
" Maaf kisanak,.izinkan kami berdua lewat," ucap Raka Senggani.
Kedua orang yg akan ke Pajang itu menatap ke arah orang yg tengah menghadang jalan mereka.
Dengan kudanya yg memalang tepat di tengah jalan , laki -laki yg memakai topi caping itu tidak menjawab pertanyaan dari Senopati Brastha Abipraya.
Ketika untuk kedua kalinya Raka Senggani meminta izin agar ia bersedia bergeser dari tempat nya,.orang itu tidak bergeming malah ia pula yg ganti bertanya tanpa menjawab pertanyaan dari Senopati Brastha Abipraya.
" Apakah diriku tengah berhadapan dengan Raden Hidayat,..?" tanya nya.
Suaranya yg Cukup keras membuat hati Rangga Wira Dipa panas. Karena ia merasa orang itu tidak sopan,.belum pun ia akan menjawab ,.Raka Senggani mengangkat tangan nya agar ia tidak usah bicara.
" Benar,..Akulah Raden Hidayat,.." jawab Raka Senggani.
Jawaban yg tegas itu membuat orang yg menghalang tersebut menggerakkan kudanya akan tetapi ia tidak membawa ke tepi kuda tunggangan nya itu melainkan langsung mengarhakan kehadapan kedua orang Pajang tersebut.
Seraya berteriak dengan keras orang tersebut melompat dan langsung menyerang Raka Senggani.
" Bagus,.. sudah lama aku menunggu kesempatan bertemu dengan orang yg bernama Raden Hidayat itu,. heaahh,.."
Ia mengarahkan tendangan ke Pajang kepala Senopati Pajang,. tendangan yg telah berisi tenaga dalam.
" Hufhhhh,."
Raka Senggani membumbung ke udara sambil berputaran menghindari serangan tersebut,. sementara orang tadi langsung memburu Senopati Pajang itu tanpa harus menjejakkan kakinya di atas tanah .
Pertarungan pun terjadi antara keduanya di udara,. masing-masing mengandalkan ilmu peringan tubuh yg mumpuni, lesakan pukulan dari orang tersebut terus mendera dan berusaha mendesak Raka Senggani.
Akan tetapi lawan dari Senopati Brastha Abipraya tidak mampu mendesak nya,..
Hingga suatu ketika,.
" Dhieghh,."
Satu tendangan Senopati Pajang itu mendarat di sebelah perut orang tersebut.
Dan iapun melayang turun dan berhasil dengan sempurna naik kembali ke atas punggung kudanya.
Raka Senggani yg melihat hal itu sampai geleng -geleng kepala.
Sungguh tinggi ilmu peringan tubuh orang ini,..pikirnya dalam hati.
Meskipun ia telah mendapatkan tendangan yg cukup telak akan tetapi tidak membuat nya sampai terjatuh.
Setelah kembali berada di punggung kuda masing-masing,.orang itu menatap ke arah Raka Senggani,.perlahan ia membuka topi caping nya,.terlihatlah wajah yg lumayan tampan dengan mata berwarna kemerahan seperti orang yg baru bangun dari tidurnya.
Perlahan orang itu menjalankan kudanya dan mendekati Raka Senggani.
Raka Senggani tetap dalam keadaan waspada dengan semua yg dilakukan oleh orang yg menghadang nya itu, kuda itu tepat berhenti di sebelah sang Senopati.
Orang itu pun berkata,..
" Perkenlkan,. namaku Jaka Belek,." ucapnya.
Sambil menjulurkan tangan nya kepada Raka Senggani.
Senopati Pajang itu tersentak kaget mendengar nama tersebut,.otak nya yg cerdas segera mengatakan bahwa ia adalah salah seorang prajurit sandi Demak yg di tugaskan oleh Tumenggung Bahu Reksa membantunya untuk menumpas gerombolan rampaok di alas Mentaok itu.
Belum sempat Raka Senggani menjawab ucapan dari orang yg bernama Jaka Belek itu,.ia telah pergi memacu kudanya sambil berteriak,
" Kita akan bertemu di Prambanan,.."
Sambil tidak memperdulikan tatapn kedua orang itu dengan tatapan yg aneh.
Aneh -aneh saja para prajurit ini,.apakah memang begitu tradisi mereka,.berkata dalam hati Raka Senggani.
Rangga Wira Dipa yg tidak terlalu mengerti segera bertanya kepada Senopati Brastha Abipraya,.
__ADS_1
" Siapakah orang itu Senopati,..?" tanya nya.
" Hehh,..dialah yg akan membantu kita melawan gerombolan rampok alas Mentaok itu,.. bukankah ki Rangga akan ikut,..?"
Ucapan dari Raka Senggani itu seperti isyarat kepada orang Kepercayaan dari Tumenggung Wangsa Rana agar ia bersedia d ajak ke Alas Mentaok.
" Tentu,..tentu ,.aku akan sangat senang sekali seandainya mendapatkan kesempatan membasmi kawanan rampok itu,.. Senopati," jawab Rangga Wira Dipa.
Raka Senggani mengatakan kepadanya bahwa ia akan diajak turut ke Alas Mentaok,. dan kemudian mereka pun meningglakan tempat itu.
Hari pun telah berganti malam namun keduanya tetap melanjutkan perjalanan nya menuju Pajang.
Pada saat ayam jantan berkokok untuk kali perttama kedua orang itu sampai di kota Pajang.
Rangga Wira Dipa dan Raka Senggani langsung menuju ke kediaman Tumenggung Wangsa Rana.
Di hari yg masih gelap itu,..kuda kuda mereka tibai di gerbang rumah Tumenggung Wangsa Rana.
Prajurit jaga sampai terkejut dan bersiaga dengan senjatanya,.namun setelah melihat keduanya mereka langsung membukakan pintu .
Rangga Wira Dipa dan Rangga kemudian turun dari kudanya,.mereka duduk di pendopo rumah Tumenggung Wangsa Rana.
Sementara salah seorang prajurit jaga segera memabngunkan sang pemilik rumah.
Sayup -sayup terdengar kumandang azan dsri masjid kota Pajang.
Hari telah masuk shubuh,.setelah Tumenggung Wangsa Rana bertemu dan menyarankan kepada keduanya untuk membersihkan diri,..bahkan ia tidak sempat menanyakan tentang keberadaannya Rangga Aryo Seno kepada kedua orang tersebut.
Saat terang tanah ketiganya bwrkumpul kembali di pendopo rumah sang Tumenggung.
Barulah kali ini ia menanykan hal tersebut kepada Rangga Wira Dipa.
Dijelaskan oleh Ki Rnagga bahwa Rangga Aryo Seno tengah ke dalam desa Kenanga untuk memanggil dua orang pemuda yg merupakqn teman dari Senopati Brastha Abipraya.
Mendengarkan penjelasan dari Rangga Wira Dipa,. Tumenggung Wangsa Rana langsung menanyakan sesuatu kepada Raka Senggani.
" Apakah Angger Senopati akan langsung menyerang Alas Mentaok,..?" tanya nya.
Dalam hal ini Sang Tumenggung memahaminya,.namun mengingat kekalahan yg telah diderita oleh Tumenggung Jala Wisesa,.apakah tindakan ini tidak terlalu terburu -buru.
Karena menurutnya,. Kanjeng Gusti Adipati amat terpukul setelah kekalahan yg di derita oleh Tumenggung Jala Wisesa itu.
Tetapi kemudian Raka Senggani menjelaskan secara rinci,.bahwa ia tidak akan membawa sebuah pasukan yg besar seperti yg telah dilakukan oleh Tumenggung Jala Wisesa, ia hanya akan membawa pasukan yg memang pantas utnuk di bawa.
Karena dalam penyerangan kali ini,.ia sedapat mungkin akan mengurangi korban dari pihak Pajang .
Penjelasan yg diberikan oleh Senopati Pajang itu dapat di mengerti oleh Tumenggung Wangsa Rana.
Ia pun segera akan menyiapkan orang -orang yg dapat diajak turut serta ke Alas Mentaok.
Kemudian ketiganya menghadap Kanjeng Gusti Adipati Pajang di dalam istananya.
Penguasa Pajang itu amat senang sekali melihat kehadiran Senopati andalannya itu.
Bahkan ia sendiri yg pertama kali menayakan keadaan dari sang Senopati tersebut,
Raka Senggani menyebutkan kepada Kanjeng Gusti Adipati Pajang bahwa ia dalam keadaan sehat walafiat,.dan ada pesan kepada Kanjeng Gusti Adipati dari Sultan Demak,..ia meemberikan segulungan lontar kepada junjungan nya itu.
Kanjeng Gusti Adipati Pajang membuka dan membaca surat itu sambil seskali melirik ke arah Raka Senggani.
Kemudian ia berujar,.
" Jika memang demikian keputusan dari nanda Sultan, kami tidak akan mengikat Senopati Brastha Abipraya di Pajang ini,.. walaupun memang agak berat menerimanya, ." ucap Kanjeng Gusti Adipati Pajang.
Tumenggung Wangsa Rana yg tidak mengetahui isi surat Sultan Demak dan juga init permasalahan nya segera bertanya kepada sang Adipati.
Oleh Kanjeng Gusti Adipati Pajang dikatakan bahwa Senopati Brastha Abipraya telah diangkat sebagai Senopati prajurit sandi yuda Demak dan tidak dapat terikat pada Pajang saja, walaupun ia memang merupakan orang Pajang,. Karena saat ini tenaga nya sangat di butuhkan oleh Demak untuk menggantikan tugas tugas dari Tumenggung Bahu Reksa yg kemungkinnanya akan diangkat sebagai panglima tertinggi seluruh armada pasukan Demak.
__ADS_1
Oleh sebab itulah maka posisi dari Sang Tumenggung telah digantikan oleh Senopati Brastha Abipraya.
Baik Tumenggung Wangsa Rana maupun Rangga Wira Dipa agak terkejut mendengar nya,.itu sama artinya mereka akan semakin sulit melihat sang Senopati ada bersama mereka.
Namun sesuai seprti yg telah di ucapkan oleh Kanjeng Gusti Adipati, bahwa mereka harus taat atas perintah dari junjungan mereka itu tanpa harus banyak meminta dan bertanya.
Setelah keadaan hening berlalu,.. Kanjeng Gusti Adipati Pajang kemudian memerinthakan kepada Senopati Brastha Abipraya untuk memimpin pasukan Pajang membasmi kawanan rampok yg meresahkan yg ada di Alas Mentaok itu.
Raka Senggani yg berjuluk Senopati Brastha Abipraya itupun menerima tugas yg di embankan ke atas pundaknya, ia juga mengatakan kepada Junjungan nya itu akan melakukan siasat sandi agar dapat mengalahkan para kawnanan begal yg ada di Mentaok tersebut.
Kanjeng Gusti Adipati Pajang kemudian menanyakan rencana apa yg akan di tempuh oleh Senopati nya itu,.seperti yg telah dikatakan nya kepada Tumennggung Wangsa Rana, Raka Senggani akan membawa sedikit Prajurit ke Mentaok.
Sang Adipati terkejut mendengarkan nya ada yg salah menurut dari penguasa Kadipaten Pajang itu, karena dirinya memang menginginkan kawanan tersebut harus dapat di lenyapkan dari Alas Mentaok, jadi ia tidak sependapat dengan sang Senopati.
Senopati Brastha Abipraya kemudian menjelaskan rencana nya secara jelas kepada Sang Adipati, ia akan membawa Prajurit Pajang yg mampu bertarung secara sendiri - sendiri tanpa harus terikat pada gelar pasukan,.oleh sebab itu ia meminta kepada sang Adipati bahwa pasukan yg akan di bawanya tidak lebih dari tujuh puluh orang saja yg terdiri dari pangkat terendah seorang Lurah Prajurit.
Kanjeng Gusti Adipati Pajang yg mendengarkan penjelasan nya baru mengerti maksud dan tujuan Senopati nya itu,.selain pasukan dapat bergerak cepat,. Senopati Brastha Abipraya mengharapkan sedikitnya jumlah korban dari pihak Pajang.
Masih menurut sang Senopati,.bahwa kekuatan d alas Mentaok itu tidak lebih dari dua ratus orang,..memang jumlah yg cukup besar untuk suatu gerombolan rampok yg bersarang pada satu tempat.
Akan tetapi jumlah mereka yg cukup banyak itu akan dapat di preteli satu persatu sebelum kedua pasukan bertemu secara terbuka.
Ia tidak menginginkan bahwa kawanan rampok alas Mentaok itu yg akan mengincar mereka akan tetapi sebaliknya mereka lah yg akan menghabisi satu persatu anggota mereka itu.
Cukup lama Sang Adipati mencerna paparan yg telah di jelaskan oleh Senopati nya itu,.barulah ia mengerti dengan rencana yg akan diambil oleh Senopati Brastha Abipraya tersebut.
Kemudian Sang Adipati menanyakan kepada Tumennggung Wangsa Rana akan kesiapan prajurit yg dimintai oleh Senopati Brastha Abipraya itu.
Tumennggung Wangsa Rana menjawab ia sanggup memberikan sepasukan kecil dari kesatuan yg berada di bawah kepempinannya kepada Senopati Brastha Abipraya sesuai dengan yg diinginkan nya.
Akhirnya Kanjeng Gusti Adipati Pajang merestui permohonan dari Senopati Brastha Abipraya tersebut dengan melepas tidak lebih dari tujuh puluh orang prajurit terpilih Pajang dalam tugas kali ini.
Sang Adipati Pajang kemudian menanyakan lagi kapan rencana keberangkatan dari pasukan tersebut mengingat pasukan yg di pimpin oleh Rangga Suralaya dan Rangga Jayadi baru saja tiba.
Dengan mantap nya, Senopati Brastha Abipraya mengatakan akan berangkat esok pagi setelah Matahari menggatalkan kulit.
Kembali penguasa Pajang itu terperangah mendengar jawaban Senopati nya tersebut, ia mengatakan Apakah itu bukan sesuatu tindakan yg terburu -buru, tanya nya kepada Senopati Brastha Abipraya.
Menurut sang Senopati itu bukanlah sesuatu yg terburu -buru,.mengingat tentunya para kawnanan rampok itu tengah merayakan kemenangan nya jadi sudah menjadi sesuatu yg lumrah jika mereka akan menurunkan tingkat kewaspadaan mereka atas serangan dari Pajang lagi dengan kata lain tidak mungkin secepat itu Pajang akan menyerang mereka kembali.
Penguasa Pajang tersebut hampir tidak percaya dengan semua rencana dari Raka Senggani tersebut,.ia masih berharap bahwa Senopati nya itu akan beristtrahat barang sepekan sebelum melanjutkan ke Alas Mentaok.
Namun kali ini jawaban yg di terimanya memang di luar perhitngan dari Adipati Pajang itu, mereka akan berangkat esok hari setelah sebelumnya satu pasukan yg kuat namun kalah baru kembali.
Tetapi Kanjeng Gusti Adipati Pajang tidak melarang Senopati Brastha Abipraya untuk berangkat ,.ia malah berpesan agar pasukan tersebut dapat berhubungan dengan tanah perdikan Menoreh yg beberapa hari yg lalu telah datang untuk menjalin kerjasama mengahncurkan para perampok asal Alas Mentaok.
Raka Senggani pun menerima pesan dari junjungan nya itu,.ia akan menerima kerjasama dengan siapa saja yg ingin menumpas kebatilan yg di lakukan oleh orang -orang yg tidak bertanggungjawab tersebut.
Hati Kanjeng Gusti Adipati Pajang merasa lega mendengar nya, ia pun mmepersilahkan mereka untuk kembali agar dapat mempersiapkan segala sesuatu nya.
Setelah keluar dari dalam istana Pajang,. Senopati Brastha Abipraya menanyakan kepada Tumennggung Wangsa Rana apakah akan turut dalam lawatan ke Alas Mentaok kali ini.
Tumennggung Wangsa Rana mengiyakan, ia memang masih ingin bersama dengan sang Senopati dalam rangka tugas memberantas kemungkaran.
Hati Raka Senggani senang mendengarnya, mereka pun pulang ke kediaman dari Tumennggung Wangsa Rana.
Di kediaman sang Tumennggung itu ketiganya mendapati bahwa Rangga Aryo Seno dan dua orang anak muda desa Kenanga telah tiba disana.
Mereka pun saling menanyakan keadaan masing -masing , terutamanya Jati Andara yg memang sudah agak lama tidak bertemu dengan Raka Senggani.
Putra Bekel desa Kenanga itu mengatakan kepada temannya bahwa sebenarnya Sari Kemuning dan Dewj Dwarani ingin turut serta pula.
Tetapi oleh para pemimpin desa keduanya di cegah untuk berangkat mengingat nantinya desa Kenanga akan kosong dari mereka yg mmepunyai kepandaian.
Raka Senggani pun setuju dengan keputusan yg diambil oleh para sesepuh desa tersebut,.memang tidak selayaknya desa Kenanga harus kosong dari mereka.
Kemudian Raka Senggani menceritakan semua keinginan nya karena telah memanggil mereka berdua itu, bahwa mereka akan diajak ikut serta membasmi kawanan rampok yg ada di Alas Mentaok.
__ADS_1
Baik Japra Witangsa terlebih lagi Jati Andara merasa sangat senang sekali karena dapat bahu membahu dengan Raka Senggani yg merupakan teman sekaligus juga guru mereka berempat itu.
Kepada keduanya disarankan agar lebih awal beristtrahat karena besok mereka akan berangkat.