
Memang keadaan di banjar desa itu semakin sepi ketika para pemuda dan para pengawal yg berangkat nganglang serta sebahagian lagi pulang ke rumah.
Ki Bekel dan Ki Jagabaya semakin penasaran atas apa yg telah di katakan oleh putra -putranya itu.
Mereka masih penasaran dengan apa yg telah mereka katakan, bahwa ada dua orang yg sedang berada di desa tersebut.
" Jadi apa yg akan kalian lakukan,..?" tanya Ki Bekel.
Jati Andara dan Japra Witangsa saling berpandangan, mereka memang belum berniat untuk mendatangi kedua orang tersebut.
" Kalau menurut adi Senggani, kita sebaiknya memang menunggu apa yg akan mereka berdua lakukan, karena sepertinya mereka memang hendak bertemu dengan nya,.." jawab Jati Andara.
" Apa tidak sebaiknya kita tanyakan langsung saja kepada mereka berdua, apa maksud dan tujuan nya datang kemari ,..Ngger,..?" tanya Ki Jagabaya.
" Biar saja Romo, nanti jika kita akan menanyakan hal ini kepada mereka , keduanya akan menghindari nya, atau bahkan keduanya akan pergi tanpa kita ketahui maksud dan tujuan nya,.." jelas Japra Witangsa.
Sedikit banyak putra Ki Jagabaya itu mengerti siapa sebenarnya kedua orang yg tengah memperhatikan keadaan dari desa kenanga itu.
Mereka adalah yg mendendam terhadap Raka Senggani.
" Tetapi ini tidak dapat di biarkan, jangan sampai mereka berbuat keonaran di sini, Ngger, jangan kejadian pada waktu yg lalu saat Singo Lorok datang kemari dan membuat persiapan di tengah hutan tersebut, tanpa kita dapat mencegahnya,.." ungkap Ki Bekel.
" Namun kali ini berbeda , Romo,. tidak mungkin mereka akan berani menyerang desa ini dengan cara seperti yg telah di lakukan oleh Singo Lorok itu, karena di sini sudah banyak yg memiliki kemampuan ilmu silat, dan para pengawal nya pun sudah dapat diandalkan,..jelas mereka tidak akan berani melakukan hal tersebut,..". jelas Jati Andara.
Putra Ki Bekel itu berkeyakinan bahwa tidak mungkin keduanya akan berani melakukan seperti yg telah di ucapkan oleh Romonya.
Tetapi bagi Ki Bekel, tindkaan mereka yg telah mengetahui keberadaan orang asing di tempat itu tanpa mau mmepertanyakan nya adalah suatu tindakan yg cukup ceroboh menurutnya.
Tetapi ia juga maklum , dengan kemampuan dari dua orang anak muda itu bahwa mereka lebih percaya diri terlebih saat ini pun Senopati Pajang tengah berada di antara mereka.
Sayang malam itu ia tidak dapat di mintai keterangan nya karena tidak hadir di banjar desa kenanga.
" Ki Jagabaya, kemana Angger Senggani,..?" tanya Ki Bekel.
" Aku tidak tahu Ki Bekel,.. sejak pembangunan rumahnya selesai,.ia belum pun sempat mampir ke rumah,." jawab Ki Jagabaya.
Kemudian Ki Bekel menanyakan hal itu kepada putra nya Jati Andara, dan anak muda itu pun hanya menggelengkan kepalanya,.
" Mungkin mereka sedang di rumah baru tersebut , dan sedang mengintai kedua orang tersebut, Romo,.." jawabnya.
Akan tetapi jawaban yg kurang memuaskan untuk pemimpin desa Kenanga tersebut, tidak mungkin kalau hanya mereka sedang menunggui rumah itu mereka tidak hadir di banjar desa itu.
Tidak menjadi kebiasaan sang Senopati Pajang jika berada di Kenanga tidak menyempatkan hqdir di banjar desa ketika hari beranjak malam.
Pasti ada yg mereka lakukan., pikir Ki Bekel.
Dan malam yg semakin larut membuat mereka kemudian kembali ke rumahnya masing-masing terkecuali dengan Jati Andara dan Japra Witangsa.
Kedua pemuda itu berniat untuk menganglang guna mmebantu para pengawal untuk menjaga keamanan desa Kenanga.
Keduanya kemudian bergerak meninggalkan banjar desa dan berniat menuju ke pategalan si mbok Rondo.
Karena mereka memang berniat untuk menemui Raka Senggani disana.
" Andara , apa tidak mungkin , adi Senggani berada di rumah Ki Lamiran,..?" tanya Japra Witangsa.
Jati Andara kemudian menjawabnya,..
" Nanti kalau kita tidak menemukannya di sana baru kita ke rumah Ki Lamiran,.."
Japra Witangsa kemudia menganggukkan kepalanya, keduanya mmepercepat langkahnya menuju rumah yg baru selesai di bangun itu.
" Andara , mungkin kita berdua ini saja yg aneh,.." ucap Japra Witangsa.
" Aneh kenapa , Witangsa,..?" tanya Jati Andara.
Kemudian putra Ki Jagabaya itu mengatakan bahwa mereka sedang melakukan penjagaan terhadap orang yg tidak memerlukan penjagaan seperti Raka Senggani, karena selain ilmu dari Sang Senopati sangat tinggi, ia pun memang kemungkinannya tidak berada di tempat itu.
Mendengar pernyataan teman nya itu membuat Putra Ki Bekel tersebut menjadi tertawa , karena apa yg di ucapakannya ada benar.
Hanya mereka berdua sajalah yg melakukan hal tersebut.
Dan ketika langkah kaki mereka berdua semakin dekat dengan rumah tersebut, tiba -tiba saja putra Ki Bekel tersebut mengangkat tangan nya , ia memberi isyarat kepada Japra Witangsa agar berhenti sejenak.
" Ada apa,...?". tanya Japra Witangsa
Yang di lakukan nya sambil berbisik, oleh Jati Andara di balas dengan memalangkan jari telunjuk nya di bibirnya.
" Ssssthhh,"
Rasa penasaran dari Japra Witangsa semakin menjadi , ia lebih mendekat lagi agar dapat melihat ke arah yg di tunjukkan oleh Jati Andara.
Keduanya menyaksikan dua orang tengah mengendap -endap mendekati rumah baru tersebut.
Kemudian kedua nya menemaptkan posisi agar dapat lebih jelas lagi melihat siapa sesungguhnya kedua orang tersebut.
Sementara kedua orang yg tengah mendekati rumah yg baru itu nampak semakin mendekati , salah seorang berbisik,..
" Kang , apakah ada orang nya,..?"
Lalu di jawab oleh orang yg berpakaian serba merah dengan gelengan kepala.
" Tampaknya rumah ini belum di tempati,..Ndawa,.." jawabnya.
__ADS_1
" Jadi apa yg harus kita lakukan,..?" tanya orang yg berikat kepala ber warna hitam itu.
" Kita kembali saja ke dalam hutan, jika ada yg pengawal yg sedang meronda melihat kita , tentu ia tidak sulit untuk mengalahkan orang itu,.." ucap orang yg berpakaian merah tersebut.
Sehabis ucapan nya , iapun bergerak meningalkan tempat itu dengan di ikuti oleh temanya.
" Kang , mengapa terburu -buru,.?" tanya temanya.
" Perasaan ku tidak enak , seperti nya ada orang yg tengah memperhatikan kita,." jawab temannya.
" Kang,.tidak ada orang disini,.." seru teman nya yg berikat kepala hitam itu.
Namun tiba -tiba,..
" Hehh, berhenti,.."
Ucapan yg keras dengan pengerahan tenaga dalam, membuat kedua orang itu jadi terhenti langkahnya.
" Apa ku bilang ,..Ndawa,..ternyata naluriku memang benar,.ada orang yg tengah menguntit kita..." ucap Orang yg berpakaian serba merah itu.
" Mereka ternyata dua orang Kang,.." sahut temannya.
Laki -laki yg berikat kepala hitam itu telah mencabut golok nya.
" Hehh, apa yg akan kau lakukan Ndawa,.?" tanya orang yg berpakaian serba merah itu.
" Akan Kuhabisi mereka berdua ini, Kang,..!" jawabnya.
Belum sempat orang tersebut mencegah temannya untuk tidak melakukan hal itu , orang yg bernama Ki Cakil Ndawa itu telah bergerak memdekati kedua pemuda desa Kenanga itu.
" Hehh, apa maksud kalian kemari,..?" tanya Jati Andara.
Setelah salah seorang malah datang mendekatinya.
" Bukan urusan mu, terima ini, heaah,"
" Wheit,"
Teriakan disertai dengan tebasan golok nya mengarah ke leher putra Ki Bekel tersebut.
Namun tebasan itu menemui tempat kosong, karena Jati Andara telah melompat menghindari nya.
" Hehh, apa maksud mu, ditanya malah menyerang,..?" tanya Jati Andara.
Pemuda itu segera mengeluarkan pedangnya, karena dari tebasan nya tadi sudah terasa bahwa orang itu memiliki kemampuan ilmu silat yg cukup lumayan.
Sehingga pada serangan berikutnya terjadilah benturan kedua senjata tersebut, karena memang Putra Ki Bekel itu ingin menjajal kemampuan tenaga dalam lawannya.
" Trangg,.."
Hehh, ternyata bocah ini memiliki tenaga dalam yg lumayan, berkata dalam hati Ki Cakil Ndawa, orang yg berikat kepala berwarna hitam itu.
Ia tidak menyangka bahwa lawannya yg masih muda itu memiliki kemampuan cukup tinggi.
Apakah orang inilah yg bernama Senopati Brastha Abipraya itu, bertanya dalam hati lelaki itu.
Tetapi tidak terlalu lama ia berpikir karena , Serangan dari Jati Andara yg tengah kesal semakin gencar mencecar orang tersebut.
Pada saat itu ,.orang yg berpakaian serba merah itu melihat bahwa adik seperguruannya itu tampak terdesak.
Ia melihat bahwa gerakan dari lawan yg sangat cepat dan bertenaga.
Hingga pada satu saat,..
" Heaahh,.."
" Sreeetttthhh,"
" Aaakkhh,"
Orang yg berikat kepala hitam itu menjerit akibat pundaknya terkena tusukan pedang Jati Andara, ia berusaha menjauhi lawannya.
Karena Jati Andara terus menyerang orang tersebut.
Melihat hal itu orang yg berpakaian serba merah segera mengambil keputusan.
" Hiyyahh,"
" Swinng,"
" Seiingg,"
Ia melepaskan dua buah senjata rahasia dan meluncur menyerang Jati Andara.
Putra Ki Jagabaya tersebut segera memukul jatuh kedua senjata tersebut. Namun hal yg demikian itu membuat lawannya dapat melepaskan diri dari serangan nya.
Sealnjutnya ia melarikan diri dan mengarah ke hutan yg ada di belakang rumah tersebut.
Melihat hal itu , Japra Witangsa segera berteriak,.
" Hei,..tunggu ,..jangan lari,.."
Putra Ki Jagabaya segera melesat mengejarnya, namun gerakan nya itu tertahan akibat serangan senjata rahasia yg di lepaskan oleh orang yg berpakaian serba merah tersebut.
__ADS_1
Terpaksalah putra Ki Jagabaya tersebut menghentikan kejarannya dan melepaskan kedua orang tersebut.
" Bagaimana , Witangsa,..?" tanya Jati Andara.
" Mereka berhasil melarikan diri,.." jawab Japra Witangsa.
" Sudah lah, kita lihat adi Senggani, tampaknya mereka ingin mematai-matai nya,.." ucap Jati Andara.
Keduanya langsung mendekati rumah tersebut dan kemudian memanggil nama Raka Senggani , akan tetapi tidak ada jawaban.
" Tampaknya adi Senggani tidak berada disini,.." ucap Jati Andara.
" Mungkin mereka berada di rumah Ki Lamiran,.." sahut Japra Witangsa.
Tanpa menunggu lama, keduanya langsung bergerak meninggalkan tempat itu dan menuju ke rumah Ki Lamiran.
Tetapi begitu sampai disana , mereka tidak juga menemui keduanya.
Akhirnya mereka kembalj ke banjar desa tidak berhasil menemui Senopati Brastha Abipraya.
Kedua orang yg melarikan diri tersebut kemudia terhenti setelah mereka merasa tidak ada lagi yg mengejarnya.
" Sudah kuakatakan, kita tidak boleh gegabah,..Ndawa,.bagaimana keadaan mu,..?" tanya nya kepada temannya.
" Tampaknya luka ku cukup dalam, darahnya masih saja keluar ,.." jawab Ki Cakil Ndawa.
Kemudian Ki Kebo Watang melihat keadaan luka yg di detita temannya itu. Setelah dilihatnya , kemudian Orang tersebut membalurkan sebuah obat dan memabalutnya dengan kain.
" Tindakan mu itu , cukup gegabah , Ndawa , kita akan semakin sulit untuk memberi pelajaran kepada Senopati Brastha Abipraya itu,.." ucapnya.
Keduanya kemudian kembalj ke tempat dimana mereka bersembunyi sampai hari pagi tiba.
Di kota Pajang, setelah mentari memancarkan cahaya nya, sepasang muda mudi keluar dari sebuah penginapan.
Keduanya tampak bergegas meninggalkan kota tersebut dan mereka tidak menyadari bahwa ada seseorang yg mengikutinya. Dari Langkahnya tampak orang itu memiliki kemampuan yg cukup tinggi.
Sesaat setelah meninggalkan gerbang kota Pajang , orang itu tampak berusaha menyusul keduanya.
Setelah berada di sebuah tikungan, orang tersebut nampak tengah mengahdang keduanya.
Entah bagaimana tiba -tiba saja ia mampu melewati kedua orang itu.
Dengan membelakangi , orang itu berkata pelan,..
" Aku ingin bertanya kepada kisanak berdua,.." ucapnya.
Baik Raden Kuda Wira maupun Dewi Rasani Mayang, sangat kaget setelah melihat ada orang yg telah menghadang mereka.
" Siapa kisanak ini,..?" tanya Raden Kuda Wira.
" Siapa aku itu tidak penting,..jawab saja pertanyaan ku,.." seru orang tersebut.
" Hehh, kisanak, jangan terlalu memaksakan keinginan, kami tidak ada urusan dengan mu , lekas minggir dari jalan kami,.." seru Dewi Rasani Mayang.
Gadis cantik itu tampak tidak senang setelah melihat ada orang yg telah menghadang mereka.
Ia memang sangat tidak suka jika ada orang yg mengganggu perjalanannya.
" Jangan begitu, cah ayu,..aku hanya ingin bertsnya, cukup kalian jawab , itu saja,.." kata orang itu.
" Cepatlah , apa yg ingin kisanak tanyakan, kami tidak mempunyai waktu banyak, ". jawab Raden Kuda Wira.
Kemudian orang yg menghadang itu membalikkan tubuh nya,.terlihat seraut wajah yg di bawah topi caping , yg sudah cukup tua mungkin sudah sebaya dengan guru mereka Mpu Loh Brangsang.
Wajahnya yg sudah keriput dan jenggotnya sudah memutih semua,. tetapi dari tatapan masih sangat kuat.
Ia menatap kedua orang yg ada dihadapan nya itu.
" Siapa kalian berdua ini dan apa hubungan nya dengan Senopati Brastha Abipraya,..?" tanya nya.
Mendengar ucapan dari orang tua itu, Raden Kuda Wira dan Dewi Rasani Mayang saling berpandangan.
Mereka tidak menyangka bahwa orang itu sudah cukup tua.
" Kami adalah murid dari Mpu Loh Brangsang dari Merapi dan tidak tahu dengan Senopati yg aki tanyakan tadi,.." jawab Raden Kuda Wira.
Orang tua itu kemudian mengelus jenggotnya seraya berkata,.
" Kalian berdua telah berbohong ,.. Aku telah mendengar kalian tadi malam mengatakan bahwa menceritakan tentang Senopati Brastha Abipraya, " ucapnya lagi.
Mengetahui bahwa ia telah ketahuan berbohong ,maka Raden Kuda Wira menyahutinya,..
" Itu urusan kami, kalau kami memang tidak mengenal dengan yg aki maksudkan, terserah mau terima atau tidak ,.." seru Raden Kuda Wira.
Tampak raut wajah lelaki tua itu berubah mendengar ucapan dari pemuda itu,..
" Apakah demikian pengajaran dari Si Brangsang ,.sungguh tidak mempunyai unggah ungguh, " ungkap nya.
Mendengar hal itu Dewi Rasani Mayang yg sudah sangat jengkel segera membalas,..
" Guru kami memang mengatakan demikian jika bertemu dengan orang yg tidak di kenal dan menunjukkan sikap sombong nya terhadap kami,.." jawab Dewi Rasani Mayang.
" He, he, he,..memang buah tidak jatuh jauh dari pohonnya , jika Loh Brangsang begitu, demikian pula muridnya,.."
__ADS_1
Kata orang tua itu sambil tertawa, ia terlihat memainkan sebuah batang kayu kecil yg ada di tangan nya itu.
Sangat lincah dan cepat batang kayu itu berputaran.