Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 19 Hari yang Baru. bag ke Lima.


__ADS_3

" Mungkin lusa Ki Bekel dan tempat nya di pategalan si Mbok Rondo,..!" jawab Raka Senggani.


Senopati Pajang memang menginginkan lebih cepat pembangunan rumah untuk paman nya tersebut.


" Baik jika memang demikian, kami akan siap membantu , dan akan mengerahkan para warga Desa guna membantu Angger Senggani,.." jawab Ki Bekel.


" Terima kasih Ki Bekel, karena Senggani akan segera kembali dan membicarakan hal ini dengan Ki Lamiran,. Senggani pamit pulang,.." ucap Raka Senggani.


Pemuda itu lantas bangkit dari tempat tersebut. Padahal sebenarnya Nyi Bekel tengah memyiapkan sajian dengan di bantu oleh Dewi Dwarani.


Tetapi karena Senopati Pajang itu tengah terburu-buru ,.ia mengatakan nanti malam akan datang lagi ke rumah Ki Bekel.


Raka Senggani langsung menemui Ki Lamiran di pategalan , memang saat itu bukan hari pasaran sehingga pande besi desa Kenanga itu berada di lahan pategalan.


Sangat cepat Senopati Pajang berjalan sebentar kemudian ia telah sampai di sana.


Dilihatnya,Ki Lamiran tengah berdiri dengan seseorang yg tiada lain adalah Ki Jagabaya. Karena pada saat Raka Senggani ke rumah Ki Bekel,.Ki Lamiran mendatangi rumah Ki Jagabaya dan mengatakan hal itu kepada pemimpin keamanan desa Kenanga tersebut.


Dan langsung saja mereka berdua ke pategalan.


" Wah , tepat sekali Angger Senggani telah datang,.." seru Ki Lamiran.


Setelah melihat pemuda itu mendekati mereka berdua.


" Mengapa Ki Jagabaya telah berada disini,..?" tanya Raka Senggani heran.


Kemudian Pande besi itu menceritakan ,bahwa dirinyalah yg telah memberitahukan kepada Ki Jagabaya tersebut.


" Benar ,..Ngger,..aki Lamiran tadi yg telah menceritakan kepada kami atas niatan Angger yg ingin membuatkan tempat tinggal untuk Kj Raka Jang itu , jadi kami langsung kemari," jelas Ki Jagabaya.


" Mungkin tempat ini cocok untuk mendirikan sebuah rumah, karena tidak terlalu jauh dari sendang dan juga tidak terlalu jauh dari gubuk ini,..Ngger,.." ucap Ki Lamiran.


Raka Senggani memandangi tempat yg di tunjukkan oleh Ki Lamiran tersebut.


Ia pun menyetujui nya,..bahwa tempat itu memang cocok untuk mendirikan sebuah rumah.


Setelah selesai meninjau tempat nya kemudian Ki Lamiran menanyakan kapan waktu nya untuk mulai membangunnya.


Oleh Raka Senggani di jawab pada esok lusa.


Mendengar hal tersebut kemudian Ki Jagabaya mengatakan kepada Pemuda itu,.apa tidak sebaiknya mencari hari yg tepat dengan menanyakan kepada salah seorang yg lebih memahami tentang hari.


Raka Senggani langsung melirik kepada Ki Lamiran.


Orang tua itu langsung berkata,..


" Aki tidak tahu Ngger,..mungkin sebaiknya engkau tanyakan kepada kakang Mukri,.ia lebih mengerti,.." ucap Ki Lamiran.


Seolah menjawab pertanyaan dari Raka Senggani yg dimintai pendapatnya.


" Akan tetapi , Senggani telah mengatakan kepada Ki Bekel, pembangunan nya pada esok lusa,..Ki ,." ungkap Raka Senggani.


Seakan bahwa nanti jika telah berganti hari para warga desa akan tidak mau lagi membantunya.


" Tidak apa -apa,.Ngger,..setelah Ki Mukri menyebutkan hari yg pas , aki sendiri yang akan mengatakan kepada para warga desa untuk membantu,.angger tidak perlu khawatir,.." ucap Ki Jagabaya.


" Terima kasih kalau begitu Ki,..Senggani akan menemui Ki Mukri, dan nanti langsung kemari,.." jawab Raka Senggani.


Kembali pemuda itu bergerak dengan cepatnya menuju kediaman orang yg di tuakan di desa itu yg bernama si Mbah Mukri. Orang tua itu mungkin lebih tua dari Ki Lamiran, tetapi terlihat masih gagah,..di masa Majapahit , ia adalah seorang Prajurit.


Pada saat Singo Lorok dan kawanan nya menyerang desa Kenanga, Orang tua yg bernama Mbah Mukri ini turut andil mengalahkan para kawanan rampok tersebut.


Setiba di rumah si Mbah Mukri ,.orang tua itu tampak kaget setelah melihat kehadiran dari Senopati Pajang tersebut.


" Oalah dalah,..ada apa Wong agung ,..mampir ning omah ku,.toh,...?" seru nya.


Di sertai sedikit kelakar orang tua yg bernama mbah Mukri menanyakan maksud kedatangan dari Senopati Pajang tersebut.

__ADS_1


Kemudian secara singkat Raka Senggani menjelaskan maksud kedatangan nya adalah untuk menanyakan hari yg pas guna membangun sebuah rumah.


Rumah yg di peruntukkan bagi paman nya itu dan akan d bangun diatas lahan pategalan.


Orangtua itu kemudian mengajak masuk ke dalam rumah nya. Dan di dalam rumah tersebut , kemudian dirinya menjelaskan bahwa saat yg baik untuk melaksanakan nya adalah tepat hari pasaran , itu artinya masih ada tiga hari lagi.


Apakah tidak terlalu lama,.pikir Senggani. Namun karena mereka telah sepakati dengan Ki Jagabaya dan Ki Lamiran,..maka pendapat dari si mbah Mukri pun di terimanya.


Ia pun segera mohon pamit untuk menyampaikan hal tersebut pada Ki Lamiran dan Ki Jagabaya.


Demikian lah , di desa Kenanga , Senopati Brastha Abipraya tengah di sibukkan membangun tempat tinggal yg akan di berikan nya kepada Paman nya tersebut.


Di tempat lain ,.. tepatnya di Kademangan Muncar,..Raka Yantra yg telah kembali di sambut dengan haru oleh adik dan ibunya . Mereka tidak menyangka bahwa pemuda itu masih dapat selamat atas kejadian perampokan yg terjadi di hutan kecil itu.


" Mungkin yg maha Kuasa masih memberiku umur yg panjang,.Biyung,."


Kata pemuda itu kepada ibundanya dan sang ibu pun terlihat senang setelah melihat kehadiran putra nya tidak kurang suatu apa.


" Syukurlah ngger,.bahkan uang hasil penjualan mu pun masih selamat lantaran Si Ireng terus membawa nya pulang kemari,."


Sahut sang ibu yg menyebutkan kuda tunggangan putranya itu berhasil kembali dengan membawa hasil daganganya.


" Hehhh,.."


Raka Yantra teekejut mendengar nya, ia tidak menyangka bahwa kudanya itu terus saja berlari pulang tanpa ada pengendaranya.


" Begitulah Ngger, kita wajib bersyukur akan hal ini,.selain dirimu telah selamat kembali ,.uang mu pun telah selamat juga,.." kata ibunya lagi.


Yah ,..memang kita wajib bersyukur akan hal itu, kata Raka Yantra dalam hati. Akan tetapi tidak satu hal yg mengganjal di dalam hatinya,.ia ingin mengatakan kepada ibunya itu atas niatanya untuk berguru kepada seseorang yg bernama Eyang Branang.


Tetapi ia segan mengutarakan nya , khawatir, jangan -jangan ibunya tidak mengizinkan nya.


" Kakang mengapa diam saja, ada yg di pikirkan,..?" tanya Rawuni.


Adik Perempuan nya melihat kegelisahan yg terjadi sejak kepulangan kakak nya itu, seperti sedang ada yg di pikirkannya .


Raka Yantra menatap adiknya itu dengan tatapan yg sulit untuk menjelaskan isi hatinya. Memang di dalam hatinya berkata, adiknya yg sudah sangat dewasa itu belum pun mendaptakan jodoh, apakah karena sikap mereka atas orang tuanya,.itu yg membuat nasib mereka kurang beruntung.


Jika Ayah nya tersebut berada bersama mereka tentu ia dapat langsung meninggalkan kedua nya tanpa harus khawatir akan keadaan mereka.


" Hehh,..di tanya kok malah tidak menjawab ,.ada apa dengan mu Kang,..mengapa berubah jadi aneh,..?" tanya adiknya lagi.


" Ahh,..tidak,.tidak ada apa -apa,..kakang hanya merasa aneh dengan semua yg telah terjadi , itu saja,." jawab nya berbohong.


Tetapi tetap saja ia tidak dapat menyembunyikan kegelisahan hatinya. Karena ia memang sudah bertekad untuk mempelajari ilmu silat dan kadigjayaan pada seseorang yg bernama Eyang Branang itu.


Tetapi bagaimana caranya agar ia medaptakan restu dari ibunya tersebut.


Pada keesokan harinya , Raka Yantra masih termenung ,.ia masih saja bingung untuk mengatakan hal itu kepada biyungnya.


Dan hal ini menjadi perhatian dari ibunya.


" Ehh,.ada apa dengan mu,..ngger,..biyung lihat dari kemarin sejak sampai di rumah, dirimu menjadi pemurung , apa yg membuat mu menjadi demikian,..?" tanya ibundanya.


Raka Yantra hanya menundukkan wajah nya,.ia masih belum sanggup menyampaikan nya.


Hingga sang ibu memdesak nya barulah , ia berkata,..


" Sebenarnya Yantra ingin belajar ilmu silat, biyung ," jawab nya pelan.


Sambil tidak berani melihat ibunya itu.


" Ohh, biyung kira apa,.ternyata itu toh,.." serunya.


Nada ucapan sang ibu yg tidak memarahinya maka Raka Yantra pun segera berani menyampaikan maksud nya.


Ia berterus terang bahwa setelah mengalami perampokan itu, diirnya telah bertemu seorang tua yg mau mengajarinya dalam hal ilmu silat, dan akan menurunkan ilmunya itu kepadanya.

__ADS_1


Hanya saja dirinya harus meninggalkan biyung dan adiknya untuk sementara waktu, karena jarak nya cukup jauh, ia harus nyantrik.


Mendengar penuturan dari anak lelakinya tersebut , perempuan tua itu pun menghela nafasnya, meskipun mereka tidak terlalu kesulitan dalam hal pangan,.akan tetapi jika harus di tinggalkan oleh putranya itu , hatinya menjadi berat, karena tinggal mereka berdualah yg ada di rumah tersebut dan dua duanya adalah perempuan.


Hal itu pulalah yg menjadi ganjalan di hati pemuda itu,.ia merasa sedih , karena harus berpisah dengan kedua nya.


Tetapi berdasarkan pengalaman yg telah di alaminya ,.. tuntutan untuk menimba ilmu silat sudah sangat penting menurut nya, agar ia tetap dapat melakukan perjalanan dalam hal berdagang, apalagi ia berdagang benda benda wesi aji. Yang tentu harga nya cukup mahal.


" Itulah biyung yg membuat hati Yantra tidak tega untuk meninggalkan Kademangan ini, akan tetapi setelah apa yg terjadi pada hari kemarin itu, Yantra memang perlu belajar lagi silat demi menjaga diri,.." jelas Raka Yantra.


Adik perempuan nya yg bernama Rawuni datang dan mendengar hal tersebut langsung menyahutinya,..


" Tidak apa apa Kang,..kakang dapat pergi dan setiap satu purnama dapat pulang ke Muncar ini,."


Ucapan dari Rawuni itu seperti nya merupakan jalan keluar yg terbaik menurut pemuda itu.


Akhirnya ia menyetujui usulan adiknya itu, Raka Yantra berjanji untuk tetap pulang pada saat satu purnama .


Sehingga dapat melihat keadaan di Muncar.


Walaupun agak berat perempuan tua itu pun menyetujui usulan anak gadisnya itu seraya berkata,.


" Untuk itu,..dirimu harus segera mendapatkan jodoh agar kita tidak terlalu sunyi di rumah ini,.." ledek ibunya kepada Rawuni.


Gadis itu tampak cemberut mendaptakan ledekan biyungnya tersebut,.


" Iya biyung,..sayang jodoh Rawuni masih tinggal di Kotaraja Demak,.." sahutnya.


Raka Yantra yg mendengar ucapan dari Biyung nya segera tersenyum senyum, mendengar ledekan biyungnya itu hatinya tersentuh ,..memang adiknya tersebut cukup manis , akan tetapi mengapa dirinya belum menemukan jodohnya. Apakah karena kehidupan mereka yg tanpa Orang tua laki -laki itu.


Sedangkan di Desa Kenanga,.pada hari pasaran di desa itu terlihat Ki Lamiran tidak terlalu lama berdagang , ia segera cepat kembali setelah hari itu adalah untuk pertama kali membangun rumah yg akan dilasanakan..


Bergegas Ki Lamiran menuju pategalan pada saat Matahari telah menggatalkan kulit.


Sudah cukup banyak orang yg berada di tempat itu, termasuk dengan Ki Bekel, Ki Jagabaya dan juga beberapa pengawal desa.


Ada satu hal yg menarik hati untuk Ki Lamiran setelah melihat seseorang yg bercakap cakap dengan Senopati Pajang, mereka berdua cukup serius membicarakaan sesuatu hal.


" Kami di perintahkan oleh Kanjeng Sinuwun untuk membantu Senopati ,.." ucap orang itu kepada Raka Senggani.


" Kami sungguh berterima kasih sekali atas perhatian dari Kanjeng Sinuwun itu, siapakah yg telah mengatakan kepada beliau akan hal ini ,..?" tanya Raka Senggani.


Orang tersebut tampak tersenyum,..ia mengerti maksud dari Raka Senggani yg merupakan Senopati Sandi Yuda Demak, dan juga merupakan pemimpin nya.


" Tampaknya kemarin Ki Jaka Belek telah lewat dari desa Kenanga ini,.." ucap orang itu.


" Hehh,..!"


Senopati Brastha Abipraya itu terkejut mendengar nya, mengapa salah seorang dari bawahan nya lewat tetapi ia tidak singgah, sehingga dapat mengirimkan pesa kepada Tumenggung Bahu Reksa.


" Senopati,.. tidak perlu merasa heran ,.memang Kj Jaka Belek bertugas di kawasan Pajang ini sehingga ia dapat mengetahui keadaan disini,.termasuk dengan adanya dua orang yg tengah memperhatikan desa ini dan tampaknya memilki kemampuan cukup tinggi,.." jelas orang itu lagi.


Pernyataan nya kali ini membuat hati Senopati Brastha menjadi bertanya -tanya,..siapakah orang yg dimaksud nya itu.


" Entahlah,.. tampaknya kedua orang itu tengah melintas,..lewat dari desa ini ,.. tetapi gerak gerik mereka yg cukup mencurigakan oleh Ki Jaka Belek telah sampai pada kami semua para prajurit sandi,..jadi sebaiknya Senopati harus lebih berhati -hati,.." ucap orang itu.


Raka Senggani tampak terdiam, disaat dirinya tengah mengerjakan sesuatu ,..dari kalangan prajurit sandi ia mendaptakan kabar bahwa ia tengah di awasi oleh dua orang yg tampaknya tidak bermksud baik.


" Baiklah Ki Lanjer Ngirim,..semua barang dan bantuan yg telah di berikan oleh Kanjeng Sinuwun sangat membantu ku,.. sampaikan ucapan terimakasih ku , kepada Kanjeng Sinuwun itu,..Ki,.." ucap Raka Senggani.


" Jangan khawatir,.. Senopati,.. karena selain bantuan ini.. Kanjeng Sinuwun juga akan memberikan bantuan jika Senopati akan menikah,..dan itu telah di sampaikan oleh Tumenggung Bahu Reksa,.." jawab Ki Lanjer Ngirim lagi.


Atas ucapan nya itu, kembali Raka Senggani merasakan bahwa kini dirinya telah mendapatkan sesuatu di luar batas perhitungannya.


Selesai bicara dengan Ki Lanjer Ngirim,..kemudian Raka Senggani segera berkumpul dengan Ki Bekel,..Ki Jagabaya ,.Ki Lamiran dan Ki Mukri.


Ditambah lagi para pemuda desa yg di pimpin oleh Suro Birono,..dengan Jati Andara dan Japra Witangsa sebagai penggerak nya.

__ADS_1


Dari kalangan perempuan ada,..Nyi Bekel, Nyi Jagabaya,..Sari Kemuning, Dewi Dwarani dan banyak lagi,.sehingga pategalan itu sangat ramai saat menjelang senja.


Pada hari pertama, para warga hanya memasang beberapa tiang kayu sebagai pertanda pembangunan telah di mulai.


__ADS_2