
Meninggalkan suaminya yg masih mengobrol dengan para sanak kadangnya di pendopo,..Sari Kemuning berjalan ke rumah Ki Bekel yg memang tidak jauh dari rumahnya.
Setibanya disana, sangat masuk dari belakang dan langsung menemui Dewi Dwaran yg baru saja selesai dengan tugas nya di dapur.
" Hei,..ada apa ini ,..pengantin baru kok malah keluyuran,..?" tanya Putri Ki Bekel heran.
Karena ia sudah tahu,..pasti ada yg ingin di beicarakan oleh temannya itu jika datang melalui dapur, dan biasanya itu adalah hal yg penting.
Tidak menjjawab ucapan dari Dewi Dwarani,..Sar Kemunin malah menarik tangan nya dan di bawa ke belakang , mereka kemudian berdiri di bawah sebuah sawo kecik .
" Apa -apaan ini,..apakah ada sesuatu yg sangat penting,..?" tanya Putri Ki Bekel.
Dewi Dwarani nampak sangat heran dengan tingkah temannya itu.
Sari Kemuning kemudian menceritakan apa yg telah mereka alami baru saja setelah kembali dari rumah Raka Senggani.
Ia menceritakan keseluruhan nya baru kemudian bertanya,..
" Jadi menurut mu , siapakah orang nya yg melakukan hal itu,..?" tanya nya.
Sedangkan yg di tanya tampak terdiam , seolah sedang berpikir. Namun ia belum juga dapat menemukan siapa kiranya orang yg telah berani mencari perkara dengan istri Senopati Sandi Demak ini.
" Rani,..seorang murid dari senopati sandi yuda demak tidak dapat mengetahui siapa orang nya,..?" tanya Sari Kemuning.
" Kemuning,..jangankan diriku yg masih merupakan muridnya, sedangkan istrinya sendiri pun tidak tahu,..hehh,.. Bagaimana dengan kakang Senggani,..apakah ia tidak tahu,..siapa orangnya,..?" tanya Dewi Dwarani.
Keduanya langsung terdiam setelah ucapan dari Dewi Dwarani tadi,..dalam pikiran mereka jangan jangan ini ada hubungan nya dengan Senopati Sandi Demak itu,..orang yg mungkin mendendam padanya.
Namun Sarj Kemuning,..kemudian berkata,..
" Tidak mungkin kakang Senggani tahu, jika dirinya pun merasa khawatir saat surat itu di bacanya,..Dan lagi pun jika memang orang tersebut mendendam padanya pasti surat tantangan itu akan di tujukan kepadanya,..!" jelas Sari Kemuning.
Benar juga ,.. ucapan Sari Kemuning ,..mengapa harus dirinya yg menerimanya., kata Dewi Dwarani dalam hati.
Belum pun keduanya menemukan siapa orang nya,..datangalah dua orang ke tempat itu,..yakni Jati Andara dan Japra Witangsa,..yg baru dari banjar desa Kenanga. Mereka sebenarnya masih tetap memberikan arahan kepada para pemuda dan pengawal desa Kenanga.
Akan tetapi karena minuman yg biasanya di antarkan oleh Dewi Dwarani belum juga datang,.. mereka berdua kemudian datang ke tempat itu.
Atas petunjuk ibunya,.Jati Andara mendapatkan tempat dimana keduanya berada.
" Ehh,..ada apa denganmu ,..Kemuning,..mengapa berada disini,.dan mana adi Senggani,..?" tanya Japra Witangsa.
Kakaknya itu memang merasa sangat aneh dengan kehadiran adiknya di tempat itu, padahal baru saja mereka bertiga tadi berpapasan di depan rumah.
Sari Kemuning tidak menjawab ,..ia kemudian menyerhkan surat tantangan yg ada di tangan nya.
Karena keadaan agak gelap,.. Japra Witangsa dan Jati Andara mengambil sebuah obor yg ada di dekat pakiwan.
Jadilah tempat itu menjadi terang.
Keduanya segera terkejut melihat tulisan itu,.. mereka berdua saling berpandangan satu sama yg lainnya.
" Siapa orangnya yg telah berani menantang perang tanding , adikku,..?"
Pertanyaan yg di tujukan seolah kepada dirinya sendiri,..karena sejauh ini ia tahu bahwa adik nya itu tidak memiliki seorang musuh.
" Atau mungkin orang ini ingin melakukan nya saat sebelum hajatan itu di gelar,..!" seru Jati Andara.
Dalam pemikiran putra Ki Bekel ini yg sempat beberapa hari di rumah Senopati Sandi Demak itu sebelum pernikahannya di gelar ,..ia mendaptakan cerita dsri Sang Senopati bahwa ada orang yg telah menghadang nya saat akan kembali ke desa Kenanga pada waktu itu.
" Akan tetapi mereka tidak jadi melakukan nya karena keadaan cukup ramai dan di penuhi banyak prajurit ,.baik dari Kotaraja Demak maupun dari Pajang ,.." ungkap Japra Witangsa.
" Hanya saja yg menjadi persoalan nya ,.. siapa orang nya,..?" tanya Dewi Dwarani.
Rasa penasaran mereka belum pun dapat di puaskan oleh ucapan Jati Andara tadi.
" Menurut adi Senggani,..orang tersebut bernama Nyai Sriti Wengi ,..dari kulon, dia lah orang nya yg telah menghadangnya di ara -ara itu,.." jelas Jati Andara.
" Jika memang orang itu yg telah melakuaknnya,..apa hubungan nya dengan diriku,..Kakang Andara,..?" tanya Sari Kemuning.
Menurut nya. , ia tidak memiliki masalah orang yg bernama Nyai Sriti Wengi itu.
Jangankan masalah,..mendengar nama nya saja baru kali ini ia dengar.
Jadilah ke empat orang itu bingung memikirkan nya,..dan mereka sulit untuk mencari jawabannya.
" Kemuning ,.. bagaimana pendapat dari adi Senggani,..apakah ia akan menyetujui perang tanding ini,..?" tanya Japra Witangsa.
Dari sepengetahuan nya,.. Raka Senggani pasti akan membela adiknya itu, yang kini telah syah menjadi istrinya,..tentunya ia akan membela mati -matian.
Sari Kemuning mengatakan kepada kakaknya , bahwa suaminya itu akan membawa nya untuk menemui orang yg telah berani menantanganya itu.. karena tempatnya pun ia sudah biasa di laluinya.
__ADS_1
Masih menurut Istri Senopati Sandi Demak ini,..bahwa sang suami masih sulit untuk menemukan jawaban,.siapa orang nya yg ingin mengadu kesaktian dengan. dirinya itu.
" Tuh,..kan,.. Kakang Senggani saja, yg merupakan seorang Senopati Sandi saja tidak tahu jawabannya,..siapakah orang nya,..apalagi kita,.." terang Dewi Dwarani.
" Eiit,. tunggu dulu adikku,.. belum tentu adi Senggani tidak tahu,..mungkin saja ia tengah menguji kita untuk dapat menentukan siapa sesungguhnya orang tersebut,..buktinya,..ia masih tenang tenang saja di rumah,.." jawab Jati Andara.
Sari Kemuning mengatakan kepada mereka bahwa suaminya itu akan segera datang kemari setelah ia melayani sanak kadang mereka yg masih belum pulang,..namun ia berjanji tetap akan datang kemari jelas Sari Kemuning.
Belum pun habis ucapan dari Istri Senopati Sandi Demak ini,..terdengar lah ucapan dari seseorang,..
" Sungguh aku pun tidak tahu ,..siapa sesungguhnya orang itu,.."
Ucapan nya terdengar sangat pelan ,..namun terdengar jelas di telinga ke empatnya.
" Kakang Senggani,.."
" Adi Senggani,.."
Seru kaget keempatnya.
" Marilah kita ke banjar desa ,..ada yg ingin kusampaikan pada kalian semua,..termasuk dengan istriku sendiri,.." ucap Raka Senggani.
Yg secara tiba -tiba saja telah berdiri di belakang keempatnya. Namun empat orang itu pun tidak terlalu heran dengan guru mereka itu,..mungkin saja ia tadi telah mengtrapkan aji panglimunan nya sehingga tidak seorang pun yg menyadari kehadiran nya.
Keempatnya pun segera mengikuti Sang Senopati dari belakang,..mereka menuju banjar desa Kenanga,..yg masih ramai dengan para pengawal dan pemuda desa yg ingin belajar ilmu silat,..sejak di tinggal oleh Jati Andara dan Japra Witangsa,..yg memberikan latihan adalah Suro Birono,. yg merupakan pemimpin pengawal desa tersebut.
Ketika melihat lima orang itu datang,..Suro Birono berniat memberikan kembali kepada Japra Witangsa dan Jati Andara untuk memimpin pelatihan silat itu,..namun putra Ki Jagabaya itu memberikan isyarat kepada pemimpin pengawal desa Kenanga itu untuk tetap melanjutkan latihan nya,.
Kelima nya segera duduk di banjar desa itu,..saat wayah sepi bocah,.. dimana malam semakin merambat naik.
Setelah duduk,..barulah Raka Senggani membuka pembicaraannya.
" Apa pun yg akan terjadi pada esok malam,..jangan sampai di ketahui oleh para orang tua kita terlebih pada saat ini,. kami baru saja selesai menikah,..jangan membuat mereka menjadi susah ,..jadi ini adalah menjadi rahsaia kita berlima,..paham,.." ucap Raka Senggani.
Dan yg mendengarkan pun segera mengetahui maksud dan tujuan dari ucapan dari sang Senopati.
" Dan yg kedua bagi siapa saja yg esok akan ikut harus memberikan alasan yg tepat agar mereka tidak mengetahui apa yg akan terjadi,..kita belum mengetahui siapa sesungguhnya mereka itu,..karena menurutku mereka tidak hanya seorang diri,..dan entah apa maksud dan tujuan nya,.." jelas Raka Senggani lagi.
Baru setelah nya ia akan memberitahukan kepada mereka,..bahwa tampaknya mereka itu memang telah berniat untuk melakukan nya,..karena mereka memang tampaknya memiliki dendam pribadi, terhadap ia da istrinya.
Raka Senggani juga menanyakan kepada mereka akan ikut melihat pertarungan itu,..bila ia,..mereka harus berada jauh dari tempat itu agar mereka tidak mengurungkan niatnya itu.
Sehingga malam itu mereka habiskan hanya untuk mmebicarkaan mengenai masalah perang tanding itu.
Dan pada keesokan harinya,..kedua pengantin baru itu pun telah bersiap
Mereka berdua nampaknya akan membuat rencana agar orang tua Sari Kemuning tidak menjadi curiga kepergian mereka berdua.
Disepakatilah bahwa mereka akan pergi ke Pajang atas permintaan dari Kanjeng Gusti Adipati Pajang.
Barulah kemudian Sari Kemuning ,..mengatakan kepada orang tuanya ,..bahwa hari ini mereka berdua akan menghadap Kanjeng Gusti Adipati Pajang.
" Mengapa tampaknya tergesa -gesa,.. Ndhukk,..?" tanya Ki Jagabaya.
" Entahlah Romo,..namun yg jelas perintah itu baru saja di terima oleh kakang Senggani,.." jawab Sari Kemuning.
" Jadi kapan kalian akan berangkat nya,.. Ndhukk,." tanya Ibunya.
" Nanti selepas tengah hari,..!" " jawab Sari Kemuning.
Kemudian Ki Jagabaya memberikan keputusan melepaskan keduanya untuk ke Pajang jika memang harus demikian.
Serasa di hati Raka Senggani menjadi tenang karena nampaknya sang mertua tidak mencurigai niatan mereka.
Raka Senggani dan Sari Kemuning meminggalkan kediaman Ki Jagabaya itu menuju ke rumah nya yg ada di pategalan.
Mereka berniat berangkat dari sana. Sesampaianya di sana Raka Senggani membuka cincinnya dan berkata,..
" Kemuning ,.. pakai lah cincin ini,.." ucap nya.
" Cincin apa ini kakang,..?" tanya Sari Kemuning.
Ia belum pernah melihatnya,..sehingga membuat nya menjadi heran.
" Pakailah, Kemuning ,..banyak khasiat pada cincin ini,.." bisik Senopati Demak itu.
Tidak untuk ketiga kalinya,.. Sari Kemuning kemudian menerimanya dan segera memakaikan nya di tangan nya.
Sari Kemuning merasakan ada getaran halus yg di rasakan nya setelah memakai cincin itu.
Kemudian keduanya pun lngasung bersiap untuk berangkat,..mereka ingin secepatnya sampai di tempat yg menjadi perang tanding itu.
__ADS_1
Sebelum keberangkatan mereka berdua, datanglah tiga orang yg tiada lain adalah Jati Andara , Japra Witangsa dan Dewi Dwarani.
Ketiganya akan menyusul mereka setelah nya,..ada keinginan mereka untuk mengetahui siapa sebenarnya orang yg tersebut.
Setelah berbicara sejenak,..maka sepasang suami istri itu pun naik ke atas punggung kudanya dan meningglakan tempat itu.
Meski tidak terlalu jauh dari desa Kenanga, Raka Senggani ingin berbicara dengan sang istri sembari menikmati bulan madu , memandangi indahnya pemandangan di sepanjang jalan.
" Kemuning,..kakang ada sebuah pertanyaan kepadamu,...?" ucap Senopati Sandi Demak.
" Apa itu,..kakang ,..apa yg akan kakang tanyakan,..?" tanya Sari Kemuning heran.
Raka Senggani kemudian menanyakan kepada Sari Kemuning , siapakah menurutnya orang yg tidak senang dengan pernikahan mereka berdua.
Sambil menjalankan kudanya dengan perlahan dan berdekatan dengan sang istri.
Lama Sari Kemuning menatap wajah sang suami. Ia merasa bahwa menurutnya hanya ada satu nama yg merasa tersakiti dengan pernikahan mereka berdua itu.
Hehhh,..apa mungkin,..ia orang nya,..tanya nya dalam hati.
Dan lagi pun ia sudah lama tidak kedengaran namanya.
Baru kemudian , Sari Kemuning menatap kembali wajah sang suami.
Ia berseru pelan,..
" Apa mungkin dia orang nya kakang,..""
" Mungkin ia ,..mungkin juga tidak,.." jawab Raka Senggani.
Sambil terus saja berjalan menjauhi desa Kenanga. Ketika Matahari hampir tenggelam,. barulah kemudian mereka mendekati ara -ara yg menjafi tujuan mereka.
" Disanalah kakang di hadang oleh orang yg bernama Nyai Sriti Wengi itu,.." ucap Raka Senggani.
" Darimana kakang Senggani tahu bahwa orang tersebut adalah Nyai Sriti Wengi,..?" tanya Sari Kemuning.
" Eyang Panembahan Lawu yg mengatakan nya,.." jawab Raka Senggani.
Keduanya mendekati tempat itu,..dan kemudian turun dari punggung kudanya setelah tiba disana.
Raka Senggani berusaha mengetrapkan aji panggraitanya untuk mengetahui keberadaan orang yg berani menantnga istrinya itu.
Namun ia tidak mampu mendengar suara desah nafas maupun gerak langkah kaki dari orang tersebut.
Ketika malam semakin bertambah gelap,..barilah sang Senopati merasakan kehadiran dua orang yg mendekati tempat itu.
" Bersiaplah Kemuning,..tampaknya mereka telah datang,.." ucap Raka Senggani pelan.
" Hehh,."
seru Sari Kemuning kaget.
Karena ia tidak merasajan apapun di tempat itu. Namun ia mempercayai ucapan dari sang suami.
Raka Senggani menguatkan hati istrinya dengan menggenggam erat tangan sang istri.
" Satu pintaku kepadamu ,.. Kemuning,.. apa pun yg akan dikatakan nya,..tetap tenang dan bersabarlah,..semoga kita semua tidak akan menjadi selamanya,.." ucap Raka Senggani.
Sari Kemuning mengangguk kan kepalanya,..hati nya semakin mantap karena dukungan dari sang suami.
" Baik kakang,.." jawab Sari Kemuning.
Ia memeluk erat sang suami.bahkan ia mendaratkan ciuman di pipi sang suami dan berdesis,..
" Aku mengerti Kakang,.."
Setelah agak lama barulah keduanya melepaskan pelukan nya.
Kemudian terdengarlah suara tertawa dari seseorang,..
" Ha, ha, ha, sepasang suami istri tengah bercunbur mesra di sini,.."
Sari Kemuning menoleh kan kepalanya ke arah suara tertawa itu.
Nampaklah sesosok tubuh yg ramping dan memdekati tempat itu.
" Kau,...." seru nya.
Sebenarnya ia tidak lagi terlalu kaget melihatnya setelah mendengar penjelasan dari sang suami.
Memang istri dari Senopati Sandi Demak telah dapat menebak siapa sesungguhnya orang yg berani menantang perang tanding itu ,..tetapi pertanyaan besar ,..mengapa ia berani melakukan nya padahal dahulu ia telah babak belur di buatnya.
__ADS_1