Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 9 Sentuhan bag pertama.


__ADS_3

Sesàat malam menjelang di kota Pajang, Raka Senggani atas persetujuan Tumennggung Wangsa Rana membawa ke empat teman nya berlatih di sebuah tempat yg tidak jauh dari kota itu.


Bersama dengan Lintang Sandika ia mulai memberikan Sentuhan pada ke empat nya tentang pengungkapan tenaga dalam , bahkan mereka mulai di kenalkan dengan aji Wajra Geni milik nya itu.


" Buat semua nya, bahwa pengungkapan tenaga dalam itu merupakan bagian terpenting dari sebuah ilmu atau ajian, dan Senggani berharap kepada kalian semua agar segera menjalani sebuah laku,"


ungkap Raka Senggani.


" Sebuah Laku, maksudmu semacam tirakat atau mesu diri,?"


tanya Japra Witangsa


" Benar kakang Witangsa, kalian harus sudah mulai melakukan hal itu supaya dapat mengungkapkan tenaga dalam itu menjadi sebuah ajian yg maha dahsyat,"


jelas Raka Senggani.


" Jadi untuk bisa mengungkapkan tenaga dalam ini kami harus melakukan semacam tirakat itu, Ya, kakang Senggani,?".


tanya Sari Kemuning.


" Bukan cuma itu saja, tetapi kalian harus dapat memusatkan nalar dan budi agar semuanya dapat berjalan dengan sempurna, dan mulai hari ini, Senggani akan melihat kemajuan yg telah kalian peroleh,"


" Kakang Witangsa, coba maju dan tunjukkan jurus terkahir yg telah kakang terima dariku sewaktu masih di Kenanga,"


Terdengar perintah dari Raka Senggani, Japra Witangsa, putra Ki Jagabaya itu pun maju, ia mulai melakukan kuda -kuda dan kemudian memperagakan gerakkan yg di minta oleh Raka Senggani itu.


" Bagus, bagus,!" seru Raka Senggani.


" Dari yg Senggani lihat tadi bahwa kakang Witangsa telah mampu melakukan nya dengan baik, bahkan sudah sangat tepat sekali, jadi menurutku yg lain pun telah memiliki kemampuan yg sama dengan kakang Witangsa,".


" Marilah kita duduk bersama, kita akan mulai belajar bagaimana cara nya mengeluarkan tenaga dalam, sehingga kita tidak akan kesulitan jika menghadapi lawan yg memiliki tenaga dalam yg tinggi," ungkap Senopati Pajang itu.


Ia kemudian duduk bersila dan mulai menarik nafas dengan teratur, tangan nya yg terpentang kemudian di tarik nya ke arah dada dan di satukan kedua telapak tangan nya itu di depan dada.


" Hiyyah, " teriak Raka Senggani.


Ia membuka kedua telapak tangan nya itu mengarah ke sebuah gerumbul semak belukar.


Dan semak belukar itu pun kemudian bergoyang akibat hantaman dari arah telapak tangan nya itu.


Semua yg hadir di situ memandangi tidak berkedip kepada apa yg telah di lakukan Raka Senggani itu.


" Hebat, hebat, hebat,". teriak Sari Kemuning


" Coba kamu Kemuning lakukan seperti yg telah kakang lakukan tadi,"


perintah Raka Senggani kepada Sari Kemuning.


" Baik kakang," ujar Sari Kemuning.


Kemudian putri dari Ki Jagabaya itu melakukan apa yg telah di perlihatkan oleh Raka Senggani tadi.


Mulai dengan tangan terbuka kemudian posisi bersedekap dan selanjutnya mengarah kan kedua telapak tangan yg terbuka itu ke arah gerumbul semak belukar.


" Heaaah,". teriak Sari Kemuning.


Namun gerumbul semak belukar itu tetap seperti biasa tidak bergoyang sedikit pun


" Bagaimana ini kakang Senggani, mengapa Kemuning tidak mampu melakukan seperti yg telah kakang Senggani lakukan tadi,?". tanya Sari Kemuning


Dengan nampak kekecewaan di raut wajah cantik putri Ki Jagabaya itu.


" Jangan terlalu dirisaukan Kemuning, nanti juga bisa,"


jawab Raka Senggani


Kemudian Raka Senggani menyuruh kepada Japra Witangsa untuk melakukan hal yg.


" Kakang Witangsa, pusatkan seluruh pancaindera mu pada satu titik dan rasakan tenaga yg ada dialiran darahmu lalu kumpulkan pada satu titik yaitu pada kedua telapak tangan lalu lepaskan lah," ucap Raka Senggani.


Ia memberikan arahan kepada Putra Jagabaya desa Kenanga itu, dan semua petunjuk itu dilakukan oleh Japra Witangsa, hingga ia berteriak,


" Hiyyyah,"


Dari kedua telapak tangan nya itu serasa ada tenaga yg keluar , tenaga yg tidak kasat mata dan hasil nya gerumbul semak belukar itu terlihat bergoyang.


" Adi Senggani , aku berhasil, aku berhasil,". teriak nya.


" Yah, kakang Witangsa telah berhasil mengungkapkan tenaga dalam itu,"


seru Raka Senggani.

__ADS_1


" Dan sekarang giliran untuk kakang Andara, silahkan kakang,!". kata Raka Senggani lagi.


Putra Ki Bekel itu segera memusatkan nalar budi nya, ia mengikuti semua arahan dan petunjuk dari Raka Senggani, sampai ia berteriak,


" Heaaahh,''


Dan dari telapak tangan nya itu pun berhasil menggoyangkan semak belukar itu dan Putra Bekel desa Kenanga itu terlihat bergembira atas hasil yg telah di capai nya.


Selanjut nya adalah Dewi Dwarani yg mulai melakukan nya, ia terlihat memusatkan seluruh perhatian nya dengan tangan bersedekap di depan dada sambil mengatur jalan pernafasan nya, terasa di aliran darah nya timbul suatu tenaga yg di kumpulkan nya di kedua tangan nya hingga ia membuka nya sambil berteriak, kembali gerumbul itu bergerak meski tidak sekuat dari Japra Witangsa dan Jati Andara.


Dan putri Ki Bekel itu pun terlihat senang, adalah Sari Kemuning yg merasa tidak senang membuat nya nampak termenung.


" Kemuning , silahkan ulangi lagi, dan pusatkan segala sesuatu nya kepada yg Maha Kuasa dan rasakan aliran tenaga yg ada di dalam tubuh mu lalu keluarkan lah,"


perintah Raka Senggani.


Kemudian putri dari Jagabaya itu melakukan kembali apa yg telah diajarkan oleh Raka Senggani itu dan ia pun melepaskan nya mengarah ke semak belukar itu tetapi hasil nya tetap nihil, ia belum mampu mengerahkan tenaga dalam nya.


" Bagaimana ini kakang Senggani, Kemuning tetap tidak berhasil,!"


serunya dengan nada kecewa.


" Sabar Kemuning, kau harus lebih bersabar, dan untuk yg lain, ulangi lah semua nya agar kalian semakin terbiasa melakukannya," ucap Raka Senggani.


Sedqngkan Senopati Pajang itu mendekati Sari Kemuning, ia duduk berhadap - hadapan dengan putri Jagabaya itu.


Sangat dekat kedua nya duduk, lutut nya menyentuh lutut Sari Kemuning.


" Angkat kedua tangan mu itu, Kemuning,"


kata Raka Senggani.


Dan Sari Kemuning pun melakukannya, ia menuruti segala perintah dari Raka Senggani.


Kemudian Raka Senggani pun menempelkan kedua tangan nya itu ke tangan Sari Kemuning.


" Rasakan tenaga yg akan mengalir ke tangan mu itu, dan kau harus menerimanya, nanti usahakan agar tenaga itu dapat Kemuning keluarkan lagi,"


jelas Raka Senggani.


" Baik kakang,"


jawab Sari Kemuning.


Agak lama baru Raka Senggani dapat memusatkan pikirannya setelah sebelum nya ia sangat sulit untuk menguasai perasaan nya itu.


Dengan segenap kemampuan nya ia mulai mengerah kan tenaga dalam nya ke tangan gadis yg di cintai nya itu.


Perlahan-lahan rasa hangat hadir di kedua telapak tangan Sari Kemuning, ia segera menerima nya, agak lama Raka Senggani mengerahkan tenaga nya itu dan setelah dirasanya cukup ia pun menarik kedua tangan nya dan memerintahkan kepada putri Jagabaya itu untuk mengeluarkan nya.


" Kemuning kerahkan seluruh tenaga mu pada titik di dua tangan mu itu serta keluarkanlah,"


perintah Raka Senggani.


Sari Kemuning kemudian menuruti segala perintah dari Raka Senggani itu.


Ia pun segera berseru,


" Hiyyyah,!"


Dan hasilnya sungguh mengagumkan , gerumbul semak belukar itu sampai condong seperti terkena angin yg sangat keras.


Raka Senggani yg melihat itu sampai bertepuk tangan,


" Bagus, bagus, kau berhasil melakukan nya, Kemuning,"


Sari Kemuning pun nampak bahagia dengan hasil yg telah dicapai nya itu.


" Terima kasih kakang Senggani," ucap nya.


Sambil langsung memeluk pemuda yg ada dihadapannya itu.


Raka Senggani sampai gelagapan akibat pelukan itu.


Kembali ia harus mampu menahan gejolak di dalam dadanya. Akibat pelukan yg hangat itu, deburan ombak di lautan masih kalah dengan deburan jantung nya yg berpacu sangat cepat.


" Eheemm, ehm, kalian disini tidak berdua saja, tetapi masih ada kami,"


ucap Jati Andara sambil batuk -batuk.


" Ohh, maaf, maaf, " ujar Raka Senggani.

__ADS_1


Seraya melepaskan pelukan dari Sari Kemuning itu, ia pun langsung berdiri.


" Karena kalian semua telah berhasil mengungkao kan tenaga dalam, maka mulai saat inj Senggani harap agar terus melatihnya serta mematangkan nya, semakin sering kalian melakukan akan semakin mudah untuk menggunakan nya,". ucap Raka Senggani lagi.


" Siap, Guruuuu," jawab ke empat orang itu secara serempak.


" Oh iya, jika kalian membutuhkan lawan tanding, kakang Lintang Sandika ini dapat membantu kalian," jelas Raka Senggani.


" Bukan begitu, kakang,?" tanya nya kepada Lintang Sandika.


" Beres adi Senggani, aku bersedia membantu mereka," jawab Lintang Sandika.


" Setelah kalian dapat mematangkan tenaga dalam itu barulah kita akan melanjutkan kearah laku agar dapat menerima ajian Wajra geni, memang laku yg akan dijalani itu cukup berat tetapi jika kalian bersungguh -sungguh tentu akan dapat menjalani nya," kata Raka Senggani lagi.


Ia melanjutkan lagi perkataan nya,


" Mungkin untuk malam ini, sudah cukup besok akan kita lanjutkan lagi, jika Senggani di perintahkan untuk mengawasi dan memberikan arahan kepada para calon prajurit itu, Senggani harap kalian berlatih dengan kakang Lintang Sandika ini, marilah kita kembali ke rumah Paman Tumenggung Wangsa Rana," ajak Raka Senggani.


Ke enam orang itu kemudian beranjak dari tempat itu menuju rumah Tumenggung Wangsa Rana.


Meskipun malam telah larut, namun mereka tetap berjalan santai dan tidak terburu-buru.


Sari Kemuning kemudian berjalan di samping Raka Senggani.


" Apakah kakang akan segera kembali ke Demak,?" tanyanya.


" Kakang tidak tahu Kemuning, kemungkinan nya tidak, karena saat ini di Pajang sendirj kakang dapat tugas untuk mendadar para prajurit Pajang untuk dapat bertempur dan berperang diatas kapal atau perahu,!" jelas Raka Senggani.


" Memang nya di Pajang ada kapal , dan mengapa para prajurit itu harus memiliki kemampuan berpaerang diatas kapal,?" tanya Sari Kemuning.


" Ini sesuai dengan arahan dari Kanjeng Pangeran Sabrang Lor yg menginginkan para prajurit itu dapat memiliki kemampuan berperang diatas kapal agar nanti saat Demak berperang melawan bangsa asing di sebelah barat itu, mereka dapat diandalkan,!" jelas Raka Senggani lagi.


" Memang nya Demak akan berperang lagi,?" tanya Japra Witangsa.


Putra Jagabaya desa Kenanga yg mendengar pembicaraan dari Raka Senggani dan adiknya itu terlihat penasaran atas penjelasan dari Senopati Pajang itu.


" Yah, Demak akan berperang lagi melawan bangsa asing itu setelah kekalahan yg di derita sebelum nya oleh pasukan Kanjeng Pangeran Sabrang Lor itu, namun kali ini terlihat Kanjeng Pangeran benar -benar mempersiapkan segala sesuatunya ternasuk pasukan yg sangat besar, sehingga para Adipati yg berada di bawah kekuasaan Demak di minta untuk membantu termasuk kadipaten Pajang ini," Raka Senggani menjelaskan.


" Jika memang begitu, berarti kami dapat di terima sebagai seorang prajurit di Demak,?". tanya Jati Andara.


" Kalau persoalan itu, kalian dapat tanyakan kepada Kakang Sandika,!" jawab Raka Senggani.


" Bagaimana kakang Sandika, apakah kami layak masuk sebagai prajurit Demak,?". tanya Jati Andara kepada Lintang Sandika.


Lintang Sandika yg sedari tadi diam saja dan mendengarkan saja pembicaraan itu , ia kemudian menjawab pertanyaan dari Jati Andara itu,


" Kalian sudah sangat layak di terima untuk menjadi prajurit Demak, terlebih kalian memiliki suatu kelebihan,..." jawab putra Tumenggung Bahu Reksa itu.


" Kelebihan, kami memiliki suatu kelebihan, kelebihan apa yg kakang Sandika maksud itu,?" Tanya Japra Witangsa heran.


Agak tersenyum Lintang Sandika mendengar pertanyaan dari Japra Witangsa itu, ia segera menjawab nya,


" Kelebihan kalian itu adalah kalian sangat dekat dengan Senopati Brastha Abipraya ini, seorang Senopati yg sangat dekat dengan keluarga Kanjeng Pangeran Sabrang Lor itu, termasuk dengan ketiga putra nya itu," ungkap Lintang Sandika.


" Benarkah yg di katakan Kakang Sandika itu ,. kakang,?"


tanya Sari Kemuning kepada Raka Senggani.


" Ahh Kakang Sandika bisa saja, memang Kakang berteman dengan ketiga putra dari Kanjeng Pangeran Sabrang Lor itu,!" jawab Raka Senggani.


" Berarti kesempatan kita untuk menjadi prajurit Demak itu memang terbuka lebar, Witangsa,!" ucap Jati Andara.


" Semuanya itu terpulang kepada kalian semua, jika kalian memang bersungguh -sungguh tentu Kanjeng Pangeran Sabrang Lor akan senang hati menerima kalian," jelas Raka Senggani.


Pembicaraan ke enam orang itu membuat perjalanan terasa singkat sebentar saja mereka telah sampai di rumah Tumenggung Wangsa Rana.


Dan di pendopo rumah itu, mereka terus melanjutkan lagi.


" Mengapa kalian sangat berharap untuk dapat menjadi prajurit Demak,. mengapa tidak di Pajang ini saja,?" tanya Lintang Sandika.


" Kalau di Pajang masih terlalu dekat dengan Kenanga dan di Demak tentunya lebih ramai serta merupakan pusat Kerajaan, akan sangat membanggakan jadi prajurit nya seperti kakang Sandika ini," jawab Jati Andara.


" Yang sangat penting menurut Kanjeng Pangeran Sabrang lor adalah pengenalan prajurit terhadap kapal dan laut, karena memang Kanjeng Pangeran menginginkan Demak ini menjadi negara yg kuat dalam armada lautnya,!". jelas Lintang Sandika lagi.


" OOoo," ucap Jati Andara dan Japra Witangsa.


" Baik, kalian sudah mendengar sendiri dari seorang prajurit Demak, dan kakang Sandika ini cukup handal menggunakan kapal, jika kalian benar -benar ingin jadi prajurit Demak , berlatih lah dengan nya dalam hal bagaimana mengemudikan kapal,!" kata Raka Senggani.


" Karena hari telah menjelang pagi, Senggani sarankan kepada kakang berdua serta Sari Kemuning dan Dewi Dwarani untuk beristrahat, besok kita lanjutakan lagi," kata Raka Senggani.


Dan segeralah keempat orang itu masuk ke rumah Tumenggung Wangsa Rana untuk beristrahat setelah melakukan latihan yg cukup menyita perhatian itu.

__ADS_1


Sedangkan Raka Senggani dan Lintang Sandika masih saja duduk di pendopo rumah Tumenggung Wangsa Rana itu.


__ADS_2