Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 26 Bara dendam. bag kelima.


__ADS_3

Setelah Sang istri , Sari Kemuning berjalan terlebih dahulu, Raka Senggani yg merupakan Senopati Sandi Yuda Demak ini memperlambat langkah kaki nya, ia mengtrapkan ajian nya guna memperjelas pendengaran nya, dan benar saja , seseorang tengah mengikuti mereka dan berada tidak jauh dari mereka.


Tiba -tiba saja,..


" Tunggu,...!!!"


Terdengar teriakan dari belakang mereka , dan suara yg cukup keras itu bagai suara guntur di pagi hari yg menggelegar.


Namun bagi kedua pasangan suami istri ini, suara tersebut tidak berpengaruh apa -apa, terlebih untuk Raka Senggani yg berada lebih dekat dengan orang tersebut.


Dengan membalikkan tubuhnya , maka Raka Senggani dapat melihat siapa sesungguhnya orang yg telah mengikuti mereka itu termasuk juga dengan Sari Kemuning. Ia berjalan kembali mendekati sang Suami.


" Siapa orang itu ,.Kang,..?" tanya nya kepada Raka Senggani.


" Entahlah Kemuning,..kakang tidak mengenal nya,..!" sahut Raka Senggani.


Ia menatap tajam ke arah orang yg telah berteriak tersebut. Sambil berjalan beberapa langkah mendekati orang tersebut ia bertanya,.


" Siapakah , kisanak ini, apakah kita sebelumnya pernah berjumpa,..?" tanya Raka Senggani.


Orang tersebut pun maju mendekati Raka Senggani dan dalam jarak hanya sepuluh langkah saja ia berhenti.


Dan Raka Senggani dapat melihat dengan jelas lelaki paruh baya yg nampak masih kekar dan sehat itu, ini dapat di lihat dengan otot ototnya yg menonjol keluar dari tubuh nya, karena orang tersebut menggunakan pakaian seperti baju rompi dengan warna hijau pupus.


Memang dari penampilan nya ia nampak tidak seperti orang orang kebanyakan, ia seperti seorang keturunan bangsawan .


" Kenalkan namaku Aji Wangka, dari blambangan,.." jawab orang tersebut.


" Aji Wangka,.apa kita pernah berjumpa kisanak.!" tanya Raka Senggani.


Sambil matanya tetap awas kepada orang yg berada di hadapannya itu.


" Yeahh, aku Aji Wangka dari blambangan dan masih merupakan murid dari Resi Brangah, bukankah dirimu mengenal nama yg Ku sebutkan itu,..?" tanya orang yg bernama Aji Wangka ini.


" Resi Brangah,..muridnya,..!??" seru Raka Senggani kaget.


Ia tidak menyangka bahwa orang yg ada di hadapan nya ini adalah seorang murid dari Resi Brangah yg sempat membuat silang sengketa dengan dirinya.


Hehh, pasti ini urusan balas dendam,..berkata dalam hati Raka Senggani.


Ia memang meyakini hal tersebut di sebabkan dirinya telah banyak bertarung dengan nama yg di sebutkan tadi bahkan juga dengan muridnya yg bernama Macan Baleman.


" Memang kalau dengan Resi Brangah diriku mengenal nya,..!" jawab Raka Senggani.


" Bagus kalau begitu berarti dirimu telah mengetahui maksud kedatangan ku kemari,..!" seru Aji Wangka lagi.


" Balas Dendam,..itu kah yg kisanak maksudkan,..?" tanya Raka Senggani.


" Yahh, memang itulah maksud ku datang jauh jauh dari Blambangan ke Pajang ini guna membalas dendam guruku yg telah kau bunuh itu,..!" ucap Aji Wangka agak keras.


" Maaf sebelumnya kisanak, sesungguhnya bukan diriku lah yg telah membunuh Paman Brangah gurumu itu melainkan adalah ki Gede Mantyasih dari tsnah perdikan Mantyasih,.. meskipun memang ku akui bahwa diriku pernah bertarung dengan nya ,..!" jelas Raka Senggani.


" Hahh,.. Aku tidak menyangka bahwa seorang senopati Agul agul Demak masih dapat berbohong guna menutupi kesalahan nya sendiri,..semua orang tahu bahwa dirimu lah yg telah membunuh guru ku, Resi Brangah itu,.."


Terdengar teriakan yg cukup keras dari Aji Wangka sambil menunjuk ke arah wajah dari Raka Senggani.


" Terserah apa yang ingin kau katakan kisanak, yg jelas memang bukan diriku yg telah membunuh gurumu itu,.." sahut Raka Senggani


Senopati dari Demak melihat bahwa memang pertarungan tidak akan dapat di hindarkan lagi, karena orang yg berada di hadapan nya ini tampak sangat bersikeras menuduh diirnyalah yg telah membunuh Resi Brangah gurunya itu. Raka Senggani menggenggam erat gagang tongkat berkepala ular, ia memang sudah sangat terbiasa menggunakan senjata ini, yg awal nya adalah senjata rampasan dan kini telah di berikan oleh Ki suganpara.


Sedangkan Aji Wangka , orang yg menyebutkan dirinya adalah murid dari Resi Brangah , seorang yg sangat terkenal di daerah Bang wetan, utamanya di daerah Blambangan.


Sepertinya memang diriku harus. menjajal kemampuan salah seorang Senopati dari Demak ini dan ia merupakan Senopati yg sangat di segani disini, inilah kesempatanku, meski ku tahu bahwa yg telah membunuh guru adalah Ki Gede Mantyasih dengan anaknya itu, berkata dalam hati dari Aji Wangka.


Lelaki yg sebenarnya tidak dapat di katakan muda lagi ini pun telah mulai membuka kaki nya memasang kuda kuda pertanda ia siap bertarung.


Karena yg ada di pikiran orang itu adalah tugas yg ia emban dari Adipati Blambangan yg menyuruh nya untuk mengetahui kekautan dari Kotaraja Demak, yg menjadi tolok ukur dari sang Adipati adalah Senopati Brastha Abipraya ini, pemimpin dari salah satu kadipaten paling ujung di timur wilayah ini sudah sangat sering mendenagrkan nama Senopati ini di sebutkan.


Jadi ini bukan hanya sekedar balas dendam tetapi ada sesuatu di balik keinginan dari Aji Wangka ini,.

__ADS_1


" Baik,..jika memang dirimu tidak mau berkata jujur, bahwa memang diirimulah yg telah membunuh guruku, mungkin aku harus memaksa mu dengan jalan kekerasan,..bersiaplah,..," seru Aji Wangka.


" Shreeeet,...."


Ia mencabut senjatanya , sebuah pedang pendek dengan kedua sisi nya bermata tajam.


Pedang itu kemudian di acungkan nya ke arah Raka Senggani , Senopati Sandi Yuda Demak itu.


" Aku sudah siap, kisanak, meskipun memang bukan diriku yg telah membunuh gurumu itu,.." jawab Raka Senggani.


Senopati Bima Sakti pun telah mengeluarkan senjatanya, sebuah tongkat berkepala ular itu.


" Kakang ,.....biar Kemuning saja yg menghadapi orang itu,.." teriak Sari Kemuning.


Istri dari Raka Senggani ini merasa bahwa dirinya masih sanggup untuk menghadapi orang yg menyebutkan dirinya sebagai murid dari Resi Brangah .


" Tidak Kemuning, biarlah Kakang saja yg akan melawannya, karena ia memang ingin berhadapan dengan kakang karena menurutnya kakang lah yg telah membunuh guru nya itu,.." jawab Raka Senggani.


Senopati Bima Sakti telah merasa bahwa orang yg datang ini bukan orang sembarangan , bahkan kemungkinan nya ia tidak hanya berguru kepada Resi Brangah saja, dan sebagai seorang Senopati Sandi, Raka Senggani sudah merasakan kehebatan dan kesaktian orang orang yg berasal dari wilayah bang Wetan ini.


Bukan sekali ini saja ia berhadapan dengan mereka , mulai dari Macan Baleman, Resi Brangah dan terakhir adalah Tumenggung Waturangga.


Ke semua lawannya itu tidak memiliki ilmu yg rendah.Terlebih untuk Resi Brangah dan Tumenggung Waturangga dari Kadipaten Surabaya itu.


Jadi ia tidak mungkin memberikan lawan nya ini kepada sang istri, terlebih Sari Kemuning tengah mengandung anaknya.


" Bagus , Senopati Brastha Abipraya, aku akan mulai,..heaahhh,.."


Aji Wangka segera melompat menyerang dengan pedang pendek nya, dengan tebasan mendatar setinggi dada,


" Trakkkkh,.."


Serangan pertama dari lawan nya itu langsung di papasi oleh Raka Senggani dengan tongkat nya. Ia ingin menguji kemampuan tenaga dalam lawan nya tersebut.


Dari benturan pertama ini dapatlah di ketahui oleh sang Senopati Demak ini, bahwa lawanya memang memiliki tenaga dalam yg cukup tinggi.


Ini dapat di ketahui olehnya dengan terdorong tubuhnya beberapa langkah ke belakang , meskipun tubuh lawan nya lebih jauh lagi harus mundur ke belakang.


Orang yg mengaku murid dari Resi Brangah ini tampaknya sangat terkejut dengan lawan yg di hadapinya kali ini.


Aku tidak boleh kalah darinya, berkata lagi Aji Wangka di dalam hatinya.


Ia pun segera melesat kembali dengan sanga cepat, menusukkan pedang pendeknya ke arah jantung dari Raka Senggani.


Serangan cepat ini segera di jawab oleh Senopati Demak dengan melompat mundur , tetapi sambil menjulrurkan ujung tongkatnya.


Aji Wangka agak terkejut melihat serangan balasan dari lawan nya, karena setelah pedang nya gagal menemui sasaran , ia harus segera menghindsri serangan balasan lawan nya ini. Dan kali ini ia lah yg harus melompat mundur.


Raka Senggani tidak meneruskan serangan nya itu. Ia masih memperhatikan setiap gerakan yg di peragakan oleh lawan nya kali ini.


Ia melihat bahwa sesungguhnya orang itu bukan sekedar pendekar biasa seperti kebanyakan .


Apakah orang ini adalah salah seorang senopati dari Kadipaten Blambangan yg sengaja di utus untuk memata matai , Kerajaan Demak ini berkata lagi di dalam hatinya, Raka Senggani.


Karena serangan dari Aji Wangka terlihat sangat teratur dan tidak terlalu memaksakan diri.


Jika serangan nya dengan cepat ia berusaha memperbaiki kedudukan nya.


Sehingga jalan nya pertarungan terkesan berjalan sangat lambat. Beberapa kali serangan dari Aji Wangka yg gagal membuatnua tidak langsung mencecar lawan. Ia terkadang cenderung menunggu lawan nya itu menyerang nya, sementara di lain pihak Raka Senggani yg sudah sangat terbiasa berhadapan dengan musuh yg bermacam macam ilmu dan tingkat kesaktian nya tidak terlalu memksakan dirinya, terlebih ia memang tidak ada urusan dengan lawan nya kali ini.


" Sudahlah kisanak, sebaiknya segera hentikan lah serangan mu ,kalau memang dirimu hanya ingin menjajal kemampuan ku,.." seru Raka Senggani.


Karena memang serangan dari Aji Wangka ini agak berbeda dengan lawan lawan yg biasa di hadapi nya.


"Kau jangan menganggap remeh atas ku, terima serangan,.. hiyyah .." seru Aji Wangka.


Kembali lelaki yg tubuhnya berotot ini menyerang Raka Senggani dan kali ini lebih cepat , ujung pedang pendek nya meluruk ke arah leher lawan nya, dan ketika serangan nya itu di tangkis oleh tongkat milik Raka Senggani, dengan cepat pedang nya berusaha menebas ke arah kaki dari Senopati Demak ini.


Kembali Senopati Bima Sakti harus berloncatan menghindari serangan itu,. karena kali ini Aji Wangka memang mempercepat serangan nya, pedang pendeknya berputaran mengurung Raka Senggani.

__ADS_1


Tetapi sejauh ini, tidak satupun serangan tersebut mampu menembus pertahanan dari Senopati Bima Sakti , ia memang memiliki ilmu tenaga dalam dan peringan tubuh yg nyaris sempurna, sehingga dengan mudahnya serangan tersebut di hindari nya .


Bagi Raka Senggani sendiri , ia tidak terlalu bernafsu untuk mengalahkan lawannya ini.


Biarlah, ia akan kecapaian sendiri dan akhirnya akan menyerah, berkata dalam hati Raka Senggani.


Sambil sesekali ujung tongkatnya mematuk ke arah Aji Wangka.


Sampai berpuluh puluh jurus yg di keluarkan oleh Aji Wangka tetapi tetap saja ia tidak mampu menembus pertahanan lawannya ini.


Rasa penasaran semakin menjadi ketika suatu ketika ujung tongkat lawan berhasil menyusup masuk dan memukul lambung kirinya.


" Heeeikhh,.."


Aji Wangka merasakan bahwa lambung nya seperti terhantam palu yg sangat berat, sekejap ia tidak dapat bernafas, sehingga melompat berusaha menjauhi Raka Senggani yg menjadi lawan nya kali ini.


Memang sepertinya pukulan tongkat dari Raka Senggani ini kelihatan sangat pelan tetapi karena pengerahan tenaga dalam yg sangat tinggi sehingga membuat jalan pernafasan dari Aji Wangka sempat terhenti.


Aji Wangka berusaha memulihkan jalan pernafasan nya sempat terganggu akibat hantaman tongkat milik Raka Senggani tersebut.


Setelah dirasa nya cukup, terlihat Aji Wangka bersiap kembali, sementara itu Raka Senggani masih tegak berdiri, tidak jauh darinya ada Sari Kemuning yg melihat jalan nya pertarungan.


Kalau tadi Kakang Senggani memeberikan ku kesempatan, tentu orang ini sudah ku beri pelajaran agar tidak berlaku sombong, sayang kakang Senggani terlalu baik terhadap nya, berkata dalam hati Sari Kemuning.


Ia sampai geregetan melihat tandang yg di pertontonkan oleh suaminya itu, selaku orang yg memiliki kemampuan silat, Sari Kemuning menilai bahwa kemampuan orang yg menjadi lawan dari suaminya itu masih berada di bawah dari Raka Senggani.


" Ternyata dirimu memang hebat, Senopati Brastha Abipraya, pantas saja Guru mampu mengalahkan kalahkan,..tetapi aku Aji Wangka tidak akan menyerah,..terima ini aji tandana Rawikara,..heahhh,."


Teriak Aji Wangka, setelah sebelumnya terlihat mulutnya komat -kamit membaca mantera dan kedua tangan nya diangkat ke atas kemudian di turunkan nya dan bersatu di depan dada nya, sesaat kemudian ia melepaskan serangan dengan membuka kedua telapak tangan nya itu , dan dari kedua telapak tangan nya inj keluar dua cahaya merah kebiru -biruan mengarah tubuh dari Raka Senggani.


Tak ayal, tubuh dari Senopati Sandi Yuda Demak ini melompat, membubung tinggi ke udara, ia tidak mau terhantam oleh pukulan yg di keluarkan oleh lawannya ini, lebih baik ia menghindarinya.


Setelah berputaran beberapa kali d udara, tubuh Raka Senggani meluncur turun dan sambil melepaskan serangan ,..


" Aji Wajra Geni,..heahhh,..,"


" Dhumbhhh,.."


Raka Senggani melepaskan ajian Wajra Geni miliknya itu tetapi tidak di arahkan tepat ke tubuh lawan nya, sehingga tanah yg terhantam oleh ajian tersebut itu sampai berlobang cukup dalam.


Gila, serangan nya itu dapat membunuh ku, berkata dalam hati Aji Wangka sambil bergulingan menjauhi tempat tersebut.


Kemudian dengan cepat ia bangkit berdiri, tidak jauh di hadapan nya telah berdiri dengan gagah nya Raka Senggani.


" Sekali lagi ku peringatkan kepadamu kisanak untuk mengurungkan niat mu itu , karena memang bukan diriku yg telah membunuh guru mu,.." seru Raka Senggani.


Aji Wangka diam tidak menjawab perkataan dari Raka Senggani , ia meraba sesuatu di balik bajunya, karena yg ada di pikiran nya kali ini dapat menghabisi orang yg ada di hadapannya itu.


Baik, jika dengan jalan pertarungan aku kalah, lebih baik ia , aku serang dengan kedua senjata rahasia ini, tentu dalam jarak ini ia tidak akan mampu menghindarinya setinggi apa pun ilmu peringan tubuh nya, berkata dalam hati Aji Wangka.


Setelah berhasil menggenggam dua buah senjata rahasia itu, ia berkata,..


" Mungkin aku memang harus mengaku kalah dengan Senopati Brastha Abipraya , tetapi coba terima ini , hehhh,.."


" Swiiing,.."


" Swiiing,.."


" Thakkkk,."


" Thakkkk,.."


Selepas ia habis mengucapkan kata katanya , melesat dua buah senjata rahasia dengan sangat cepat ke arah tubuh Raka Senggani.


Entah memang karena Raka Senggani tidak menyangka mendapatkan serangan tiba -tiba itu sehingga tidak dapat menghindarinya atau memang sengaja ingin memamerkan ilmu kebal nya, dua buah senjata rahasia itu meluncur dan menghantam tubuhnya deras nya akan tetapi keanehan terjadi, kedua senjata itu jatuh ke atas tanah tidak berhasil melukai tubuh dari sang Senopati.


" Hahh,.."


Seru Aji Wangka kaget, ia tidak mengira bahwa lawan nya itu memiliki ilmu kebal.

__ADS_1


" Heahhhh,.."


Ia pun segera melesat pergi meninggalkan tempat itu.


__ADS_2