Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 26 Bara dendam. bag pertama.


__ADS_3

kedua perempuan desa Kenanga yg juga merupakan murid dari Raka Senggani merasa kecolongan atas tewas nya Ki Raka Jang , Paman dari Raka Senggani.


Terlebih buat Sari Kemuning yg telah mendapatkan mandat untuk menjaga Paman Raka Jang.


Rasa sesal jelas tergambar di wajah cantik istri dari Senopati Sandi Yuda Demak Demak ini, terlebih saat ini ia tengah mengandung buah hatinya dengan Raka Senggani.


" Kemuning ,. jangan terlalu banyak di pikirkan, mungkin memang demikianlah perjalanan hidup dari Ki Raka Jang, sudah di gariskan tewas oleh seseorang, nanti kalau dirimu terlalu hanyut di bawa perasaan akan mengganggu bayi yg ada di kandungan mu itu,..jagalah kesehatan mu , Kemuning,.." ucap Dewi Dwarani menasehati.


Sari Kemuning menatap ke arah Dewi Dwarani, ia menatap dalam dalam wajah Putri Ki Bekel itu.


" Rani , apa yg harus kukatakan kepada kakang Senggani , jika seandainya ia telah kembali dan mendapati paman nya sudah tidak ada lagi di dunia ini, sedangkan diriku tidak berbuat apa-apa,.. sedangkan ia telah berpesan agar diriku lah yg menjaga nya, apa yg harus kukatakan,..Rani,..hik, hik, hiks,"


Ucapan dari Sari Kemuning ini di iringi dengan tangisan , membuat hati Dewi Dwarani pun tersentuh karena nya, ia pun tidak dapat berbuat apa-apa dan hanya diam saja.


" Yg jelas, kita ambil pengamanan desa Kenanga ini dari tangan para pengawal nya juga dari Romo mu sendiri, mulai saat ini kitalah yg akan ikut langsung berjaga dan bila perlu kita juga ikut nganglang,.." seru Dewi Dwarani.


" Yeahhh,..mungkin itu suatu pemikiran yg baik,..." sahut Sari Kemuning.


Ia terlihat menyeka airmata nya, bagaiamana pun juga ia tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan nya.


Begitu kedua nya kembali ke rumah nya masing-masing, Sari Kemuning langsung mengatakan niatan nya itu kepada Ki Jagabaya.


Awalnya , Pemimpin keamanan desa Kenanga ini mempertanyakan keinginan putrinya itu , tetapi kemudian akhirnya ia dapat mengerti.


Mulai saat itu , dua srikandi desa Kenanga ini ikut turun menjaga keamanan desa Kenanga dari para pendatang yg berniat buruk kepada desa tersebut.


Akan tetapi orang yg di cari oleh Sari Kemuning dan Dewi Dwarani ini pun sudah jauh meninggalkan desa itu,mereka kembali ke tempat asalnya.


" Adi , mudah mudahan guru akan senang mendengar apa yg telah kita lakukan ini,.." kata yg Lelaki.


" Maksudnya dengan membunuh Paman dari Senopati Brastha Abipraya itu,..?" tanya yg perempuan.


" Benar,..ia akan senang mendengar dengan kesedihan yg di terima oleh Senopati Pajang itu, karena selama ini kita dan gurulah yg seringkali harus merasakan kesedihan atas perbuatan Raka Senggani itu,.." sahut yg Lelaki.


Tanpa memperdulikan dan menjawab ucapan dari teman nya , Gadis itu kemudian berlari meninggalkan tempat itu.


Dengan ilmu peringan tubuh nya ia berlompatan diantara rerimbunan semak belukar dan bergerak cepat menuju ke arah puncak gunung Merapi.


Sebenarnya dalam hati gadis ini tidak mapan akan sikap dan perbuatan teman nya itu sehingga ia terus saja berlari.


" Adi Mayang, tunggu,..!" teriak Lelaki itu.


Ia pun mengenmposi tenaga dalam nya dan mengetrapkan ilmu peringan tubuh nya mengejar adik seperguruannya itu.


Ia yg tiada lain adalah Raden Kuda Wira, murid dari Mpu Loh Brangsang.


Ternyata ialah yg telah membunuh Ki Raka Jang dan kini mereka berdua telah pun kembali ke Gunung Merapi.


Kedua muda mudi ini seolah berkejaran diantara pepohonan yg berada di kaki gunung Merapi ini.


Mereka terus saja mendaki lereng Merapi untuk sampai naik ke atas.


Sehariaan keduanya melakukan nya,menjelang malam saat cahaya merah sang mentari terlihat merendah di ufuk barat barulah mereka tiba di padepokan Merapi itu.


Saat ini, yg jadi pemimpin padepokan Merapi adalah kedua orang tersebut, jika Mpu Loh Brangsang sedang berpergian.


Setiba nya di padepokan nya, Dewi rasani Mayang segera menuju ke ruang induk padepokan , ia memeriksa keadaan disana , apakah para cantrik nya melakukan sesuai dengan yg ia perintahkan, namun alangkah terkejutnya gadis itu ketika mendapati di dalam bangunan itu ternyata telah ada guru mereka Mpu Loh Brangsang yg duduk memebelakangi nya.


" Darimana saja kalian berdua ini, Eyang sudah cukup lama menunggu kehadiran kalian di sini,..?" tanya Mpu Loh Brangsang.


Agak kaget sebenarnya gadis ini mendaptakan pertanyaan dari gurunya ini.

__ADS_1


" Kami berdua dari desa kenanga, Guru,..!" sahut Dewi rasani Mayang.


" Hahh,..dari kenanga, apa yg kalian berdua lakukan disana,..?" tanya Mpu Loh Brangsang.


Dewi rasani Mayang terdiam.


" Kami telah membunuh paman dari Senopati Pajang itu , Guru,.." seru Raden Kuda Wira.


Pemuda yg baru tiba di depan pintu itu langsung menjawab pertanyaan guru nya karena ia tidak memdengar jawaban dari Dewi rasani Mayang.


" Kalian berdua telah membunuh kerabat dari Senopati Brastha Abipraya itu,..?" tanya Mpu Loh Brangsang kaget.


" Iya, guru, apakah tindakan kami berdua ini salah,..?" tanya Raden Kuda Wira.


" Kakang Kuda Wira sendiri , Mayang tidak ikut andil membunuh orang tua yg tidak mampu perlawanan itu,.." kelit Dewi Rasani Mayang.


Gadis ini masih kurang mapan hatinya ketika harus mengatakan ia telah ikut membunuh orang tua yg tidak berdosa itu.


" Ahhh, Tidak , Kuda Wira, langkah mu itu memang sudah benar, biar tahu rasa Senopati Brastha Abipraya itu, ketika pasukan perang nya kalah di Lor ,dan kali ini pun paman nya yg ada di Desa kenanga itu pun telah tewas, betapa kecewa nya dia , Guru senang memdengar nya,..!" sahut Mpu Loh Brangsang.


" Segeralah kalian berdua memebersihkan diri, ada yg ingin eyang katakan kepada kalian berdua , cepatlah, sebelum wayah sepi bocah kalian sudah harus berada disini lagi,.." ungkap Mpu Loh Brangsang lagi.


Kedua orang itu pun segera meninggalkan guru nya, mereka menuju pakiwan guna membersihkan tubuh nya.


Malam yg dingin di puncak Merapi membuat kedua tidak terlalu lama mandinya.


Keduanya segera bergegas memenuhi permintaan dari sang Guru tadi.


Sesaat setelah keduanya selesai menyantap makanan yg di sediakan oleh para Cantrik padepokan maka kedua nya langsung menghadap lagi Mpu Loh Brangsang.


Penguasa Gunung Merapi terlihat memang sudah semakin tua dengan rambut dan jenggot nya sudah memutih semua nya.


Setelah keduanya duduk bersimpuh di hadapan Mpu Loh Brangsang , guru nya itu.


" Begini , Kuda Wira dan kau Rasani Mayang, berhubung kalian berdua telah membunuh paman dari Senopati Brastha Abipraya itu maka Aku akan segera menjalankan rencana ku, untuk itulah kalian berdua ku panggil kemari guna membicarakan masalah ini dengan kalian berdua," ungkap Mpu Loh Brangsang.


Penguasa Gunung Merapi ini memang terlihat senang sekali, setelah ia mendaptakan kabar bahwa salah seorang , orang dekat dari Senopati Brastha Abipraya ini telah tewas , yg artinya ia mempunyai alasan tersendiri untuk melakukan sesuatu atas Senopati Brastha Abipraya itu.


Kedua murid nya saling berpandangan setelah mendengar penjelasan dari Gurunya itu.


Mereka berdua tidak menyangka bahwa pemikiran dari sang Guru lebih dahsyat dari yg mereka perkirakan terlebih untuk Dewi Rasani Mayang, yg memang sedari awal tidak setuju melakukan cara cara yg licik dan menghalalkan segala macam cara, hanya untuk mencapai suatu maksud.


Namun apa mau di kata semua keputusan ada di tangan Mpu Loh Brangsang, siapa yg berani menentangnya.


**********


Pada saat itu Raka Senggani dan Raden Abdullah Wangsa telah tiba di Surosowan , di wahanten , kediaaman dari Raden Maulana Hasanuddin.


Saat ini padepokan milik dari Putra Sunan Gunung Jati itu telah cukup ramai, banyak sudah orang yg belajar disana.


Dan kedatangan Senopati Bima Sakti adalah untuk sekedar meneyembunyikan Raden Abdullah Wangsa dari kejaran para pemburu kepalanya, sehingga putra Kanjeng Pangeran Sabrang Lor ini akan aman di Wahanten ini.


" Ada apa adi Senopati, apa yg telah membawa mu kembali kemari,..?" tanya Raden Maulana Hasanuddin.


" Ada sesuatu yg sangat penting yg ingin Aku sampaikan kepada Raden,..!" jawab Raka Senggani.


" Mengenai hal apa,..?" tanya Raden Maulana Hasanuddin.


Raka Senggani kemudian menceritakan serba sedikit mengenai peperangan yg telah terjadi di kota Melaka dan kekalahan yg di terima oleh Pasukan Kerajaan Demak dengan gugurnya Kanjeng Gusti Sultan Demak kedua.


Dan dari itu semua, saat ini Kerajaan Demak telah mengangkat seorang Raja yg baru menggantikan Kanjeng Sultan.

__ADS_1


Akan tetapi sejak perslihan kekuasaan itu , nyawa dan keselamatan dari Raden Abdullah Wangsa menjadi terancam, atas saran beberapa pemimpin pasukan armada laut Demak supaya Raden Abdullah Wangsa untuk sementara waktu di sembunyikan dan tempat yg cocok untuk nya adalah di Wahanten ini, demikian lah penjelasan dari Senopati Bima Sakti ini.


Raden Maulana Hasanuddin pun menerima nya dengan senang hati seraya berujar,..


" Asalkan Raden Abdullah dapat kerasan tinggal di tempat sunyi dan sepi jauh dari keramaian tidak seperti di Kotaraja Demak,..bukan begitu Raden,..!" kata Raden Maulana Hasanuddin kepada Raden Abdullah Wangsa.


" Sebenarnya saat ini diriku bukanlah siapa siapa,..malah sekarang ini , aku adalah salah seorang yg di buru dan kepala nya dihargai dengan lima ratus kepeng uang emas,..jadi mau tidak mau Aku harus kerasan ,..Paman,.." sahut Raden Abdullah Wangsa.


" Baguslah kalau begitu, itu artinya tidak ada masalah jika Raden Abdullah Wangsa tinggal di Surosowan ini,..!" jelas Raden Maulana Hasanuddin.


Pernyataan dari pemimpin padepokan Surosowan ini membuat hati Raka Senggani menjadi lega, untuk sementara waktu ia dapat meninggalkan putra Pangeran Sabrang Lor ini di Wahanten di bawah pengawasan Raden Maulana Hasanuddin yg menjadi penguasa disana, ditambah lagi , banyak tokoh tokoh sakti yg ada di padepokan Surosowan itu.


Sehingga hati Raka Senggani sudah bulat untuk meninggalkan Raden Abdullah Wangsa di Wahanten ini.


Ketika ia akan pamitan kembali ke Demak berkatalah Raka Senggani kepada Raden Abdullah Wangsa,..


" Adi ,.. Kakang akan kembali ke Demak jadi kakang harap dirimu akan betah tinggal disini, mungkin dalam waktu dekat setelah ada kejelasan di Kotaraja, kakang akan datang lagi kemari,.." ucap Raka Senggani.


Raden Abdullah Wangsa tidak mengatakan apa -apa, meski hatinya berat untuk berpisah dengan orang yg telah dianggap nya sebagai salah seorang saudara nya, begitu ia mendengar bahwa Senopati Bima Sakti akan segera kembali ke Demak , perpisahan telah di depan mata.


" Kakang Senopati , aku mengucapkan banyak terima kasih, mulai dari Melaka sampai disini, Kakang telah menjaga ku, mudah -mudahan perjalanan kembali kakang akan berjalan lancar tanpa ada gangguan apa pun juga,.. aku akan merindukan mu , kakang Senopati,.." ucap Raden Abdullah Wangsa.


Sambil memeluk tubuh Raka Senggani, putra Pangeran Sabrang lor ini terlihat menitikkan airmata.


" Sudah lah, adi ,..kita hanya sementara saja berpisahnya nanti setelah urusan di Demak seleaai ,kakang akan segera kembali kemari,.." ungkap Raka Senggani.


Kemudian Senopati Bima Sakti melepaskan pelukan Raden Abdullah Wangsa.


Ia juga segera berpamitan kepada Raden Maulana Hasanuddin sebagai si empunya padepokan.


Untuk selsnjutanya kemudian Senopati Sandi Yuda Demak itu segera melangkahkan kaki nya meninggalkan pintu gerbang padepokan Surosowan , sambil melambaikan tangan nya kepada mereka para penghuni padepokan itu.


Sebenar nya Raden Maulana Hasanuddin berniat meminjamkan kudanya kepada Senopati Bima Sakti ini akan tetapi di tolak oleh sang Senopati dengan alasan bahwa saat ini dirinya ingin berjalan kaki saja menikmati perjalanan nya.


Pagi yg cerah di bumi wahanten menyapa Raka Senggani. Pemuda itu terlihat sangat senang ketika ia telah cukup jauh meninggalkan padepokan Surosowan , dengan melewarti jalanan yg setapak yg masih sangat jarang di lewati oleh orang orang, bahkan terkadang masih terdengar suara auman si raja hutan yg tidak terlalu jauh dari dimana Senopati Bima sakti ini berjalan.


Para saat waktu zhuhur tiba, Raka Senggani berhenti pada tepian sebuah kali yg airnya cukup jernih,..ia segera mandi dan melaksanakan sholat, baru setelah nya melanjutakn lagi perjalanan nya.


Berjalan seorang diri ternyata kurang menyenangkan,..kata Raka Senggani dalam hati.


Ketika hari telah menjelang sore , Sang Senopati segera mengtrapkan ilmu lari cepat nya , guna mendapatkan sebuah pedukuhan , karena ia berniat bermalam di sebuah pedukuhan .


Ini semua ia lakukan agar mendapatkan berita yg lebih jelas lagi mengenai keadaan Kotaraja Demak.


Dan benar saja , ketika menjelang malam tibalah ia di sebuah pedukuhan kecil, Raka Senggani pun menginap di sana.


Ketika wayah sepi bocah, tiba tiba saja ia kedatangan salah seorang yg cukup ia kenal yg merupakan prajurit sandi Demak.


Raka Senggani agak terkejut atas kedatangan orang ini.


" Ada apa , Ki Lurah, mengapa sampai kemari,..?" tanya Raka Senggani heran.


" Banyak sebenar nya ingin ku katakan kepada mu Senopati Bima Sakti,..namun satu yg jelas,.bahwa telah terjadi sesuatu di desa kenanga,..!" sebut orang itu.


Ia adalah Ki Lintang Jaka Belek, merupakan Lurah prajurit sandi Demak yg menguasai wilayah Pajang sekitar nya.


Sehingga kehadiran nya cukup membuat heran Raka Senggani, mengapa tidak Ki Lintang Panjer Suruf atau Ki Lintang Panjer Rina yg menemui nya.


" Memang nya ada apa dengan Desa kenanga apakah ada sesuatu yg telah terjadi disana,..?" tanya Raka Senggani lagi.


Ia makin penasaran, karena

__ADS_1


__ADS_2