Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 5 Keris Kyai Condong Campur. bagian keempat.


__ADS_3

Setelah kepergian Rajungan, Mpu Loh Brangsang menemui Resi Brangah dari Blambangan yg merupakan guru dari Macan Baleman.


Setelah bertemu dengan Resi Brangah, Mpu Loh Brangsang segera berujar,


" Apa khabarnya Resi Brangah, apakah dalam keadaan baik, bagaimana keadaan Blambangan saat ini,?" tanya Mpu Loh Brangsang kepada Resi Brangah Itu.


" Baik Brangsang, aku dalam keadaan baik dan keadaan di Blambanganpun cukup baik, meskipun ajaran islam terus berkembang disana,!" jawab Resi Brangah.


" Ada yg ingin aku sampaikan kepada Resi Brangah selain masalah muridmu Itu, aku Loh Brangsang, juga kurang senang atas perkembangan dari ajaran islam disini, termasuk dengan kakang Supa Mandrangi yg telah masuk islam tersebut, aku ingin mengajak Resi Brangah membuat sebuah pusaka yg akan mampu menandingi piyandel Demak, yg telah dibuat oleh kakang Supa Mandrangi itu, Resi," ungkap Mpu Loh Brangsang lagi.


" Suatu tugas yg sulit, Brangsang, dengan menciptakan sebuah pusaka , bukan berarti kita mampu mengatasi kekuasaan Demak, dan apakah dirimu telah memiliki seseorang yg bisa dan mampu untuk dijadikan Junjungan di tanah ini,?" tanya Resi Brangah.


" Kau tenang saja Brangah, selain aku akan berusaha membuat sebuah Pusaka yg menjadi putraninya Kyai Condong Campur, aku juga telah memilih Seorang yg akan menjadi pemegangnya pusaka tersebut,!" ujar Mpu Loh Brangsang lagi.


" Hehh, siapa orang itu, apakah ia masih keturunan dari Mahapahit,?" tanya Resi Brangah heran setelah mendengar penuturan dari Mpu Loh Brangsang itu.


" Ya, ia masih keturunan Mahapahit, tepatnya masih cucu dari Prabhu Brawijaya kelima dari seorang selir,!" jawab Mpu Loh Brangsang.


" Cucu Prabhu Brawijaya, siapa dia,?" tanya Resi Brangah lagi.


" Ialah yg telah memberimu pesanku, yg datang ke tempatmu di Blambangan,!" jawab Mpu Loh Brangsang.


" Kuda Wira maksudmu, Brangsang,?" tanya Resi Brangah kaget.


" Benar, Raden mas Kuda Wira adalah masih keturunan dari Prabhu Brawijaya dari seorang selir, dan dia juga masih muridku sendiri, ia asli trah Majapahit baik dari pihak ibu maupun dari Romonya, tidak seperti Raja Demak itu yg merupakan keturunan campuran dari tiongkok, jadi sudah sewajarnya kita memberiakn dukungan kepada Raden mas Kuda Wira itu, setelah kita mampu membuat putraninya Kyai Condong Campur, ia kita angkat sebagai pemegangnya, sekaligus untuk menentang Demak,!" jelas Mpu Loh Brangsang.


" Akan tetapi kita tidak memiliki pasukan ataupun prajurit, bagaimana kita akan melawan Demak,?" tanya Resi Brangah lagi.


" Kalau masalah itu kau tidak usah risau Brangah, kita akan berupaya menarik para adipati yg berada di brang Wetan, untuk ikut membantu termasuk Blambangan," kata Mpu Loh Brangsang lanjut.


" Untuk itulah kau kupanggil kemari selain melihat Macan Baleman yg sedang sakit itu, kuharap engkau pun mau membantu rencanaku ini, dalam hal membantu membuat Pusaka yg akan jadi piyandel sipemegangnya dan juga membantu untuk menarik penguasa Blambangan agar mau berada dibelakang barisan kita ini,!" jelasnya lagi.


" Mumgkin pemimpin Blambangan akan dapat kami tarik mengingat dendam mereka kepada Jaka Sengara yg telah mampu mengalahkan Prabhu Menak Dalih dalam perebutan Raden ayu Pembayun kala itu, dan aku pun masih mendendam kepada keluarga Pengging tersebut, karena Prabhu Menak Dalih adalah saudara seperguruanku,!" ucap Resi Brangah lagi.


" Itulah aku sangat berharap banyak padamu Brangah , selain kemampuanmu dalam ilmu kadigjayaan yg sudah tidak diragukan lagi, juga dalam keraton Blambangan pun kuasa dan pengaruhmu pun masih kuat, jadi kuharap engkau mau membantuku,!" pinta Mpu Loh Brangsang kepada Resi Brangah Itu.


Resi Brangah yg berasal dari Blambangan itu terdiam atas tawaran yg rwlah di sampaikan oleh Mpu Loh Brangsang , ia masih memikirkan untung dan ruginya dalam mendukung rencana dari Pemimpin padepokan Lereng Merapi itu.


Tidak berapa lama masuklah Macan Baleman, murid dari Resi Brangah.


" Guru, murid menghaturkan hormat,!" ucape Macan Baleman kepada Resi Brangah.


" Hahh, Baleman , bagaimana bisa engkau kalah dengan seorang prajurit , masih muda lagi,?" tanya Resi Brangah Ketika melihat muridnya itu.


" Maaf sebelumnya Guru, memang lawanku kali seorang yg pilih tanding , terbukti Singo Abra dari Banyu Biru tewas ditangannya,!" ungkap Macan Baleman kepada gurunya itu.


" Benarkah hal itu, Singo Abra telah tewas, apakah ini memang benar terjadi ,Brangsang,?" tanyanya kepada Mpu Brangsang.


" Begitulah kenyataannya, Singo Abra tewas di tangan salah seorang Senopati dari Pajang," jawab Mpu Loh Brangsang.


" Sungguh tinggi ilmu anak itu, sudah sewajarnya kau memang kalah, Baleman," tukas Reai Brangah kepada muridnya itu


" Coba engkau kemari mendekat, biar kulihat tanganmu itu," perintah Resi Brangah kepada Macan Baleman


Macan Baleman segera beringsut mendekati gurunya itu.

__ADS_1


Sejenak Resi Brangah memegang lengan Macan Baleman dan menggerakkannya, akan tetapi tangan itu tetap tidak bereaksi.


Ketika diangkat oleh Resi Brangah tangan itu keatas kemudian dilepaskannya, tangan itu langsung terjatuh lagi.


Ia kemudian mengurutnya di beberapa titik untuk mengetahui lagi, apakah kelumpuhan dari muridnya itu masih dapat disembuhkan atau tidak, setelah beberapa kali dilakukannya, dan lengan dari Macan Baleman itu mengadakan reaksi apapun, akhirnya Resi Brangah berucap,


" Mungkin sudah sangat sulit untuk disembuhkan tanganmu ini, Baleman,!"


" Apakah tidak cara lain sehingga kelumpuhan ini bisa diatasi , Guru,?" tanya Macan Baleman kepada gurunya itu.


" Tampaknya racun yg telah merasuk kedalam tubuhmu itu sangat kuat dan mematikan, jadi sulit untuk di sembuhkan, beruntung kau masih bisa selamat, Baleman, itu hal yg patut engkau syukuri,!" nasehat dari Resi Brangah kepada Macan Baleman muridnya itu.


" Akan tetapi murid masih menyimpan dendam terhadapnya , Guru, jika keadaanku begini bagaimana aku akan melaksanakannya, sedang dalam keadaan utuh saja Baleman bisa dikalahkannya apalagi dalam keadaan lumpuh begini, sangat sulit rasanya untuk mewujudkan sumpahku itu,!" ucap Macan Baleman dengan penuh harap.


" Mungkin sumpahmu masih bisa diwujudkan dengan engkau berlatih ilmu yg tidak terlalu mempergunakan olah tubuh hanya kekuatan tenaga dalammu saja, jadi kelumpuhan dari sebagian anggota tubuhmu itu tidak akan membawa pengaruh yg terlalu besar dalam pengungkapan ilmu tersebut," ujar Resi Brangah membesarkan hati muridnya itu.


Memang Resi Brangah cukup menyukai Macan Baleman itu, meski tindak tanduknya terkadang tidak sesuai dengan yg diharapkannya, namun muridnya itu masih memilki rasa hormat kepada Sang Guru,juga tidak pernah melupakan jasa gurunya itu dalam mendidiknya, jika ia memiliki sesuatu yg banyak , entah itu harta ataupun perhiasan, Macan Baleman masih sering sowan kepada gurunya dan memberikannya kepada Resi Brangah itu.


Walau terkadang dihatinya menolak pemberian itu, tetapi ia takut menyinggung perasaan muridnya tersebut, hal yg disukai Resi Brangah dari Macan Baleman adalah selalu memberi perhatian terhadap gurunya itu. Meski jalan yg dipilihnya adalah salah.


Kemudian Resi Brangah berkata kepada Mpu Loh Brangsang,


" Baiklah Brangsang, aku bersedia berada dibelakangmu, walau nyawa taruhannya, karena apa yg telah kau perbuat atas muridku ini adalah sesuatu yg sulit untuk dibalas, mungkin jika tidak ada dirimu, Macan Baleman telah jadi mayat,!" katanya kepada Mpu Loh Brangsang.


" Terima kasih atas kesediaanmu Brangah bergabung dengan kami , datanglah nanti ke Sumber api kayangan di desa Bedander , tepatnya pada saat purnama nanti, karena saat itu aku dan beberapa teman yg lain akan memulai pengerjaaan Keris Kyai Condong Campur putrani, " kata Mpu Loh Brangsang.


" Baiklah, karena saat itu masih cukup lama, aku akan kembali terlebih dahulu ke Blambangan, nanti jika telah tiba waktunya aku akan ke desa Bedander,!" jelas Resi Brangah kepada Mpu Loh Brangsang.


" Memang saatnya masih agak lama lagi, jadi memang kau bisa kembali ke Blambangan terlebih dahulu, apakah akan Macan Baleman akan kau bawa turut serta,?" tanya Mpu Loh Brangsang kepada Resi Brangah.


" Kurasa tidak, Brangsang, biarlah Macan Baleman untuk sementara berada disini, nanti jika kau ke Bedander ajaklah ia turut serta, karena di dekat Sumber api abadi itu ada sebuah pemandian air panas, aku akan mencoba mengobatinya disana," jawab Resi Brangah atas pertanyaan Mpu Loh Brangsang itu.


" Terima kasih Brangsang, atas penyambutanmu kepadaku dan muridku ini," tukas Resi Brangah lagi.


Ia pun keluar dari tempat Mpu Loh Brangsang berada. Begitu berada diluar langsung di sambut Adya Buntala dan diantarkan ke bilik peristrahatannya.


Macan Baleman pun pamit dari hadapan Mpu Loh Brangsang, ia juga berniat kembali ke tempatnya.


**********


Sementara itu di Madiun , setelah menyerahkan Prana citra dan seorang temannya kepada para prajurit Madiun untuk di tempatkan di bilik kurungan.


Raka Senggani kembali melanjutakan nganglang dan kali ini ia menuju perbatasan dari Ponorogo.


Disana ia bertemu para prajurit Madiun yg tengah berjaga dengan di pimpin oleh seorang Lurah prajurit yg bernama, Pringgodani.


" Bagaimana Ki Lurah, apakah tidak ada yg mencurigakan di daerah sini,?" tanya Senopati Brastha Abipraya kepada Lurah Pringgodani.


" Sampai saat ini belum , Senopati, tadi malampun tidak ada seorang pun yg lewat dari sini," jawab Lurah Pringgodani itu.


" Berarti masih dalam keadaan aman," tukas Senopati Brastha Abipraya.


" Demikianlah , Senopati, saat ini masih aman," kata Lurah Pringgodani lagi.


" Kalau begitu aku akan kembali ke Madiun, untuk bertemu dengan Tumenggung Warabaya, kalian teruslah berjaga, jika ada sesuatu yg mencurigakan segera beri laporan ke Madiun secepatnya,!" ucap Raka Senggani.

__ADS_1


" Baik, Senopati," jawab Lurah Pringgodani.


Raka Senggani kembali ke Madiun dan ia berniat untuk bertemu dengan Tumenggung Warabaya di katumenggungan.


Sesampainya di kediaman dari Tumenggung Warabaya, Raka Senggani langsung naik keatas pendopo rumah itu.


Setelah sebelumnya ia mengatakan kepada please prajurit jaga untuk memanggil Tumenggung Warabaya itu.


Tidak terlalu lama Raka Senggani duduk datanglah Tumenggung Warabaya seraya duduk di dekat Raka Senggani.


" Ada apa Senopati Brastha Abipraya datang berkunjjung kemari,?" tanya Tumenggung Warabaya itu kepada Raka Senggani.


" Begini Paman Tumenggung, ada firasatku yg mengatakan bahwa nanti malam Si Topeng Iblis itu akan beraksi lagi tetapi bukan disini melainkan memang di Kediri , dapatkah Paman Tumenggung memperketat penjagaan untuk malam ini, karena aku akan ke Kediri malam ini," jelas Raka Senggani.


Tumenggung Warabaya terlihat tidak mampu menjawab permintaam dari Raka Senggani itu, ia hanya diam saja memandangi pemuda itu.


" Apakah Paman Tumenggung tidak bisa menyanggupinya, kalau memang tidak bisa, Aku akan menghadap Paman Patih,!" ungkap Raka Senggani lagi.


" Memang sebaiknya begitu, Senopati, sebaiknya kita berdua menghadap Kanjeng Patih terlihat dahulu, karena tugas kali ini merupakan tugas yg berat untukku, berbeda dengan Senopati Brastha Abipraya, mungkin kali ini jika kami gagal menjaga keraton dari penyusup, leher kami yg sebagai gantinya," jelas Tumenggung Warabaya.


" Baiklah, mari kita menghadap Paman Patih,!" ajak Raka Senggani kepada Tumenggung Warabaya.


" Mariiii,.." kata Tumenggung Warabaya.


Kedua orang itu kemudian meninggalkan rumah Tumenggung Warabaya menuju ke istana Kepatihan.


Tidak terlalu lama keduanya telah tiba di Istana kepatihan, akan tetapi Sang Patih sedang menghadap Kanjeng Adipati Madiun.


Terpaksalah keduanya menunggu di istana kepatihan itu. Setelah lewat tengah hari Patih Haryo Winangun kembali dari Istana Madiun dan terkejut melihat keduanya telah berada di situ.


" Apakah ada sesuatu yg mendesak hingga kalian berdua berada disini,?" tanyanya kepada keduanya.


" Mohon maaf sebelumnya Kanjeng Patih, Senopati Brastha Abipraya akan meninggalkan Madiun dan pergi ke Kediri, karena menurutnya Si Topeng Iblis itu akan muncul malam ini disana,!" jelas Tum Warabaya kepada Patih Haryo Winangun.


" Benarkah demikian anakmas Senggani,?" tanya Patih Haryo Winangun kepada Raka Senggani.


" Mohon maaf sebelumnya Paman Patih, memang demikianlah, Senggani malam ini ingin menuju Kediri, jika di perbolehkan,!" jawab Raka Senggani.


" Suatu permintaan yg sulit anakmas Senggani, atau tidak ada cara lain yg bisa di tempuh selain anakmas sendiri yg harus kesana,?" tanya Patih Haryo Winangun kepada Raka Senggani.


Raka Senggani menggelengkan kepalanya, karena ia memang berniat membongkar kedok dari Pemilik padepokan Lereng Wilis itu sekaligus untuk membalaskan dendamnya.


" Kalau tidak Paman Patih, kita buat cara dengan meletakakkan beberapa prajurit untuk segera dapat menyampaikan berita dengan cepat kemari, jika kekhawatiran Paman Patih dan Tumenggung Warabaya , Si Topeng Iblis itu akan memyerang kemari , semacam pesan beranting,!" jelas Raka Senggani.


" Maksudmu di beberapa sudut ada para prajurit Madiun yg siap menyampaikan pesan bila terjadi sesuatu yg gawat di Madiun ini?" tanya Patih Haryo Winangun lagi.


" Benar Paman Patih, jadi Senggani yg berada di Kediri akan cepat mengetahuinya jika memang ada penyusup yg masuk kemari,!" kata Raka Senggani.


Tampak Patih Haryo Winangun itu berjalan mondar -mandir sambil memegang dagunya, ia mempertimbangkan dengan masak permintaan dari Raka Senggani itu.


Setelah cukup lama barulah Patih Haryo Winangun berkata,


" Baiklah anakmas Senggani, usulmu Aku terima dengan syarat secepatnya anakmas jika memang Si Topeng Iblis itu tidak berada di Kediri, karena merupakan tanggungjawab kita bertiga atas keamanan dari Kadipaten Madiun ini,!" ungkap Patih Haryo Winangun.


" Senggani mengerti Paman Patih, jika telah lewat tengah malam nantinya, jika Si Topeng Iblis itu juga tidak datang di Kediri, aku akan segera kembali kemari,!" jawab Raka Senggani kepada Patih Haryo Winangun.

__ADS_1


" Untuk pengaturan para prajurit Madiun, lakukanlah Tumenggung Warabaya, jangan sampai kita kecolongan lagi,!" terdengar perintah dari Patih Haryo Winangun itu


Dan Tumenggung Warabaya langsung menganggukkan kepalanya, kemudian kedua orang itu seger keluar dari Istana kepatihan itu.


__ADS_2