Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 11 Kembang Kedawung bag ke Lima.


__ADS_3

" Siapa gadis itu, Ngger,?" tanya Tumenggung Bahu Reksa.


" Namanya Rara Tinampi, Paman, ia Putri ki Sudirjo dari Mantyasih,". jawab Raka Senggani.


" Apakah memang telah terjalin hubungan antara anakku itu dengan gadis tersebut, dan bagaimana , pendapat kedua orang tuanya,?" tanya Tumenggung Bahu Reksa lagi.


" Memang demikianlah kenyataan nya , Paman, dan kelihatan nya keluarga Ki Sudirjo pun telah memberikan isyarat kepada kakang Sandika agar datang untuk melamar Rara Tinampi," jelas Raka Senggani.


" Jika memang demikian hal nya , biarlah nanti Lintang Sandika akan Paman tanyai mengenai masalah ini, dan bila ia memang sudah mantap ingin berumah tangga, Paman selaku orang tuanya tentu akan mendukung nya, ". ungkap Tumenggung Bahu Reksa.


" Memang sebenarnya kakang Sandika telah mantap , Paman , tetapi ia merasa sungkan untuk mengutarakan hal ini kepada Paman Tumenggung, dan Senggani mengajukan diri sebagai lantaran penyampaian nya kepada Paman Tumenggung," ucap Raka Senggani.


" Apa masalah nya sehingga ia harus merasa sungkan mengatakan hal ini kepada orang tua nya sendiri, jika masih dalam batas -batas kewajaran tentu Paman selaku orang tuanya akan selalu mendukung nya, terlebih setelah kejadian yg telah menimpa nya di laut Melaka itu, Paman merasa sangat bersalah atas kematian Raden Kuning temannya itu, beruntung masih ada anak Paman yg lain, yaitu dirimu Angger Senggani yg mau meluangkan waktu menemaninya yg sedang gundah gulana itu, sehingga ia mampu bangkit dari keterpurukan akibat kehilangan teman, memang perang merupakan sesuatu yg sangat jahat, apalagi bagi Sandika yg baru pertama kali terjun di dalam nya," urai Tumenggung Bahu Reksa.


Raka Senggani mendengar kan semua perkataan dari orang tua angkat nya itu.


Ia dapat memahami keadaan Lintang Sandika yg merasa kehilangan seorang teman setelah tewas di medan perang di laut Melaka itu.


Lamunan dari Raka Senggani dibuyarkan oleh ucapan Tumenggung Bahu Reksa,


" Dan bagaimana dengan dirimu sendiri , Ngger, apakah engkau telah memilki seorang calon untuk Paman lamarkan,?" tanya Tumenggung Bahu Reksa.


" Ahhh, Paman, Senggani belum terlampau memikirkan nya, dan kalau pun ada tentu tidak dalam waktu dekat ini," jawab Raka Senggani.


" Jangan terlalu lama , Ngger, nanti tidak akan terasa umur telah lanjut, memang saat ini usia Angger Senggani masih muda tetapi seiring berjalan nya waktu, usia itu akan terus merambat naik dan Angger Senggani terlena di dalam nya," ungkap Tumenggung Bahu Reksa.


Sang Tumenggung kemudian mengatakan,


" Benarkah yg terjadi di puncak Gunung Tidar itu adalah kenyataan, Ngger,?"


" Maksud Paman Tumenggung,?". tanya Raka Senggani.


" Angger telah bertarung selama satu purnama penuh melawan Jin penguasa Gunung itu, tanpa beristrahat,?". tanya Tumenggung Bahu Bahu lagi.


" Sebenarnya Senggani tidak terlalu meyakini tetapi menurut kakang Sandika memang demikian," jawab Raka Senggani.


" Mengapa Sandika yg mengetahui nya, bukan Angger Senggani sendiri,?" tanya Tumenggung Bahu Reksa.


Dan disaat itu, Lintang Sandika, Lintang Sri wedari serta ibunya bergabung di tempat itu.


Lintang Sandika yg mendengar kan pertanyaan Romo nya itu langsung menyahuti,


" Demikian lah kenyataan nya Romo, adi Senggani memang telah bertarung selama satu purnama penuh, karena sendiri yg menunggu nya di Mantyasih pada saat itu,"


" Apakah kau tidak salah Sandika, dan mengapa kalian tidak membantu Angger Senggani,?" tanya Tumenggung Bahu Reksa.


" Jangankan Sandika, Romo, Wiku Mandrayana pun tidak sanggup menembus alam jin itu untuk membantu adi Senggani,". jawab Lintang Sandika.


" Mengapa demikian,?" tanya Tumenggung Bahu Reksa heran.


" Karena alam Jin telah di pagari oleh sang penguasa Gunung Tidar itu, Romo, sehingga ia dapat bertarung dengan lawan nya bebas sesuka hati nya tanpa ada yg mengganggu,". jelas Lintang Sandika.


" Darimana dirimu tahu akan hal itu, Sandika,?" tanya Tumenggung Bahu Reksa lagi


" Wiku Maha Gelang dan Wiku Mandrayana, bahkan sebelum terjadi nya pertarungan itu, Wiku Maha Gelang telah menyebutkan bahwa akan ada seorang yg tangguh datang dari sebelah Timur, dan umumnya orang -orang yg ada di Mantyasih itu ingin melihat adi Senggani, bahkan Putra Ki Gede Mantyasih sendiri saking penasaran berada di kelompok kami, bukan berada di kelompok orang tua nya, Gede Mantyasih itu," jelas Lintang Sandika.


" Jika memang demikian , dirimu itu, Ngger patut di sejajarkan dengan seorang ulama besar yg pernah hidup di zaman dahulu, ia lah yg merupakan gurunya para Wali, namanya Syaikh Ahmad Subakir, ulama ini mampu bertarung selama empat puluh hari empat puluh malam untuk dapat menundukkan penguasa Gunung Tidar itu,". ungkap Tumenggung Bahu Reksa itu.


" Paman Tumenggung, beliau adalah Guru Senggani,!" jawab Raka Senggani.


" Benarkah hal itu , Ngger, ?" tanya Tumenggung Bahu Reksa.


" Benar Paman, sewaktu Senggani tiba di daerah Blambangan, ada seorang tua , yg mengajak Senggani ke alas Purwa dan disana lah ia mengenalkan diri sebagai seorang yg bernama Subakir, dan selanjutnya Senggani diajarkan oleh nya dengan berbagai macam ilmu termasuk di dalam nya ilmu tentang agama islam," jelas Raka Senggani.


" Ahh , Angger Senggani hanya ngayawara saja, ulama besar itu telah lama tiada bahkan putranya pun sudah tiada yaitu Pangeran andayaningrat, penguasa Pengging itu, bagaimana mungkin Angger Senggani dapat bertemu dan berguru dengan nya,?" tanya Tumenggung Bahu Reksa seolah tidak percaya akan ucapan anak angkat nya itu.


" Senggani pun tidak tahu , Paman, yg jelas setelah selesai memberikan seluruh ilmunya, Senggani tidak pernah lagi bertemu dengan nya ," kata Raka Senggani.


Sesaat semua terdiam, karena mereka mereka -reka apa sebenarnya yg telah terjadi dengan Raka Senggani seorang yatim piatu, dan sekarang ini telah tumbuh menjadi salah seorang Senopati yg sangat terkenal di tlatah Demak itu.

__ADS_1


" Paman masih sangat sulit untuk menerimanya, tetapi mungkin kejadian yg telah menimpa Angger Senggani ini memang diluar nalar manusia biasa, mungkin ada kemampuan dari Sang Syaikh itu untuk dapat menurunkan ilmu nya kepada siapa saja yg di kehendakinya," ujar Tumenggung Bahu Reksa.


" Oh iya, Ngger , bagaimana bisa , Angger Senggani tidak merasakan telah satu purnama penuh bertarung melawan penguasa Gunung Tidar itu,?" tanya Tumenggung Bahu Reksa lagi.


Ia masih sangat penasaran dengan kejadian itu.


" Karena menurut Senggani, pertarungan dengan penguasa Gunung Tidar itu hanya dalam waktu semalam saja tidak lebih," jawab Raka Senggani.


" Tetapi setelah penguasa Gunung Tidar itu berhasil Senggani kalahkan dan kembali ke alam manusia , tiba -tiba, Senggani merasakan lapar yg teramat sangat sehingga secepat mungkin kembali ke tanah Perdikan Mantyasih, sesampainya disana , semua orang terheran -heran, termasuk dengan Senggani sendiri, setelah kedatangan kakang Sandika barulah kami semua dapat memaklumi apa yg telah terjadi itu, Paman," kata Raka Senggani lagi.


********


Pada saat itu , empat orang penunggang kuda yg berasal dari desa Kenanga telah tiba di kaki Gunung Pandan.


Jati Andara yg memimpin kelompok itu segera menghentikan langkah kaki kuda nya.


" Kita telah sampai di dukuh Klino, apakah kita akan beristrahat terlebih dahulu di dukuh ini atau terus melanjutkan naik keatas puncak gunung Pandan ini?". tanya Jati Andara.


" Mungkin sebaiknya kita singgah di pedukuhan ini, kita harus mencari tshu tentang orang yg bernama Jarong itu, Andara," sahut Japra Witangsa.


" Apakah memang Ki Jarong itu berada di puncak Gunung itu atau ia malah tinggal di dukuh Klino ini, kakang," sebut Dewi Dwarani.


" Benar, jangan -jangan ia berada di pedukuhan ini " seru Sari Kemuning.


" Kalau begitu kita berhenti di pedukuhan ini, dan kita harus menyelidiki tentang keberadaan dari Ki Jarong itu," sahut Jati Andara.


Dan keempatnya kemudian menuju ke pedukuhan yg ada di depan mereka itu.


* Apa sebaiknya kita langsung ke banjar pedukuhan ini, atau kita mencari sebuah tumpangan di rumah salah seorang penduduk,?" tanya Japra Witangsa.


Keempatnya menghentikan langkah kudanya.


" Benar ucapanmu itu, Witangsa, apa yg harus kita lakukan, apa langsung menuju banjar, atau mencari tumpangan untuk menginap,?" tanya Jati Andara.


" Agar tidak membuat kekacauan, sebaiknya kita memang harus mencari rumah penduduk yg dapat untuk kita menginap dan bila perlu agak jauh dari keramaian,". kata Dewi Dwarani.


" Memang sebaiknya demikian, jadi kita dapat bebas untuk menyelidiki Ki Jarong itu," sahut Sari Kemuning


" Apakah itu bukan sebuah gubuk , kakang,?" tanya Dewi Dwarani.


" Marilah kita ke sana, sebuah rumah ataupun gubuk dapat kita pastikan setelah berada disana,". ucap Japra Witangsa.


Tanpa di perintah lagi, keempatnya mendekati tempat itu, tepat di depan rumah atau lebih cocok di sebut gubuk , keempatnya menghentikan kudanya.


Mereka langsung turun dan mengetuk pintu itu.


" Tok ,tok, tok,"


Tidak terlalu lama, daun pintu itu terbuka, terlihatlah seorang perempuan paruh baya nongol, dan berkata,


" Ada perlu apa, ?"


" Ehh, begini Bi, kami ingin naik ke puncak Gunung Pandan ini, namun sebelumnya kami memerlukan tempat untuk beristrahat barang dua hari," jawab Jati Andara.


" Sekaligus kami akan menitipkan kuda -kuda kami disini," timpal Japra Witangsa.


" Rumah ku ini sangat kecil, dan disini tidak ada seorang laki -laki, jadi aku tidak sanggup untuk memenuhi permintaan kalian itu," jawab perempuan itu.


" Kalau kami menumpang disini beberapa hari , bagaimana , Bi,?" tanya Dewi Dwarani.


Perempuan itu memandangi ke empat orang yg ada dihadapan nya itu seakan memastikan , apakah mereka orang baik atau tidak.


" Mengapa kalian tidak menuju ke Banjar pedukuhan saja, itukan lebih aman," sahut perempuan itu.


" Tempat ini lebih dekat untuk naik ke atas , Bi," alasan Jati Andara.


" Jika kalian memang memaksa , silahkan, namun rumah ku ini sangat sempit, bahkan ini lebih cocok di sebut sebagai gubuk," terang perempuan itu.


" Terima kasih,Bi, dengan bersedia nya menampung kami disini sudah sangat menyenangkan hati kami," ucap Sari Kemuning.

__ADS_1


" Marilah , silahkan masuk, jika kalian memang ingin istrahat," sahut perempuan itu.


Keempat nya langsung masuk setelah sebelumnya menambatkan kuda-kudanya.


" Oh ya, Bi, kenalkan , ini, Witangsa, di sebelahnya adalah adiknya bernama Kemuning dan yg satu lagi adalah adikku yg bernama Dwarani," kata Jati Andara.


" Dan Angger ini,?" tanya perempuan itu .


" Namaku , Andara , Bi," jawab Jati Andara.


" Kalau bibi, dapat kalian panggil ,. bibi Warseh," kata perempuan itu.


Dan setelah keempat nya duduk di dalam rumah Nyi Warseh itu, mereka melihat di dalam rumah yg sangat sederhana itu, dengan dinding terbuat dari anyaman bambu beratapkan ilalang tetapi di dalam rumah itu terlihat bersih dan tertata rapi.


Memang persbotan di dalam rumah itu tidak terlalu banyak tetapi tetap saja terlihat asri.


" Oh iya, Bi, maaf sebelumnya jika kami ingin bertanya," kata Sari Kemuning.


" Ada apa den Kemuning, apa yg ingin di tanyakan,?" tanya Nyi Warseh itu.


" Apakah bibi sendiri saja tinggal di rumah ini,?" tanya Putri ki Jagabaya itu.


" Iya den, bibi memang sendirian tinggal disini, setelah anak bibi satu -satunya tinggal bersama Romo nya," jelas Nyi Warseh.


" Jadi bibi Warseh memilki seorang anak,?" tanya Dewi Dwarani.


Putri Bekel desa Kenanga itu penasaran dengan pernyataan dari Nyi Warseh itu.


" Iya, bibi memang memiliki seorang anak laki -laki, dan saat ini ia tinggal dengan Romo nya," kata Nyi Warseh lagi.


" Mengapa bibi ditingglakan oleh anak bibi itu,?" tanya Japra Witangsa.


Nyi Warseh menundukkan wajah nya, kemudian ia mengangkat kembali dan wajahnya nampak keruh, ada beban yg nampak menggantung diatas pundak nya , nampak nya cukup berat.


" Haahhh, mungkin ia merasa kalau tinggal dengan bibi, ia merasa terhina dan tidak memiliki apa pun, hanya akan menjadi hinaan orang , katanya," keluh Nyi Warseh.


" Apakah bibi bercerai dengan suami bibi itu?" tanya Japra Witangsa lagi.


" Sebenarnya bibi tidak bercerai tetapi di tinggalkan, karena suami bibi itu telah kepincut dengan perempuan lain," jawab Nyi Warseh .


" Dimana tinggal nya, suami bibi itu,?" tanya Jati Andara.


" Tidak terlalu jauh dari sini, mereka berada di lereng Gunung Pandan itu," sahut Nyi Warseh.


" Oh iya, Bi, apakah bibi mengenal orang yg namanya Jarong,?" tanya Jati Andara.


Nyi Wsrseh menggelengkan kepala nya, ia nampak nya tidak mengenal orang yg bernama Jarong itu.


" Jadi setelah Bibi di tinggal oleh putra bibi itu, ia sama sekali tidak pernah kembali kemari,?" tanya Sari Kemuning.


" Pernah juga den Kemuning, tetapi mungkin bisa di hitung dengan jari," jswab Nyi Warseh.


" Baiklah , bibi ke belakang dahulu, akan menyiapkan minuman, karena kelihatan kalian berempat cukup kelelahan sehabis melakukan perjalanan jauh, oh iya, kalian semua berasal dari mana,?" tanya Nyi Warseh.


" Kami dari Pajang , Bi," jawab Jati Andara.


" Hahhh, dari Pajang, cukup jauh,den," seru Nyi Warseh.


" Iya Bi, memang cukup jauh karena selain kami akan ke puncak Gunung Pandan ini, kami juga akan menemui Paman kami yg bernama Ki Jarong itu," jelas Jati Andara.


" Bibi tinggal dahulu, Ya, den," kata Nyi Wsrseh.


" Silahkan Bi," kata Jati Andara.


Perempuan paruh baya itu kemudian berjalan menuju belakang , terdengar ia tengah menyalakan api, karena terdengar ia berulang kali meniup dengan cukup keras suaranya.


Sedangkan keempat orang itu segera melihat -melihat tempat itu.


Bahkan Jati Andara dan Japra Witangsa keluar rumah untuk melihat sekeliling rumah Nyi Warseh itu.

__ADS_1


Tanaman Singkong, ketela dan beberapa tanaman palawija yg lain ada di sekitar rumahnya itu.


Tidak terlalu lama, kemudian Nyi Warseh masuk lagi sambil membawakan minuman wedang sere dan beberapa potong Singkong yg di rebus dengan legen Kelapa.


__ADS_2