Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 18 Hati yang Terluka. bag ke delapan.


__ADS_3

Setelah Kedua pasukan itu berangkat tinggallah lima orang yg menjadi Pemimpin pasukan tersebut di tepian kali.


Adalah Raka Senggani yg bertanya kepada kedua orang temannya, yaitu Jati Andara dan Japra Witangsa.


" Apakah kakang berdua mampu melewati kali ini dalam sekali lesatan,.?". tanya Raka Senggani.


Pertanyaan yg diajukannya kepada Jati Andara dan Japra Witangsa. Sementara yg ditanya malah saling berpandangan.


Setelah mereka memandangi kali yg mengalir cukup deras dan juga cukup lebar.


Akhirnya keduanya menatap ke arah Raka Senggani dan Jati Andara lah yg menjawab pertanyaan itu,


" Kami akan mencoba nya ,.adi Senggani,.." ujar nya.


Dari nada ucapannya ia tidak yakin akan sanggup melewati Kali Opak itu dalam sekali lesatan saja.


Mereka berdua merasa belum terlalu tinggi ilmu peringan tubuh nya.


" Jika kakang berdua memang tidak yakin mampu melewati kali ini dalam sekali lesatan saja, sebaiknya kalian berdua menggunakan kayu atau ranting yg ada,.." papar Raka Senggani.


Ia terus saja menatap ke arah sebrang yg masih banyak gerumbul semak belukar, yg tentunya telah banyak orang -orang mengintai , siap dengan segala senjata.


Jadi pertanyaan yg diajukannya itu agar kedua temannya mampu menyebrang tanpa harus menerima banyak serangan.


Ketika terdengar dua buah isyarat berupa panah sendaren yg menandakan bahwa kedua pasukan telah mendarat di sebrang dan siap untuk melakukan penyerangan.


Senopati Brastha Abipraya kemudian mengatakan kepada keempat orang tersebut untuk segera melakukan penyebrangan.


Namun untuk pertama kali yg menyebrang ia sendiri lah melakukannya.


Ia pun segera bersiap untuk melakukan penyebrangan.


Di belakang nya keempat orang tersebut mengikuti. Raka Senggani kemudian mengucapkan Bismillah sebelum ia akan menyebrang.


" Heaaahhhh,..."


Dengan satu teriakan yg keras , ia melesat melewati kali itu , sangat cepat gerakan nya walaupun kali itu cukup lebar, tetapi ia dengan cepat sampai ke sebrang.


Akan tetapi belum pun ia mendarat, beratus anak panah menghambur menyerang tubuh Senopati Pajang.


" Hiyaahhhhh,.."


Senopati Pajang itu mengibaskan kebutan , sebuah senjata seperti pecut kecil yg di dapat nya dari penguasa lelelmbut Alas siroban tersebut.


" Whuuuuuuttthhh,..!"


" Whuuuuusssssshh,.."


Sangat dahsyat hasil yg di timbulkan oleh akibat dari kibasan kebutan itu.


Laksana Angin prahara, anak -anak panah yg menyerang dari Raka Senggani berbalik menyerang kembali pada penyerang gelap tadi.


Dan banyak terkena akibat senjata mereka kembali di hantam angin kebutan itu.


Itu di tandai dengan tidak adanya serangan lagi,. kemungkinan nya banyak yg terkena dari senjata mereka.


Dengan sempurnanya Senopati Brastha Abipraya mendarat di atas tanah di tepian Kali. Ia pun segera memberikan isyarat kepada temannya yg masih di sebrang.


Berturut -turut kemudian , Tumenggung Wangsa , disusul dengan Ki Ageng Manguntur, baru yg terakhir adalah Jati Andara dan Japra Witangsa.


Kelimanya kemudian berkumpul sejenak di tepi kali , karena Raka Senggani tengah mengetrapkan ajian Pangraita nya guna mengetahui keadaan lawan .


Ia merasa memang masih banyak orang yg berada di sekitar tepian itu.

__ADS_1


Raka Senggani meminta kepada Japra Witangsa sebuah anak panah, setelah mendaptakan dua buah anak panah, ia kemudian melepaskan ke udara kedua anak panah itu, yg satu ke arah hulu dimana ada Ki Jaka Beleh dan Ki Wuluh, Sementara di arah hilir ada Ki Banyak Angkrem dan Ki Gubuk Penceng.


Isyarat yg di berikan oleh senopati Brastha Abipraya sebagai tanda penyerangan.


Serentak kemudian pasukan Pajang itu menyerang kawanan rampok yg ada di alas Mentaok itu.


Memang para kawanan rampok itu tengah bersiap untuk menunggu pasukan Pajang yg menyerang dari arah sebrang tetapi mereka tidak menyangka serta sangat terkejut menghadapi serangan tersebut.


Karena musuh yg datang dari arah depan ternyata seseorang yg memiliki kemampuan yg sangat tinggi dan telah mampu menewaskan anggota para kawanan rampok itu.


Dua pasukan Pajang yg menjepit para kawanan rampok Alas Mentaok dapat dengan cepat mendesak mereka.


Tekanan terus di berikan oleh para prajurit Pajang yg berpakaian biasa itu. Memang kawanan rampok Alas Mentaok tidak terlalu menumpuk anggotanya di tepian kali, mereka berusaha mundur lebih ke dalam lagi, sambil sesekali mereka melepaskan serangan dan jebakan.


Akan tetapi pasukan yg datang kali ini adalah para prajurit terpilih dari kadipaten Pajang di tambah dengan para pengawal tanah perdikan Menoreh juga beberapa prajurit sandi Demak.


Sehingga kedudukan mereka yg ada di Alas Mentaok cepat terdesak, senjata senjata para prajurit Pajang telah bersimbah darah dari para Rampok Alas Mentaok , sehingga hal ini di dengar oleh Arya Pinarak, ia pun langsung bergerak maju untuk mengahadapi para prajurit Pajang yg merangsek maju tersebut.


Ketika dengan datangnya Arya Pinarak , kawanan Rampok Alas Mentaok itu agak bertahan , mereka mampu mempertahankan kedudukan nya.


Ini di ketahui oleh Tumenggung Wangsa Rana dan Senopati Brastha Abipraya.


" Paman Tumenggung dan Ki Ageng Manguntur, sepertinya kawanan Rampok ini telah mampu menahan gerak laju pasukan kita,.." seru Raka Senggani.


Dan kedua orang itu pun tahu keadaan yg terjadi dan belum pun mereka memutuskan untuk mengambil jalan agar pasukan tersebut tetap dapat bergerak mendesak kawanan itu, datanglah seorang prajurit penghubung yg mengatakan bahwa ada seorang yg cukup sakti dan memiliki kepandaian yg telah membuat pasukan Pajang tertahan.


Mendengar penuturan dari prajurit Pajang itu , Raka Senggani langsung mengatakan kepada Tumenggung Wangsa Rana bahwa ia akan melihat orang tersebut. Di dalam hati dari Senopati Brastha Abipraya,.ia adalah Arya Pinarak.


Seusai mengatakan hal itu ia pun melesat menuju tempat yg di tunjukkan oleh prajurit penghubung.


Kemudian Senopati Brastha Abipraya melewati para prajurit Pajang yg tengah berusaha mengepung para kawanan rampok Alas Mentaok.


Terus saja ia melayang diatas kepala para prajurit itu dan kemudian tiba di arena pertarungan antara Ki Jaka Belek dengan di bantu Ki Wuluh berhadapan dengan seorang yg tiada lain Arya Pinarak.


Murid dari Mpu Phedet Pundirangan mampu mendesak kedua prajurit sandi dari Demak itu. Serangan -serangan yg di lepaskan oleh Arya Pinarak membuat Ki Jaka Belek dan Ki Wuluh agak kerepotan.


" Tinggalkan orang ini untukku, Ki Jaka Belek dan Ki Wuluh,.." ucap nya.


Kedua orang prajurit sandi Demak itu segera melompat menjauh dari garis serang Arya Pinarak.


Mereka melihat Senopati Pajang yg bergelar Senopati Brastha Abipraya tengah berhadapan langsung dengan murid Mpu Phedet Pundirangan itu.


" Kita bertemu lagi Arya Pinarak,.." sapa Raka Senggani.


Tatapan mata dari Senopati Pajang itu tidak lepas dari Arya Pinarak. Dilihatnya senjata di tangan murid Mpu Phedet Pundirangan tersebut masih teracung dan siap bertsrung.


" Hehh,..ternyata seorang pengecut yg telah mendatangi kediamanku,..mungkin dirimu masih dapat selamat ketika berada di bukit klangon waktu itu, tetapi kali ini tidak,..kau harus mati di tanganku,..Ciaaaatt,.." teriak Arya Pinarak.


Murid Mpu Phedet Pundirangan tersebut langsung melesat menyerang Raka Senggani dengan pedangnya. Gerakan nya yg sangat cepat itu langsung menusuk mengarah dada dari Senopati Brastha Abipraya.


" Heaahhh,.."


Raka Senggani melompat menghindari serangan tersebut, dan kali ini ditangannya telah tergenggam sebuah senjata yg berbentuk tongkat dengan gagang kepala ular.


" Hiyaahhhhh ," teriak Arya Pinarak.


" Heaaaahhh,.." seru Raka Senggani.


" Traanggg,.."


Benturan terjadi antara kedua senjata itu,..dan benturan yg pertama itu membuat tubuh Arya Pinarak harus terdorong mundur akibat tenaga dalam nya masih jauh di bawah sang Senopati.


" Bagus,..ternyata dirimu memang telah pulih jadi tidak alasan , aku membunuh seseorang yg tidak memiliki kemampuan seperti saat terjadi di Bukit Klangon, hari ini hutang nyawa guru Pundirangan harus di balas tuntas,.." ucap Arya Pinarak.

__ADS_1


Pedang di tangan kanannya tersebut sampai bergetar akibat si pemilik nya tengah di landa amarah.


Ia kembali menyerang Senopati Brastha Abipraya dengan garang nya, pedangnya menusuk dan dan berusaha mematuk tubuh dari Senopati Pajang itu.


Raka Senggani memapasi serangan dari lawannya tersebut menggunakan tongkat Ki Suganpara tersebut.


Pertarungan tingkat tinggi pun tersaji di pagi menjelang siang itu. Sampai memasuki jurus ke lima puluh , Arya Pinarak belum mampu mendesak sang Senopati.


Berkali -kali ia harus menahan sakit akibat benturan kedua senjata tersebut.


Di samping itu , keadaan dari kawanan rampok Alas Mentaok kembali terdesak , kali ini setelah Pemimpin mereka terikat perang tanding dengan Senopati Brastha Abipraya, tidak ada lagi orang yg mampu menahan gerak laju dari para prajurit sandi Demak yg memang memiliki kemampuan di atas rata -rata dari para prajurit biasa.


Perlahan namun pasti kawanan rampok Alas Mentaok semakin terdesak mundur dan masuk lebih dalam lagi menuju Alas itu.


Sedangkan Tumenggung Wangsa Rana dengan di dampingi oleh Ki Ageng Manguntur melihat jalan nya pertarungan antara Raka Senggani dan Arya Pinarak.


" ******* kau ,.. Senopati ,.*******,. hiyyyah,"


" Dhekkkh,.."


" Hehhhhhh,.."


Pada suatu kesempatan ,..Raka Senggani agak terlambat menghindar,.pedang yg ada di tangan murid Mpu Phedet Pundirangan berhasil masuk menyusup ke bawah ketiak dari sang Senopati.


Akan tetapi alangkah terkejutnya Arya Pinarak, ternyata pedangnya tidak mampu melukai tubuh Raka Senggani itu.


" Heaaahhh,"


Di saat masih terbengong tidak percaya, sebuah tendangan keras menghajar wajah murid Mpu Phedet Pundirangan itu hingga membuat tubuhnya jatuh terpelanting.


Arya Pinarak berusaha menjauhi Raka Senggani seraya langsung bangkit. Tatapan nanar melihat ke arah Sang Senopati, ia berdesis,..


" Hari ini akan kita tuntaskan siapa yg lebih unggul diantara kita,"


Arya Pinarak langsung menyarungkan pedangnya, ia berbuat dengan merangkap kan kedua tangan nya di depan dada, kemudian ia merapal manteranya, tampak nya ia akan melepaskan ajian Lebur Saketi milik nya itu.


Terlihat dari tangan nya itu mengeluarkan asap tipis..perlahan ia membuka kedua tangannya sambil berteriak,..


" Aji Lebur Saketi,.. Heaaaahhh,.."


" Dhunmbbhh ,"


Teriakannya yg keras disusul suara ledakan yg membuat tempat berpijak dari Senopati Pajang itu berlobang besar, akan tetapi serangan nya itu tidak menemui sasarannya,. karena dari samping Raka Senggani masih sempat bertepuk tangan memuji kehebatan ajian Lebur Saketi milik nya itu.


" Hebat,..hebat,..ternyata ilmu mu semakin tinggi saja Pinarak,..akan tetapi ku petingatkan untuk yg terakhir kali nya,..menyerahlah,..sebelum dirimu menyesal,.." seru nya.


" Hehhh,..tidak ada kata menyesal dari seorang Arya Pinarak,..diirmu harus mati di tanganku , terima ini ,.. Hiyyyah,.." teriaknya.


Lagi -lagi terdengar suara ledakan yg sangat keras akan tetapi ia tidak melihat lawan nya itu terjatuh akibat hantaman ajian yg ngegrisi tersebut.


" Baiklah ,..jika dirimu memang tidak mau menyerah..aku akan melayani apa yg menjadi keinginan mu itu,.." teriak Raka Senggani.


Ia pun telah berdiri tegak dengan tangan bersedekap di depan dada,. tampaknya kali ini Senopati Pajang tersebut akan melepaskan Ajian Wajra Geni milik nya itu untuk mengahadapi Arya Pinarak.


Ketika murid Mpu Phedet Pundirangan itu terdengar berteriak,..Raka Senggani pun membalas nya dengan suara teriakan pula,


" Heaaahhh,.."


" Hiyyyah,..Aji Wajra Geniiii,.."


" Dhumbhh,..".


" Bletaaaaarrrr,.."

__ADS_1


" Bleghuaaarrrr,.."


Kedua ajian tersebut beradu.


__ADS_2