
Setelah berada diluar istana Kepatihan, Tumennggung Warabaya langsung mempertanyakan tindakan Senopati Brastha Abipraya itu.
" Apa tidak sebaiknya niat Senopati Brastha Abipraya itu diurungkan saja, mengingat tugas di Madiun ini adalah tanggung jawab dari Senopati dan Aku sendiri, jika terjadi sesuatu di sini, apa yg akan kita katakan kepada Kanjeng Adipati,?'' tanya Tumenggung Warabaya.
Raka Senggani tidak langsung menjawab pertanyaan itu, lama anak muda itu memandangi Wajah dari Tumenggung Warabaya, sampai ia menghela nafasnya,
" Hahh, sebenarnya aku diutus dari Pajang untuk datang ke Madiun ini adalah untuk menangkap ataupun membasmi keonaran dari yg ditimbulkan oleh Si Topeng Iblis itu, bukan yg lain, dan kali ini sesuai dengan naluri sebagai seorang prajurit, Aku merasa bahwa Si Topeng Iblis itu akan hadir dan membuat kekacauan di daerah kediri, jadi menurut Paman Tumenggung apa sebaiknya yg harus kulakukan , apakah aku akan berdiam diri saja dan berpangku tangan sambil menunggu Si Topeng Iblis itu datang kemari, ataukah aku harus yg mencarinya, sebagai sesama prajurit Aku bertanya kepada Paman Tumenggung,?" tanyanya kepada Tumenggung Warabaya.
Kembali Tumenggung Warabaya tidak mampu berkata apa -apa, ia hanya bergumam saja,
" Memang sulit situasi yg Senopati dihadapi ini,!"
" Itulah Paman Tumenggung, jadi aku meminta kerjasama Paman Tumenggung agar mampu menyampaikan pesan jika memang Si Topeng Iblis itu membuat kekacauan disini, karena nama baik kita berdua dipertaruhkan kali ini, dan jika naluriku itupun meleset , Aku sebelumnya akan meminta maaf kepadamu Paman Tumenggung," ucap Raka Senggani.
" Baiklah Senopati Brastha Abipraya, aku akan segera mengirimkan beberapa prajurit Madiun yg akan siap untuk menyampaikan pesan kepadamu yg ada di Kediri malam ini," ujar Tumenggung Warabaya.
" Terima kasih atas kerjasamanya Paman Tumenggung, Aku pamit dulu, secepatnya aku akan ke Kediri, mudah mudahan sebelum tengah malam aku telah sampai di Kediri,!" kata Raka Senggani.
" Silahkan Senopati Brastha Abipraya, nanti di dekat kali Brantas akan ada seorang prajurit yg menantimu untuk menerima pesan yg akan kami sampaikan dari sini,!" jawab Tumennggung Warabaya.
Raka Senggani langsung melompat keatas punggung kudanya, ia terus memacu kudanya itu dengan cepat meninggalkan istana Kepatihan, dengan tatapan dari Tumenggung Warabaya itu.
Dengan cepat ia menuju daerah Mejayan dan terus memacu kudanya menuju Banyu urip ketika mentari telah bergerak ke arah barat, Raka Senggani tiba di daerah anjuk ladang, ia terus memacu kudanya dengan sangat cepat menuju pedukuhan Banjakan yg berada di dekat tepian kali Brantas itu.
Di daerah pedukuhan Banjakan , Raka Senggani beristrahat dan melakukan ibadah maghrib di tempat itu, sekaligus ia menyembunyikan kudanya di sana.
Ia kemudian mendekati kali Brantas dan akan segera menyebrangi jembatan itu, akan tetapi ia melihat sesosok tubuh yg tengah melintasi jembatan itu dengan entengnya hingga menyebrang ke tepian sebelah kota Kediri.
" Hemmh, siapa orang itu, apakah ia adalah Mpu Phedet Pundirangan, karena kalau diperhatikan ilmu peringan tubuhnya sangat -sangat tinggi, aku harus segera mengikutinya,!" berkata dalam hati Raka Senggani.
Pemuda itu pun segera melesat mengejar bayangan yg berada di depannya itu, sementara bayangan itu semakin cepat bergeraknya setelah melewati Kali Brantas, Raka Senggani yg mengikuti gerak orang yg di depannya itu terpaksa mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk dapat menyusulnya, akan tetapi ia masih jauh tertinggal.
" Tidak salah lagi, pastilah ia itu Mpu Phedet Pundirangan, karena kemampuannya sangat sulit untuk di imbangi, apakah aku akan mampu melawannya jika memang ia akan membuat kerusuhan di Kediri,!" kembali Raka Senggani berkata-kata di dalam hatinya .
" Untuk melawan Mpu Yasa Pasirangan saja cukup berat, apalagi ini yg merupakan kakak seperguruannya, apakah aku dapat untuk menaklukannya, tetapi menurut Guru, setinggi -tingginya ilmu seseorang itu pasti ada titik lemahnya," kata Raka Senggani.
Ia terus mengemposi tenaga dalamnya untuk mengejar orang yg berlari di depannya itu, ia tidak ingin kehilangan jejaknya.
Sebentar saja , mereka telah mencspai kota Kadipaten Kediri.
Terlihat orang yg di kejar oleh Raka Senggani itu berhenti, dan memperhatikan sekelilinginya.
" Hehh, apakah ia menyadari aku telah mengikutinya,!" pikir Raka Senggani lagi.
Anak muda desa Kenanga itu sengaja bersembunyi di sebuah gerumbul semak belukar di luar gerbang kota Kediri itu.
Ternyata orang yg diikutinya itu terlihat melemparkan sesuatu kearah pintu gerbang itu, tidak terlalu lama sesudahnya terlihat ia melesat masuk ke dalam kota Kadipaten Kediri dengan melewati tembok yg cukup tinggi itu.
Laksana terbang, orang yg berpakaian hitam -hitam itu melewati tembok kota dengan mudahnya.
Raka Senggani yg tidak ingin kehilangan buruannya segera menyusul.
" Bismillah, Hufhh,"
Ia pun melesat naik keatas tembok itu. Begitu ia sampai diatas langsung merapatkan tubuhnya di atas tembok itu, ia bersikap demikian untuk menghindari serangan dari orang yg diikutinya itu.
Raka Senggani mengedarkan pandanganya melihat keadaan di balik dinding itu.
Cukup lama ia memperhatikan, termasuk melihat para prajurit Kadipaten Kediri yg sedang melaksanakan tugasnya menjaga keamanan di Kota Kediri itu.
Raka Senggani merasa kehilangan jejak dari orang yg diikutinya itu. Cukup lama ia mengedarkan pandanganya sambil mengetrapkan aji ashka pandulu, yg di tujunya pertama kali adalah melihat pusat kota bekas kerajaan kediri itu, nampaklah banyangan hitam yg tengah melesat diantara wuwungan atap -atap rumah penduduk kota Kediri tersebut.
" Tidak salah lagi pastilah ia menuju ke Istana Kadipaten Kediri ini, dan tentunya akan menyusup ke bangsal pusaka," kata Raka Senggani dalam hati.
" Memang aku telah tertinggal sangat jauh, lebih baik aku melewati dari jalan ini saja menuju istana," kata Raka Senggani lagi .
Senopati Pajang itu turun dan Kemudian berjalan dengan cepat mempergunakan ilmu peringan tubuhnya menuju pusat kota Kediri itu.
__ADS_1
Ia tidak mengikuti orang yg ekorinya itu dari atas atap rumah penduduk, Raka Senggani khawatir akan ketahuan karena telah mengekori orang tersebut.
'
Ia pun dengan cepat menuju istana Kediri. Walaupun begitu, ia tetap waspada ketika para prajurit semakin banyak yg nganglang berjaga-jaga di sekitar pusat kota itu. Apalagi setelah berada di dekat tembok istana, prajurit kediri terlihat semakin banyak.
" Nampaknya penjagaan di kota Kediri semakin sulit untuk dilalui, benar juga sikap yg di ambil orang itu, karena kalau dari bawah sulit melewati para prajurit ini," kata Raka Senggani dalam hati.
Ia terpaksa bersembunyi di sebuah batang pohon yg berada di dekat tembok istana kediri itu. Cukup lama ia baru bisa keluar dari persembunyiannya, setelah para prajurit Kediri itu lewat cukup jauh dari tempatnya.
Dengan sekali lompatan ia berhasil masuk ke dalam lingkungan istana kediri.
Kembali ia harus bersembunyi karena ada prajurit jaga yg tengah lewat di dekatnya.
" Dimanakah letaknya bangsal pusaka itu, " pikirnya lagi.
Ia pun terus bergerak dengan cepat menuju istana, karena menurutnya bangsal pusaka tentu tidak jauh dari Istana.
Malam pun semakin larut, meski masih banyak prajurit yg berjaga-jaga di sekitar istana. Raka Senggani berhasil mendekati Istana Kediri.
Ia mengendap-endap menuju sebuah bangunan yg berada agak di belakang istana.
Ia Kemudian memanjat sebatang pohon yg cukup besar untuk melihat keadaan diseputar istana tersebut.
Agak cukup lama, ketika hampir malam berada di puncaknya, terasa olehnya hawa dingin yg menyusup tulang membuat rasa kantuk yg teramat sangat.
" Hehh, ia mulai melakukan sirep, apa yg kulakukan untuk mengatasinya," pikir Raka Senggani lagi.
Karena dari atas pohon yg cukup tinggi itu, ia melihat beberaoa prajurit langsung bertumbangan jatuh tertidur.
" Memang hebat Ilmu orang ini, dalam sekejap saja sudah mampu membuat para prajurit jatuh tertidur, hehh, bagaimana aku akan membangunkan mereka, kalau kutiup serulingku, tentu ia akan mengetahui tempatku, sementara dia sampai saat ini aku belum mengetahui tempatnya,!" pikir Raka Senggani lagi.
Namun tidak terlalu lama sesosok bayangan turun dari sebuah atap rumah langsung menuju sebuah bangunan yg cukup besar itu, dengan mudahnya ia melewati para prajurit yg tengah tertidur pulas itu.
" Hehh, aku tidak mungkin akan menangkapnya sekarang, jika ia berhasil meloloskan diri, ini akan menajdi jebakan buatku, akulah yg akan di sangka para prajurit Kediri yg akan mencuri di bangsal pusaka itu,!" ucap Raka Senggani di dalam hatinya.
Raka Senggani melontarkan sebuah batu kecil kepada salah Seorang prajurit Kediri yg sedang tertidur itu.
Sontak saja prajurit itu terjaga dan terdengar tertawa.
" Ha, ha, ha, ha, hahaha,"
Demikianlah di malam itu, seorat prajurit Kediri tertawa tawa di malam itu hingga membuat kehebohan di dalam istana Kediri itu, banyak para perwira dan punggawa dari Kediri yg keluar untuk melihat apa yg telah terjadi.
Alangkah terkejutnya mereka setelah mendapati para prajurit jaga bangsal pusaka itu telah tertidur semua.
Kentongan pun dipukul secara titir, pertanda ada orang yg telah menyusp ke dalam istana.
" Ada penyusup, ada penyusup, bangsal pusaka telah di masuki orang," terdengar suara para prajurit yg memukul kentongan itu.
Para prajurit yg tertidur pulas itu pun dibangunkan oleh prajurit yg lain.
" Mereka terkena sirep, segera jaga keraton dan bangsal pusaka jangan beri lolos penyusup itu,!" kata salah seorang Senopati Kediri.
" Baik, Senopati , " jawab salah seorang Tumenggung yg bernama Tanu Bawa.
Tumenggung Tanu Bawa segera membawa semua prajurit untuk segera mengepung bangsal pusaka yg pintunya telah terbuka itu.
" Hehh, siapapun yg di dalam keluarlah, segeralah Menyerah," terdengar teriakan dari Tumenggung Tanu Bawa.
Tidak ada jawaban yg keluar dari dalam bangsal Pusaka itu yg pintunya telah terbuka.
Kembali terdengar teriakan dari Tumenggung Tanu Bawa,
" Keluarlah, atau akan kami serang, "
Namun juga tidak ada jawaban, membuat Tumenggung Tanu Bawa berang,
__ADS_1
" Prajurit siapkan panah - panah kalian , setelah hitungan ketiga segera lepaskan panah-panah itu,!" ucap Tumenggung Tanu Bawa.
Beberapa prajurit Kediri segera bersiap di depan pintu bangsal Pusaka itu dengan berbaris dan tersusun rapid siap dengan busur yg anaknya siap untuk di lepaskan.
" Satu, ....., dua,......., tigaaaa," teriak Tumenggung Tanu Bawa.
Melunçurlah anak - anak panah itu kedalam meski mereka tidak melihat sasarannya.
Sungguh tidak di sangka para prajurit kediri itu bahwa anak -anak panah itu kembali lagi menyerang mereka, terdengar teriakan dari para prajurit yg berada di depan,
" Aaaakkhh, aaaakkhh, aaakkhh,"
Tiga orang prajurit yg berada di barisan paling depan itu tertembus anak panah yg kembali menyerang mereka sendiri.
Ketiganya terpanggang anak -anak panah yg mereka lepaskan sendiri. Para prajurit Kediri saling pandang dan menatap wajah Tumenggung Tanu Bawa,
" Bagaimana ini Kanjeng Tumenggung , tiga teman kami telah tewas, apa yg harus kita lakukan,?" tanya Lurah prajurit pemanah kadipaten Kediri itu.
Tumenggung Tanu Bawa memutar otaknya agar dapat menangkap Si penyusup itu, ia tidak ingin orang telah berada di dalam bangsal Pusaka itu dapat keluar.
Namun belumpun sempat Tumenggung Tanu Bawa menemukan jalan keluarnya, terdengar tawa yg mengandung ajian gelap ngampar keluar dari dalam bangsal Pusaka itu,
" Hua, ha, haha, haha,"
Suara tertawa itu langsung merobohkan para prajurit pemanah yg berada di depan pintu bangsal Pusaka itu. Hanya beberapa orang saja yg mampu bertahan termasuk Tumenggung Tanu Bawa.
Setelah tertawa itu berhenti, tiba -tiba sesosok tubuh keluar dari dalam bangsal itu dengan cepat, ia melesat setelah laksana terbang melewa para prajurit yg sedang terkena pengaruh ajian itu. Tumenggung Tanu Bawa yg masih dalam keadaan sadar segera meraih salah satu busur dan anak panah prajurit yg terjatuh itu.
" ******* , terima ini , hehhh," ucap Tumenggung Tanu Bawa.
Ia melepaskan anak panah itu kearah orang yg berpakaian serba hitam dengan menggunakan Topeng, ya topeng Iblis.
" Whuuuut,"
Terdengar kibasan dari Si Topeng Iblis itu dengan menggunakan tangannya, sebuah angin yg kuat menerpa anakpanah yg menuju dirinya itu, langsung berbalik kembali menuju Tumenggung Tanu Bawa dengan lebih cepat lagi, Tumenggung Kediri itu terpaksa melompat menghindari anak panahnya yg kembali lagi.
" Gila, hampir senjata makan tuan,'' pikir Tumenggung Tanu Bawa.
" Ki Lurah panggil Senopati Mangun Dirja," teriak Tumenggung Tanu Bawa kepada Lurah prajurit yg mampu bertahan atas serangan ajian Gelap ngampar tersebut.
" Baik Kanjeng Tumenggung,!" jawab Lurah prajurit itu.
Sementara Si Topeng Iblis telah hinggap di atas wuwungan atap sebuah bangsal yg cukup tinggi, dari atas wuwungan itu ia masih melontarkan ucapannya,
" Seluruh Kediri, tentu tidak akan mampu menangkapku, apalagi kau cuma seorang Tumenggung,!"
" *******, kau menghina prajurit Kediri terima ini,!" ucap Panglima prajurit Kediri yg bernama Senopati Mangun Dirja.
Rupanya Senopati Mangun Dirja telah datang ke tempat itu setelah mengetahui bahwa penyusup itu adalah Si Topeng Iblis, dan telah membunuj beberapa prajurit Kediri.
Senopati Mangun Dirja melepaskan pukulan jarak jauhnya kepada Si Topeng Iblis di sertai lesatan tubuhnya yg mengarah ke tempat Si Topeng Iblis.
Tampaknya Si Topeng Iblis percaya diri, ia menanti serangan dari Senopati Mangun Dirja itu setelah serangan jarak jauhnya berhasil di hindari.
Begitu kaki Senopati Mangun Dirja mendarat di atas atap Wuwungan itu, Si Topeng Iblis langsung memberikan serangan dengan menggunakan kakinya,
" Heaaahh,"
Senopati Mangun Dirja terpaksa berjumpalitan menghindari serangan itu, namun tidak sampai di situ, serangan dari Si Topeng Iblis itu segera semakin gencar menyasar tubuh Senopati andalan dari Kadipaten Kediri itu.
" Hiyyah,"
Teriak dari Senopati Mangun Dirja membalas serangan dari Si Topeng Iblis itu, jual beli pukulan terjadi di atas wuwungan itu. Meski terlihat Si Topeng Iblis itu masih lebih unggul dari Senopati Mangun Dirja.
Akan tetapi serangan dari Senopati Mangun Dirja tidak bisa dipandang remeh ketika benturan-benturan terjadi tubuh dari Si Topeng Iblis itu nampak masih terdorong mundur ke belakang.
" Ternyata tenaga dalam Senopati Kediri ini lumayan juga , ia berhasil mendorong tubuh dari Mpu Phedet Pundirangan itu meskipun sang Senopati harus lebih jauh lagi mundurnya, tetapi yg jelas dari sisi tenaganya tidak berbeda jauh dengan Senopati Kediri itu,!" kata Raka Senggani yg menyaksikan pertarungan kedua orang itu dari sebuah cabang pohon yg di dudukinya itu.
__ADS_1