Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 20 Secercah Harapan. bag ke sepuluh.


__ADS_3

Meskipun cuma sekedar air putih yg di suguhkan oleh Ki Tambi, namun itupun sudah lebih dari cukup untuk Raka Senggani, karena sebenarnya dirinya masih membawa bekal yg di berikan oleh Ki Lintang Gubuk Penceng ketika berada di trowulan.


Ia pun segera meminum dengan nikmatnya air tersebut, karena sebenarnya ia memang sudah cukup kehausan.


Dan semua yg di lakukan oleh pemuda itu tidak lepas dari pengamatan Ki Tambi.


Sebenarnya Raka Senggani bertanya -tanya dalam hatinya, mengapa Ki Tambi tidak memberi dirinya makanan walaupun itu ala kadarnya.


Tetapi Pertanyaan itu ia simpan saja di dalam hati, takut akan menyinggung perasaan dari tuan rumah jika ditanyakannya hal tersebut.


Kemudian ia meminta izin kepada Ki Tambi untuk membuka bekal yg ia bawa dari gubuk Ki Lintang Gubuk Penceng.


Dan oleh Ki Tambi di persilahkan , membuat Raka Senggani segera menyantap nya dengan lahap. Ia juga memberikan satu buah bungkusan makanan kepada Ki Tambi agar ia turut juga memakan nya.


Tanpa ragu orang tersebut mengambilnya dan memakan makanan pemberian dari Sang Senopati.


Aneh,..bukannya tuan rumah yg menyajikan hidangan ,..malah tamu yg memberikan nya, demikianlah kata hati dari Senopati sandi Demak ini.


Namun ia tidak memperdulikan nya, terus saja ia makan dengan lahapnya.


Dan ketika kedua orang itu selesai makan .


Berkatalah Ki Tambi,..


" Maaf sebelumnya Senopati, jika diriku tidak dapat memberi makanan ala kadarnya , karena memang diriku tidak dapat memasak , dan tanganku ini akan membuat masakan akan lebih cepat basinya jika telah ku pegang dengan tanganku ini, bahkan akan membuat makanan tersebut beracun,.." jelas Ki Tambi.


" Hehhh,.."


Raka Senggani amat terkejut mendengar penjelasan dari orang yg ada di dekatnya tersebut.


Ternyata pertanyaan yg ada di hatinya di jawab sudah oleh Ki Tambi.


Bahkan ia menambahkan jika dirinya selalu memesan makanan kepada pemilik warung jika ia di tinggal pergi oleh anak dan istrinya.


Kali ini, ia tidak mengira kedatangan dari Senopati sandi Demak tersebut ke rumahnya sehingga persediaan makanan saat ini tidak ada di dalam rumah nya, demikian lah tutur Ki Tambi.


Akibat ia menuntut ilmu mengenai masalah racunnya , tanpa terasa tangan nya pun dapat beracun.


Raka Senggani maklum akan penjelasan dari Ki Tambi tadi,.ia tidak mempersoalkannya .


Karena selanjutnya Senopati Lintang Bima sakti ini segera menunaikan ibadahnya, walau waktu sudah agak kemalaman.


Selesai melaksanakan perintah dari yg maha kuasa, kemudian Raka Senggani duduk bersila dan memusatkan konsentrasi nya pada yg Maha pencipta.


Ia masih merasa penasaran dengan keadaan di sekitar rumah Ki Tambi ini.


Malam menanjak naik, di luar cahaya rembulan perlahan keluar menerangi jagad mayapada.


Tampak dari lobang lobang kecil yg ada di dinding rumah tersebut, cahaya nya masuk perlahan. Dan makin lama makin terang meski sangat lembut.


Di saat Ki Tambi keluar dari rumahnya, di saat itu pulalah Raka Senggani mengikutinya dari belakang dengan mengetrapkan aji panglimunan nya.


Sehingga orang tersebut tidak menyadari bahwa ia telah di ikuti oleh seseorang.


Nampak Ki Tambi berjalan cepat menuju ke dalam lingkungan keraton kadipaten itu, ia berhasil meminta izin kepada para prajurit jaga yg ada disana.


Selanjutnya Ia menuju ke kediaman dari seseorang .


Rumah yg di tuju oleh Ki Tambi adalah sebuah rumah yg cukup besar . Dan rumah itu adalah milik dari Tumenggung Waturangga.


Kembali dengan mudahnya ia berhasil masuk dengan meminta izin dari para prajurit jaga. Karena memang Ki Tambi sudah sangat di kenal di kediaman Tumenggung Waturangga.


Sesekali Ki Tambi menoleh ke belakang memastikan tidak ada orang yg mengikutinya.


Baru setelahnya ia masuk menuju pendopo rumah Tumenggung Waturangga.


Setelahnya ia meminta kepada prajurit jaga untuk membangunkan tuan rumahanya.


" Baik,.Ki,..!". jawab Prajurit jaga.


Ia kemudian masuk ke dalam. Dan tidak berapa lama keluarlah sang Tumenggung.


" Ada apa ,Ki Tambi ,?". tanya Tumenggung Waturangga.


Ki Tambi maju mendekati Sang Tumenggung dan nampaklah ia membisiki nya.


" Hehhhh,.."


Terdengarlah suara Tumenggung Waturangga, ia kaget mendengarnya .


" Benarkah hal itu, sebaiknya kita bicarakan di dalam " ucapnya.


Kemudian keduanya langsung masuk ke dalam.

__ADS_1


Sang Senopati sandi Demak yg melihat kejadian nya amat terkejut, ia menaruh curiga atas sikap dari salah seorang dari prajurit sandi yg. Walau ia tahu bahwa memang Ki Tambi telah di susupkan ke dalam kota kadipaten Surabaya.


Aneh sikap Ki Tambi ini, aku harus tetap mengawasinya dan mencari tahu apa yg akan mereka bicarakan, berkata dalam hati Raka Senggani.


Tetapi ia tetap mengtrapkan aji panglimunan miliknya dan tidak mengikuti nya dari depan , malah ia melompat naik ke atas atap wuwungan rumah tersebut.


Ia berusaha untuk mengetahui keberadaan dari dua orang yg mencurigakan gerak geriknya.


Sementara di dalam rumah dari kediaman Tumenggung Waturangga, nampak Ki Tambi tengah duduk di hadapan dari Tumenggung Waturangga.


" Benar Kanjeng Tumenggung, Senopati Sendiri telah datan ke Surabaya ini,.." ucap Ki Tambi.


" Bagus kalau begitu, sesuai dengan rencana semula, bahwa kita akan menjebak nya di dalam pertarungan nanti, sehingga tidak akan ada lagi yg berani datang kemari,." ucap Tumenggung Waturangga.


Hehh, ternyata Ki Tambi bersekongkol dengan Tumenggung Waturangga ini, dan diriku lah yg akan mereka korbankan kata Raka Senggani dalam hati.


Di hati pemuda itu terlihat wajah kekesalan yg teramat sangat, sampai ia mengepalkan tangannya.


Ini tidak bisa di biarkan katanya lagi sambil tetap memperhatikan kedua orang yg berada di bawahnya.


Walau ia tidak berani membuka atap genteng nya namun dari sebuah celah kecil ia dapat melihat dengan jelas ke bawah karena memang di bawah di terangi dengan lampu minyak jarak.


Raka Senggani tidak berani membuka atap genting rumah karena cahaya rembulan akan di masuk ke dalam dan artinya kedua orang yg ada di bawah akan curiga.


Kembali Raka Senggani memusatkan perhatiannya ke dalam rumah melihat kedua orang tersebut.


Sementara di bawah, Ki Tambi tengah mengatakan bahwa kedatangan dari Senopati sandi Demak ini tidak terlalu membahayakan.


" Mengapa dirimu mengatakan demikian,.Ki,..?" tanya Tumenggung Waturangga.


" Karena saat ia datang hanya seorang diri saja, sementara para lurah prajurit sandi yg lain pun tidak sedang berada disini,.." jelas Ki Tambi.


" Aku senang mendengar laporanmu ini Ki Tambi,..upayakan agar tidak ada lagi punggawa Demak yg di terjunkan kemari , supaya usaha kita berjalan lancar,.." terang Tumenggung Waturangga.


" Sendika dawuh , Kanjeng Tumenggung,.." sahut Ki Tambi.


Suasana hening sesaat ketika sang Tumenggung menatap langit langit rumahnya, ada semacam firasat bahwa seseorang tengah mendengarkan pembicaraan itu. Namun diatas dilihatnya hanya ada dua ekor cecak yg sedang berkejaran sambil mengeluarkan suara.


" Apakah saat kemari dirimu tidak ada yg membuntuti,..?" tanya Tumenggung Waturangga.


" Tidak ada kanjeng Tumenggung, saat diriku kemari kulihat Senopati sandi Demak itu tengah bersemedi di ruangan dalam rumahku,.." jawab Ki Tambi.


" Baiklah kalau begitu, berarti tidak akan ada orang yg mendengar pembicaraan kita ini," sahut Tumenggung Waturangga.


Ia kini lebih dekat lagi dengan Ki Tambi. Sedang Ki Tambi ini saja duduk pada tempatnya semula.


Kepala Ki Tambi mengangguk.


" Yah, rencana semula , yg sesuai dengan permintaan dari Kanjeng Tumenggung itulah yg telah Kuakatakan kepada senopati Demak , " jawab Ki Tambi lagi.


" Memang kekuatanku akan sangat bertambah jika purnama telah tenggelam, sehingga kemanpuan sorot mataku akan semakin kuat,.." ucap Tumenggung Waturangga.


Ia diam beberapa saat dan kemudian melanjutkan lagi ucapnnya,


" Dimana tempat yg telah kau rencanakan , Ki Tambi,..,?" tanya Tumenggung Waturangga.


" Hamba belum menentukan nya Kanjeng Tumenggung, biarlah Kanjeng Tumenggung sendiri yg akan menentukan nya,.." jawab Ki Tambi.


Kemudian Tumenggung Waturangga menyebutkan satu tempat yg berada tidak terlalu jauh dari kota kadipaten Surabaya ini.


Di sebuah hutan kecil di dekat perbatasan dengan Mojokerto., sebut nya.


" Ingat Ki Tambi , rencana ini tidak boleh gagal, nyawa keluargamu menjadi tanggungannya,.." seru Tumenggung Waturangga.


Ia mengatakan dengan tegas di barengi dengan nada ancaman.


Ki Tambi yg mendengarnya hanya mengangguk dan tidak mampu mengangkat wajahnya. Ada rasa bersalah di hatinya. Akan tetapi tidak dapat di elakkan lagi, nasi sudah menjadi bubur, pikirnya dalam hati.


" Apakah kau mengerti Ki Tambi,..?" tanya Tumenggung Waturangga lagi.


" Hamba mengerti Kanjeng Tumenggung,.." jawab Ki Tambi


Jawaban yg terasa pasrah dan tidak dapat melawan kehenda dari orang yg duduk di hadapannya itu.


Sedangkan Raka Senggani yg mendengarkan dari atap wuwungan menjadi bertanya -tanya. Apakah karena keluarga Ki Tambi lah, sehingga ia nekat berkhianat terhadap Demak.


Menjadi satu pertanyaan yg sulit untuk menemukan jawaban nya dengan pasti.


Biarlah nanti , aku akan mencari tahu hal ini melalui Ki Tambi sendiri katanya dalam hati.


Tumenggung Waturangga terdengar menanyakan sesuatu kepada Ki Tambi.


" Kali ini dirimu tidak salah bukan , bahwa orang inilah yg merupakan suruhan dari Sultan Demak untuk menghabisi diriku,..?"

__ADS_1


" Hamba tidak salah Kanjeng Tumenggung, karena memang dia lah yg menjadi Senopati Demak bagian prajurit sandi ,.." jelas Ki Tambi.


" Darimana kamu tahu,..Ki ,..?" tanya Tumenggung Waturangga.


" Dari lencana yg telah ia tunjukkan kepadaku,.. Kanjeng Tumenggung,.." sahut Ki Tambi.


" Jika memang demikian , orang ini pulalah yg telah mengalahkan Guruku , Kyai Gedangan beberapa waktu lalu,..?" tanya Tumenggung Waturangga lanjut.


" Demikian lah kiranya, Kanjeng Tumenggung , Senopati Demak inilah yg telah berhasil mengalahkan salah seorang tokoh sakti yg berasal dari kulon,..darimana Kanjeng Tumenggung tahu,..?" tanya Ki Tambi.


" Dirimu tidak perlu tahu akan hal itu, cukup aku saja yg tahu," jawab Tumenggung Waturangga.


Ia juga mengatakan bahwa dirinya cukup penasaran dengan sosok Senopati Demak itu. Mengapa dirinya sanggup mengalahkan gurunya yg memiliki banyak ilmu. Apakah cerita ini bukan ngayawara saja katanya.


Ki Tambi tidak dapat menjawab pertanyaan ini karena dirinya pun tidak melihat hal tersebut dengan mata kepalanya sendiri, hanya berita yg ia terima dari prajurit sandi Demak.


Setelah tidak ada lagi yg penting untuk di bicarakan , akhirnya Ki Tambi mohon pamit kepada Tumenggung Waturangga.


Oleh Tumenggung Waturangga di persilahkan dan sebelumnya telah ia wanti -wanti agar rencana kali ini jangan sampai gagal.


Bahkan ia menyebutkan ,jika kelak dirinya kalah dalam perang tanding tersebut, diharapakan nya Ki Tambi dapat membunuh nya dengan menggunakan racun nya, senjata andalan milik prajurit sandi Demak ini.


Ki Tambi mengiyakan dan segera meninggalkan tempat tersebut.


Malam yg semakin larut dengan cahaya rembulan bersinar terang di atas cakrawala, sungguh sangat indah di pandang mata.


Namun hati Ki Tambi yg menatap rembulan diatas sana, tidak seindah dengan cahaya rembulan itu.


Dalam hati orang tua , prajurit sandi Demak ini sungguh pepat,.baru kali ini ia merasakan gelapnya perasaan nya.


Dengan langkahnya yg lunglai ia meninggalkan kediaman dari Tumenggung Waturangga.


Perlahan ia berjalan menuju rumah nya. Sementara itu Raka Senggani yg melihat orang itu telah berjalan pulang dengan cepat ia mengikutinya.


Aku tidak boleh terlambat , jangan sampai Ki Tambi lebih dahulu tiba di rumahnya ketimbang diriku,kata Raka Senggani dalam hati.


Ia pun melompat turun dan segera mengikuti langkah dari Ki Tambi.


Dan pada saat dalam perjalanan pulang tersebut, ketika jarak rumah Ki Tambi tidak terlalu jauh lagi, tiba -tiba,..


" Whusshhhh,.."


" Ehhh.."


Ada sebuah angin yg sangat kencang menerpa Ki Tambi yg masih di penuhi dengan pikiran nya yg suntuk.


Ia pun berseru kaget, di pandanginya sekelilingnya , tidak ada pepohonan dan daun daun yg bergoyang.


Apakah tadi ada setan yg lewat , katanya dalam hati.


Tetapi ia menepis hal tersebut, karena bulu kuduknya tidak meremang.


Ahh ,.mungkin angin yg sedang berhembus tiba -tiba , pikirnya lagi.


Kembali ia melangkahkan kaki nya meningglkan tempat itu.


Dan tidak terlalu lama sampailah ia di rumahnya.


Sejenak sebelum masuk ke dalam , Ki Tambi memusatkan pikirannya, ia mencoba untuk melihat ke dalam rumahnya.


Ternyata Senopati Lintang Bima Sakti masih berada dalam posisi nya semula, katanya dalam hati.


Perlahan kemudian Ki Tambi mendorong daun pintu rumahnya dan masuk ke dalam.


" Siapa,..?"


Terdengar pertanyaan dari dalam, Raka Senggani lah yg melakukannya .


" Aku Senopati,..Ki Tambi,.." jawab Ki Tambi.


" Ooo," ucap Raka Senggani.


Kemudian Senopati Demak ini bertanya kepada Ki Tambi , darimana saja , , karena sampai larut malam baru kembali.


Di jawab oleh orang tua itu, bahwa dirinya lagi melihat saluran air yg ada di sawahnya. Ia mengatakan jika tidak melihat saluran air nya, maka sawahnya tidak akan menerima jatah air yg cukup. Dan itupun perlu untuk di tunggui , jelasnya berbohong.


Karena Sang Senopati tahu bahwa ia telah bertemu dengan Tumenggung Waturangga di rumah sang Tumenggung sendiri.


Tetapi Raka Senggani tidak mempersoalkan nya ia malah tertarik dengan cerita sawah milik Ki Tambi itu, dan besok bekeinginan untuk ikut kesana.


Ki Tambi lah yg jadi kebingungan bagaimana menjelaskan nya, mau ke sawah siapa Raka Senggani di bawa nya besok.


" Baiklah Senopati , besok kita akan ke sawah aki , disana banyak welutnya, nanti kita buat panggang welut,"

__ADS_1


Jawab Ki Tambi asal saja , agar Senopati Demak itu tidak menjadi curiga karena nya.


Namun Senopati muda andalan Pajang dan Demak ini hanya tersenyum saja mendengar nya, walau sebenarnya di dalam hatinya ia tidak yakin akan ke sawah bersama Ki tambi pada esok hari.


__ADS_2