menghindari serangan makhluk halus yg sangat banyak itu.


Ketika tubuh nya meluruk turun , teriakan yg keras keluar,


" Wajraa , Geeniii, hiyyyah,"


" Dhummmbbh,"


Makhluk halus yg mengepung nya itu pecah , mereka terpelanting akibat ajian Wajra geni itu, meski sebahagian masih hidup dan kembali akan meyerang.


" Hraaaagghhh, aaargghhh, kkraaaggghh"


Bagi Senopati Pajang itu setelah mendarat di atas tansh ia langsung melentingkan tubuhnya dan memberikan tendangan beruntun ke arah makhluk halus yg masih mampu berdiri itu.


Tidak sampai di situ, Tombak pusaka Kyai Sepanjang pun ikut menyambar -nyambar laksana patukan ular.


Hasilnya , makhluk halus itu tinggal sedikit yg tersisa dan mereka nampak mulai ketakutan.


Sementara pertarungan yg terjadi di atas puncak gunung Tidar itu telah mendekati akhir nya , tampak Resi Yaramala sudah terlihat kelelahan ketika harus berhadapan dengan Biksu Maha Gelang.


Sudah beberapa kali , Gelang -gelang baja milik Biksu Maha Gelang itu telah berhasil menerobos masuk menembus pertahanan Resi dari Hindustan itu.


Sementara Matahari telah tepat berada di atas kepala.


" Menyerahlah , kau Yaramala, akan ku maafkan kesalahan mu yg telah membunuh adik perempuan ku itu," seru Biksu Maha Gelang.


Di tempat yg tidak jauh dsri situ, keadaan Resi Brangah pun tidak jauh berbeda, setelah kedatangan Rasala yg membantu Ki Gede itu, Resi dari Blambangan itu pun harus mengakui keunggulan dari dua orang lawan nya itu.


" Hehh, Ki Gede, apakah kau tidak punya muka karena telah berani mengeroyok ku,". teriak Resi Brangah.


" Apa peduli kami, setiap orang yg mengacau disini, di tanah Perdikan Mantyasih ini harus segera di basmi, dan kami pun tidak harus malu karena ini bukan perang tanding, kau dan teman mu itu harus bertanggung jawab atas kekacauan yg telah terjadi disini," sahut Rasala.


Jelas putra Ki Gede itu tidak akan membiarkan orang tua nya itu kalah di tangan Resi Brangah tersebut.


" Sekarang menyerahlah,, kau Resi Brangah, biar Demak yg akan memutuskan hukuman atas dirimu," seru Ki Gede Mantyasih.


" Ha, ha, ha, tidak ada kata menyerah untuk seorang Brangah, majulah kalian berdua , tangkap lah aku jika kalian mampu,!". balas Resi Brangah.


Mendengar hal itu, Rasala langsung menyerang ia tidak senang atas ucapan dari Resi Brangah itu.


" Hiyyyah, ****** kau," teriak Rasala.


Pedang yg ada di tangan langsung menghujam ke arah dada Resi Brangah, namun masih berhasil di elakkan oleh Resi dari Blambangan itu.


Tetspi serangan dari Ki Gede Mantyasih tidak mampu dihindarkan lagi.


Ujung tombak Ki Gede berhasil menembus dada Sang Resi tersebut.


" Aaaakkhh ,"


Terdengar teriakan dari mulut Resi Brangah tersebut.


Ia masih mampu memegang landean tombak Ki Gede Mantyasih Mantyasih itu dengan kedua tangan nya.


Darah tsmpak mengucur dari dada nya.


Perlahan-lahan tubuh sang Resi tersebut itu limbung dan kemudian terjatuh ke tanah.


Akhirnya Resi Brangah tewas di tangan Ki Mantyasih yg di bantu Putra nya sendiri.


Setelah melihat kenyataan yg telah mereka hadapi, Nyi Ronce berbisik kepada Sruni,


" Hehh, Sruni segera kita tinggalkan tempat ini, tidak ada yg harua kita perjuangkan lagi, Resi Brangah dan Chandala Gati telah tewas," bisik nya kepada muridnya itu.


" Tetapi Guru, yg mengepung kita masih sangat rapat , tidak ada celah untuk melarikan diri," jawab Sruni.


" Kau segera di belakangku, begitu isyarat dari ku segera kau tinggalkan tempat ini," kata Nyi Ronce lagi.


" Baik, guru," jawab Sruni.


Terlihatlah Nyi Ronce sedang merapal ajian milik nya Puspa Ronce raga pasha.


" Hiyyah, ****** kalian semua," teriak Nyi Ronce.


Sebuah angin pukulan yg sangat keras menerpa para pengawal tanah Perdikan dan para prajurit Pajang.

__ADS_1


Kepungan mereka itu jadi buyar karena banyak para pengawal dan prajurit yg terlempar jatuh sehingga yg lain terlihat terpaku melihat teman -teman nya banyak yg jadi korban, tidak menyia -nyiakan kesempatan , Nyi Ronce memberikan isyarat kepada muridnya Sruni, dan sang murid pun tanggap.


Sruni kemudian berlari meninggalkan tempat itu dengan di ikuti oleh Nyi Ronce.


" Jangan lepaskan mereka berdua," teriak Wirya.


Prajurit dan pengawal tanah Perdikan seperti tersadar segera mengejar kedua perempuan itu.


Namun sekali lagi, Nyi Ronce melepaskan pukulan jarak jauhnya dan menghentikan pengejaran mereka.


" Hahhh mengapa mereka dapat lolos,?" tanya Anggono.


" Mereka telah membuat para prajurit dan pengawal tanah Perdikan tidak berani mengejar mereka karena serangan Nenek tua itu," jawab Wirya.


" Kalau begitu mari kita lihat keadaan Ki Gede dan Tumenggung Wangsa Rana," ajak Anggono.


Kemudian para prajurit dan pengawal tanah Perdikan Mantyasih kembali menuju pada pertarungan dari Tumenggung Wangsa Rana dan Macan Baleman itu, meskipun Macan Baleman telah banyak keluar darah namun ia tidak mau menyerah.


Ia kehilangan kewaspadaan setelah salah seorang Lurah prajurit Pajang yg berseru kepada Tumenggung Wangsa.


" Kanjeng Tumenggung , cepatlah , karena saat ini tinggal Kanjeng Tumenggung saja dengan Biksu Maha Gelang yg belum menyelesaikan pertarungan nya,"


" Apakah Resi Brangah telah tewas Lurah Banta,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.


Lurah prajurit Pajang itu mengangguk kan kepala nya.


" Baiklah kalau begitu, sudah saat nya aku mengakhiri perlawanan Macan Baleman ini," berkata di dalam hatinya Tumenggung Wangsa Rana itu.


Ia kembali menggerakkan pedang nya dengan cepat seraya melepaskan serangan .


Kali ini yg disasar sang Tumenggung adalah perut dari Macan Baleman.


Bekas begal alas Mentaok itu memapasi serangan itu dengan golok nya, kemudian murid dari Resi Brangah itu ganti membalas dengan memberikan tendangan ke arah dada Tumenggung Wangsa Rana.


Pemimpin Prajurit Pajang itu berkelit seraya menebaskan pedang nya ke arah kaki dari Macan Baleman, sayang bekas begal alas Mentaok itu masih lebih cepat menghindarinya.


Tetapi tiba -tiba saja disaat pertarungan yg sedang terjadi itu sebuah tombak melayang kearah punggung Macan Baleman itu.


" Jleebbbbbhh,"


" Aaaaakkkkhhhh,"


Teriakan untuk terakhir kali nya keluar dari mulut bekas begal alas Mentaok itu.


Tombak itu menancap di punggung Macan Baleman tembus ke dada.


Macan Baleman langsung jatuh tersungkur.


Rupanya Ki Gede Mantyasih, tidak memberi ampun lagi kepada murid Resi Brangah itu , dengan cepat ia melemparkan tombak nya untuk mengakhiri hidup dari Macan Baleman itu.


Ki Rajungan sendiri,setelah melihat kenyataan bahwa tidak ada lagi teman nya yg selamat segera mencari jalan lari , namun tindakan nya ini di ketahui oleh Rasala.


" Mau lari kemana kisanak, menyerah lah, atau kau harus mati , sia-sia," ucap Putra Ki Gede itu.


Ki Rajungan kemudian berhenti sebentar, ia berpikir untuk menyerah saja karena tidak ada guna nya lagi melakukan perlawanan , hanya akan bunuh diri saja.


" Baiklah , aku menyerah,". sahut Ki Rajungan.


Ia kemudian melepaskan senjata nya dan menyatakan diri menyerah.


Tinggallah , Resi Yaramala yg berhadapan dengan Biksu Maha Gelang.


Pertarungan keduanya pun telah mendekati akhir, setelah beberapa kali , Resi dari Hindustan itu harus terkena gelang - gelang bajanya Biksu Maha Gelang.


Sang Biksu dari Tibet itu kemudian melepaskan pukulan Sinar Emas.


Oleh resi Yaramala di hadapi dengan pukulan kelabu buat menahan serangan Biksu Maha Gelang itu.


Kedua nya sampai terlempar akibat benturan ilmu tersebut.


" Baiklah gelang , aku akan mengadu jiwa dengan mu," ucap Resi Yaramala.


Ia kembali memusatkan nalar budinya untuk mengeluarkan ajian milik nya itu.


" Hiyyah ," teriak Resi Yaramala.


Sersngan itu mampu di hindari oleh Biksu Maha Gelang.


Kemudian Sang Biksu membalas serangan itu dengan pukulan Sinar Emas milik nya.


" Heaahhh ,"


Dhummmbbh Bleghuaaarrrr,"


" Aaakkhh," teriakan Resi Yaramala.


Resi dari Hindustan itu jatuh terkapar di tanah dalam keadaan diam.


Biksu Maha Gelang mendekati nya dan memeriksa tubuh dari Resi Yaramala itu.


Namun sebelum Biksu Maha Gelang berhasil menyentuh tubuh dari sang Resi. Tiba-tiba,


" Jleebbbbbhh,"


" Aaaaaakkhh ,"


Sebuah tongkat menembus dada Biksu Maha Gelang.


Biksu dari Tibet itu langsung jatuh tertelungkup. Dan akhirnya tewas.


Pertarungan kedua tokoh sakti dari mancanegara itu berakhir sampyuh.


Sebelum kematian nya, Resi Yaramala berhasil menusuk kan tongkat besi nya ke dada Biksu Maha Gelang.


" Kakang,". teriak Biksu Mandrayana .

__ADS_1


Ia langsung mengangkat tubuh kakak seperguruan nya itu.


__ADS_2