Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 4 Si Topeng Iblis. bagian ke tiga.


__ADS_3

Sementara nun jauh di kota Kadipaten Madiun, Patih Haryo Winangun tengah di sibuk kan dengan persoalan Si Topeng Iblis, yg kembali beraksi dan tidak tanggung -tanggung , rumah seorang Pangeran , putra dari Adipati Madiun telah di satroni oleh Si Topeng Iblis.


Pangeran Panggung putera dari Adipati Madiun harus ter luka cukup parah karena melawan dengan gigih ter hadap Si Topeng Iblis ter sebut.


Namun itu harus di bayar mahal dengan ter luka nya sang Pangeran dan ter bunuh nya sepuluh prajurit yg menjaga rumah nya itu.


" Bagaimana ini, apa yg harus Ku kata kan kepada Kanjeng Gusti Adipati, bahwa putra nya pun sampai ter luka menghadapi SI Topeng Iblis itu,!" kata nya di depan para Pembesar keraton Madiun itu.


" Maaf sebelum nya Kanjeng Patih, apa tidak sebaik nya kita me mohon bantuan dari padepokan Lereng Wilis, kepada Mpu Phedet Pundirangan itu,!" ucap seorang Tumenggung yg ber nama Warabaya.


" Apakah Mpu Phedet Pundirangan mau turun tangan langsung kemari, mengingat ia sudah tidak pernah ter lihat lagi dalam urusan ke duniawian lagi, ia sering ber tapa dan mengasing kan diri,!" jelas Patih Haryo Winangun itu.


" Mungkin jika Kanjeng Patih sendiri yg datang ke sana, ia akan ber pikir dua kali untuk menolak nya,!" kata Tumenggung Warabaya lagi.


" Akan tetapi Kanjeng Adipati telah memohon bantuan dari Kotaraja Demak, dan mungkin sebentar lagi , salah seorang Senopati tangguh akan di kirim kemari, apa tidak sebaik nya kita menunggu utusan dari Demak itu,?" tanya Patih Haryo Winangun.


" Apakah Kotaraja masih memiliki lagi Senopati tangguh tanggon, sejak Kotaraja mengirim kan pasukan ke Sunda Kelapa itu, Kanjeng Patih,!" jelas Tumenggung Warabaya lagi.


" Akan tetapi kita harus menunggu utusan itu dalam setengah purnama ini, jika ia tidak datang baru lah kita me mohon bantuan ke padepokan Wilis itu,!" jawab Patih Haryo Winangun.


" Jika Si Topeng Iblis itu ber aksi lagi dalam se pekan ini, bagaimana Kanjeng Patih apakah kita hanya akan membiar kan nya saja , atau malah kita dengan senang hati membiar kan nya memenggal kepala kita,,?" tanya Tumenggung Warabaya.


" Mulai saat ini kita harus meningkat kan penjagaan di sekitar kota kadipaten Madiun ini, jika perlu setiap pendatang yg keluar masuk harus di periksa dan di data, serta untuk keperluan apa mereka datang ke Madiun ini,!" ungkap Patih Haryo Winangun itu.


" Dan mungkin sebaik nya kita menjalin kerjasama dengan kadipaten Ponorogo, karena kadipaten itu pun tengah di sibuk kan dengan per soalan Si Topeng Iblis itu,!" kata Tumenggung Warabaya.


" Memang sebaik nya demikian, bahkan perbatasan antara Madiun dan Ponorogo itu harus semakin di perketat, untuk mengurangi kemungkinan di satroni oleh Si Topeng Iblis itu,!" jelas Patih Haryo Winangun.


" Baik Kanjeng Patih, nanti akan kami kirim utusan ke Ponorogo untuk meyampai kan pesan itu,!" ucap Tumenggung Warabaya.


" Segera lah Tumenggung laksana kan itu dan untuk sementara kita harus membicara kan hal ini kepada Kanjeng Adipati, mungkin beliau punya satu pemikiran yg lebih baik,!" kata Patih Haryo Winangun.


Kedua petinggi kadipaten Madiun itu langsung menghadap kepada kanjeng Adipati Madiun.


Melihat kedua orang itu masuk ke dalam istana, langsung Sang Adipati Madiun ber diri ,


" Bagaimana ini Adi Patih Winangun, mengapa ananda Pangeran bisa sampai ter luka, apa kerja para prajurit , dan di mana para Senopati Madiun, untuk menangkap satu orang saja tidak mampu, Hehhh,!" seru Sang Adipati dengan wajah merah padam.


Di dalam dada Adipati Madiun terasa panas, se olah ada yg membakar nya.


Patih Haryo Winangun dan Tumenggung Warabaya hanya mampu menunduk kan kepala nya tidak mampu menatap wajah Sang Adipati, kedua nya diam seribu bahasa.


Nampak Sang Adipati ber jalan mondar-mandir di depan Singgasana nya, dengan wajah tegang,


" Dan di mana utusan dari Demak itu, apakah mereka tidak akan ber sedia membantu Madiun lagi, atau memang sudah sangat sulit untuk mencari orang sakti di negeri ini, hanya untuk menunduk kan se orang Topeng Iblis saja tidak ada yg mampu, akan Ku nikah kan putri sekar kedaton ku kepada siapa saja yg mampu mengalah kan SI Topeng Iblis itu,,!" ungkap Adipati Madiun itu dengan mengeluar kan sebuah sayembara.


Kedua petinggi kadipaten Madiun sampai ter kejut mendengar nya, memang Adipati memiliki putri ragil yg masih belum menikah.


Namun kedua nya tidak berani ber kata apa -apa karena itu adalah jalan ter baik untuk menghindari kemarahan dari sang Adipati.


*******


Di desa Kenanga sendiri, Raka Senggani tengah berada di rumah Ki Jagabaya setelah sebelum nya ia mampir di rumah Ki Bekel.


" Bagaimana Khabar Ki Jagabaya apakah dalam keadaan baik,?'' tanya Raka Senggani kepada Ki Jagabaya.

__ADS_1


" Baik, sudah sangat baik, bahkan bekas nya pun hampir sudah tidak nampak lagi,!" jawab Ki Jagabaya.


" Bagaimana dengan mu, Ngger , kami dengar Angger Senggani telah ber hasil menyelamat kan putri Juragan Tarya itu, bahkan yg sangat mengejut kan lagi berita Angger Senggani telah di angkat sebagai seorang Senopati di Pajang,!" kata Ki Jagabaya lagi.


" Benar Ki, bahwa Tara Rindayu ber hasil kami selamat kan dari tangan Singo Lorok, dan juga Senggani memang telah di angkat sebagai Senopati di Pajang, dan kurang dari sepuluh hari, Senggani harus kembali lagi ke Pajang, karena ada sebuah tugas yg harus di tunai kan,,!" jelas Raka Senggani.


" Benar-benar suatu anugerah yg tidak ter kira kan, di samping ada nya musibah di desa ini, namun ter nyata ada juga berkah nya, se orang anak muda dari desa ini mampu menjadi seorang prajurit di Pajang , bahkan jadi seorang Senopati lagi,!" ucap Ki Jagabaya dengan rasa penuh bangga.


" Kemana kakang Witangsa dan Kemuning ?" tanya Raka Senggani kepada Ki Jagabaya itu.


" Mereka ber dua tengah ke sawah, mungkin saat mentari di atas kepala mereka ber dua telah kembali, jadi aku ber harap angger Senggani tetap di sini , kita makan ber sama, sembari Angger menceritera kan tentang per tarungan angger dengan Singo Lorok itu,'' kata Ki Jagabaya.


" Sebenar nya tidak terlalu menegang kan cerita menghadapi Singo Lorok itu , Ki," kata Raka Senggani.


" Berarti ada cerita yg lebih menarik lagi ,Ngger,?" tanya Ki Jagabaya.


" Ada Ki, ketika Senggani harus ber hadapan Macan Baleman dari Blambangan, perut Senggani sampai ter luka kena cakaran nya, pada saat itu perasaan rasa nya campur aduk, sebagai seorang yg di tunjuk Kanjeng Adipati, Senggani merasa tidak mampu menjalan kan perintah nya pada saat tugas pertama," kata Raka Senggani.


" Jadi bagaimana Angger Senggani menjalani nya,?'' tanya Ki Jagabaya.


" Beruntung Senggani di beri sebuah pusaka yg berupa sebuah keris, tanpa pikir panjang lagi , senjata itu ku keluar kan dan dengan senjata itu pulalah, Macan Baleman ter luka cukup parah, dan beruntung ia masih bisa melari kan diri,!" jelas Raka Senggani.


Nampak Ki Jagabaya menatap wajah anak muda itu, ia cukup mengagumi wajah dan sifat dari pemuda itu, wajar lah jika putri nya teramat suka kepada Raka Senggani ini, pikir nya dalam hati.


Ketika hari telah pada puncak nya, ter lihat dua orang yaitu Japra Witangsa dan Sari Kemuning masuk ke halaman rumah itu.


Melihat ada seorang Raka Senggani sedang duduk dan asyik mengobrol dengan Ayah nya, langsung Sari Kemuning ber lari masuk, sambil ber kata,


" Kakang Senggani telah lama sampai di sini,?"


" Baru kemarin Kemuning," jawab Raka Senggani.


" Benar, ia sekarang telah berada di rumah nya,!" jawab Raka Senggani.


" Kang, apakah sayembara Juragan Tarya itu masih ber laku, ?" tanya Sari Kemuning dengan wajah sedih.


" Sayembara yg mana Kemuning,?" tanya Raka Senggani pura-pura tidak tahu.


" Ahh, kakang seperti tidak tahu, itu lho, siapa saja yg ber hasil menyelamat kan Rindayu akan di nikah kan dengan nya," ungkap Sari Kemuning.


" Kalau itu masalah nya kakang tidak tahu, Kemuning tanya kan sendiri kepada Juragan Tarya, !" jawab Raka Senggani.


" Jadi setelah ini angger akan kembali lagi ke Pajang ?" tanya Ki Jagabaya kepada Raka Senggani.


" Benar Ki, sulit nya jadi se orang prajurit itu adalah keterikatan kepada tugas, sebenar nya Senggani kurang mapan dalam hal ini,rasa nya lebih enak hidup bebas tanpa terikat pada perintah," ucap nya se olah ingin menanya kan pendapat dari Ki Jagabaya.


" Tetapi setiap warga atau kawula yg memang pantas mendapat kan kedudukan, seharus nya memang di tampung oleh Kotaraja atau kadipaten supaya kemampuan suatu negeri itu semakin maju , ter masuk dalam hal ini angger Senggani, Kanjeng Adipati tepat menilai kemampuan mu, Ngger,!" kata Ki Jagabaya.


" Yahh, tetapi Senggani merasa kurang mampu untuk menerima nya,!" tukas Raka Senggani.


" Mungkin angger masih ter lalu muda,seiring waktu berjalan tentu akan lain lagi cerita nya, bisa jadi angger Senggani akan menyukai nya,!' jelas Ki Jagabaya.


" Entah lah , Ki, Senggani tidak tahu, !" ucap pemuda itu.


Kemudian Istri Jagabaya dan Sari Kemuning menyiap kan makanan, setelah hidangan ter saji, keluarga Ki Jagabaya itu makan ber sama dengan Raka Senggani.

__ADS_1


Seperti biasa Raka Senggani akan sangat lahap jika makan masakan dari keluarga Jagabaya itu.


Terlihat beberapa kali ia mengambil nasi untuk di makan, karena lauk nya amat di sukai oleh pemuda itu.


Sari Kemuning tampak ter senyum melihat kelakuan dari Raka Senggani itu.


" Ngger, kalau memilih istri yg pintar me masak, supaya kita betah makan di rumah,!" ucap Ki Jagabaya kepada Raka Senggani.


" Benar, Ki, kalau seorang perempuan pandai memasak tentu suami nya akan sayang kepada nya,!" jawab Raka Senggani.


" Betul, seperti aki sangat sayang kepada bibi mu ini, karena tahu saja kesukaan ku, dan ia tetap berusaha untuk menyaji kan nya,!" tukas Ki Jagabaya.


Sampai sore Raka Senggani berada di rumah Ki Jagabaya itu, ada rasa ketenangan jika berada di rumah itu.


Kemudian ia kembali ke rumah Ki Lamiran dengan perut kenyang, di rumah Ki Lamiran ter lihat sepi , seperti tidak ada orang nya.


Ter nyata Ki Lamiran baru kembali dari Pategalan ketika hari hampir malam.


Selesai maghrib , di saat kedua nya sedang duduk -duduk, ber kata lah Ki Lamiran,


" Kapan angger Senggani akan kembali ke Pajang,?"


" Mungkin Lima hari lagi,Ki,!'' jawab Raka Senggani..


" Apakah setelah dari Pajang angger akan mampir lagi di sini,?" tanya Ki Lamiran.


" Iya Ki, Senggani akan singgah di sini sebelum melanjut kan ke Madiun,!" jawab Raka Senggani.


" Mumpung masih di sini, nanti setelah dari Pajang mungkin angger akan tet buru -buru, ada satu pesan aki kepada mu , Ngger,!" kata Ki Lamiran.


" Apa itu, Ki ?" tanga Raka Senggani penasaran.


" Begini Ngger, mungkin yg akan angger cari itu memang se orang yg sangat sakti, sehingga sangat sulit untuk di kalah kan , dan yg kedua boleh jadi orang itu ada hubungan nya dengan pembunuh kedua orang tua mu Ngger,!'' jelas Ki Lamiran lagi.


" Hahhh, bagaimana aki bisa mengambil kesimpulan seperti itu,?" tanya Raka Senggani ter kejut mendengar penuturan dari Ki Lamiran ter sebut.


" Apakah angger Senggani masih mengingat wajah salah se orang yg telah membunuh orang tua angger itu,?" tanya Ki Lamiran kepada Raka Senggani.


" Masih Ki, selain perawakan tinggi besar, ia memiliki cacat di sebelah mata nya, mata itu putih semua dan nampak nya tidak bisa melihat lagi," kata Raka Senggani.


" Itu lah sebab nya aki ber pikiran bahwa Si Topeng Iblis itu ada kaitan nya dengan kematian orang tua angger Senggani, karena dengan mengguna kan Topeng tentu ia berusaha menutupi jati diri nya serta cacat nya sehingga orang tidak akan mudah mengenal nya," kata Ki Lamiran menjelas kan.


" Dan tampak nya Angger Senggani akan berhadapan dengan lawan yg kuat,!" kata Ki Lamiran lagi.


" Mengapa demikian,Ki, apakah aki telah mengetahui siapa Si Topeng Iblis itu,?" tanya Raka Senggani penasaran.


" Bukan nya mengetahui sekedar mengira -ngira, mungkin nanti setelah sampai di sana, angger Senggani bisa langsung menuju padepokan Lereng Wilis, upaya kan untuk bisa ber temu dengan Mpu Phedet Pundirangan, pemimpin padepokan itu, minta petunjuk dari nya,!'' ungkap Ki Lamiran.


" Baik Ki , nasehat aki Lamiran , insyaallah akan Senggani patuhi dan jalan kan,!" tegas Raka Senggani.


" Ber hati -hati lah Ngger, tingkat kan terus kemampuan mu, nampak nya lawan mu kali ini cukup men debar kan hati, mudah mudahan yg Maha Kuasa memberi kan per lindungan nya kepada mu,!" seru orang tua itu kepada Raka Senggani.


Nampak wajah tua pande besi desa Kenanga itu agak berubah, ia sangat meng khawatir kan akan ke selamatan putra tunggal Rakajaya itu .


" Mudah mudahan Ki, kita hanya menjalan kan, yg menentu kan adalah yg Maha kuasa ,jika IA ridho tentu jalan keselamatan itu akan di dapat jika tidak adalah sebalik nya ,!" kata Raka Senggani.

__ADS_1


" Yah , kita hanya bisa ber sandar kepada yg Maha Kuasa setelah kita mengupaya kan nya, itu lah mungkin yg di lihat Kanjeng Adipati atas diri mu,Ngger,!" tutur Ki Lamiran.


Kedua asyik mengobrol sampai larut malam, ketika kedua nya telah mengantuk barulah mereka ber istrahat dan tidur.


__ADS_2