
Pasukan Pajang terus berjalan naik ke atas puncak Gunung Tidar, namun tiba-tiba,
" Aaaaacckhhh,"
"Rrrggahhh,"
Terdengar teriakan dari para prajurit itu, ternyata pasukan yg di bawah kepemimpinan dari Rangga Aryo Seno itu kesurupan.
Para prajurit itu bergerak seperti di luar kesadarannya, mata mereka nyalang menatap, dan secara tiba -tiba mereka bertarung dengan sikap saling bermusuhan.
Rangga Aryo Seno dan Anggono terkejut dibuat nya.
" Hiyyah,"
" Heaaahh,"
" Ciaaaaat,"
" Heeit,"
Teriakan para prajurit itu yg berkelahi antara sesama teman.
Gerakan mereka sangat gesit seperti di luar batas nalar, seakan tubuh -tubuh itu dengan ringan nya bergerak.
Tumenggung Wangsa Rana yg baru tiba di tempat itu jadi heran melihat keadaan prajurit nya.
" Ada apa ini, Ki Rangga, apa yg telah terjadi,?" tanya nya kepada Rangga Aryo Seno.
" Saya , saya tidak tahu Kanjeng Tumenggung, tiba -tiba saja mereka berkelahi satu dengan yg lain nya, ". jawab Rangga Aryo Seno.
" Apakah tidak dapat kau hentikan, Ki Rangga,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana..
" Sepertinya mereka kesurupan , Kanjeng Tumenggung," jawab Rangga Aryo Seno lagi.
Rangga Aryo Seno nampak tidak bisa berbuat apa-apa karena para prajurit nya semua nya telah bertarung di luar kesadaran mereka.
" Berhenti kalian semua, atau kalian akan mendapat hukuman dariku,". teriak Tumenggung Wangsa Rana.
Para prajurit itu serentak berhenti dan memandangi Tumenggung Wangsa Rana dengan mata yg nyalang, mata itu telah berwarna kemerahan.
" Hraggghh, Aargghhh,"
Terdengar suara yg keluar dari mulut prajurit Pajang itu.
Perlahan mereka berjalan mendekati pemimpin nya itu.
Baik Rangga Aryo Seno maupun Tumenggung Wangsa Rana nampak tidak mengerti apa yg harus dilakukan jika tiba-tiba mereka menyerang.
" Aaaarggh, Hhargghh,"
Seluruh prajurit itu melompat menyerang Tumenggung Wangsa Rana dan Rangga Aryo Seno.
Sedangkan Anggono yg melihat hal itu segera berlari ke belakang untuk menemui Raka Senggani.
" Gawat,...gawat, ...gawat adi Senopati," ucap Anggono secara terputus -putus.
" Ada apa , Kakang Anggono, bicara yg jelas,?" tanya Raka Senggani.
" Itu, i...itu, Tumenggung Wangsa Rana dan Rangga Aryo Seno di keroyok oleh para prajurit yg tengah kesurupan,". jelas Anggono.
" Hahh, Apaaaa,!!" teriak Raka Senggani.
Tanpa ba, bi ,bu lagi Senopati Pajang itu langsung melesat menuju tempat tersebut. Dan benar saja dengan apa yg ada di pikiran dari Senopati Pajang itu bahwa Tumenggung Wangsa Rana dan Rangga Aryo Seno pasti akan mengalami kesulitan, karena mereka tentu nya tidak akan bersungguh -sungguh bertarung dengan para bawahan nya itu, dan hasilnya merekalah yg jadi bulan -bulanan para prajurit itu.
Meskipun Tumenggung Wangsa Rana dan Rangga Aryo Seno mampu menghadapi sepuluh prajurit biasa, tetapi kali ini mereka harus mengakui bahwa tubuh mereka telah bersimbah darah akibat dari cakaran prajurit yg kesurupan itu.
" Heaaahh,"
Terdengar teriakan dari Raka Senggani, ia langsung memberikan totokan kepada para itu dengan sangat cepatnya.
Dalam sekejap saja para prajurit itu telah terdiam tidak dapat bergerak lagi.
Hanya suara nya yg masih mampu mereka keluarkan.
" Hhraahgh,"
Raka Senggani tidak memperdulikan para prajurit itu, ia langsung mendekati Tumenggung Wangsa Rana dan Rangga Aryo Seno.
" Sebaiknya Paman dan Ki Rangga beristrahat dan di obati terlebih dahulu," ucap nya kepada kedua orang itu.
" Terima kasih, Ngger, kalau tidak ada Angger Senggani tidak tahu bagaimana nasib kami berdua ini," jawab Tumenggung Wangsa Rana.
Ia dan Rangga.Aryo Seno di bawa ke garis belakang untuk mendapatkan perawatan karena.hampir seluruh pakaian yg mereka gunakan telah robek tercabik -cabik oleh para prajurit itu.
Darah sangat banyak keluar dari bekas cakaran prajurit Pajang tersebut.
" Bagaimana ini kakang Sandika apa yg mesti kita lakukan,?" tanya Raka Senggani.
" langkah pertama, kita sembuhkan para prajurit itu, baru setelah nya kita akan terus berjalan naik ke atas,". jawab Lintang Sandika.
" Siapa yg sanggup untuk menyembuhkan mereka ,?". tanya Raka Senggani lagi.
" Apakah disini tidak ada yg mampu untuk menyadarkan para prajurit itu,?" tanya Lintang Sandika kepada mereka yg berada di tempat itu.
__ADS_1
Semua terdiam, tidak ada yg menjawab, karena mereka umumnya tidak mengerti bagaimana cara mengobati orang yg kesurupan.
" Apakah disini tidak ada seorang pun yg mampu menjadi pawang Jathilan,?". tanya Lintang Sandika lagi.
Rasala,. putra Ki Gede Mantyasih segera menjawab,
" Mungkin , Ki Jagabaya mengerti untuk mengatasi orang yg kesurupan,!" ujarnya.
Mendengar hal tersebut, Raka Senggani segera berkata kepada Anggono,
" Kakang Anggono, segeralah ke tempat mereka , suruh datang kemari Ki Jagabaya itu,!"
" Baik, adi Senopati,". jawab Anggono.
Pengawal tanah Perdikan Mantyasih itu berjalan dengan cepat menuju sisi lereng sebelah barat gunung Tidar itu.
Sedangkan para prajurit Pajang yg di pimpin oleh Tumenggung Wangsa Rana itu terhenti di tempat itu, karena mereka masih menunggu kedatangan Jagabaya guna mengobati para prajurit yg tengah kesurupan itu.
Sementara di puncak Tidar sendiri, persiapan telah di lakukan oleh Resi Yaramala guna mencabut Tombak Kyai Sepanjang yg tertanam di tempat itu.
" Chanadala chota, segera bawa kemari perempuan itu," ucap Resi Yaramala kepada Chandala Gati.
" Baik Yaramala Bhai,". sahut Chandala Gati.
Si Setan pemetik kembang itu melangkah meninggalkan tempat itu.
Ia akan mengambil Rara Tinampi putri Ki Sudirjo yg akan di tumbalkan untuk usaha pengangkatan senjata pusaka itu.
Resi Yaramala sendiri, tengah meramu berbagai macam syarat guna memuluskan usaha nya mengangkat Kyai Sepanjang itu.
Mulai ia menyalakan dupa , kemudian diperintahkan nya resi Brangah untuk memotong ayam Cemani, burung gagak hitam. dan beberapa benda lain untuk di satukan di tempat sebuah mangkok besar di dekat batu besar itu.
Setelah semuanya terkumpul terlihat wajah Resi dari Hindustan amat senang.
" Hemmph, tinggal darah seorang perawan saja yg belum," gumam nya.
" Bagaimana Yaramala, apakah masih ada yg kurang,?" tanya Resi Brangah.
" Tinggal darah perawan saja yg masih belum, Brangah,". jawab Resi Yaramala.
Agak lama , Chandala Gati baru kembali sambil membawa seorang perempuan muda yg merupakan putri dari Ki Sudirjo itu.
Nampak tubuh Rara Tinampi itu terikat tangan dan kaki nya dan di bopong oleh Si Setan pemetik kembang itu.
Kemudian Setan pemetik kembang itu meletakkan tubuh gadis itu diatas sebuah batu besar yg ada di hadapan Resi Yaramala.
" Letakkan dahulu gadis itu, Chandala chota, nanti baru kita akan melakukan nya," kata Resi Yaramala.
Chandala Gati pun setelah meletakkan tubuh Rara Tinampi segera mundur ke belakang.
" Yaramala Bhai, pagar gaib telah berhasil mereka tembus, apa yg harus kita lakukan jika mereka sampai kemari,?" tanya nya.
" Hahhh, benarkah itu Chandala chota,?" tanya Resu Yaramala tidak percaya.
Setan pemetik kembang itu menganggukkan kepalanya.
" Panggil kemari murid Brangah itu, " seru Resi Yaramala lagi.
Chandala Gati mendekati Macan Baleman yg berada agak jauh dari tempat itu.
" Yaramala Bhai membutuhkan mu,". ucap Chandala Gati kepada Macan Baleman.
Murid dari Resi Brangah itu mendatangi Resi Yaramala.
" Ada apa , Resi ,?" tanya Macan Baleman.
" Apakah kau telah menjaga tempat ini dengan orang -orangmu,?" tanya Resi Yaramala.
" Sudah , Resi , mereka telah ku tempat kan hampir di seluruh wilayah gunung ini,!" jawab Macan Baleman.
" Jadi mengapa mereka dapat sampai kemari,?" tanya Resi Yaramala lagi.
" Hehh, darimana, Resi Yaramala tahu mereka telah sampai kemari, padahal keadaan di sini tenang -tenang saja, tidak ada tanda -tanda kehadiran orang lain disini," ungkap Macan Baleman.
" Memang nya ada apa ini, Yaramala,?" tanya Resi Brangah.
Resi dari Blambangan itu melihat teman nya itu serius berbincang dengan murid nya.
'' Hahh, mereka telah berhasil menembus pagar gaib yg telah di buat oleh Chandala chota, itu sama artinya kita telah kedatangan tamu yg tidak di undang, dan sama pula artinya kita akan bekerja keras untuk mengatasi nya," jelas Resi Yaramala lagi.
Ia kemudian melanjutkan lagi perkataan nya,
" Beruntung , tadi aku telah menyuruh Nyi Ronce itu untuk melepaskan kerangkeng yg telah mengurung para makhluk halus itu sehingga mereka mungkin masih tertahan akibat nya," ucap Resi Yaramala.
" Apa tidak sebaiknya kita percepat melakukannya, agar mereka dapat kita hadapi," seru Resi Brangah.
" Mungkin mengatakan nya lebih mudah, tetapi kita harus mempersiapkam segala sesuatu nya agar usaha ini dapat berjalan dengan lancar," jawab Resi Yaramala.
Semua yg ada di tempat itu saling berpandangan satu sama yg lainnya.
Sementara cahaya rembulan belum pun hadir karena saat itu masih belum terlalu larut.
Resi dari tanah Hindustan itu berpikir dan menimbang akan usaha yg harus diambil nya, menuruti permintaan dari teman nya itu atau menunggu sampai saat yg memang pas untuk melakukan nya yaitu setelah lewat tengah malam.
__ADS_1
Setelah lama berpikir , akhirnya Resi Yaramala itu memutuskan untuk melakukan nya saat itu juga.
" Baiklah , kita lakukan sekarang juga," ucap Resi Yaramala.
" Chandala chota, kemari," katanya lagi.
Chandala Gati kemudian mendekati lagi Resi Yaramala itu.
Setelah dekat Resi Yaramala membisiki sesuatu,
" Kau bunuh gadis itu, setelah ku berikan isyarat , dan darah nya masukkan ke dalam mangkok itu," bisik nya kepada Chandala Gati.
" Baik , aku siap," jawab Chandala Gati.
Si Setan pemetik kembang itu kemudian mendekati tubuh Rara Tinampi yg terbaring tidak berdaya di atas batu besar itu.
Dengan sebuah golok di tangan nya , Chandala Gati bersiap untuk membunuh gadis malang itu.
Ia telah mengangkat goloknya itu tinggi -tinggi.
Dengan sebuah isyarat melalui jari tangan nya, Resi Yaramala memerintahkan Chandala Gati untuk membunuh gadis itu.
" Hiyyya,"
Seru Chandala Gati, golok di tangan nya itu melayang turun menebas ke arah leher gadis malang itu.
Namun sebelum golok itu berhasil menebas , serangkum angin yg keras menerpa Si Setan pemetik kembang itu,membuat tubuh nya terpental karena tidak menyangka akan mendapatkan serangan.
Agak jauh tubuh Chandala Gati itu terlempar, sehingga seluruh mata memandang ke arah nya.
" Chandala chota, apakaj kau baik -baik saja,?" tanya Resi Yaramala.
" Aakhh, Aku tidak apa -apa, Yaramala Bhai," jawab nya sambil memegangi dadanya.
Akhirnya Chandala Gati bangkit dan segera mencari golok nya.
" Mari kita lanjutkan lagi," ucap Chandala Gati.
Mereka kemudian mendekati tempat itu, dan alangkah terkejutnya mereka semua yg ada disitu ternyata tubuh dari Rara Tinampi, gadis yg akan di tumbalkan itu telah tidak ada di tempat nya lagi.
" Hahh, kita kecolongan , Brangah," teriak Resi Yaramala.
" Siapa yg telah melakukan nya, Yaramala Bhai,?" tanya Chanadala Gati.
Sungguh ia pun tidak menyangka bahwa ada orang yg sanggup melakukannya tanpa ada yg mengetahui nya.
" Entahlah, tampaknya orang itu memiliki ilmu yg sangat tinggi, apa mungkin yg melakukan nya, adalah,...." sebut Resi Yaramala.
" Biksu Maha Gelang, maksud mu ,?" tanya Chandala Gati.
Tanpa sadar kepala Resi Yaramala mengangguk. Mata resi dari Hindustan itu mencari-cari ke arah mana kiranya orang yg telah membawa lari calon tumbal nya itu. Namun ia tidak dapat menemukan nya.
" Hahh, mata bathinku pun tidak dapat mengetahui keberadaan nya," gumamnya.
" Apa yg harus kita lakukan selanjutnya,?" tanya Resi Brangah.
" Kita harus berhasil mencabut Tombak itu , apapun tantangan nya," jawab Resi Yaramala mantap.
" Bagaimana dengan syarat darah perawan itu, Yaramala Bhai,?" tanya Chandala Gati.
Kembali Resi Yaramala itu mengedarkan pandanganya dan tiba -tiba matanya terhenti pada murid dari Nyi Ronce, yaitu Sruni.
" Hei, Nyi Ronce, apakah murid mu itu masih perawan,?". tanya Rsi Yaramala.
Nyi Ronce dan Sruni saling berpandangan, terlihat di wajah Sruni itu ada rasa ketakutan, akibat pertanyaan dari sang Resi.
" Guru, Sruni tidak mau jadi tumbal," ucap gadis itu pelan.
Wajah bengis nya tiba -tiba nampak pucat ketakutan, ia tidak berharap akan jadi tumbal di puncak gunung Tidar itu.
" Ahh, Sruni, tidak ada yg akan menumbalkanmu," sahut guru nya.
" Murid ku ini sudah tidak perawan lagi , Resi, kau kan tahu kami sering melakukan hal itu dengan para calon korban kami, baru setelah nya kami bunuh," seru Nyi Ronce.
" Ahh, kau jangan berbohong Nyi Ronce, aku mengenal mana gadis yg masih perawan dan mana yg bukan, " seru Resi Yaramala.
" Benar , Resi, murid ku ini sudah tidak perawan lagi, " jawab Nyi Ronce ngotot
Karena bagaimana pun juga ia harus melindungi murid nya itu dari siapa pun juga termasuk resi dari Hindustan itu.
Resi Yaramala kemudian memutar otaknya agar mendapatkan syarat yg tinggal sat lagi itu.
" Begini , Nyi Ronce, kita akan mencoba apakah ucapan mu itu benar atau tidak dengan cara, ambil sedikit saja darah gadis itu dan letakkan di atas mangkok itu," seru Resi Yaramala.
Baik, Nyi Ronce dan Sruni nampak bingung dengan pernyataan dari Resi Yaramala itu.
" Baiklah, kami akan menyetujui nya permintaan dari mu itu, " jawab Nyi Ronce.
" Tapi, Guruuu,?" tanya Sruni tidak percaya dengan ucapan gurunya itu.
" Tidak apa -apa, Sruni, jika mereka memang tidak percaya akan ucapan kita ini," sahut Nyi Ronce.
Sruni terdiam, ia sangat takut karena ia merasa diri nya memang masih perawan, dan ia juga khawatir jika orang -orang yg berada disitu mengetahui nya tentu ia akan menjadi tumbal di puncak Gunung Tidar itu.
__ADS_1
Namun karena gurunya telah memerintah kan demikian , mau tidak mau ia harus melakukan nya.