Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 14 RAWA RONTEK. bag ketiga.


__ADS_3

Sebenarnya lah, Raka Senggani ingin mengajak ketiganya berkuda agar tidak terlalu lelah, namun atas saran Panembahan Lawu, mereka melakukan nya dengan berjalan kaki saja.


Jarak yg cukup jauh dari Gunung Lawu ke Boyolangu itu membuat ketiganya harus mempergunakan kemampuan lari nya, dan disitu pulalah Raka Senggani dapat menilai kemampuan dari kedua temannya itu.


Dengan jarak yg harus di tempuh selama tiga hari dengan berkuda, oleh Raka Senggani, jarak itu harus dapat di tempuh dalam waktu dua hari saja.


Dan dari gunung Lawu itu, ketiganya turun dengan mempergunakan ilmu peringan tubuhnya, dan selanjutnya mereka berlari menuju ke arah timur.


Raka Senggani mengimbangi kecepatan kedua teman nya itu,.. bahkan ia seringkali berada di belakang keduanya.


Dalam hal ini Raka Senggani melihat kemampuan keduanya, ternyata yg lebih unggul dari kedua nya adalah Dewi Dwarani.


Ketika matahari telah menggagalkan kulit, ketiganya sampailah di pedukuhan sepiring. Kemudian mereka istrahat sebentar di pedukuhan itu, dan lanjut lagi menuju ke Ponorogo.


Saat malam menjelang sampailah ketiganya di kota Kadipaten Ponorogo itu.


Ketiga nya menginap di sebuah penginapan yg ada di kota kadipaten itu.


Mereka menyewa dua buah bilik, satu untuk Dewi Dwarani dan yg satu lagi, buat berdua untuk Japra Witangsa dan Raka Senggani.


Tetapi ketiganya malam itu masih merencanakan , akan lewat mana selanjutnya.


" Kang, apakah kita memang terburu -buru ,.?" tanya Dewi Dwarani.


" Sebenarnya, tidak Rani,. karena memang eyang panembahan tidak mengatakan harus segera sampai ke boyolangu itu," jawab Raka Senggani.


" Bagaimana kalau besok kita menuju kediri saja terlebih dahulu, baru setelah nya kita lanjutkan, ke Boyolangu,.." ungkap Dewi Dwarani.


" Apakah ada masalah dengan kota kediri itu,..Rani,.?" tanya Raka Senggani.


" Ahh,..tidak ,.hanya ingin melihat bekas pusat kerajaan kediri dan Majapahit itu saja, apakah memang kotanya cukup besar," jawab Dewi Dwarani.


" Bagaimana denganmu kakang Witangsa,..apakah memang ada niatan untuk singgah di kota kediri,?" tanya Raka Senggani.


Putra Ki Jagabaya itu tidak menjawab hanya menggelengkan kepalanya.


" Kalau aku,..terserah adi Senggani, saja," jawabnya.


" Baiklah,.. kita akan ke Kediri baru selanjutnya ke Boyolangu,!" jawab Raka Senggani.


Malam itu di kota Ponorogo, terlihat ramai, lampu -lampu bertebaran di pusat kota yg dimasa Majapahit bernama Wengker itu.


Saat matahari menerangi kota Ponorogo, ketiganya kemudian melanjutkan perjalanan nya menuju ke Kediri, di sebuah pertigaan mereka mengambil jalan lurus menuju ke arah timur dan tidak mengambil jalan ke arah tenggara.


Seharian penuh mereka berjalan dengan tetap mempergunakan ilmu lari cepatnya agar dapat mencapai kota Kediri .


Namun ternyata mereka harus bermalam di kaki gunung Willis. Walaupun mereka telah berupaya memacu lari nya tetapi ketiganya harus bermalam di kaki gunung Willis itu.


Ketiganya kemudian mencari tempat yg ada sumber airnya.


Dan saat di kaki gunung Willis itu, Raka Senggani sempat teringat saat ia dan Patih Haryo Winangun dari Madiun yg berkunjung ke padepokan dari Mpu Phedet Pundirangan pada waktu itu.


Ia juga terkenang akan hal, bahwa.dilereng Willis itu mereka diikuti oleh salah seorang penghuni padepokan itu, dan membuat rombongan itu berjalan cepat meninggalkan tempat itu.


Hehh, siapakah yg telah memimpin padepokan itu,..apakah Arya Pinarak atau Ki Rajungan, tanya Raka Senggani dalam hati.


Ahh, tetapi tidak mungkin dua orang itu yg memimpin padepokan willis itu, karena Ki Rajungan telah di tahan di Mantyasih dan kemungkinan telah dikirim ke Demak, sedangkan Arya Pinarak, belum lama ini masih di Gunung Merapi, kata Raka Senggani lagi dalam hati sambil menatap ke arah puncak Gunung itu.


Ahh, apa peduliku, baik Ki Rajungan ataupun Arya Pinarak sama saja , katanya lagi.


Japra Witangsa yg melihat Raka Senggani yg sering memandangi puncak Gunung Willis itu , kemudian bertanya kepada Senopati Pajang itu.


" Ada apa adi Senggani, mengapa dirimu sering menatap puncak Gunung itu,?" tanya nya.


" Hehh, ada cerita tersendiri dengan gunung ini kakang Witangsa, saat diriku bersama dengan Patih Haryo Winangun dari Madiun yg bertugas untuk meminta bantuan dari Mpu Phedet Pundirangan guna mengatasi si Topeng iblis,.. ehhh tidak tahunya,..merekalah pelakunya,." jawab Raka Senggani.


" Jadi yg telah meneror wilayah Madiun dan Ponorogo pada waktu itu adalah penghuni padepokan Willis itu," seru Japra Witangsa.


" Benar, kakang Witangsa,..si Topeng iblis itu adalah Mpu Yasa Pasirangan adik seperguruan dari Mpu Phedet Pundirangan sendiri," jawab Raka Senggani.

__ADS_1


Dewi Dwarani yg diam saja kemudian ikut nimbrung,


" Kang,..apa tidak mungkin pelaku penculikan gadis -gadis yg ada di Boyolangu itu adalah dari padepokan gunung Willis ini,?" tanya nya kepada Raka Senggani.


" Entahlah, Senggani tidak tahu,..apakah memang ada kaitan nya dengan padepokan gunung Willis ini," jawab Raka Senggani.


Malam itu mereka banyak mengobrol tentang padepokan yg sudah tidak memiliki pemimpin nya itu akibat tewas di tangan sang Senopati Pajang ketika bertarung di desa Bedander.


Dan ketiganya pun tidak mengalami gangguan ataupun kesulitan, sampai mereka meminggalkan tempat itu menuju ke Kediri.


Sehari perjalanan sampai lah mereka di kota Kediri, dimana tempat itu menjadi tempat pertemuan dari Raka Senggani dengan Mpu Phedet Pundirangan.


Walaupun saat itu ia tidak mampu menangkapnya, tetapi dari pertemuan itulah Raka Senggani dapat menilai kemampuan dsri Mpu Phedet Pundirangan itu.


Kembali ketiganya bermalam di kota kediri, kota yg sempat menjadi kotaraja Kerajaan Kediri dan Kerajaan Majapahit di akhir masa jayanya itu memang sangat ramai.


Di jalan -jalan masih banyak orang yg berdagang, sehingga membuat ketiganya berusaha untuk membeli barang yg sesuai dengan keinginan mereka.


Utamanya adalah makanan untuk bekal mereka ke Boyolangu.


Setelah dari Kediri , mereka melanjutkan perjalanan menuju selatan, dan mereka terus saja tanpa harus singgah di kota Tulung Agung, saat matahari tepat diatas kepala, sampailah ketiganya di Boyolangu.


Ketiganya langsung menuju rumah Ki Ageng Boyolangu, yg menjadi pemimpin tanah perdikan itu.


Saat tiba di rumah Ki Ageng Boyolangu itu, ketiganya di sambut hangat oleh pemilik rumah.


Rumah Ki Ageng Boyolangu itu cukup besar dengan pagar rumah nya yg cukup tinggi.


Dan rumah itu tepat berada di tengah -tengah dari tanah Perdikan itu.


" Jadi angger bertiga ini adalah utusan kakang panembahan Lawu,?" tanya Ki Ageng Boyolangu.


" Benar, Ki Ageng,.. karena eyang panembahan Lawu tidak dapat hadir disini sesuai dengan keinginan Ki Ageng, ,kamilah yg diutus menggantikannya,!" jawab Raka Senggani.


Kemudian ia memperkenalkan dirinya dan kedua sahabatnya itu.


Ia berpikir apakah Panembahan Lawu tidak tahu bahwa orang itu mengincar seorang gadis untuk dijadikan tumbal nya.


" Menurut Eyang Panembahan Lawu, agar masalah di Boyolangu ini cepat selesainya, lebih baik, kami memancing orang itu dengan seorang perempuan, dan jika memang ia berniat untuk melakukan hal itu, tentu akan mudah untuk kita tangkap Ki Ageng,.." jelas Raka Senggani.


Dalam lubuk hatinya, ..Ki Ageng Boyolangu nampak nya kurang yakin akan kemampuan dari utusan Panembahan Lawu itu.


" Akan tetapi itu terlalu beresiko ,.Ngger, apalagi orang ini memang sangat licin dan memiliki kemampuan ilmu yg sangat tinggi, entah sudah berapa Pendekar yg telah menjadi korban nya," jelas Ki Ageng Boyolangu lagi.


" Mohon maaf sebelumnya, .. Ki Ageng apakah ia jika dalam melakukan penculikan itu mempunyai hari -hari tertentu,?" tanya Raka Senggani.


" Maksud Angger Senggani,..?" tanya Ki Ageng Boyolangu tidak mengerti.


" Maksud Senggani, apakah pelaku penculikan itu, setiap saat melakukan nya atau ada waktu -waktu tertentu ia baru melakukan nya,?" tanya Raka Senggani lagi.


Ki Ageng Boyolangu itu, berpikir sejenak, memang sejauh ini ia tidak terlalu memperhatikan kapan waktunya orang itu melakukan kejahatan nya itu.


" Hehh, seperti nya, baru kali ini ada orang yg menanyakan hal itu, memang kami tidak berpikir sejauh yg telah Angger Senggani tanyakan tadi,.." ucap Ki Ageng Boyolangu.


Orangtua itu menghela nafasnya sejenak dan mengingati kejadian yg telah terjadi di wilayah nya itu, kemudian ia melanjutkan ucapan nya,


" Yg kami ingat, ia melakukan penculikan itu pada saat sebelum waktu purnama tiba, dari lima orang yg telah menjadi korban dari pedukuhan induk Boyolangu ini memang kejadian nya selalu sebelum bulan purnama," jelas Ki Ageng Boyolangu.


" Ki Ageng,.. apakah ia tiap akan purnama melakukan nya,?" tanya Raka Senggani


" Itulah yg kami tidak tahu ,..Ngger,..kalau yg terjadi disini, memang tidak setiap akan purnama, entahlah dengan tempat lain,.." jawab Ki Ageng Boyolangu.


Tampaknya Ki Ageng Boyolangu itu tengah berhadapan dengan seorang prajurit sandi yg cukup bisa diandalkan.


Pantaslah kakang Panembahan Lawu mempercayakan nya untuk memenuhi permintaanku itu, katanya dalam hati.


Sebagai seorang bekas prajurit dimasa kerajaan Majapahit, Ki Ageng Boyolangu dapat merasakan bahwa yg ada dihadapan nya itu adalah seorang prajurit sandi , namun ia tidak tahu dari prajurit mana, dari Kotaraja Demak ataupun dari kota Kadipaten.


" Ki Ageng,..satu pertanyaan lagi,.agar kami dapat menetukan langkah -langkah yg akan kami ambil,..apakah telah banyak yg menjadi korban nya,..?" tanya Raka Senggani lagi.

__ADS_1


" Sudah,..sudah sangat banyak,. Ngger, mungkin jumlahnya mencapai puluhan orang," jawab Ki Ageng Boyolangu.


Kemudian tempat itu hening sejenak, setelah jawaban dari Ki Ageng Boyolangu itu.


" Ki Ageng Boyolangu..apakah ada orang yg patut di curigai,. ?" tanya Dewi Dwarani


" Ada,..tetapi saat kami grebek, tidak ada bukti yg dapat menjeratnya sebagai pelakunya," jawab Ki Ageng Boyolangu.


" Siapaaa,...?" tanya Raka Senggani dan Japra Witangsa bersamaan.


" Orang itu sudah agak sepuh, namun masih suka dengan yg namanya ilmu kadigjayaan, dan seringkali ia menyendiri di suatu tempat, ia bernama Ki Tanu,.." jawab Ki Ageng Boyolangu.


" Dimana tempat tinggal nya,..Ki Tanu itu, Ki Ageng,..?" tanya Rska Senggani.


Ia berada di dekat hutan di kaki gunung budheg itu,..!" jawab Ki Ageng Boyolangu.


" Baiklah Ki Ageng ,..nanti malam kami akan memulai dari Ki Tanu itu, dan jika memang ia pelaku nya, tentu malam ini ia akan mulai bergerak, karena sebentar lagi akan purnama," ungkap Raka.


Pembicaraan mereka terputus setelah para pembantu Ki Ageng Boyolangu dan putri nya telah menyiapkan makanan untuk di santap.


" Silahkan, silahkan,..Ngger,..hanya inilah yg dapat kami sajikan," ucap Ki Ageng Boyolangu mempersilahkan.


Dan ketiganya pun segera menyantap hidangan itu dengan lahap nya.


Setelah selesai kemudian Raka Senggani dengan di temani oleh Japra Witangsa mohon pamit kepada Ki Ageng Boyolangu untuk keluar berjalan -jalan guna melihat keadaan dari tanah Perdikan Boyolangu itu.


Sedangkan Dewi Dwarani tetap tinggal,.ia membantu untuk membersihkan bekas tempat makan mereka itu dengan para pembantu dan Putri Ki Ageng Boyolangu.


" Sudahlah kangmbok, biar kami saja yg melakukan nya, lebih baik kangmbok beristrahat saja," ucap Putri Ki Ageng Boyolangu itu.


Gadis yg masih sangat muda itu bernama Laksmi, merupakan Putri semata wayang dari Ki Ageng Boyolangu itu.


" Apakah aku memang tidak boleh membantu,..?" tanya Dewi Dwarani.


" Memang demikian lah, bukankah kangmbok ini adalah tamu kami,.." jawab Laksmi lagi.


" Kalaupun diriku tidak boleh membantu kalian,..tetapi izinkanlah aku untuk melihat kalian bekerja,." ucap Dewi Dwarani.


Dan Laksmi pun mengizinkan nya, lalu Dewi Dwarani duduk di dekat mereka yg sedang mmebersihkan dan mencuci perabotan tempat makan itu.


Sedangkan Raka Senggani dan Japra Witangsa sedang berjalan -jalan di tanah perdikan Boyolangu itu.


Keduanya bahkan sampai melewati batas pedukuhan induk itu hingga agak ke arah kaki gunung Budheg,..sayang,..saat itu mentari telah mulai redup dan sebentar lagi gelap, keduanya kemudian memutuskan untuk kembali pulang ke rumah Ki Ageng Boyolangu.


Sampai di rumah Ki Ageng Boyolangu, malam pun telah turun, rumah itu telah dipasangi obor-obor sebagai penerangan.


Raka Senggani, seperti biasa mengajak Japra Witangsa ke pakiwan dan selanjutnya mereka melaksanakan perintah dari yg Maha kuasa.


Kemudian mereka berkumpul lagi di pendopo rumah Ki Ageng Boyolangu sambil kembali membahas orang yg telah melakukan kejahatan dengan menculik gadis -gadis yg ada Di tanah Perdikan Boyolangu itu.


" Bagaimana,..Ngger, apakah daerah kami ini memang menyenangkan untuk Angger berdua,?" tanya Ki Ageng Boyolangu.


" Sangat,.. sangat menyenangkan Ki Ageng, apalagi ketika kami tadi berada di kaki gunung Budheg sesaat mentari akan beranjak keperaduanya, begitu indahnya,.." jawab Raka Senggani.


" Yahh,..sayang ,..keindahan tempat kami ini harus tercoreng dengan kelakuan orang yg tidak bertanggungjawab itu," sahut Ki Ageng Boyolangu.


Kemudian Senopati Pajang itu mengatakan sesuatu yg agak mengejutkan bagi Ki Ageng Boyolangu itu.


" Begini Ki Ageng, apakah ada Rumah kosong yg dapat menampung kami bertiga,..?" tanya Raka Senggani.


" Hehh, mengapa angger Senggani tanyakan hal itu,..apakah Angger bertiga tidak ingin tinggal di rumahku ini,..?" tanya Ki Ageng Boyolangu.


Sambil menganggukkan kepalanya Raka Senggani berkata,


" Ki Ageng Boyolangu jangan Salah paham dahulu, memang sebaiknya kami tidak tinggal disini, guna dapat bergerak bebas menyelidiki orang itu, jika kami berada disini, tentu gerak kami akan terbatas serta orang itu dapat melihat juga tidak akan mau melakukan nya disini, di rumah Ki Ageng ini," jelas Raka Senggani.


" Untuk itulah kami memerlukan sebuah rumah, dan kalau dapat rumah itu agak dekat dengan gunung tersebut, tentu ia akan dapat melihat teman kami ini dari tempat nya, sehingga ia akan berusaha untuk mendatangi kami," kata Raka Senggani lagi.


Ki Ageng Boyolangu memahami rencana dari Raka Senggani itu, ia pun mengatakan ada sebuah rumah yg kosong walau tidak terlalu besar yg berada tidak jauh dari kaki gunung itu.

__ADS_1


__ADS_2