Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 11 Kembang Kedawung bag ke enam.


__ADS_3

Sore itu, Jati Andara dan Japra Witangsa berkeliling di sekitar pedukuhan itu.


Keduanya mencari tahu tentang keberadaan dari Ki Jarong. Beberapa orang yg telah di temui mereka tanya. Namun hasil nya nihil. Tidak ada yg bernama Jarong di tempat itu.


Tampak nya kita tidak mendapatkan keterangan akan keberadaan Ki Jarong itu, ucap Jati Andara kepada Witangsa.


Dan putra Ki Jagabaya itu pun membenarkan ucapan teman nya itu.


Memang sangat sulit untuk mencari seseorang yg belum diketahui keberadaan nya dengan jelas.


Atau mungkin nama Ki Jarong itu disini telah berganti, sebut Witangsa , ia merasa bahwa kemungkinan Jarong itu nama yg telah diganti dengan sebutan lain.


Jati Andara nampak mengangguk -angguk, ia sependapat dengan ucapan teman nya itu.


Bagaimana jika kita menanyakan ciri -cirinya, tanya Jati Andara.


Mungkin itu lebih baik meskipun kita kurang mengenalnya tetapi cara tersebut dapat kita coba, sahut Japra Witangsa.


Kemudian keduanya berjalan menyusuri pematang sawah , dan menuju ke sebuah gubuk sawah.


Di gubuk itu ada seorang lelaki tua yg sedang beristrahat , ia menunggui padi nya dari incaran burung -burung. Sambil mengipasi dada nya dengan sebuah caping lelaki itu memandang ke arah Jati Andara dan Japra Witangsa.


Namun keduanya terus saja berjalan mendekati tempat itu.


" Maaf Ki, sedikit mengganggu, kenalkan namaku , Jati Andara dan ini adalah temanku , Witangsa ," ucap Putra Ki Bekel itu.


" Ada perlu apa kisanak,?" tanya lelaki itu.


Ia menghentikan kipasan caping nya dan duduk mengarah kepada keduanya.


Sambil menatap lekat -lekat , karena ia merasa asing dengan keduanya.


" Begini, Ki, apakah aki mengenal seseorang yg bernama Jarong,?" tanya Jati Andara.


Lelaki tua itu tidak menjawab , dan nampaknya ia tengah mengingat -ingat sesuatu.


" Bagaimana ciri -cirinya,?" tanya lelaki itu.


Jati Andara dan Japra Witangsa kemudian menyebutkan ciri -cirinya, walau hanya sekedar nya yg mereka tahu dari ucapan Kawit saat di Kademangan Kedawung.


Lelaki itu mendengarkan, ia kemudian berkata, bahwa di tempat itu tidak ada yg bernama Jarong dengan ciri -ciri yg di sebutkan tadi.


Tetapi kalau yg bernama Ki Ronggo Sathru ada, ia merupakan pemilik padepokan yg berada tepat di lereng Gunung Pandan itu, jelas lelaki tua itu kepada Jati Andara dan Japra Witangsa.


Saking penasaran nya , kedua anak muda itu langsung mengaitkan dengan Nyi Warseh, seorang perempuan yg rumahnya mereka tempati itu.


" Apakah Ki Ronggo Sathru itu adalah suami dari Nyi Warseh, Ki ,?" tanya Japra Witangsa.


Lelaki tua itu agak terkejut mendengar pertanyaan dari anak muda yg ada dihadapan nya itu, karena setahu dia jarang orang mengetahui bahwa perempuan itu ada hubungan nya dengan pemilik padepokan itu.


" Darimana kisanak mengetahui nya,?" tanya lelaki itu.


Japra Witangsa kemudian menjelaskan bahwa mereka tinggal di tempat Nyi Warseh, dan perempuan itu telah bercerita tentang anak dan suami nya itu.


Memang kami disini pun cukup heran dengan sikap dari putra Nyi Warseh itu, ia rela meninggalkan ibunya demi ikut dengan Romonya, padahal ibunya itu tinggal sendiri, namun begitulah kenyataan , kasih ibu Sepanjang jalan kasih anak Sepanjang galah, ucap dari lelaki tua itu.


Dan Kedua anak muda itu mengerti akan ucapan lelaki tersebut. Agak lama keduanya mengorek keterangan dari orang tersebut.


Bahwa Ki Ronggo Sathru memang memiliki sebuah padepokan yg memiliki beberapa orang murid.


Ada juga murid perempuan nya yg nyantrik di sana.


Semakin mentari condong ke barat, dan lelaki itu sedang berkemas akan kembali pulang, baik Jati Andara dan Japra Witangsa pamit dari tempat itu.


Di tengah perjalanan keduanya kemudian membahas tentang putra Nyi Warseh itu, mereka kurang setuju dengan sikap yg di ambil pemuda anak Nyi Warseh .


Sementara itu , Sari Kemuning dan Dewi Dwarani menyiapkan makan malam, keduanya membantu Nyi Warseh memasak di dapur, dengan tungku dan kayu bakar , ketiganya terlihat asyik dengan pekerjaan nya.


Sampai akhirnya Kedua kakak nya kembali.


Saat Maghrib menjelang, ditengarai warna jinggga keemasan yg berada di ufuk barat, Keempat orang itu melaksanakan ibadah sholat.


Mereka melakukan bergantian karena tempat nya cukup sempit.


Setelah selesai barulah kelima orang itu mengadakan santap malam bersama , hanya di terangi sebuah lampu minyak jarak, kelima orang tersebut cukup lahap menghabiskan makanan nya.


Kata Nyi Warseh kepada keempat pemuda itu agar tidak usah sungkan untuk menghabiskan makanan nya, walau ala kadarnya.


Bagi keempat orang itu hidangan yg ala kadarnya itu cukup membuat selera makan nya bertambah, apalagi setelah kembali nya dari Pajang mereka hanya sehari makan di rumah nya sendiri, selebihnya mereka makan ala kadarnya di perjalanan.


Nanti kita akan bergantian berjaga, ucap Jati Andara kepada ketiga orang itu.


Dan untuk yg pertama kali berjaga biarlah kami berdua saja dengan Dwarani,.sahut Sari Kemuning.


Japra Witangsa yg penasaran dengan kehidupan Nyi Warseh segera mempertanyakan tentang suami dan anaknya itu.


Perempuan paruh baya itu agak kaget mendengar pertanyaan dari Japra Witangsa.


Darimana den Witangsa ini tahu akan nama suami dan anaknya itu, kata di dalam hatinya.


Witangsa menyebutkan bahwa tadi seseorang telah memberitahukan hal itu kepadanya.

__ADS_1


Nyi Wsrseh tidak dapat mengelak lagi, bahwa suaminya adalah Ronggo Sathru pemimpin padepokan di lereng Gunung Pandan itu, ia juga menyebutkan bahwa Arnawa adalah putranya.


Wajah perempuan itu terlihat sedih ketika harus menyebutkan hal itu, ia memang berusaha untuk tidak mengingat ingat lagi kejadian yg telah lewat.


Hati keempat orang itu tersentuh melihat kehidupan dari Nyi Warseh, padahal perempuan paruh baya itu masih memiliki kecantikan walau sudah tampak tua.


Suara -suara jangkerik terdengar memecah kesunyian malam, ditambah sesekali burung -burung malam yg berbunyi , rumah Nyi Warseh yg memang jauh dari rumah yg lain membuat tempat itu terasa sunyi.


Bagaimana perasaan Nyi Warseh ketika harus tiap malam tinggal sendirian seperti ini, berkata di dalam hati Sari Kemuning.


Jika saat ini mereka berempat telah membuat ramai rumah itu, tetspi jika mereka pergi alangkah sunyi kehidupan dari Nyi Warseh ini, pikirnya lagi.


Kedua orang perempuan itu yg bertugas berjaga disaat Jati Andara dan Japra Witangsa tidur.


Saat malam semakin larut, Sari Kemuning membangunkan Japra Witangsa kakak nya untuk gantian berjaga.


Japra Witangsa kemudian bangkit dan ia pun mengajak Jati Andara untuk turut berjaga.


Kedua pemuda itu bangkit, mereka kemudian menuju ke arah pintu rumah Nyi Warseh itu.


Ssssttthh, Japra Witangsa membisikkan sesuatu ke telinga teman nya itu.


" Ada apa ,?" tanya putra Bekel desa Kenanga itu.


Dengan perlahan , Japra Witangsa membisikkan ke telinga Jati Andara.


Bahwa ada seseorang yg telah mendekati tempat penambatan kuda mereka.


Jati Andara yg penasaran segera beringsut mendekati dinding samping rumah Nyi Warseh.


Dari celah-celah dinding bambu itu ia melihat keluar , ke arah kuda -kuda mereka.


Jati Andara terperanjat , karena di gelap nya malam itu, ia melihat sesosok bayangan sedang mendekati kuda yg sedang tertambat itu.


Witangsa, seperti nya ada tamu yg tidak di undang telah mendekati tempat ini, bisik Jati Andara kepada Japra Witangsa.


Japra Witangsa pun ikut melihat keluar untuk mengetahui keadaan yg terjadi.


Apa yg harus kita lakukan , tanya Japra Witangsa kepada teman nya itu.


Jati Andara kemudian mengatakan agar mereka berdua mengepung orang itu.


Ia dari depan dan Witangsa dari belakang, Witangsa menyetujui nya.


Perlahan putra Ki Jagabaya itu berjalan menuju ke arah dapur dengan melewati Sari Kemuning dan Dewi Dwarani yg baru saja tertidur. Tanpa membangunkan keduanya, ia berhasil mencapai pintu dapur.


Jati Andara sendiri telah meraih daun pintu depan , bersamaan keduanya keluar dengan cepat dari dua tempat yg berbeda. Jati Andara dari depan , Japra Witangsa dari belakang.


Sementara sesosok bayangan yg mereka lihat tadi telah tidak berada di tempat itu.


Kemana perginya orang itu, tanya Jati Andara kepada Japra Witangsa.


Witangsa hanya menggelengkan kepalanya.


Hemmh , begitu cepatnya orang itu menghilang, bathin Jati Andara.


Keduanya masih celingukan melihat tempat itu , karena memang keadaan sangat gelap, di tambah mendung yg tebal menggantung di langit.


" Kita kehilangan jejaknya, Andara," ujar Japra Witangsa.


" Benar, cepat sekali menghilangnya orang itu," balas Jati Andara.


Disaat keduanya masih saja memikirkan kemana perginya bayangan tadi , tiba -tiba saja,


" Shieet, shieeet,"


Dua buah senjata rahasia meluncur ke arah keduanya, dengan sigap kedua murid Raka Senggani itu melompat menghindari serangan gelap itu.


Hehh, ternyata ia masih berada disini, seru Jati Andara.


Benar saja, kembali serangan dua buah senjata rahasia meluncur kembali. Dan keduanya pun harus berlompatan menghindarinya .


" Andara , tampaknya ia berada diatas pohon itu, " kata Japra Witangsa.


Jati Andara kemudian memandangi sebuah pohon yg di tunjukkan oleh temannya itu.


Dengan memberikan isyarat kepada Witangsa, pemuda itu bergerak ke arah belakang dari pohon tersebut.


Penyerang gelap itu tidak melancarkan lagi serangan nya.


Japra Witangsa dan Jati Andara telah mengeluarkan senjata nya, keduanya mendekati pohon itu bersamaan dari arah yg berbeda.


Heeaaah, Jati Andara kemudian menyerang dengan senjata nya, ia mempergunakan tenaga dalamnya untuk naik ke atas pohon itu.


Seraya menebaskan pedang nya ke arah orang yg ada di atas pohon itu.


Namun orang yg berada di atas pohon itu berhasil menghindari serangan itu, ia melayang turun dan berada tepat di dekat Japra Witangsa.


Tidak ampun lagi , Putra Ki Jagabaya itu melancarkan serangan dengan sebuah tendangan.


Hufffhh, orang itu kembali berhasil menghindari serangan itu. Namun Witangsa meneruskan serangan nya dengan menebaskan pedang nya, orang itu melompat mundur guna lepas dari serangan Putra Ki Jagabaya itu.

__ADS_1


Namun tidak disadarinya dari arah belakang , Jati Andara sambil melayang turun memberikan sebuah tendangan.


" Dhiesggh,"


Orang itu jatuh akibat tendangan dari Putra Ki Bekel Kenanga itu.


Namun ia cepat bangkit berdiri, tetapi belum pun sempurna ia berdiri, sebuah tendangan mendatar mengarah dada nya menghantam nya lagi.


" Dhiesggh,"


Adslah Japra Witangsa yg melakukan nya, dua kali tendangan telak menghantam tubuh orang itu.


Dan tidak terlalu lama, hujan pun turun dengan deras nya di sertai cahaya petir yg menerangi tempat itu.


Tubuh ketiga orang itu langsung kuyup setelah hujan turun dengan derasnya.


Tetapi Baik Japra Witangsa dan Jati Andara tetap menyerang orang yg datang itu.


Di keroyok oleh dua orang, nampak nya tidak membuat gentar orang tersebut. Ia mencabut golok nya, Goloknya yg besar dan berwarna putih mwngkilap ketika tertimpa cahaya kilat yg menyambar.


Orang itu kemudian ganti menyerang, ia menebaskan goloknya kearah Japra Witangsa yg berada di depannya.


" Heaahhh,"


Goloknya itu berusaha menjangkau tubuh putra Ki Jagabaya itu, Japra Witangsa kemudian langsung melompat mundur , tidak sampai disitu , orang itu kembali melakukan tebasan mendatar mengarah perut Japra Witangsa.


" Traanngg,"


Putra Ki Jagabaya menangkis dengan pedangnya.


Jati Andara melihat teman nya terus dicecar segera memberi bantuan dengan balas menyerang,


" Heaahhh,"


Tusukan pedangnya mengarah punggung orang itu,


" Trangg,"


Orang itu menangkis serangan Jati Andara dengan memalangkan goloknya,ke belakang .


Dari arah depan , Witangsa ganti menyerang dengan tebasan pedangnya.


Orang itu melompat ke samping, ia berusaha keluar dari serangan kedua orang itu, baik Jati Andara dan Japra Witangsa melakukan serangan susulan dengan tebasan pedangnya mengarah kaki orang itu.


Terpaksa orang itu melakukan lompatan salto beberapa kali guna melepaskan diri dari serangan itu.


Luput dari serangan kedua nya, orang itu tampak berdiri tegak sambil menatap ke arah dua anak muda itu.


" Hehh, siapa kau,?" tanya Jati Andara.


Orang itu diam saja, golok nya masih teracung . Japra Witangsa berkata kepada Jati Andara, sepertinya orang ini adalah Ki Ronggo Sathru,.


" Hehh,"


Jati Andara kaget setengah mati, mendengar ucapan dari Japra Witangsa itu. Tetapi dengan di terangi sesekali oleh cahaya kilat yg menyambar membuat pandangan mata dari Jati Andara melihat cukup jelas , orang yg berada dihadapan nya itu memilki ciri -ciri yg sesuai dengan yg di ucapkan oleh Kawit tatkala di rumah Ki Demang waktu itu.


Setelah agak lama dan orang itu masih saja diam tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Namun ia pun belum melakukan sesuatu.


" Apakah kau ingin mencuri Kuda kami ini,?" tanya Japra Witangsa.


" Hehh, untuk apa aku mengambil kuda jelek ini, barang yg tidak berharga, " jawab Orang itu.


" Jadi apa maksudmu datang kemari,?" tanya Jati Andara.


Orang itu diam, ia kemudian mengangkat goloknya sambil berteriak,


" Aku ingin nyawa kalian berdua , hiyyah,"


Orang itu kembali menyerang dengan goloknya sambil melompat dan menebaskan goloknya.


Serangan orang itu terarah ke Jati Andara,.


Mendapati serangan itu , Putra Ki Bekel itu langsung memalangkan pedang nya,


" Trangg,"


Terjadi benturan antara kedua senjata itu. Jati Andara nampak goyah akibat serangan itu , demikian pula orang itu, ia terpaksa melompat mundur lagi.


Tetapi segera ia melentingkan tubuh nya lagi menyerang ,.dan kali ini ia menyerang Japra Witangsa, namun Witangsa berrkelit mengelak kan serangan itu,


Tetapi Japra Witangsa langsung membalas dengan tebasan pedangnya, mengarah kaki orang itu , orang itu melompat menghindari serangan dari Witangsa.


Jati Andara tidak tinggal diam ia pun segera memgirimkan serangan dengan tendangan .


Japra Witangsa pun ikut memberikan serangan , sehingga orang itu terpaksa harus berlompatan menghindarinya.


Hingga suatu saat , ketika ia harus menangkis serangan pedang dari Japra Witangsa dengan goloknya, tendangan dari Jati Andara tidak mampu untuk dihindari.


" Dhiesggh,"


Ia pun jatuh ke atas tanah.

__ADS_1


__ADS_2