Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 18 Hati yang Terluka. bag ke sebelas.


__ADS_3

Senopati Pajang itu tetap duduk dan terus mengerahkan hawa murni nya.


Tatapan nya tidak lepas dari penguasa gunung Merapi itu yg hanya beberapa langkah saja di hadapan sang Senopati.


" Memang sudah sepatutnya dirimu ku kirim ke alam kelanggengan,..Bocah,.." seru Mpu Loh Brangsang.


Guru dari Adya Buntala itu mengangkat tangan kanannya siap melepaskan ilmunya. Akan tetapi yg tidak di ketahui oleh Mpu Loh Brangsang, bahwa jika dirinya tengah menempa diri guna mencapai pada kesempurnaan ilmu kadigajayaan demikian pula hal nya dengan Senopati Pajang yg berusia muda tersebut.


Jika Mpu Loh Brangsang meningkatkan ke dalaman ilmunya, sedangkan Raka Senggani mencoba mengusai beberapa ilmu yg baru di dapatnya.


Sehingga ketika tangan kanan yg terangkat dan siap melepaskan Ajian pamungkas nya, Aji Lebur Waja,.Mpu Loh Brangsang masih sempat berkata -kata,


" Ingatlah kedua orang tuamu bocah,..karena dirimu akan menyusul mereka,..heahhh,."


Habis ucapan dari Mpu Loh Brangsang itu maka tangan nya pun melontarkan Ajian Lebur Waja milik nya, dalam jarak yg sangat dekat , cahaya kebiru -biruan tersebut menghantam dengan sangat keras..


" Bleghuaaarrrr, "


Pohon yg di sandari oleh sang Senopati Pajang itu hancur berkeping-keping, akan tetapi sungguh terkejut penguasa gunung Merapi tersebut setelah tidak melihat sang Senopati berada di tempat nya ataupun terpental hancur akibat pukulannya itu.


Hehhhh,..kemana perginya bocah itu,..apakah dirinya telah ******,. tetapi kemana jasad nya begitulah pertanyaan yg berkecamuk di pikiran Mpu Loh Brangsang itu.


Ia masih berusaha mencari keberadaan dari Raka Senggani. Tatapan matanya di edarkan ke sekeliling tempat itu, tetapi dirinya tidak menemukannya, belum habis rasa heran nya , tiba -tiba,.


" Heaaahhh,."


" Dieggggghhh,."


" Aaakkhhhhh,.."


" Guruuuu,.."


Sebuah hantaman yg sangat keras mendera punggung dari Mpu Loh Brangsang tersebut sehingga membuat nya terlempar cukup jauh sambil meraung berteriak kesakitan. Penguasa Gunung Merapi itu tidak menyangka mendapatkan serangan tiba -tiba, setelah dirinya berusaha mencari tubuh Raka Senggani.


Bukannya menemukan orang nya malah dirinya lah harus menerima pukulan yg sangat keras sekali, tubuh dari Mpu Loh Brangsang jatuh tertelungkup,..ia masih sadar namun seperti sedang menatap bintang yg sangat banyak berputar -putar di atas kepalanya.


Penguasa Gunung Merapi itu berusaha bangkit,.dengan susah payah ia berusaha untuk duduk dan tidak terlalu lama Adya Buntala datang menghampirinya dan memapah nya untuk bangkit.


Tidak jauh dari kedua orang itu terlihat dengan gagah nya Senopati Pajang,. Senopati Brastha Abipraya tegak berdiri dengan kaki terbuka , kedua kepalan tsngan nya tergenggam erat.


Terlihat sekali bahwa pemuda itu dalam pengerahan ilmu nya dan sudah siap untuk melepaskan lagi.


" Bagiamana Mpu Gendeng,.. apakah kita dapat lanjutkan lagi pertarungan ini,.. kedudukan satu sama,.. sekarang dirimu telah merasakan apa yg telah kurasakan,." seru Raka Senggani.


" ******* , Kubunuh kau,..hiyyahhh,.." seru Adya Buntala.


" Jangannnn,.." teriak Mpu Loh Brangsang


Terlambat,.. Adya Buntala telah melepaskan ajian Lebur Waja nya, kembali selarik cahaya kebiru a menerjang sang Senopati,. sedangkan Raka Senggani yg telah siap mengahdapi segala kemungkinnanya juga melepaskan ajian Pamungkas nya,.Aji Sangga Kalimasada,..


" Heahhhh,.."


Benturan dua kekuatan pun kambali terjadi,..


" Dhumbhhh.._"


" Bletaaaaarrrr,.."


" Bleghuaaarrrr,"


Tubuh kedua orang itupun terpental cukup jauh,..Raka Senggani dengan kemampuan peringan tubuhnya tetap mengalasi jatuh tubuhnya agar tidak terlalu keras,. karena masih ada satu musuh lagi yg akan di hadapinya yaitu Penguasa Gunung Merapi,..Mpu Loh Brangsang.


Sementara itu Mpu Loh Brangsang dengan terseok -seok mendekati tubuh muridnya Adya Buntala yg terlontar cukup jauh .


" ******.. mengaoa kau tinggalkan Aku ,.. Buntala ,.." seru Mpu Loh Brangsang.

__ADS_1


Tokoh tua yg memiliki kemampuan setingkat dengan Mpu Supa Mamdrangi itu menjerit setelah melihat muridnya Adya Buntala itu sudah tidak bernyawa lagi.


Tanpa terasa airmata menetes dari sudut matanya. Tubuh Adya Buntala menghitam seperti habis terpanggang api yg sangat panas, beruntung Ternyata akibat yg di timbulkan dari benturan kedua ajian tadi,..tubuh Adya Buntala tidak hancur seperti tubuh Arya Pinarak.


Mpu Loh Brangsang mengangkat tubuh Adya Buntala yg sudah membeku itu dan di pangkunya,..sekejap kemudian,..


" Hufhhh,.. hiyyahhh,.."


Mpu Loh Brangsang melesat pergi meninggalkkan tempat itu,..dalam pada itu ia masih berseru dengan keras yg di tujukan pada Raka Senggani.


" Perhitungan kita belum selesai,..hutang nyawa harus kau bayar dengan nyawamu,..bocah,.."


Teriakan yg di lambari oleh tenaga dalam itu menggema di Alas Mentaok itu,..Sedangkan Raka Senggani tidak berbuat apa -apa,.ia tidak mengejar orang tua itu,..hanya melihat saja kemana perginya orang tersebut.


" Hoeekkhh,. "


Tiba -tiba saja sang Senopati Pajang itu muntah,..ternyata dirinya pun mengalami luka dalam yg cukup parah,.sehingga dirinya tidak mau mengejar penguasa Gunung Merapi.


Ia jatuh terduduk di atas rerumputan,.dan kembali memindahkan darah segar.


Akibat benturan berkali -kali dengan pengerahan tenaga dalam yg sangat tinggi akibat yg di detita dari sang Senopati rupanya cukup parah.


Yang paling membuat nya merasakan sangat sakit tatkala ia mendapatkan serangan dari Mpu Loh Brangsang itu.


Dari yg sebelumnya ia harus mengadu ajian nya terhadap Arya Pinarak.


Melihat hal itu Tumennggung Wangsa Rana buru -buru menghampiri sang Senopati,


" Bagaimana keadaanmu,.Ngger,..?" tanya nya.


" Ahh,.Senggani tidak apa -apa,.paman,." jawab nya.


Senopati Pajang itu merogoh saku nya dan mengambil sebutir pil yg berwarna kehitaman,.ia kemudian menelannya dan berujar,.


" Paman,..tolong ambilkan air dan celupkan cincin itu ke dalamnya,.." pinta nya kepada Tumennggung Wangsa Rana.


Senopati Pajang itu menerimanya, sementara Tumennggung Wangsa Rana melepaskan kembali cincin yg tadi di pinjamkan oleh Senopati Pajang itu.


Raka Senggani langsung merendamkan cincin tersebut,.agak lama barulah ia mengambil cincin tersebut dan meminum air dari Kali Opak.


Setelah meminum air yg di berikan oleh Tumennggung Wangsa Rana, serasa tubuh dari sang Senopati menjadi lebih segar.


Sakit di dadanya berkurang, jalan nafasnya pun mulai lancar,.tidak terlalu sesak lagi.


" Alhamdulilah,.." desisnya.


Ia pun duduk dengan bersedekap , kedua tangan nya berada di depan dadanya,. Senopati Pajang mulai mengatur jalan pernafasan dan ia mulai mengarahkan hawa murni nya guna mngurangi rasa sakit di dadanya itu.


Sedangkan pasukan Pajang secara keseluruhan berhasil mendesak dan membuat para kawanan rampok itu kocar kacir terlebih setelah mengetahui dua pemimpin mereka telah tewas.


Namun dasar rampok,.masih ada juga yg berusaha melawan setelah sebahagaian besar menyerah dan sebahagian kecil melarikan diri.


Kemenangan dari pasukan Pajang yg berjumlah sedikit itu cukup membesarkan hati Tumennggung Wangsa Rana. Walau ada korban dari prajurit Pajang dan pengawal tanah Perdikan Menoreh ,.tetapi tidak dalam jumlah yg besar.


Tumennggung Wangsa Rana lah yg kemudian mengumpulkan dan jadi Senopati pengganti dari Raka Senggani,.ia kemudian mmerintahakan para prajurit Pajang untuk mengikat dan segera membawa para tawanan untuk segera menyebrang ke arah Prambanan.


Memang saat itu matahari sudah Condong ke arah barat. Jadi Tumennggung Wangsa Rana beranggapan lebih baik menginap di Prambanan daripada di Alas Mentaok itu.


Selain mereka membutuhkan untuk merawat para prajurit yg terluka,. mereka juga tidak ingin ada gangguan lagi dari kawanan rampok yg telah melarikan diri itu.


Pendapat dari Tumennggung Wangsa Rana itu di setujui oleh para prajurit sandi Demak dan para pengawal tanah Perdikan Menoreh,. terlebih Ki Ageng Manguntur pun tengah terluka.


Kemudian secara berangsur -angsur,.para prajurit Pajang dan para pengawal tanah Perdikan Menoreh bergerak meninggalkan Alas Mentaok menuju ke Prambanan.


Adalah Raka Senggani lah yg paling belakang dalam penyebrangan kali ini,.ia di temani oleh Jati Andara dan Japra Witangsa.

__ADS_1


Kedua anak muda dari desa kenanga itu berusaha bergantian memapah Raka Senggani.


Memang setelah ia meminum air yg di berikan oleh Tumennggung Wangsa Rana tadi, tubuhnya jauh lebih kuat,.namun belum dapat menggunakan tenaga dalam nya,. karena akan membuat dada nya semakin sakit jika ia mengerahkan nya.


Dengan di bantu oleh Jati Andara dan Japra Witangsa, . akhirnya mereka tiba di Prambanan.


Tempat dimana mereka jadikan landasan. Malam itu,.para prajurit Pajang tampak sibuk,. mereka mengurusi para prajurit Pajang yg terluka dan juga pengawal tanah perdikan Menoreh.


Tumennggung Wangsa Rana kemudian berbincang kepada Ki Ageng Manguntur.


" Kami,..atas nama Adipati Pajang mengucapkan terima kasih atas bantuan Ki Ageng,.." ucap Tumennggung Wangsa Rana.


" Sama -sama,..adi Tumennggung,.. sebenarnya lah kami yg harus mengucapkan terima kasih yg banyak.karena jika dilihat dari kemampuan pemimpin rampok Alas Mentaok ini,.belum tentu kami akan dapat mengatasinya jika tidak di bantu dengan Kadipaten Pajang,." jawab Ki Ageng Manguntur.


" Sebenarnya ,. Kanjeng Gusti Adipati telah memikirkan hal dalam waktu yg lama,.ia sangat berharap bahwa Angger Senopati Brastha Abipraya lah yg akan memimpin pasukan Pajang untuk menumpas para kawanan rampok itu,..namun Angger Senopati masih berada di Demak,.sampai adi Jala Wisesa ngotot untuk datang menyerang kemari,.dan hasilnya .pasukan Pajang hampir tumpas seluruh nya,.." cerita Tumennggung Wangsa Rana.


Ki Ageng Manguntur mengangguk -anggukkan kepalanya , ia mulai mengerti mengapa pasukan Pajang waktu itu harus menderita kekalahan.


" Kapan Ki Ageng akan kembali ke Menoreh,..?" tanya Tumennggung Wangsa Rana.


" Besok adi Tumennggung,.. setelah terang tanah,.kami akan meninggalkan Prambanan ini.." sahut Ki Ageng Manguntur.


" Ki Ageng ,.. sering sering lah mengirmkan utusan ke Pajang,. karena sebenarnya Kanjeng Gusti Adipati Pajang amat bersedih tentang hubungan yg kurang akrab antara Menoreh dan Pajang,.." jelas Tumenggung Wangsa Rana.


" Aku akan mengirimkan satu dua orang pengawal tanah Perdikan Menoreh ke Pajang , jika suatu saat kami membutuhkan pertolongan,.." ucap Ki Ageng Manguntur.


Sampai malam kedua orang itu mengobrol,.. demikian pula dengan Raka Senggani.


Dirinya yg di temani oleh kedua orang temannya, Jati Andara dan Japra Witangsa bersama dengan sepuluh orang prajurit sandi Demak,. banyak cerita dalam obrolan kali ini.


" Apakah kalian besok akan bersama kamj kembali ke Pajang..?" tanya Raka Senggani.


Pertanyaan yg di arahkan kepada para prajurit sandi Demak yg telah sangat baik memimpin pasukan ketika bertempur tadi.


" Kami memang akan kembali pada esok hari,.. tetapi kami tidak akan kembali ke Pajang,.melainkan akan ke tempat dimana kami bertugas,." jawab Ki Lintang Jaka Belek.


" Oo,..kalau begitu,..Aku tidak akan bertanya lagi,." ucap Raka Senggani.


Karena ia tahu bahwa menanyakan dimana para prajurit sandi Demak itu bertugas adalah hal yg tabu untuk seorang prajurit sandi Yuda , apalagi dirinya adalah pemimpin nya.


Ki Panjer Rina kemudian berkata terus terang,..


" Apakah Senopati tidak melihat bahwa penguasa dari Gunung Merapi itu amat Terluka hatinya setelah mengetahui bahwa muridnya itu telah tewas di tangan Senopati,.." ucapnya.


" Yahh,..itulah akibat yg di timbulkan oleh sebuah peperangan,.. banyak kesedihan yg lahir dari suatu peperangan itu,..tentu Aku memahami apa yg di rasakan oleh Mpu Loh Brangsang tersebut,.." jelas Raka Senggani.


" Tetapi yg masih menjadi pertanyaan yg memgganjal di dalam hati ku,..mengapa Mpu Loh Brangsang itu tidak kembali bertarung dengan Senopati ,.. setelah kematian dari muridnya itu,..!" seru Ki Banyak Angkrem.


Raka Senggani yg merupakan tujuan dari ucapan Ki Banyak Angkrem segera menyahutinya,..


" Ada dua hal yg menyebabkan dirinya tidak meneruskan perang tanding tadi,..yg pertama .ia memang telah menderita luka dalam yg cukup parah akibat pukulanku sebelumnya,..dan yg kedua mungkin ia merasa tidak perlunya melanjutkan lagi pertarungan itu karena ia sudah tidak berkepentingan lagi,.lain ceritanya jika Adya Buntala masih hidup.mungkin ia akan mati -matian membelanya," jelas Raka Senggani


Semua yg ada di tempat itu baru mengerti mengapa Mpu Loh Brangsang itu meninggalkan pertarungan,.terlebih setelah kematian dari muridnya tersebut.


Jati Andara pun ingin mengetahui mengapa temannya itu sempat terpukul oleh penguasa dari Gunung Merapi itu.


Raka Senggani menjelaskan bahwa memang Mpu yg berasal dari Gunung Merapi itu memiliki kemampuan ilmu peringan tubuh yg nyaris sempurna,.sehingga ia dapat berdiri tanpa menjejak tanah,.. dan dalam hal ini,.ia mengakui bahwa dirinya masih kalah dalam hal ilmu peringan tubuh,. sehingga ketika serangan yg di lepaskan oleh penguasa Gunung Merapi itu,. Senopati Pajang tersebut terlambat menghindarinya .


Dan akibat nya sangat parah ,.. tubuhnya harus menerima nya dengan telak, kemudian Senopati Pajang itu mengatakan bahwa mereka harus lebih meningkatkan ilmu peringan tubuhnya,.


Karena dalam suatu perang tanding,.selain ketinggian suatu ajian, sangat di perlukan juga Ilmu peringan tubuh yg mumpuni dan itu telah di tunjukkan oleh penguasa Gunung Merapi tersebut.


Baik Jati Andara maupun Japra Witangsa memahami apa yg telah diucapkan oleh Senopati Pajang tersebut,.yg telah mereka anggap sebagai seorang guru.


Pembicaraan dan pengenalan atas para prajurit sandi Demak membuat kebahagiaan tersendiri untuk Jati Andara dan Japra Witangsa,. karena selain ke sepuluh prajurit sandi itu memiliki kemampuan yg cukup tinggi,.. mereka pun cukup enak untuk diajak berbicara.

__ADS_1


Karena memang , menjadi ciri dari seorang prajurit sandi adalah mereka harus dapat berbaur dengan rakyat biasa, atau dapat menyamar sebagai apa pun itu.


Jadi tidak terlihat kesombongan dari mereka,..dan yg mengetahui bahwa mereka adalah prajurit sandi Demak adalah Raka Senggani sendiri,.tidak dengan Japra Witangsa dan Jati Andara,.mereka mengira bahwa mereka di kirimkan oleh Tumenggung Bahu Reksa guna membantu Raka Senggani memberantas para kawanan rampok Alas Mentaok itu


__ADS_2