
Setelah kedatangan para prajurit Pajang itu. Para kawanan rampok masih berusaha untuk melarikan diri, segera di cegah oleh para prajurit.
Maka pertarungan pun sempat terjadi lagi, akan tetapi cepat berakhir karena para prajurit Pajang dan warga desa Kenanga segera mengepung rapat, sulit untuk melarikan diri bagi para kawanan rampok.
Akhir nya sebahagian besar para rampok itu menyerah, namun ada juga beberapa orang yg berhasil meloloskan diri, mereka adalah para pengawal dari Juragan Tarya yg mengetahui seluk beluk rumah itu.
Ketika melihat Singo Ireng telah tewas, diam -diam mereka menghindar dan kabur dari tempat itu diantaranya Ki Bawuk dan Kaliran.
Setelah semua nya selesai, dan para prajurit Pajang yg dipimpin oleh Rangga Wira Dipa mengikat semua kawanan rampok dan akan menggiring mereka ke rumah Ki Bekel, tiba-tiba dari dalam rumah keluarlah Juragan Tarya dan berseru,
" Siapa saja yg berhasil menyelamat kan putri ku Tara Rindayu, akan ku serahkan separoh dari harta ku dan kalau ia se orang lelaki akan kunikahkan dengan Tara Rindayu, di tambah setengah dari hartaku ini,!"
Demikianlah sayembara yg dikeluarkan oleh orang paling kaya di desa Kenanga itu.
Tetapi tidak ada seorang pun yg menjawab sayembara itu untuk mengikutinya, adalah Ki Lamiran yg berkata kepada Raka Senggani,
" Angger Senggani tidak mau ikut sayembara itu,?" tanya Ki Lamiran dengan ter senyum.
" Ahh, males Ki, kalau orang kaya , apa -apa mesti uang, harta dan segala macam ***** bengek perhiasan dunia, biar saja orang lain yg mengikutinya,!" jawab Raka Senggani.
" Angger tidak kasihan pada Den ayu, bukankah ia teman angger sewaktu masih kecil,!" ujar Ki Lamiran lagi.
" Dengan Rindayu sebenarnya Senggani kasihan, sayang seperti nya ia memiliki orang tua yg salah, menilai sesuatunya dengan uang bukan karena kebaikan dan persaudaraan, aki lihat, kita yg di sini disuruh masuk pun tidak, malah mengeluarkan wara -wara, apa orang baik itu namanya ,Ki,. dan satu lagi, Senggani malas punya seorang mertua seperti itu,!" jelas Raka Senggani.
" Orangkan bisa berubah, siapa tahu setelah Angger Senggani menjadi mantunya, ia akan menjadi baik, dalam menilai sesuatu,!' ungkap Ki Lamiran.
" Senggani tidak ingin punya istri seorang janda, Ki, !" balas Raka Senggani.
" Ahhh, meskipun den ayu janda, tetapi kan masih gadis, karena mereka pun menikahnya baru tadi,!" kata Ki Lamiran sambil senyum -senyum.
" Atau angger Senggani sudah tertarik dengan putri Ki Jaga baya itu,!" ucap Ki Lamiran sambil mengarahkan pandanganya kepada Sari Kemuning yg sedang merawat beberapa pemuda desa kenanga yg terluka itu.
Terlihat Sari Kemuning dan Dewi Dwarani sibuk mengurus para korban yg terluka dari warga desa Kenanga termasuk juga Ki Demang Muncar.
Ki Demang Muncar itu meski terluka cukup parah pada pundaknya akan tetapi ia masih selamat ber beda dengan Bajang wunut putra nya itu, telah tewas dan telah di bawa ke dalam rumah Juragan Tarya.
Diantara para pengawal kademangan Muncar lima orang tewas dan lima orang yg terluka cukup parah.
Dari para kawanan rampok hampir lebih dua puluh orang yg tewas dan sebahagian besar di bunuh oleh Raka Senggani.
__ADS_1
Setelah kepergian para prajurit Pajang membawa para tawanan ke banjar desa Kenanga, Raka Senggani dan Ki Lamiran serta beberapa orang tua di desa Kenanga itu kemudian ikut menuju rumah Ki Bekel.
Ketika akan beranjak dari tempat itu, Juragan Tarya sempat melihat Ki Lamiran dan Raka Senggani kemudian memanggil nya,
" Ki, Ki, aki Lamiran, kemari ada yg ingin Kukatakan kepada mu juga dengan Angger Senggani,!" teriak Juragan Tarya sambil melambaikan tangannya.
" Bagaimana ini , Ngger,?" tanya Ki Lamiran kepada Raka Senggani.
" Apa nya yg bagaimana, Ki, !" seru Raka Senggani
" Kita penuhi panggilan Juragan Tarya itu,?" tanya Ki Lamiran lagi.
" Terserah aki Lamiran, Senggani akan ke Banjar desa,!" jawab Raka Senggani.
" Tidak elok menolak panggilan seseorang,Ngger, bukankah angger yg sering mengatakan jika kejahatan seseorang di balas dengan kejahatan yg serupa pula, jadi apa bedanya kita dengannya,!" tutur Ki Lamiran
" Ahh, Ki Lamiran tahu saja untuk menyudutkan Senggani, baiklah kita penuhi permintaan dari Juragan Tarya itu, akan tetapi jika ia menyinggung perasaanku, maka jangan salahkan Senggani jika segera meninggalkan tempat itu,!" ucap Raka Senggani.
Kedua nya kemudian mendatangi Juragan Tarya yg masih berdiri di bawah tarub itu, sementara Ki Bekel dan yg lain nya telah pergi dari situ .
" Ada apa Gan, Juragan memanggil kami,?" tanya Ki Lamiran kepada Juragan Tarya.
Kemudian setelah agak tenang ia kemudian melanjutkan kata-kata nya,
" Karena kemampuan dari angger Senggani, aku yakin dapat membebas kan Tara Rindayu dari sekapan petampok, aku sangat yakin Angger Senggani mampu melakukannya,!" ucap Juragan Tarya.
Namun Raka Senggani diam saja, ia malah memandang ke arah luar dari rumah Juragan Tarya itu.
Kemudian Juragan Tarya berkata lagi,
" Memang Ku akui dulu aku salah menilai Angger Senggani, namun apakah kebaikan dari Tara Rindayu terhadap angger tidak bisa menghapus kesalahanku,?" tanya Juragan Tarya.
" Hahhh,!"
Terdengar Raka Senggani melepaskan segala kekesalannya yg lama terpendam, ia kembali teringat masa -masa kecil yg indah bersama putri Juragan Tarya itu, ia sangat bersahabat dekat dengan Tara Rindayu namun sebaliknya membenci orang tuanya yaitu juragan Tarya.
Melihat Raka Senggani diam saja , Ki Lamiran kemudian menengahi,
" Juragan Tarya, sebenarnya Angger Senggani tidak ada persoalan dengan Juragan, yg lalu telah berlalu, ia sebenar nya ingin membantu dan menolong den ayu ikhlas tanpa pamrih, karena jangan kan den ayu yg merupakan sahabatnya itu, seluruh warga Kenanga ini pun telah di bantunya tanpa ada pamrih apa pun, jadi sekali lagi di sini aki tegaskan bahwa Angger Senggani bukan memandang balasan dari apa yg telah diperbuatnya, ia ikhlas menolong, bukan begitu, Ngger,?" jelas Ki Lamiran.
__ADS_1
Dan nampak kepala Raka Senggani mengangguk.
" Dan ia pun kurang senang atas sayembara yg telah Juragan Tarya sebutkan tadi, karena itulah ia tidak berkeinginan untuk membebaskan den ayu, yg sebenarnya ia ingin selamat kan,!" kembali kata -kata dari Ki Lamiran.
" Akan tetapi karena Juragan Tarya sudah mengakui kesalahannya, maka mulai hari ini ia bersedia untuk membantu Juragan Tarya untuk membawa kembali pulang den ayu, bukan begitu , Ngger,!" tanya Ki Lamiran kepada Raka Senggani.
Lama pemuda itu baru menjawab, dan itu dengan anggukan kepala saja.
" Syukurlah, berarti angger Senggani bersedia untuk mencari den ayu dan membawa pulang kemari,!" kata Ki Lamiran.
Kemudian Juragan Tarya memeluk Ki Lamiran dan bergantian dengan Raka Senggani.
" Sebelumnya , aku ucap kan ribuan terima kasih kepada Angger Senggani yg mau membantu untuk mencari Tara Rindayu,!" ucap Juragan Tarya.
Berulangkali ia memeluk pemuda itu dan menjabat tangannya.
" Karena kami masih ada keperluan di Banjar desa, jadi kami mohon pamit Juragan, mudah mudahan nanti malam angger Senggani sudah bisa melacak keberadaan dari den ayu itu,!" kata Ki Lamiran.
" Apakah aki dan Angger Senggani tidak makan dulu di sini karena sebentar lagi pun waktunya makan siang,!" kata Juragan Tarya.
" Bagaimana , Ngger, apakah kita akan makan dulu atau langsung ke banjar desa,?" tanya Ki Lamiran kepada Raka Senggani.
" Sudahlah Ngger sebaiknya makanlah lebih dahulu, lagi pun di banjar desa telah ada Ki Bekel yg menanganinya,!" kata Juragan Tarya.
Orang kaya di desa Kenanga itu segera memerintahkan para pembantunya untuk menyiapkan makan siang.
Meskipun dalam keadaan bersedih atas kegagalan hajatannya namun Juragan Tarya masih menyimpan sedikit harapan atas keselamatan putrinya, sedangkan menantunya Bajang wunut telah pun di bawa kembali ke Kademangan Muncar beserta Ki Demang Muncar sendiri.
Bajang wunut akan di makamkan di tempat asalnya di Muncar.
Ki Demang sendiri terpaksa di tandu karena luka yg cukup parah di derita nya.
Namun ada luka lain yg tampaknya sulit untuk di sembuhkan yaitu kehilangan putera satu -satunya yg sangat di sayanginya itu, telah pergi di saat hari bahagianya menjadi seorang pengantin, akan tetapi yg Maha kuasa berkata lain di saat itu pulalah ia harus menghadap sang pencipta nya.
Namun kekesalan dari Demang Muncar itu adalah karena putranya tewas di bunuh oleh perampok dan perampok nya itu berhasil pula membawa mantunya lari setelah membunuh putra nya, Bajang wunut.
Satu perasaan yg bertumpang tindih terjadi di dalam hati Ki Demang Muncar tersebut.
Rasa sesal yg tiada habis -habisnya melingkupi hatinya dan istrinya.
__ADS_1
Namun apa mau dikata nasi telah menjadi bubur, Bajang wunut putra terkasih nya telah pergi untuk selama-selamanya, meninggalkannya.