
Memang pada saat itu Kapal Jung milik Senopati Sarjawala alias Sultan Demak kedua tengah sibuk untuk menurunkan para Prajurit nya ke atas perahu kakap guna segera mendarat ke tanah Melaka.
Disebabkan serangan serangan dari pihak musuh terutama kapal kapal perang nya tidak ada lagi yg mengganganggu sehingga dengan leluasa Kapal itu di menurunkan para Prajurit nya.
Sebenarnya di dalam hati dari Senopati Bima Sakti sudah sangat tidak tenang dikarenakan posisi saat ini dari Kapal perang milik Kanjeng Gusti Sultan ini adalah pada posisi terburuk selain mereka tengah melepaskan sauh , juga beberapa layar Kapal telah mereka turunkan, sedangkan tempat tersebut dalam jangkauan dari jarak tembak meriam besar mereka yg terpasang di dalam benteng bagian atas , sehingga hati sang Senopati sudah tidak karuan lagi.
Akan tetapi ia telah mmeperingatkan mereka , tetap saja tidak di gubris oleh Kanjeng Gusti Sultan. Mereka terus saja menurunkan para Prajurit Demak.
Dan pada itu dalam benteng La Fortesa, Jenderal Alfonso de Herera tengah mmerinthakan para Prajurit nya untuk menmbakkan meriam super nya yg bernama Esfera itu.
" Sudah siap , ?" tanya nya pada sang prajurit.
" Belum , Jenderal,.." jawab prajurit itu.
" Cepatlah , saat itu kapal milik itu Senopati Sarjawala pada posisi sangat tepat untuk berlatih ledakkan,.." ucap Jenderal Alfonso de Herera.
Sambil ia terus menatap ke arah laut dengan menggunakan teropong nya. Wajah dari Penguasa tanah Melaka nampak gembira sepertinya siasat untuk menjebak penguasa dari Demak ini tampaknya akan berhasil. Jadi ia nampak sangat terburu-buru untuk melihat hasilnya apakah meriam Esfera itu akan mampu menghancurkan Apilan dari Kapal Jung milik Senopati Sarjawala itu, karena pada pertemuan terdahulu tidak ada peluru yg mampu merobek pertahanan Apilan dari Kapal Jung besar tersebut.
" Siap ,Jenderal,.." teriak sang prajurit.
Sambil ia mengacungkan jari jempolnya ke atas.
" Bagus,...siap,.....Tembak,...!" teriak Jenderal Alfonso de Herera.
Sehabis ucapan dari komandan tertinggi pasukan Portugis yg ada di tanah melayu ini, maka suara pun menggelegar keluar dari moncong meriam Esfera yg super besar itu.
Suaranya melebihi keras nya suara gelegar halilintar di tengah hari.
Dan peluru yg di tembak kan itu meluncur deras menuju Kapal Jung besar milik Kanjeng Sultan Demak.
" Byuurrrrr,.."
Ternyata pada serangan pertama peluru meriam tersebut tidak tepat mengenai sasaran nya , dan malah terjatuh ke dalam air.
Setelah melihat kejadian tersebut maka, Senopati Sandi Demak ini berteriak,.
" Cepat segera bergerak dari tempat itu,.. mereka telah menyerang menggunakan meriam besarnya,.." !" seru Raka Senggani.
Namun seolah tidak mendengar kan apa yg di ucapkan oleh Senopati Sandi Yuda Demak ini, para Prajurit Demak itu tetap saja tidak mengacuhkan nya, mereka terus saja menurunkan para Prajurit Demak ke dalam perahu jenis kakap.
" Dhumbh,.."
Sebuah peluru meriam itu menghantam Apilan dari kapal Jung milik Senopati Sarjawala , dan kali ini seluruh penumpang Kapal perang milik Kanjeng Gusti Sultan Demak ini harus terbengong sesaat karena Kapal perang yg mereka tumpangi terguncang dengan hebatnya seolah ingin terbalik.
Barulah seluruh awak Kapal itu berkemas, mereka pun segera menaikan sauhnya, juga membentangkan layarnya.
Atas perintah dari Kanjeng Gusti Sultan sendiri , setelah ia melihat Apilan nya ternyata tidak mampu menahan serangan tersebut. Ada bekas robek pada penahan APilan, inilah yg membuat gentar Penguasa tanah Demak ini.
" Cepat , kembangkan layar, segera kita mundur dari garis serang mereka,.." teriak Sang Sultan.
Dengan serba tergesa-gesa dan terburu -buru, seluruh prajurit Demak yg menumpangi Kapal itu bekerja untuk segera memjauhkan kapal mereka dari tempat itu.
Sedangkan serengan dari musuh tetap harus mereka hadapi , beberapa kapal perang milik musuh memberikan tekanan kepada kapal perang milik Kanjeng Gusti Sultan ini.
__ADS_1
Akhirnya para senopati pengapit berusaha untuk membubarkan kerumunan Kapal perang milik musuh tersebut. Sehingga Kapal Perang dari Senopati Sarjawala ini mampu terbebas dari kepungan musuh.
Namun naas,..sebuah lesatan sebuah peluru meriam yg super besar mengahntam telak Apilan Kapal.
" Breaaaakhhg,.."
Apilan tersebut hancur setelah total, dan dek Lantai kapal Jung ini ikut terkena dan mengalami rusak parah.
Kegaduhan terjadi pada Kapal perang ini, banyak prajurit Demak yg telah tercebur ke laut.
Karena kapal Jung itu mulai kemasukan air laut.
Belum lagi kegaduhan yg terjadi ini hilang sebuah hantaman meriam Esfera menghabisi semua yg ada di dalam Kapal perang milik Kanjeng Gusti Sultan Demak ini.
" Dhumbh,.."
" Bleghuaaarrrr,.."
Sebuah hantaman meriam Esfera dengan telak mengahntam pada bagian lambung kapal, tepat pada tengahnya, dan menghancurkan kapal tersebut,..
Ada beberapa tubuh yg nampak terpental dari Kapal Jung besar milik Kanjeng Gusti Sultan Demak ini, akan tetapi mayoritas habis terbakar cemburu hantam oleh peluru meriam Esfera yg meledak di lambung kapal tersebut.
Bobot nya yg sangat besar sehingga menimbulkan akibat yg sangat menyedihkan, menyebabkan kapal perang besar ini hancur meledak,. dan puing puing nya segera masuk ke dalam , tenggelam.
Terakhir yang nampak adalah ujung tiang layarnya yg berisi bendera Kerajaan Demak berwarna kuning , berkibar sebelum masuk ke dalam laut.
" Kanjeng Sinuwun,...!!" teriak Senopati Sandi Yuda Demak.
Ia melihat Kapal perang milik Kanjeng Gusti Sultan Demak ini perlahan habis tenggelam setelah dihantam beberapa kali kena hantam meriam jenis esfera , yg ukuran nya cukup besar dengan peluru nya yg memilki bobot sangat berat , dan mampu menembus Apilan Kapal perang tersebut , sehingga dapat mengahncurkan seluruh isi kapal, hingga mencera beraikan nya , hanya sebahagian kecil saja yg masih utuh, termasuk ujung tiang layarnya yg berisi bendera tersebut.
Walau pun , sebagai seorang Senopati Prajurit dari Kerajaan Demsk Raka Senggani terbiasa berhadapan dengan darah , namun kali ini darah nya cukup merinding ,dan bulu kuduk nya meremang melihat banyaknya mayat yg disebabkan oleh ledakan meriam yg super besar itu.
Walaupun sebagaian kecil masih ada yg selamat akan tetapi pada umum nya telah tewas akibat hantaman yg maha dahsyat itu.
Senopati Bima sakti hanya dapat berteriak histeris, tatkala masih ada juga peluru meriam tersebut mengarah ke kapal yg di tumpanginya.
" Cepat turunkan layar ,..kayuh kapal kita ini untuk mundur,.." teriak nya.
Ia tidak ingin kapal nya pun mengalami nasib yg sama dengan yg di alami oleh Kapal Kanjeng Gusti Sultan Demak.
Memang jarak nya masih agak jauh dari Kapal Kanjeng Gusti Sultan Demak, tetapi ia tidak mau mengambil resiko membawa mendekat kapal nya lagi.
" Bagaimana keadaan mereka yg selamat, Senopati,..apakah akan kita biarkan saja,..?" Tanya salah seorang Rangga yg menjadi perwira bawahan dari sang Senopati.
" Tidak, kita akan mengirimkan kapal yg lebih kecil , sperti lancaran atau kelulus, atau dapat juga jenis perahu kakap saja yg akan menolong mereka,.." jawab Raka Senggani.
Setelah kapal Jung yg di tumpangi nya benar benar di luar jarak Jangkau dari Meriam Esfera milik musuh itu.
Maka ia pun segera memrintahkan para prajurit Demak untuk menghubungi Panglima tertinggi armada laut Demak ini yaitu Tumenggung Bahu Reksa.
Sebagai sayap pengapit kanan yg bertugas terlebih dahulu untuk mendarat dan berusaha menolong para penduduk melaka yg ridak berkenan lagi tinggal di sana , maka tugas Tumenggung Bahu Reksa lah yg memberikan jalan nya.
Setelah mendengar bahwa Junjungan nya telah gugur akibat di hantam peluru meriam Esfera yg ssngat besar milik bangsa portugis ini hati nya menjadi hancur, sedang Ia sendiiri pun dalam keadaan terluka pada tangan kirinya akibat di hantam serangan meriam cetbang, dari samping Kapal, lengan sebelah kiri Tumenggung Bahu Reksa itu nyaris putus akibatnya.
__ADS_1
Sehingga ia berpesan agar, seluruh kepemimpinan itu diambil alih saja oleh Raden Hidayat , alias Raka Senggani karena itu adalah gelar yg telah terjadi berikan Kanjeng Gusti Sinuwun kepadanya, saat inj hanya dialah yg masih keadaan bugar dari para Pemimpin Demak jadi di harapkan kepadanya lah semua tugas Senopati Agung itu di serahkan,.ungkap Tumenggung Bahu Reksa yg dalam keadaan perawatan pada luka yg ada di lengan nya ini. Ia sungguh berduka setelah mendengar gugur nya Kanjeng Gusti Sultan Demak atau Senopati Sarjawala dalam peperangan kali ini.
Setelah mendengar semua yg telah di ucpakan oleh Tumenggung Bahu Reksa , dangan cepat prajurit penghubung itu kembali melaporkan nya kepada Senopati Bima Sakti atau Raden Hidayat.
" Hehhh, jadi paman Tumenggung Bahu tengah terluka,..?" tanya nya kaget.
" Benar Senopati , dan beliau juga mengatakan agar Raden Senopati lah yg menjadi Senopati Agung pengganti Kanjeng Gusti Sultan Demak yg telah gugur itu, ia juga mengatakan semua yg akan diambil oleh Raden Senopati, apakah akan tetap melanjutkan peperangan atau menarik mundur pasukan ini,.." ungkap Prajurit penghubung itu.
" Baiklah, untuk sementara kita tarik mundur saja pasukan kita hari ini,dan telah selamat mendarat seceaptnya di tarik pulang ,.." jelas Raka Senggani atau bergelar Senopati Bima Sakti itu.
Namun setelah ia mengatakan hal itu, datanglah seorang prajurit lagi yg mengatakan kepadanya Senopati Bima Sakti itu bahwa ada seseorang yg melihat mayat seorang yg mirip dengan salah satu putra Kanjeng Gusti sultan Demak, tetapi dalam kini tengah berada dalam jarak yg sangat dekat dengan kapal kapal perang milik musuh.
Raden Hidayat , gelar yg telah di berikan oleh Kanjeng Gusti Sultan, menjadi sangat terkenal di mata para prajurit armada pasukan Demak ini.
Ia mmerinthakan untuk menyiapkan sebuah perahu kakap yg akan ia tumpangi sendiri guna melihat besarkah apa yg telah di katakan oleh para prajurit mengenai mayat dari salah seorang putra Kanjeng Gusti Sultan Demak itu.
Memang di hati dari Senopati Bima Sakti amat teramat sedih setelah beberapa kali larangan nya tidak mampu acuhkan oleh Kanjeng Gusti Sultan , maka kali ini dengan menumpangi perahu kakap yg kecil, ia segera meluncur sendirian mendekati tempat yg telah di sebutkan itu, tanpa mendapatkan pengawalan dari kapal kapal yg lain dengan berani nya perahu kakap itu mendekati tempat tersebut.
Dari kejauhan memang sang Senopati dapat melihat ada sesosok tubuh yg mengapung di antara puing puing Kapal perang milik Kanjeng Gusti Sultan Demak Itu,..akan tetapi yg membuat hati dari sang Senopati harus berpikir dua kali untuk mendekati nya adalah jarak kapal kapal perang musuh yg juga sudah sangat dekat itu .
Hehmm, sepertinya aku harus segera melihat nya dari dekat , siapa tahu ia masih hidup,..berkata dalam hati sang Senopati.
Karena ia sudah membulatkan tekad nya , sang Senopati segera mempersiapkan ilmunya tampaknya ia memang harus segera mengerahkan segenap kemampuan nya agar dapat melihat sosok yg menjadi pusat perhatian nya itu.
Sepertinya itu adalah Raden Abdullah Wangsa, aku ingat pakaian yg telah di pakainya sesaat akan turun ke medan perang , berkata lagi dalam hati Senopati Bima Sakti.
" Baiklah , Aku harus menyelamtkan nya andai ia pun telah tewas , aku tidak sudi ia menjadi tangakpan orang orang asing itu, Bismillahirohmanirrohim,." seru sang Senopati.
Bagai seekor burung Rajawali yg sangat besar mengangkasa di udara,.. Senopati Bima Sakti mengemposi tenaga dalam nya melesat menuju tempat dimana sosok tubuh yg menjadi pusat perhatian dari seluruh prajurit Demak, karena kemungkinnanya ia adalah salah satu keluarga Kerajaan Demak yg tersisa.
Di tengah antara banyak nya Kapal perang musuh yg tengah mendekati tempat itu , maka sosok tubuh sang Senopati Bima Sakti yg tengah melayang diatas udara memebuat perhatian tersendiri pada kedua belah pihak.
Tidak terlalu menunggu lama maka Kapal perang musuh itu menghujani Raawali raksasa itu dengan meriam jenis cetbang , jenis meriam putar guna menembak jatuh Sang Senopati.
Mengetahui bahwa Senopati nya ini dalam keadaan bahaya , beberapa kapal kapal perang yg lebih kecil memberrikan balasan guna menarik perhatian mereka agar tidak terlalu berminat untuk menembak jatuh Sang Senopati.
Akan tetapi tidak disadari oleh kedua belah pihak tatkala sang Senopati menggerakan sebuah kebutan yg ada di tangan nya.., semua serangan dari musuh itu kembali lagi menyernag mereka kembali dan memnyebabkan jatuh korban diantara pihak musuh itu.
Barulah setelah itu,..
" Heaahhhh,.."
Sang Senopati menukik tajam mengarah ke dalam air, seperti seekor elang falcon menyambar mangsa nya di dalam laut.
Ia kembali mengeemposi tenaga dalam nya sambil membopong tubuh itu.
Hehh,.. sepertinya ia masih hdiup,..berkata Senopati Bima Sakti lagi dalam hati.
Ia kembali meelesat meninggalkan tempat itu sambil tidak lupa tangan kirinya menggerkkan kebutan yg ada di tangan nya itu, kembali serangkum angin yg kuat mengarah pasukan musuh itu, sehingga serangan mereka pun harus kembali lagi.
Bahkan sebahagian besar dari mereka mengurungkan niatnya untuk menyeranng , mereka lebih senang untuk melihat sebuah pertunjukan yg sangat mengagumkan menurut mereka, sehingga dengan bebas Senopati Bima Sakti ini kembali lagi menuju perahu kakap nya tanpa ada serangan dari musuh. Ia berhasil menyelamatkan tubuh dari salah seorang pangeran, Putra dari Kanjeng Gusti Sultan Demak itu.
Ternyata ia adalah Raden Abdullah Wangsa , dan ia pun masih hidup,..seru Raka Senggani dalam hati.
__ADS_1
Saking senang nya yg sampai memeluk tubuh sang pangeran .
Segera saja Raka Senggani mengayuh perahu kakap itu dengan sangat cepat meninggalkan tempat tersebut.