
Dalam pada itu, di tanah perdikan Mantyasih di sebelah barat dari Kota Pajang, terlihat sedang ramai banyak dihadiri oleh kalangan rimba persilatan baik dari golongan hitam maupun golongan putih.
Mereka sedang berburu sebuah senjata pusaka yg ada di atas puncak gunung Tidar.
Diantara nya nampak seorang yg cacat tubuh nya , sedang berjalan -jalan di tanah perdikan itu.
" Ki Rajungan , sebaik nya kita mencari tempat menginap yg baik, sebelum terjadi pengangkatan senjata pusaka itu," ucap orang yg cacat tubuh nya itu.
" Baik Ki,". jawab Orang bernama Rajungan itu.
" Lebih baik kita memilih tempat yg dekat dengan kaki gunung Tidar itu," sebut orang itu lagi.
" Tampak nya , rumah yg ada di ujung jalan ini sangat baik untuk menginap,!" ungkap orang itu .
" Marilah, Ki, kita kesana,". ajak Ki Rajungan.
Dan kedua orang itu pun melangkahkan kaki nya menuju rumah yg ada di ujung tanah perdikan itu.
Memang telah terjadi kehebohan tentang pengangkatan senjata pusaka yg ada di atas puncak gunung Tidar itu.
Usaha yg akan dilakasanakan oleh seorang resi yg maha sakti berasal dari tanah Hindustan, ia mengatakan bahwa pulau itu harus bersih dari segala tanaman senjata pusaka yg di jadikan sebagai tumbal.
Dan banyak orang yg mengambil kesempatan itu untuk mencsri keuntungan pribadi masing -masing.
Termasuk di dalam nya para pendekar yg ingin menguasai pusaka tersebut.
" Adi Arumi, apakah guru akan tiba hari ini,"
tanya seorang pemuda kepada gadis cantik di sebelahnya.
" Entahlah kakang, sepertinya belum, mengingat waktu yg telah di tentukan itu masih lama,"
jawab gadis yg bernama Arumi itu
Keduanya tampak sedang berada di tanah perdikan itu.
Sedangkan di rumah Ki Gede Mantyasih sendiri terlihat pun telah di penuhi oleh para perangkat nya, termasuk di sana ada putra Ki Gede sendiri.
" Angger Rasala, apakah gurumu tidak mampu mencegah Resi dari India itu untuk datang kemari dan melakukan pengangkatan pusaka Kyai Sepanjang itu,?" tanya Ki Gede Mantyasih kepada putra nya.
" Maaf Romo, tampak nya guru tidak mampu mencegah Resi Yaramala itu untuk datang kemari,". jawab Rasala.
" Telah Angger lihat sendiri, saat ini Mantyasih telah kedatangan orang -orang dari dunia persilatan yg tampak nya akan saling berebut agar dapat menguasai Kyai Sepanjang itu,!". jelas Ki Gede lagi.
__ADS_1
" Memang di luar perkiraan kita semua, bahwa berita kedatangan dari Resi Yaramala itu membuat semua orang berlomba -lomba datang kemari hanya untuk sebuah benda mati," ungkap Rasala.
" Memang begitulah keadaan nya, Ngger, bahwa nafsu seseorang itu akan wesi aji atau yg namanya sebuah pusaka di negeri kita ini masih kuat, padahal belum tentu setelah benda itu di dapatnya kehidupan nya akan berubah,!". ucap Ki Jagabaya tanah perdikan Mantyasih itu.
" Yg merisaukan Romo, kehadiran mereka di sini akan membuat kesulitan kita untuk menjaga keamanan tanah perdikan ini," jelas Ki Gede Mantyasih itu.
" Bahkan saat ini para bekel di beberapa pedukuhan yg ada disini sudah sangat kesulitan atas kehadiran orang -orang rimba persilatan itu," kata Ki Jagabaya.
" Memang tidak dapat di pungkiri bahwa yg hadir itu memang berniat atas Pusaka Kyai Sepanjang itu atau hanya ingin melihat keadaan tanah perdikan ini dan kemudian akan datang lagi untuk merampok disini," ungkap Rasala.
" Apa tidak sebaiknya guru dari Angger Rasala itu kita panggil kemari,?". tanya Ki Jagabaya.
" Tetapi Panembahan Sragil itu amat sulit untuk di temui dan di suruh datang kemari," jawab Ki Gede Mantyasih.
" Benar Paman , memang guru sangat sulit untuk di hubungi, meskipun kami para murid nya sendiri," ucap Rasala.
" Jika kita tidak mendapatkan bantuan , akan sangat sulit untuk menjaga keamanan tanah perdikan ini,Hhehh," seru Ki Gede lagi.
" Bagaimana jika kita meminta bantuan dari Pajang ," kata Rasala.
" Hehhh, mengapa meminta bantuan ke Pajang, apa tidak sebaiknya langsung ke kotaraja Demak saja,!??" tanya Ki Gede kepada putra nya itu.
" Iya , Ngger, bukankah jarak ke Pajang dan ke Demak sama jauh nya, dan lagi di Demak tentu lebih banyak para perwira nya yg memiliki kesaktian yg sangat tinggi di bandingkan dengan Pajang," kata Ki Jagabaya.
" Mengapa saya menyebutkan ke Pajang , karena disana saat ini lagi ada seorang Senopati nya yg telah sangat terkenal kesaktian nya, bahkan sampai ke Demak," jelase Rasala.
" Nama nya Raka Senggani atau bergelar Senopati Brastha Abipraya, ia sudah sangat terkenal di tlatah Demak ini, Romo," jawab Rasala.
" Jika dirimu memang meyakini kemampuan dari Senopati itu, undanglah ia untuk datang kemari, mengingat disini telah hadir tokoh -tokoh persilatan yg sangat sakti,". kata Ki Gede Mantyasih lagi.
" Baik , Romo, segera akan Rasala kirim pengawal tanah perdikan ini ke Pajang," jawab Rasala.
" Memang lebih cepat dilakukan, adalah suatu langkah yg terbaik," ucap Ki Jagabaya.
Akhirnya telah di sepakati untuk mengirim kan utusan ke Pajang meminta bantuan dari Kadipaten itu mengatasi permasalahan di tanah perdikan Mantyasih.
Di tanah perdikan Mantyasih sendiri, tepatnya di sebuah gubuk di dalam hutan kecil, terlihat dua orang yg sudah berusia paruh baya sedang mengobrol.
" Apakah kita akan dapat menguasai senjata pusaka itu, kakang," tanya seorang yg bertubuh tambun.
" Mungkin jika masih ada guru, tentu usaha untuk menguasai Kyai Sepanjang itu akan jauh lebih mudah di lakukan,!" jawab yg seorang lagi.
" Sayang guru telah tiada, dan musuh kita kali ini pun cukup berat, banyak nama -nama mentereng yg hadir disini," katanya lagi.
__ADS_1
" Satu hal lagi kakang, nampak nya Macan Baleman pun telah hadir disini pula,". kata orang yg bertubuh tambun itu.
" Belum lagi guru nya, Resi Brangah,". kata seorang lagi.
" Apakah Rsi Brangah pun hadir di sini,?" tanya yg bertubuh tambun itu.
" Yang ku dengar, Resi Brangah lah yg telah mengundang datang Resi sakti dari tanah India tersebut," jelas yg seorang lagi.
" Nampak nya kita hanya jadi penonton saja Kakang," kata yg bertubuh tambun.
" Siapa tahu keberuntungan berpihak kepada kita, sehingga kita mampu menjadi pemilik Pusaka Kyai Sepanjang itu," kata teman nya itu.
" Mudah -mudahan kakang," ujar yg bertubuh tambun.
Kedua nya terus asyik mengobrol. Sementara mentari beranjak naik.
Di saat siang menjelang sore itu , tampaklah empat orang tengah berjalan di tanah perdikan Mantyasih itu.
Yg paling depan seorang yg memakai jubah layaknya seorang biksu dan diiringi oleh tiga orang di belakang nya.
Tampak orang itu menggenggam sebuah tongkat kayu.
Dari cara berjalan nya terlihat ke empat orang itu memiliki ilmu peringan tubuh yg sangat tinggi. Mereka seperti sedang tidak menjejak tanah.
" Sebaiknya kita segera mencari tempat peristrahatan, sebelum hari menjelang malam,,". kata orang yg berjubah biksu itu.
" Kebo watan, cepat cari rumah tempat kita dapat untuk menginap," perintah orang yg memakai jubah biksu itu.
" Baik, Guru,". jawabe orang yg bernama Kebo Watan itu.
Ia pun segera berjalan terlebih dahulu guna mencari rumah yg dapat di jadikan tempat menginap.
Cukup lama ke empat orang itu baru menemukan tempat yg cocok untuk beristrahat.
" Bagus Kebo watan, pilihan mu memang tepat memilih tempat ini,". ujar orang yg berjubah biksu itu.
" Guru apakah kita akan mampu mengalahkan Resi Yaramala itu,?" tanya salah seorang murid nya.
" Aku sudah menghubung saudara seperguruan ku yg ada di Tibet, dan mudah mudahan ia tepat waktu sampai disini,". jawab orang yg berjubah biksu itu.
" Walaupun demikian guru, Resi Yaramala itu di bantu oleh Resi Brangah dari Blambangan, ini merupakam satu kekuatan yg sulit untuk di tsndingi," kata orang yg bernama Kebo Watan itu.
" Benar, kakang Watan, apalagi penguasa Merapi turut serta pula di dalam barisan mereka , " seru yg seorang lagi.
__ADS_1
" Ahh, belum tentu Mpu Loh Brangsang itu mau membantu Resi Brangah guna menguasai Kyai Sepanjang itu,". jelas Kebo watan.
" Dane sudah menjadi kewajiban kita untuk mampu menghabisi lawan -,lawan kita meski sekalipun Resi Brangah dan Mpu Loh Brangsang bersatu," kata orang yg memakai jubah biksu itu.