
Kemudian Ki Sapi Gumarang mengatakan kepada Raka Senggani bahwa di kota tujuan dari sang Senopati ada seseorang yg dapat di temui.
" Siapa namanya,..Ki ,..?" tanya Raka Senggani.
" Nama samarannya adalah Ki Tambi, rumahnya tepat berada di belakang istana Kadipaten , " jelas Ki Sapi Gumarang.
Raka Senggani mengingat ingat nama yg di sebutkan oleh Ki Sapi Gumarang tadi.
Selain ia menyebutkan nama orang yg dapat di temui , Ki Sapi Gumarang pun mengatakan bahwa di Surabaya ada seorang pembesar yg menjadi orang terdekat dari Sang Adipati dan orang itu bernama Tumennggung Waturangga.
Tumennggung ini memiliki kemampuan yg sangat tinggi dan amat membenci Penguasa yg ada di Demak .
Ki Sapi Gumarang melihat perkembangan kota Kadipaten itu sangat banyak berkembang cukup pesat.
Sehingga hal ini menjadi perhatian dari para pejabat yg berada di Demak.
" Hanya satu yg aneh menurutku, Senopati,..!" seru Ki Sapi Gumarang.
" Hal apa itu ,..Ki ,..?" tanya Raka Senggani.
Kemudian Ki Sapi Gumarang mengatakan bahwa ia merasa aneh dengan pengiriman Senopati Lintang Bima Sakti sendiri yg melaksanakan tugas kali ini., ucap nya.
Raka Senggani menatap agak lama, orang yg bernama Ki Sapi Gumarang ia ing menanyakan apa yg menjadi aneh dalam penunjukkan nya.
" Begini Senopati Bima Sakti, tidak biasanya Kanjeng Sinuwun memberikan tugas kepada sang Senopati, contohnya Kanjeng Tumennggung Bahu Reksa selama menjabat sebagai Senopati Prajurit sandi,.tidak pernah turun langsung .
Mendengar hal ini, Raka Senggani pun terdiam , ia memang tidak dapat mencerna akan keputusan dari Kanjeng Gusti sultan Demak sendiri.
" Kemungkinan nya hanya dua hal saja, Senopati ,.." kata Ki Sapi Gumarang.
" Apa itu , Ki,..?" tanya Raka Senggani.
" Yg pertama , Senopati Bima Sakti dalam masa pendadaran sebagai pengganti dari Kanjeng Tumennggung Bahu Reksa dan kedua adalah bahwa Senopati harus mengahdapi atau melenyapkan seseorang yg mungkinnya berilmu sangat tinggi, dan hanya Senopati Bima Sakti sendiri lah yg mampu melawannya,.." jelas Ki Sapi Gumarang.
" Hahhh,.." seru Raka Senggani
Ia merasa cukup kaget mendengar ucapan dari Ki Sapi Gumarang tadi.
Jika memang ia akan berhadapan dengan seseorang, siapakah kiranya, tanya nya kepada Ki Sapi Gumarang.
" Kalau menurut kami,..orang yg pantas untuk di lenyapkan itu adalah Tumenggung Waturangga,..karena cuma ia lah satu satu nya pejabat wilayah bang Wetan ini yg mampu menyatukan kekuatan di bawah dari perbawanya,.ia dapat meluluhkan hati seseorang dengan kemampuan sorot matanya,.." jelas Ki Sapi Gumarang.
Lagi lagi Senopati Brastha Abipraya terperangah , atas apa yg telah di katakan oleh Prajurit sandi ini,..demikian berbahaya nya kah Tumenggung Waturangga itu,.pikirnya lagi.
" Senopati Bima Sakti, bagi kami para Prajurit sandi Demak ,.nama Tumenggung Waturangga ini di tempatkan pada posisi pertama sebagai orang yg pantas untuk di waspadai,..bahkan sudah beberapa kali kami menyarankan kepada Kanjeng Tumenggung dan Kanjeng Sinuwun agar melenyapkan nya agar tidak menjadi duri lagi bagi kekuasaan Demak di bang Wetan ini,.." jelas Ki Sapi Gumarang.
Raka Senggani mulai menemukan apa yg harus di kerjakan nya kali ini, selain ia memang harus melihat dari dekat keadaan kota Kadipaten Surabaya , ia pun tampaknya di tugaskan untuk melenyapkan orang yg bernama Tumenggung Waturangga.
Anehnya ia tidak mendapatkan perintah itu dari Kanjeng Gusti Sultan Demak.
" Tetapi mengapa Kanjeng Sinuwun tidak menyebutkan nya ketika bertemu denganku ,..?" tanya Raka Senggani.
" Mungkin Kanjeng Sinuwun masih melihat dahulu keadaan yg sebenarnya terjadi, sehingga jika memang kelak Senopati Bima Sakti tahu dan dapat mengambil keputusan , semuanya akan di serahkan kepada Senopati sendiri,..apakah harus di lenyapkan atau tidak,..kalau menurut kami semua, memang sudah sewajarnya ia harus di lenyapkan,.. untuk itulah aku menantimu di sini, karena setelah dari Madiun ini sebaiknya Senopati Bima Sakti berjalan kaki saja menuju Surabaya,." kata Ki Sapi Gumarang.
Setelah mendengar penjelasan dari Ki Sapi Gumarang , Senopati Brastha menjadi lebih mengerti.
Dan Kemudian ia menanyakan bagaimana dengan keadaan Madiun sendiri. Dijawab oleh Ki Sapi Gumarang , keadaan Madiun masih lebih baik dari beberapa kadipaten yg ada di Bang wetan.
Beberapa daerah yg masuk ke dalam wilayah merah adalah Kediri, trowulan,..pasuruan, blambangan dan tentunya Surabaya sendiri.
Sedangkan wilayah Madiun, ponorogo, tuban dan bojonegoro masih di dalam wilayah kuning.
Sebelum berpisah , Ki Sapi Gumarang menanyakan kepada Raka senggani apakah ia akan singgah di Madiun.
" Yah,.. Sebentar saja , Aku akan singgah di Madiun ,.." jawab Raka Senggani.
" Baiklah kalau begitu,.sampai bertemu lagi, Senopati ,..jika memang dirimu membutuhkan bantuan, kirim penghubung untuk membertahukan nya,.." jelas Ki Sapi Gumarang.
Karena memang mereka akan dapat mengirimkan pesan kepada seseorang dengan para penghubung dari para prajurit sandi.
Senopati Brastha Abipraya kemudian meninggalkan hutan itu ia melanjutkan perjalanan nya menuju ke kota Madiun guna menemui Patih Haryo Winangun.
Ia meninggalkan Ki Sapi Gumarang sendiri. Yg diam mematung melihat kepergian dari Senopati Bima Sakti.
Nama nya sebagai seorang Senopati Demak dalam bidang sandi.
Hehh,.. nampaknya memang Kanjeng Sinuwun menerima usulan kami melalui Kanjeng Tumenggung Bahu Reksa., kata Ki Sapi Gumarang dalam hati.
Seluruh prajurit sandi Demak memang berharap dan menumpas habis ambisi dari salah seorang pejabat tinggi yg ada di Kadipaten Surabaya itu.
Raka Senggani terus memacu kudanya menuju ke dalam kota Madiun. Ia ingin menemui sang Patih sambil menanyakan keadaan dari Sekar Kedaton yg berhasil mereka temukan di dukuh Ringin pada waktu itu.
__ADS_1
Tidak terlalu lama kemudian sampailah ia di dalam kota Madiun.
Raka Senggani langsung menuju ke dalam istana kepatihan.
Saat itu telah menjelang sore. Karena cukup lama ia mengobrol dengan Ki Sapi Gumarang tadi.
" Assalamualaikum ,..paman Patih,.." ucap Raka Senggani.
Ketika pemuda itu turun dari kudanya dan langsung menyalami sang Patih dari Kadipaten Madiun tersebut.
Bertepatan dengan orang nomor dua dari Kadipaten Madiun itu pulang dari istana . Dan ia tengah beristrahat di depan kediaman nya.
" Wa ' alaikum salaam,..anakmas,..apa kabarmu,.." jawab nya.
Dan Raka Senggani langsung menyalami nya dan oleh Patih Haryo Winangun diajak duduk di pendopo.
Mereka berdua berbincang kemudian,..
" Ada hal apa, anakmas datang ke Madiun ini,..?" tanya Patih Haryo Winangun.
" Ahh,.. Senggani hanya sekedar singgah dan berniat untuk menitipkan kuda disini,.." jawab Raka Senggani.
" Wah,.. sungguh senang sekali , kalau bisa anakmas tinggal di Madiun ini saja,.." kata Patih Haryo Winangun.
" Sengganj hanya sekedar singgah saja paman, tidak akan terlalu lama, karena ada sesuatu yg ingin ku kerjakan,.." terang Raka Senggani.
Keduanya saling melepaskan rindu dengan berbicara.
Dan ketika hari telah berganti malam, Raka Senggani kemudian menanyakan keadaan dari Sekar Kedaton Gusti Ratu Ayu Sekar Kiranti.
Oleh sang Patih Haryo Winangun di jawab bahwa saat ini sekar Kedaton terlihat lebih senang tinggal di dalam keraton.
" Dan bagaimana dengan Arya Radhepara, paman Patih,..?" tanya Raka Senggani lagi.
" Tidak pernah nampak lagi sampai saat ini ,.. anakmas Senopati,.." ucap Patih Haryo Winangun.
" Ooo,.."
Seru Raka Senggani, ada pertanyaan dalam hati anakmuda dari desa Kenanga itu, bagaimana kah kelanjutan hubungan dari kedua orang yg sedang memadu kasih,..berlanjut atau tidak.
" Paman Patih,. bagaimana dengan Kanjeng Adipati sendiri , apakah merestui hubungan kedua orang itu,..?" tanya Raka Senggani.
Setelah mendaptakan penjelasan dari Patih Madiun, maka Raka Senggani tidak membicarakan lagi tentang kedua muda mudi yg tengah memadu kasih.
Mereka kemudian mengalihkan pembicaraan ke masalah keadaan Kotaraja Demak saat ini.
" Bagaimana menurut mu anakmas dengan kepemimpinan dari Pangeran sabrang Lor ini,.?" tanya Patih Haryo Winangun.
Raka Senggani menjawab nya bahwa keadaan saat ini tampaknya jauh berubah.
" Maksud anakmas,..?" tanya Patih Haryo Winangun.
Raka Senggani kemudian mengatakan bahwa saat ini ada kecendrungan dari Kanjeng Sinuwun lebih mengarahkan tujuannya ke arah peningkatan dari pasukan dan armada , tetapi sayang nya ia kurang memperhatikan keamanan dalam negeri Demak sendiri.
" Itu jugalah anakmas, yg jadi perhatian kami di Madiun ini, saat ini memang terlihat bahwa Kanjeng Sinuwun kurang memperhatikan keadaan dalam negeri Demak, utamanya wilayah bang Wetan ini,..," ungkap Patih Haryo Winangun.
Memang Raka Senggani sengaja memancing Patih Haryo Winangun untuk mengeluarkan segala uneg unegnya.
Agar ia dapat melihat sendiri keadaan dari wilayah bawahan Demak, supaya dirinya dapat membandingkan nya.
" Jadi paman Patih,.apa tanggapan dari Kanjeng Adipati Madiun sendiri,.. apakah beliau menerima keputusan dari Kanjeng Sinuwun ini,..?" tanya Raka Senggani.
Sambil menghela nafasnya,..Patih Haryo Winangun kemudian mengatakan bahwa Sang Adipati Madiun tidak sejalan dengan keputusan dari Kanjeng Sinuwun , sultan Demak yg baru ini.
Ia lebih berharap kepada Kanjeng Sinuwun untuk lebih mengutamakan perhatian nya ke dalam wilayahnya sendiri daripada wilayah orang lain.
Raka Senggani pun setuju dengan ucapan dari Kanjeng Adipati Madiun tersebut.
Malam itu mereka habiskan dengan mengobrol saja. Meskipun keduanya berbeda jauh usianya tetapi ternyata obrolan mereka saling menyambung.
Jadi keasyikannya mengobrol mereka jadi lupa waktu. Sampai ayam jantan berkokok barulah mereka berhenti .
Walaupun telah sangat sedikit waktunya, Senopati Demak itu menyempatkan diri untuk beristrahat walau sejenak.
Pada keesokan harinya, Raka Senggani pamitan kepada Haryo Winangun untuk segera berangkat,..ia tidak mengatakan kemana dirinya akan pergi.
Patih Haryo Winangun agak terkejut mendengar penuturan dari Senopati Brastha Abipraya itu,..bahwa dirinya akan segera meninggalkan Madiun, tetapi dirinya pun maklum, karena ia tahu bahwa pemuda itu adalah seorang prajurit dari Pajang.
Setelah berpamitan kepada Patih Haryo Winangun, dengan cepat Senopati Demak pun bergerak meninggalkan kota Madiun.
Ia menuju ke arah Anjuk ladang. Dan selanjutanya menuju ke bekas ibukota Kerajaan Majapahit di masa jayanya di trowulan.
__ADS_1
Namun sebelum mendapatkan kota bekas kerajaan yg cukup jaya dimasanya.
Ia memasuki sebuah hutan. Dan tempat itu dahulunya merupakan sarang para begal.
Cukup banyak kawanan rampok yg berada disana pada waktu itu.
Alas tersebut dinamakan Alas Turanggana.
Memasuki alas Turanggana ,..Raka Senggani yg berjalan, nampak meningkatkan kewaspadaan nya. Walau bagaimana, ia sudah lama mendengar bahwa Alas ini,..menjadi hunian dari kawanan rampok.
Sebenarnya panggraita dari Senopati Demak ini mengatakan bahwa ada seseorang yg tengah memperhatikan nya. Ketika diirnya mulai menginjakkan kakinya di hutan tersebut.
Tetapi Sang Senopati tetap saja melangkahkan kakinya dengan santainya masuk ke hutan. tersebut.
Begitu jauh sudah langkah kaki Senopati Demak itu masuk ke dalam, tiba -tiba saja terdengar suara dari seseorang yg tidak terlihat orangnya.
" Hehh,..sungguh lancang dirimu berani memasuki wilayah kekuasaan ku,.." ucap orang tersebut.
Senopati Brastha Abipraya kemudian menghentikan langkahnya setelah mendengar suara orang yg menyuruh nya berhenti.
Apakah orang ini adalah merupakan kawanan rampok yg menghuni alas ini, berkata dalam hati Raka Senggani.
Rasa penasaran di hati sang Senopati, ingin sebenarnya ia melihat ujud dari orang yg telah menghentikan langkahnya.
" Whusshhhh,.."
Terdengar kesiuran angin ketika tiba-tiba saja sesosok bayangan tubuh yg datang dan melesat mendekati sang Senopati.
Tidak terlalu lama kemudian nampaklah seseorang yg bertubuh tinggi besar dengan sebuah senjata yg besar yg ada di tangannya.
" Hheh,.. apakah dirimu mempunyai nyawa rangkap,.. karena telah berani masuk ke dalam hutan ini,.alas ini adalah di bawah kekuasaan ku,.." seru orang tersebut.
" Maaf kisanak aku tidak tahu,..jika alas ini ada yg memilikinya," ucap Raka Senggani begitu saja.
" Hehh, perkenalkan ini aku adalah Gajah Arak,..penguasa alas Turanggana,.." ucap orang itu.
" Kalau begitu izinkanlah aku untuk lewat dari sini,.." ucap Raka Senggani.
" Tidak bisa seenaknya saja dirimu lewat dari sini, cepat serahkan barang-barang bawaan mu itu sebagai imbalan nya,..baru dirimu dapat lewat,.." seru orang yg tinggi besar itu.
Ia memainkan senjatanya yg mirip dengan sebuah gada dan cukup besar, di putar -putarnya perlahan, terdengar lah kesiuran angin di tempat dimana kedua anak manusia tersebut tengah berhadapan.
Gila orang ini, dengan tenaga wadag saja ia mampu menimbulkan kesiuran angin yg sangat kuat, apalagi jika ia mempergunakan tenaga dalam, bisa porak poranda ini hutan,.berkata dalam hati Raka Senggani.
Senopati Demak yg tengah menjalankan tugas dan berniat menuju kota di tepian laut, bersiaga dengan orang yg ada dihadapan nya.
Tatkala dari tangan sebelah kirinya orang itu mengambil sebuah kendi kecil dan mengarahkan nya ke dalam mulut nya.
" Glek,.."
" Glek..."
" Gleek,.."
Orang tersebut sedang minum air dalam kendi itu. Dan setelah ia air tadi wajah nya terlihat makin kemerah -merahan.
" Cepat serahkan keris dan timang mu itu, dan kampil kecil yg terselip di pinggangmu, cepat, sebelum gadaku ini menghancurkan batok kepalamu bocah,..he,..he,..he,."
Orang yg bernama Gajah Arak membentak Raka Senggani dengan keras dan setelah nya ia tertawa.
Ternyata orang ini sedang minum arak, dan tampaknya ia mulai mabuk ,.berkata lagi dalam hati Raka Senggani.
Ia pun menjawab perkataan dari orang yg menghadang nya itu,.
" Aku tidak akan menyerahkannya, silahkan ambil sendiri,.."
" ******* , kau menguji kesabaranku bocah, terima ini,.. ciaaaat,," seru Gajah Arak.
Ia menerjang Raka Senggani yg berdiri di hadapannya dengan sebuah tendangan dan di susul kemudian hantaman gada nya dengan keras,..
" Whueeeeesshh,"
Gada tersebut tidak mengenai sasarannya, karena dengan cepat Senopati dari Demak menundukkan kepalanya , seraya memberikan serangan balasan,.
" Dhugghh,"
Tangan kanan nya yg berhasil masuk ke arah ulu hati dari Gajah Arak tersebut seperti menghantam sebongkah batu yg sangat keras.
" Hehh,.."
Senopati andalan Demak dan Pajang menjadi kaget di buatnya.
__ADS_1